Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Semua inovasi yang berguna dan berkaitan secara langsung maupun tidak langsung terhadap inovasi nasional yang lebih bermutu dengan intisari tidak terbatas pada teknologi apapun, baik yang mengenai Databases System, Data Mining/Web Mining, Datawarehouse, Artificial Integelence, Business Integelence, Cloud & Grid Computing, Decision Support System, Human Computer & Interaction, Mobile Computing & Application, E-System, Machine Learning, Deep Learning, Information Retrievel (IR), Computer Network & Security, Multimedia System, Sistem Informasi, Sistem Informasi Geografis (GIS), Sistem Informasi Akuntansi, Database Security, Network Security, Fuzzy Logic, Expert System, Image Processing, Computer Graphic, Computer Vision, Semantic Web, e-Health, Animation dan lainnya yang serumpun dengan Inovasi Nasional lainnya. AERONAUTIKA antara lain: Aerodinamika, Material dan Komposit, Kelistrikan dan Instrumen Pesawat Terbang, Avionik, Flying Control, Teknologi Rekayasa Material, Termofluida, Fluida Mekanik, Material Komposit Maju, Teknologi Persenjataan, dsb. TEKNIK ELEKTRO antara lain: Sistem Mikroelektronik, Instrumentasi Industri, Optoelektronik, Perancangan Rangkaian Analog, Desain dan Teknologi ASIC, Desain dan Teknologi FPGA, Sensor dan Transducer, Sistem Pembangkit Energi Listrik, Sistem Transmisi dan Distribusi, Sistem Proteksi Listrik, Tegangan Tinggi, Mesin-mesin Listrik, Elektronika Daya, Energi Terbarukan, Modulasi dan Pemrosesan Sinyal Digital, Teori Informasi dan Pengkodean, Saluran Transmisi, Antena dan Propagasi Gelombang, Komunikasi Bergerak dan Nirkabel, Sistem dan Jaringan Komunikasi, Teknologi Jaringan Telekomunikasi, Sistem Otomatisasi, dsb. TEKNIK INDUSTRI antara lain: Ilmu Ergonomi Industri, Industri Pertahanan, dsb. TEKNIK DIRGANTARA antara lain: Ilmu-ilmu Aeronautika dan Astronautika, Aerodinamika, Struktur Pesawat Terbang, Propulsi, Mekanika Terbang, Material Pesawat Terbang, Astrodinamika, Aeroelastisitas, Aeroakustik, Sistem Pesawat Terbang, Proses Desain dan Produksi Pesawat Terbang, dan Sistem Operasi Penerbangan, dsb. TEKNIK KIMIA antara lain: Kimia bahan eksplosif, Kimia logam, Kimia Industri TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI antara lain: Sistem Informasi, Rekayasa Perangkat Lunak, Arsitektur Komputer, Jaringan Komputer, Security & Cryptography, Mobile & Cloud Computing, Quality of Service (QoS), Network Programming, Remote Sensing & GIS, Pemodelan dan Simulasi, Multimedia Processing, Teknologi Informasi dan Aplikasi, Big Data, dsb. DRONE & ROBOTIKA antara lain: Control theory and applications, embedded system, mechatronic and robotic, Unmanned Aerial System (UAS), mobile robotics, artificial intelligent, neural network, fuzzy logic, intelligent system, swarm intelligent, genetic algorithm, soft robotic, dsb. CYBER antara lain: Teknik Hacking, Cyber Defense, Cyber Security, Cyber Attack System, dsb.
Articles
200 Documents
Analisis Uji Balistik Komposit Dengan Motif Yang Berbeda Sebagai Pengganti Body Armour Standar TNI
Azmi, Irfan Bachrul;
Herman
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Komposit merupakan material yang terbentuk dari gabungan dua atau lebih bahan dengan sifat mekanik berbeda, di mana proses pencampurannya tidak homogen untuk mencapai hasil yang optimal. Penelitian ini berfokus pada pengembangan rompi anti peluru berbahan serat karbon sebagai alternatif dari material logam dan baja yang berat. Serat karbon dipilih karena sifatnya yang ringan dan kuat, dengan berbagai motif yang diuji dalam penelitian ini, yaitu motif Hexagonal, Green Reflective Metallic TWILL 200Gsm L, dan Kevlar 3k 240Gsm PLAIN. Pembuatan komposit dilakukan menggunakan metode Hand Lay-up, yang memungkinkan pencampuranmanual resin dengan serat karbon untuk menghasilkan struktur komposit yang diinginkan. Pengujian dilakukan dengan menembakkan peluru kaliber 5.56mm menggunakan alat Tembak SS2- V2 untuk mengevaluasi kekuatan dan efektivitas masing-masing variasi komposit dalam menahan laju peluru. Hasil pengujian menunjukkan bahwa komposit serat karbon motif Hexagonal adalah yang paling efektif dalam menahan kerusakan dibandingkan dengan variasi lainnya. Meskipun semua spesimen mengalami penetrasi, motif Hexagonal mampu mengurangi dampak kerusakan lebih baik daripada motif lainnya. Selain itu, komposit serat karbon yang menggunakan resin epoxy dinilai lebih ekonomis, meskipun masih memerlukan beberapa modifikasi pada metode pembuatan atau penambahan material untuk meningkatkan kemampuannya menahan peluru kaliber 5.56mmhingga dapat dibandingkan dengan plat armor standar TNI. Dengan demikian, pengembangan lebih lanjut pada aspek material dan metode produksi berpotensi menghasilkan rompi anti peluru yang lebih ringan dan efektif.
Analisis Pengujian Kekuatan Tarik Single Dan Double Rivet Pada Al 2024 – T3 Setelah Mengalami Korosi
Kartika, Reno Bintang;
Novi Kurniawan;
Purnomo Herlambang
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Proses riveting adalah penyambungan dua material atau lebih yang digunakan dalam perbaikan struktur pesawat terbang yang biasanya terbuat dari logam. Pada saat ini teknik riveting telah dipergunakan secara umum dalam penyambungan batang-batang pada konstruksi bangunan dengan bahan besi, baja, dan aluminium. Riveting juga digunakan untuk memperbaiki struktur pesawat terbang yang mengalami keretakan. Riveting sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari- hari karena riveting dapat memudahkan kita dalam mengolah bahan-bahan konstruksi yang terbuat dari logam sehingga dapat mengasilkan produk yang lebih berguna. Tujuan dari pembuatan tugas akhir ini dilakukan untuk membandingkan kekuatan tarik dari alumunium dengan dan tanpa rivet yang telah mendapat perlakuan korosi dengan variasi lama waktu perendaman terhadap benda uji berupa alumunium alloy 2024 – T3. Lalu selain membandingkan pengaruh variasi perendaman juga di perlihatkan apa dampak yang terjadi pada spesimen yang mengalami penyambungan menggunakan metode single dan double rivet setelah dilaksanakan uji tarik. Metode yang diterapkan pada tugas akhir ini adalah melaksanakan survey dan praktik lapangan berupa riveting alumunium dan dua pengujian. Langkah – Langkah penelitian yang kami gunakan seperti penelitian lainnya yaitu menggunakan benda uji sebagai objek pengaruh. Kemudian dari benda uji tersebut diharapkan dapat menjadi pembanding untuk uji yang kami laksanakan.Berdasarkan data yang diperoleh, maka dapat diketahui bahwa masing – masing variasi 7 hari, 14 hari, dan 21 hari memiliki nilai tegangan, regangan, dan modulus elastisitas yang berbeda. Sedangkan pada 21 hari dengan metode double rivet diperoleh data yaitu nilai modulus elastisitas (12011 N/mm2 ) terbesar dibanding nilai 7 hari double rivet (5012,3 N/mm2) dan nilai 14 hari double rivet (11498 N/mm2). Dari hasil uji tarik diketahui bahwa baja dengan pengelasan akan mengalami patah di luar daerah pengelasan. Manfaat yang kami dapat dari penelitian ini adalah perbedaan jenis elektroda mempengaruhi kekuatan uji tarik benda uji.
Eksperimental Karakteristik Aerodinamika Sayap Swept Forward Dan Sayap Swept Back Pesawat KT-1B Wongbee
Mahardika, Muhammad Rifki
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik aerodinamika dari sayap swept forward dan swept back pada pesawat KT-1B Wongbee menggunakan Digital Low Subsonic Wind Tunnel. Pengujian dilakukan untuk memahami perbedaan dalam performa aerodinamis antara kedua konfigurasi sayap ini dalam berbagai kondisi penerbangan. Metode Pengujian melibatkan penggunaanDigital Low Subsonic Wind Tunnel yang dapat menghasilkan aliran udara dengan kecepatan rendah secara akurat. Selain itu, instrumen pengukuran seperti sensor tekanan dari perangkat lunak simulasi komputer digunakan untuk merekam dan menganalisis data aerodinamika. Hasil dari penelitian ini adalah nilai gaya angkat yang dihasilkan oleh model sayap KT 1B Wongbee dengan kecepatan 10 m/s dan AOA 8° menghasilkan gaya angkat sebesar 1,15 N, pada model sayap KT 1B Wongbee yang divariasikan swept back 10° menghasilkan gaya angkat sebesar 0,06 N, lalu pada model sayap KT 1B Wongbee yang divariasikan swept back 15° menghasilkan gaya angkat sebesar 0,04 N, kemudian pada model sayap KT 1B Wongbee yang divariasikan swept forward 10° menghasilkan gaya angkat sebesar 0,11 N, dan pada model sayap KT 1B Wongbee yang divariasikan swept forward 15° menghasilkan gaya angkat sebesar 0,15 N. Hal tersebut menyatakan bahwa model sayap KT 1B Wongbee memiliki performa yang lebih baik dibandingkan dengan variasi model sayap swept yang divariasikan.
Pengujian Aerodinamis Manufaktur 3D Printing Model Sayap Variasi Aspek Rasio Menggunakan Digital Subsonic Wind Tunnel AF100
Malika Sutarto, Qorinna Rahma;
Ghofur, M. Abdul;
Firmanto, Bondhan
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Unmanned Aerial Vehicle (UAV) merupakan suatu mesin udara yang dioperasikan oleh operator melalui ground yang memiliki berbagai fungsi, baik fungsi militer maupun non militer,msebagai contoh sebagai fungsi pemantauan (surveillance). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aerodinamis terbaik dari sayap pesawat terhadap surveillance drone dengan variasi aspek rasio. Prosedur pelaksanaan penelitian dilaksanakan menggunakan Digital Subsonic Wind Tunnel AF100. Model sayap pesawat yang akan dianalisa yaitu model sayap pesawat NACA 2812 dengan variasi aspek rasio 2,07 dan 3,8, serta 7,34. Pemodelan sayap dilaksanakan menggunakan software FreeCAD dan dicetak menggunakan 3D Printer Creality Ender 2 Pro. Hasil yang diperoleh dari hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kecepatan 10 m/s dan sudut serang 10o model sayap dengan variasi aspek rasio 2,07 memiliki nilai lift sebesar 0,34 N yang lebih besar dibandingkan model sayap dengan variasi aspek rasio 3,8 dan 7,34 dengan kecepatan dan sudut serang yang sama. Sehingga hasil dari penelitian ini yaitu sayap NACA 2812 variasi aspek rasio 7,34 memiliki performa lebih baik dibandingkan model sayap dengan variasi aspek rasio yang lainnya.
Analisis Pengaruh Canard Terhadap Sayap Tapered Wing Dengan Metode CFD Menggunakan Ansys 2023 R2
Benedict Buulolo, Richard Fausta;
Widayatmo, Linggar
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini mengkaji pengaruh penambahan Canard pada pesawat KT-1B Wong Bee, khususnya pada sayap Tapered Wing dengan airfoil NACA 63-218. Canard, sayap kecil di depan sayap , ditambahkan untuk meningkatkan performa aerodinamika pesawat. Penelitian ini menggunakan metode numerik dan software Ansys 2023 R2 untuk melakukan analisis Computational Fluid Dynamics (CFD), dengan tujuan memahami dampak penambahan Canard terhadap karakter aerodinamika pesawat. Penelitian melibatkan pengujian pesawat dengan dan tanpa Canard, dengan jarak Canard dari sayap utama (1 m), kecepatan fluida (400, 500, dan 600 km/jam), dan sudut serang (15°, 25°, dan 35°). Variabel terikat meliputi Coefficient Lift (CL), Coefficient Drag (CD), dan Lift/Drag Ratio (L/D). Hasil analisis menunjukkan penambahan Canard secara signifikan meningkatkan nilai CL, dengan peningkatan antara 22,02% hingga 56,99% pada berbagai sudut serang. Selain itu, nilai CD menurun, terutama pada sudut serang yang lebih besar, dengan penurunan antara 1,75% hingga 47,44%. Analisis L/D Ratio menunjukkan nilai yang lebih tinggi pada pesawat dengan Canard, yangmeningkatkan efisiensi aerodinamika. Temuan ini mengindikasikan bahwa penambahan Canard dapat memperbaiki performa aerodinamika pesawat KT-1B Wong Bee.
Analisis Pengaruh Penambahan Vortex Generator Model Sayap N-219 Terhadap Sifat Aerodinamika Berbasis Software Ansys
Armanda, Kevin Oktavio;
Hernawan, Sya’ban Tri;
Ghofur, M. Abdul
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pesawat N-219 merupakan pesawat angkut yang dicipatakan untuk tujuan penerbangan perintis yaitu mampu melaksanakan penerbangan pada landas pacu yang pendek untuk menjangkau daerah terpencil di seluruh wilayah Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penambahan vortex generator pada sayap akan mampu meningkatkan performa pesawat saat lepas landas dan terbang menanjak sehingga mendukung kemampuan penerbangan perintis di wilayah terpencil Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD) yaitu melalui sebuah simulasi menggunakan software yang mana dalam hal ini untuk software simulasi menggunakan Ansys Fluent dan pemodelan geometri menggunakan Solidworks3D. Jenis airfoil pesawat ialah LS(1)-0417 MOD dan bentuk vortex generator ialah rectangular yang nantinya divariasikan pada tiga posisi pasang mengacu pada referensi leading edge airfoil. Hasil yang diperoleh dari penelitian ialah penggunaan vortex generator pada sayap pesawat mampu memengaruhi nilai coefficient lift (CL) dan coefficient drag (CD) pada tiap-tiap sayap dengan Angle of Attack (AoA) mulai dari 00 , 50 , 60 , 70 , 80 , dan 90 . Pada saat terbang fase cruise sayap dengan vortex generator pada posisi pasang 15% memberikan efisiensi aerodinamis terbaik yang ditunjukkan dengan nilai lift to drag ratio sebesar 21,72306995. Sementara pada fase terbang climb sayap tanpa vortex generator lebih memberikan efisiensi aerodinamis terbaik dengan perolehan angka lift to drag ratio sebesar 26,40047327.
Analisis Uji Aerodinamika Wingtip Fence Pada Pesawat Falcon 7x Dengan Menggunakan Software Ansys
Aryaputra, Danendra;
Ghofur, Muhammad Abdul;
Firmanto, Bondhan
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Winglet adalah perangkat aerodinamika yang dipasang di ujung sayap pesawat untuk mengurangi drag induksi yang disebabkan oleh perbedaan tekanan antara permukaan atas dan bawah sayap. Penelitian ini menggunakan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) dengan perangkat lunak ANSYS untuk menganalisis karakteristik aerodinamika dari dua konfigurasi winglet, yaitu Blended Winglet dan Wingtip Fence, pada pesawat Falcon 7X. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan koefisien gaya angkat (CL), koefisien gaya hambat (CD), dan rasio CL/CD dari kedua konfigurasi tersebut. Pengujian dilakukan pada berbagai variasi sudut serang (AoA) mulai dari 0°, 2°, 5°, 10°, 12°, 14°, hingga 16° dengan kecepatan aliran udara sebesar 400 m/s. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa sayap dengan konfigurasi Blended Winglet memiliki nilai koefisien gaya angkat yang lebih tinggi dibandingkan dengan sayap yang menggunakan Wingtip Fence, serta menghasilkan rasio CL/CD yang lebih baik. Distribusi tekanan dan aliran udara pada sayap juga dianalisis, yang menunjukkan bahwa Blended Winglet mampu mengurangi area pusaran udara dan meningkatkan efisiensi aerodinamika secara keseluruhan. Di sisi lain, Wingtip Fence memberikan pengurangan drag yang lebih signifikan pada sudut serang rendah, namun mengalami peningkatan drag yang lebih besar pada sudut serang tinggi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penggunaan Blended Winglet lebih sesuai untuk meningkatkan kinerja aerodinamika pesawat pada berbagai variasi sudut serang, terutama dalam hal efisiensi gaya angkat dan pengurangan hambatan.
[1] Nurcahyadi, T. (no date) ‘Pengaruh Lokasi Ketebalan Maksimum Airfoil Simetris Terhadap Koefisien Angkat Aerodinamisnya’. [2] ‘Setyo Hariyadi.pdf’ (no date). [3] Mulyadi, M. (no date) ‘Analisis Aerodinamika Pada Sayap Pesawat Terbang Dengan Menggunakan
Abdillah, Muhammad Ammar;
Widayatmo, Linggar
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Roket merupakan wahana luar angkasa, peluru kendali, atau kendaraan terbang yang mendapatkan dorongan melalui reaksi roket terhadap keluarnya secara cepat bahan fluida dari keluaran mesin roket. Seringkali definisi roket digunakan untuk merujuk kepada mesin roket. Pada roket terdapat Nose cone yaitu ujung dari roket tersebut. Nose cone merupakan bagian yang paling depan pada roket yang berfungsi sebagai pemecah udara sehingga nose cone mengalami tekanan yang kuat dan dapat mengalami keretakan karena kecepatan roket yang tinggi. Maka nose cone perlu melakukan pengukuran tekanan sehingga mendapatkan nose cone yang sesuai untuk roket. Seiring berkembangnya teknologi, berbagai macam penelitian dikembangkan dengan menggunakan aplikasi untuk analisis aerodinamika. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik aerodinamika berupa gaya hambat (drag) dan Coefficient Drag dari berbagai bentuk nose cone dan perbedaan panjang dengan menggunakan kecepatan 0,3 mach, 1,3 mach, 2,3 mach Dari hasil pengujian, perbedaan hasil perhitungan Coefficient Drag (CD) menggunakan kecepatan 0,3 mach 1,3 mach dan 2,3 mach akan memengaruhi terhadap gaya hambat (Drag) yang dihasilkan. Hasil dari pengujian hasil yang memiliki gaya hambat terkecil adalah yang mempunyai nose cone bentuk tumpul pada kecepatan 0,3 dan 1,3 mach, namun saat dihitung menggunakan rumus Coefficient Drag didapatlah hasil model roket yang terkecil adalah model nose cone standar di semua variasi kecepatan, artinya roket yang terbaik digunakan dalam semua variasi kecepatan adalah bentuk standar.
Analisis Karakteristik Aerodinamika Bentuk Geometri Fin Pada Bom BNL-125 Menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD)
Alparisi, Frendli;
Hernawan, Sya’ban Tri
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
TNI AU sebagai cabang dari TNI yang bertugas menjaga kedaulatan udara nasional dan terus berupaya untuk meningkatkan kemampuan operasionalnya, namun masih bergantung pada impor senjata udara. Untuk mengatasi ketergantungan tersebut, diperlukan upaya meningkatkan kemandirian dan memanfaatkan potensi nasional dengan teknologi dalam pembuatan senjata udara. PT Sari Bahari, sebuah perusahaan swasta yang mendapatkan izin dari Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, memproduksi alutsista, termasuk Bom BNL-125, sebuah bom latih tanpa pemandu yang cocok digunakan untuk latihan pilot pesawat tempur TNI AU karena kesederhanaan sistemnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aerodinamika dari variasi geometri Fin pada Bom BNL-125.Metode yang digunakan dalam pengujian komputasi dengan menggunakan CFD (Computational Fluid Dynamics). Bantuan komputer digunakan untuk melakukan perhitungan yang diperlukan untuk mensimulasikan interaksi cairan dan gas dengan permukaan yang ditentukan oleh kondisi batas. Oleh karena itu, penulis membahas pengaruh geometri Fin pada Bom BNL-125 untuk bahan uji penelitian yang telah dilakukan sebelum-sebelumnya sehingga memiliki gambaran kesamaan atau perbedaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik aerodinamika Fin Bom BNL-125 berupa Coefficient Lift, Coefficient Drag, dan Lift To Drag Ratio pada Fin berjenis Trapezoid, Triangular, dan Rectangular dengan variasi release velocity 0,3 Mach, 0,5 Mach, dan 0,69 Mach dan juga variasi berupa sudut serang 0 ̊,15 ̊, dan 30 ̊. Dari hasil pengujian, perbedaan hasil perhitungan Coefficient Lift, Coefficient Drag, dan Lift To Drag Ratio terhadap sudut serang, yaitu 0°,15°,30° pada variasi release velocity 0,3 Mach, 0,5 Mach, dan 0,69 Mach yang akan mempengaruhi terhadap Coefficient Lift dan Coefficient Drag dari Fin Bom BNL-125. Dari hasil perhitungan CL dengan Fin Triangular pada sudut serang 15° dan dengan kecepatan 0,69 Mach memiliki grafik tertinggi, perhitungan CD dengan Fin Rectangular pada sudut serang 0° dan dengan release velocity 0,69 Mach memiliki grafik Tertinggi. Selain itu penggunaan Fin Trapezoid juga memberikan nilai L/D Ratio yang lebih baik seiring meningkatnya sudut serang.
Rancang Bangun Sistem Pengukuran pH dan Kekeruhan Air Berbasis Arduino Nano
Budiyanto, Muhamad Rafi;
Resia, Made;
Firmansyah
Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (SENASTINDO) Vol. 6 (2024): Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo)
Publisher : Akademi Angkatan Udara
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Kebutuhan akan air yang memiliki kualitas yang baik untuk mendukung kelancaran kegiatan, terutama bagi Anggota TNI,merupakan hal yang mutlak dan harus dimiliki. Air yang baik akan memudahkan anggota dalam setiap kegiatan sehari-hari. TNI Angkatan udara harus bisa memonitor kualitas air yang digunakan. Dimulai dari hal yang kecil seperti air yang akan digunakan oleh Anggota. Air yang digunakan harus memiliki kualitas yang baik sehingga tidak mempersulit anggota dalam kegiatan sehari-hari. Agar dapat mengetahui kualitas air yang baik dan layak digunakan, maka dibutuhkan suatu alat yang dapat mengetahui kualitas air tersebut. Pesatnya perkembangan teknologi saat ini memudahkan setiap orang dapat mengukur kualitas air, tidak harus untuk pergi ke laboratorium. Dengan menggunakan alat sederhana seperti Arduino Uno dan sensor yang dibutuhkan untuk mengukur kualitas air sudah cukup untuk mengetahui kualitas air di tempat tersebut. Dengan menggunakan sensor turbidity sebagai alat untuk mengukur kekeruhan pada air dan sensor pH untuk mengukur kadar pH. Berkaitan untuk pengukuran dengan sensor tersebut harus didukung dengan Arduino sebagai alat untuk memproses sinyal yang diberikan dari sensor tersebut. Dari proses tersebut akan muncul sebuah hasil yang di tampilakan dalam bentuk nilai. Nilai tersebut akan muncul apabila Arduino Uno bekerja. Untuk output yang digunakan dapat menggunakan OLED.