cover
Contact Name
Oramahi
Contact Email
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Phone
+6281345001010
Journal Mail Official
jurnaltengkawang@untan.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Jalan Imam Bonjol Pontianak 78124 Provinsi Kalimantan Barat Telp dan Faks. 0561-767673
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan
ISSN : 20878788     EISSN : 27146855     DOI : http://dx.doi.org/10.26418/jt.v13i2
Core Subject : Agriculture,
Jurnal ini merupakan jurnal Teknologi Pengembangan Kehutanan dan Lingkungan yang diterbitkan oleh fakultas kehutanan Universitas Tanjungpura Pontianak Kalimantan Barat. Jurnal ini menyajikan artikel mengenai hasil penelitian perkembangan kehutanan dan lingkungan mutakhir meliputi berbagai konsentrasi ilmu di bidang kehutanan yaitu Biologi, Manajemen Hutan, teknologi pengolahan hasil hutan, pengawetan kayu, teknologi peningkatan mutu kayu, budidaya hutan, konservasi sumber daya alam, ekonomi kehutanan, perhutanan sosial dan politik kehutanan serta bidang lingkungan. Setiap naskah yang dikirimkan ke Jurnal ini akan ditelaah oleh mitra bestari yang bidangnya sesuai. Jurnal ini diterbitkan setahun dua kali : Januari dan Juli.
Articles 157 Documents
STRATEGI RESOLUSI KONFLIK TENURIAL PADA PBPH PT. WANA SUBUR PERSADA Rachmad, Harul Mardin; Hardiansyah, Gusti; Rifanjani, Slamet; Roslinda, Emi; Diba, Farah
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.76088

Abstract

This research mapped tenure issues in PBPH PT Wana Subur Persada (WSP) and explored the appropriate strategies and approaches used by PBPH PT WSP in handling tenure conflicts in its area. Researchers analysed the actors involved in this tenure conflict issue using the Rapid Land-Tenure Assessment (RaTA) and Dispute Style Analysis (AGATA) tools with The Thomas Kilmann Instrument. The Kilmann Instrument shows that the disputing style of Karang Betung Village - Kenyabur Village and Teluk Kebau Village - Merabu Jaya Village is Agitation, Tembesuk Village - PT WSP is Compromise and Nanga Engkulun Village - PT WSP is Collaboration. The conflict resolution strategy carried out by PBPH PT WSP in its working area in addition to mediation in positive law and customary law is also carried out by maximising the Corporate Social Responsibility (CSR) program. Community welfare improvement programmes carried out include forestry partnerships, agroforestry development, development of non-timber forest products (NTFPs) and livestock cultivation assistance. So that the community has an income to support the economy while waiting for the results of the HTI land that is cooperated.Keywords: conflict, dispute style analysis, Forest Utilization License, Rapid Land-Tenure Assessment, tenure.AbstrakPenelitian ini memetakan permasalahan tenurial pada PBPH PT. Wana Subur Persada (WSP) serta menggali strategi dan pendekatan yang tepat yang dipakai PBPH PT. WSP dalam penanganan konflik tenurial di wilayahnya. Peneliti menganalisis aktor yang terlibat dalam permasalahan konflik tenurial ini menggunakan alat penilaian Rapid Land-Tenure Assessment (RaTA) dan Analisis Gaya Bersengketa (AGATA) dengan The Thomas Kilmann Instrument. Instrumen Kilmann menunjukkan bahwa gaya bersengketa Desa Karang Betung - Desa Kenyabur dan Desa Teluk Kebau "“ Desa Merabu Jaya adalah Agitasi, Desa Tembesuk "“ PT. WSP adalah Kompromi dan Desa Nanga Engkulun "“ PT. WSP adalah Kolaborasi. Strategi resolusi konflik yang dilakukan oleh PBPH PT. WSP pada areal kerjanya selain dengan jalur mediasi secara hukum positif maupun hukum adat juga dilakukan dengan memaksimalkan program Corporate Social Responsibility (CSR). Program peningkatan kesejahteraan masyarakat yang dilakukan antara lain dengan kemitraan kehutanan, pengembangan agroforestry, pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan bantuan budidaya ternak. Sehingga masyarakat memiliki penghasilan penunjang perekonomian selama menanti hasil dari lahan HTI yang dikerjasamakan.  Kata kunci:  konflik, analisis gaya bersengketa, Periizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan, Rapid Land-Tenure Assessment, tenurial
ANALISIS PENDUGAAN CADANGAN KARBON DI RUANG TERBUKA HIJAU PADA LINGKUNGAN PERKANTORAN PEMERINTAH PROVINSI BENGKULU Analysis of Carbon Stock Estimation in Green Open Spaces within the Government Office Environment) Susanti, Amelia Dwi; Nahlunnisa, Hafizah; Wiryono, Wiryono; Yansen, Yansen; Aprilensi, Susan
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.91154

Abstract

Global warming is a phenomenon caused by increased emissions of greenhouse gases in atmosphere, namelycarbon dioxide (CO2), methane (CH4), and nitrous (N2O) oxide. The greenhouse gas that has a big influence on rising air temperatures at the earth's surface is carbon dioxide (CO2),whose concentration increases every year. Trees in the green open space area in theBengkulu Province Government Offices have an important role in reducing carbon emissions. This research aimed to determine the carbon stored in trees and poles in Bengkulu Province Office Parks. The research was conducted from May to July 2017 using sensus method. The carbon storage was estimated using allometric models. The research results showed that the total stored carbon was 123.38 tons/ha, while the total biomass was 457.97 tons. The plant species with the highest carbon storage were Tanjung (21.69 tons/ha), Mahogany (21.25 tons/ha), and Angsana (20.66 tons/ha). The location with the highest carbon storage was the Bengkulu Governor's Office, with a total carbon of 44.56 tons/ha and 86 individual trees.. Keywords: Allometric models, carbon reserves, global warming, green open spaces, governmental office complex. Abstrak Pemanasan global merupakan fenomena yang disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer seperti gas karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous (N2O). Gas rumah kaca yang sangat berpengaruh besar terhadap naiknya suhu udara di permukaan bumi adalah karbon dioksida (CO2) yang konsentrasinya mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pepohonan yang berada di area Ruang Terbuka Hijau pada Lingkungan Perkantoran Pemerintah Provinsi Bengkulu memiliki peran penting untuk mendukung penurunan emisi karbon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cadangan karbon tersimpan di pohon dan tiang di Taman Lingkungan Perkantoran Pemerintah Provinsi Bengkulu. Penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2017 dengan menggunakan metode sensus. Cadangan karbon dihitung dengan menggunakan model allometrik. Hasil penelitian menunjukkan total karbon tersimpan adalah 123.38 ton/ha, sedangkan total biomassa sebesar 457.97 ton. Jenis tumbuhan yang memiliki simpanan karbon tertinggi adalah Tanjung 21.69 ton/ha, mahoni 21.25 ton/ha, angsana 20.66 ton/ha. Lokasi yang paling banyak memiliki simpanan karbon adalah Kantor Gubernur Bengkulu dengan total karbon 44.56 ton/ha, dengan jumlah individu 86. Kata kunci: Cadangan karbon, model allometrik, pemanasan global, ruang terbuka hijau, taman lingkungan perkantoran
EVALUASI LAJU MAKAN DAN DAYA HIDUP RAYAP TANAH Coptotermes curvignathus PADA KAYU SENGON DAN KARET DI LABORATORIUM UNTUK UJI KEAWETAN KAYU Andika, Riki; Retmadhona, Ichma Yeldha; Arinana, Arinana
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.94373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dinamika populasi, aktivitas makan, serta laju konsumsi (feeding rate) rayap tanah Coptotermes curvignathus pada pengujian keawetan kayu menggunakan umpan kayu sengon dan kayu karet di laboratorium. Sampel kayu dikondisikan sesuai standar SNI 01.7207-2006 dan diuji selama 6 minggu dengan pengamatan berkala terhadap jumlah rayap hidup, berat kayu, dan aktivitas makan. Hasil menunjukkan bahwa rayap lebih aktif mengonsumsi kayu karet dibandingkan kayu sengon, namun nilai feeding rate tertinggi justru tercatat pada kayu sengon sebesar 61,03 μg/ekor/hari. Mortalitas rayap meningkat signifikan setelah minggu ke-4 dan seluruh koloni diperkirakan mati pada hari ke-57. Berdasarkan penurunan jumlah rayap dan berat kayu, minggu ke-4 ditentukan sebagai waktu pengujian paling efisien. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah dalam pengembangan metode uji keawetan kayu yang lebih efisien dan terstandarisasi
CIRI MAKROSKOPIS DAN SIFAT FISIS KAYU TRENGGULI (Cassia fistula .L) ASAL KABUPATEN KUPANG Piter, Serlius; Manek, Luisa Moi; Davinsy, Rynaldo; Ranta, Fabianus; Adrin, Adrin
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.93550

Abstract

The demand for commercial timber in Indonesian continue to increase, while the potential of production forests is decreasing. Therefore, an optimal forest management strategy is needed as a source of raw timber materials, including using quality plant types with fast-growing riaps. One of the potential species is (Cassia fistula L). or Trengguli which is widely found in the province of East Nusa Tenggara, especially Kupang City. However, information about the physical properties of Trengguli limited wood. The research purposes whose physical properties are determined and macroscopic characteristics of Trengguli wood at the base, middle, and end. Physical tested include moisture content, specific gravity, shrinkage, thickness expansion, and water absorption. Samples were taken from the field and tested in the laboratory using the Complete Random Design (RAL) method and analyzed using ANOVA. The results showed an average moisture content of 46%, specific gravity of 0.83, tangential shrinkage of 5.3-6.9%, radial 2.9-4.9%, and longitudinal 0.4-0,5%. Thick development after 2 hours ranges from 0.4-0.6% and after 24 hours 0.5-0.9%. Water absorption after 2 hours ranges from 0.7-1.6% and after 24 hours 1.4-2.7%. Based on ANOVA analysis, the position of the axial wood no real effect on physical properties. This study provides important information about the characteristics of Trengguli wood to support its use as a raw material for commercial wood. Keywords: Trengguli, macroscopic characteristics, physical properties, axial position, wood utilization. Abstrak Kebutuhan kayu komersial di Indonesia terus mengalami peningkatan, sementara hutan produksi terus berkurang. Oleh karena itu, strategi pengelolaan hutan yang optimal sangat diperlukan sebagai sumber kayu, termasuk melalui pemanfaatan jenis tanaman berkualitas dengan riap tumbuh cepat. Salah satu spesies yang berpotensi adalah (Cassia fistula L) atau Trengguli yang banyak ditemukan di Kota Kupang Provinsi NTT. Namun, informasi tentang sifat fisis kayu Trengguli masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini ialah sifat fisis dan ciri makroskopis kayu Trengguli bagian pangkal, tengah, dan ujung. Sifat fisis yang diuji meliputi kadar air, berat jenis, penyusutan, pengembangan tebal, dan daya serap air. Sampel diambil dari lapangan dan diuji di laboratorium dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dan dianalisis menggunakan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar air 46%, berat jenis 0,83, penyusutan tangensial 5,3-6,9%, radial 2,9-4,9%, dan longitudinal 0,4-05%. Pengembangan tebal setelah 2 jam berkisar 0,4-0,5% dan setelah 24 jam 0,4-0,7%. Daya serap air setelah 2 jam berkisar 0,9-1,0% dan setelah 24 jam 1,1-1,7%. Analisis ANOVA menjelaskan bahwa tidak terdapat pengaruh signifikan dari posisi aksial terhadap sifat fisis kayu Trengguli. Penelitian ini memberikan informasi penting tentang karakteristik kayu Trengguli untuk mendukung pemanfaatannya sebagai bahan baku kayu komersial. Kata kunci: Pemanfaatan kayu, posisi aksial, sifat makroskopis, sifat fisis, Trengguli
SIFAT FISIS BRIKET ARANG DARI LIMBAH BIOMASSA SERBUK KAYU DAN CANGKANG KEMIRI Lestari, Dini; Wulandari, Febriana Tri
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.90545

Abstract

Utilization of waste in the form of hazelnut shells and sawdust into charcoal briquettes is an application of appropriate technology in reducing adverse environmental impacts. The study used hazelnut shell and sawdust as raw materials. By evaluating the physical characteristics of charcoal briquettes made from sawdust and candlenut shells, such as moisture content, ash content, calorific value, fly content, and bound carbon, this study aims to assess the quality of these charcoal briquettes and assess whether the use of these calorific value, fly content, and bound carbon, this study aims to assess the quality of these charcoal briquettes and assess whether the use of these charcoal briquettes as alternative fuels can be carried out in accordance with SNI 01-6235-2000 standards. A factorial randomized complete block design (CRD) with two raw material treatments and three replications was the experimental methodology used in this study. The results of the analysis of variance test showed that the amount of fly matter and bound carbon content were not significantly affected by the type of raw material treatment, but the moisture content, ash content, and calorific value were significantly affected. Based on the test results, the physical values that meet the requirements of SNI 01-6235-2000 are moisture content, ash content, and fly content, while the calorific value and bound carbon content are not. Based on the test results, wood powder and hazelnut shell charcoal briquettes are not suitable for use due to high ash content and low bound carbon value, which will cause poor combustion. Keywords: candlenut, charcoal briquettes, sawmill waste. Abstrak Pemanfaatan limbah berupa cangkang kemiri dan serbuk kayu menjadi briket arang merupakan pengaplikasi teknologi tepat guna dalam mengurangi dampak buruk lingkungan. Penelitian menggunakan bahan baku cangkang kemiri dan serbuk kayu. Dengan mengevaluasi karakteristik fisik briket arang yang terbuat dari serbuk gergaji dan cangkang kemiri, seperti kadar air, kadar abu, nilai kalor, kadar zat terbang, dan karbon terikat, penelitian ini bertujuan untuk menilai kualitas briket arang tersebut dan menilai apakah penggunaan briket arang tersebut sebagai bahan bakar alternatif dapat dilakukan sesuai dengan standar SNI 01-6235-2000. Rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan dua perlakuan jenis bahan baku dan tiga kali ulangan merupakan metodologi percobaan yang digunakan dalam penelitian ini. Hasil uji analisis varians menunjukkan bahwa jumlah zat terbang dan kadar karbon terikat tidak dipengaruhi secara signifikan oleh jenis perlakuan bahan baku, namun kadar air, kadar abu, dan nilai kalor dipengaruhi secara signifikan. Berdasarkan hasil pengujian, nilai fisik yang memenuhi persyaratan SNI 01-6235-2000 adalah kadar air, kadar abu, dan kadar zat terbang, sedangkan nilai kalor dan kadar karbon terikat tidak. Berdasarkan hasil pengujian, briket serbuk kayu dan arang tempurung kemiri belum layak untuk digunakan karena kadar abu yang tinggi dan nilai karbon terikat yang rendah, yang akan menyebabkan pembakaran yang kurang baik. Kata kunci: kemiri, briket arang, limbah penggergajian
KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN PADA TIAP TIPE HABITAT DI KAWASAN TAMAN NASIONAL ZAMRUD, RIAU Hidayat, Imam
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.91753

Abstract

Zamrud National Park is home to a peatland ecosystem known for its high biodiversity. Peatlands play a vital role in various ecological functions, including hydrological regulation, carbon sequestration, and providing habitat for a wide range of flora and fauna. This study aimed to analyze plant species diversity and the Importance Value Index (IVI) across different habitat types within Zamrud National Park in Riau. The research was conducted in October 2017. Data collection utilized the Stratified Random Sampling method, while Nested Sampling was employed to gather vegetation data across three habitat types: primary forest, secondary forest, and post-fire area. For data analysis, we used the Shannon-Wiener diversity index and the Importance Value Index (IVI). The analysis revealed that the primary forest had the highest species diversity (H' = 3.57), followed by the secondary forest (H' = 3.3) and the post-fire area (H' = 1.54). The IVI calculations showed that the primary forest was dominated by Syzygium abulugense at the sapling stage and Shorea leprosula at the tree stage. In the secondary forest, Syzygium palembanicum was dominant at the seedling stage, followed by Syzygium abulugense at the sapling stage, Gluta velutina at the pole stage, and Castanopsis fulva at the tree stage. The post-fire habitat was predominantly made up of Polypodium sp. at the seedling stage, Vitex pinnata at the sapling stage, and Shorea uliginosa at the tree stage. The findings of this study highlight the need for sustainable management of primary forest habitats to conserve plant diversity and maintain their ecological functions. Additionally, there is a need for revegetation efforts to enhance plant diversity in post-fire habitats. Keywords: Habitat Types, Importance Value Index, Peatlands, Plant Diversity, Zamrud National Park, Abstrak Taman Nasional Zamrud merupakan salah satu ekosistem gambut yang memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Lahan gambut merupakan ekosistem penting dengan fungsi ekologis yang beragam, termasuk pengaturan hidrologi, penyimpanan karbon, dan habitat flora fauna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keanekaragaman jenis tumbuhan dan Indeks Nilai Penting (INP) pada berbagai tipe habitat di Taman Nasional Zamrud, Riau. Penelitian dilakukan pada Oktober 2017. Pengambilan data dilakukan menggunakan metode Stratified Random Sampling. Metode Nested Sampling digunakan untuk mengumpulkan data vegetasi pada 3 tipe habitat (hutan primer, hutan sekunder, dan bekas kebakaran). Analisis data dilakukan menggunakan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener dan Indeks Nilai Penting (INP). Berdasarkan hasil analisis keanekaragaman jenis pada tiap habitat di TN Zamrud, hutan primer memiliki keanekaragaman tertinggi (H'=3,57), kemudian diikuti oleh hutan sekunder (H'=3,3) dan bekas kebakaran (H'=1,54). Hasil perhitungan INP menunjukkan bahwa hutan primer didominasi oleh jenis Kelat putih (Syzygium abulugense) pada tingkat sapihan dan Meranti bunga (Shorea leprosula) pada tingkat pohon. Hutan sekunder didominasi oleh jenis Kelat merah (Syzygium palembanicum) pada tingkat semai, Kelat putih (Syzygium abulugense) pada tingkat sapihan, Kelakap (Gluta velutina) pada tingkat tiang, dan Cepening (Castanopsis fulva) pada tingkat pohon. Habitat bekas kebakaran didominasi oleh jenis Paku-pakuan (Polypodium sp.) pada tingkat semai, Laban (Vitex pinnata) pada tingkat sapihan, dan Meranti bakau (Shorea uliginosa) pada tingkat pohon. Hasil studi memberikan implikasi bahwa diperlukan pengelolaan berkelanjutan terhadap habitat hutan primer untuk menjaga keanekaragaman tumbuhan dan mempertahankan fungsi ekologinya, serta upaya revegetasi untuk meningkatkan keanekaragaman tumbuhan pada habitat bekas kebakaran. Kata kunci: Tipe Habitat, Indeks Nilai Penting, Lahan Gambut, Keanekaragaman Tumbuhan Lahan Gambut, Taman Nasional Zamrud.
KORELASI ANTARA PARAMETER PERTUMBUHAN DAN PANJANG SERAT KAYU DALAM SELEKSI KLON EUCALYPTUS UNTUK INDUSTRI PULP Fadwati, Alfia Dewi
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.93218

Abstract

This study aims to investigate the correlation between tree growth parameters tree height, stem diameter, and volume and wood fiber length in elite Eucalyptus pellita clones aged 3.5 years in Loa-Kulu District, East Kalimantan. Fifty clones were tested using a randomized complete block design (RCBD) with five replications per clone. Growth data were collected through measurements of height and stem diameter, followed by analysis using analysis of variance and Best Linear Unbiased Prediction (BLUP) for clone ranking. Wood samples were taken from selected clones categorized by fast, medium, and slow growth rates to measure fiber length. The results showed significant genetic variation among clones in growth traits (p < 0.0001), with fast-growing clones exhibiting higher values in height, diameter, and volume compared to other categories. Fiber length values revealed significant differences among clones but not across growth rate categories, and their correlations with growth parameters were low and statistically insignificant. Although not statistically significant, genetic correlation values were in the moderate range, indicating that direct measurement of wood properties remains an important aspect in clone selection. These findings suggest that growth traits and fiber length are controlled by different genetic mechanisms; therefore, clone selection should integrate both aspects to meet the demands of the paper industry. This approach is expected to enhance breeding efficiency and improve the quality of sustainable paper raw materials. Keywords: Clone selection, Eucalyptus pellita, genetic correlation, wood fiber length. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji korelasi antara parameter pertumbuhan pohon tinggi pohon, diameter batang, dan volume dengan panjang serat kayu pada klon unggulan Eucalyptus pellita berumur 3,5 tahun di Kecamatan Loa-Kulu, Kalimantan Timur. Sebanyak 50 klon diuji menggunakan rancangan acak kelompok lengkap (RCBD) dengan 5 replikasi per klon. Data pertumbuhan dikumpulkan melalui pengukuran tinggi dan diameter batang, lalu dianalisis menggunakan analisis varians dan metode Best Linear Unbiased Prediction (BLUP) untuk perankingan klon. Sampel kayu diambil dari klon terpilih berdasarkan kategori pertumbuhan cepat, sedang, dan lambat untuk pengukuran panjang serat kayu. Hasil menunjukkan variasi genetik signifikan antar klon pada sifat pertumbuhan (p < 0,0001), dengan klon cepat tumbuh memiliki nilai tinggi pohon, diameter, dan volume lebih tinggi dibanding kategori lain. Nilai panjang serat kayu menunjukkan perbedaan signifikan antar klonnya tetapi tidak dengan antar kelas kategori pertumbuhan dan korelasinya dengan parameter pertumbuhan rendah dan tidak signifikan. Meskipun tidak signifikan secara statistik, nilai korelasi genetik berada dalam rentang sedang, yang menandakan bahwa pengukuran langsung sifat kayu tetap merupakan aspek penting dalam seleksi klon. Temuan ini mengindikasikan bahwa sifat pertumbuhan dan panjang serat dikontrol oleh mekanisme genetik yang berbeda sehingga seleksi klon harus mempertimbangkan kedua aspek secara terpadu untuk memenuhi kebutuhan industri kertas. Pendekatan ini diharapkan meningkatkan efisiensi pemuliaan dan kualitas bahan baku kertas yang berkelanjutan. Kata kunci: seleksi klon, Eucalyptus pellita, korelasi genetik panjang serat kayu.
KAJIAN ETNOZOOLOGI MASYARAKAT DAYAK BAKATI DI DESA BENGKILU KECAMATAN TUJUH BELAS KABUPATEN BENGKAYANG hero, paulinus; Sisillia, Lolyta; Yusro, Fathul
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 1 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i1.84587

Abstract

Forests have various types of animals that can be used by humans to meet their daily needs. a type of animal that is used as a source of food by humans that can produce energy as a source of protein, vitamins, fats and minerals. This study aims to analyze the use of animals by the Bakati Dayak community in Kampung Bengkilu. The research was carried out in Bengkilu Village, Tujuh Belas District, Bengkayang Regency. Data collection was carried out using a survey method with a purposive sampling technique using the Slovin formula. Data analysis used qualitative descriptive analysis. Based on the results of the study, there were 50 types of animals belonging to 36 families that were used. These uses were divided into 7 categories, namely traditional rituals, mysticism, medicine, hunting, food, artistic value and trade. Based on the class level, 9 classes of animals were obtained. The highest use value (UV) was the roaming chicken (Gallus domesticus) with a value of (0.91). The highest FL value (100) was gecko, lizard, in the lizard food category, nasi kareo, tengkuyung and catfish. Keywords: Dayak Bakati, Ethnozoology, Utilization. Abstrak Hutan memiliki beragam jenis hewan yang bisa dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi kebutuhan hidup. jenis hewan yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan oleh manusia yang dapat menghasilkan energi sebagai sumber protein, vitamin, lemak, dan mineral. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis pemanfaatan hewan oleh masyarakat Dayak Bakati di Desa Bengkilu. Penelitian dilakukan di Desa Bengkilu Kecamatan Tujuh Belas Kabupaten Bengkayang. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survei dengan teknik pengambilan sampel secara Purposive Sampling menggunakan Rumus Slovin. Analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian terdapat 50 jenis hewan yang termasuk dalam 36 famili yang dimanfaatkan. Pemanfaatan ini terbagi menjadi 7 kategori yaitu ritual adat, mistis, pengobatan, berburu, bahan pangan, nilai seni, dan perdagangan. Berdasarkan tingkat kelas diperoleh 9 kelas hewan. Hasil nilai pemanfaatan (UV) tertinggi yaitu ayam kampung (Gallus domesticus) dengan nilai (0,91). Nilai FL tertinggi (100) yaitu hewan tokek, cicak, pada kategori bahan pangan berupa hewan biawak, kareo padi, tengkuyung dan ikan lele. Kata Kunci : Dayak Bakati, Etnozoologi, Pemanfaatan.
PENGARUH PEMBERIAN KASGOT PADA MEDIA SAPIH TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI KAYU PUTIH (Melaleuca cajuputi) Benu, Yakub; Manek, Luisa Moi; Purba, Mahardika Putra; Aryani, Ni Kade Ayu D; Aramak, Fredrik S.; Pobas, Melkianus
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 2 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i2.95395

Abstract

Cajuput oil plays a pivotal role in the production of various products, particularly essential oils. This growing demand has led to increased exploitation of woody plants, raising concerns about the sustainability of raw material supply. To support the cajuput oil industry, silvicultural interventions such as optimizing planting techniques are essential. The optimal growth of cajuput seedlings is a critical factor in ensuring successful cultivation and consistent production. One alternative to enhance seedling growth is the use of kasgot (maggot residue) as a weaning medium. Kasgot, a by-product of the black soldier fly (Hermetia illucens) larval digestion process, has been recognized for its potential to improve soil and growing media fertility. This study aimed to determine the most effective dosage of kasgot for promoting the growth of Melaleuca cajuputi seedlings. The research was conducted over a two month (January"“March 2025) at the Forestry Nursery of the Kupang State Agricultural Polytechnic. A completely randomized design (CRD) was employed, with five treatment compositions of weaning media: MK0 (soil:sand = 1:1), MK1 (soil:sand:kasgot = 1:1:1), MK2 (1:1:2), MK3 (1:1:3), and MK4 (1:1:4). Each treatment was replicated three times. The results demonstrated that the MK1 treatment (1:1:1 ratio of soil, sand, and kasgot) was the most effective in supporting the growth of cajuput seedlings. Keywords: cajuput, growth, seedling, weaning medium. Abstrak Minyak kayu putih memiliki peran penting untuk mendukung berbagai macam produk, terutama minyak atsiri. Hal ini berpengaruh terhadap lonjakan ekspoitasi tanaman kayu yang dikhawatirkan akan berdampak pada terbatasnya suplai produk. Upaya silvikultur yang dapat dilakukan untuk industri minyak kayu putih adalah optimalisasi kegiatan penanaman. Pertumbuhan yang optimal dari semai kayu putih sangat penting untuk memastikan keberhasilan budidaya dan produksi. Penggunaan kasgot sebagai media sapih merupakan salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk memaksimalkan pertumbuhan tanaman kayu putih. Kasgot (bekas maggot) adalah sisa proses pencernaan makanan dari belatung maggot lalat tentara hitam (BSF) yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan media tanam. Riset ini bertujuan mengkaji dosis yang efektif dari pemberian kasgot terhadap pertumbuhan semai Melaleuca cajuputi. Riset ini dilakukan selama dua bulan (Januari-Maret 2025) di Persemaian Jurusan Kehutanan, Politeknik Pertanian Negeri Kupang. Riset ini menerapkan rancangan acak lengkap. Perlakuannya adalah media sapih yang terdiri dari komposisi tanah, pasir dan kasgot. MK0: (1:1), MK1: (1:1:1), MK2: (1:1:2), MK3: (1:1:3) dan MK4: (1:1:4), dan diulang sebanyak 3 kali. Hasilnya menginformasikan jika kombinasi media sapih paling efektif untuk pertumbuhan semai kayu putih adalah perlakuan MK1 (tanah + pasir + kasgot) (1:1:1). Kata kunci: kayu putih, pertumbuhan, semai, media sapih
HUBUNGAN KERAPATAN VEGETASI DAN STOK KARBON BAGIAN ATAS PERMUKAAN TANAH PADA HUTAN MANGROVE DI DESA SUNGAI KUPAH Erwan, Erwan; Anshari, Gusti Zakaria; Hardiansyah, Gusti
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 15, No 2 (2025): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v15i2.76990

Abstract

The carbon storage in mangrove forest plays a crucial role in climate change mitigation. Sungai kupah village is an ecotourism village engaged in mangrove forest tourism restoration. Therefore, the government"™s program to preserve mangrove forst aligns with the conservation efforts undertaken by tourism enthusiasts. Hence, a study is needed on carbon stock reserves at several locations in the Sungai kupah mangrove forest. This research utilized non-destructive sampling method and applied available allometric equations. Data collection involved measuring the diameter of breast height of trees within 10 x 10 meter sample plots with a 5 meter plot interval. The research results indicated an average carbon stock production in above ground biomass of 167.05 tons/ha along the entire path. The highest carbon content was found in path three at 96.46 tons/ha, followed by path two at 72.29 tons/ha, and the smallest in path one at 12.94 tons/ha. Based on the growth rate, the highest stored carbon value for trees is found on line 3, with a value of 83.21 tons/ha, while for seedlings on line 3, it is 13.25 tons/ha. The dominant vegetation species in each zone are Sonneratia caseolaris in line I, and Avicennia lanata in both line II and line III. Therefore, the vegetation density in each zone is related to the biomass value obtained and the carbon stock. Keywords: allometric, biomass, carbon, mangroves, mitigation. Abstrak Penyimpan karbon pada hutan mangrove mempengaruhi kinerja mitigasi perubahan iklim. Desa Sungai Kupah merupakan Desa Ekowisata yang bergerak dalam restorasi wisata hutan mangrove. Sehingga program pemerintah dalam melestarikan hutan mangrove bergerak selaras dengan pelestarian yang dilakukan oleh penggiat wisata. Oleh sebab itu perlunya studi penelitian cadangan stok karbon pada sejumlah lokasi di hutan mangrove Sungai Kupah. Penelitian ini menggunakan metode non destruktif sampling dan menerapkan persamaan allometrik yang telah tersedia. Pengumpulan data dilakukan dengan mengukur diameter pohon setengah dada di dalam plot pengambilan sampel berukuran 10 x 10 meter dan jangkauan antara plot sebesar 5 meter. Hasil penelitian menunjukkan rerata produksi stok karbon pada biomassa atas permukaan keseluruhan jalur diperoleh sebesar 167,05 ton/ha. Kandungan karbon tertinggi terdapat pada jalur 3 sebesar 96,46 ton/ha, kemudian jalur 2 sebesar 72,29 ton/ha dan yang terkecil berada pada jalur 1 sebesar 12,94 ton/ha. Berdasarkan tingkat pertumbuhan, untuk pohon nilai karbon tersimpan tertinggi berada pada jalur 3 dengan masing-masing nilai sebesar 83,21 ton/ha dan untuk pancang pada jalur 3 sebesar 13,25 ton/ha. Jenis vegetasi yang mendominasi setiap zonasi yaitu pada jalur I didominasi oleh jenis Sonneratia caseolaris dan jalur II dan Jalur III didominasi oleh jenis Avicennia lanata. Sehingga besar nilai kerapatan pada tiap vegetasi memiliki hubungan dengan nilai biomassa yang diperoleh maupun stok karbon. Kata kunci: allometrik, biomassa, karbon, mangrove, mitigasi