cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 111 Documents
Injil dan Pluralitas Budaya Asia: Studi Narator Matius 28:19-20 Harming Harming; Alex Stefanus Ginting; Samuel Abdi Hu; Nosita Br. Tarigan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.217

Abstract

This study analyzes the narrative of Matthew 28:19-20—known as the Great Commission—in the context of Asian cultural plurality using a translational model and narrative hermeneutic approach. The main focus of the research is how gospel texts can be translated and interpreted in a relevant and contextual way in the midst of the diversity of cultures, languages, and traditions in Asia. Through qualitative methods and document analysis, this study identifies the importance of understanding local cultures, contextualizing the gospel message, and the role of the church in building cross-cultural dialogue. The results of the study show that effective discipleship and evangelism require collective community involvement, adaptation to the challenges of the digital age, and a reinterpretation of the dimensions of baptism and teaching to remain relevant to the needs of modern society. This research recommends inclusive and adaptive evangelistic strategies, and emphasizes the importance of building intercultural relationships of mutual respect to realize the church's universal and contextual mission. Abstrak:Penelitian ini menganalisis narasi Matius 28:19-20-yang dikenal sebagai Amanat Agung-dalam konteks pluralitas budaya Asia dengan menggunakan pendekatan model translasi dan hermeneutik naratif. Fokus utama penelitian adalah bagaimana teks Injil dapat diterjemahkan dan diinterpretasikan secara relevan dan kontekstual di tengah keragaman budaya, bahasa, dan tradisi di Asia. Melalui metode kualitatif dan analisis dokumen, penelitian ini mengidentifikasi pentingnya pemahaman budaya lokal, kontekstualisasi pesan Injil, serta peran gereja dalam membangun dialog lintas budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemuridan dan penginjilan yang efektif memerlukan keterlibatan komunitas secara kolektif, adaptasi terhadap tantangan era digital, serta pemaknaan ulang dimensi baptisan dan pengajaran agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini merekomendasikan strategi penginjilan yang inklusif dan adaptif, serta menekankan pentingnya membangun hubungan saling menghargai antarbudaya untuk mewujudkan misi gereja yang universal dan kontekstual.Kata Kunci: Injil, Matius, penginjilan, gereja.
Panggilan Ilahi dan Kerapuhan Manusia: Studi Teologis atas Moralitas Simson dalam Kitab Hakim-Hakim Yusup Heri Harianto; Yenny Herawati Yohana
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.289

Abstract

Research on Samson in the Book of Judges presents a space for theological reflection on the dynamics of divine calling and human frailty. The background of this article is written from the tension between Samson's status as a Nazarite of God and his recurring weaknesses, thus presenting a moral paradox that is relevant to be reread in the context of contemporary theology. The research question posed in this article is: How does the Book of Judges reveal the relationship between God's calling, human weakness, and the meaning of suffering in Samson's life? This research uses the literature study method with a biblical theological and narrative hermeneutic approach to interpret the highlighted text. The findings reveal that Samson's life exposes the existential ambiguity of humanity, where divine power continues to work despite Samson's moral fragility and personal failures. Samson's morality affirms that God's calling is not nullified by his weakness, but rather manifests His grace. AbstrakPenelitian tentang Simson dalam Kitab Hakim-Hakim menyajikan ruang refleksi teologis terkait dinamika panggilan Ilahi dan kerapuhan manusia. Dasariah latar-belakang artikel ini ditulis berangkat dari ketegangan antara status Simson sebagai Nazir Allah dengan kelemahannya yang berulang, sehingga menghadirkan paradoks moralitas yang relevan untuk dibaca ulang dalam konteks teologi kontemporer. Adapun rumusan masalah pertanyaan yang dikemukakan dalam artikel ini bagaimana Kitab Hakim-Hakim menyingkap hubungan antara panggilan Allah, kelemahan manusia, dan makna penderitaan dalam kehidupan Simson? Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan teologi biblika dan hermeneutik naratif untuk menafsirkan teks yang menjadi sorotan. Hasil temuan menunjukkan bahwa kehidupan Simson menyingkap ambiguitas eksistensial manusia, di mana kekuatan Ilahi tetap bekerja sekalipun kerapuhan moral dan kegagalan pribadi dalam diri Simson. Moralitas Simson menegaskan bahwa panggilan Allah tidak dibatalkan oleh kelemahannya, melainkan justru memanifestasikan kasih karunia-Nya. Kata Kunci: Simson, Nazir, Moral, Hakim-Hakim
Teologi Pengharapan dalam Dunia yang tidak Pasti: Studi Sistematika tentang Harapan Kristen di Era Post Sekuler Steven Tommy Dalekes Umboh; Tjutjun Setiawan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.290

Abstract

ABSTRACTIn this study, the theology of hope is viewed from the perspective of the modern world, which is plagued by uncertainty in social and spiritual matters. This research focuses on the post-secular era, characterized by the return of religiosity to the public sphere amidst a crisis of meaning. This article explores the theological understanding of Christian hope based on biblical foundations, dogmatic reflections, and pastoral implications. The method used in this study is a qualitative approach using literature review and systematic analysis of theology. The findings of this study indicate that Christian hope is not only eschatological and transcendent but also plays a prophetic and transformational role in addressing the dynamics of a plural and fragile world. Hope serves to maintain faith, build social reconciliation, and provide a humanistic ethic worldwide. Therefore, the study found that the theology of hope is very helpful in understanding Christian faith and participating in building a more just, peaceful, and hope fulfuture. AbstrakDalam penelitian ini, teologi pengharapan dilihat dari sudut pandang dunia modern yang dilanda akan ketidakpastian dalam hal sosial, dan spiritual. Penelitian ini difokuskan pada era pasca-sekuler, yang ditandai dengan kembalinya religiusitas ke ruang publik di tengah krisis makna.  Artikel ini mengeksplorasi pemahaman teologis tentang pengharapan Kristen berdasarkan fondasi biblika, refleksi dogmatis, dan implikasi pastoral. Metode yang digunakan dalam menguraikan kajian ini melalui pendekatan kualitatif dengan menggunakan studi kepustakaan dan menganalisis teologi secara sistematik.  Hasil temuan pada kajian ini menunjukkan bahwa pengharapan Kristen tidak hanya bersifat eskatologis dan transenden, tetapi juga memiliki peran profetik dan transformasional dalam menangani dinamika dunia yang plural dan rapuh. Pengharapan berfungsi untuk mempertahankan iman, membangun rekonsiliasi sosial, dan memberikan etika kemanusiaan di seluruh dunia.  Oleh sebab itu, kajian menemukan bahwa teologi pengharapan sangat membantu memahami iman Kristen dan berpartisipasi dalam membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan berpengharapan. Kata kunci: Teologi pengharapan, post-sekuler, eskatologi.
KEPEDULIAN SOSIAL KEPADA ORANG MISKIN: Tafsir Rut 2:1-23 dan Implikasinya bagi Gereja Johan Christiawan; Firman Panjaitan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.254

Abstract

Social disparities rooted in structural injustices continue to pose significant challenges, most clearly visible in the uneven distribution of opportunities and access to essential resources. This situation underscores the urgency for an ethical response grounded in genuine social concern, particularly for individuals experiencing poverty. The central question of this study is: In what ways can the narrative of Boaz and Ruth (Ruth 2:1–23) offer a theological basis for the church in addressing social inequality? Utilizing a descriptive qualitative approach supported by narrative analysis and a deductive framework, this research investigates the narrative’s structure and thematic significance. The results indicate that Boaz’s gracious conduct toward Ruth—a marginalized, impoverished foreigner—embodies principles of compassion, justice, and human dignity that surpass legal expectations. These findings highlight the church’s calling to promote social transformation through ministries that advocate for the poor. Ultimately, Boaz’s example provides theological motivation for the church to embody Christ’s love tangibly and to extend hope to marginalized groups. AbstrakKesenjangan sosial sebagai akibat ketidakadilan struktural terus menjadi tantangan serius, terutama terlihat dalam akses yang timpang terhadap sumber daya dan peluang. Kondisi ini menegaskan kebutuhan akan respons moral berupa kepedulian sosial, khususnya bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Penelitian ini bertanya, “Bagaimana kisah Boas dan Rut (Rut 2:1-23) dapat memberikan landasan teologis bagi gereja dalam merespons kesenjangan sosial?” Menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui analisis naratif dengan pendekatan deduktif, penelitian ini menelaah struktur dan makna kisah tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa tindakan Boas yang penuh belas kasih terhadap Rut—seorang perempuan miskin dan asing—mencerminkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan kasih yang melampaui tuntutan hukum. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi agen perubahan sosial melalui pelayanan yang berpihak pada kaum miskin dan menjunjung martabat manusia. Kesimpulannya, teladan Boas memberikan inspirasi teologis bagi gereja untuk memanifestasikan kasih Kristus secara konkret dan menghadirkan harapan bagi kelompok yang terpinggirkan.Kata-kata Kunci: Boas dan Rut, Gereja, Kepedulian Sosial, Rut 1:1-23
Etika Kristen di Era Digital dan Relevansinya Menghadapi Tantangan Dunia Digital Dika Kurniawan
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.292

Abstract

The development of the digital world has brought significant changes to various aspects  of human life, including the lives of Christians. The open and minimally supervised virtual space often gives rise to behaviors that are inconsistent with moral values, such as hate speech, the spread of hoaxes, and other unethical conduct. This study aims to analyze the challenges of Christian ethics in addressing the phenomenon of morality in the digital realm and to affirm the role of biblical principles as a guide for the lives of believers. The method used is a literature review by examining theological literature, previous research, and empirical data related to digital behavior. The findings indicate that the application of Christian ethics in the digital space is not only relevant but also urgent in guiding believers to interact in a healthy, constructive manner that glorifies God amid the rapid flow of information. This study recommends strengthening digital literacy based on the Christian faith so that every believer can serve as a moral example in the digital era. Abstrak:Perkembangan dunia digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, termasuk kehidupan umat Kristen. Ruang maya yang bebas dan minim pengawasan sering kali memunculkan perilaku yang tidak selaras dengan nilai-nilai moral, seperti ujaran kebencian, penyebaran hoaks, dan perilaku tidak etis lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan etika Kristen dalam menghadapi fenomena moralitas di dunia digital, serta menegaskan peran prinsip-prinsip Alkitab sebagai pedoman hidup orang percaya. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan mengkaji literatur teologis, penelitian terdahulu, dan data empiris terkait perilaku digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan etika Kristen di ruang digital bukan hanya relevan, tetapi mendesak untuk mengarahkan perilaku umat dalam berinteraksi secara sehat, membangun, dan memuliakan Tuhan di tengah derasnya arus informasi. Penelitian ini merekomendasikan penguatan literasi digital berbasis iman Kristen agar setiap orang percaya mampu menjadi teladan moral di era digital. Kata Kunci: Etika Kristen, Moralitas Digital, Iman Kristen.
Krisis Identitas dalam Kekristenan Modern: Urgensi Kristologi sebagai Dasar Iman Kristen Trio Klaudius Kefas; Gideon Rusli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 6, No 2 (2025): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v6i2.294

Abstract

Kekristenan modern menghadapi krisis identitas spiritual yang serius, ditandai dengan kebingungan umat dalam memahami jati diri mereka di dalam Kristus. Fenomena ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari infiltrasi sistematis nilai-nilai sekularisme, pluralisme, relativisme moral, dan hedonisme, yang menggeser pusat iman dari Kristus ke nilai-nilai duniawi. Akibatnya, banyak orang Kristen menjalani kehidupan rohani yang dangkal, kehilangan orientasi ilahi, dan mudah terombang-ambing oleh pemikiran zaman. Jurnal ini bertujuan menawarkan solusi teologis untuk krisis tersebut dengan mengangkat Kristologi, studi tentang pribadi dan karya Yesus Kristus, sebagai fondasi utama untuk membentuk kembali identitas iman Kristen. Melalui pendekatan kualitatif dengan kajian pustaka, artikel ini mengeksplorasi kesaksian Alkitab dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang menempatkan Kristus sebagai pusat narasi keselamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kristologi bukan hanya kerangka doktrinal, tetapi juga fondasi praktis dan normatif bagi etika, spiritualitas, dan arah hidup Kristen. Dengan menempatkan Kristus sebagai pusat iman dan kehidupan, umat percaya dapat menemukan kembali identitas rohani mereka yang sejati dan bertahan di tengah tekanan zaman yang terus berubah.  
Spiritualitas Jemaat di Tengah Budaya Konsumerisme: Analisis Teologi Kontekstual dalam Pelayanan Pastoral Yan Kristian Halomoan; Kornelius Rulli Jonathans
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.309

Abstract

The urgency of this topic is examined due to the increasing prevalence of consumerism culture that is becoming more entrenched in the lives of Christians across various church denominations. The values of materialism, self-interest, and instant lifestyles pose serious challenges to the spiritual growth of every Christian. This article aims to analyze the spirituality of the congregation amidst the tide of consumerism thru qualitative methodology with a contextual theology approach in pastoral care. The research findings indicate that consumerism is not only reflected in the lifestyle of the congregation but also in the church's service practices, which tend to be pragmatic and transactional. Therefore, pastoral ministry needs to play an active role in building authentic spirituality based on Gospel values, as well as offering pastoral strategies that encourage the transformation of faith and the ethical life of the congregation in the church. Therefore, the spirituality of the church must be shaped with a critical awareness of the surrounding culture and rooted in Christian values. Abstrak:Dasariah topik ini dikaji karena semakin marak nya budaya konsumerisme yang kian mengakar dalam kehidupan orang Kristen yang merambah di berbagai denominasi gereja. Nilai-nilai materialisme, kepentingan diri, dan gaya hidup instan menjadi tantangan serius bagi pertumbuhan kerohanian setiap orang Kristen. Artikel ini bertujuan menganalisis spiritualitas jemaat di tengah arus konsumerisme melalui metodologi kualitatif dengan pendekatan teologi kontekstual dalam pelayanan pastoral. Hasil temuan penelitian menunjukkan bahwa konsumerisme tidak hanya tercermin dalam gaya hidup jemaat, tetapi juga dalam praktik pelayanan gereja yang cenderung pragmatis dan transaksional. Oleh sebab itu, pelayanan pastoral perlu berperan aktif dalam membangun spiritualitas yang otentik, berbasis nilai Injil, serta menawarkan strategi pastoral yang mendorong transformasi iman dan etika hidup jemaat di gereja. Oleh sebab itu, spiritualitas gereja harus dibentuk dalam kesadaran kritis terhadap budaya sekitar dan berakar pada nilai-nilai Kristiani. Kata Kunci: Konsumerisme , Jemaat, Pastoral, spiritualitas, gereja.
Konstruksi Etika Kristen Berbasis Teologi Salib: Analisis Eksegetis Roma 7:14 dalam Kehidupan Orang Kristen Djoko Sukono; Daniel Pesah Purwonugroho
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.344

Abstract

This paper aims to construct Christian ethics based on the theology of the cross through an exegetical analysis of Romans 7:14. Romans 7:14 frames humanity's inability to respond to ethical demands due to its condition of being sold under the power of sin. The power of sin shackles humanity. This condition makes it impossible for humanity to produce an ethical life that originates from within itself. On the one hand, the theology of the cross affirms God's role through the cross of Christ, which transforms humanity. The theology of the cross frames God's grace in the cross of Christ to save humanity. This combination brings a constructive approach to forming a polarized Christian ethic. Christian ethics are often polarized through a normative-legalistic or spiritual-experiential approach. An integrative approach based on God's grace amid human inability is needed. Through a descriptive qualitative approach, the exegetical analysis of Romans 7:14 reveals a basic need of humanity, namely freedom from the bondage of sin that shackles human efforts. This freedom brings humanity to God's grace, which enables humanity to live an ethical life. This paper offers an analysis of Romans 7:14 with the theology of the cross paradigm as its ethical foundation. This paper also constructs a Christian ethic rooted in human powerlessness and complete dependence on God's grace.AbstrakRoma 7:14 membingkai ketidakmampuan manusia dalam merespon tuntutan etis karena kondisi keterjualan di bawah kuasa dosa. Kuasa dosa membelenggu umat manusia. Teologi salib membingkai anugerah Allah di dalam salib Kristus untuk menyelamatkan umat manusia. Kombinasi ini membawa pendekatan konstruktif untuk membentuk etika Kristen yang terpolarisasi. Etika Kristen seringkali terpolarisasi melalui pendekatan normatif-legalistik ataupun spiritual-eksperiensial. Dibutuhkan sebuah pendekatan integratif yang beraraskan anugerah Allah di tengah ketidakmampuan manusia. Tulisan ini bertujuan untuk menkonstruksi etika Kristen berbasis teologi salib melalui analisis eksegetis Roma 7:14. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif, analisis eksegetis Roma 7:14 memaparkan sebuah kebutuhan mendasar umat manusia yaitu kebebasan dari belenggu dosa yang membelenggu upaya diri manusia. Kebebasan tersebut membawa manusia kepada anugerah Allah yang memampukan umat manusia menjalankan kehidupan etisnya. Tulisan ini menawarkan analisis Roma 7:14 dengan paradigman teologi salib sebagai fondasi etiksa. Tulisan ini juga mengkonstruksi etika Kristen yang berakar pada ketidakberdayaan manusia dan kebergantungan penuh pada anugerah Allah. Kata Kunci : Etika Kristen, Teologi Salib, Eksegetis, Roma 7:14
Rekonstruksi Kepemimpinan Kristen sebagai Otoritas Epistemik di Era Disinformasi Digital: Model Literasi Moderasi Beragama bagi Generasi Z Herbin - Simanjuntak; Talizaro Tafonao; Johannes - Ndruru; Radius - Simanjuntak
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.332

Abstract

The flow of religious disinformation in digital spaces not only shapes religiosity among Generation Z but also exposes the limitations of Christian leadership paradigms that have traditionally operated within institutional, hierarchical, and pulpit-centered frameworks. This condition has led to a crisis of authority, weak critical literacy among Christian leaders, and the absence of operational strategies for religious moderation in digital environments. This study aims to critically analyze the limitations of prevailing Christian leadership paradigms in addressing religious disinformation while simultaneously reconstructing a leadership framework that is relevant to Generation Z. Employing a qualitative approach through a critical literature review, this study conducts a conceptual analysis of theories of Christian leadership, digital literacy, and religious moderation. The findings indicate that the challenges posed by the era of disinformation cannot be addressed through technological adaptation alone; rather, they require a paradigm reconstruction that positions critical literacy, ethical exemplarity, and interfaith collaboration as core leadership competencies. This study contributes to the development of a contextualized theoretical framework for Christian leadership and offers practical implications for strengthening the digital resilience of Generation Z.Abstrak:Arus disinformasi keagamaan di ruang digital tidak hanya berdampak pada pola keberagamaan Generasi Z, tetapi juga mengungkap keterbatasan paradigma kepemimpinan Kristen yang selama ini beroperasi dalam kerangka institusional, hierarkis, dan mimbar-sentris. Kondisi ini memunculkan krisis otoritas, lemahnya literasi kritis pemimpin Kristen, serta absennya strategi moderasi beragama yang operasional di ruang digital. Penelitian ini bertujuan menganalisis secara kritis keterbatasan paradigma kepemimpinan Kristen dalam menghadapi disinformasi keagamaan, sekaligus merekonstruksi kerangka kepemimpinan yang relevan bagi Generasi Z. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui kajian pustaka kritis dengan analisis konseptual terhadap teori kepemimpinan Kristen, literasi digital, dan moderasi beragama. Hasil kajian menunjukkan bahwa tantangan era disinformasi tidak dapat dijawab melalui adaptasi teknologis semata, melainkan memerlukan rekonstruksi paradigma kepemimpinan yang menempatkan literasi kritis, keteladanan etis, dan kolaborasi lintas iman sebagai kompetensi inti. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kerangka teoretis kepemimpinan Kristen yang kontekstual serta menawarkan implikasi praktis bagi penguatan ketahanan digital Generasi Z. Kata Kunci: Kepemimpinan Kristen; Generasi Z, Literasi, Moderasi Beragama.
Kecerdasan Emosional Anak Era Society 5.0 Melalui Prinsip-Prinsip Komunikasi Keluarga Dalam Amsal 15:1, 4 Patrick Byonjovi Lazarus; Farel Yosua Sualang
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 7, No 1 (2026): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v7i1.286

Abstract

Abstract:The family is the first and foremost institution in shaping a child’s character. In the complexity of the Society 5.0 era, which is marked by technological disruption and changing patterns of social interaction, family communication plays a vital role in both emotional intelligence and character formation of children. To date, there has been a gap in interpretation between Manase Gulo and Armen Oganessian, who, in discussing Proverbs 15:1 and 4, focus only on communication strategies for preventing or resolving conflict, particularly in building household harmony through the use of words that can either edify or destroy. This study aims to provide parents with foundational values as a guide for good communication, thereby positively impacting children’s emotional intelligence and character development. Employing a qualitative method with a hermeneutic approach to wisdom literature and literature synthesis, this article identifies three communication principles parents can apply in interacting with their children: first, gentleness, as soft words provide a concrete model for children in managing emotions; second, the use of constructive speech, which influences the development of children’s ethics and spirituality; and third, avoiding hurtful words, which can serve as a foundation for emotional regulation and character building. These findings offer practical input for parents to engage in communication based on biblical principles so that children may grow to be emotionally intelligent and of good character.Abstrak:Keluarga merupakan institusi pertama dan utama dalam membentuk karakter anak. Di tengah kompleksitas era Society 5.0 yang ditandai oleh disrupsi teknologi dan perubahan pola interaksi sosial maka komunikasi dalam keluarga memainkan peran vital dalam kecerdasan emosional maupun pembentukan karakter anak. Sejauh ini terjadi kesenjangan interpretasi antara Manase Gulo dan Armen  Oganessian ketika membahas Amsal 15:1 dan 4 hanya menekankan strategi komunikasi untuk mencegah atau menyelesaikan konflik, khususnya dalam membangun keharmonisan rumah tangga melalui penggunaan kata-kata yang dapat membangun atau merusak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan rujukan kepada orangtua agar memiliki nilai dasar yang menjadi pedoman dalam berkomunikasi yang baik sehingga berdampak positif dalam kecerdasan emosional dan pembentukan karakter anak. Menggunakan metode studi kualitatif dengan pendekatan hermeneutik sastra hikmat dan sintesis literatur maka artikel ini menemukan tiga prinsip komunikasi yang dapat diterapkan orangtua dalam komunikasi dengan anak yakni : pertama memiliki kelembutan, perkataan yang lembut  memberi model nyata bagi anak tentang bagaimana mengelola emosi; kedua adalah menggunakan kalimat yang membangun, mempengaruhi pembentukan etika dan spiritualitas anak; ketiga menghindari kata yang melukai, dapat menjadi fondasi regulasi emosi dan karakter anak. Menjadi masukan bagi orangtua agar melakukan komunikasi sesuai prinsip alkitabiah agar anak cerdas secara emosi dan memiliki karakter yang baik.

Page 10 of 12 | Total Record : 111