Skenoo: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
Teologi: Teologi Sistematika, Pengajaran Tabernakel, Tahbisan, Berita Mempelai. Penelitian Biblikal: Tafsir Perjanjian Lama, Tafsir Perjanjian Baru, Pengembangan Metode Tafsir, Teologi Perjanjian Lama, Teologi Perjanjian Baru. Misi dan Pertumbuhan Gereja: Teologi Penginjilan, Strategi Penginjilan, Misiologi, Pelayanan Lintas Budaya, Pertumbuhan Gereja, Misi Kontekstual, Pembinaan Warga Gereja, Sejarah Gereja. Pastoral: Teologi Pastoral, Pastoral Konseling, . Kepemimpinan: Teologi Kepemimpinan, Etika Kristen atau Gereja, Manajemen Gereja Pendidikan Agama Kristen : Pendidikan Kristiani dalam Keluarga, Sekolah, Gereja dan Masyarakat, Teologi PAK, Strategi Pembelajaran, Manajemen PAK
Articles
68 Documents
Signifikansi Paradigma Kepemimpinan Intergenerasional Menurut Gary L. McIntosh bagi Revitalisasi Pelayanan Tim Kemajelisan Gereja
I Wayan Agus Wiratama
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.72
Kepemimpinan dalam tim kemajelisan jemaat adalah format yang lumrah dipakai gereja-gereja di Indonesia, khususnya pada tradisi presbiterial. Walaupun pola kepemimpinan tersebut sudah dipandang baik, namun tidak banyak yang menyadari bahwa corak kepemimpinan dalam tim kemajelisan masih cenderung bersifat monogenerasional. Dominasi satu atau dua generasi yang dianggap berpengalaman dapat berimplikasi pada melemahnya efektivitas pelayanan gerejawi secara holistik. Bertolak dari keprihatinan itu, maka artikel ini mengeksplorasi beberapa intisari gagasan kepemimpinan intergenerasional sebagai upaya revitalisasi kepemimpinan tim kemajelisan gereja. Melalui metode kajian pustaka, penulis menyajikan berbagai isu kepemimpinan gereja dalam konteks perubahan demografis serta menggali sejumlah indikator terkait karakteristik kepemimpinan intergenerasional menurut Gary L. McIntosh. Analisis terhadap pemikiran McIntosh menghasilkan tiga karakteristik utama kepemimpinan intergenerasional, yakni inklusif, apresiatif, dan akomodatif, sebagai upaya evaluatif bagi pelayanan tim kemajelisan gereja demi terselenggaranya efektivitas pelayanan gerejawi secara optimal dan menyeluruh.
Prinsip-prinsip Penginjilan Kontekstual bagi Kaum Intelektual–Religius Berdasarkan Kisah Para Rasul 17:16-34
Kasieli Zebua;
Yogi Oktavianus
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.79
Orang percaya dipanggil untuk memberitakan Injil kepada setiap orang sesuai Amanat dari Tuhan Yesus. Pemberitaan Injil ini merupakan tugas yang mulia sebab menuntun orang kepada kehidupan kekal. Namun, pemberitaan Injil bukanlah tugas yang mudah sebab diperhadapkan dengan berbagai tantangan dan rintangan yang besar, apalagi dalam menghadapi kaum intelektual-religius yang sudah memiliki pola pemahaman yang kuat terhadap keyakinan tertentu. Penelitian ini dilaksanakan untuk menemukan prinsip-prinsip penginjilan kontekstual bagi para intelektual-religius berdasarkan Kisah Para Rasul (KPR) 17:16-34 yang berfungsi sebagai pedoman penginjilan kontekstual bagi orang percaya saat ini. Penulis melaksanakan penelitian ini dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif melalui pendekatan hermeneutik terhadap teks dan kajian kepustakaan. Hasil analisis terhadap teks KPR 17:16-34 ditemukan aturan-aturan dasar penginjilan sesuai dengan konteks bagi kaum intelektual-religius yakni: memiliki hati yang berbelas kasihan; memiliki self-confidence dalam Injil Kristus; dan memiliki perspektif yang benar terhadap keberhasilan penginjilan.
Pemimpin Sejati dengan Pola Kepemimpinan Yesus
Samuel Herman;
Rinaldi Dharmawan
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.82
Pemimpin sejati saat ini menjadi sebuah langka, demikian seperti yang dipercayai oleh banyak orang. Pemikiran ini didukung oleh pandangan Yesus, yang menganggap pemimpin sebagai hamba. Pemimpin sejati, dalam perspektif Yesus, memandang kepemimpinan sebagai pelayanan, bukan semata-mata sebagai sebuah jabatan atau sarana untuk memperoleh kekuasaan demi kepentingan pribadi. Karakter pemimpinan Yesus menjadi panduan bagi banyak orang, menunjukkan bagaimana seorang pemimpin seharusnya mempraktikkan sikap kepemimpinan yang bersumber dari nilai-nilai Alkitabiah. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan dasar kajian biblika dan merujuk kepada sumber-sumber dari jurnal serta buku-buku terkait dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menggambarkan pola kepemimpinan yang sesuai dengan ajaran Alkitab, yang tumbuh dari semangat seorang pemimpin sejati, yang lebih berfokus pada melayani daripada memegang kekuasaan.
Metafora Gereja sebagai Mempelai Wanita Kristus Menurut Perspektif John Calvin
Jeconiah Lunardi
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.83
Alkitab memberikan beberapa metafora untuk Gereja, salah satunya adalah Gereja sebagai mempelai wanita Kristus. Metafora Gereja sebagai mempelai wanita menunjukkan kesatuan Gereja dengan Kristus yang dipercaya oleh umat Tuhan yang Kudus dan am maka selain kesatuan vertikal dengan Kristus, ajaran ini juga menunjukkan kesatuan horizontal sesama umat. Tulisan ini merupakan tulisan deskriptif dengan metode riset kepustakaan untuk melihat bagaimana perspektif John Calvin tentang metafora Gereja sebagai mempelai wanita sehingga dapat menawarkan warna yang berbeda dalam ajaran Gereja sebagai mempelai wanita yang di Indonesia identik dengan pengajaran Gereja Pantekosta. Hasil penelitian menyatakan bahwa metafora Gereja sebagai mempelai wanita Kristus, menurut perspektif John Calvin dan teolog Calvinis, menegaskan ketergantungan dan kesatuan yang esensial dengan Kristus, yang memegang peran penting dalam pemeliharaan dan pemurnian Gereja.
Kajian Teologis Pengudusan Diri dalam 1 Petrus 1:13-15 dan Implikasinya bagi Kekudusan Hidup Remaja
Gusriani Sulu'
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.85
Salah satu sifat keilahian Allah adalah kekudusan. Dalam menghadapi era globalisasi, kaum remaja menghadapi berbagai perubahan lingkungan pergaulan yang dapat menyebabkan sebagian dari mereka kehilangan kekudusan. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana menjaga kekudusan yang sebenarnya bagi kalangan remaja ditinjau dari 1 Petrus 1:16. Metode penelitian yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi biblika dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa banyak hal yang membuat pemuda kehilangan kekudusan karena pergaulan dan kesehatan mental yang mereka miliki. Kekudusan merupakan sebuah keharusan bagi remaja sebagai bentuk respon manusia kepada karya penyelamatan Allah. Oleh sebab itu, remaja perlu menghargai dirinya serta merawat diri secara fisik, mental, dan emosional sebagai bagian penting dari pengudusan diri. Ini melibatkan perawatan diri, mengelola stres, membangun hubungan yang sehat, dan mengembangkan keterampilan pemecahan masalah.
Prinsip Sola Scriptura dalam Berpikir sebagai Leader
Areyne Christi;
Cynta Andrena;
Yamotani Waruwu;
Fermina Laia
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.87
Sola Scriptura atau 'Alkitab saja' adalah prinsip fundamental protestantisme yang menegaskan Alkitab sebagai satu-satunya otoritas untuk iman Kristen. Prinsip ini memiliki implikasi yang signifikan untuk kepemimpinan di gereja. Pertama, Sola Scriptura berarti bahwa pemimpin harus mendasarkan keputusan mereka dan ajaran pada Alkitab saja. Kedua, Sola Scriptura menekankan pentingnya interpretasi individu dan daya pengamatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi Pustaka. Tujuan dari penelitian ini adalah apakah pengertian Sola Scriptura bagi seorang pemimpin? Bagaimanakah peran penting Sola Scriptura bagi pemimpin? Bagaimanakah Sola Scriptura Dalam Membangun Cara Berpikir Sebagai Leader. Dari hasil penelitian ditemukan bahwa Pertama, Sola Scriptura adalah prinsip dasar dalam kepercayaan Protestan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas tertinggi dalam segala hal yang berkaitan dengan iman dan praktik keagamaan. Kedua, pemimpin gereja harus memahami dan menerapkan prinsip ini dalam kesehariannya. Ketiga, dalam konteks kepemimpinan gereja, Sola Scriptura membantu pemimpin untuk mengambil keputusan yang benar dan tepat berdasarkan firman Tuhan.
Peranan Roh Kudus dalam Perspektif Tulisan Paulus
Iwan Setiawan;
Yanti Martina Ruku;
Afrida Riska Bili;
Kaleb Timuneno;
Jimi Rasi
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 1 (2024): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i1.92
Tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan secara komprehensif dan alkitabiah ajaran Paulus mengenai peranan Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi ketiga dari Trinitas, Yesus menjanjikan Roh Kudus untuk menyertai dan Roh Kudus membawa untuk lebih mengenal dengan benar dan percaya kepada Yesus Kristus. Kehidupan orang percaya masa kini terkadang tidak menekankan tentang Roh Kudus sebagai pribadi yang penting dalam kehidupannya. Metode penelitian yang gunakan adalah tinjauan pustaka yang diartikan sebagai ringkasan yang diambil dari sumber bacaan yang berkaitan dengan suatu topik penelitian. Hasil penelitian yang didapat adalah Roh Kudus memberi hidup yang memerdekakan, Roh Kudus memberikan perlengkapan rohani, Roh Kudus memberi keselamatan bagi yang menerima-Nya, Roh Kudus dalam pemberitaan Injil, Roh Kudus mengerjakan firman dalam hati orang percaya dan Roh Kudus hadir dalam buah-buah Roh.
Upaya Guru Pendidikan Agama Kristen dalam Membentuk Karakter Religius Siswa
Yaaman Gulo
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i2.70
Penelitian ini dimulai dari permasalahan karakter yang dialami oleh para siswa. Beberapa isu perilaku yang sering terjadi di kalangan siswa termasuk memberontak kepada guru, menonton dan menyimpan konten pornografi, bolos sekolah, dan terlibat dalam pergaulan bebas. Salah satu langkah untuk menyelesaikan isu tersebut ialah dengan guru berusaha untuk mengarahkan dan membentuk kepribadian religius pada murid-murid. Penelitian ini menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif melalui metode tinjauan pustaka. Data primer diperoleh melalui kajian mendalam terhadap berbagai sumber, termasuk buku-buku referensi, jurnal ilmiah bereputasi, dan penelitian-penelitian terdahulu yang relevan. Analisis data yang komprehensif dilakukan untuk mengidentifikasi temuan yang signifikan. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa guru Pendidikan Agama Kristen memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter religius siswa. Proses pembentukan karakter ini melibatkan berbagai strategi, di antaranya pengajaran nilai-nilai agama, stimulasi praktik berdoa, serta pendalaman pemahaman terhadap Alkitab. Dengan demikian, guru dapat bertindak sebagai fasilitator yang efektif dalam membimbing siswa untuk mengembangkan karakter religius yang kuat.
Sampah: Tinjauan Teologis terhadap Perilaku Ekonomis yang Berdampak pada Lingkungan
Lie Thien Siang
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i2.84
Sampah yang terus menumpuk menunjukkan kurangnya kesadaran manusia terhadap pentingnya pengelolaan sampah dan keberlanjutan alam. Kurangnya kesadaran tersebut dapat dipengaruhi oleh pemahaman teologis manusia terhadap alam. Alam yang dihayati dalam relasi dengan Allah akan memunculkan sikap dan perilaku yang baik terhadap alam. Metode penelitian dalam tulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis fenomenologi terhadap kasus peningkatan sampah di Indonesia dan studi pustaka. Dalam konsep ekologi dalam (deep ecology), alam tidak dilihat hanya dalam hubungannya dengan manusia semata melainkan memiliki nilai pada dirinya sendiri. Nilai pada alam adalah nilai yang diberikan oleh Allah yaitu sebagai karya ciptaan Allah. Konsep sensus divinitatis menjadi dasar pandangan teologis dalam menyatakan sikap dan perilaku terhadap alam sebagai ciptaan Allah. Skema civil society memberi gambaran tentang peluang kekristenan untuk mewujudkan kesaksian dan pelayanan di tengah dunia melalui kesadaran dan wujud peduli terhadap lingkungan.
Fondasi Pendidikan Agama Kristen menurut Filsafat Rasionalisme
Samuel Delahoya
Skenoo : Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 4 No. 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tabernakel Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55649/skenoo.v4i2.94
Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan ataupun cinta akan pikiran, sehingga pandangan dan juga akan menilai segala sesuatunya melalui metode berpikir yang sistematis. Pemikiran logis dapat membentuk pola komunikasi dalam mempengaruhi paradigma. Juga dalam paradigma pendidikan agama kritsen yang orientasinya adalah pada alkitab yaitu firman Tuhan. Tentunya ini akan sedikit dipertentangkan. Tujuan dari penulisan ini ingin melihat filsafat rasionalisme sebagai fondasi dalam pendidikan agama kristen, melalui pembacaan terhadap beberapa perspektif tokoh-tokoh yang berkaitan dengan tema penelitian ini, baik dari tokoh Pendidikan Agama Kristen serta perspektif filsafat rasionalisme yang bermula dari paradigma skeptis dan pikiran. Dari penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwasanya filsafat rasionalisme bukanlah sebagai sesuatu esensial yang meruntuhkan tetapi sebagai memperkuat fondasi tersebut.