cover
Contact Name
Yani Osmawati
Contact Email
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Phone
+6221-5853753
Journal Mail Official
jurnaldeviance@budiluhur.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Ciledug, Petukangan Utara, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12260
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Deviance: Jurnal Kriminologi
ISSN : 25803158     EISSN : 25803166     DOI : -
Core Subject : Social,
Deviance Jurnal Kriminologi (ISSN 2580-3158 for printed version and ISSN 2580-3166 Online version), is a peer-reviewed, open-access journal published by Universitas Budi Luhur. This journal publishes twice a year (June and December). Deviance Jurnal Kriminologi publishes articles on criminological Issue. The journal invites scholar to submit original articles from variety of persperctives (sociological, philosophical, geographical, psychological, jurisprudential, cultural, political, policy standpoints, etc), focusing on crime and society
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021)" : 10 Documents clear
Anak Sebagai “Pembunuh”: Studi terhadap 3 Kasus Kejahatan Anak yang Terjadi di Wilayah Polsek X Tahun 2015-2020 Fernandes, Nurcahyo
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anak merupakan suatu generasi penerus dan simbol harapan dari keluarga akan adanya masa depan yang lebih baik. Namun saat anak melakukan kenakalan hingga berujung pada anak berhadapan dengan hukum, maka semuanya akan berubah. Kejahatan yang diteliti adalah pembunuhan dimana perbuatan tersebut merupakan bagian dari kejahatan kekerasan. Penelitian kali ini menganalisa bagaimana pola dan profil anak sebagai pembunuh serta faktor penyebab yang membuat anak menjadi pembunuh. Penelitian dilakukan terhadap 3 (tiga) kasus kejahatan yang terjadi di Polsek X dalam kurun waktu 2015-2020. Data yang dianalisa yaitu berupa uraian pemeriksaan petugas kepolisian serta wawancara tidak terstruktur oleh peneliti kepada para narasumber. Peneliti melihat adanya persamaan dan perbedaan suatu pola pembunuhan yang dilakukan oleh anak serta terlihat bagaimana profil anak sebagai pelaku pembunuhan. Pola kejahahan serta profil kejahatan merupakan suatu hal penting yang dibutuhkan dalam mencari tahu mengapa anak melakukan pembunuhan. Anak memerlukan kontrol sosial sebagai penyeimbang agar perilakunya dapat terkontrol. Selain itu, pemilihan teman serta pergaulan yang salah dapat membuat anak jatuh dalam kenakalan bahkan terlibat masalah hukum. Kesimpulan yang didapat dalam penelitian ini yaitu terjadinya anak melakukan kejahatan pembunuhan dikarenakan ”kurangnya kontrol diri serta adanya pembelajaran sosial dari lingkungan sekitar”.
Strategi Pencegahan untuk Mengatasi Kekosongan Norma terhadap Gratifikasi Seksual sebagai Kejahatan Korupsi Kresna, Erlita; Darmawan, Mohammad Kemal
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permasalahan korupsi di Indonesia, terutama dalam bentuk gratifikasi masih marak terjadi dan sulit diatasi, namun lebih jauh terdapat bentuk gratifikasi lain yang belum secara komprehensif diatur dan dikriminalisasi, yaitu gratifikasi seksual. Penelitian ini berupaya melihat gratifikasi seksual pada berbagai kasus korupsi di indonesia sebagai bentuk kejahatan dan serta berupaya menawarkan model pencegahannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis terhadap kajian literatur ilmiah, disertai pula dengan wawancara mendalam kepada informan pelaku gratifikasi seksual, Direktorat Gratifikasi KPK, Jaksa, Kriminolog dan LSM. Temuan penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwa terdapat kekosongan norma hukum berkaitan dengan fenomena ini, begitu pula norma sosial yang kemudian membuatnya sulit dideteksi dan dipidanakan. Melalui teori fraud triangle oleh Cressey (1958) penelitian ini mengajukan strategi pencegahan gratifikasi seksual. Penggunaan konsep Cressey (1958) untuk menjelaskan proses dan faktor-faktor terjadinya gratifikasi seksual yang kemudian dikaitkan dengan mengapa gratifikasi layanan seks ini belum diatur secara eksplisit dalam ketentuan UU Tindak Pidana Korupsi di Indonesia yang dapat dimaknai sebagai terjadinya kekosongan norma. Tindakan-tindakan korup yang jika mengacu Donald R. Cressey (1950) merupakan perilaku yang dipengaruhi faktor fraud triangle, yaitu pressure, opportunity, dan rationalization.
Pengendalian Kejahatan pada Sub-Kebudayaan Geng Klitih dalam Paradigma Kriminologi Budaya Harahap, Chisa; Sulhin, Iqrak
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Geng Klitih di Kota Yogyakarta pada umumnya bukanlah merupakan suatu tren kekerasan yang baru. Meski demikian, hingga saat ini belum ditemukan pola pengendalian terhadap fenomena yang mendasarkan kejahatan sebagai budaya kelompoknya. Dinamika geng klitih yang cepat serta digawangi oleh para remaja di bawah umur nyatanya hanya salah satu dari banyak faktor rumitnya menangani kasus street crime tersebut. Fenomena ini tidak semata dilihat sebagai kelompok kekerasan remaja yang dikendalikan secara represif. Di dalam kriminologi budaya, klitih sebagai subkultur menyimpang yang memilih jalan bahwa kekerasan telah menjadi budaya atau crime as culture dalam lingkup pergaulan mereka. Agen kontrol sosial yang kemudian menjadi perhatian dalam penelitian ini melibatkan aparat penegak hukum sekaligus partisipasi masyarakat. Strategi pengendalian kejahatan melalui pelatihan kerja dan sejenisnya atau community based diperlukan sebagai upaya resosialisasi.
Aplikasi Penerapan Teori Fraud Triangle terhadap Kasus Gratifikasi Seksual sebagai Bentuk Kejatahan Korupsi Erlita Kresna
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.1209

Abstract

Permasalahan korupsi di Indonesia, terutama dalam bentuk gratifikasi, masih marak terjadi dan sulit diatasi. Terdapat gratifikasi dalam bentuk lain yang belum diatur dan dikriminalisasi secara komprehensif, yaitu gratifikasi seksual. Penelitian ini berupaya melihat gratifikasi seksual pada berbagai kasus korupsi di Indonesia sebagai bentuk kejahatan dan serta berupaya menawarkan model pencegahannya. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan analisis kajian literatur ilmiah serta wawancara mendalam kepada beberapa informan terkait gratifikasi seksual, yaitu Direktorat Gratifikasi KPK, Jaksa, Kriminolog dan LSM. Artikel ini menggunakan teori fraud triangle oleh Cressey (1958) yang menyatakan bahwa Tindakan korup merupakan perilaku yang dipengaruhi faktor fraud triangle, yaitu pressure, opportunity, dan rationalization. Penggunaan konsep tersebut ditujukan untuk untuk menjelaskan proses dan faktor-faktor terjadinya gratifikasi sekusal di Indonesia.
KATA PENGANTAR DEVIANCE JURNAL KRIMINOLOGI VOLUME 5 NOMOR 1 TAHUN 2021 Nadia Utami Larasati
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.v5i1.2175

Abstract

Terima kasih kami ucapkan kepada para pembaca dan pemangku kepentingan yang telah mendukung terbitnya Jurnal Deviance Volume 5 Nomor 1 Tahun 2021. Kami pun berterimakasih atas masukan dan saran konstruktif dari semua pihak sehingga Jurnal Deviance dapat berbenah diri untuk meningkatkan kualitas substansi dan tampilannya. Hasil kolaborasi penelitian antar universitas oleh Nibras K. Ramadhani, Muhammad A.S. Hikam, dan Fahlesa Munabari menjadi artikel pembuka dengan mengupas kerja sama intelijen dalam rangka pemberantasan terorisme antara pemerintah Indonesia dengan Australia. Artikel berjudul “The Joint Efforts of Indonesian and Australian Governments in Countering Terrorism: Intelligence Cooperation” ini menggnakan perspektif kerja sama bilateral sebagai pisau analisis. Temuan artikel ini menunjukkan bahwa pentingnya kerja sama khususnya di bidang intelijen dengan negara-negara tetangga secara lebih komprehensif sebagai upaya menangkal terorisme dan radikalisme di Indonesia. Artikel ini sebagai bukti keberagaman topik sosiologi perilaku menyimpang yang menjadi ciri khas dari Jurnal Deviance. Dengan kata lain, terorisme dan radikalisme sebagai manifestasi perilaku menyimpang bisa juga dikaji dari sudut pandang disipilin ilmu Hubungan Internasional melalui kajian komparasi dengan negara lain. Artikel berikutnya ditulis oleh Lucky Nurhadiyanto dan Putri Puspita. Artikel yang berjudul “Penodaan Agama Ditinjau dari Perspektif Teori Konflik: Studi Kasus Pasal Penodaan Agama di Tanjung Balai” ini menganalisis bagaimana pendefinisian penodaan agama oleh masyarakat mayoritas yang terjadi pada kasus pasal penodaan agama yang menjerat Meliana di Tanjung Balai dengan menggunakan teori konflik. Studi ini menemukan bahwa tuduhan penodaan agama terhadap Meliana didefinisikan oleh masyarakat yang menganut agama mayoritas di Tanjung Balai, yaitu umat Islam, sebagai penodaan agama (religious insult). Permasalahan korupsi di Indonesia, terutama dalam bentuk gratifikasi, masih marak terjadi dan sulit diatasi. Erlita Kresna menjadi penulis naskah berikutnya berjudul “Aplikasi Penerapan Teori Fraud Triangle terhadap Kasus Gratifikasi Seksual sebagai Bentuk Kejatahan Korupsi”. Artikel ini menemukan bahwa gratifikasi seksual normalnya bukan suatu kejahatan yang berdiri sendiri, bahkan menjadi pintu awal terjadinya kejahatan-kejahatan lain yang lebih besar. Pandemi COVID-19 membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia. Dampak ini diperparah dengan adanya regulasi PPKM (Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang ditetapkan oleh pemerintah. Pada naskah berikutnya, Rio Rahmawanto, Ayu Diah Parwati, Cornelia Ingrid Setiawan, Michelle Pearlyna Setiawan, dan Nabiel Azriel Wirayudha mengkaji pengaruh PPKM terhadap potensi masyarakat menjadi pelaku dan korban kejahatan jalanan di Kecamatan Beji, Depok. Artikel ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara efektivitas regulasi PPKM dan juga perilaku masyarakat yang berpotensi menjadi pelaku maupun korban kejahatan jalanan di daerah tersebut. Hal ini disebabkan kurang efisiennya upaya pencegahan kejahatan jalanan pada masa pandemi. Naskah kelima ditulis oleh Rintan Puspita Sari. Artikel yang berjudul “Persekusi Doxing sebagai Pola Baru Viktimisasi terhadap Jurnalis di Indonesia” ini bertujuan untuk mengetahui pola baru viktimisasi terhadap jurnalis di Indonesia dalam hal ini adalah persekusi doxing atau kekerasan yang terjadi secara virtual. Artikel ini menemukan kesamaan pola terjadinya persekusi doxing dengan pola kekerasan fisik yang dialami jurnalis: setelah artikel terbit, identitas jurnalis digali kemudian setelah identitas ditemukan, mereka akan jadi sasaran persekusi. Naskah terakhir ditulis oleh Rahmanda Janice Jessica dan Supriyono B. Sumbogo. Artikel berjudul “Pola Pembelajaran Penyalahgunaan Narkotika oleh Anak yang Berkonflik dengan Hukum di LPKA Tangerang” ini menganalisis kenakalan anak yang disebabkan oleh pengabaian sosial yang terjadi di LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak). Dengan menggunakan perspektif asosiasi diferensial, artikel ini menyimpulkan bahwa terdapat pembelajaran penyalahgunaan narkotika yang terjadi pada anak yang berkonflik dengan hukum di LPKA Tangerang. Semoga keberagaman topik dalam ranah sosiologi perilaku menyimpang pada edisi Jurnal Deviance kali ini dapat berkontribusi terhadap diskusi dan pengembangan kajian Kriminologi. Masukan dan kritikan berharga dari para pembaca tentunya kami sangat nantikan untuk perbaikan naskah-naskah kami ke depan. Salam hangat, Editor in Chief Jurnal Deviance Nadia Utami Larasati
Pengaruh PPKM terhadap Potensi Masyarakat menjadi Pelaku dan Korban Kejahatan Jalanan di Kecamatan Beji Depok Rio Rahmawanto; Ayu Diah Parwati; Cornelia Ingrid Setiawan; Michelle Pearlyna Setiawan; Nabiel Azriel Wirayudha
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.1374

Abstract

Pandemi COVID-19 membawa dampak yang besar bagi kehidupan manusia. Dampak ini diperparah dengan adanya regulasi PPKM yang ditetapkan oleh pemerintah. Berbagai penelitian sebelumnya telah membahas tentang dampak yang ditimbulkan oleh adanya regulasi ini, mulai dari dampak ekonomi, sosial, maupun budaya. Tulisan ini lebih berfokus kepada dampak sosial terutama yang berkaitan dengan potensi kejahatan jalanan di Kecamatan Beji Kota Depok yang dapat timbul akibat adanya regulasi ini. Tulisan ini didasarkan pada penelitian yang menggunakan metode kuantitatif dengan melalui penyebaran kuesioner secara daring melalui Google Form. Penyebaran kuesioner dilakukan terhadap 101 responden yang bertempat tinggal di Kecamatan Beji Kota Depok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara efektivitas regulasi PPKM dan juga perilaku masyarakat yang berpotensi menjadi pelaku maupun korban kejahatan jalanan di Kecamatan Beji Kota Depok yang disebabkan oleh kurang efisiennya upaya pencegahan kejahatan jalanan pada masa pandemi, sehingga cenderung meningkatkan potensi masyarakat untuk menjadi pelaku maupun korban kejahatan jalanan.
Pola Pembelajaran Penyalahgunaan Narkotika oleh Anak yang Berkonflik dengan Hukum di LPKA Tangerang Rahmanda Janice Jessica; Supriyono Sumbogo
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2113

Abstract

Kenakalan anak merupakan gejala sosial yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial. Kenakalan anak tidak lagi dapat dipandang sebagai bentuk kenakalan ketika sudah masuk ke dalam ranah hukum, seperti pembunuhan, pelecehan seksual, penyalahgunaan narkoba, atau tindakan pidana lainnya. Ketika anak melakukan perbuatan yang melanggar hukum, Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) adalah tempat anak yang berkonflik dengan hukum akan menjalani masa pidananya. Selain melakukan pembinaan kepada Anak yang Berkonflik dengan Hukum (ABH), lembaga ini juga berkewajiban untuk menyelenggarakan pendidikan dan pemenuhan lain dari hak-hak seorang anak. Lembaga pembinaan yang pada praktiknya seharusnya menjadi tempat aman agar kelak anak dapat beintegrasi ke masyakarat, justru menjadi sekolah bagi anak untuk belajar kejahatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara sebagai metode pengumpulan data primer. Peneliti melakukan wawancara terhadap 3 (tiga) orang narasumber yang merupakan anak didik di LPKA. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pembelajaran penyalahgunaan narkotika yang terjadi pada anak yang berkonflik dengan hukum di LPKA Tangerang sebagaimana dikemukakan oleh Sutherland dalam teori asosiasi diferensial
Persekusi Doxing sebagai Pola Baru Viktimisasi terhadap Jurnalis di Indonesia Rintan Puspita Sari
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.1139

Abstract

Bentuk kekerasan terhadap jurnalis tak hanya secara fisik seperti ancaman, tapi juga bisa terjadi secara online. Kekerasan yang terjadi secara online ini dikenal dengan sebutan persekusi doxing, Istilah persekusi sendiri selama ini erat dikaitkan dengan bentuk kekerasan yang terjadi secara fisik, merundung orang beramai-ramai. Sementara doxing, diketahui sebagai bentuk membuka identitas seseorang untuk kemudian beramai-ramai dihujat, atau tindakan penyelewengan lainnya. Dalam catatannya AJI mengungkap selain kekerasan fisik, ada bentuk kekerasan yang mereka kategorikan sebagai kekerasan baru pada wartawan saat ini. Bentuk kekerasan baru ini dikategorikan oleh AJI sebagai doxing atau persekusi secara online. Kasus doxing terbaru terjadi pada jurnalis media online, Liputan 6.com, Cakrayuri Nuralam. Peristiwa ini terjadi ketika ia menulis artikel tentang cek fakta untuk verifikasi adanya isu kalau ternyata politisi PDI Perjuangan Arteria Dahlan adalah cucu dari pendiri PKI di Sumatra Barat, Bachtaroedin. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pola baru viktimisasi terhadap jurnalis di Indonesia dalam hal ini adalah persekusi doxing. Dengan menggunakan metode wawancara mendalam terhadap beberapa narasumber dari kalangan jurnalis ataupun organisasi jurnalis, penelitian berhasil menemukan kesamaan pola terjadinya persekusi doxing dengan pola kekerasan fisik yang dialami jurnalis. Yaitu setelah artikel terbit, identitas jurnalis digali kemudian setelah identitas ditemukan, mereka akan jadi sasaran persekusi.
The Joint Efforts of Indonesian and Australian Governments in Countering Terrorism: Intelligence Cooperation Nibras Khairunnisa Ramadhani; Muhammad Hikam; Fahlesa Munabari
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2105

Abstract

Terrorism has become a global threat particularly since the 9/11 September tragedy. In Indonesia, acts of terrorism have become a great concern among many stakeholders of the Indonesian government particularly in the aftermath of the Bali Bombing incidents in the beginning of 2000s. The incidents took many lives, and many of them were Australian citizens. As a result, Australia offered Indonesia assistance in the form of cooperation in a variety of areas, including infrastructure and forensics training for police officers. This article aims to analyze the depth and dynamics of Indonesia – Australia intelligence cooperation that contribute to reduce the acts of terrorism in Indonesia. Employing the perspectives of international cooperation and human security, the article argues that the primary driving factor that facilitates Indonesia and Australia cooperation in the areas of counterterrorism and intelligence that the countries face the same terrorism threats that, if not anticipated comprehensively, would endanger the security stability in respective countries and in the Asia-Pacific region.
Penodaan Agama Ditinjau dari Perspektif Teori Konflik: Studi Kasus Pasal Penodaan Agama di Tanjung Balai Lucky Nurhadiyanto; Putri Puspita
Deviance Jurnal kriminologi Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/djk.2162

Abstract

Artikel ini menganalisis bagaimana pendefinisian penodaan agama oleh masyarakat mayoritas yang terjadi pada kasus pasal penodaan agama yang menjerat Meliana di Tanjung Balai sesuai dengan perspektif Teori Konflik milik Richard Quinney. Beberapa produk hukum di Indonesia masih memberikan kelompok mayoritas kekuatan untuk mengopresi hak-hak minoritas, salah satunya adalah Pasal Penodaan Agama. Padahal, hak atas kebebasan berekspresi merupakan salah satu hak konstitusional yang sudah diatur dalam UUD 1945. Lalu, penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan studi literatur sebagai metode pengumpulan data primernya. Setelah melakukan penelitian, temuan yang dihasilkan adalah tuduhan penodaan agama pada Meliana didefinisikan oleh masyarakat yang menganut agama mayoritas di Tanjung Balai, yaitu umat Islam yang mengalami religious insult. Mereka memiliki kewenangan untuk melaporkan Meliana kepada pihak berwajib karena hukum sudah mengakomodasi pelaporan untuk tindakan tersebut lewat Pasal 156a KUHP. Pasal tersebut memberikan kemudahan bagi masyarakat mayoritas yang memiliki kekuatan untuk memenjarakan Meliana karena maksud dari mengandung sifat permusuhan adalah isi pernyataan yang Meliana sampaikan dinilai oleh penganut agama yang bersangkutan sebagai memusuhi agamanya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10