cover
Contact Name
Wulan Agung
Contact Email
aristarkhusagung@gmail.com
Phone
+6282227139081
Journal Mail Official
jurnalsabdanusantara@gmail.com
Editorial Address
Sabda: Jurnal Teologi Kristen adalah jurnal ilmiah dalam bidang teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga. Diterbitkan dua kali dalam 1 tahun yaitu bulan Mei dan Nopember. Menerima naskah hasil penelitian dalam bidang: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan Seluruh naskah yang masuk akan diperiksa terlebih dahulu oleh editor, jika memenuhi ketentuan maka dapat diproses untuk review.
Location
Kota salatiga,
Jawa tengah
INDONESIA
Sabda : Jurnal Teologi Kristen
ISSN : 27223078     EISSN : 2722306X     DOI : https://doi.org/10.55097/sabda.v2i2
Sabda: Jurnal Teologi Kristen menerima artikel dengan fokus: Teologi Biblika Teologi Sistematika Pendidikan Kristen (Gereja, Sekolah, dan Keluarga) Pastoral, Kepemimpinan Kristen, dan Manajemen Gereja Misi dan Penginjilan
Articles 96 Documents
KITAB KISAH PARA RASUL: Landasan Doktrin Penanaman Gereja Mapule, Ashar; Anderson, Lindin
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.111

Abstract

The Book of Acts plays an essential role in the doctrine of church planting. This can be seen from the numerous studies that use the Book of Acts as their theoretical foundation, but they fail to explain the primary reason for using this book as their main foundation. Therefore, it is necessary to conduct a study that can help provide an explanation that the doctrine of church planting built on the principles found in the Book of Acts is a biblical doctrine. This research uses a qualitative research method with a library research approach. The research results show that the Book of Acts provides a complete and systematic picture of the early history of the development of the early church and contains many biblical principles for the success of the church planting doctrine movement. Abstrak:Ada banyak penelitian yang dilakukan tentang penanaman gereja dan menjadikan Kitab Kisah Para Rasul sebagai landasan teologisnya. Pada umumnya penelitian-penelitian tersebut langsung membahas metode, pola dan prinsip penanaman gereja berdasarkan Kitab Para Rasul tapi tidak menjelaskan secara detil dan sistematis mengapa kitab itu yang menjadi landasan atau rujukan utamanya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka (Library Research). Hasil penelitian menunjukan Pertama, Kitab Kisah Para Rasul memberikan gambaran yang lengkap mengenai sejarah awal perkembangan gereja mula-mula. Kedua, Kitab Kisah Para Rasul mengandung prinsip-prinsip alkitabiah yang sangat berharga dan relevan sebagai pedoman bagi gerakan penanaman gereja di setiap zaman. Prinsip-prinsip tersebut antara lain: peran Roh kudus, bertekun dalam doa, giat dalam penginjilan dan pemuridan. Kata Kunci: Kisah Para Rasul, Landasan Alkitabiah, Penanaman Gereja
Argumentasi Teologis Terhadap Pandangan Para Bidat Tentang Keilahian Yesus Adi, Didit Yuliantono
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 4, No 2 (2023): November
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v4i2.102

Abstract

The writing of this scientific work will discuss about theological argument agains the views of heretics regarding the divinity of Jesus. The writing is based on the author observation that recently there have been numerous heresies denying the divinity of Jesus, Which could pose a threat to the Christian Faith. Starting for this issue, the author will employ a qualitative research  method with a literature review approach. The purpose of this writing is to gather as much  data as possible about the heresies that do not acknowledge that Jesus is the Word of God who became flesh. Based on this research, it is found that the presence of these heresies whitin the church  is indeed true and has misled many Christian. This is marked by the rejection of the finality of Jesus. However, Christian Teology clearly evaluated what is expressed by the heretics as an error. The Jesus they teach is a different Jesus. Jesus is the Word of God who has existed since eternity alongside the Father and Holy Spirit. The pre-existence is timeless. He is the creator of the Universe with all is content and has authority over it. Abstrak:Penulisan karya ilmiah ini akan membahas mengenai argumentasi teologis terhadap pandangan para bidat tentang keilahian Yesus. Penulisan ini didasari oleh pengamatan penulis bahwa akhir-akhir ini ditemukan banyak sekali bidat-bidat yang menyangkal keilahian Yesus yang bisa membahayakan iman Kristen. Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis akan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian pustaka. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengumpulkan data sebayak-banyaknya tentang bidat-bidat apa saja yang tidak mengakui bahwa Yesus adalah Firman Allah yang menjadi manusia. Berdasarkan penelitian ini ditemukan fakta bahwa kehadiran bidat-bidat ini ditengah gereja benar adanya dan sudah banyak menyesatkan orang Kristen. Hal ini ditandai adanya penolakan terhadap finalitas Yesus. Akan tetapi teologi Kristen secara jelas menilai apa yang diungkapkan oleh para bidat merupakan sebuah kekeliruan. Yesus yang mereka ajarkan adalah Yesus yang lain. Yesus adalah Firman Allah yang sudah eksis sejak kekekalan bersama dengan Bapa dan Roh Kudus. Praeksitensi Yesus tanpa batas waktu. Dia adalah Pencipta alam semesta dengan segala isinya dan yang berkuasa atasnya. Kata Kunci: perumpamaan; Lukas; sosial
Menyikapi Perdebatan tentang Nenek Moyang Manusia dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen di Perguruan Tinggi Sitanggang, Murni Hermawaty
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 1 (2024): MEI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i1.110

Abstract

The question about the appropriate strategy for teaching human creation in Christian Religious Education class sometimes arises when there is a clash between the testimony of the Bible and scientific theory. The Bible states that Adam and Eve were the first humans, while scientists based on the theory of evolution assume ancient humans are the ancestors due to the discovery of fossils. This article aims to address this debate using descriptive analysis methods with a literature approach. The conclusion is that educators do not need to avoid the theory of evolution but instead face it with arguments from the Bible and science. Abstrak:Bagaimana strategi yang pas mengajarkan penciptaan manusia dalam pelajaran Pendidikan Agama Kristen merupakan pertanyaan yang sering muncul ketika terjadi benturan antara kesaksian Alkitab dan teori sains. Alkitab menyatakan Adam dan Hawa adalah nenek moyang manusia sementara ilmuwan dengan didasari teori evolusi berasumsi adanya manusia purba dengan adanya penemuan fosil. Penulisan artikel ini bertujuan menyikapi perdebatan tersebut menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekataan kepustakaan. Kesimpulan yang didapat adalah pendidik tidak perlu menghindari teori evolusi dan justru perlu menghadapinya dengan argumentasi dari sisi Alkitab dan ilmu pengetahuan.Kata Kunci: penciptaan, Adam dan Hawa, evolusi, manusia purba.
Pandangan Alkitab Tentang Gereja sebagai Komunitas Pembelajaran dan Pembinaan pada Masa Kini Tuhumury, Markus; Duha, Sang Putra Immanuel; Tulus, Jekson
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.130

Abstract

Social transformation due to technological advances have changed the way humans relate. Relationships can be developed more easily, cheaper and faster. As a community, the church is "forced" to review whether the methods of educating and coaching in faith that have been implemented so far still meet the needs of contemporary congregations. Through a qualitative method of literature approach, the researchers investigated how the Bible views this matter, and found that closeness of relationships or relations between members is the main indicator in learning and faith formation, as done by the early church. Bringing the church back to its original design as a community of God's family (oikos), by taking advantage of today's technological advances, will make the church a constructive place for educating and coaching in the faith of its members. AbstrakPerubahan sosial akibat kemajuan teknologi telah mengubah cara manusia berelasi juga berasosiasi. Relasi dapat dikembangkan dengan lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat. Sebagai komunitas, gereja “dipaksa” untuk mengkaji ulang kembali, apakah metode pembelajaran dan pembinaan iman yang selama ini diterapkan masih menjawab kebutuhan jemaat kekinian. Melalui metode kualitatif pendekatan kepustakaan, peneliti menyelidiki bagaimana pandangan Alkitab mengenai hal ini, dan menemukan bahwa kedekatan hubungan atau relasi antar-anggota merupakan indikator utama dalam pembelajaran dan pembinaan iman, seperti yang dilakukan oleh jemaat mula-mula. Membawa gereja kembali ke desainnya semula sebagai persekutuan keluarga Allah (oikos), dengan memanfaatkan kemajuan teknologi sekarang, akan menjadikan gereja sebagai tempat yang konstruktif untuk pembelajaran dan pembinaan iman anggotanya.Kata Kunci: Pembelajaran, Pembinaan, Gereja, Komunitas. 
Kajian Peranan Konseling Pastoral Terhadap Penyelesaian Konflik di Keluarga Kaum Pentakostal Simangunsong, Ronaldo Pratama; Manurung, Kosma
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.171

Abstract

Humans, in living their social lives, are very susceptible to conflict, including in family life. Conflicts that occur in the family will have a negative impact on relationships between family members and also affect the stability and harmony of household life. In the Pentecostal community, conflict resolution approaches often require interventions that are not only psychological, but also based on spiritual values. This research aims to frame the role of pastoral counseling in resolving conflicts that occur in Pentecostal families. Through qualitative descriptive methods and literature studies, efforts are made to provide a strong picture of the world of marriage and its various problems, descriptions of pastoral counseling services, and the role of pastoral counseling in solving problems. It was concluded that pastoral counseling plays a role in solving problems through the role of mentoring, restoration role, problem solver and monitoring role. Abstrak: Manusia dalam menjalani kehidupan sosialnya, sangat rentan terjadi konflik tak terkecuali dalam kehidupan keluarga. Konflik yang terjadi di keluarga akan berdampak negatif pada hubungan antar anggota keluarga juga mempengaruhi stabilitas serta keharmonisan kehidupan rumah tangga. Dalam komunitas kaum Pentakostal, pendekatan penyelesaian konflik sering kali memerlukan intervensi yang tidak hanya bersifat psikologis, tetapi juga berlandaskan nilai-nilai spiritual. Penelitian ini bertujuan membingkai peran konseling pastoral dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di keluarga kaum Pentakostal. Melalui metode deskriptif kualitatif serta kajian literatur diupayakan bisa memberikan gambaran yang kuat tentang dunia pernikahan dan berbagai permasalahannya, deskripsi pelayanan konseling pastoral, serta peran konseling pastoral dalam menyelesaikan permasalahan. Disimpulkan bahwa konseling pastoral berperan dalam menyelesaikan masalah melalui peran pendampingan, peran restorasi, solver problem dan peran monitoring.Kata Kunci: Keluarga Kristiani; Konseling Pastoral; Teologi Pentakostal
Makna Teologis Frasa Kami Adalah Hamba yang tidak Berguna dalam Injil Lukas 17:7-10 Aliadi, Frans
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.136

Abstract

The phrase “we are useless servants” often causes confusion: does this suggest that our service has no meaning or value? In this era, where the success of a servant of God is often measured by awards, recognition, or large profits, the concept of a "useless servant" is the opposite. Humans generally want to be recognized for the efforts and sacrifices they make. This research uses a qualitative descriptive method, namely by observing a problem regarding the character of God's servants today and conducting a study of literature, articles, ebooks that are relevant to the topic, as well as using an exegetical study of the Biblical text. Based on the results of research conducted on the meaning of the text, it shows that the teachings about the principles of humility and selfless devotion in service, serving sincerely and with pure motivation. We are called to serve without seeking praise, appreciation, or recognition from others. A true servant of God is faithful in carrying out the responsibilities and services entrusted to him starting from the smallest things. Abstrak: Ungkapan "kami adalah hamba yang tidak berguna" sering kali menimbulkan kebingungan: apakah ini menunjukkan bahwa pelayanan kita tidak memiliki makna atau nilai? Di era ini, kerap kali keberhasilan pelayanan seorang hamba Tuhan diukur dengan penghargaan, pengakuan, atau keuntungan yang besar, konsep "hamba yang tidak berguna" bertolak belakang. Manusia umumnya ingin diakui atas usaha dan pengorbanan yang dilakukannya. Penelitian yang digunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu dengan melakukan observasi terhadap permasalahan mengenai karakter hamba Tuhan di masa kini dan melakukan kajian literatur, artikel, ebook yang relevan dengan topik, serta menggunakan studi eksegesis teks Alkitab. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan terhadap makna teks tersebut menunjukkan bahwa ajaran tentang prinsip kerendahan hati dan pengabdian tanpa pamrih dalam pelayanan, melayani dengan tulus serta motivasi yang murni. Kita dipanggil untuk melayani tanpa mencari pujian, penghargaan, atau pengakuan dari orang lain. Hamba Tuhan yang sejati adalah setia menjalankan tanggung jawab dan pelayanan yang dipercayakan mulai dari hal-hal terkecil.Kata Kunci: Hamba, Melayani, Kerendahan Hati, Lukas 17:7-10
Pola Asuh dan Kepemimpinan Spritual: Mendalami Makna Kegagalan Pola Asuh Samuel sebagai Pembelajaran bagi Rohaniawan Caroles, Jennery Delaila; Djiauw, Kuntjara; Sasongko, Yakob Arfin Tyas; Jonathans, Kornelius Rulli
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.168

Abstract

This study aims to identify critical aspects of parenting relevant to this context. The research focuses on parenting practices as spiritual leaders in the ministerial setting. It emphasizes the need for ministers to address discrepancies between their teachings and parenting practices while fostering an environment that supports mental and emotional well-being within the family. The research employs a qualitative descriptive approach and literature review to analyze parenting patterns within spiritual leadership. The findings highlight five key aspects derived from the analysis of the prophet Samuel's experiences: balancing ministry duties with emotional involvement, aligning teachings with actions, reflecting on and adjusting parenting strategies, creating an environment conducive to mental health, and fostering open communication within the family. In contemporary practice, these aspects can be implemented through balanced ministry schedules, demonstrating spiritual values through real-life examples, developing flexible parenting plans, cultivating a home atmosphere that promotes psychological well-being, and establishing warm and transparent dialogue with children.Abstrak:Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi aspek penting pengasuhan yang relevan dalam konteks tersebut. Masalah penelitian berfokus pada praktik pengasuhan sebagai pemimpin spiritual dalam konteks pelayan Tuhan. Dalam kajian ini, pelayan Tuhan perlu mengatasi ketidaksesuaian antara ajaran dan praktik pengasuhan serta menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental dan emosional dalam keluarga. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dan kajian literatur untuk menganalisis pola asuh dalam kepemimpinan spiritual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui analisis pengalaman Nabi Samuel, terdapat lima aspek penting yang relevan dalam pengasuhan anak bagi pelayan Tuhan, yakni keseimbangan antara tugas pelayanan dan keterlibatan emosional, konsistensi antara ajaran dan tindakan, refleksi dan penyesuaian dalam pengasuhan, menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental, serta komunikasi terbuka dalam keluarga. Implementasi kelima aspek ini meliputi penerapan jadwal pelayanan yang seimbang, memberikan teladan nyata dalam nilai-nilai spiritual, menyusun rencana pengasuhan yang fleksibel, menciptakan suasana rumah yang mendukung kesejahteraan psikologis, serta membangun dialog rutin yang hangat dan transparan dengan anak-anak. Kata Kunci: Pola Asuh, pemimpinan Spiritual, Samuel.
Dampak Pelayanan Pastoral Terhadap Perkembangan Moral dan Spiritual Anak Berhadapan dengan Hukum Pattipeilohy, Lukas
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.138

Abstract

This research focuses on children under the age of 18 who are involved in legal issues, whether as perpetrators, victims, or witnesses of criminal acts. This study also discusses pastoral care at Sentra Efata, Kupang, which serves 31 ABH in March 2024. Pastoral care is integrated to shape the moral and spirituality of ABH through a holistic approach that includes spiritual support, strengthening moral values, and social reintegration. This research uses descriptive qualitative methods to describe the phenomenon and impact of pastoral care on the moral and spiritual development of ABH in Sentra Efata, Kupang. The conclusion is that a holistic approach in pastoral care does not only pay attention to the physical and material needs but also the spiritual and moral needs of ABH. It is hoped that the integration of spirituality and morality values in pastoral care can strengthen faith, provide holistic support, and facilitate the spiritual and moral growth of ABH at the Efata Center in Kupang. Additionally, these services assist with emotional recovery, improved social relationships, and reintegration into society.AbstrakPenelitian ini mengkaji anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yakni anak-anak di bawah usia 18 tahun yang terlibat dalam masalah hukum, termasuk sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak pidana. Studi ini juga membahas tentang pelayanan pastoral di Sentra Efata, Kupang, yang melayani 31 ABH pada Maret 2024. Pelayanan pastoral diintegrasikan untuk membentuk moral dan spiritual ABH, melalui pendekatan holistik yang mencakup dukungan spiritual, penguatan nilai moral, dan reintegrasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena dan dampak pelayanan pastoral terhadap perkembangan moral dan spiritual ABH di Sentra Efata, Kupang. Kesimpulannya bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral, tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga kebutuhan spiritual dan moral ABH. Integrasi nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam pelayanan pastoral diharapkan dapat memperkuat iman, memberikan dukungan holistik, dan memfasilitasi pertumbuhan spiritual dan moral ABH pada Sentra Efata di Kupang. Selain itu, pelayanan ini membantu pemulihan emosional, peningkatan hubungan sosial, dan reintegrasi ke masyarakat. Kata Kunci: Hamba, Melayani, Kerendahan Hati, Lukas 17:7-10
Mengulik Peran Istri Gembala dalam Menyokong Pelayanan Suami di Gereja Beraliran Pentakostal Wibowo, Yolanda Arista; Hastuti, Ruwi; Hadi, Sukarno
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.174

Abstract

Pastoral ministry in Pentecostal churches is often viewed as the primary responsibility of a congregational pastor. However, the wife's contribution in supporting her husband's pastoral ministry also plays an important role that has not been widely studied. The problem that is attempted to be studied in this research is related to the tendency that the pastor's wife is not considered to have a role in pastoral ministry. This article aims to examine the role of wives in supporting their husbands' ministry in the Pentecostal church both theologically and in ministry practice. This research uses a qualitative-descriptive method with a literature review approach.. In conclusion, wives have a central role in supporting their husband's ministry through spiritual support, emotional support, practical support, and being a role model. Apart from that, through various things, the pastor's wife is able to have a significant impact in terms of maintaining the balance of her husband's ministry in the pastoral realm and family responsibilities.  AbstrakPelayanan pastoral di gereja Pentakostal sering kali dipandang sebagai tanggung jawab utama seorang gembala jemaat. Namun, kontribusi istri dalam mendukung pelayanan pastoral suami juga memainkan peran penting yang belum banyak diteliti. Masalah yang coba dikaji dalam penelitian ini terkait adanya kecenderungan istri gembala yang tidak dianggap peranannya dalam pelayanan pastoral. Artikel ini bermaksud untuk mengkaji peran istri dalam mendukung pelayanan suami di gereja Pentakostal baik secara teologis maupun praktik pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan kajian literatur. Disimpulkan, istri memiliki peran sentral dalam menyokong pelayanan suami melalui dukungan spritual, dukungan emosional, dukungan praktis, serta menjadi role model. Selain itu, melalui berbagai perannya, istri gembala mampu memberi dampak yang signifikan juga dalam hal menjaga keseimbangan pelayanan suami di ranah pastoral dan tanggung jawab keluarga.   Kata Kunci: Gereja Pentakostal; Istri Gembala; Pelayanan Pastoral.
Fenomena Pernikahan Kristen dalam Konteks Perbedaan Strata (Tana’) di Toraja dan Implementasinya bagi Warga Gereja Patandean, Wendi Triseptyadi
Sabda: Jurnal Teologi Kristen Vol 5, No 2 (2024): NOVEMBER
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55097/sabda.v5i2.145

Abstract

Many say that marriage brings happines in life, so it is not uncommon for a person to want to marry specifically in the context of toraja the majority of christians, so christian marriage must be a requirement in their life that emphasizes a measure of good fidelity to the spouse more to the Lord but in toraja also adheres to a system of social strata called tana’, the strata in a tortuate’s life can be a trigger for divorce if there’s a difference, so loyalty is off the charts. It employs a qualitative method of descriptive, and it does a data collection with an interview with the source. The purpose of this study is to find the problems that cause divorce in people the tortuls of different social ranks, though it has been emphasized in christianity. The study found that the determinantions of to are not faithful in christian marriages because of the stratification principles, the longko’ or prestige principle, the tendency to demean those arround them, the discrimination that triggers marital discord, is likely to maintain social stratification, so judging in christianity, it is certainly wrong inthe behavior of a christian. Abstrak: Penelitian ini mengkaji anak-anak yang berhadapan dengan hukum (ABH), yakni anak-anak di bawah usia 18 tahun yang terlibat dalam masalah hukum, termasuk sebagai pelaku, korban, atau saksi tindak pidana. Studi ini juga membahas tentang pelayanan pastoral di Sentra Efata, Kupang, yang melayani 31 ABH pada Maret 2024. Pelayanan pastoral diintegrasikan untuk membentuk moral dan spiritual ABH, melalui pendekatan holistik yang mencakup dukungan spiritual, penguatan nilai moral, dan reintegrasi sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif untuk menggambarkan fenomena dan dampak pelayanan pastoral terhadap perkembangan moral dan spiritual ABH di Sentra Efata, Kupang. Kesimpulannya bahwa pendekatan holistik dalam pelayanan pastoral, tidak hanya memperhatikan kebutuhan fisik dan material, tetapi juga kebutuhan spiritual dan moral ABH. Integrasi nilai-nilai spiritualitas dan moralitas dalam pelayanan pastoral diharapkan dapat memperkuat iman, memberikan dukungan holistik, dan memfasilitasi pertumbuhan spiritual dan moral ABH pada Sentra Efata di Kupang. Selain itu, pelayanan ini membantu pemulihan emosional, peningkatan hubungan sosial, dan reintegrasi ke masyarakat.Kata Kunci: Pernikahan Kristen, Perceraian, Tana’, Toraja.

Page 7 of 10 | Total Record : 96