cover
Contact Name
YANTI
Contact Email
midarelhakim1983@uin-suska.ac.id
Phone
+6281374281098
Journal Mail Official
midarelhakim1983@uin-suska.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
Kutubkhanah Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan
ISSN : 24071633     EISSN : 16938186     DOI : 10.24014/ku.v21i2.
Core Subject : Religion, Social,
Kutubkhanah adalah jurnal yang diterbitkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Sultan Syarif Kasim Riau sejak tahun 1998. Terbit dua kali setahun pada bulan Juni dan Desember. Jurnal Kutubkhanah memuat kajian-kajian sosial keagamaan sebagai hasil atau temua penelitian. Kajian-kajian tersebut meliputi berbagai aspek kehidupan masyarakat, seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, gender, psikologi, pendidikan dan dikaji dalam perspektif Agama Islam. Jurnal ini merupakan media komunikasi akademik bagi para peneliti dan pemerhati perkembangan hasil penelitian ilmu sosial dalam perspektif Islam. Dengan kata lain jurnal Kutubkhanah adalah jurnal yang memuat berbagai tulisan ilmiah tentang hasil penelitian atau temuan penelitian di bidang ilmu-ilmu sosial keagamaan.
Articles 197 Documents
Public Enthusiasm for Islamic Education during the Abbasid Caliphate Hafizah, Hafizah; Yanti, Yanti; Ansoriah, Latifah Al; Dewi, Afni Ratna; Ardiah, Eliza Putri; Amin, Hairul
Kutubkhanah Vol 25, No 2 (2025): Juli - December
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v25i2.38674

Abstract

This study examines the public enthusiasm for Islamic education during the Abbasid Caliphate using a library research approach. It describes the manifestations of public enthusiasm, examines their contributions to the development of educational institutions and activities, and identifies factors, particularly the foundations of the Qur'an and Sunnah, that encouraged the growth of public attention to knowledge. The study focuses on forms of social participation, public support for educational institutions, and the development of a culture of literacy that emerged during that period. The research was conducted through the collection and analysis of relevant historical sources. The results show that educational progress during the Abbasid era was influenced not only by the policies of the caliphs but also by the active involvement of the public in the establishment of educational institutions, literacy activities, and the dissemination of knowledge. Stable political conditions, economic prosperity, multicultural interactions, and the strengthening of Islamic values related to the primacy of knowledge contributed to this dynamic.
A Semantic Analysis of the Words 'Afuw' and 'Gafūr' in the Qur'an: The Perspective of Muhammad Syahrur's Anti-Synonymy Theory Luthfia, Nisha; Aini, Nur; Jabpar, Abdul
Kutubkhanah Vol 25, No 2 (2025): Juli - December
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v25i2.32130

Abstract

This study aims to examine the difference in meaning between the terms ‘afuw and gafūr in the Qur’an by employing Muhammad Syahrur’s theory of non-synonymy. The purpose of this research is to understand the foundational factors underlying Syahrur’s non-synonymy theory and to explore the implications of applying this framework to two Qur’anic terms that are commonly considered synonymous. The research method uses semantic analysis, which is then connected to Syahrur’s theoretical perspective on non-synonymy. The findings ultimately support Syahrur’s theory. The analysis of the Qur’anic usage of ‘afwu and gafūr reveals a clear differentiation in meaning between the domains of social ethics and the theological dimension of divine forgiveness. The terms ‘afwu and gafūr differ in the vertical and horizontal relational dimensions: ‘afwu operates within horizontal human relations, whereas gafūr pertains to vertical divine-human relations, giving each term complementary ethical and spiritual functions. In addition, the two terms differ in their inclusivity and exclusivity regarding the scope of forgiveness. This distinction has significant implications for the development of Islamic social ethics and deepens the understanding of God’s mercy and forgiveness.
Engagement and Kafā’ah from the Perspective of Maqāṣid al-Sharī‘ah: A Study of Islamic Law and Malay Customary Practices Asri, Fitriani; Nelli, Jumni
Kutubkhanah Vol 25, No 2 (2025): Juli - December
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v25i2.38715

Abstract

Peminangan (khitbah) dan kafa’ah merupakan dua konsep penting dalam tahap pra-nikah yang berfungsi sebagai fondasi keutuhan rumah tangga dalam Islam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik peminangan dan pemaknaan kafa’ah dalam adat Melayu melalui perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian yuridis-sosiologis. Data diperoleh melalui studi lapangan terkait praktik peminangan (merisik) dalam masyarakat adat Melayu serta studi kepustakaan terhadap literatur fikih dan maqāṣid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peminangan dalam adat Melayu berfungsi sebagai mekanisme preventif yang menilai kesiapan moral, sosial, dan psikologis calon pasangan. Konsep kafa’ah dipahami secara fungsional sebagai kesepadanan nilai, akhlak, dan tanggung jawab, bukan sebagai instrumen eksklusivitas sosial. Dalam perspektif Maqāṣid al-Syarī‘ah, praktik tersebut sejalan dengan tujuan menjaga agama, jiwa, kehormatan, dan keturunan. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi hukum Islam dan adat Melayu melalui pendekatan maqāṣid mampu memperkuat keutuhan rumah tangga serta menunjukkan relevansi kearifan lokal dalam pengembangan hukum keluarga Islam yang kontekstual dan berorientasi pada kemaslahatan.
Halal Tourism Branding as a Key Determinant of Repeat Visits by Muslim Tourists in Mandalika Khatami, Ikhzam; Widayanti, Baiq Harly; Kurniawan, Agus
Kutubkhanah Vol 25, No 2 (2025): Juli - December
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v25i2.38678

Abstract

This study examines the concept of Halal tourism branding as a key determinant of repeat visits by Muslim tourists to Mandalika. The Islamic concept of travel (safar/rihlah) is based on the commandment of Siirū fī al-ardḍ (walking on the earth) as a means of contemplation, aligned with the principle of Maqāṣid al-Sharīʿah (ḥifẓ al-dīn, or preservation of religion). Using a quantitative approach with 40 respondents who have visited at least twice, the regression results indicate that among the five factors, Halal Product Service (X2) is the most significant, exhibiting a positive and significant influence (p = 0.037) on the intention to revisit. This finding confirms that certified food and prayer facilities are essential for fostering religious commitment. Interestingly, Halal Service (X1) has a significant but negative influence (p = 0.034). Simultaneously, the overall model (F test) is not yet significant (p = 0.081), with an R² of 24.2%. The main conclusion emphasizes Halal Product Service as the primary determinant of revisit intention.
Living Values Education as an Approach to Strengthening Religious Moderation among Students Arbi Arbi; Herlina Herlina; Syaripuddin Syaripuddin; Imam Hanafi
Kutubkhanah Vol 26, No 1 (2026): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v26i1.39303

Abstract

Penguatan moderasi beragama menjadi agenda penting untuk menjaga harmoni sosial di masyarakat yang beragam. Perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki peran kunci dalam menanamkan nilai-nilai moderasi kepada mahasiswa, termasuk melalui program di Ma’had Al-Jami’ah. Namun, pemahaman mahasiswa tentang moderasi beragama masih sering bersifat umum dan belum lengkap. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih efektif dalam menginternalisasi nilai-nilai tersebut. Pengabdian masyarakat ini bertujuan memperkuat pemahaman moderasi beragama di kalangan mahasantri Ma’had Al-Jami’ah UIN Sultan Syarif Kasim Riau melalui pendekatan Living Values Education. Metode yang digunakan meliputi penyampaian materi, diskusi kelompok, refleksi, dan simulasi penerapan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari. Hasil menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu meningkatkan pemahaman peserta tentang moderasi beragama secara lebih lengkap. Peserta tidak hanya memahami moderasi sebagai toleransi, tetapi juga sebagai cara beragama yang menekankan keseimbangan, keadilan, dan penghargaan terhadap keberagaman sosial. Dengan begitu, Living Values Education bisa menjadi strategi efektif memperkuat internalisasi nilai-nilai moderasi beragama di kalangan mahasiswa.
Vocation Science Axiologi in Kiai Sholeh Darat’s Perspective Ahmad Umam Aufi; Sri Tutie Rahayu; Ali Imron
Kutubkhanah Vol 26, No 1 (2026): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v26i1.39366

Abstract

The focus of Presidential Regulation (Perpres) No. 68 of 2022 on revitalizing vocational education seems to prioritize economic goals over the important spiritual aspects of vocational science. This study offers the views of Kiai Sholeh Darat, a great teacher of Ulama in the archipelago on vocational science axiology as an alternative to revitalizing the spiritual aspects of vocational education. This study also aims to photograph the position of vocational science axiological and reconstruct the spiritual aspects of vocational science to revitalize vocational education. The research method used is a method of studying the thoughts of figures with a philosophical and historical approach. Fazlur Rahman's double movement theory is used as an analytical knife in presenting data. The results of this study show that vocational science is axiologically oriented towards the sustainability of a country and the benefit of world life as a charity field for the afterlife. Both can be reconstructed as monotheistic values and worldly benefit orientations. The value of monotheism is the foundation and main goal in the revitalization of vocational education. World benefit orientation is only a means in the spiritual process of worship drawing closer to God. Kiai Sholeh Darat's view on the vocational science axiology as a process of revitalizing spiritual aspects in the implementation of vocational education can be used as an alternative in encouraging the realization of Presidential Regulation No. 68 of 2022 concerning on the revitalization of vocational education
Riau Malay Cultural Communication: An Ethnography of Communication on Basiacuang Practices Andi Syahputra
Kutubkhanah Vol 26, No 1 (2026): Januari - Juni
Publisher : Lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/kutubkhanah.v26i1.39715

Abstract

Penelitian ini menganalisis praktik komunikasi budaya dalam tradisi basiacuang pada upacara perkawinan Melayu Kampar Riau melalui pendekatan etnografi komunikasi. Basiacuang dipahami sebagai praktik komunikasi tradisional yang berfungsi sebagai media penyampaian pesan adat, reproduksi nilai budaya, identitas Melayu, dan kohesi sosial masyarakat Kampar. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi komunikasi, data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka yang melibatkan tokoh adat, pembawa basiacuang, ninik mamak, dan masyarakat Melayu Kampar. Analisis data menggunakan model Miles dan Huberman serta kerangka SPEAKING dari Dell Hymes. Hasilnya menunjukkan bahwa basiacuang memiliki struktur khas seperti pantun, pepatah, metafora, ritme bahasa, dan ungkapan simbolik Melayu, diatur norma interaksi adat yang menempatkan kesantunan, penghormatan, dan keharmonian sebagai prinsip utama komunikasi budaya Melayu Kampar. Selain sebagai media ritual, basiacuang juga sebagai mekanisme reproduksi identitas budaya Melayu Kampar melalui pewarisan nilai moral, solidaritas sosial, penghormatan terhadap orang tua, dan legitimasi adat. Modernisasi dan media digital mulai memengaruhi keberlangsungan praktik basiacuang, terutama penurunan pemahaman bahasa adat dan tradisi lisan Melayu generasi muda. Masyarakat adat tetap berupaya melestarikan basiacuang melalui pelestarian budaya dan keterlibatan generasi muda dalam kegiatan adat. Penelitian ini berkontribusi dalam pengembangan studi etnografi komunikasi dan pelestarian budaya Melayu Riau, khususnya praktik komunikasi tradisional masyarakat Melayu Kampar.