cover
Contact Name
Erasiah
Contact Email
prodi_spi@uinib.ac.id
Phone
+6283157602457
Journal Mail Official
prodi_spi@uinib.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Mahmud Yunus Nomor 1 Padang. Program Studi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Imam Bonjol Padang
Location
Kota padang,
Sumatera barat
INDONESIA
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam
ISSN : 2339207X     EISSN : 26143798     DOI : -
Core Subject : Religion,
Khazanah : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam is a scientific journal published periodically twice a year in June and December by the Islamic History and Civilization Department, Faculty of Adab dan Humaniora, Imam Bonjol State Islamic University Padang. This journal focuses on any research related to the history of Islamic culture and the history of Islamic civilization. Scope of Khazanah: Journal of Islamic History and Culture includes classical religious manuscripts, Contemporary religious manuscripts, socio-religious history, religious archeology, archipelago religious arts
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 114 Documents
Rekam Jejak Perjuangan Ki Ageng Basyariyah di Madiun Selatan 1710-1811 Melani, Zuanti Fitria Melani
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1082

Abstract

This article is about the figure of Ki Ageng Basyariyah or Raden Mas Bagus Harun as the village founder and the bearer of the Syattariyah Tariqa in Sewulan village, Dagangan sub-district, Madiun regency. The purpose of this research is to reveal the role of Ki Ageng Basyariyah in the establishment and deployment of the Syattariyah Tariqa and its teachings in Sewulan village. In this study, the researcher uses a historical research method using a qualitative approach. There are several findings in this research. First, the biography and genealogy of Ki Ageng Basyariyah are still continued until Panembahan Senopati to Maulana Malik Ibrahim. Second, the role of Ki Ageng Basyariyah to build Sewulan village after helping Sunan Pakubuwono II in Geger Pecinan. Third, the Syattariyah Tariqa brought by Ki Ageng Basyariyah in Sewulan was obtained from his teacher, Kiai Ageng Muhammad Besari.
MENGGANDENG KOLONIALISME: MISIONARISME DAN RESPON UMAT ISLAM DI SUKABUMI PADA ABAD 19-20 Salsabila Putri, Nadea; Salsabilla, Aura; Nur Aqilah, Rizka; Arifin, Faizal
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1091

Abstract

Penelitian ini mengkaji upaya Kristenisasi di Sukabumi yang dilakukan orang-orang Belanda pada abad ke-19 M sampai abad ke-20 M serta bagaimana umat Islam meresponnya. Upaya mengkristenkan bumiputera ini menarik untuk diteliti karena selain melakukan eksploitasi ekonomi melalui Kolonialisme dan Imperialisme, Belanda juga memberikan dukungan terhadap gerakan misionarisme. Metode penelitian yang digunakan yakni metode sejarah yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berbagai strategi serta program dilakukan orang Belanda dalam melakukan Kristenisasi di Sukabumi pada masa Kolonialisme Belanda. Diantara strateginya adalah membangun gereja, mendirikan sekolah-sekolah Kristen, membangun rumah sakit, dan membangun perkampungan Kristen. Arsip-arsip dari masa Kolonial menyimpan berbagai catatan tentang upaya Kristenisasi, namun hanya sebagian kecil masyarakat pribumi di Sukabumi yang menerima ajaran Kristen. Umat Islam, sebagai respons terhadap upaya Kristenisasi, menolak berbagai program tersebut, bahkan pihak zending menyatakan bahwa umat Islam merupakan faktor terbesar yang menghambat Kristenisasi. Faktor demografis, kultural, serta identitas Islam di Sukabumi menjadi benteng yang cukup kokoh dalam menghadapi upaya zending. Penelitian ini menunjukkan dinamika serta relasi antara agama dan Kolonialisme Belanda di salah satu wilayah Priangan yaitu Sukabumi dimana Islam terus dipertahankan sebagai agama dominan dan menjadi simbol perlawanan terhadap Kristenisasi dan Kolonialisme. Penelitian selanjutnya diperlukan untuk melihat bagaimana wilayah dengan Islam yang dianggap kuat dianut masyarakatnya, serta dianggap sebagai bagian dari identitas etnis seperti di Padang dan Aceh, pada masa Kolonialisme berinteraksi dengan upaya-upaya Zending dan misionaris.
UPACARA PERNIKAHAN LEK BATIN DI DESA RANTAU PANDAN KABUPATEN BUNGO PROVINSI JAMBI Indriyuliani, Wulan; Nofra, Doni
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1099

Abstract

Lek Batin merupakan salah satu tradisi pernikahan yang terdapat di Desa Rantau Pandan, Kabupaten Bungo, Provinsi Jambi. Eksistensi tradisi Lek Batin ini merupakan penanda kekuatan ekonomi suatu keluarga dalam melaksanakan pesta pernikahan. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan prosesi dan perkembangan tradisi Lek Batin. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapannya yaitu: heuristik, kritik sumber, interpretasi dan penulisan. Sumber data yang didapatkan dipenelitian ini adalah wawancara dan arsip berupa buku nikah, catatan pernikahan dari KUA, serta foto-foto pernikahan. Hasil penelitian menjukkan bahwa upacara Lek Batin dilakukan dengan 3 tahapan: sebelum pernikahan, pelaksanaan pesta pernikahan, serta pasca pernikahan. Masyarakat kelas ekonomi kuat yang melaksanakan Lek Batin mampu menghadirkan hidangan hewan berkaki empat, iringan pesta musik dan arak-arakan pengantin. Lek Tengganai sebagai pesta kelas kedua tidak mampu menghadirkan itu semuanya. Seiring bertukarnya zaman tradisi lek batin tetap harus dilestarikan tanpa harus mengurangi bahkan menghilangkan ciri khas yang sudah melekat pada tradisi tersebut.
JAMALUDDIN AL-AFGHANI’S THOUGHTS IN SAREKAT ISLAM AND MUHAMMADIYAH MOVEMENT EARLY 20TH CENTURY Mahardika, Moch. Dimas Galuh
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1125

Abstract

The global political struggle between Muslims and Western imperialists produced new Islamic thinkers. One of them was Jamaluddin Al-Afghani, a pioneer of pan-Islamism whose ideas spread to different parts of the world. His idea of ??political independence for Muslims became the compass for the figures of the early 20th-century movement in the Dutch East Indies, which carried out a movement against colonialism-imperialism. Some major organizations inspired by Jamaluddin Al-Afghani's thoughts are Sarekat Islam and Muhammadiyah. Both organisations play an important role in the machinery of the national movement. Written based on a literature study with a historical approach, the article attempts to explain the influence of Jamaluddin Al-Afghani's thoughts on the political dynamics of Islamic groups during the nationalist movement of the early 20th century.
A Study Bukit Siguntang as the Sacred Heritage of the Ancestral Land of the Malay Nation: From Profane to Sacred ming, david
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1136

Abstract

Bukit Siguntang is an important piece of evidence of the historical heritage of the Srivijaya Kingdom in Palembang. It is estimated to have originated in the 6th century AD. Although the system of Palembang society has changed from Buddhist society to Islamic society since the development of the Palembang Sultanate, the heritage is still considered sacred by the Malay community around the site so that the existence of the historical site is preserved. However, the condition of the site is not maintained according to its function now. This study aimed to analyse changes in the meaning of the site by the community and government and its impact on the site damage. This study used a qualitative method with a historical approach. The results of the study showed that there was a change in the meaning of the Bukit Siguntang site between the government and the community, so that there was a struggle for space utilization between the government and groups of activists to rescue the historical heritage. The local government interpreted the site as a tourism asset that had to be "sold", while the activists interpreted it as a historical heritage that had to be rescued since it kept the collective memory of the Malay nation. This resulted in different approach in utilizing the site. Since the 1980s, the government has emphasized a development approach for the people's welfare, while historical activist groups have viewed the government's actions as destroying historical heritage considered sacred by the community. Due to these differences, conflicts between the government and the community activists of the Malay heritage often occur. It is hoped that the conditions there can be returned to their original state even though they are no longer original
The Relationship between the naming of UIN Palembang with Raden Fatah the Sultanate of Demak: a historical perspective Otoman, Otoman; Antasari, Rr Rina; Sari, Renny Kurnia; Fakhriya, Siti Dini; Ibrahimian, Hojjatullah
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1153

Abstract

This article discusses the relationship between the naming of UIN Palembang and the name Raden Fatah from a historical perspective. This study aims to reveal the historical facts behind the naming relationship of UIN Palembang which uses the name Raden Fatah which is synonymous with the Sultanate of Demak. The method used is descriptive qualitative which refers to historical research analysis techniques. The historical research process goes through four stages, namely heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The research results reveal two historical facts behind the naming. First, the influence of Raden Fatah's Islamization in Palembang has not only crystallized in the collective memory of the community, but is also neatly preserved in historical traces that can still be seen today. This historical fact confirms the influence of Raden Fatah's Islamization on Palembang, South Sumatra. Second, the naming of UIN Palembang with the name Raden Fatah is historically tied to the relationship between the figures of Raden Fatah and Palembang. The knot of Raden Fatah's character can be identified through four relations: namely location (place) relations, mission relations, contribution relations, and historical trace relations. These four relationships are the argumentative historical facts behind naming UIN Palembang with the name UIN Raden Fatah.
MILITANSI YANG RELIGIUS: AKTIVITAS DAN PERANAN TAREKAT BEKTASIYAH DI KERAJAAN OTTOMAN, 1300-1800 Aldiansyah, Muhammad; Rizal Mahendra, Fahmi
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 14 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v14i1.1171

Abstract

This article will explain about the history of the Bektasiyah order, which played an important role in the spiritual axis of the Ottoman warriors from 1300 to 1800. This order was able to give the soldiers a high level of jihad militancy to fight against the sultan's enemies and to expand the empire's territory. Balim Sultan, who was close to Bayezid II, succeeded in institutionalizing the Bektasiyah order into a structured tarekat and emphasized the systematic tarekat tradition. The Bektasiyah Order has its own hierarchy for each follower of the Haci Bektas teachings and each level has a certain role as a dedication to the tarekat. This research was conducted with the aim of studying the Bektasiyah order more deeply related to basic matters such as its role, spiritual teachings, and its relation to the Ottomans. The method used when conducting this research is using historical research methods and library research. In the 13th century AD, the Bektasiyah Order experienced an increase in followers from time to time, even though the teachings taught were antinomian and different from Islamic teachings in general. When entering the modern era, this tarekat experienced difficult times due to the policy of sultan Selim III regarding the elimination of Yanisari soldiers because Yanisari soldiers who were also followers of the Bektasiyah order tended to interfere more in royal political issues and no longer had a solid religious foundation.
Peran Ilmu Humaniora Dalam Mendorong Moderasi Beragama lukmanul, hakim; Meria, Aziza; Suryadinata , Sartika; Prakoso, Karima Nabila
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 13 No. 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v13i2.1173

Abstract

Artikel ini membahas peran yang dimainkan oleh Ilmu Humaniora dalam mendorong moderasi beragama. Ilmu Humaniora dilihat sebagai kumpulan disiplin ilmu yang fokus pada penciptaan budaya manusia, termasuk aspek-aspek seperti keyakinan, ide-ide, etika, dan tradisi. Artikel ini menyelidiki bagaimana ilmu ini dapat memberikan kontribusi dalam merangsang sikap moderat dalam konteks keberagamaan. Melalui Ilmu Humaniora dapat membantu memahami peran agama dalam masyarakat dengan lebih mendalam, merangsang dialog antar keyakinan, dan mendorong pemahaman yang lebih luas tentang keragaman keyakinan. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, berbasis library research (studi kepustakaan), artikel ini menguraikan pentingnya peran Ilmu Humaniora sebagai fasilitator untuk mempromosikan sikap moderat dalam konteks keberagaman, memberikan kontribusi positif terhadap harmoni dan pemahaman antar umat beragama. Diantara peran ilmu humaniora dalam mendorong moderasi beragama ialah, 1. Mengurai Pemahaman Mendalam Mengenai Moderasi Beragama Melalui Kajian Teks-Teks Kuno 2. Mengintegrasi Filsafat Islam dengan Moderasi Beragama Guna Meminimalisir Radikalisme, 3. Pendekatan Antropologi Sebagai Solusi Alternatif Kajian Moderasi Beragama di Indonesia, 4. Mengulik Akar Tradisi Keagamaan Masyarakat Guna Penguatan Moderasi Beragama, 5. Moderasi Beragama Berbasis Budaya
FARM LABORERS TOWARDS THE MIDDLE CLASS: THE AMAK AWAK GROUP IN NAGARI LABUAH GUNUANG KEC. LAREH SAGO HALABAN, WEST SUMATRA 1980-2015 Yuhasnil, Yuhasnil; Hazmi, Nahdatul; Asmara, Dedi
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 14 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v14i1.1175

Abstract

The emergence of farm laborers in Nagari Labuah Gunuang has been going on since early 1949. Their presence was related to the lack of agricultural production, which affected the economic survival of their families. From 1960 to 1966, the survival of the laborers' families was tested again. Women who were previously engaged in the domestic sector, then shared work with their husbands by doing labor. The method used in this research is the historical method which consists of heuristics (data collection), source criticism, interpretation, and historiography. The purpose of this research is to see the activities and influence of the Amak Awak group in family resilience. The results of the research obtained that the women's labor group formed since 1980, then legalized as Amak Awak (2011) had an impact on the economic conditions of their families. They initially only worked in the agricultural sector, but also in animal husbandry. In fact, from their labor activities, they were able to buy 1 hectare of land, which they cultivated and enjoyed the results for the common good. They are no longer in the lower class, but have entered the middle class.
PERANAN SYEKH ARSYAD DALAM MENGEMBANGKAN TAREKAT NAQSYABANDIYAH KHALIDIYAH DI BATUHAMPAR (1899-1924) Putri, Miftahul Khairani; Arsa, Dedi
Khazanah: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol. 14 No. 1 (2024): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Imam Bonjol Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15548/khazanah.v14i1.1176

Abstract

Tulisan ini menjawab permasalahan tentang peranan Syekh Arsyad di nagari Batuhampar dalam mengembangkan tarekat Naqsabandiyah dari tahun 1889-1924. Penelitian ini berisi asal mula tarekat Naqsyabandiyah di nagari Batuhampar oleh Syekh Abdurrahman dan kemudian dikembangkan oleh anaknya Syekh Arsyad. Penelitian ini dianggap penting agar pembaca mengetahui kejayaan nagari Batuhampar di bidang pendidikan agama islam khususnya tarekat Naqsyabandiyah memlalui tokoh ulama di Batuhampar. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Penulis akan mencari sumber yang berkaitan dengan penelitian ini. Sumber yang didapatkan berasal dari naskah-naskah peninggalan Syekh Arsyad, kemudian hasil wawancara dari keturunan Syekh Arsyad dan seorang penggiat literasi ulama di Minangkabau dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan penelitian ini. Selanjutnya penulis akan mengkritik dan mengiinterpretasi sumber. Kemudian akan ditulis dalam bentuk skripsi pada tahap ini dinamakan historiografi. Dari hasil penelitian ini akan ditemukan yakni: 1) Tarekat Naqsyabandiyah diperkenalkan oleh ulama dari Batuhampar bernama Syekh Abdurrahman; 2) Surau Batuhampar sangat berperan penting dalam mengembangkan Tarekat Nasabandiyah pada masa itu; 3) Syekh Arsyad juga melakukan perjalanan ziarah, yang kemudian ia tuangkan dalam sebuah naskah bertuliskan Arab Melayu. Selain itu Syekh Arsyad juga mendapatkan ijazah tarekat dari ayahnya dan diangkat menjadi Mursyid sekaligus menggantikan Syekh Abdurrahman memimpin Surau Batuhampar 4) Syekh Arsyad memimpin Surau dan Tarekat Naqsabandiyah di Batuhampar hingga berkembang pesat, bahkan para pesuluk ataupun pelajar yang datang menimba ilmu agama bisa mencapai ribuan orang.

Page 10 of 12 | Total Record : 114