cover
Contact Name
Trisnu Satriadi
Contact Email
sylva.scientaeae@ulm.ac.id
Phone
+6285101185530
Journal Mail Official
trisnu.satriadi@ulm.ac.id
Editorial Address
Jl. A. Yani Km 36 Simpang Empat Banjarbaru Kalimantan Selatan
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Jurnal Sylva Scienteae
ISSN : -     EISSN : 26228963     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Agriculture, Social,
Jurnal Sylva Scienteae merupakan jurnal yang mempublikasikan hasil penelitian di bidang kehutanan, meliputi Teknologi Hasil Hutan, Manajemen Hutan, Budidaya Hutan, dan Konservasi Hutan. Jurnal ini diterbitkan oleh Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Terbit pertama kali di bulan Agustus 2018. Pada Tahun 2018 hanya mengeluarkan dua edisi yaitu Agustus dan Oktober. Selanjutnya pada tahun 2019 sampai sekarang, jurnal dipublikasikan sebanyak 6 edisi, yaitu Februari, April, Juni, Agustus, Oktober dan Desember.
Articles 812 Documents
INTERSEPSI PADA JABON PUTIH (ANTHOCEPHALUS CADAMBA) DAN SENGON (Paraserianthes falcataria) DI MINIATUR HUTAN HUJAN TROPIS KOTA BANJARBARU WULANDA, DHIYAS; Kadir, Syarifuddin; INDRIYATIE, EKO RINI
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.9818

Abstract

Interception is an important process in the hydrological cycle of tropical rainforests, affecting the amount of water reaching the land surface and potentially having an impact on water availability in the region. This study aimed to analyze interception in sengon (Paraserianthes falcataria) and jabon (Anthocephalus cadamba) trees in miniature tropical rainforests in South Kalimantan Province. The research method used is direct observation of sengon and jabon trees in miniature tropical rain forests. The results showed that sengon and jabon trees have different interception patterns. Based on monthly data, the average daily value of interception on sengon trees is 1.21 mm while jabon is 3.81 mm. The highest interception value in the study was on the 14th day on September 18, 2022 in Jabon with a value of 22.67 mm while for sengon it occurred on the 14th day on September 18, 2022 of 6.13 mm. Based on the results of this study, forest managers can use this information to plan sustainable land use, maintain hydrological balance, and minimize the impact of climate change on water availability in the region. In addition, this study can also be the basis for further research on the complex interactions between vegetation and the hydrological cycle in tropical rainforest ecosystems.Intersepsi merupakan proses penting dalam siklus hidrologi hutan hujan tropis, yang mempengaruhi jumlah air yang mencapai permukaan tanah dan berpotensi memiliki dampak pada ketersediaan air di wilayah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis intersepsi pada pohon sengon (Paraserianthes falcataria) dan jabon (Anthocephalus cadamba) dalam miniatur hutan hujan tropis di Provinsi Kalimantan Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah pengamatan langsung terhadap pohon sengon dan jabon di miniatur hutan hujan tropis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pohon sengon dan jabon memiliki pola intersepsi yang berbeda. Berdasarkan data bulanan didapatkan nilai rata-rata harian intersepsi pada pohon sengon sebesar 1,21 mm sedangkan jabon sebesar 3,81 mm. Nilai intersepsi tertinggi pada penilitian yaitu pada hari ke 14 tanggal 18 september 2022 pada jabon dengan nilai sebesar 22,67 mm sedangkan untuk sengon terjadi pada hari ke-14 tanggal 18 september 2022 sebesar  6,13 mm. berdasarkan hasil penelitian ini pengelola hutan dapat menggunakan informasi ini untuk merencanakan penggunaan lahan yang berkelanjutan, menjaga keseimbangan hidrologi, dan meminimalkan dampak perubahan iklim pada ketersediaan air di wilayah tersebut. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi dasar untuk penelitian lebih lanjut tentang interaksi kompleks antara vegetasi dan siklus hidrologi dalam ekosistem hutan hujan tropis.
POTENSIAL HAMA PREDATOR PADA PETERNAKAN LEBAH KELULUT (Trigona itama) DI DESA BERUNTUNG JAYA KECAMATAN CEMPAKA Anarki, Herpan; Arifin, Yudi Firmanul; Rachmawati, Normela
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.9437

Abstract

Penelitian mengenai hewan dan orgamisme yang berpotensi sebagai hama dan predator bagi lebah kelulut belum banyak ditemui. Oleh karena itu untuk mengoptimalkan produksi peternakan kelulut maka perlu di lakukan observasi mengenai predator dan hama yag ditemukan di peternakan kelulut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis hewan yang berpotensi sebagai predator dan hama pada peternakan lebah kelulut. Metode yang digunakan dalam mengambil data lapangan yaitu  metode jelajah (Rapid Asessment)  dengan radius 100 meter atau setara dengan 31.400 m2. Pengamatan dilakukan selama 7 hari dibagi kedalam 3 periode per harinya terdiri dari pagi pukul 08:00–09:00 WITA, siang pukul 12:00–13:00 WITA dan sore pukul 16:00– 17:00 WITA. Hasil penelitian ini yaitu hewan predator kelulut kelas aves ditemukan 9 jenis yaitu burung bubut besar, cabai bunga api, cabai jawa, cabai kelapa, cendet, ciung air coreng, kutilang, ranjak dan sisikat. sedangkan dari kelas Herpetofauna terdapat 5 jenis hewan yaitu bunglon jambul, cicak rumah, cicak tembok, kadal terbang, dan kongkang gading. Sedangkan dari kelas Insekta terdapat 15 jenis yaitu capung helikopter, capung badak, capung lebah garis kuning, capung sawah, capung sayap merah, jangkrik rumput, kutu pembunuh, laba-laba cyclosa, laba-laba kayu, laba-laba leucauge, laba-laba loncat, laba-laba nephilengys, laba-laba pemburu, laba-laba tetragnatha dan semut pheidole. Hewan yang teridentifikasi sebagai hama di peternakan kelulut, dari kelas aves terdapat 2 jenis yaitu burung madu kelapa dan burung madu sriganti, sedangkan dari kelas Insekta terdapat 4 jenis hewan yaitu kumbang gelap, rayap tanah, semut firaun dan semut gula.
PEMANFAATAN TUMBUHAN BERKHASIAT OBAT OLEH MASYARAKAT SUKU DAYAK TOMUN DI DESA KINIPAN KECAMATAN BATANG KAWA KABUPATEN LAMANDAU PROVINSI KALIMANTAN TENGAH Efendi, Murkan; Sutiya, Budi; Yuniarti, Yuniarti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.9372

Abstract

Hutan Indonesia khususnya yang terletak di Kalimantan mengandung banyak kekayaan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu manfaat hasil hutan dapat dijadikan sebagai bahan obat untuk alternatif menyembuhkan penyakit. Masyarakat suku Dayak Tomun adalah kelompok yang memanfaatkan tumbuhan sebagai bahan obat tradisional. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis tanaman, bagian tanaman dan cara penggunaan tanaman yang digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Metode kualitatif melalui wawancara mendalam digunakan untuk mendapatkan data primer. Responden yang dipilih mengggunakan teknik purposive sampling dengan kriteria masyarakat yang memiliki pemahaman dan pengetahuan tentang pengolahan tumbuhan obat tradisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat Dayak Tomun sebanyak 38 jenis dengan 26 famili. Bagian-bagian tanaman yang digunakan yaitu bagian daun sebesar 57,5%, bagian akar banyak digunakan juga untuk pengobatan tradisional sebesar 20%, umbi sebesar 7,5%, serta batang, bunga, dan getah hanya 5%. Cara penggunaannya yang dilakukan kebanyakan dengan cara diminum dari tanaman obat-obatan yang diolah yaitu sebesar 81,58%. Untuk cara penggunaan dioleskan terbilang banyak yaitu 10,53%, dan sisanya sebanyak 2,63% untuk cara penggunaan dikompres, dikunyah, serta diteteskan dari pembuatan obat tradisional.
KEANEKARAGAMAN VEGETASI PADA SISTEM AGROFORESTRI DUKUH DI DESA BIIH KABUPATEN BANJAR KALIMANTAN SELATAN Davita, Almira; Kissinger, Kissinger; Syam'ani, Syam'ani
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.9383

Abstract

In order to support the development and management of agroforestry in the hamlet, it is necessary to understand the ecological conditions and vegetation structure through this research. The objective of this study is to analyze the dominance, species diversity, and evenness of vegetation in the agroforestry system of the hamlet in Biih Village. Data collection was conducted using vegetation analysis techniques with a combination of transect and plot methods, employing purposive sampling along transects in agroforestry areas located behind or adjacent to residential areas. Vegetation data were analyzed using the Importance Value Index, Species Diversity Index, and Species Evenness Index. The research findings reveal that the plant species composition in the agroforestry system of the hamlet consists of 27 species from 19 families, with a total of 671 individuals. The dominant species include Teratat, Porang, Pepper, and Lombok at the understory level, Rubber, Coffee, and Jengkol at the seedling stage, Rubber, Langsat, and Cempedak at the pole stage, Langsat, Rubber, Sungkai, and Gamal at the pole stage, and Durian, Cempedak, Rubber, and Langsat at the tree stage. The species diversity and evenness at all growth stages are classified as moderate, indicating a relatively stable ecosystem, with high evenness or nearly equal distribution.Guna mendukung pengembangan dan pengelolaan agroforestri dukuh perlu diketahui kondisi ekologi dan struktur vegetasi melalui penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dominansi, keanekaragaman dan kemerataan jenis vegetasi agroforestri dukuh di Desa Biih. Pengambilan data menggunakan teknik analisis vegetasi dengan metode kombinasi jalur berpetak dengan penempatan jalur secara purposive sampling dan lahan agroforestri dukuh yang menjadi objek penelitian dibelakang atau berdekatan dengan kawasan pemukiman. Data vegetasi dianalisis menggunakan Indeks Nilai Penting, Indeks Keanekaragaman Jenis dan Indeks Kemerataan Jenis. Hasil penelitian menunjukkan komposisi jenis tumbuhan yang ditemukan pada kawasan agroforestri dukuh terdiri dari 27 jenis, 19 famili dan 671 individu yang didominasi oleh jenis teratat, porang, lada dan Lombok pada tumbuhan bawah, jenis karet, kopi dan jengkol pada tingkat semai, jenis karet, langsat dan cempedak pada tingkat pancang, jenis langsat, karet, sungkai dan gamal pada tingkat tiang dan jenis durian, cempedak, karet dan langsat pada tingkat pohon. Indeks keanekaragaman dan kemerataan pada semua tingkat pertumbuhan tergolong kedalam tingkat keanekaragaman jenis sedang atau ekosistem yang stabil dengan kemerataan tergolong tinggi atau hampir merata penyebarannya.
KERAGAMAN JENIS PAKAN DAN STATUS HABITAT BEKANTAN (Nasalis larvatus) DI EKOSISTEM RIPARIAN SUNGAI KATINGAN, KALIMANTAN TENGAH Ariyani, Helma; Fithria, Abdi; Soendjoto, Mochamad Arief
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.9060

Abstract

Bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan yang statusnya hampir punah. Salah satu cara menjaga kelestarian satwa ini dengan mempertahankan habitat yang memiliki potensi sebagai pakan bekantan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis sumber pakan bekantan, menganalisis keragaman jenis pohon habitat bekantan, dan menganalisis status habitat bekantan di ekosistem riparian sungai Katingan, Kalimantan Tengah. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode accidental sampling untuk pengambilan data pohon pakan, pengambilan data vegetasi dilakukan dengan metode jalur. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu (1) Pohon pakan bekantan di peroleh sebanyak 13 jenis pohon, presentasi terbesar bekantan adalah memakan daun sebesar 38% dan family yang terbanyak dimanfaatkan bekantan untuk makan adalah Myrtaceae sebesar 22%, (2) keragaman jenis vegetasi habitat bekantan di sungai Katingan pada tingkat tiang didapatkan H’ sebesar 3,14 sedangkan pada tingkat pohon didapatkan H’ sebesar 2,82 yang artinya keanekaragaman pada tingkat tiang dikategorikan tinggi dan vegetasi pohon dikategorikan sedang, (3) status habitat bekantan di hutan riparian di luar kawasan konservasi Taman Nasional Sebangau dengan tipe habitat penggunaan lain, dan tidak mendukung terhadap konservasi.
PERSENTASE LIMBAH PADA INDUSTRI SAWMILL PT. DASA INTIGA DI KAPUAS Lubis, Cindy Tamara Sari; Abidin, Zainal; Hamidah, Siti
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.9221

Abstract

Limbah industri merupakan persoalan serius dalam era industri. Seperti yang terjadi di PT. Dasa Intiga hingga saat ini belum mengelola limbah dengan baik sehingga limbah yang dihasilkan terbuang dan mencemari lingkungan sekitar. Tujuan penelitian ini mengetahui presentase limbah sawmill yang dihasilkan oleh PT. Dasa Intiga, mengetahui pengelolaan limbah yang dilakukan oleh perusahaan tersebut, dan memperkirakan pemanfaatan limbah yang sesuai. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik observasi lapang. Terdapat 4 (empat) jenis kayu yang akan dihitung persentase limbahnya (Meranti Putih, Meranti Merah, Keruing, dan Balau). Perhitungan persentase limbah dilakukan dengan pendekatan perhitungan rendemen. Hasil penelitian menunjukkan persentase limbah sawmill yang dihasilkan oleh PT. Dasa Intiga semua jenis diatas 46% dimana yang tertinggi pada jenis Keruing sebesar 47,75% dan terendah Meranti Putih dengan rata-rata limbah yang dihasilkan sebesar 41,95%. Ada 2 (dua) jenis limbah yang dihasilkan, yaitu serbuk kayu dan potongan kayu, hingga saat ini belum dimanfaatkan dikarenakan belum ada tenaga khusus yang menangani, dan hasil yang diperoleh dinilai belum bisa menguntungkan secara ekonomi. Limbah berupa serbuk kayu bisa dimanfaatkan sebagai papan partikel maupun dan bisa digunakan untuk eliminasi cemaran logam berat beracun timbal (Pb), limbah yang memiliki kelas diameter 50-149 cm dengan panjang 1-5 m bisa digunakan sebagai rangka dinding (bantalan, dinding, kuda-kuda penopang, tiang, dan palang), kusen (pintu, dan jendela), dan kaso, serta bisa juga digunakan sebagai briket maupun kayu bakar.
GENDER DALAM PENGUATAN EKONOMI KELUARGA PADA BIDANG KERAJINAN ANYAMAN PURUN Maulina, Devy Rizka; Pitri, Rina Muhayah Noor; Fithria, Abdi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.8898

Abstract

Kemiskinan menyebabkan masyarakat rela berkorban demi bertahan hidup. Salah satu modal dasar untuk pengentasan kemiskinan adalah peran perempuan. Perempuan memiliki sumber pendapatan sendiri dengan kegigihan, kesungguhan dan keuletan untuk terlepas dari kemiskinan dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis peran perempuan dan laki-laki dalam kegiatan rumah tangga dan dalam kegiatan pengelolaan kerajinan anyaman purun serta kontribusi pengelolaan kerajinan anyaman purun terhadap penguatan ekonomi keluarga. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling dan responden yang diwawancarai sebanyak 30 kk yang pengrajin purun. Peran perempuan dalam kegiatan rumah tangga menunjukkan bahwa kontribusi perempuan sebesar perempuan berperan cukup aktif sebesar 4%, aktif 23% dan sangat aktif 73%. Sedangkan kontribusi laki-laki dalam kegiatan rumah tangga berperan kurang aktif sebesar 67%, tidak aktif 33%. Peran perempuan dalam kegiatan pengelolaan kerajinan anyaman purun diketahui sebesar 3% nya cukup aktif, 30% aktif dan 67% sangat aktif. Sementara, laki-laki dalam kegiatan pengelolaan kerajinan anyaman purun sebesar 7% kurang aktif dan 93% tidak aktif. Kontribusi pengelolaan kerajinan anyaman purun terhadap penguatan ekonomi keluarga yaitu sebesar 34% atau senilai Rp. 346.667,00 per bulan.
Pengaruh Pemberian Hormon BAP Terhadap Induksi Perkecambahan Biji Hambawang (Mangifera foetida) Secara In Vitro Rahmat, Muhammad Aldy; Fitriani, Adistina; Susilawati, Susilawati; Syahid, Yulianto; Kristyanto, Sigit
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.8947

Abstract

Hambawang (Mangifera foetida) adalah sejenis pohon buah-buahan yang termasuk dalam famili Anarcadiaceae (keluarga mangga). Habitat hambawang dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Perubahan penggunaan lahan mengakibatkan berkurangnya habitat dan tempat tumbuh hambawang. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh hormon BAP dan konsentrasi hormon BAP yang tepat terhadap induksi perkecambahan benih hambawang (Mangifera foetida) secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode in vitro untuk induksi perkecambahan benih hambawang. Hambawang mengalami respon berupa perubahan warna yang semula putih kecoklatan menjadi putih kehijauan. Respon perubahan warna cepat muncul pada hari ke-17. Di urutan kelimaperlakuan penambahan hormon BAP pada media MS dengan konsentrasi 1,6 mg diperoleh respon perubahan warna yang paling cepat dan paling banyak diamati. Penggunaan hormon sitokinin jenis BAP pada biji mangga hanya memberikan respon perubahan warna dari putih kecoklatan menjadi putih kehijauan. Konsentrasi hormon BAP yang tepat terhadap respon perubahan warna benih hambawang adalah perlakuan kelima dengan konsentrasi 1,6 mg, respon terbanyak dan perubahan warna tercepat terjadi pada hari ke-17.Hambawang (Mangifera foetida) adalah jenis pohon buah yang termasuk dalam family Anarcadiaceae (keluarga mangga). Habitat tumbuh hambawang berasal dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand. Perubahan alih fungsi lahan mengakibatkan berkurangnya habitat dan tempat tumbuh hambawang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian hormon BAP dan konsentrasi hormon BAP yang tepat terhadap induksi perkecambahan biji hambawang (Mangifera foetida) secara in vitro. Penelitian ini menggunakan metode kultur jaringan untuk induksi perkecambahan biji hambawang. Hambawang mengalami respon terjadinya perubahan warna yang awalnya putih kecoklatan menjadi putih kehijauan. Respon perubahan warna tercepat muncul pada hari ke 17. Perlakuan kelima penambahan hormone BAP pada media MS dengan konsentrasi 1,6 mg hasil pengamatan respon perubahan warna tercepat dan terbanyak Penggunaan hormone sitokinin jenis BAP terhadap biji hambawang (Mangifera foetida) hanya memberikan respon perubahan warna yang awalnya putih kecoklatan menjadi putih kehijauan. Konsentrasi hormon BAP yang tepat untuk respon perubahan warna pada biji hambawang (Mangifera foetida) adalah perlakuan kelima dengan konsentrasi 1,6 mg, terjadi respon perubahan warna paling banyak dan paling cepat pada hari ke 17.
Analisis Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Bukit Mandiangin KHDTK ULM Provinsi Kalimantan Selatan Anshari, Adi; Peran, Setia Budi; Susilawati, Susilawati
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i5.9137

Abstract

Vegetation diversity is one of the important aspects in plant ecology that affects ecosystem stability and environmental health. Vegetation diversity has important impacts on ecosystem functions, including nutrient cycling, carbon sequestration, soil protection, and ecosystem recovery after disturbance One place that stores a variety of vegetation in South Kalimantan is Mandiangin hill located in South Kalimantan Province, area  107,036 ha as miniature tropical rainforest stands. The abundance of various types of forest vegetation needs to be analyzed to determine the structure and composition of the forest. This research was conducted in order to analyze the type, composition, diversity, evenness and dominance of vegetation types at the pole level in Bukit Mandiangin KHDTK ULM. The research method in taking data on the composition and structure of vegetation on Mandingan hill was carried out through vegetation analysis activities using the Line Intercept Method with an observation plot size of 10×10 m for pole-level vegetation analysis. The results showed that there were 17 types of pole level identification with a total of 116 individuals. The highest pole-level vegetation structure is found in the Madang puspa type with INP 53.50%, Marsihung 50.73%, Tarap 34.11%, Alaban 30.29% and Jamai 26.09%. The diversity of vegetation types in Bukit Mandiangin is based on the analysis of the diversity value index (H') at the pole level with 2.47 which means it has medium criteria. Type evenness based on the analysis of the type evenness index (e) pole level 0.87 with almost even criteria. Dominance is based on the analysis of the dominance index (c) pole level 0.10 which means it has low criteria.Keanekaragaman vegetasi merupakan salah satu aspek penting dalam ekologi tumbuhan yang mempengaruhi stabilitas ekosistem dan kesehatan lingkungan. Keanekaragaman vegetasi memiliki dampak penting terhadap fungsi ekosistem, termasuk siklus nutrisi, penyerapan karbon, perlindungan tanah, dan pemulihan ekosistem setelah gangguan Salah satu tempat yang menyimpan berbagai vegetasi yang berada di Kalimantan Selatan ialah bukit Mandiangin yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, luasan  107,036 ha  sebagai miniatur tegakan hutan hujan tropis. Banyaknya berbagai jenis vegetasi hutan perlu dianalisis untuk mengetahui struktur dan komposisi hutan. Penelitian ini dilakukan dalam guna menganalisis jenis, komposisi, keanekaragaman, kemerataan serta dominansi jenis vegetasi pada tingkat tiang di Bukit Mandiangin KHDTK ULM. Metode penelitian dalam pengambilan data komposisi dan struktur vegetasi dibukit Mandingan dilakukan melalui kegiatan analisis vegetasi dengan mengggunakan metode garis berpetak (Line Intercept Method) dengan ukuran petak pengamatan 10×10 m untuk analisis vegetasi tingkat tiang. Hasil penelitian menunjukan bahwa identifikasi tingkat tiang terdapat 17 jenis dengan jumlah sebanyak 116 individu. Struktur vegetasi tingkat tiang paling tinggi terdapat pada jenis Madang puspa dengan INP 53,50%, Marsihung 50,73%, Tarap 34,11%, Alaban 30,29% dan Jamai 26,09%. Keanekaragaman jenis vegetasi di Bukit Mandiangin berdasarkan analisis indeks nilai keragaman (H’) tingkat tiang dengan 2,47 yang berarti memiliki kriteria sedang. Kemerataan jenis berdasarkan analisis indeks kemerataan jenis (e) tingkat tiang 0,87 dengan kriteria hampir merata. Dominansi berdasarkan analisis indeks dominansi (c) tingkat tiang 0,10 yang mengartikan memiliki kriteria rendah.
KEANEKARAGAMAN JENIS MAKROFAUNA TANAH DI TAMAN HUTAN HUJAN TROPIS INDONESIA (TH2TI) BANJARBARU KALIMANTAN SELATAN Ashari, Fahrizal; Yamani, Ahmad; Peran, Setia Budi
Jurnal Sylva Scienteae Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jss.v7i6.9517

Abstract

Banyak manfaat dari pembangunan Taman Hutan Hujan Tropis (TH2TI) seperti nilai estetika meningkat, populasi udara menurun, daerah resapan air meningkat, dan udara yang lebih segar. Informasi tentang keanekragaman makrofauna tanah berdasarkan penjelasan diatas, maka khususnya di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) Kota Banjarbaru sangat penting, oleh sebab itu perlu dilakukan penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi jenis makrofauna tanah dan Menganalisis keanekaragaman jenis makrofauna tanah dengan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener. Metode yang digunakan pada penelitian ini mengacu pada hasil nilai indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dengan metode purposive sampling dan pengamatan makrofauna tanah menggunakan metode pitfall trap dan hand sorting yang dilakukan pada saat pagi dan sore hari.mana pencatatan dan pengolahan data dari hasil penelitian dicatat pada tabel identifikasi dan tabel jenis populasi dengan 2 waktu pengamatan yang berbeda, yaitu pagi hari dan sore hari. Hasil yang diperoleh dari data identifikasi pada makrofauna yang ada di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) dengan waktu pengamatan yang berbeda ada 16 jenis makrofauna tanah dengan 12 famili. Hasil menunjukkan bahwa jumlah dan populasi pada fauna tanah yang paling banyak dari jumlah total pengamatan ialah semut api dengan jumlah 42 jenis dengan rata-rata total pengamatan sebesar 21 jenis serta hasil indeks keanekaragaman menunjukkan bahwa perhitungan indeks keanekaragaman jenis makrofauna tanah di Taman Hutan Hujan Tropis Indonesia (TH2TI) diperoleh nilai indeks keanekaragaman jenis makrofauna tanah sebesar 2,216 yang artinya indeks keanekaragaman makrofauna tanah termasuk dalam kategori sedang (1< H’<3).

Filter by Year

2018 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 9, No 1 (2026): Jurnal Sylva Scienteae Vol 9 No 1 Edisi Februari 2026 Vol 8, No 6 (2025): Jurnal Sylva Scienteae Vol 8 No 6 Edisi Desember 2025 Vol 7, No 6 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 6 Edisi Desember 2024 Vol 7, No 5 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 5 Edisi Oktober 2024 Vol 7, No 4 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 4 Edisi Agustus 2024 Vol 7, No 3 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 3 Edisi Juni 2024 Vol 7, No 2 (2024): Jurnal Sylva Scientea Vol 7 No 2 Edisi April 2024 Vol 7, No 1 (2024): Jurnal Sylva Scienteae Vol 7 No 1 Edisi Februari 2024 Vol 6, No 6 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 6 Edisi Desember 2023 Vol 6, No 5 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 5 Edisi Oktober 2023 Vol 6, No 4 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 4 Edisi Agustus 2023 Vol 6, No 3 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 3 Edisi Juni 2023 Vol 6, No 2 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 2 Edisi April 2023 Vol 6, No 1 (2023): Jurnal Sylva Scienteae Vol 6 No 1 Edisi Februari 2023 Vol 5, No 6 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 6 Edisi Desember 2022 Vol 5, No 5 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 5 Edisi Oktober 2022 Vol 5, No 4 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 4 Edisi Agustus 2022 Vol 5, No 3 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Vol 5 No 3 Edisi Juni 2022 Vol 5, No 2 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 2 Edisi April 2022 Vol 5, No 1 (2022): Jurnal Sylva Scienteae Volume 5 No 1 Edisi Februari 2022 Vol 3, No 6 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Volume 3 No 6 Edisi Desember 2020 Vol 4, No 6 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 6 Edisi Desember 2021 Vol 4, No 5 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 5 Edisi Oktober 2021 Vol 4, No 4 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 4 Edisi Agustus 2021 Vol 4, No 3 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 3 Edisi Juni 2021 Vol 4, No 2 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 2 Edisi April 2021 Vol 4, No 1 (2021): Jurnal Sylva Scienteae Volume 4 No 1 Edisi Februari 2021 Vol 3, No 5 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 5, Edisi Oktober 2020 Vol 3, No 4 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 4, Edisi Agustus 2020 Vol 3, No 3 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 3, Edisi Juni 2020 Vol 3, No 2 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 2, Edisi April 2020 Vol 3, No 1 (2020): Jurnal Sylva Scienteae Vol 3 No 1, Edisi Februari 2020 Vol 2, No 6 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 6, Edisi Desember 2019 Vol 2, No 5 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 5, Edisi Oktober 2019 Vol 2, No 4 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 4, Edisi Agustus 2019 Vol 2, No 3 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 3, Edisi Juni 2019 Vol 2, No 2 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 2, Edisi April 2019 Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Sylva Scienteae Vol 2 No 1, Edisi Februari 2019 Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 2, Edisi Oktober 2018 Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Sylva Scienteae Vol 1 No 1, Edisi Agustus 2018 More Issue