cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik
ISSN : 28072294     EISSN : 28071808     DOI : https://doi.org/10.51878/academia.v1i2.649
Core Subject : Education,
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik contains writings/articles on the results of thoughts and research results written by teachers, lecturers, experts, scientists, practitioners, and reviewers in all disciplines related to Academic Research
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 518 Documents
DEVELOPMENT OF INTERACTIVE TEACHING MODULES BASED ON DIFFERENTIATED LEARNING TO SUPPORT THE IMPLEMENTATION OF THE MERDEKA CURRICULUM IN THE ERA OF DIGITAL KNOWLEDGE REVOLUTION Siti Halimatus Sa’adah; Eva Dewi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12421

Abstract

ABSTRACT The availability of digital learning resources capable of accommodating differences in students’ readiness, interests, and learning profiles remains a challenge in implementing differentiated learning within the Merdeka Curriculum. This condition highlights the need for learning materials that not only utilize technology but also provide flexible learning experiences according to students’ characteristics. This study aimed to develop an interactive teaching module based on differentiated learning and to examine its feasibility, practicality, and effectiveness in the learning process. The study employed a Research and Development (R&D) method using the ADDIE model, consisting of Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation. The research was conducted at SMAN 1 Lubuk Batu Jaya during the 2025/2026 academic year and involved 63 eleventh-grade students. Data were collected through interviews, observations, documentation, validation and user-response questionnaires, and learning achievement tests. The validation results indicated feasibility scores of 89.52% from the material experts and 93.30% from the media experts. Teacher and student assessments reached 93.89% and 93.78%, respectively. Effectiveness was demonstrated by an increase in the average score from 59.04 on the pretest to 87.96 on the posttest, with an N-Gain score of 0.711 (71.1%), categorized as high. Therefore, the developed module is feasible, practical, and effective as a learning resource to support differentiated learning and the implementation of the Merdeka Curriculum. ABSTRAK Ketersediaan sumber belajar digital yang mampu mengakomodasi perbedaan kesiapan, minat, dan profil belajar peserta didik masih menjadi tantangan dalam penerapan pembelajaran berdiferensiasi pada Kurikulum Merdeka. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya bahan ajar yang tidak hanya memanfaatkan teknologi, tetapi juga menyediakan pengalaman belajar yang fleksibel sesuai karakteristik peserta didik. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar interaktif berbasis pembelajaran berdiferensiasi serta menguji kelayakan, kepraktisan, dan efektivitas penggunaannya dalam pembelajaran. Penelitian menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation. Penelitian dilaksanakan di SMAN 1 Lubuk Batu Jaya pada tahun ajaran 2025/2026 dengan melibatkan 63 peserta didik kelas XI. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi, angket validasi dan respons pengguna, serta tes hasil belajar. Hasil validasi menunjukkan tingkat kelayakan sebesar 89,52% dari ahli materi dan 93,30% dari ahli media. Penilaian guru dan peserta didik masing-masing mencapai 93,89% dan 93,78%. Efektivitas ditunjukkan oleh peningkatan rata-rata nilai dari 59,04 pada pretest menjadi 87,96 pada posttest, dengan nilai N-Gain sebesar 0,711 (71,1%) dalam kategori tinggi. Dengan demikian, modul yang dikembangkan layak, praktis, dan efektif digunakan sebagai sumber belajar untuk mendukung pembelajaran berdiferensiasi serta implementasi Kurikulum Merdeka.
KEEFEKTIFAN KONSELING KELOMPOK DENGAN TEKNIK SELF-INSTRUCTION DALAM MENGURANGI GLOSSOPHOBIA SISWA DI SMP NEGERI 3 PALU Alya Alya; Hasan Hasan; Dhevy Puswiartika; Nurwahyuni Nurwahyuni
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12514

Abstract

Glossophobia, or the fear of public speaking, is a common problem among students that negatively affects learning participation and self-confidence. This study aims to examine the effectiveness of the self-instruction technique in reducing the level of glossophobia among students at SMP Negeri 3 Palu. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental method and a Non-Equivalent Control Group Design. The research subjects consisted of 12 students divided into an experimental group and a control group, each comprising 6 students, selected using a purposive sampling technique based on glossophobia level. Data were collected using a Likert-model glossophobia scale that had been tested for validity (Pearson Product Moment correlation) and reliability (Cronbach's Alpha = 0.87), then analyzed using the Mann-Whitney U test. The results showed that at pre-test, the experimental group had an average glossophobia percentage of 63.67% (high category), while the control group had 60.33% (high category). After receiving group counseling treatment with the self-instruction technique, the experimental group's average percentage decreased to 30.67% (low category), while the control group showed only a slight decrease to 59.83% (remaining in the high category). The Mann-Whitney U test obtained an Asymp. Sig. (2-tailed) value of 0.003 (< 0.05), indicating a significant difference between the two groups after treatment. These findings demonstrate that group counseling services using the self-instruction technique are effective in reducing students' glossophobia levels and can be recommended as an alternative guidance and counseling service in schools. ABSTRAK Glossophobia, atau kecemasan berbicara di depan umum, merupakan permasalahan yang umum dialami siswa dan berdampak negatif terhadap partisipasi belajar serta kepercayaan diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keefektifan teknik self-instruction dalam mengurangi tingkat glossophobia siswa di SMP Negeri 3 Palu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode quasi experimental dan desain Non-Equivalent Control Group Design. Subjek penelitian berjumlah 12 siswa yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, masing-masing 6 siswa, dipilih menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan tingkat glossophobia. Data dikumpulkan menggunakan skala glossophobia model Likert yang telah teruji valid (korelasi Product Moment Pearson) dan reliabel (Cronbach's Alpha = 0,87), kemudian dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney U. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada pre-test, kelompok eksperimen memiliki rata-rata persentase glossophobia sebesar 63,67% (kategori tinggi), sedangkan kelompok kontrol sebesar 60,33% (kategori tinggi). Setelah diberikan perlakuan berupa konseling kelompok dengan teknik self-instruction, rata-rata persentase kelompok eksperimen menurun menjadi 30,67% (kategori rendah), sedangkan kelompok kontrol hanya menurun tipis menjadi 59,83% (tetap kategori tinggi). Hasil uji Mann-Whitney U memperoleh nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,003 (< 0,05), yang menunjukkan perbedaan signifikan antara kedua kelompok setelah perlakuan. Dengan demikian, layanan konseling kelompok dengan teknik self-instruction terbukti efektif menurunkan tingkat glossophobia siswa dan dapat direkomendasikan sebagai alternatif layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
EFEKTIVITAS TEKNIK ROLE PLAYING UNTUK MENGURANGI PERILAKU BULLYING VERBAL DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Sweetly Nabila Lengkong; Nur Eka Wahyuningsih Riyadi; Azam Arifyadi; Micha Felayati Silalahi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12610

Abstract

Verbal bullying in secondary school settings poses significant negative effects on students' psychological well-being and requires systematic intervention. This study aimed to examine the effectiveness of group guidance services using the role-playing technique in reducing verbal bullying behavior among students at SMK Negeri 8 Palu. A quantitative experimental approach with a one-group pretest-posttest design was employed. Ten students were selected through purposive sampling based on school counselor identification. Data were collected using a verbal bullying questionnaire (r = 0.532; α = 0.950) administered before and after three sessions of group guidance. Shapiro-Wilk normality tests confirmed normal data distribution (pretest: sig. = 0.315; posttest: sig. = 0.624; p > 0.05). Paired Samples t-test results indicated a statistically significant difference (t = 21.177; Sig. 2-tailed = 0.000; p < 0.05), with a Cohen's d effect size of 6.59, classified as very large. The mean verbal bullying score decreased from 70.40 to 61.90, with 9 of 10 students shifting from the high to moderate category. The role-playing technique within group guidance services proved both statistically and practically effective in reducing students' verbal bullying behavior. Future research is recommended to incorporate control groups, larger samples, and multiple data collection methods for more comprehensive findings. ABSTRAK Perilaku bullying verbal di lingkungan sekolah menengah berdampak negatif terhadap kondisi psikologis siswa dan memerlukan intervensi yang sistematis. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas layanan bimbingan kelompok dengan teknik role playing dalam mengurangi perilaku bullying verbal siswa SMK Negeri 8 Palu. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif eksperimen dengan desain one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 10 siswa yang dipilih melalui purposive sampling berdasarkan hasil identifikasi guru BK. Data dikumpulkan menggunakan angket perilaku bullying verbal (r = 0,532; α = 0,950) yang diadministrasikan sebelum dan sesudah tiga sesi layanan bimbingan kelompok. Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan distribusi data normal (pretest: sig. = 0,315; posttest: sig. = 0,624; p > 0,05). Uji Paired Samples t-test menghasilkan nilai t = 21,177 dengan Sig. (2-tailed) = 0,000 (p < 0,05), disertai nilai effect size Cohen's d = 6,59 yang termasuk kategori sangat besar. Rata-rata skor bullying verbal menurun dari 70,40 (pretest) menjadi 61,90 (posttest), dengan 9 dari 10 siswa berpindah dari kategori tinggi ke sedang. Teknik role playing dalam layanan bimbingan kelompok terbukti efektif secara statistik maupun praktis dalam mengurangi perilaku bullying verbal siswa. Penelitian selanjutnya disarankan menggunakan kelompok kontrol, sampel yang lebih besar, serta instrumen pengumpulan data yang lebih beragam.
PENGARUH KONSELING KELOMPOK TEKNIK COGNITIVE RESTRUCTURING UNTUK MEREDUKSI KECEMASAN SISWA KORBAN BULLYING VERBAL Zacky Dero Saputra; Edi Harapan; Arizona Arizona
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12734

Abstract

ABSTRACT Verbal bullying experiences can leave psychological distress that carries over into students’ interactions at school. This study aimed to examine changes in the anxiety levels of students who had experienced verbal bullying after participating in group counseling using the cognitive restructuring technique at SMA PGRI 1 Palembang. Ten students who met the research criteria participated in the study using a pre-experimental one-group pretest–posttest design. Anxiety levels were assessed using a five-point Likert-scale questionnaire before the intervention, followed by three group counseling sessions and a subsequent assessment after the entire counseling process had been completed. Changes in scores between the two measurement points were analyzed using the Wilcoxon Signed-Rank Test. The mean anxiety score decreased from 132.10 before the intervention to 37.70 afterward. The statistical test yielded a Z value of -2.814 with a significance level of 0.005, which was lower than 0.05, indicating a significant difference in students’ anxiety levels between the initial and final measurements. These findings suggest that group counseling using the cognitive restructuring technique may serve as an alternative approach to helping students manage anxiety associated with experiences of verbal bullying. The findings also broaden the scope of guidance and counseling services aimed at supporting the psychological recovery of bullying victims. ABSTRAK Pengalaman bullying verbal dapat meninggalkan tekanan psikologis yang terbawa ke dalam interaksi siswa di sekolah. Penelitian ini diarahkan untuk mengetahui perubahan tingkat kecemasan siswa korban bullying verbal setelah mengikuti layanan konseling kelompok dengan teknik cognitive restructuring di SMA PGRI 1 Palembang. Sepuluh siswa yang memenuhi kriteria penelitian mengikuti rangkaian kegiatan dengan rancangan pre-experimental one-group pretest–posttest design. Kondisi kecemasan dipotret melalui angket Likert lima poin sebelum layanan diberikan, kemudian peserta mengikuti konseling kelompok selama tiga pertemuan dan kembali menjalani pengukuran setelah seluruh layanan selesai. Perubahan skor pada kedua waktu pengukuran dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test. Rata-rata skor kecemasan menurun dari 132,10 sebelum layanan menjadi 37,70 setelah layanan. Pengujian menghasilkan nilai Z sebesar -2,814 dengan signifikansi 0,005, lebih kecil daripada 0,05, yang menunjukkan adanya perbedaan tingkat kecemasan antara pengukuran awal dan akhir. Temuan ini memberikan gambaran bahwa konseling kelompok dengan teknik cognitive restructuring dapat menjadi alternatif dalam membantu siswa mengelola kecemasan yang berkaitan dengan pengalaman bullying verbal. Hasil tersebut sekaligus memperkuat ruang layanan bimbingan dan konseling yang berorientasi pada pemulihan kondisi psikologis korban.
TINJAUAN YURIDIS PUTUSAN PERKARA KEKERASAN SEKSUAL ANAK DI PENGADILAN NEGERI DAN UPTD BANYUMAS Linawati Linawati; Sri Astutik; Ernu Widodo; Subekti Subekti; Nur Handayati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12762

Abstract

Sexual violence against children continues to escalate, creating complex legal ambivalence when children occupy dual positions as both victims and perpetrators in society. The urgency of this research stems from the lack of comprehensive studies simultaneously integrating judicial decisions with institutional field assistance mechanisms. This study aims to analyze the juridical basis of judges' legal considerations and models of child protection and recovery in Banyumas. An empirical juridical method was applied through semi-structured interviews with judges, counselors, and an analysis of criminal court verdicts. The results prove that judicial considerations regarding child victims prioritize restitution and a one-third enhancement of the principal penalty pursuant to sexual violence legislation. Conversely, sanctions for child offenders emphasize restorative justice through a maximum punishment of half the adult penalty, oriented toward character building under the juvenile justice system. The Regional Technical Implementation Unit for the Protection of Women and Children plays a central role in psychological trauma recovery, comprehensive legal protection, and social reintegration. In conclusion, harmonizing proportional judicial decisions and integrated institutional rehabilitation is crucial to realizing substantive justice, legal utility, and certainty for children's developmental future. ABSTRAK Kekerasan seksual terhadap anak terus meningkat, memunculkan ambivalensi hukum kompleks ketika anak berposisi ganda sebagai korban sekaligus pelaku di masyarakat. Urgensi penelitian ini didasari minimnya kajian komprehensif yang mengintegrasikan putusan peradilan dengan mekanisme pendampingan lapangan institusional secara simultan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dasar pertimbangan yuridis hakim serta model perlindungan dan pemulihan anak di Banyumas. Metode yuridis empiris diterapkan melalui wawancara semi-terstruktur terhadap hakim, konselor, serta telaah putusan perkara pidana. Hasil penelitian membuktikan pertimbangan hakim pada anak korban memprioritaskan restitusi dan penambahan sepertiga hukuman pokok sesuai regulasi tindak kekerasan seksual. Sebaliknya, penjatuhan sanksi anak pelaku mengedepankan keadilan restoratif melalui pemidanaan maksimal setengah vonis dewasa berorientasi pembinaan karakter berbasis peradilan anak. Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak memegang fungsi sentral pemulihan trauma psikologis, perlindungan hukum komprehensif, serta reintegrasi sosial. Disimpulkan bahwa harmonisasi putusan yuridis proporsional dan rehabilitasi kelembagaan terpadu krusial guna mewujudkan keadilan substantif, kemanfaatan, serta kepastian hukum bagi tumbuh kembang masa depan anak demi menjamin terpenuhinya hak asasi manusia generasi muda secara utuh berlandaskan keadilan hukum di wilayah Indonesia.  
PENGEMBANGAN MODEL PELATIHAN PANATA ACARA PENGANTIN SUNDA BERBASIS VIRTUAL REALITY DI LEMBAGA KURSUS Iis Handoko; Handini Handini; Sholeh Hidayat; Luluk Asmawati
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.12897

Abstract

ABSTRACT This study aimed to develop a Virtual Reality (VR)-based training model for Sundanese wedding Master of Ceremony (MC) practitioners to enhance the competencies of learners in non-formal training institutions. The study was prompted by the limitations of conventional training, which tend to emphasize theoretical knowledge and provide limited opportunities for participants to experience the dynamic situations encountered during Sundanese wedding ceremonies. To address this gap, the study employed a Research and Development (R&D) approach based on the Dick and Carey instructional design model. The development process involved needs analysis, instructional design, prototype development, expert validation, product revision, participant trials, and effectiveness evaluation. The participants consisted of 20 trainees enrolled in a course institution in Pandeglang Regency. The findings showed that the developed model achieved favorable expert validation results, with scores of 4.5 for model feasibility, 4.3 for content relevance, and 4.1 for pedagogical validity on a five-point scale. Effectiveness testing using a paired-samples t-test revealed a statistically significant improvement in participants’ competency scores, increasing from a mean of 65.50 on the pre-test to 88.75 on the post-test (p < 0.05). In addition, 95% of participants reported increased confidence and readiness to manage Sundanese wedding events. The study concludes that the VR-based training model offers an effective experiential learning alternative for strengthening professional competence and supporting innovation in non-formal training programs. ABSTRAK Kebutuhan akan pelatihan yang mampu menjembatani penguasaan pengetahuan adat dengan keterampilan praktis menjadi persoalan penting dalam pengembangan kompetensi Master of Ceremony (MC) atau panata acara pernikahan Sunda. Pelatihan yang masih didominasi penyampaian materi secara konvensional belum sepenuhnya memberikan kesempatan kepada peserta untuk menghadapi dinamika prosesi, berkomunikasi dengan berbagai pihak, dan mengambil keputusan dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata. Penelitian ini berfokus pada pengembangan model pelatihan berbasis Virtual Reality (VR) sebagai alternatif pembelajaran yang memungkinkan pengalaman praktik berlangsung dalam lingkungan virtual yang imersif. Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model Dick and Carey melalui tahap analisis kebutuhan, analisis pembelajaran dan karakteristik peserta, perumusan tujuan, pengembangan instrumen dan strategi, perancangan produk, validasi ahli, uji coba, revisi, serta evaluasi. Subjek penelitian berjumlah 20 peserta pelatihan pada lembaga kursus di Kabupaten Pandeglang. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa model memperoleh rerata penilaian ahli sebesar 4,2 dari skala 5 dengan kategori sangat layak. Uji coba juga memperlihatkan peningkatan rerata kompetensi peserta dari 65,50 pada pre-test menjadi 88,75 pada post-test dengan nilai signifikansi p < 0,05. Selain itu, 95% peserta menyatakan model mendukung kesiapan dan kepercayaan diri mereka. Dengan demikian, model pelatihan berbasis VR berpotensi menjadi alternatif inovatif untuk memperkuat kompetensi panata acara pernikahan Sunda melalui pengalaman belajar yang lebih kontekstual dan aplikatif.
MODEL KOMUNIKASI INOVASI SIKLIKAL PADA PERGURUAN TINGGI TERBUKA DAN JARAK JAUH DI ERA TRANSFORMASI DIGITAL Mochamad Priono; Gunawan Wiradharma; Hasanuddin; Mario Aditya Prasetyo; Khaerul Anam
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i4.13128

Abstract

ABSTRACT Digital transformation has encouraged Open and Distance Higher Education (ODHE) institutions to develop innovation communication strategies capable of effectively engaging diverse stakeholders. However, a communication model that specifically reflects the characteristics of Indonesian ODHE institutions remains limited. This study aims to develop an innovation communication model that is adaptive to digital transformation, cross-unit collaboration, and the needs of distance learners. A qualitative approach with a case study design was employed at Universitas Terbuka, Indonesia's national open and distance higher education institution. Data were collected through in-depth interviews, document analysis, and institutional communication archives, and were analyzed using thematic analysis involving coding, categorization, and theme synthesis. The findings reveal that innovation communication in ODHE is a complex organizational process characterized by multilevel interactions, multichannel communication, collaboration, and continuous cyclical implementation. The study highlights the importance of cross-unit coordination, integrated digital communication channels, message adaptation for distance learners, implementation support, management of organizational and technological barriers, and the utilization of stakeholder feedback for continuous improvement. Based on these findings, the study proposes an innovation communication model consisting of seven key components: innovation actor mapping, cross-unit coordination, communication channel integration, message adaptation, implementation support, participation and feedback, and continuous evaluation. This model contributes to the advancement of innovation diffusion theory within the context of digital open and distance higher education while offering strategic recommendations for improving innovation implementation in open universities. ABSTRAK Transformasi digital telah mendorong Perguruan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTJJ) untuk mengembangkan komunikasi inovasi yang mampu menjangkau berbagai pemangku kepentingan secara efektif, namun belum tersedia model komunikasi inovasi yang secara khusus menggambarkan karakteristik PTJJ di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model komunikasi inovasi pada PTJJ yang adaptif terhadap dinamika digital, kolaborasi lintas unit, dan kebutuhan pembelajar jarak jauh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di Universitas Terbuka sebagai institusi PTJJ berskala nasional. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, studi dokumentasi, serta penelusuran arsip dan kanal komunikasi resmi, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik melalui proses pengodean, kategorisasi, dan sintesis tema. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunikasi inovasi di PTJJ merupakan proses organisasi yang bersifat multilevel, multikanal, kolaboratif, dan berlangsung secara siklikal. Temuan utama menegaskan pentingnya koordinasi lintas unit, integrasi komunikasi digital, adaptasi pesan sesuai karakteristik pembelajar, pendampingan implementasi, pengelolaan hambatan organisasi dan teknologi, serta pemanfaatan umpan balik sebagai dasar penyempurnaan inovasi. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini menghasilkan model komunikasi inovasi PTJJ yang terdiri atas tujuh komponen utama, yaitu pemetaan aktor inovasi, koordinasi lintas unit, integrasi kanal komunikasi, adaptasi pesan, pendampingan implementasi, partisipasi dan umpan balik, serta evaluasi berkelanjutan. Model ini memperkaya pengembangan teori difusi inovasi dalam konteks PTJJ digital sekaligus memberikan rekomendasi strategis bagi perguruan tinggi terbuka dalam meningkatkan efektivitas implementasi inovasi.
CLASSROOM MANAGEMENT STRATEGIES OF A CATHOLIC RELIGIOUS EDUCATION TEACHER IN SUPPORTING STUDENTS' LEARNING DISCIPLINE AT SMA NEGERI 1 SILAEN Mega Sitanggang; Elisa Br Ginting
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13764

Abstract

Preliminary observation at SMA Negeri 1 Silaen indicated that students' learning discipline was not yet fully optimal, as reflected in tardiness, inconsistent attention, and uneven responsibility for completing assignments. This study aims to describe the classroom management strategies used by a Catholic Religious Education teacher to support students' learning discipline and the manifestations of that discipline. The study employed a qualitative descriptive design. Ten informants were selected purposively: one principal, one Catholic Religious Education teacher, and eight students. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation, and were analyzed through coding, category development, data display, and conclusion drawing. Data credibility was examined through source and technique triangulation. The findings show that the most prominent strategy, consistently supported across data sources, was the establishment of clear behavioral expectations combined with supportive communication and humane corrective guidance. Other strategies included preventive monitoring, redirecting students to learning tasks, and habituating orderly behavior through repeated explanation, modeling, and practice. These strategies were reflected in rule compliance, responsibility for completing assignments, and orderly participation, although tardiness, limited attention, and inconsistent learning responsibility remained among some students. The study confirms that classroom management in Catholic Religious Education functions as a pedagogical process for developing discipline, responsibility, self-control, and mutual respect. ABSTRAK Observasi awal di SMA Negeri 1 Silaen menunjukkan bahwa disiplin belajar siswa belum sepenuhnya optimal, yang tampak pada keterlambatan, perhatian yang tidak konsisten, dan tanggung jawab penyelesaian tugas yang belum merata. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi pengelolaan kelas guru Pendidikan Agama Katolik dalam mendukung disiplin belajar siswa serta manifestasi disiplin tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Informan dipilih secara purposif dan berjumlah 10 orang, terdiri atas 1 kepala sekolah, 1 guru Pendidikan Agama Katolik, dan 8 siswa. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui pengodean, pengelompokan kategori, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang paling menonjol dan paling konsisten didukung oleh seluruh sumber data ialah penetapan ekspektasi perilaku yang jelas yang dipadukan dengan komunikasi suportif serta teguran korektif yang humanis. Strategi lain meliputi pemantauan preventif, pengalihan kembali perhatian siswa pada tugas, serta pembiasaan perilaku tertib melalui penjelasan, keteladanan, dan praktik berulang. Strategi tersebut tercermin pada kepatuhan terhadap aturan, tanggung jawab menyelesaikan tugas, dan partisipasi yang tertib, meskipun keterlambatan, kurang fokus, dan tanggung jawab belajar yang belum konsisten masih ditemukan pada sebagian siswa. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan kelas dalam Pendidikan Agama Katolik berfungsi sebagai proses pedagogis untuk membentuk disiplin, tanggung jawab, pengendalian diri, dan sikap saling menghargai.
PENGUNGKAPAN DIRI PADA GEN Z PENGGUNA SECOND ACCOUNT INSTAGRAM DITINJAU DARI KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN KEPERCAYAAN INTERPERSONAL Fadilla Putri Anggraini; Fajar Kawuryan
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13816

Abstract

One of the phenomena commonly found on Instagram is the use of second accounts as a more private space for self-expression. Although second accounts are frequently used as a medium for self-disclosure, previous studies on the relationship between extraversion personality, interpersonal trust, and self-disclosure among Instagram second account users, particularly Generation Z, have yielded inconsistent findings, indicating the need for further investigation. This study aimed to examine the relationship between extraversion personality and interpersonal trust with self-disclosure among Generation Z users of Instagram second accounts. This study employed a quantitative correlational approach. The sample consisted of 64 Generation Z users of Instagram second accounts aged 14–29 years, selected using a purposive sampling technique. Data were collected using the Self-Disclosure Scale, the Extraversion Personality Scale, and the Interpersonal Trust Scale. Data were analyzed using two-predictor multiple regression and Pearson's product-moment correlation with the assistance of SPSS. The results of the major hypothesis test indicated that extraversion personality and interpersonal trust were not significantly related to self-disclosure (R = 0.252; R² = 0.063; F = 2.066; p = 0.136). However, the results of the minor hypothesis test revealed a significant positive relationship between extraversion personality and self-disclosure (p = 0.022, p < 0.05), whereas interpersonal trust was not significantly related to self-disclosure. ABSTRAK Salah satu fenomena yang banyak ditemukan di Instagram adalah penggunaan second account sebagai ruang yang lebih privat untuk mengekspresikan diri. Meskipun second account sering dimanfaatkan sebagai media pengungkapan diri, penelitian mengenai hubungan kepribadian ekstrovert dan kepercayaan interpersonal dengan pengungkapan diri pada pengguna second account Instagram, khususnya pada generasi Z, masih menunjukkan hasil yang beragam sehingga perlu dikaji kembali. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kepribadian ekstrovert dan kepercayaan interpersonal dengan pengungkapan diri pada gen z pengguna second account Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasi. Sampel penelitian ini terdiri atas 64 gen z pengguna second account instagram berusia 14-29 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala pengungkapan diri, skala kepribadian ekstrovert, dan skala kepercayaan interpersonal. Analisis data menggunakan teknik regresi dua prediktor dan product moment dengan bantuan SPSS. Hasil analisis uji hipotesis mayor, kepribadian ekstrovert dan kepercayaan interpersonal tidak memiliki hubungan dengan pengungkapan diri (R = 0,252; R² = 0,063; F = 2,066; p = 0,136). Namun, hasil analisis hipotesis minor penelitian menunjukkan nilai signifikan p sebesar 0,022 (p<0,05) yang artinya, ada hubungan positif yang signifikan antara kepribadian ekstrovert dengan pengungkapan diri. Sedangkan kepercayaan interpersonal tidak menunjukkan ada hubungan dengan pengungkapan diri.
HUBUNGAN ANTARA DUKUNGAN SOSIAL ORANG TUA DAN PERBANDINGAN SOSIAL DENGAN HARGA DIRI PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL Sefiana Nova Indri Ardani; Fajar Kawuryan
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.13817

Abstract

Self-esteem, as a crucial aspect of adolescent development, is influenced by parental social support and social comparison, particularly amid the rising use of social media, which can encourage adolescents to compare themselves with others. Although there has been extensive research on adolescent self-esteem, studies that integrate parental social support and social comparison among adolescents who use social media still require further empirical evidence. This study aims to analyze the relationship between parental social support and social comparison and self-esteem among adolescents who use social media. This study employs a quantitative method with a correlational approach. The sample consisted of 89 adolescents aged 12–21 who use social media, selected using purposive sampling. Data were collected using a self-esteem scale, a parental social support scale, and a social comparison scale, while data analysis was conducted using multiple regression and Product-Moment correlation analyses with the aid of SPSS. The results showed that parental social support and social comparison simultaneously had a very significant relationship with self-esteem (p <0.01) with an effective contribution of 21.1% (R² = 0.211). Parental social support correlated significantly positively with self-esteem (r = 0.427; p < 0.01), while social comparison correlated significantly negatively with self-esteem (r = -0.351; p < 0.01). These findings indicate that the higher the parental social support, the higher the adolescent's self-esteem, while the higher the social comparison, the lower the self-esteem of adolescent social media users. This indicates that parental social support and social comparison are important aspects to consider when improving the self-esteem of adolescent social media users. ABSTRAK Harga diri sebagai aspek penting dalam perkembangan remaja dipengaruhi oleh dukungan sosial orang tua dan perbandingan sosial, terutama di tengah meningkatnya penggunaan media sosial yang dapat mendorong remaja membandingkan dirinya dengan orang lain. Meskipun telah banyak penelitian mengenai harga diri remaja, kajian yang mengintegrasikan dukungan sosial orang tua dan perbandingan sosial pada remaja pengguna media sosial masih memerlukan penguatan bukti empiris. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara dukungan sosial orang tua dan perbandingan sosial dengan harga diri pada remaja pengguna media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sampel penelitian berjumlah 89 remaja pengguna media sosial berusia 12–21 tahun yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan skala harga diri, skala dukungan sosial orang tua, dan skala perbandingan sosial, sedangkan analisis data menggunakan analisis regresi ganda dan korelasi Product Moment dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial orang tua dan perbandingan sosial secara simultan berhubungan sangat signifikan dengan harga diri (p<0,01) dengan sumbangan efektif sebesar 21,1% (R² = 0,211). Dukungan sosial orang tua berkorelasi positif secara sangat signifikan dengan harga diri (r = 0,427; p<0,01), sedangkan perbandingan sosial berkorelasi negatif secara sangat signifikan dengan harga diri (r = -0,351; p<0,01). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial orang tua, semakin tinggi pula harga diri remaja, sedangkan semakin tinggi perbandingan sosial, semakin rendah harga diri remaja pengguna media sosial. Hal ini mengindikasikan bahwa dukungan sosial orang tua dan perbandingan sosial merupakan aspek yang perlu diperhatikan dalam upaya meningkatkan harga diri remaja pengguna media sosial.