cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 404 Documents
PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGHITUNG SISWA SLOW LEARNER KELAS VI MELALUI PEMBELAJARAN MULTISENSORIK DI SDN Cific Paradis Nurul Warvina; Suparno
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13878

Abstract

Low counting ability remains a common challenge among slow learner students due to limitations in processing information and understanding abstract mathematical concepts. This condition requires learning approaches that provide concrete learning experiences by engaging multiple senses. This study aimed to improve the counting ability of slow learner students through the implementation of Visual, Auditory, Kinesthetic, and Tactile (VAKT)-based multisensory learning. The study employed Classroom Action Research (CAR) conducted in three cycles. The participants were two sixth-grade students at SDN 013 Bengalon identified as slow learners, namely JO and MK. Data were collected through classroom observations, counting ability tests administered at the end of each cycle, and documentation. Data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative techniques by comparing students' progress across the three cycles. The pre-action results indicated low counting ability, with JO scoring 30% and MK scoring 40%. Following the implementation of VAKT-based multisensory learning, the students' counting ability improved progressively. In Cycle I, JO's score increased to 64% and MK's to 76%; in Cycle II, the scores improved to 80% and 86%; and in Cycle III, they reached 90% and 96%, respectively. The findings indicate that VAKT-based multisensory learning improved the counting ability of slow learner students and enabled them to exceed the school's Minimum Learning Mastery Criteria (KKTP). ABSTRAK Rendahnya kemampuan menghitung masih menjadi salah satu permasalahan yang sering dialami siswa slow learner karena keterbatasan dalam memproses informasi dan memahami konsep matematika yang bersifat abstrak. Kondisi tersebut memerlukan pembelajaran yang memberikan pengalaman belajar konkret melalui keterlibatan berbagai indera. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menghitung siswa slow learner melalui penerapan pembelajaran multisensori berbasis Visual, Auditori, Kinestetik, dan Taktil (VAKT). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek penelitian terdiri atas dua siswa kelas VI SDN 013 Bengalon yang terindikasi sebagai slow learner, yaitu JO dan MK. Data dikumpulkan melalui observasi aktivitas pembelajaran, tes kemampuan menghitung pada setiap akhir siklus, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan membandingkan perkembangan hasil belajar pada setiap siklus. Hasil pra tindakan menunjukkan kemampuan menghitung kedua subjek masih rendah, yaitu JO memperoleh skor 30% dan MK 40%. Setelah penerapan pembelajaran multisensori berbasis VAKT, kemampuan menghitung meningkat secara bertahap. Pada Siklus I skor JO meningkat menjadi 64% dan MK menjadi 76%, pada Siklus II menjadi 80% dan 86%, serta pada Siklus III mencapai 90% dan 96%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran multisensori berbasis VAKT dapat meningkatkan kemampuan menghitung siswa slow learner hingga melampaui Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP).
UPAYA PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN IPS DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS INKLUSI DI SMP Suharti; Agus Basuki
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13879

Abstract

Social Studies learning in the inclusive Grade VII.A classroom at SMP Negeri 2 Kombeng showed low learning outcomes because instruction remained teacher-centered, student participation was limited, and the learning strategies had not accommodated the diverse characteristics and abilities of students, including those with special educational needs. This study aimed to improve Social Studies learning outcomes through the implementation of the Student Teams Achievement Division (STAD) cooperative learning model. The study employed Classroom Action Research (CAR) based on the Kemmis and McTaggart model and was conducted in three cycles. The participants consisted of 28 students, including 27 regular students and one student with special educational needs. Data were collected through learning outcome tests, classroom observations, and documentation, and were analyzed using quantitative and qualitative techniques. The results indicated that the average learning outcomes improved from 65.00 in Cycle I to 70.75 in Cycle II and 75.38 in Cycle III. Classical learning mastery also increased from 60.71% to 75.00% and reached 85.71%. These findings demonstrate that the implementation of the STAD cooperative learning model effectively improved students' Social Studies learning outcomes, classroom participation, and the overall quality of learning in an inclusive classroom. ABSTRAK Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di kelas VII.A inklusi SMP Negeri 2 Kombeng menunjukkan hasil belajar yang masih rendah karena pembelajaran masih berpusat pada guru, partisipasi siswa belum optimal, serta strategi pembelajaran belum mampu mengakomodasi keberagaman karakteristik dan kemampuan peserta didik, termasuk siswa berkebutuhan khusus. Penelitian ini bertujuan meningkatkan hasil belajar IPS melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD). Penelitian menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis dan McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Subjek penelitian berjumlah 28 siswa yang terdiri atas 27 siswa reguler dan 1 siswa berkebutuhan khusus. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar meningkat dari 65,00 pada Siklus I menjadi 70,75 pada Siklus II dan 75,38 pada Siklus III. Ketuntasan belajar klasikal juga meningkat dari 60,71% menjadi 75,00% dan mencapai 85,71%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD mampu meningkatkan hasil belajar IPS, partisipasi siswa, dan kualitas pembelajaran pada kelas inklusi.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN MELALUI PENERAPAN METODE MULTISENSORI BERBASIS DIRECT INSTRUCTION SISWA KELAS III DI SD DENGAN KESULITAN BELAJAR Faridah; Rendy Roos Handoyo
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13880

Abstract

The low level of beginning reading skills among students with learning difficulties is influenced by the continued use of conventional teaching methods that do not adequately accommodate their learning characteristics. This study aimed to improve beginning reading skills through the implementation of a multisensory method based on Direct Instruction. This study employed Classroom Action Research (CAR) using the Kemmis and McTaggart model, conducted over two cycles. The participants were two third-grade elementary school students who experienced difficulties in beginning reading. Data were collected through beginning reading tests, student participation observations, and classroom learning observations. The data were analyzed using descriptive qualitative and quantitative techniques, with a success criterion of 80%. The findings indicated that the beginning reading skills of both participants improved across each cycle. In the pre-action stage, their reading skills were still in the low category. Following the implementation of the Direct Instruction-based multisensory method in Cycle I, their beginning reading skills improved but had not yet reached the predetermined success criterion. In Cycle II, both students demonstrated further improvement and successfully achieved the targeted level of performance. In addition, students' participation during the learning process also increased. These findings indicate that the implementation of a multisensory method based on Direct Instruction was able to improve the beginning reading skills of students with learning difficulties. ABSTRAK Rendahnya kemampuan membaca permulaan pada siswa yang mengalami kesulitan belajar dipengaruhi oleh pembelajaran yang masih didominasi metode konvensional sehingga belum mengakomodasi karakteristik belajar siswa secara optimal. Penelitian ini bertujuan meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa melalui penerapan metode multisensori berbasis Direct Instruction. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan dalam dua siklus dengan mengadopsi model Kemmis dan McTaggart. Subjek penelitian terdiri atas dua siswa kelas III SD yang mengalami kesulitan membaca permulaan. Data dikumpulkan melalui tes kemampuan membaca permulaan, observasi partisipasi siswa, dan observasi keterlaksanaan pembelajaran. Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan indikator keberhasilan sebesar 80%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca permulaan kedua subjek mengalami peningkatan pada setiap siklus. Pada kondisi pra tindakan, kemampuan membaca masih berada pada kategori rendah. Setelah penerapan metode multisensori berbasis Direct Instruction pada Siklus I, kemampuan membaca permulaan meningkat, namun belum mencapai indikator keberhasilan. Pada Siklus II, kemampuan membaca kedua subjek kembali meningkat hingga mencapai indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Selain itu, partisipasi siswa selama proses pembelajaran juga menunjukkan peningkatan. Dengan demikian, penerapan metode multisensori berbasis Direct Instruction mampu meningkatkan kemampuan membaca permulaan siswa yang mengalami kesulitan belajar.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF TERMODIFIKASI UNTUK MENINGKATKAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA KELAS VI DENGAN HAMBATAN MEMBACA SPESIFIK Yuniati; Fery Muhamad Firdaus
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13881

Abstract

Reading comprehension is a fundamental skill that remains challenging for students with specific reading difficulties because it affects their ability to understand information and participate effectively in classroom learning. This study aimed to examine the improvement in reading comprehension following the implementation of a modified active learning model for sixth-grade students with specific reading difficulties at SDN 007 Sangatta Selatan. The study employed a quantitative approach using a one-group pretest–posttest pre-experimental design. The participants consisted of two students purposively selected based on their identified specific reading difficulties. Data were collected through reading comprehension tests administered before and after the intervention, measuring three indicators: literal comprehension, simple inference, and the ability to identify main ideas and important information. The findings revealed an average improvement of 30% in the students' reading comprehension scores after the intervention. The greatest improvement was found in the simple inference indicator, whereas the smallest improvement occurred in identifying main ideas. These findings suggest that the modified active learning model has the potential to support the development of reading comprehension through structured, multisensory, and cognitively engaging learning activities. However, given the very small number of participants and the absence of a control group, the findings should be interpreted within the limited context of this study and require further investigation with larger samples. ABSTRAK Kemampuan membaca pemahaman merupakan kompetensi dasar yang masih menjadi tantangan bagi siswa dengan hambatan membaca spesifik karena memengaruhi kemampuan mereka dalam memahami informasi dan mengikuti proses pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peningkatan kemampuan membaca pemahaman setelah penerapan model pembelajaran aktif termodifikasi pada siswa kelas VI dengan hambatan membaca spesifik di SDN 007 Sangatta Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain pre-experimental tipe one-group pretest–posttest. Subjek penelitian terdiri atas dua siswa yang dipilih secara purposive karena teridentifikasi mengalami hambatan membaca spesifik. Data dikumpulkan menggunakan tes membaca pemahaman sebelum dan sesudah intervensi yang mengukur tiga indikator, yaitu pemahaman literal, inferensi sederhana, serta kemampuan menentukan ide pokok dan informasi penting. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan membaca pemahaman pada kedua subjek dengan rata-rata kenaikan skor sebesar 30% setelah mengikuti pembelajaran. Peningkatan terbesar terjadi pada indikator inferensi sederhana, sedangkan peningkatan terendah terdapat pada kemampuan menentukan ide pokok. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran aktif termodifikasi berpotensi mendukung peningkatan kemampuan membaca pemahaman melalui pembelajaran yang terstruktur, multisensori, dan berpusat pada aktivitas kognitif siswa. Meskipun demikian, mengingat penelitian hanya melibatkan dua subjek dengan desain tanpa kelompok kontrol, hasil penelitian ini perlu dipahami sebagai temuan pada konteks penelitian yang terbatas dan memerlukan pengujian lebih lanjut pada jumlah subjek yang lebih besar.
PENGEMBANGAN LKPD PRAKTIKUM PENENTUAN TRAYEK PH INDIKATOR ALAMI DALAM MODEL PROJECT BASE-LEARNING UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK Risnawati Risnawati; Army Auliah; Muhammad Wijaya
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13929

Abstract

Chemistry learning requires meaningful learning experiences to enhance students' learning motivation, yet the implementation of practicums in schools remains limited by laboratory facilities and is not supported by practicum worksheets that facilitate project-based learning. This study aims to develop and measure the validity, practicality, and effectiveness of a practicum worksheet for determining the pH range of natural indicators within a Project Based Learning model to increase students' learning motivation. The study employed a Research and Development (R&D) method with the ADDIE model, involving 35 students and 1 chemistry teacher as research subjects. Validity data were obtained through expert validation sheets, practicality data through teacher and student response questionnaires, and effectiveness data through learning motivation questionnaires (pretest-posttest) and learning outcome tests. The findings show that the developed worksheet was rated highly valid and feasible for use based on validators' assessments, highly practical according to both teacher and student responses, and effective in increasing learning motivation particularly in fostering a conducive learning environment while also supporting students' mastery of the acid-base material. Thus, the practicum worksheet for determining the pH range of natural indicators within a Project Based Learning model can serve as an alternative teaching material to optimize chemistry practicums and enhance students' learning motivation. ABSTRAK Pembelajaran kimia memerlukan pengalaman belajar yang bermakna untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, namun pelaksanaan praktikum di sekolah masih terbatas oleh sarana laboratorium dan belum didukung oleh LKPD praktikum yang memfasilitasi pembelajaran berbasis proyek. Penelitian ini bertujuan mengembangkan serta mengukur kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan LKPD praktikum penentuan trayek pH indikator alami dalam model Project Based Learning untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE, melibatkan 35 peserta didik dan 1 guru kimia sebagai subjek penelitian. Data kevalidan diperoleh melalui lembar validasi ahli, data kepraktisan melalui angket respons guru dan peserta didik, serta data keefektifan melalui angket motivasi belajar (pretest-posttest) dan tes hasil belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LKPD praktikum yang dikembangkan dinyatakan sangat valid dan layak digunakan berdasarkan penilaian validator, sangat praktis menurut respons guru maupun peserta didik, serta efektif dalam meningkatkan motivasi belajar terutama pada aspek terciptanya lingkungan belajar yang kondusif, di samping mendorong ketuntasan hasil belajar peserta didik pada materi asam basa. Dengan demikian, LKPD praktikum penentuan trayek pH indikator alami dalam model Project Based Learning dapat digunakan sebagai alternatif bahan ajar untuk mengoptimalkan praktikum kimia sekaligus meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
ANALYSIS OF REPURCHASE DECISIONS WITH CUSTOMER SATISFACTION AS A MEDIATING VARIABLE FOR MASPION SURABAYA STAINLESS STEEL PRODUCTS Hendra Prasetyo; Dhani Ichsanuddin Nur; Nanik Haryana
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14036

Abstract

  ABSTRACT This study aims to analyze the influence of product quality and brand image on repurchase decisions for Maspion Surabaya’s stainless steel products, with customer satisfaction serving as a mediating variable. The study is motivated by the increasing competition in the stainless steel household appliance industry, which requires companies to maintain product quality, strengthen brand image, and enhance customer satisfaction to encourage repurchase decisions. This research employed a quantitative approach using an explanatory research design. A total of 105 customers of Maspion Surabaya’s stainless steel products were selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert-scale questionnaire and analyzed using Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) with SmartPLS 3.0 software. The findings reveal that both product quality and brand image have significant effects on repurchase decisions. Furthermore, customer satisfaction mediates the relationship between product quality and repurchase decisions. However, customer satisfaction does not mediate the relationship between brand image and repurchase decisions. These findings indicate that product quality plays a crucial role in enhancing customer satisfaction, which subsequently encourages repurchase decisions, while brand image influences repurchase decisions directly rather than indirectly through customer satisfaction. Therefore, the company should maintain product quality, improve product innovation, strengthen its brand image, and enhance customer satisfaction to sustain customer loyalty and increase repurchase decisions. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kualitas produk dan citra merek terhadap keputusan pembelian ulang produk stainless steel Maspion Surabaya dengan kepuasan pelanggan sebagai variabel mediasi. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya persaingan industri peralatan rumah tangga berbahan stainless steel yang menuntut perusahaan untuk mempertahankan kualitas produk, membangun citra merek yang kuat, serta meningkatkan kepuasan pelanggan guna mendorong keputusan pembelian ulang. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 105 pelanggan produk stainless steel Maspion Surabaya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dengan skala Likert dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling berbasis Partial Least Squares (PLS-SEM) dengan bantuan perangkat lunak SmartPLS 3.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas produk dan citra merek berpengaruh terhadap keputusan pembelian ulang. Selain itu, kepuasan pelanggan terbukti memediasi pengaruh kualitas produk terhadap keputusan pembelian ulang. Sebaliknya, kepuasan pelanggan tidak mampu memediasi pengaruh citra merek terhadap keputusan pembelian ulang. Temuan ini menunjukkan bahwa kualitas produk merupakan faktor utama dalam meningkatkan kepuasan pelanggan yang pada akhirnya mendorong keputusan pembelian ulang, sedangkan citra merek memberikan pengaruh secara langsung tanpa melalui kepuasan pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan perlu mempertahankan kualitas produk, meningkatkan inovasi, memperkuat citra merek, serta mengoptimalkan kepuasan pelanggan untuk menjaga loyalitas dan meningkatkan pembelian ulang.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD TERHADAP HASIL BELAJAR PEMBUATAN BLAZER PADA SISWA KELAS XI BUSANA SMK NEGERI 6 PADANG Meyshan Afifi; Siti Isma Sari Lubis; Ernawati; Elviza Yeni Putri
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14067

Abstract

ABSTRACT The achievement of practical learning outcomes in blazer-making competency at vocational high schools (SMK) remains a challenge, as reflected by the low level of students' learning mastery. Based on the documentation of learning outcomes of Grade XI Fashion students at SMK Negeri 6 Padang in the 2024/2025 academic year, 36.36% of students failed to achieve the Minimum Mastery Criterion (MMC) of 85, indicating the need for a learning model that promotes active participation and improves learning outcomes. This study aimed to analyze the effect of the Student Teams Achievement Divisions (STAD) cooperative learning model on students' practical learning outcomes in blazer making. The study employed a quantitative approach using a quasi-experimental method with a pretest-posttest control group design. The sample consisted of 63 students, including 33 students in the experimental class and 30 students in the control class selected through purposive sampling. Data were collected using a learning achievement test and analyzed through the Shapiro–Wilk normality test, Levene's homogeneity test, and the Independent Samples t-test. The results revealed that the experimental class achieved a higher posttest mean score (86.49) than the control class (79.31). The hypothesis test produced a significance value of 0.000 (p < 0.05), indicating a statistically significant difference in learning outcomes between the two groups after the implementation of the STAD model. Therefore, the STAD cooperative learning model has a significant positive effect on improving students' practical learning outcomes in blazer making and can be recommended as an effective instructional alternative for vocational education. ABSTRAK Pencapaian hasil belajar praktik pada kompetensi pembuatan blazer di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menghadapi berbagai kendala, yang ditunjukkan oleh rendahnya tingkat ketuntasan belajar siswa. Berdasarkan dokumentasi hasil belajar siswa kelas XI Busana SMK Negeri 6 Padang Tahun Ajaran 2024/2025, sebanyak 36,36% siswa belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 85, sehingga diperlukan model pembelajaran yang mampu meningkatkan keterlibatan aktif dan hasil belajar siswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD) terhadap hasil belajar praktik pembuatan blazer. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experiment dan desain pretest-posttest control group design. Sampel penelitian terdiri atas 63 siswa, yaitu 33 siswa pada kelas eksperimen dan 30 siswa pada kelas kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar, kemudian dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk, uji homogenitas Levene, dan Independent Samples t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata nilai posttest kelas eksperimen sebesar 86,49 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol sebesar 79,31. Hasil uji hipotesis memperoleh nilai signifikansi (Sig. 2-tailed) sebesar 0,000 (p<0,05), yang menunjukkan adanya perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kedua kelas setelah penerapan model STAD. Dengan demikian, model pembelajaran kooperatif tipe STAD berpengaruh signifikan dalam meningkatkan hasil belajar praktik pembuatan blazer dan layak dijadikan sebagai alternatif model pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran praktik di SMK.
PENGARUH PENGETAHUAN MANAJEMEN USAHA BUSANA DAN SOFT SKILL TERHADAP KESIAPAN BERWIRAUSAHA MAHASISWA TATA BUSANA PKK UNP Anggun Sukma Dewi; Sri Zulfia Novrita; Ernawati; Reni Fitria
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14070

Abstract

ABSTRACT   This study was motivated by the low proportion of graduates from the Fashion Education Study Program at Universitas Negeri Padang who choose entrepreneurship as a career in the fashion industry. This condition is presumed to be associated with inadequate business management knowledge and insufficient soft skills among students. The study aimed to analyze the influence of fashion business management knowledge and soft skills on students' entrepreneurial readiness. A quantitative approach with an associative research method was employed. The population consisted of 192 students, and a sample of 66 respondents was selected using proportionate stratified random sampling. Data were collected through questionnaires and analyzed using multiple linear regression with SPSS version 27. The findings revealed that fashion business management knowledge had a positive and significant effect on students' entrepreneurial readiness. Soft skills also had a positive and significant influence on entrepreneurial readiness. Simultaneously, both variables significantly affected entrepreneurial readiness, contributing 51.7% of the explained variance, while the remaining proportion was influenced by other factors beyond the scope of this study. These findings indicate that strengthening business management competencies and developing students' soft skills are essential strategies for enhancing entrepreneurial readiness and encouraging graduates to establish independent businesses in the fashion sector. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi oleh masih rendahnya minat lulusan Program Studi Tata Busana PKK Universitas Negeri Padang untuk berwirausaha di bidang busana, yang diduga dipengaruhi oleh belum optimalnya pengetahuan manajemen usaha dan soft skill yang dimiliki mahasiswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pengetahuan manajemen usaha busana dan soft skill terhadap kesiapan berwirausaha mahasiswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode asosiatif. Populasi penelitian berjumlah 192 mahasiswa, sedangkan sampel sebanyak 66 responden ditentukan menggunakan teknik proportionate stratified random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah memenuhi persyaratan analisis, kemudian dianalisis menggunakan regresi linier berganda dengan bantuan SPSS versi 27. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan manajemen usaha busana berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan berwirausaha mahasiswa. Soft skill juga terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan berwirausaha. Secara simultan, kedua variabel tersebut berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesiapan berwirausaha dengan kontribusi sebesar 51,7%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi manajemen usaha serta pengembangan soft skill menjadi faktor penting dalam membangun kesiapan mahasiswa untuk memulai dan mengembangkan usaha di bidang busana secara mandiri.
PERBEDAAN JENIS BAHAN TERHADAP HASIL MODEL COWL NECKLINE DENGAN TEKNIK FLAT PADA BLUS Susanti; Puspaneli; Yusmerita; Vina Oktaviani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14078

Abstract

ABSTRACT Fabric selection is an important factor influencing the quality of garment construction, particularly in cowl neckline designs that require materials with excellent drapeability to produce smooth, even, proportional, and well-defined folds. This study aimed to describe the construction quality of flat-technique cowl necklines on blouses made from Maxmara satin and Roberto Cavalli satin and to analyze the differences between the two materials. The study employed an experimental method with a quantitative approach. The research objects were blouse cowl necklines produced using the two types of satin fabrics. Evaluation was conducted by 18 panelists consisting of 3 expert panelists and 15 trained panelists using a Likert-scale questionnaire based on four assessment aspects: fold flexibility, surface evenness, spacing between folds, and fold accuracy. Data were analyzed using descriptive statistics in the form of percentages and inferential statistics through normality tests, homogeneity tests, and an independent sample t-test. The results showed that Maxmara satin achieved an overall score of 88.1% (highly appropriate category), while Roberto Cavalli satin obtained 79.01% (appropriate category). The independent sample t-test yielded a Sig. (2-tailed) value of 0.000 (<0.05), indicating a significant difference between the two fabric types. Therefore, Maxmara satin produced superior cowl neckline results compared with Roberto Cavalli satin and is recommended for blouse construction using the flat cowl neckline technique. ABSTRAK Pemilihan jenis bahan merupakan faktor penting yang menentukan kualitas hasil jadi busana, khususnya pada model cowl neckline yang membutuhkan kain dengan karakteristik daya jatuh (drapeability) yang baik agar menghasilkan gelombang yang luwes, rata, proporsional, dan tepat. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil jadi model cowl neckline dengan teknik flat pada blus menggunakan bahan satin maxmara dan satin roberto cavali serta menganalisis perbedaan hasil keduanya. Penelitian menggunakan metode eksperimen dengan pendekatan kuantitatif. Objek penelitian berupa hasil jadi cowl neckline pada blus yang dibuat menggunakan kedua jenis bahan tersebut. Penilaian dilakukan oleh 18 panelis yang terdiri atas 3 panelis ahli dan 15 panelis terlatih menggunakan angket skala Likert berdasarkan aspek keluwesan gelombang, kerataan permukaan, jarak antar gelombang, dan ketepatan bentuk gelombang. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa persentase serta statistik inferensial melalui uji normalitas, uji homogenitas, dan independent sample t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa satin maxmara memperoleh persentase penilaian sebesar 88,1% dengan kategori sangat sesuai, sedangkan satin roberto cavali memperoleh persentase sebesar 79,01% dengan kategori sesuai. Hasil uji independent sample t-test menunjukkan nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0,000 (<0,05), yang mengindikasikan adanya perbedaan signifikan antara kedua jenis bahan. Dengan demikian, satin maxmara memberikan hasil cowl neckline yang lebih baik dibandingkan satin roberto cavali sehingga lebih direkomendasikan untuk pembuatan blus dengan model cowl neckline menggunakan teknik flat.
PENGEMBANGAN VIDEO TUTORIAL TEKNIK MENJAHIT PANTALON PADA KOMPETENSI KEAHLIAN BUSANA SMK Suriani; Weni Nelmira; Adriani; Vina Oktaviani
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.14079

Abstract

  ABSTRACT The practical learning of trouser sewing in the Fashion Expertise subject for Grade XI students of the Fashion Design and Production Department at SMKN 4 Pariaman is still predominantly conducted through teacher demonstrations, making it difficult for students to independently review sewing procedures, particularly techniques requiring high precision. This condition highlights the need for learning media that support flexible and independent learning. This study aimed to develop a video tutorial on trouser sewing techniques and to determine its validity and practicality. The study employed a Research and Development (R&D) approach using the ADDIE model, implemented up to the implementation stage. The research participants consisted of five validators (two media experts and three subject-matter experts), nine Grade XI Fashion Design and Production students, and one subject teacher. Data were collected through observations, interviews, and Likert-scale questionnaires and analyzed descriptively using percentage analysis. The results showed that the developed video tutorial achieved an overall validity score of 88.46%, categorized as highly valid, based on media expert validation of 85.81% and material expert validation of 91.11%. Practicality testing yielded scores of 96.36% from the teacher, 92.73% from the small-group trial, and 90.30% from the field trial, all classified as highly practical. Therefore, the developed video tutorial is considered valid and practical for supporting practical trouser sewing instruction in vocational high school Fashion Expertise programs. ABSTRAK Pembelajaran praktik menjahit pantalon pada mata pelajaran Kompetensi Keahlian Busana di kelas XI Jurusan Desain dan Produksi Busana SMKN 4 Pariaman masih didominasi metode demonstrasi guru sehingga siswa mengalami kesulitan mempelajari kembali tahapan menjahit secara mandiri, terutama pada teknik yang memerlukan ketelitian tinggi. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya media pembelajaran yang mampu mendukung proses belajar secara fleksibel dan mandiri. Penelitian ini bertujuan mengembangkan media video tutorial teknik menjahit pantalon serta mendeskripsikan tingkat validitas dan praktikalitasnya. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang dilaksanakan hingga tahap implementation. Subjek penelitian meliputi lima validator yang terdiri atas dua ahli media dan tiga ahli materi, sembilan siswa kelas XI Desain dan Produksi Busana, serta satu guru mata pelajaran. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan angket menggunakan skala Likert, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan teknik persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media video tutorial memperoleh tingkat validitas sebesar 88,46% dengan kategori sangat layak, berdasarkan penilaian ahli media sebesar 85,81% dan ahli materi sebesar 91,11%. Hasil uji praktikalitas menunjukkan penilaian guru sebesar 96,36%, kelompok kecil sebesar 92,73%, dan uji lapangan sebesar 90,30%, yang seluruhnya berada pada kategori sangat praktis. Dengan demikian, media video tutorial teknik menjahit pantalon dinyatakan valid dan praktis sehingga layak digunakan sebagai media pembelajaran untuk mendukung pembelajaran praktik menjahit di kelas XI Kompetensi Keahlian Busana SMK.