cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 791 Documents
UJI KETAHANAN KAYU ULIN (Eusideroxylon zwageri), BENGKIRAI (Shorea laevifoia Endert), DAN MERANTI MERAH (Shorea leprosula Miq) SEBAGAI BAHAN BAKU PEMBUATAN PERAHU TERHADAP ORGANISME PERUSAK KAYU Urfan Brury Anfaul Baroya; Muhammad Faisal Mahdie; Gusti Abdul Rahmat Thamrin
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8210

Abstract

Iron wood (Eusideroxylon zwageri), bengkirai wood (Shorea laevifolia endert), and red meranti wood (Shorea leprosula) used as a basic material in the manufacture of a ship. The wood used is enters the class of wood that is strong and durable, so it can survive in water. The use of wood as the hull of the ship is often damaged by attacks by marine animals such as barnacles and sea worms. Barnacles attached to the bottom of the ship resulting in reduced ship speed, while the shipworm larvae would make holes in the wood and make it brittle. The goal in this study is to analyze the intensity of damage to Ironwood, bengkirai wood and red meranti wood from attacks by wood-destroying organisms to determine which type of wood is better for use in shipbuilding. The test method was conducted using SNI 01-7207-2006. The wood sample is formed 30 cm x 2.5 cm x 5 cm and the middle is made a hole with a diameter of 1.5 cm. The sample is connected with a cable rope with a distance of 5 cm using a pipe. The sample is tied to the pier pole at low tide. Wood tested included in the category of highly resistant to attack barnacle organisms with an intensity of attack on each Wood <7%. Meranti test wood samples exposed to sea worm attacks with intesitas attack 33.3% - 56.6%, so this type of wood is considered less resistant to attack.Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri), kayu bengkirai (Shorea laevifolia endert), dan kayu meranti merah (Shorea leprosula) dimanfaatkan menjadi bahan dasar dalam pembuatan sebuah kapal. Kayu yang digunakan merupakan kayu yang masuk ke dalam kelas kayu yang kuat dan awet, sehingga mampu bertahan di air. Penggunaan kayu sebagai lambung kapal sering mengalami kerusakan akibat serangan binatang laut seperti teritip dan cacing laut. Teritip yang melekat pada bagian bawah kapal mengakibatkan kecepatan kapal berkurang, sedangkan larva cacing kapal akan membuat lubang pada kayu dan membuatnya rapuh. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis intensitas kerusakan kayu ulin, kayu bengkirai dan kayu meranti merah dari serangan organisme perusak kayu untuk mengetahui jenis kayu yang lebih bagus untuk digunakan dalam pembuatan kapal. Metode pengujian dilakukan menggunakan SNI 01-7207-2006. Sampel kayu dibentuk 30 cm x 2,5 cm x 5 cm dan bagian tengah dibuat lubang dengan diameter sebesar 1,5 cm. Sampel dihubungkan dengan talu kabel dengan jarak 5 cm mengunakan pipa. Sampel diikat di dermaga dengan kondisi laut yang surut. Kayu yang diuji termasuk ke dalam kategori sangat tahan pada serangan organisme teritip dengan intensitas serangan pada setiap kayu <7%. Sampel kayu uji meranti terkena serangan cacing laut dengan intesitas serangan 33,3% - 56,6 %, sehingga jenis kayu ini dinilai kurang tahan pada serangan
TINGKAT KEKRITISAN LAHAN DI SUB DAS TEBING SIRING DAS TABUNIO KABUPATEN TANAH LAUT Laila Indasari; Syarifuddin Kadir; Eko Rini Indriyatie
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8201

Abstract

Critical land is supported by the physical condition of the soil which is prone to erosion due to excessive land use, high rainfall and steep slope conditions. The Tebing Siring Sub-Watershed is one of the upstream parts of the Tabunio watershed which is dominated by plantations due to the large number of activities of residents managing land such as plantations. This study aims to analyze the level of land criticality and determine efforts to control the level of land criticality in the Tebing Siring Sub-Watershed of the Tabunio Watershed, Tanah Laut Regency. The methods used in the study are overlapping (overlayed) methods of land cover maps, slope maps and soil type maps with critical land determinant parameters in agricultural business cultivation areas including productivity, slopes, erosion and management. The results showed that land cover/use in oil palm plantations is included in the critical potential category, rubber plantations are in the rather critical to critical category, reeds are included in the critical category and open land is included in the very critical category. Factors caused by the slope of the slope, soil factors, the degree of danger of erosion and its vegetation. Efforts to control the level of land criticality through forest and land rehabilitation directives. Oil palm and rubber plantations are maintained and improved maintenance but with an intercropping pattern and rehabilitated with superior plant types and steep marbles directed at making terraces. Open land and reeds are converted into forests through enrichment of forest plants and Multy Purpose Tree Species (MPTS) that correspond to the place of growth according to plant species and land productivity can increaseLahan kritis didukung oleh kondisi fisik tanah yang rentan terjadi erosi akibat penggunaan lahan yang berlebihan, tingginya curah hujan dan keadaan lereng curam. Sub DAS Tebing Siring salah satu bagian hulu dari DAS Tabunio yang didominasi oleh perkebunan karena banyaknya aktifitas penduduk mengelola lahan seperti perkebunan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kekritisan lahan dan menentukan upaya pengendalian tingkat kekritisan lahan pada Sub DAS Tebing Siring DAS Tabunio Kabupaten Tanah Laut. Metode yang digunakan pada penelitian adalah metode tumpang tindih (di-overlay) peta tutupan lahan, peta lereng dan peta jenis tanah dengan parameter penentu lahan kritis pada kawasan budidaya usaha pertanian meliputi produktivitas, lereng, erosi dan manajemen. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penutupan/penggunaan lahan pada perkebunan sawit termasuk kategori potensial kritis, perkebunan karet termasuk kategori agak kritis hingga kritis, alang-alang termasuk kategori kritis serta lahan terbuka termasuk kategori sangat kritis. Faktor-faktor yang disebabkan oleh kemiringan lereng, faktor tanah, tingkat bahaya erosi dan vegetasinya. Upaya pengendalian tingkat kekritisan lahan melalui arahan rehabilitasi hutan dan lahan. Perkebunan sawit dan karet yaitu tetap dipertahankan dan ditingkatkan pemeliharaannya namun dengan pola tumpangsari serta direhabilitasi dengan jenis tanaman yang unggul dan pada kelerengan yang curam diarahkan membuat terasering. Lahan terbuka dan alang-alang dikonversi menjadi hutan melalui pengkayaan tanaman hutan dan Multy Purpose Tree Species (MPTS) yang sesuai dengan tempat tumbuh sesuai spesies tanaman serta produktivitas lahan dapat meningkat.
KOMPOSISI DAN STRUKTUR VEGETASI HUTAN RIPARIAN SEMPADAN SUNGAI KIRAM KABUPATEN BANJAR Anggi Nur Priosejati; Ahmad Jauhari; Kissinger Kissinger
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8192

Abstract

This riparian vegetation can affect the development of river ecosystems. The role of riparian vegetation in the ecosystem, among others, is to control erosion, prevent flooding, absorb pollutants carried by water and improve the quality of river water and soil around the river. This study aims to make an inventory of vegetation types in riparian forests in order to analyze the composition and structure of vegetation. The method used in data collection is purposive sampling and plot lines. While the calculation and data analysis using the J curve and INP. This research was conducted at the river border of Kiram Village, Banjar Regency. The results of the J curve with the number of types of seedlings as many as 252 species and yields as many as 630,000 species per hectare, saplings as many as 145 species and yields as many as 58,000 species per hectare, poles as many as 74 species and yields as many as 7400 species per hectare, trees as many as 51 the number of species has a yield of 1275 the number of species per hectare. The research showed that the species that were inventoried were categorized starting from 19 species/4m2 seedlings with a total of 252 stems/4m2, 25 types/25m2 saplings with 167/25m2 stems, 19 species/100m2 poles with a total of 74 stems/100m2 and trees as many as 25 species/400m2 with a total of 51 stems/400m2. The highest Importance Value Index (INP) was at the seedling level, namely Petindis Plant Types at 44.44 percent, at the sapling level, namely Sari Departure Plants at 11.03%, at the pole level, namely Alaban Plant Types at 103.59% and at the tree level. Namely the Madang Puspa plant species by 165.85%.Vegetasi riparian ini dapat mempengaruhi perkembangan ekosistem sungai. Peran vegetasi riparian dalam ekosistem antara lain sebagai pengontrol erosi, mencegah terjadinya banjir, menyerap zat pencemar yang terbawa air serta memperbaiki kualitas air sungai dan tanah di sekitar sungai. Penelitian ini bertujuan untuk Mengiventarisasi jenis vegetasi pada hutan riparian guna menganalisis komposisi dan struktur vegetasi. Adapun metode yang digunakan dalam pengambilan data adalah purposive sampling dan plot berjalur. Sedangkan perhitungan dan analisa data menggunakan kurva J dan INP. Penelitian ini dilaksanakan di sempadan sungai Desa Kiram Kabupaten Banjar. Hasil kurva J dengan jumlah jenis semai sebanyak 252 jumlah jenis dan memiliki hasil sebanyak 630.000 jumlah jenis perhektar, pancang sebanyak 145 jumlah jenis dan memiliki hasil sebanyak 58.000 jumlah jenis perhektar,  tiang sebanyak 74 jumlah jenis dan memiliki hasil sebanyak 7400 jumlah jenis perhektar,  pohon sebanyak 51 jumlah jenis memiliki hasil sebanyak 1275 jumlah jenis perhektar. penelitian menunjukkan jenis-jenis yang terinventarisasi pada pengkategorian mulai dari semai sebanyak 19 jenis/4m2 dengan jumlah 252 batang/4m2, pancang sebanyak 25 jenis/25m2 dengan jumlah 167/25m2 batang,  tiang sebanyak 19 jenis/100m2 dengan jumlah 74 batang/100m2 dan pohon sebanyak 25 jenis/400m2 dengan jumlah 51 batang/400m2 . Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi pada tingkat semai yaitu Jenis Tumbuhan Petindis sebesar 44,44%, pada tingkat pancang yaitu Jenis Tumbuhan Sari Berangkat sebesar 11,03%, pada tingkat tiang yaitu Jenis Tumbuhan Alaban sebesar 103,59% dan pada tingkat pohon yaitu Jenis Tumbuhan Madang Puspa sebesar 165,85%.
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK BAWANG MERAH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JOHAR (Cassia siamea Lamk) DI SHADE HOUSE FAKULTAS KEHUTANAN BANJARBARU Novita Sari Hutabarat; Yusanto Nugroho; Damaris Payung
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8206

Abstract

Johar plant (Cassia siamea Lamk) is a type of plant that can be categorized as a versatile tree species or a type of plant that has many uses. This study has the objectives of assessing the percentage level of plant life, knowing the concentration response of the onion bulb treatment to the parametrics used in the study and the best response to each treatment on the growth of the johar (Cassia siamea Lamk) plant. Observations using the RAL method (Completely Randomized Design) were 30 replicates and 4 treatments so that there were 120 research seeds. The results of the live percentage of johar (Cassia siamea Lamk) seedlings were treatment A (without treatment) of 93.33%, treatment B (dose of 100 gr/l water) of 96.66%, treatment C (dose of 150 gr/l water) of 96.66%, treatment D (dose of 200 g/l water) was 96.66%. So that the average percentage of live johar plants for all treatments was 95.83%. The treatment had a significant effect on increasing the height of johar seedlings, significantly on increasing the number of leaves of johar seedlings, and had no significant effect on increasing stem diameter of johar seedlings. Administration of growth regulators to treatment D with a concentration of 200 g/liter of water was able to provide the best and optimum response to increasing the height of johar seedlings by 18.76 cm, increasing leaf blades by 9.23 strands, and increasing stem diameter by 2.26 mm.Tanaman Johar (Cassia siamea Lamk) merupakan jenis tanaman yang dapat dikategorikan sebagai jenis pohon serbaguna atau jenis tanaman yang dimanfaatkan yang mempunyai banyak kegunaan. Penelitian ini memiliki tujuan yaitu mengkaji tingkat presentase kehidupan tanaman, mengetahui respon konsentrasi perlakuan umbi bawang merah terhadap parametrik yang digunakan dalam penelitian dan respon terbaik pada setiap perlakuan terhadap pertumbuhan tanaman johar (Cassia siamea Lamk). Pengamatan menggunakan metode RAL (Rancangan Acak Lengkap) yaitu 30 ulangan dan 4 perlakuan sehingga terdapat 120 bibit penelitian. Hasil persentase hidup bibit johar (Cassia siamea Lamk) yaitu perlakuan A (tanpa perlakuan) sebesar 93,33 %, perlakuan B (dosis 100 gr/l air) sebesar 96,66 %, perlakuan C (dosis 150 gr/l air) sebesar 96,66%, perlakuan D (dosis 200 gr/l air) sebesar 96,66 %. Sehingga hasil rata-rata persentase hidup tanaman johar untuk semua perlakuan adalah 95,83%. Perlakuan memberikan pengaruh nyata terhadap bertambahnya tinggi bibit johar, berpengaruh nyata terhadap bertambahnya jumlah daun bibit johar, berpengaruh tidak nyata terhadap bertambahnya diameter batang bibit johar. Pemberian zat pengatur tumbuh terhadap perlakuan D dengan konsentrasi 200 gr/liter air yaitu mampu memberikan respon terbaik dan optimum terhadap bertambahnya tinggi bibit johar sebesar 18,76 cm, bertambahnya helaian daun sebesar 9,23 helai, dan bertambahnya diameter batang sebesar 2,26 mm
PENGARUH VARIASI CAMPURAN SERBUK ARANG ALABAN DAN ARANG TEMPURUNG KELAPA TERHADAP KUALITAS BRIKET ARANG Dany Prianto Nugroho; Noor Mirad Sari; Trisnu Satriadi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8197

Abstract

Charcoal briquettes made from a mixture of alaban charcoal and coconut shell are one of the efforts to utilize waste. The purpose of this study was to determine the variation of the mixture of alaban charcoal powder and coconut shell on the quality of charcoal briquettes. The mixture of raw materials uses 5 variations, namely 1) 100% charcoal; 2) 75% alaban charcoal and 25% coconut shell; 3) 50% alaban charcoal and 50% coconut shell, 4) 25% alaban charcoal and 75% coconut shell; and 5) 100% coconut shell. The resulting data were then analyzed by variance and compared with ASTM. The quality of charcoal briquettes is not affected by the composition of the mixture of alaban charcoal and coconut shell. Treatment with 100% coconut shell raw materials, without a mixture of alaban charcoal, is charcoal briquettes with the quality closest to ASTM standards, in the form of ash content, volatile matter, calorific value. Other parameters such as water content, density and bound carbon still do not meet ASTM standardsBriket arang terbuat dari campuran arang alaban dan tempurung kelapa adalah salah satu upaya salah satu upaya pemanfaatan limbah. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui variasi campuran serbuk arang alaban dan tempurung kelapa terhadap kualitas briket arang. Campuran bahan baku menggunakan 5 variasi yaitu 1) arang alaban 100%; 2) arang alaban 75% dan tempurung kelapa 25%; 3) arang alaban 50% dan tempurung kelapa 50%, 4) arang alaban 25% dan tempurung kelapa 75%; dan 5) tempurung kelapa 100%. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis dengan sidik ragam dan dibandingkan dengan ASTM. Kualitas briket arang tidak dipengaruhi oleh komposisi campuran arang alaban dan tempurung kelapa. Pelakuan dengan bahan baku tempurung kelapa 100%, tanpa campuran arang alaban, merupakan briket arang dengan kualitas yang paling mendekati standar ASTM, berupa kadar abu, zat terbang, nilai kalor.  Parameter lainnya berupa kadar air, kerapatan dan karbon terikat masih belum memenuhi standar ASTM
SEBARAN POTENSI DAN ATRAKSI WISATA DI PULAU CURIAK DAN KAWASAN SEKITARNYA Dionisius Marhaen Gloi Murin; Kissinger Kissinger; Arfa Agustina Rezekiah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8211

Abstract

This research was conducted at the Curiak Island tourist attraction in Anjir Muara District, Barito Kuala Regency, South Kalimantan. The research aims to analyze the potential and what tourist attractions are already in the tourist area of Curiak Island and around the research site as well as to observe locations that have the potential to be used as new tourist attractions. Data collection was carried out using a semi-structured interview method. The number of respondents as many as 42 people consisting of 36 people from the surrounding community and 5 tourism managers. Data analysis was carried out descriptively using the interview method. Analysis of the distribution of tourist attractions using a Geographic Information System (GIS) with ArcGIS software. Tourism potential is divided into 2, namely biophysical potential and socio-cultural potential. The biophysical potential of Curiak Island consists of various types of primates (proboscis monkeys, langurs, and long-tailed monkeys), birds, reptiles, rambai trees, orchards, and agriculture. The socio-cultural potential that exists in the Curiak Island ecotourism area is in the form of dance, martial arts, poetry and community potential. There are 2 tourist attractions on Curiak Island, namely site attraction and event attraction for site attraction regarding proboscis monkey activities, bird watching, reptile observation and others and event attraction namely Sinoman Hadrah dance, Bakuntau silat and Madihin art.Penelitian ini dilakukan di objek wisata Pulau Curiak di Kecamatan Anjir Muara, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Penelitian bertujuan untuk menganalisis potensi dan atraksi wisata apa saja yang sudah terdapat di kawasan wisata Pulau Curiak dan sekitar tempat penelitian serta pengamatan lokasi yang memiliki potensi untuk dijadikan atraksi wisata yang baru. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara semi terstruktur. Jumlah responden sebanyak 42 orang terdiri atas 36 orang masyarakat sekitar dan 5 orang pengelola wisata. Analisis data potensi wisata dilakukan secara deskriptif. Analisis sebaran atraksi wisata menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG) dengan software ArcGIS. Potensi wisata terbagi menjadi 2 yakni potensi biofisik dan potensi sosial budaya. Potensi biofisik yang dimiliki Pulau Curiak terdiri atas berbagai jenis primata (bekantan, lutung, dan monyet ekor panjang), burung, reptil, pohon rambai, kebun buah, dan pertanian. Potensi sosial budaya yang ada pada kawasan ekowisata Pulau Curiak berupa kesenian tari, seni bela diri, seni berpantun dan potensi masyarakat. Atraksi wisata Pulau Curiak terdiri 2 yaitu site attraction dan event attraction, untuk site attraction terdiri atas aktivitas bekantan, pengamatan burung, pengamatan reptil dan lainnya dan pada event attraction yakni atas kesenian tari sinoman hadrah, silat bakuntau dan seni madihin
EVALUASI PERTUMBUHAN TANAMAN DARI BERBAGAI REGIONAL YANG DIBUDIDAYAKAN DI THHTI KALIMANTAN SELATAN Lissa Anggraini; Gusti Muhammad Hatta; Normela Rachmawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8202

Abstract

Plant growth is the process of increasing volume accompanied by an increase in the number of cells. The purpose of this study is to evaluate the growth of plants from various regions of Indonesia that are cultivated in THTTI Banjarbaru, South Kalimantan so that they can be used as consideration for further planting activities. Research implementation time for 3 months. Data were collected using purposive sampling method, the parameters in this study were the percentage of plant life, plant height and diameter. Based on the research results, it is known that in Kalimantan Region the percentage of plant life is 70% with an average height of 239.9 cm and a diameter of 28.5 mm, in the Java-Bali-Nusra Region the percentage of plant life is 100% with an average height of 230.1 cm and 43.12 mm in diameter, Sulawesi Region, the percentage of plant life is 93% with an average height of 228.7 cm and a diameter of 26.05 mm, Maluku Papua Region has a plant life percentage of 83% with an average height of 247.5 cm. and a diameter of 26.92 mm, and for the Sumatra Region the percentage of plant life was 100% with an average height of 246.3 cm and a diameter of 33.34 mm. The average plant growth is not uniform in each region, this happens because the species in each region are different so that the growth speed is not uniform, besides that many plants are disturbed and damaged by pests and weeds around the plantsPertumbuhan tanaman ialah proses pertambahan volume disertai pertambahan jumlah sel, Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi pertumbuhan tanaman dari berbagai regional Indonesia yang dibudidayakan di THHTI Banjarbaru Kalimantan Selatan sehingga dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk kegiatan penanaman selanjutnya. Waktu pelaksanaan penelitian selama 3 bulan. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling, parameter dalam penelitian ini yaitu persentase hidup tanaman, tinggi dan diameter tanaman. Berdasarkan hasil Penelitian diketahui bahwa pada Regional Kalimantan persentase hidup tanaman sebesar 70% dengan rata-rata tinggi 239,9 cm dan diameter 28,5 mm, Regional Jawa–Bali–Nusra persentase hidup tanaman sebesar 100% dengan rata-rata tinggi 230,1 cm dan diameter 43,12 mm, Regional Sulawesi persentase hidup tanaman sebesar 93% dengan rata-rata tinggi 228,7 cm dan diameter 26,05 mm, Regional Maluku Papua persentase hidup tanaman sebesar 83% dengan rata-rata tinggi 247,5 cm dan diameter 26,92 mm, dan Regional Sumatera persentase hidup tanaman sebesar 100% dengan rata-rata tinggi 246,3 cm dan diameter 33,34 mm. Rata-rata pertumbuhan tanaman tidak seragam pada setiap regional, hal ini terjadi karena jenis pada setiap regional berbeda sehingga kecepatan tumbuh pun tidak seragam, selain itu banyak tanaman yang terganggu dan mengalami kerusakan akibat hama serta gulma disekitar tanaman.
KUALITAS BIOPELET DARI LIMBAH CAMPURAN KAYU ALABAN DENGAN SERAI WANGI Armain Armain; Budi Sutiya; Lusyiani Lusyiani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8193

Abstract

Biopellets made from a mixture of alaban powder and citronella powder are for the utilization of waste, in fact, they can still be used as raw materials for biomass and renewable energy. The objectives to be achieved in this study were to identify the quality of biopellets from alaban wood powder and citronella powder, and to determine the best biopellet from various treatments. The mixture of raw materials uses 5 treatments, namely 1) 100% alaban powder; 2) 75% alaban powder and 25% citronella powder; 3) 50% alaban powder and 50% citronella powder, 4) 25% alaban powder and 75% citronella powder; and 5) 100% citronella powder. The resulting data is then analyzed with variance and compared with SNI. The quality of the biopellet was not affected by the composition of the mixture of alaban powder and citronella powder. Biopellets that meet SNI standards, in the form of water content, bound carbon and calorific value. Other parameters such as density, ash content, and volatile matter still do not meet SNI standards.Biopelet terbuat dari campuran serbuk alaban dan serbuk serai wangi adalah untuk pemanfaatan limbah sebenarnya masih dapat digunakan sebagai bahan baku biomasa dan energi terbarukan. Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah Mengenalisa kualitas biopelet dari serbuk kayu alaban dan serbuk serai wangi, dan mengetahui biopelet yang terbaik dari berbagai perlakuan. Campuran bahan baku menggunakan 5 perlakuan yaitu 1) serbuk alaban 100%; 2) serbuk alaban 75% dan serbuk serai wangi 25%; 3) serbuk alaban 50% dan serbuk serai wangi 50%, 4) serbuk alaban 25% dan serbuk serai wangi 75%; dan 5) serbuk serai wangi 100%. Data yang dihasilkan selanjutnya dianalisis d engan sidik ragam dan dibandingkan dengan SNI. Kualitas biopelet tidak dipengaruhi oleh komposisi campuran serbuk alaban dan serbuk serai wangi. Biopelet yang memenuhi standar SNI, berupa kadar air, karbon terikat dan nilai kalor. Parameter lainnya berupa kerapatan, kadar abu, dan zat terbang masih belum memenuhi standar SNI.
SIKAP MASYARAKAT DESA PULAU BURUNG KEPADA PENGELOLAAN TAMAN WISATA ALAM Putri Festu Sutanti; Setia Budi Peran; Dina Naemah
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8207

Abstract

Pulau Burung Nature Tourism Park which is currently managed is a type of mangrove forest which was previously a Nature Reserve which has changed its function in accordance with the wishes of the Tanah Bumbu Regency government and the village community who live in the area, because this area has economic and natural tourism potential and can be developed for the socio-economic interests of the people in and around it, but how the attitude of the community towards the changing functions and management of this area needs to be studied through this research. The purpose of this study is to study the attitude of the village community who live in the tourist park by changing the function of the Nature Reserve where they live into a nature tourism park, and to assess their attitude towards several factors (things) that have been determined in the management of the relevant natural tourism park. Interviews were conducted using a questionnaire to respondents determined by Simple Random Sampling by taking random samples based on the number of houses in the research village. Samples were taken as many as 30 respondents. Attitude analysis was carried out using the Bakhdal and Sinaga scoring and formula. The results showed that the community had a positive attitude towards changing the function of the Nature Reserve into a natural tourism park and also towards the management of the natural tourism park in Pulau Burung VillageTaman Wisata Alam Pulau Burung yang dikelola saat ini merupakan tipe hutan mangrove yang sebelumnya merupakan Cagar Alam yang berubah fungsinya sesuai dengan keinginan pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu dan masyarakat Desa yang bermukim di areal kawasan tersebut, karena wilayah ini memilikki potensi ekonomis dan wisata alam dan dapat  dikembangkan bagi kepentingan sosial-ekonomi masyarakat di dalam dan di sekitarnya, namun bagaimana sikap masyarakat terhadap  berubahnya fungsi dan pengelolaan kawasan ini perlu dikaji melalui penelitian ini. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji sikap masyarakat desa yang bermukim di dalam taman wisata tersebut  dengan berubahnya fungsi Cagar Alam  tempat mereka bermukim menjadi taman wisata alam, dan menilai sikap mereka terhadap beberapa faktor (hal) yang telah ditetapkan dalam pengelolaan taman wisata alam yang bersangkutan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner kepada responden yang ditetapkan secara Simple Random Sampling dengan melakukan pengambilan sampel secara acak berdasarkan nomor rumah di desa penelitian. Sampel yang diambil sebanyak 30 responden. Analisis sikap dilakukan menggunakan skoring dan rumus Bakhdal dan Sinaga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat berisikap positif terhadap perubahan fungsi Cagar Alam menjadi taman wisata alam dan juga terhadap pengelolaan taman wisata alam di Desa Pulau Burung tersebut.
SENYAWA KIMIA AKTIF BUAH NIPAH (Nypa fruticans Wurmb) BERDASARKAN 3 TINGKAT KEMATANGAN BUAH Elmalia Rinten Suryanizak; Rosidah Radam; Yuniarti Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v6i1.8198

Abstract

The nipah plant (Nypa fruticans Wurmb) is a type of betel nut tribe that lives in brackish water marsh areas. The spread of nipah in South Kalimantan covers areas in Banjar Regency, Tanah Laut Regency, Tanah Bumbu Regency and Pulau Laut Regency. Nipah fruit has antibacterial content and is useful as a food source that can be used as a diet food. This study aims to analyze the content of akif chemical compounds, namely flavonoids, tannins, alkaloids, steroids and triterpenoids in nipah fruit (Nypa fruticans Wurmb) at 3 levels of fruit maturity. Phytochemical tests are carried out to determine the class of compounds contained in nipah fruit. This research began with the manufacture of simplicia first then a phytochemical test was carried out using a color test, showing positive results that the nipah fruit contains active chemical compounds alkaloids and tanninsTumbuhan nipah (Nypa fruticans Wurmb) merupakan jenis palem atau suku pinang-pinangan yang hidup di daerah rawa berair payau. Penyebaran nipah di Kalimantan Selatan meliputi wilayah di Kabupaten Banjar, Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Tanah Bumbu dan Kabupaten Pulau Laut. Buah nipah memiliki kandungan antibakteri dan bermanfaat sebagai sumber pangan yang dapat dijadikan sebagai makanan diet. Penelitian ini bertujuan menganalisis kandungan senyawa kimia akif yaitu flavonoid, tanin, alkaloid, steroid dan triterpenoid pada buah nipah (Nypa fruticans Wurmb) pada 3 tingkat kematangan buah. Uji fitokimia dilakukan untuk mengetahui golongan senyawa yang terdapat dalam buah nipah. Penelitian ini diawali dengan pembuatan simplisia terlebih dahulu kemudian dilakukan uji fitokimia menggunakan tes uji warna, menunjukkan hasil positif bahwa buah nipah mengandung senyawa kimia aktif alkaloid dan tanin.

Filter by Year

2018 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue