cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 518 Documents
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DAN INKUIRI TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS MATEMATIS MELALUI KEMANDIRIAN BELAJAR Ahlan Suadi; Lalu Muhammad Fauzi; Sri Supiyati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14985

Abstract

ABSTRACT Students’ mathematical critical thinking skills in Indonesia remain relatively low. This study aimed to analyze the influence of Problem-Based Learning (PBL) and Inquiry learning models on students’ mathematical critical thinking skills, with learning independence examined as a mediating variable. A quantitative approach with a quasi-experimental design was employed, and the data were analyzed using path analysis. The sample consisted of 46 fifth-grade students at SD Negeri 1 Sambelia, divided into two groups: PBL (n = 23) and Inquiry (n = 23). The research instruments comprised a mathematical critical thinking skills test and a learning independence questionnaire. The results showed that the learning models and learning independence jointly contributed significantly to students’ mathematical critical thinking skills. PBL showed a significant individual contribution, while the contribution of Inquiry was associated with students’ learning independence. Learning independence also made a significant contribution to mathematical critical thinking skills in the PBL group. These findings indicate that the effectiveness of PBL and Inquiry in supporting mathematical critical thinking is associated with students’ level of learning independence. Therefore, learning activities should incorporate systematic support for the development of students’ learning independence alongside the implementation of innovative learning models. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis matematis merupakan salah satu kompetensi penting dalam pembelajaran matematika karena berkaitan dengan kemampuan siswa dalam menganalisis, mengevaluasi, dan menyelesaikan masalah secara logis. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan dan pengaruh penerapan model Problem Based Learning (PBL) dan Inkuiri terhadap kemampuan berpikir kritis matematis dengan mempertimbangkan kemandirian belajar siswa. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental. Sampel terdiri atas 46 siswa kelas V SD Negeri 1 Sambelia yang terbagi dalam kelompok PBL (n=23) dan kelompok Inkuiri (n=23). Data dikumpulkan menggunakan tes kemampuan berpikir kritis matematis dan angket kemandirian belajar, kemudian dianalisis menggunakan statistik deskriptif, uji prasyarat, dan analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran dan kemandirian belajar secara bersama-sama berhubungan secara signifikan dengan kemampuan berpikir kritis matematis. Penerapan PBL menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, sedangkan pengaruh model Inkuiri perlu dipahami dengan mempertimbangkan kemandirian belajar siswa. Kemandirian belajar juga menunjukkan kontribusi yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kritis matematis, terutama pada kelompok PBL. Namun, perbedaan pengaruh langsung antara PBL dan Inkuiri tidak menunjukkan hasil yang signifikan setelah kemandirian belajar diperhitungkan. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan PBL dan Inkuiri sama-sama berpotensi mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis matematis, sementara kemandirian belajar merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan kedua model pembelajaran tersebut.
PERAN KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DI SMP ISLAM TERPADU Iwan Supriadi; Musifudin Musifudin; Badarudin Badarudin
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14986

Abstract

ABSTRACT Principal leadership in integrated Islamic schools faces the challenge of improving academic quality while integrating Islamic values into the school culture, particularly in rural schools with limited resources. This study aims to analyze the principal’s role, educational improvement strategies, leadership challenges, and integration of Islamic values at SMP IT Syaikhuna Zainuddin At Sani NW Lingkuk Dane, Semoyang Village. This study employed a qualitative approach with a case study design. Informants were purposively selected and consisted of the principal, teachers, students, and parents. Data were collected through semi-structured interviews, observations, and documentation, and analyzed thematically. Data validity was examined through source and technique triangulation and member checking. The findings indicate that the principal applied participatory leadership through planning, academic supervision, teacher competency development, resource management, and strengthened community partnerships. Limited facilities, funding, technology, and human resources were addressed through collaboration, communication, resource optimization, and program prioritization. Islamic values were integrated through exemplary conduct, religious habituation, discipline, trustworthiness, responsibility, and deliberation. The novelty of this study lies in describing contextual leadership that integrates managerial, academic, and spiritual functions in addressing resource limitations in a rural integrated Islamic junior secondary school. ABSTRAK Kepemimpinan kepala sekolah di sekolah Islam terpadu menghadapi tuntutan untuk meningkatkan mutu akademik sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam budaya sekolah, terutama pada sekolah pedesaan dengan keterbatasan sumber daya. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran kepala sekolah, strategi peningkatan pendidikan, hambatan kepemimpinan, dan integrasi nilai Islam di SMP IT Syaikhuna Zainuddin At Sani NW Lingkuk Dane Desa Semoyang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Informan dipilih secara purposive dan terdiri atas kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis secara tematik. Keabsahan data diperiksa melalui triangulasi sumber dan teknik serta member checking. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepala sekolah menerapkan kepemimpinan partisipatif melalui perencanaan, supervisi akademik, pengembangan kompetensi guru, pengelolaan sumber daya, dan penguatan kemitraan dengan masyarakat. Keterbatasan sarana, anggaran, teknologi, dan sumber daya manusia diatasi melalui kolaborasi, komunikasi, optimalisasi sumber daya, dan penetapan prioritas program. Nilai Islam diintegrasikan melalui keteladanan, pembiasaan keagamaan, kedisiplinan, amanah, tanggung jawab, dan musyawarah. Kebaruan penelitian terletak pada penggambaran kepemimpinan kontekstual yang memadukan fungsi manajerial, akademik, dan spiritual dalam menghadapi keterbatasan sumber daya di SMP IT pedesaan.
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATA PELAJARAN IPA Vika Rapiatul Hasanah; Nuraeni Nuraeni; M Khalqi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14988

Abstract

ABSTRACT Critical thinking skills need to be developed from elementary education; however, science learning in schools still tends to emphasize conceptual mastery and has not fully facilitated higher-order thinking skills. This study aimed to develop Problem-Based Learning (PBL)-based teaching materials that are valid, practical, and effective in supporting the critical thinking skills of fourth-grade students on the topic of plant parts and their functions. The study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, consisting of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. Data were collected through expert validation, teacher and student response questionnaires, and pretests and posttests, and were analyzed descriptively and using N-Gain. The results showed that the teaching materials received a very valid rating from the material expert with a mean score of 4.2, the visual design expert with a mean score of 4.6, and the language expert with a mean score of 4.2. The teacher response indicated a very good category, while the small-group trial (n=10) and large-group trial (n=25) obtained N-Gain scores of 0.65 and 0.59, respectively, both categorized as moderate. Thus, the developed PBL-based teaching materials were considered valid, practical, and sufficiently effective in supporting the improvement of students' critical thinking skills in science learning. ABSTRAK Kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan sejak pendidikan dasar, tetapi pembelajaran IPA di sekolah masih cenderung berorientasi pada penguasaan konsep dan belum sepenuhnya memfasilitasi keterampilan berpikir tingkat tinggi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan bahan ajar berbasis Problem Based Learning (PBL) yang valid, praktis, dan efektif untuk mendukung kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV pada materi bentuk dan fungsi tumbuhan. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Data diperoleh melalui validasi ahli, angket respons guru dan siswa, serta pretest dan posttest, kemudian dianalisis secara deskriptif dan menggunakan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar memperoleh penilaian sangat valid dari ahli materi dengan skor rata-rata 4,2, ahli desain tampilan sebesar 4,6, dan ahli bahasa sebesar 4,2. Respons guru menunjukkan kategori sangat baik, sedangkan hasil uji coba kelompok kecil (n=10) dan kelompok besar (n=25) masing-masing memperoleh N-Gain sebesar 0,65 dan 0,59, yang keduanya berada pada kategori sedang. Dengan demikian, bahan ajar berbasis PBL yang dikembangkan dinyatakan valid, praktis, dan cukup efektif untuk mendukung peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dalam pembelajaran IPA.
PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS NILAI BUDAYA LOKAL DAN BAHASA DI KAWASAN WISATA: STUDI KASUS SMA NEGERI 1 SEMBALUN Johri Johri; Padlurrahman Padlurrahman; Badarudin Badarudin
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.14989

Abstract

ABSTRACT Character education based on local culture faces challenges arising from globalization and tourism development, which affect the sustainability of local values and language. This study aims to analyze the condition of local cultural values and language, their implementation in education, and their contribution to students’ character development at SMA Negeri 1 Sembalun. This qualitative study employed a case study design. Participants included the principal, teachers, students, community leaders, and parents. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation and analyzed using the interactive model of Miles, Huberman, and Saldaña. Data validity was established through source, technique, and time triangulation. The findings indicate that local cultural values and language are in a critical transition phase, characterized by the dominance of Indonesian in approximately 70% of students’ conversations and declining use of respectful greetings and traditional expressions, while mutual cooperation remains relatively strong. The implementation of cultural programs and the zero-waste program has not been systematically integrated into the curriculum due to limited resources, a dense curriculum, and low student interest. Their contribution to character development is primarily evident in mutual cooperation and responsibility, whereas politeness, respect, and cultural pride remain suboptimal. The novelty of this study lies in analyzing the interconnectedness of language shift, cultural values, character education, and tourism within the specific context of Sembalun. The study recommends integrating local wisdom into learning and strengthening collaboration among schools, families, and communities. ABSTRAK Pendidikan karakter berbasis budaya lokal menghadapi tantangan akibat globalisasi dan perkembangan pariwisata yang memengaruhi keberlangsungan nilai serta bahasa lokal. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi nilai budaya dan bahasa lokal, implementasinya dalam pendidikan, serta kontribusinya terhadap pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 1 Sembalun. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Subjek penelitian meliputi kepala sekolah, guru, siswa, tokoh masyarakat, dan orang tua siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai budaya dan bahasa lokal berada dalam fase transisi kritis, ditandai dominasi bahasa Indonesia dalam sekitar 70% percakapan siswa, berkurangnya sapaan hormat dan ungkapan tradisional, sementara gotong royong masih relatif kuat. Implementasi program budaya dan zero waste belum terintegrasi secara sistematis dalam kurikulum karena keterbatasan sumber daya, kepadatan kurikulum, dan rendahnya minat siswa. Kontribusi terhadap karakter terutama terlihat pada gotong royong dan tanggung jawab, sedangkan kesantunan, penghormatan, dan kebanggaan budaya belum optimal. Kebaruan penelitian terletak pada analisis keterkaitan pergeseran bahasa, nilai budaya, pendidikan karakter, dan pariwisata dalam konteks Sembalun. Penelitian merekomendasikan integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran dan penguatan kolaborasi sekolah, keluarga, serta masyarakat.
INTEGRASI GOOGLE EARTH DALAM ICT-BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN BERPIKIR SPASIAL DAN PEMECAHAN MASALAH IPAS Hery Ardiansyah; Shahibul Ahyan; Sri Supiyati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.15043

Abstract

ABSTRACT This study aims to analyze the effect of integrating Google Earth into ICT-Based Learning on elementary school students’ spatial thinking and problem-solving skills in IPAS learning on map-related topics. Although geospatial technology has been increasingly used to support spatial learning, empirical evidence regarding its integration into ICT-Based Learning at the elementary school level, particularly in relation to both spatial thinking and problem-solving skills, remains limited. This gap highlights the need to examine how Google Earth can be integrated into learning activities that require students to interpret spatial information and solve contextual problems. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design and one-way MANOVA. The participants were 40 fourth-grade students at SD Negeri 4 Batuyang, comprising 20 students in the experimental group and 20 in the control group. The experimental group received ICT-Based Learning using Google Earth, whereas the control group received instruction without Google Earth. Data were collected using an essay-based problem-solving test and a multiple-choice spatial thinking test. The intervention was conducted over three sessions during September–October 2025. Descriptively, the experimental group showed higher mean scores for spatial thinking and problem solving than the control group. The multivariate Wilks’ Lambda test yielded F = 2.589 with p = 0.089, indicating that the combined difference between the two dependent variables was not statistically significant at the 5% level. However, follow-up univariate analyses showed significant differences in spatial thinking (F = 4.519; p = 0.040) and problem solving (F = 5.238; p = 0.028). Thus, the findings indicate that the integration of Google Earth was associated with significant differences in spatial thinking and problem-solving skills individually, while evidence of a significant combined multivariate effect was not established. ABSTRAK Pembelajaran IPAS di sekolah dasar membutuhkan pengalaman belajar yang mampu menghubungkan representasi ruang dengan aktivitas penalaran dan pemecahan masalah. Namun, bukti empiris mengenai pemanfaatan teknologi geospasial, khususnya Google Earth, dalam pembelajaran IPAS sekolah dasar untuk mengembangkan kedua kemampuan tersebut secara bersamaan masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh integrasi Google Earth dalam ICT-Based Learning terhadap kemampuan berpikir spasial dan pemecahan masalah peserta didik kelas IV pada pembelajaran IPAS materi peta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu dan analisis MANOVA satu jalur. Subjek penelitian berjumlah 40 peserta didik kelas IV SD Negeri 4 Batuyang, terdiri atas 20 peserta didik pada kelompok eksperimen dan 20 peserta didik pada kelompok kontrol. Kelompok eksperimen memperoleh pembelajaran ICT-Based Learning dengan media Google Earth, sedangkan kelompok kontrol mengikuti pembelajaran tanpa Google Earth. Data dikumpulkan melalui tes berpikir spasial dan tes pemecahan masalah yang disusun berdasarkan indikator masing-masing kemampuan. Perlakuan dilaksanakan selama tiga kali pertemuan pada September–Oktober 2025. Hasil menunjukkan bahwa uji multivariat Wilks’ Lambda tidak signifikan (F=2,589; p=0,089), sehingga belum terdapat bukti perbedaan gabungan yang signifikan pada kedua kemampuan. Namun, analisis univariat menunjukkan perbedaan signifikan pada kemampuan berpikir spasial (F=4,519; p=0,040) dan pemecahan masalah (F=5,238; p=0,028). Dengan demikian, integrasi Google Earth dalam ICT-Based Learning menunjukkan perbedaan yang signifikan pada kedua kemampuan secara individual, tetapi belum terbukti menghasilkan efek gabungan yang signifikan.
BURNING MOUTH SYNDROME: PATHOPHYSIOLOGY, CLINICAL CHARACTERISTICS, AND MANAGEMENT Susanna Halim; Erni Haryanti; Mhd. Deriansya
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.15212

Abstract

Burning Mouth Syndrome (BMS) is a chronic orofacial pain condition characterized by burning, tingling, or dysesthetic sensations in the oral mucosa without clinically visible mucosal lesions or identifiable local causes. It remains a diagnostic challenge in dental practice because its clinical manifestations are associated with neuropathic, psychoneurological, salivary, systemic, and psychological factors. This literature review aimed to describe the pathophysiology, clinical characteristics, diagnosis, and management of BMS, with particular emphasis on neuropathic mechanisms, psychoneurological aspects, salivary alterations, and their impact on quality of life. A narrative literature review with a thematic approach was conducted using 25 selected articles, including case reports, case-control studies, randomized clinical trials, observational studies, cohort/follow-up studies, scoping reviews, and systematic reviews published between 2021 and 2025. The findings indicate that BMS is a multifactorial condition involving small fiber neuropathy, trigeminal nociceptive dysfunction, central dopaminergic alterations, salivary and oral microbiome changes, psychological factors, sleep disturbances, systemic comorbidities, and drug-related mechanisms. Diagnosis is primarily clinical and exclusion-based, requiring evaluation of the oral mucosa, salivary complaints, taste disturbances, nutritional status, systemic conditions, medication history, and psychological factors. Management strategies include patient education, correction of secondary causes, topical or systemic pharmacotherapy, photobiomodulation, low-level laser therapy, oral cryotherapy, psychological support, and individualized multidisciplinary care. BMS requires a comprehensive diagnostic approach and individualized management to prevent unnecessary dental treatment and improve clinical outcomes and quality of life. ABSTRAK Burning Mouth Syndrome (BMS) merupakan kondisi nyeri orofasial kronis yang ditandai dengan sensasi terbakar, kesemutan, atau disestesia pada mukosa oral tanpa adanya lesi mukosa yang tampak secara klinis maupun penyebab lokal yang jelas. Kondisi ini masih menjadi tantangan diagnostik dalam praktik kedokteran gigi karena manifestasinya berkaitan dengan berbagai faktor neuropatik, psikoneurologis, saliva, sistemik, dan psikologis. Kajian ini bertujuan mendeskripsikan patofisiologi, karakteristik klinis, diagnosis, dan tatalaksana BMS dengan penekanan pada mekanisme neuropatik, aspek psikoneurologis, perubahan saliva, serta dampaknya terhadap kualitas hidup. Penelitian ini menggunakan narrative literature review dengan pendekatan tematik terhadap 25 artikel yang terdiri atas case report, case-control study, randomized clinical trial, observational study, cohort/follow-up study, scoping review, dan systematic review yang diterbitkan pada 2021–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa BMS merupakan kondisi multifaktorial yang melibatkan small fiber neuropathy, disfungsi nosiseptif trigeminal, perubahan dopaminergik sentral, perubahan saliva dan mikrobioma oral, faktor psikologis, gangguan tidur, komorbiditas sistemik, serta mekanisme terkait penggunaan obat. Diagnosis bersifat klinis dan berbasis eksklusi melalui evaluasi kondisi mukosa oral, keluhan saliva, gangguan pengecapan, status nutrisi, kondisi sistemik, riwayat penggunaan obat, dan faktor psikologis. Tata laksana meliputi edukasi pasien, koreksi faktor sekunder, terapi farmakologis topikal atau sistemik, fotobiomodulasi, terapi laser intensitas rendah, krioterapi oral, dukungan psikologis, serta perawatan multidisiplin yang disesuaikan dengan kondisi pasien. BMS memerlukan pendekatan diagnostik komprehensif dan tatalaksana individual untuk mencegah perawatan dental yang tidak diperlukan serta meningkatkan luaran klinis dan kualitas hidup pasien.
KEBERLANJUTAN MUSIK TONGKEQ DALAM EKOSISTEM BUDAYA ISLAM: IDENTITAS, FUNGSI SOSIAL, DAN TRANSFORMASI DI LOMBOK Batua HM Amir; Padlurrahman Padlurrahman; Badarudin Badarudin
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.15239

Abstract

ABSTRACT Traditional music functions not only as an aesthetic expression but also as a medium for identity, social communication, value transmission, and cultural sustainability. This study aims to analyze the transformation of Tongkeq’s musical form and presentation, its socio-religious functions, and the factors supporting its sustainability in Pancor Village, Selong District, East Lombok Regency. The study employed a descriptive qualitative approach, focusing on Tongkeq as a cultural practice within the Sasak-Muslim community. Data were collected through observation, interviews with historical actors, artists, community leaders, and religious figures, as well as document and literature studies. Data were analyzed thematically through theme development and cross-source verification. The findings show that Tongkeq has transformed from a medium of communication and prayer-time signaling into a Ramadan sahur tradition and subsequently expanded into festivals, religious celebrations, nyongkolan, social activities, education, and performances. The transformation encompasses instruments, repertoire, playing techniques, and presentation, while its musical characteristics, including pautan lime, three registers, and petok-petok, beguleng, and nganakin techniques, remain preserved. Its sustainability is supported by cultural identity, religious legitimacy, regeneration, education, creativity, and material knowledge. These findings confirm that Tongkeq endures through community-based adaptation that connects cultural continuity with innovation. ABSTRAK Musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi estetis, tetapi juga sebagai medium identitas, komunikasi sosial, pewarisan nilai, dan keberlanjutan budaya. Penelitian ini bertujuan menganalisis transformasi bentuk penyajian dan musikal, fungsi sosial-keagamaan, serta faktor yang mendukung keberlanjutan musik Tongkeq di Kelurahan Pancor, Kecamatan Selong, Kabupaten Lombok Timur. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan Tongkeq sebagai praktik budaya masyarakat Sasak-Muslim. Data diperoleh melalui observasi, wawancara dengan pelaku sejarah, seniman, tokoh masyarakat, dan tokoh agama, serta studi dokumen dan kepustakaan. Data dianalisis secara tematik melalui pengelompokan tema dan pemeriksaan silang antarsumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tongkeq mengalami transformasi dari media komunikasi dan penanda waktu salat menjadi tradisi sahur Ramadan, kemudian berkembang ke festival, perayaan keagamaan, nyongkolan, kegiatan sosial, pendidikan, dan pertunjukan. Transformasi mencakup instrumen, repertoar, teknik permainan, dan penyajian, sementara karakter musikal pautan lime, tiga register, serta teknik petok-petok, beguleng, dan nganakin tetap dipertahankan. Keberlanjutannya ditopang identitas budaya, legitimasi religius, regenerasi, pendidikan, kreativitas, dan pengetahuan material. Temuan ini menegaskan bahwa Tongkeq bertahan melalui adaptasi berbasis komunitas yang menghubungkan kontinuitas tradisi dengan inovasi budaya.
EKSISTENSI KEPERCAYAAN MASYARAKAT SASAK TERHADAP MATA AIR SAKRAL PEREMBUKAN DI LOMBOK TIMUR Muhammad Zulkifli Efendi; Bambang Eka Saputra; Suhupawati Suhupawati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 4 No. 4 (2024)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v4i4.15496

Abstract

ABSTRAK Mata air Perembukan di Desa Kembang Kerang Daya, Kecamatan Aikmel, Kabupaten Lombok Timur, merupakan sumber air yang sekaligus dipahami masyarakat sebagai ruang sakral. Penelitian ini bertujuan menganalisis sejarah munculnya kesakralan mata air Perembukan, bentuk-bentuk pelestarian yang dilakukan masyarakat, serta manfaat dan dinamika kepercayaan tersebut dalam kehidupan kontemporer. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosial dalam metode sejarah. Pengumpulan sumber dilakukan melalui observasi dan wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus desa, dan warga, serta dokumentasi. Data selanjutnya melalui kritik sumber internal dan eksternal, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesakralan Perembukan dipelihara melalui ingatan kolektif mengenai pengalaman spiritual tetua adat dan keyakinan terhadap keberadaan kekuatan supranatural di sekitar mata air. Eksistensinya tidak bersifat statis: ritual pengobatan dan kegiatan 1 Muharram mulai berkurang frekuensinya, tetapi praktik doa, sesajen, gotong royong membersihkan kawasan, serta penanaman pohon masih dipertahankan oleh sebagian masyarakat. Mata air juga berfungsi sebagai sumber air domestik dan irigasi, ruang ritual, simbol warisan budaya, serta media pengikat relasi sosial. Dengan demikian, keberlanjutan mata air Perembukan bertumpu pada pertemuan antara kepercayaan, identitas budaya, dan praktik konservasi berbasis masyarakat. Pelestariannya memerlukan pewarisan antargenerasi sekaligus pengelolaan lingkungan yang lebih terstruktur agar nilai budaya dan fungsi ekologis dapat dipertahankan secara bersamaan.
MAKNA TRADISI BEREQE DI DESA KOTARAJA KECAMATAN SIKUR: SEBUAH KAJIAN HISTORIS Nurul Hidayanti; Badarudin Badarudin; Abdul Hafiz; Lalu Wahyu Andi Purnama
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.15553

Abstract

ABSTRACT The importance of preserving local traditions as part of Sasak cultural identity has become increasingly significant amid social change and modernization. The Bereqe tradition in Kotaraja Village, Sikur District, East Lombok Regency, is a cultural heritage that continues to be practiced as part of the circumcision ceremony, although its forms and implementation have undergone changes. This study aims to explain the history and implementation process of the Bereqe tradition, examine its meanings, and understand its social and religious values. The study employed a qualitative approach using a historical method through the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Data were collected through observation, interviews, and documentation involving traditional leaders, religious leaders, community leaders, village government representatives, youth, and members of the Kotaraja community. The findings show that the Bereqe tradition consists of several stages, namely tetaring, Mandiang Maling/Bebubus, and Praja Sunatan/Bejaranan. Over time, the use of juli and jaranan, as well as the timing of the ceremony, has changed in response to social conditions. The tradition is interpreted as an expression of gratitude, an effort to seek safety, purification, and a transition to a new stage of life. Furthermore, Bereqe embodies social values such as mutual cooperation, togetherness, concern, affection, and social solidarity, as well as religious values reflected in prayer, gratitude, advice, obedience, and hopes for blessings. These findings confirm that the sustainability of Bereqe depends on the community's ability to preserve its values and meanings while adapting its implementation to changing times. ABSTRAK Pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak di tengah perubahan sosial dan modernisasi. Tradisi Bereqe di Desa Kotaraja Kecamatan Sikur Kabupaten Lombok Timur merupakan salah satu warisan budaya yang masih dilaksanakan dalam rangkaian khitanan, tetapi mengalami perubahan dalam bentuk dan pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sejarah dan proses pelaksanaan tradisi Bereqe, menjelaskan maknanya, serta memahami nilai sosial dan religius yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode sejarah melalui tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi dengan melibatkan tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah desa, pemuda, dan masyarakat Desa Kotaraja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Bereqe terdiri atas tahapan tetaring, Mandiang Maling/Bebubus, dan Praja Sunatan/Bejaranan. Dalam perkembangannya, penggunaan juli dan jaranan serta waktu pelaksanaan mengalami perubahan mengikuti kondisi sosial masyarakat. Tradisi ini dimaknai sebagai ungkapan syukur, ikhtiar memperoleh keselamatan, penyucian, dan peralihan tahap kehidupan. Selain itu, Bereqe mengandung nilai sosial berupa gotong royong, kebersamaan, kepedulian, cinta kasih, dan silaturahmi serta nilai religius berupa doa, syukur, nasihat, ketaatan, dan harapan akan keberkahan. Temuan ini menegaskan bahwa keberlanjutan Bereqe bergantung pada kemampuan masyarakat mempertahankan nilai dan makna tradisi sekaligus menyesuaikan bentuk pelaksanaannya dengan perkembangan zaman
UPAYA GURU MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA MELALUI REWARD DAN PUNISHMENT PADA MATA PELAJARAN AL-QUR’AN HADITS KELAS 3 MI AL-MUJAHIDIN LELEDE Elya Yuliana; Ruziliana Ruziliana
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v5i4.7645

Abstract

This study aims to explore teachers’ strategies in enhancing students’ learning motivation through the implementation of rewards and punishments in the Qur’an Hadith subject for third-grade students at MI Al-Mujahidin Lelede. A descriptive qualitative method was employed, with data collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that rewards were given in the form of praise, small gifts, or additional grades to increase student participation and enthusiasm for learning. Meanwhile, punishments were applied in an educational manner to foster discipline and responsibility, such as requiring students to complete tasks or recite memorized verses in front of the class. These results indicate that a well-balanced application of rewards and punishments can create a more conducive learning environment, enhance student engagement, and strengthen disciplinary character. This study contributes to the practice of Qur’an Hadith learning at the elementary madrasah level, particularly in efforts to build sustainable student motivation. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi guru dalam meningkatkan motivasi belajar siswa melalui penerapan reward dan punishment pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits kelas 3 MI Al-Mujahidin Lelede. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reward diberikan dalam bentuk pujian, hadiah kecil, atau tambahan nilai untuk meningkatkan partisipasi dan semangat belajar siswa. Sementara itu, punishment diterapkan secara edukatif untuk membentuk kedisiplinan dan rasa tanggung jawab, seperti meminta siswa menyelesaikan tugas atau hafalan di depan kelas. Temuan ini mengindikasikan bahwa kombinasi reward dan punishment yang tepat dapat menciptakan suasana belajar yang lebih kondusif, meningkatkan keterlibatan siswa, serta memperkuat karakter disiplin. Studi ini memberikan kontribusi pada praktik pembelajaran Al-Qur’an Hadits di tingkat madrasah ibtidaiyah, khususnya dalam upaya menciptakan motivasi belajar yang berkelanjutan.