cover
Contact Name
Oramahi
Contact Email
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Phone
+6281345001010
Journal Mail Official
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Provinsi Kalimantan Barat Telp dan Faks. 0561-767673
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 20878788     EISSN : 27146855     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jt.v13i2
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini merupakan jurnal Teknologi Pengembangan Kehutanan dan Lingkungan yang diterbitkan oleh fakultas kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal ini menyajikan artikel mengenai hasil penelitian perkembangan kehutanan dan lingkungan mutakhir meliputi berbagai konsentrasi ilmu di bidang kehutanan yaitu Biologi, Manajemen Hutan, teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan serta bidang lingkungan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal ini akan ditelaah oleh mitra bestari yang bidangnya sesuai. Jurnal ini diterbitkan setahun dua kali : Januari dan Juli.
Articles 157 Documents
ANALISIS PENGARUH BERAT LABUR, JENIS KOMBINASI DAN INTERAKSINYA TERHADAP SIFAT FISIKA MEKANIKA PAPAN LAMINASI KOMBINASI KAYU KEMIRI BAMBU PETUNG DAN SENGON BAMBU PETUNG Wulandari, Febriana Tri; Fahrussiam, Fauzan
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.77434

Abstract

From small-scale to large-scale timber companies, there is great potential for the development of laminated products made from candlenut, sengon and petung bamboo. This is due to the relatively simple technique used, which goes through the following stages: preparation of raw materials in the form of boards, application of paint, and gluing with high pressure or with a clamping system. The gluing procedure has a significant impact on the strength of the resulting laminated board, in addition to the raw material component. Therefore, the objective of this study was to investigate the impact of labor weight, raw material type, and their combination on mechanical and physical properties. This study used an experimental approach and a factorial completely randomized design (CRD) with two factors, four treatments, and three replications. Apart from the Modulus of Elasticity (MoE) test which had a considerable influence, the physical and mechanical properties of laminated boards were not influenced by either the weight of the mortar, the type of raw material combination, or their interaction. Sifat fisiknya telah memenuhi SNI 01-6240-2000 dan JAS 234:2007, meskipun hasil pengujian mekanisnya tidak memenuhi. Berdasarkan evaluasi sifat mekanik dan fisiknya, papan laminasi yang terbuat dari kombinasi bambu petung sengon dan bambu petung kemiri dapat digolongkan dalam kelas kuat III dari hasil penelitian, yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan berat yang terlindungi.   Kelas kuat kayu meningkat dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III ketika bambu dan kayu dikombinasikan untuk membuat papan laminasi.Keywords: candlenut wood, heavy labur, laminated board, petung bamboo, sengon wood,.AbstrakDari perusahaan kayu skala kecil hingga skala besar, terdapat potensi besar untuk pengembangan produk laminasi berbahan baku kayu kemiri, sengon, dan bambu petung. Hal ini disebabkan oleh teknik yang digunakan relatif sederhana, yaitu melalui beberapa tahapan berikut: penyiapan bahan baku berupa papan, pengaplikasian cat, dan pengempaan dengan tekanan tinggi atau dengan sistem penjepit. Prosedur perekatan memiliki dampak yang signifikan terhadap kekuatan papan laminasi yang dihasilkan, selain komponen bahan baku. Oleh karea itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki dampak dari berat labur, jenis bahan baku, dan kombinasinya terhadap sifat mekanik dan fisik. Penelitian ini menggunakan pendekatan eksperimental dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan dua faktor, empat perlakuan, dan tiga ulangan. Selain uji Modulus Elastisitas (MoE) yang memiliki pengaruh yang cukup besar, sifat fisik dan mekanik papan laminasi tidak dipengaruhi oleh baik dari berat labur, jenis kombinasi bahan baku, maupun interaksinya. Dari hasil pengujian sifat fisika sudah memenuhi persyaratan SNI 01-6240-2000 dan JAS 234:2007, namun hasil pengujian mekanika belum memenuhi. Dari hasil penelitian, papan laminasi yang terbuat dari kombinasi bambu petung sengon dan kayu kemiri bambu petung dapat diklasifikasikan sebagai kelas kuat III yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan berat yang terlindungi, sesuai dengan hasil evaluasi sifat mekanik dan fisiknya.   Ketika bambu dan kayu dicampur untuk membuat papan laminasi, kelas kuat kayu meningkat dari kelas kuat IV menjadi kelas kuat III.Kata kunci: Kayu kemiri, berat labur, papan laminasi, bambu petung, kayu sengon.
ANALISIS PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP KENYAMANAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TONJENG BERU KELURAHAN PRAPEN KECAMATAN PRAYA Widiawati, Baiq; Ichsan, Andi Chairil; Lestari, Andi Tri
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.75255

Abstract

Based on Law Number 26 of 2007 concerning spatial planning, what is meant by Green Open Space (RTH) is an elongated area, path or group whose users are more open, where plants grow, both those that grow naturally and those that are deliberately planted.   This research aims to analyze visitors"™ perceptions of the comfort of the Tonjeng Beru Green Open Space (RTH).   This research uses a quantitative descriptive approach to measure and evaluate visitors"™ perceptions of various aspects of RTH comfort, including cleanliness, safety, aesthetics and availability of facilities. Data was obtained through a survey using a questionnaire filled in by RTH visitors.   The research results indicate that visitors perceive the Tonjeng Beru Green Open Space as a comfortable place, although there are several areas that require attention and improvement.   This study contributes to a better understanding of the factors that influence the perception of comfort in green open spaces and provides recommendations for the management and improvement of green open space in the future.Keywords: 4A Tourism Component, Comfort, Green Open Space, Perception, Visitors.AbstrakBerdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang dimaksud dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang, jalur atau kelompok yang penggunanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pengunjung terhadap kenyamanan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tonjeng Beru. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengukur dan mengevaluasi persepsi pengunjung terhadap berbagai aspek kenyamanan RTH, termasuk kebersihan, keamanan, estetika, dan ketersediaan fasilitas. Data diperoleh melalui survei dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pengunjung RTH. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pengunjung mempersepsikan RTH Tonjeng Beru sebagai tempat yang nyaman, meskipun terdapat beberapa area yang memerlukan perhatian dan peningkatan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi kenyamanan di ruang terbuka hijau dan memberikan rekomendasi bagi pengelolaan dan perbaikan RTH di masa depan.Kata kunci: Komponen pariwisata 4A, kenyamanan, ruang terbuka hijau, Persepsi, pengunjung
PENERAPAN METODE BENT LAMINATION PADA PROSES PELENGKUNGAN KOMPONEN KURSI Wijayanto, Arip; Mulyana, Elda
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.78908

Abstract

Currently, furniture products use wooden components in a curved shape to highlight their aesthetic value. However, the components in the curved form are still mostly done in the conventional way. The aim of this study is to apply the bent lamination method to the components of the back legs and the backrest of the chair product. The stages of work started with making a chair design that has a curved shape on the back legs and backrest. Next was the preparation of laminate from teak wood with a thickness of 3 mm each as many as 14 for the back legs and 10 for the backrest. The lamination process was carried out with a polyurethane adhesive and pressing for 3 hours on a bending mal. After the bending process, observations of changes in the shape of each component were carried out. The application of the bent lamination method produces a curved back legs component with a radius of 100 mm, 250 mm, and 290 mm, a thickness of 40 mm and a width of 30 mm, and a curved backrest component with a radius of 205 mm, a thickness of 30 mm and a width of 40 mm. The results of observations of changes in shape were not found after the bending process.Keywords: bent lamination, chair, furniture, teakAbstrakSaat ini banyak produk furnitur menggunakan komponen kayu dalam bentuk lengkung untuk menonjolkan nilai estetikanya. Namun hingga saat ini komponen dalam bentuk lengkung tersebut masih banyak dilakukan dengan cara konvensional. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk menerapkan metode bent lamination pada komponen kaki belakang dan sandaran punggung produk kursi. Tahapan pengerjaan dimulai dari pembuatan desain kursi yang memiliki bentuk lengkung pada kaki belakang dan sandaran punggung. Selanjutnya yaitu penyiapan lamina dari kayu jati dengan tebal 3 mm masing-masing sebanyak 14 untuk komponen kaki belakang dan 10 untuk sandaran punggung. Proses laminasi dilakukan dengan perekat jenis poliuretan dan pengempaan selama 3 jam pada mal pelengkung. Setelah proses pelengkungan dilakukan pengamatan perubahan bentuk pada masing-masing komponen. Penerapan metode bent lamination menghasilkan komponen kaki belakang bentuk lengkung dengan radius 100 mm, 250 mm, dan 290 mm, tebal 40 mm serta lebar 30 mm serta komponen sandaran bentuk lengkung dengan radius 205 mm, tebal 30 mm dan lebar 40 mm. Hasil pengamatan perubahan bentuk tidak ditemukan setelah proses pelengkungan.Kata kunci: bent lamination; furniture, jati, kursi
PENGARUH SUHU DAN LAMA PENYEDUHAN TERHADAP KADAR KALSIUM (CA) TEH DAUN KELAKAI (STENOCHLARNA PALUTRIS) DENGAN TREATMENT ASAM LEMON (CITRUS LIMON) Chotimah, Husnul; Wijinidyah, Ayutha; Selvia, Jerry
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.75650

Abstract

The plant kelakai (Stenochlarna palutris) is found in peat, alluvial soil, and marsh soil. comprising pinnate leaves, rhizome roots, and many fern species. Calcium (Ca) is one of the numerous nutrients found in kelakai. Lemon acid treatment (Citrus limun) is used in the processing of kelakai tea powder in an attempt to boost the plant's nutritional value. The purpose of this study is to ascertain how temperature and brewing time affect the calcium levels in lemon acid (Citrus limun) treated kelakai leaf tea (Stenochlarna palutris). This study uses a factorial completely randomized design (CRD) and is experimental in nature. There are two factors, the first is the temperature at which the brewing takes place (40, 50, and 60 degrees Celsius), and the second is the number of repeats (1, 5, and 10 minutes). Two Way Analysis of Variance (Anova) was utilized in the data analysis, along with an additional 5% Honest Significant Difference (BNJ) test. The findings demonstrated the highly significant effects of brewing temperature, brewing time, and the combination of temperature and brewing time. The amount of calcium produced increases with increasing brewing temperature. With an average of 46,964 ppm, the T3 brewing temperature treatment (60oC) had the greatest quantities of calcium. The effect of brewing time on calcium levels gives low results at short times (S1), high results at medium times (S2) and decreases when teh brewing time is longer (S3). The highest brewing duration was in S2 (5 minutes) with an average of 46,685 ppm. The highest interaction between two factors was in teh T3S2 combination with an average of 17,146 ppm. The best treatment was at brewing temperature T3 (60oC) and the best brewing time was at S2 (5 minutes) and the best treatment combination was at T3S2.Keywords: Brewing temperature, Brewing time, Calcium (Ca), Kalakai leaf tea (Stenochlarna palutris), Lemon acid pretreatment (Citrus lemon).AbstrakTanaman kelakai (Stenochlarna palutris) banyak ditemukan pada lahan gambut, tanah aluvial, dan tanah rawa. terdiri dari daun menyirip, akar rimpang, dan banyak jenis pakis. Kalsium (Ca) adalah salah satu dari banyak nutrisi yang ditemukan di kelakai. Perlakuan asam lemon (Citrus limun) digunakan dalam pengolahan bubuk teh kelakai sebagai upaya untuk meningkatkan nilai gizi tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana suhu dan waktu penyeduhan mempengaruhi kadar kalsium pada teh daun kelakai (Stenochlarna palutris) yang diolah dengan asam lemon (Citrus limun).   Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dan bersifat eksperimental. Ada dua faktor: yang pertama adalah suhu saat penyeduhan dilakukan (40, 50, dan 60 derajat Celcius), dan yang kedua adalah jumlah pengulangan (1, 5, dan 10 menit). Analisis Varians Dua Arah (Anova) digunakan dalam analisis data, bersama dengan tambahan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) 5%. Temuan ini menunjukkan pengaruh yang sangat signifikan dari suhu penyeduhan, waktu penyeduhan, dan kombinasi suhu dan waktu penyeduhan. Jumlah kalsium yang dihasilkan meningkat seiring dengan meningkatnya suhu penyeduhan. Dengan rata-rata 46,964 ppm, perlakuan suhu penyeduhan T3 (60 oC) memiliki jumlah kalsium paling besar.   Pengaruh waktu penyeduhan pada kadar kalsium memberikan hasil rendah pada waktu yang singkat (S1), tinggi pada waktu medium (S2) dan menurun ketika waktu seduh semakin lama (S3). Perlakuan waktu penyeduhan tertinggi pada S2 (5 menit) dengan rerata sebesar 46,685 ppm. Interaksi dua faktor tertinggi pada kombinasi T3S2 dengan rerata sebesar 17,146 ppm. Perlakuan terbaik terdapat pada suhu penyeduhan T3 (60oC) dan lama penyeduhan terbaik pada S2 (5 menit) dan kombinasi perlakuan terbaik pada T3S2.Kata kunci: Suhu penyeduhan, Lama penyeduhan, Kalsium (Ca), Teh daun Kalakai (Stenochlarna palutris), Pretreatment asam lemon (Citrus lemon).
PROSES BLEACHING: IMPLIKASINYA PADA PERUBAHAN WARNA DAN SIFAT FISIS KAYU KARET (Hevea Brasiliensis) TERKENA BLUE STAIN Nurhanifah, Nurhanifah; Anggiriani, Siska; Muhamad, Soleh; Wijayanto, Arip; Mulyosari, Desy; Fitrianto, Taufik Ramadhan; Widiyanto, Wahyu
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.79136

Abstract

Blue stain can cause discoloration of wood.  This  causes the selling price of wood affected by blue stain to decrease  in the market,  especially  if it  is used  as raw material for furniture. One type of wood that is commonly used to make furniture but is easily affected by blue stain is rubber wood. Effort that can  be made  to overcome this problem are by bleaching the wood attacked by blue stain. Previous research has  been carried out  on pine wood with various bleaching compositions. The best results in terms of physical properties and color change  were obtained in 25% sodium hypochlorite treatment with a water ratio of 1:2. Therefore, it is necessary to conduct similar studies to analyze the effect of the bleaching process using 25% sodium hypochlorite on the discoloration and physical properties of rubber wood. In this research, rubber wood  was treated  with bleaching with  a composition of  25% sodium hypochlorite:water 1:2. The results  obtained  showed that the wood  after  the bleaching process  experienced  an increase in brightness and a color difference compared to the control. Apart from that, the moisture content value also increases after the bleaching process.Keywords: bleaching, blue stain, rubber wood, sodium hypochlorite.AbstrakJamur pewarna (blue stain) dapat menyebabkan perubahan warna pada kayu. Hal tersebut mengakibatkan penurunan harga jual kayu yang terserang blue stain, terutama jika digunakan sebagai bahan baku furnitur. Salah satu jenis kayu yang sering dimanfaatkan untuk pembuatan furnitur namun mudah terserang blue stain adalah kayu karet. Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan melakukan proses bleaching pada kayu yang terserang blue stain. Penelitian sebelumnya telah dilakukan pada kayu pinus dengan berbagai komposisi bahan bleaching, dan hasil terbaik dari segi sifat fisik dan perubahan warna diperoleh pada perlakuan sodium hipoklorit 25% dengan perbandingan air 1:2. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian serupa untuk menganalisis pengaruh proses bleaching menggunakan sodium hipoklorit 25% terhadap perubahan warna dan sifat fisis kayu karet. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa kayu karet setelah proses bleaching mengalami peningkatan kecerahan dan perbedaan warna dibandingkan kontrol. Selain itu, nilai kadar air juga meningkat setelah proses bleaching.Kata kunci: pemutihan, jamur pewarna, kayu karet, sodium hipoklorit.
HUBUNGAN ANTARA KADAR AIR TANAH DAN TEKSTUR TANAH TERHADAP LAJU DAN KAPASITAS INFILTRASI DI RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) UNIVERSITAS MATARAM Rahmawati, Yuni; Mahakam Lesmono Aji, Irwan; Sari, Diah Permata
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.78399

Abstract

The Green Open Space of Mataram University encompasses various types of vegetation, potentially resulting in differences in infiltration rate and capacity within its zones. This study aims to determine the infiltration rate and capacity in the Green Open Space (GOS) of Mataram University and analyze the relationship between soil moisture content and texture with the infiltration rate and capacity in the area. Infiltration measurements were conducted in 10 zones of Mataram University's GOS, with two replications established in each zone: one within tree-covered areas and one in open areas (without tree cover). Laboratory analysis results indicated that the predominant soil texture across all zones of Mataram University's GOS was sandy clay. Soil moisture content in each zone ranged from 1.13% to 9.03%. The highest infiltration rate was found in open zones, with an average value of 48.61 cm/hour across all zones, while the lowest was in closed zones, at 30.58 cm/hour. The highest infiltration capacity was also observed in open zones, with an average value of 25.8 cm/hour, which was higher than that in closed zones (20.4 cm/hour). The t-test results comparing Horton's infiltration rate and capacity with actual infiltration rate and capacity showed no significant difference. Correlation analysis results indicated that soil texture (sand, silt) and soil moisture content were not correlated with infiltration rate and capacity in Mataram University's GOS.Keywords: infiltration, moisture content, GOS, texture.AbstrakRuang Terbuka Hijau Universitas Mataram memiliki berbagai macam jenis vegetasi, sehingga berpotensi dapat memungkinkan terjadinya perbedaan laju dan kapasitas infiltrasi di setiap zona wilayahnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju dan kapasitas infiltrasi di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Universitas Mataram dan menganalisis hubungan antara kadar air dan tekstur tanah di wilayah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Universitas Mataram dengan laju dan kapasitas infiltrasi. Pengukuran infiltrasi dilakukan di 10 zona RTH Universitas Mataram, di mana di setiap zona ditetapkan 2 ulangan yaitu 1 ulangan untuk area tertutup dan 1 ulangan pada area terbuka (tanpa tegakan pohon). Hasil laboratorium menunjukkan tekstur tanah yang mendominasi di seluruh zona RTH Universitas Mataram yaitu pasir berlempung. Dan kadar air tanah di setiap zona wilayah RTH Universitas Mataram yaitu berkisar antara 1,13 % - 9,03 %. Laju infiltrasi tertinggi terdapat pada zona terbuka, dengan nilai rata-ratanya untuk semua zona yaitu 48,61 cm/jam dan terendah pada zona tertutup yaitu 30,58 cm/jam. Kapasitas infiltrasi tertinggi terdapat pada zona terbuka, dengan nilai rata-ratanya untuk semua zona terbuka yaitu 25,8 cm/jam lebih tinggi dibandingkan pada zona tertutup yaitu 20,4 cm/jam. Hasil uji-t antara laju kapasitas infiltrasi horton dengan laju kapasitas infiltrasi aktual menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan. Hasil uji korelasi menunjukkan tekstur tanah (pasir, debu), dan kadar air tanah tidak berkorelasi dengan laju dan kapasitas infiltrasi di RTH Universitas Mataram.Kata kunci: infiltrasi, kadar air, RTH, tekstur.
PERTUMBUHAN JELUTUNG (Dyera lowii Hook) DENGAN INOKULASI MIKORIZA PADA TANAH GAMBUT Gustian, Gustian; Burhanuddin, Burhanuddin
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.86647

Abstract

The maintenance of peat swamp forest ecosystems' ability to function has become more important throughout the last ten years. a global issue mostly associated with the loss of nutrients and the emission of greenhouse gases into the environment. Peat forests are becoming more and more degraded as a result of high land fires, illicit logging, and the severity of peatland conversion. Every year, peat swamp forests are destroyed by fires that contribute to smog and global warming, making the issue a national and even global one. The restoration of degraded peat swamp forests using Dyera lowii Hook, an endemic peat swamp forest species and a companion type of vegetation that grows in the following time in the process of peat swamp forest development, should be an attempt to address this issue. The pH of the soil is quite acidic, and peat swamp forests are typically degraded with some nutrients, making it difficult for plants to flourish. Because of this, technology must be incorporated through the use of biological fertilizers, specifically mycorrhizae. The purpose of this study is to investigate the mycorrhizal species that most successfully promote the growth of peat indigenous D. lowii plants, as there is currently no evidence of research on the subject. Using a completely randomized design model (CRD) and mycorrhizal treatment, the study employed an experimental methodology; M0 = without mycorrhiza, M1 = Glomus sp1, M2 = Glomus sp 2, M3 = Glomus sp 3, M4 = Glomus sp 4 and M5 = Gigaspora sp. repeated 5 times. Planting tests were carried out at the Silvicultural Laboratory screen house of the Faculty of Forestry, Tanjungpura University. The study's findings demonstrate that the best Arbuscular Mycorrhizal Fungus for promoting the growth of D. lowii plants in nurseries is Glomus sp. 3.Keywords: arbuscular mycorrhizal fungi, dyera lowi, peatsoils.AbstrakPengurasan hara, serta pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer telah menjadi fokus perhatian global selama sepuluh tahun terakhir untuk menjaga kelestarian fungsi ekosistem hutan rawa gambut. Semakin banyak hutan gambut terdegradasi karena konversi lahan gambut, penebangan liar, dan kebakaran hutan dan lahan yang tinggi. Hutan rawa gambut yang terdegradasi terbakar setiap tahun, yang menyebabkan kabut asap dan pemanasan global, yang merupakan masalah di tingkat nasional dan internasional. Pemulihan hutan rawa gambut yang telah terdegradasi harus dilakukan. Jelutung (Dyera lowii Hook) adalah salah satu jenis pohon yang tinggal di hutan rawa gambut, adalah jenis vegetasi penyerta yang tumbuh pada tahap berikutnya dari proses pembentukan hutan rawa gambut. Sebagian besar, hutan rawa gambut telah terdegradasi, menyebabkan beberapa unsur hara kahat dan pH tanah sangat masam. Akibatnya, tanaman menjadi sulit untuk tumbuh. Untuk mencapai hal ini, teknologi seperti pemanfaatan mikoriza, yang merupakan pupuk hayati, diperlukan. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi jenis mikoriza paling berhasil meningkatkan tumbuh tanaman jelutung endemik gambut karena belum ada penelitian yang meneliti jenis mikoriza mana yang paling efektif meningkatkan pertumbuhan tanaman jelutung. Penelitian melakukan eksperimen dengan model rancangan acak lengkap (RAL) dengan perlakuan jenis mikoriza; M0= tanpa mikoriza, M1= Glomus sp1, M2= Glomus sp 2, M3= Glomus sp 3, M4= Glomus sp 4dan M5= Gigaspora sp. diulang sebanyak 5 kali ulangan. Laboratorium Silvikultur Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura memiliki rumah kasa tempat pengujian penanaman dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis Glomus sp 3 adalah jenis jamur mikoriza arbuskula terbaik untuk mempercepat pertumbuhan tanaman jelutung di persemaian.Kata Kunci: fungi mikoriza arbuskula, jelutung, gambut
PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI DAN RASIO PELARUT TERHADAP KANDUNGAN TANIN PADA DAUN KRATOM (Mitragyna speciosa) Munadian, Munadian; Muflihati, Muflihati; Mangurai, Silvia Uthari Nuzaverra Mayang
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.87746

Abstract

Kratom (Mitragyna speciosa) leaves contain tannins that have potential as natural dyes, but the optimization of tannin extraction conditions from these leaves still needs to be studied. This study aims to determine the effect of variations in extraction time and ethanol solvent ratio on the tannin content obtained from Kratom leaves. The soxhletation extraction method was used with a variation of extraction time of 3, 4, and 5 hours, and ethanol solvent ratio of 1:0, 1:1, and 0:1. The results showed that optimal conditions were achieved at an extraction time of 4 hours with a solvent ratio of 1:1, resulting in the highest extract yield and significant tannin content. Analysis of tannin content was carried out by Folin-Ciocalteu spectrophotometric method. The findings suggest that the right combination of time and solvent ratio can increase the extraction efficiency of tannins from Kratom leaves, thus supporting its potential use as an environmentally friendly natural colorant in various industries.Keywords: Extraction time, Kratom leaves, Solvent ratio, TanninsAbstrakDaun Kratom (Mitragyna speciosa) memiliki kandungan tanin yang potensial sebagai pewarna alami, namun optimalisasi kondisi ekstraksi tanin dari daun ini masih perlu diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh variasi waktu ekstraksi dan rasio pelarut etanol terhadap kandungan tanin yang diperoleh dari daun Kratom. Metode ekstraksi soxhletasi digunakan dengan variasi waktu ekstraksi 3, 4, dan 5 jam, serta rasio pelarut etanol 1:0, 1:1, dan 0:1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimal dicapai pada waktu ekstraksi 4 jam dengan rasio pelarut 1:1, menghasilkan rendemen ekstrak tertinggi dan kandungan tanin yang signifikan. Analisis kandungan tanin dilakukan dengan metode spektrofotometri Folin-Ciocalteu. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi waktu dan rasio pelarut yang tepat dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi tanin dari daun Kratom, sehingga mendukung potensi penggunaannya sebagai pewarna alami yang ramah lingkungan di berbagai industri.Kata kunci: Waktu ekstraksi, Daun kratom, Rasio pelarut, Tanin
KEANEKARAGAMAN JENIS KEPITING BAKAU DI KAWASAN HUTAN MANGROVE DESA KERAMAT JAYA KECAMATAN KENDAWANGAN KABUPATEN KETAPANG Damiska, Septi; Putra, Diki Heryanto; Darwati, Herlina; Dewantara, Iswan
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.87242

Abstract

Scylla spp is a fishery commodity that has the potential to support community life, especially for small-scale fishermen. The mangrove ecosystem has an important role as the main habitat for mangrove crabs (Scylla Spp). The mangrove ecosystem (mangrove) is an ecosystem located in coastal areas that is influenced by sea tides so that the floor is always flooded with water. The aim of research on the diversity of mangrove crabs (Scylla spp) in the mangrove ecosystem is to record and describe the types of mangrove crabs (Scylla spp) in the mangrove vegetation and surrounding areas in the mangrove forests of Keramat Jaya Village, Kendawangan District, Ketapang Regency. Data was collected from various sources including the types, numbers and populations of mud crabs found at the research location. The data taken is primary data and secondary data. The data obtained was then analyzed, namely the species diversity index (H'), number of individuals (ni), total number of individuals (n), species abundance (N) and analysis of habitat conditions. The research results obtained 3 species from 3 locations with a total of 30 individuals. The value of the species diversity index H'=1,0692, the value of the number of individuals ni=0,33, the value of the total number of individuals n=1,108 and the value of species abundance N=0,3564. Scylla olivacea has the highest number of individuals, namely 11 individuals, while the lowest number of individuals is Scylla serrata, 9 individuals.Keywords: Ecotourism, Kendawangan, Mangrove, Scylla sppAbstrakKepiting bakau merupakan salah satu komoditas perikanan yang memiliki potensi sebagai penyangga kehidupan masyarakat terutama bagi nelayan sekala kecil. Ekosistem mangrove mempunyai peran penting sebagai habitat utama bagi kepiting bakau (Scylla Spp). Ekosistem mangrove (bakau) adalah ekosistem yang berada di daerah tepi pantai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut sehingga lantainya selalu tergenang air. Penelitian ini bertujuan untuk mendata dan mendeskripsikan jenis kepiting bakau (Scylla spp) pada vegetasi bakau dan sekitarnya di hutan mangrove Desa Keramat Jaya Kecamatan Kendawangan Kabupaten Ketapang. Pengumpulan data di lakukan dari berbagai sumber yang meliputi jenis-jenis, jumlah dan populasi kepiting bakau yang ditemukan di lokasi penelitian. Data yang diambil berupa data primer dan data sekunder yang kemudian dianalisis, yaitu Indeks keanekaragaman jenis (H"™), Jumlah individu (ni), Jumlah total individu (n), Kelimpahan jenis (N) dan analisis kondisi habitat. Hasil penelitian diperoleh 3 jenis dari 3 lokasi dengan jumlah individu 30 ekor. Nilai indeks keanekaragaman jenis (H"™)=1,0692, nilai jumlah individu (ni)=0,33, nilai jumlah total individu (n)=1.108 dan nilai kelimpahan jenis (N)=0,3564. S. olivacea memiliki jumlah individu tertinggi yaitu 11 ekor sedangkan jumlah individu paling sedikit yaitu S. serrata 9 ekor.Kata kunci: Ekowisata, Kendawangan, Kepiting Bakau, Mangrove
ANALISIS TINGKAT KERUSAKAN PEPOHONAN KOTA SEBAGAI DASAR MITIGASI BENCANA ANGIN DI LIMA JALAN UTAMA KOTA MATARAM Rachman, Irna Ningsi Amalia; Nahlunnisa, Hafizah
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 2 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i2.85185

Abstract

The analysis of tree damage in urban green belts is essential for mitigating the risk of tree falls, which can have detrimental effects on road users and the community. The objective of this study is to assess the extent of damage to trees along five major roads in Mataram City, namely Pemuda Street, Lanko Street, Majapahit Street, Sriwijaya Street, and Brawijaya Street. The research employed a forest health monitoring method, focusing on trees within the green belts of these main roads that exhibited severe damage symptoms. The results indicated that the most frequent damage occurred in the lower and upper trunk sections, accounting for 26% of cases. The most common type of damage was canker, observed in 35% of the trees. In terms of damage severity, 71% of the trees had a damage threshold of 20%, and 14% had a threshold of 30%, indicating that the majority of trees along these five roads remain in healthy condition.Keywords: Disaster mitigation, FHM, Tree damage.AbstrakAnalisis tingkat kerusakan pohon di jalur hijau perkotaan penting untuk dilakukan. Hal ini terkait dengan upaya mitigasi pohon tumbang yang berdampak buruk bagi pengguna jalan dan masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kerusakan pada pohon di lima jalan utama Kota Mataram diantaranya Jalan Pemuda, Jalan Lanko, Jalan Majapahit, Jalan Sriwijaya dan Jalan Brawijaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode FHM (forest health monitoring) dan objek dalam penelitian ini adalah pohon yang memiliki gejala kerusakan yang dinilai parah ada di jalur hijau jalan-jalan utama tersebut. Berdasarkan Lokasi Kerusakan Pohon yang paling banyak mengalami kerusakan adalah pada batang bagian bawah dan bagian atas yaitu sebanyak 26%, tipe kerusakan pohon yaitu kanker sebanyak 35 %, tingkat persentase kerusakan pohon berdasarkan nilai ambang 20% sebanyak 71% dan nilai ambang 30% sebanyak 14% yang mengartikan bahwa tingkat keparahan pohon-pohon yang ada di 5 jalan tersebut masih dalam kondisi sehat.Kata kunci: kerusakan pohon, mitigasi bencana, FHM