cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 96 Documents
Studi Hermeneutik Feminis Terhadap Kisah Abigail dan Implikasinya bagi Ibu Rumah Tangga Rosnaminarti, Rosnaminarti; Putri, Eltin Srikarni; Algita, Nansi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.90

Abstract

This article aims to change perspectives on the role and position of a housewife. The author examines this problem related to subordination and discrimination against housewives. The author chose the story of Abigail in 1 Samuel 25:2-44 as study material. The author uses a hermeneutic-feminist approach from Elizabeth Schussler Fiorenza. The author found that Abigail became reflective material for encouraging equality between men and women by involving women in decision making and participating in public spaces. However, the church must also empower men and women through equal access to education. The author hopes that this article can encourage the church to emphasize complete equality between men and women, starting from education, freedom of opinion, and participation in public spaces.Abstrak:Masalah dalam artikel ini adalah subordinasi dan diskriminasi yang terjadi kepada ibu rumah tangga. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengubah perspektif terhadap peran dan kedudukan seorang ibu rumah tangga. Peneliti memilih kisah Abigail dalam 1 Samuel 25:2-44 sebagai bahan kajian. Peneliti menggunakan pendekatan hermeneutik-feminis dari Elizabeth Schussler Fiorenza. Peneliti menemukan bahwa Abigail menjadi bahan reflektif untuk mendorong kesetaraan laki-laki dan perempuan, memberikan ruang kebebasan bagi perempuan untuk berpendapat, melepaskan istri dari kekangan suaminya, serta memberi ruang jika sewaktu-waktu hendak berpartisipasi di ruang publik. Peneliti berharap tulisan ini dapat mendorong gereja menekankan kesetaraan yang utuh antara laki-laki dan perempuan.. Kata Kunci: 1 Samuel 25, Abigail, hermeneutik feminis, ibu rumah tangga
Belajar Teologi Perubahan Sosial Gereja dari Masyarakat Adat Ulu Moro’o Gulo, Nestilina; Tambunan, Elia; Waruwu, Famati; Harefa, Otieli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.113

Abstract

In this article, we delve into the topic of how religious communities in Indonesia have adapted to the rise of information, technology, and communication. Specifically, we observe the Nias community in Ulu Moro'o District in West Nias Regency, North Sumatra, utilizing a religious psychoanalytic approach. Using grounded theory as a data theorization method, this empirical qualitative research sheds light on the social problems that technology has created in terms of spirituality and emotional tension among indigenous and religious communities. However, it has also served as a mechanism for comforting oneself over past events such as natural disasters. Furthermore, this article proposes a theology of social change in church, society, and customs as a distinct scientific discipline. It recognizes indigenous and religious communities as living social texts that result from self-awareness, imagination, reasoning, and daily life experiences, influencing their attitudes towards the church in changing times, particularly due to the digitization of traditional villages. Abstrak Artikel ini mengkaji bagaimana perubahan perilaku umat beragama terhadap booming informasi, teknologi, dan komunikasi di Indonesia - seringkali menimbulkan persoalan tersendiri - dengan menjadikan masyarakat Nias di Kecamatan Ulu Moro’o di Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara sebagai subjek penelitian. Tidak seperti penelitian sebelumnya, masyarakat Nias (di sini dilihat dalam kerangka masyarakat adat) justru diamati dari pendekatan psikoanalisis keagamaan. Dari sana dapat dikonstruksi pengetahuan yang terbilang baru bahwa terjadinya perubahan sosial memang sangat bisa menimbulkan ketegangan emosional pada masyarakat adat dan masyarakat beragama tetapi juga ada faktor lain, misalnya kehadiran teknologi menjadi salah satu mekanisme untuk penghiburan diri secara sosial atas peristiwa masa silam yang menakutkan sehingga meskipun telah berlalunya waktu, peristiwa namun hal-hal itu tetap saja tidak mudah untuk dihapuskan secara benar-benar bersih dari memori bersama. Penelitian ini adalah jenis kualitatif empiris dengan grounded theory sebagai metode teoritisasi data. Arti penting artikel ini adalah mengusulkan teologi perubahan sosial di gereja, masyarakat, adat sebagai bidang disiplin ilmu mandiri, dengan menempatkan komunitas masyarakat beradat dan beragama sebagai teks sosial yang hidup, sebagai hasil kesadaran diri, imajinasi, penalaran, dan pengalaman hidup sehari-hari yang mempengaruhi perilaku konservatisme mereka terhadap gereja dan perubahan zaman, khususnya akibat digitaslisasi desa adat. Kata Kunci: Digitalisasi: Nias; Psikoanalisis Masyarakat; Teologi Perubahan Sosial; Ulu Moro’o
Upaya Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Pembentukan Karakter Siswa Usia 12 Tahun Sumayku, Jefri N
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.112

Abstract

This article is written to describe concretely what efforts are made by Christian Religious Education teachers in shaping the character of 12-year-old students. This topic is reviewed based on the age of 12 years, which is the age at which these students will become teenagers. Therefore, it is important to lay the foundation of correct character through the path of Christian religious education. In working on this paper, researchers use a literature study approach by asking two formulations of research questions. What qualifications should PaK teachers have for shaping student character? And what kind of efforts do PAK teachers make to build student character? The findings of this study are that PAK teachers should have an intellect marked by believing in the authority of scripture and themselves become role models in all aspects for students. Surely this will be a model that can be imitated by educators in their character development in accordance with the principles of the truth of God's words.  AbstrakArtikel ini ditulis untuk menguraikan secara kongkrit upaya apa yang dilakukan oleh guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter siswa usia 12 tahun. Topik ini diulas didasarkan pada usia 12 tahun merupakan usia dimana para peserta didik ini akan beranjak remaja. Oleh karena itu, penting meletakkan fondasi karakter yang benar melalui jalur Pendidikan Agama Kristen. Di dalam mengerjakan tulisan ini, peneliti menggunakan pendekatan studi kepustakaan dengan mengajukan dua rumusan pertanyaan penelitian. Kualifikasi apa seharusnya yang dimiliki guru PaK dalam membentuk karakter siswa? Dan upaya seperti apa yang dilakukan pengajar PAK dalam pembentukan karakter siswa? Temuan dari penelitian ini, pengajar PAK hendaknya memiliki intelektualitas yang ditandai percaya pada otoritas kitab suci, dan dirinya menjadi role model dalam segala aspek bagi murid. Tentunya ini akan menjadi percontohan yang bisa ditiru oleh naradidik dalam pengembangan karakter mereka yang sesuai dengan prinsip kebenaran firman Tuhan. Kata Kunci: Guru, Peserta didik, Pendidikan Agama Kristen
Peran Gereja dalam Membentuk Karakter Remaja Kristen di Era Kontemporer Gea, Erniwati; Waruwu, Anwar Three Millenium; Novalina, Martina; Rohy, Ampinia Rahap Wanyi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.89

Abstract

The education of adolescent character plays a significant role in shaping a future generation that is robust and responsible. In this contemporary era, replete with various challenges, sturdy character and strong moral values stand as essential foundations required by Christian adolescents. The church assumes a strategic role in ensuring the balanced and ethical development of adolescent character. This research aims to analyze the church's contribution as an effective partner for parents in molding adolescent character, as well as how character education within the church can cater to the individual needs of each adolescent in the contemporary era. The methodology employed in this study is a literature review, involving the extraction of information from diverse literary sources such as books, documents, magazines, journals, and newspaper publications. The research findings indicate that the roles of the church, family, and community are paramount in providing support, education, and guidance to Christian adolescents in facing challenges like technological influence and negative temptations. Collaboration between the church, family, school, and relevant institutions emerges as the linchpin in shaping the character of Christian adolescents. Through a pertinent and inclusive approach, Christian adolescents can grow in faith and become stalwart successors for the nation and the church in the future. Abstrak:Pendidikan karakter remaja memegang peran penting dalam membentuk generasi masa depan yang kuat dan bertanggung jawab. Di era kontemporer yang penuh dengan berbagai tantangan, karakter yang kokoh dan nilai-nilai moral yang kuat adalah fondasi utama yang dibutuhkan oleh remaja Kristen. Gereja memiliki peran strategis dalam memastikan pertumbuhan karakter remaja yang seimbang dan beretika. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi gereja sebagai mitra efektif bagi orang tua dalam membentuk karakter remaja, serta bagaimana pendidikan karakter di gereja dapat memenuhi kebutuhan individu masing-masing remaja di era kontemporer. Metode kajian pustaka digunakan dalam penelitian ini, dengan menggali informasi dari berbagai sumber literatur seperti buku, dokumen, majalah, jurnal, dan publikasi surat kabar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran gereja, keluarga, dan komunitas sangat vital dalam memberikan dukungan, pendidikan, dan bimbingan kepada remaja Kristen dalam menghadapi tantangan-tantangan seperti pengaruh teknologi dan godaan-godaan negatif. Kerjasama antara gereja, keluarga, sekolah, dan lembaga terkait menjadi kunci dalam membentuk karakter remaja Kristen. Dengan pendekatan yang relevan dan inklusif, remaja Kristen dapat tumbuh dalam iman dan menjadi penerus yang kuat bagi bangsa dan gereja di masa depan.Kata Kunci: Pendidikan Karakter, Remaja Kristen, Peran Gereja, Era Kontemporer.
Kepribadian Guru Pendidikan Agama Kristen yang Ideal dalam Pembentukan Karakter Peserta Didik Kaunang, Novita Wihelmina
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.115

Abstract

This article discusses specifically what kind of personality a Christian Religious Education teacher should have in forming the character of students. This topic is reviewed because there are still teachers who are not yet fully open to taking part in the formation of students' character. Why is a teacher encouraged to be involved in forming the character of students, so that when they grow up, they become individuals who do not display bad character? This is where educators need attention and concentration when teaching Christian religious studies. By using a qualitative research method and a literature approach, this paper proposes the formulation of the main question. What kind of personality should a PAK teacher have? The findings from this discussion explain that the personality a teacher needs to have to form the character of students is a personality that is mature and responsible, a personality that is wise and authoritative. This personality will help students have role models in character formation. ABSTRAKTulisan ini membahas secara spesisifk kepribadian seperti apa seharusnya yang dimiliki oleh seorang guru Pendidikan Agama Kristen dalam pembentukan karakter peserta didik. Topik ini diulas karena masih ada para pengajar yang berlum sepenuhnya terkonsentrasi untuk andil dalam pembentukan karakr peserta didik. Mengapa seorang guru didorong untuk terlibat dalam pembentukan karakter peserta didik, agar ketika mereka beranjak pada usia dewasa, mereka menjadi pribadi yang tidak menampilkan karakter yang buruk. Disinilah pendidik diperlukan perhatian dan konsentrasinya saat mengajar dalam pembelajaran Agama Kristen. Dengan mennggunkan metode penelitian kualitatif pendekatan literatur, tulisan ini mengajukan rumusan pertanyaan utama. Seperti apa kepribadian yang harus dimiliki seorang pengajar PAK? Temuan dari pembahasan ini menguraikan bahwa kepribadian guru yang perlu dimiliki dalam pembentukan karakter peserta didik adalah keperibadian yang dewasa dan bertanggung jawab, kerpibadian yang arif kepribadian dan berwibawa. Kepribadian ini akan membantu peserta didik memiliki role model dalam pembentukan karakter Kata Kunci: Kepribadian Guru, Pendidikan Agama Kristen, Peserta Didik, Karakter
Reinterpretasi Misteri Kematian Uza Sebagai Implementasi Kekudusan di Era Disrupsi: Kajian Hermeneutik dalam 2 Samuel 6:6-7 Pattinaja, Aska Aprilano
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.108

Abstract

Uza's death is still a mystery. Various debates have arisen as to the reason behind Uza's death. The reinterpretation of Uza's death is needed to place this story in the right perspective about the reason for Uza's death, as well as God's motives for doing so in affirming His holiness standards. Based on a qualitative method, with a hermeneutic approach to exegetical studies, this study found several things, namely: first, God cannot violate His own rules and holiness; second, Uza's good motivation was not accompanied by wisdom to think about the actions taken; third, God's focus gave David a lesson, that as a leader, he had misunderstood and interpreted God's will. The implementation of this research is very important and serves as input to every believer to maintain holiness in the era of disruption.Abstrak:Kematian Uza sampai sekarang masih menjadi misteri. Banyak perdebatan muncul, tentang alasan dibalik kematian Uza. Reinterpretasi kematian Uza, sangat diperlukan untuk mendudukan kisah ini dalam perspektif yang benar tentang alasan kematian Uza, serta motif Tuhan melakukannya dalam menegaskan standar kekudusan-Nya Berdasarkan metode kualitatif, dengan pendekatan hermeneutik studi eksegese, maka penelitian ini menemukan, beberapa hal penting yang menjadi implementasi penelitian ini,  yakni: pertama, Allah tidak bisa melanggar aturan dan kekudusannya sendiri; kedua, Motivasi Uza yang baik, tidak dibarengi dengan hikmat untuk memikirkan tindakan yang diambil; ketiga Fokus Allah memberikan pelajaran kepada Daud, bahwa sebagai pemimpin, Ia telah salah dalam memahami dan menafsirkan kehendak Allah. Hasil yang ditemukan ini sangat penting dan menjadi masukan kepada serta setiap orang percaya untuk menjaga kekudusan di era disrupsi. Kata Kunci: Uza, Kematian, Tabut Perjanjian, Kekudusan
Tendensi Sosial di Balik Perumpamaan Unik Lukas: Analisis Tematis Lukas 9:51–19:44 Prabowo, Paulus Dimas; Kalaka, Jhon
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.92

Abstract

This article entitled "Social Tendencies Behind Luke's Unique Parable: Thematic Analysis of Luke 9:51–19:44" is a review to answer the meaning behind the inclusion of Luke's unique parable in chapter 9:51–19:44. This section is interesting because it is a narrative leading up to Jesus' death. The parable in it is similar to the last will of someone who will soon die. Several scholars have proposed various interpretations regarding the meaning of this unique parable. Through thematic analysis and literature study methods, it was found that the unique parable in Luke 9:51–19:44 has a social tendency, where the gospel is related to social equality, social concern, and social consequences. Luke pays more attention to social life in his gospel. AbstrakArtikel berjudul “Tendensi Sosial di Balik Perumpamaan Unik Lukas: Analisis Tematis Lukas 9:51–19:44” ini merupakan sebuah ulasan untuk menjawab makna di balik pencantuman perumpamaan unik Lukas di dalam pasal 9:51–19:44. Bagian ini menarik karena merupakan narasi menjelang kematian Yesus. Perumpamaan di dalamnya berupa wasiat terakhir dari seseorang yang akan segera mati. Beberapa sarjana telah mengusulkan beragam tafsiran mengenai makna perumpamaan unik tersebut.  Melalui metode analisis tematik dan studi literatur, ditemukan hasil bahwa perumpamaan unik dalam Lukas 9:51–19:44 memiliki tendensi sosial, dimana injil berkaitan dengan kesetaraan sosial, kepedulian sosial, dan konsekuensi sosial. Lukas menaruh perhatian yang lebih terhadap kehidupan sosial di dalam Injilnya. 
Integritas Pemimpin Kristiani Dalam Perwujudan Karakter Diri Rondonuwu, Fery; Setiawan, Tjutjun; Prayitno, Yonas Pasiran Ady
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.105

Abstract

This article was born out of deep concern about the events occurring in the country. In church organizations, there are pastors who commit extramarital affairs, misappropriate church finances, sexual harassment, and abuse of office. As leaders, don't they know that what they are doing violates the law and moral regulations? This research aims to find out what causes the loss of integrity in leaders, especially Christian leaders. The method used was a literature study, and the findings in this article found that the main cause of the loss of integrity for many Christian leaders was human sinfulness. However, God enables each person to build a life full of integrity so that, in his leadership, he can be an example for the people he leads. AbstrakTulisan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di negeri. Dalam organisasi gereja, ada pendeta yang melakukan perselingkuhan, penyelewengan keuangan gereja, pelecehan seksual dan penyalahgunaan jabatan. Sebagai seorang pemimpin, apakah mereka tidak tahu bahwa yang mereka lakukan melanggar hukum dan ketetapan moral? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang menyebabkan hilangnya integritas para pemimpin, terutama pemimpin Kristiani. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dan temuan pada artikel ini didapati penyebab utama hilangnya integristas banyak pemimpin Kristani karena keberdosaan manusia. Akan tetapi Tuhan memampukan setiap orang untuk membangun hidup yang penuh integritas sehingga dalam kepemimpinannya dapat menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Kata Kunci: Pemimpin Kristiani, Integritas, Karakter Diri
Bible For Kids: Aplikasi Pendamping Orang Tua Mewujudkan Pendampingan pada Pendidikan Agama Kristen Anak di Keluarga Purba, Sudiarjo
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.104

Abstract

The background for writing this article is the widespread use of smartphones among children and the many applications available on Android with religious affiliations, including Christianity, that not many parents know about. The purpose of this research is to convey to parents that the responsibility to realize Christian Religion Education (CRE) for children in the family can be helped by the availability of the Bible for Kids application. The scope of the research is an exploration of the Android application, namely Bible for Kids, which is linked to CRE Children in the family. The findings and conclusions of this research are that the Bible for Kids application is very suitable for parents to use as a companion application in realizing PAK for children in the family, especially in increasing children's Bible knowledge through stories, coloring activities, games and other activities available on the application the.Abstrak:Latar belakang penulisan artikel ini adalah maraknya penggunaan smartphone pada anak dan banyaknya aplikasi yang tersedia di android berafiliasi keagamaan termasuk keagamaan Kristen yang belum banyak orang tua ketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyampaikan kepada orang tua bahwa tanggung jawab mewujudkan PAK Anak di keluarga dapat terbantu dengan tersedianya aplikasi Bible for Kids. Ruang lingkup penelitian adalah eksplorasi terhadap aplikasi android yaitu Bible for Kids, yang dikaitkan dengan PAK Anak di keluarga. Hasil temuan dan kesimpulan pada penelitian ini adalah bahwa aplikasi Bible for Kids sangat cocok untuk dimanfaatkan oleh orang tua sebagai aplikasi pendamping dalam mewujudkan PAK Anak di keluarga khususnya dalam meningkatkan pengetahuan Alkitab anak melalui cerita, aktivitas mewarnai, game, dan aktivitas lainnya yang tersedia pada aplikasi tersebut.
Disorientasi Seksual dalam Perspektif Etis Teologis: Diskursus Pendidikan Kristen Bagi Remaja Arifianto, Yonatan Alex
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.91

Abstract

The Phenomena that occur in society related to sexual disorientation make headlines in national news portals as public consumption. It can be seen from the unrighteousness towards sexual orientation deviation. What is the role of the church and Christian family towards sexual orientation deviation. The church can provide Christian education to be taught to teenagers who are full of self-discovery and high curiosity related to sexuality. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, the Bible becomes the primary source, it can be concluded that sexual disorientation in a theological ethical perspective must have the correct paradigm and understanding of the correct sexual orientation. Therefore, sexual disorientation education is needed for all sides of life related to physical, spiritual and mental and psychological. Of course, Christian education that provides correct understanding related to sexual disorientation for adolescents. Abstrak:Fenomena yang terjadi dalam masyarakat terkait disorientasi seksual  menjadi berita utama dalam portal berita nasional sebagai konsumsi masyarakat. Hal itu dapat dilihat dari ketidakbenaran terhadap penyimpangan orientasi seksual. Bagaimana peran gereja dan keluarga Kristen terhadap penyimpangan orientasi seksual. Gereja dapat memberikan pendidikan Kristen untuk diajarkan kepada remaja yang sarat mencari jati diri dan rasa keingintahuan yang tinggi terkait seksualitas. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature,  Alkitab menjadi sumber primer, maka dapat disimpulkan bahwa disorientasi seksual dalam perspektif etis teologis harus memiliki paradigma dan pemahaman yang benar terkait orientasi seksual yang benar. Oleh sebab itu pendidikan disorientasi seksual diperlukan untuk semua sisi kehidupan terkait jasmani, rohani maupun mental dan psikologis. Tentunya pendidikan Kristen yang memberikan pemahaman benar terkait disorientasi seksual  bagi remaja. Kata Kunci: Disorientasi Seksual; Etis Teologis; Diskursus; Pendidikan Kristen; Remaja

Page 6 of 10 | Total Record : 96