cover
Contact Name
Fernando Tambunan
Contact Email
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Phone
+6281361612723
Journal Mail Official
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Editorial Address
Jl. Tali Air No. 7 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan Sumatera Utara Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 26228998     EISSN : 26217732     DOI : https://doi.org/10.54024
Core Subject : Religion, Education,
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan. Focus dan Scope penelitian Illuminate adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi Sistematika Teologi Pastoral Pendidikan Kristiani Misiologi Konseling Kristen
Articles 76 Documents
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PAK Melalui Moving class Andi Sadarita; Baskita Ginting
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i1.176

Abstract

AbstractThe formation of the quality of student learning in schools is influenced by how the learning is carried out. As a teacher really needs a variety of variations in the learning process, along with the development of the world of education, an approach has been found in teaching and this is what is called the moving class learning model. Through the moving class learning model in PAK, PAK teachers communicate knowledge through theory and practice involving the involvement of each student as a useful learning process for teaching, stating mistakes, correcting behavior and educating the truth, so that a quality life is formed in the classroom. study as a fact, they believe in God as written in 2 Tim 3:16-17, so that students understand the meaning of life and understand the meaning of life, act according to God's words, and become salt and light in the midst of life. the world, and through In students, the light of Christ shines in their lives. With the increase in the quality of student learning, students have shown their identity as the priesthood of God. Keywords: these are some words that reflecting the research and separated by semicolon  AbstrakTerbentuknya  kualitas belajar anak didik di sekolah di pengaruhi oleh bagaimana pembelajaran itu di lakukan. Sebagai seorang guru sangat memerlukan berbagai macam variasi dalam proses pembelajaran, seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, maka telah di temukan  sebuah pendekatan dalam pengajaran  dan hal ini sebut dengan model  pembelajaran moving class. Melalui model pembelajaran moving class dalam PAK, guru PAK mengkomunikasikan ilmu dengan cara teori dan praktek yang melibatkan melibatkan setiap anak didik sebagai suatu proses pembelajaran yangb bermanpaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan dan mendidik dalam kebenaran, sehingga terbentuklah hidup yang berkualitas dalam pembelajaran sebagai wujut nyata mereka beriman  kepada Allah seperti yang tertulis dalam 2 Tim 3:16-17, sehingga anak didik mengerti arti dia hidup dan mengerti arti kehidupan , bertingkah laku sesuai dengan firman Tuhan , dan menjadi garam dan terang di tengah-tengah dunia, dan melaui diri anak didik terpancar terang Kristus dalam kehidupannya.  Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran anak didik, maka anak didik telah menunjukkan identitasnya sebagai imat kepunyaan Allah. Kata Kunci: ini adalah daftar kata-kata yang terdapat pada Abstrak yang merefleksikan penelitian, dipisahkan oleh titik koma, tanpa titik di akhir 
Cara Hidup yang Benar Berdasarkan 1 Petrus 2:11-17 mewujudkan Perilaku Generasi Milenial yang Positif Irma Yanti Simanullang; Baskita Ginting; Theresia Hutauruk
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i2.162

Abstract

AbstractThe millennial generation must have good behavior in every behavior, especially God's servants who are being prepared to become theologians, this research uses more quantitative research with survey methods, and the assigned respondents are students in the Theology College dormitory. Baptist Medan, to find out how the influence of students in the STTBM dormitory on the right way of life based on 1 Peter 2:11-17 on their behavior as millennials. In the discussion section, we will discuss the behavior of the millennial generation, and the way of life of pious people, and it is concluded that the 2015-2018 Medan Baptist Theology College students' understanding of the right way of life based on 1 Peter 2:11-17 about their behavior as millennials has a positive impact, significant at moderate level Keywords: millennials, live right, positive behavior  AbstrakGenerasi milenial seharusnya memiliki perilaku yang baik dalam setiap perilaku-perilakun mereka, khususnya hamba-hamba Tuhan yang sedang dipersiapkan untuk menjadi teolog-teolog, penelitian ini lebih kepada penggunaan Penelitian kuantitatif dengan metode survey, dapun responden yang ditetapkan yaitu mahasiswa/i di asrama Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan, Untuk mengetahui bagaimana pengaruh mahasiswa/i di asrama STTBM tentang cara hidup yang benar berdasarkan 1 Petrus 2:11-17 terhadap perilaku mereka sebagai generasi milenial. Pada bagian pembahasan akan dibahas perilaku generasi milenial, dan cara hidup orang benar, dan disimpulkan bahwa pemahaman mahasiswa/i Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan Angkatan 2015-2018 tentang cara hidup yang benar berdasarkan 1 Petrus 2:11-17 terhadap perilaku mereka sebagai generasi milenial berpengaruh positif, signifikan pada tingkatan sedang Kata Kunci: milenial, hidup benar, perilaku positif
Strategi Peningkatan Kualitas Pelayanan Kaum Muda di Gereja Kemah Injil Indonesia Tenggarong Jalan Maduningrat Yolanti Inneke Wirano; Robi Panggara
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i1.145

Abstract

The church plays an important role in youth ministry and also has a responsibility to create an effective youth ministry through its youth ministry strategy. Effective youth ministry can make the worship atmosphere more qualified and have results which means new souls in the fellowship. The method used in this research is quantitative with approaches through observation and interviews to obtain results. It was found that to overcome the problems in youth ministry must be overcome by: 1). Discipleship, 2). Teaching, 3). Cell community (Komsel) , 4). Innovative worship, 4). Worship Leader Development, 5). Music coaching. These things can work well if there is cooperation from pastors and youth ministry administrators. Keywords: ministry, strategy, youth, quality AbstrakGereja berperan penting dalam pelayanan pemuda  dan juga memiliki tanggungjawab dalam menciptakan pelayanan pemuda  yang efektif melalui strategi pelayanan pemuda yang dibuat. Pelayanan pemuda yang efektif dapat membuat suasana ibadah lebih berkualitas dan memiliki hasil yang artinya adanya jiwa-jiwa  baru dalam persekutuan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini adalah  kuantitatif dengan pendekatan-pendekatan melalui observasi dan wawancara untuk mendapatkan hasil.  Ditemukan bahwa untuk mengatasi persoalan  dalam pelayanan kaum muda harus diatasi dengan: 1). Pemuridan, 2). Pengajaran, 3). Komunitas sel (Komsel) , 4). Ibadah yang inovatif, 4). Pembinaan Worship Leader, 5). Pembinaan musik. Hal-hal ini dapat berjalan dengan baik jika adanya  kerja sama dari gembala dan para pengurus pelayanan kaum muda. Kata Kunci: pelayanan, strategi, pemuda, kualitas
Doa Sebagai Katarsis Di Tengah Krisis Berdasarkan Mazmur 142 Paulus Dimas Prabowo
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i2.188

Abstract

Kehidupan orang percaya di muka bumi tidak lepas dari krisis kehidupan yang datang silih berganti. Salah satu solusi bagi seseorang yang sedang mengalami krisis adalah katarsis. Dari beragam bentuk katarsis yang bisa dilakukan, salah satu yang efektif dan konstruktif adalah doa. Mazmur 142, yang merupakan doa Daud di tengah krisis, merupakan salah satu contoh katarsis yang dicirikan dengan adanya self-disclosure  (keterbukaan). Ancaman penangkapan bahkan pembunuhan dari Saul terhadap Daud, memaksanya bersembunyi di gua. Di tempat tersebut, Daud mencurahkan segala yang tertampung dalam hati dan pikirannya. Melalui pendekatan biblika dan psikologi agama, dengan metode hermeneutika genre puisi dan analisis dokumen pribadi, diperoleh fakta bahwa doa yang disuarakan dalam Mazmur 142 mengandung unsur self-disclosure  yang meliputi pengungkapan perasaan (ay. 3), situasi (ay. 4), kesendirian (ay. 5), keyakinan (ay. 6), keterbatasan (ay. 7), dan keinginan (ay. 8). Keenam hal ini diperoleh melalui struktur Mazmur 142 yang kemudian dipahami sebagai bentuk self-disclosure dalam perspektif psikologi agama. Hasil penelitian ini dapat menjadi pola yang bisa diterapkan ketika orang percaya mengalami krisis dalam hidupnya.
Konsep Neraka Dalam Pandangan Gereja Katolik Mathias Jebaru Adon; Yulianus Hironi Ndua
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i2.153

Abstract

Penelitian ini berfokus pada ajaran Gereja Katolik tentang neraka. Gereja Katolik mengajarkan hukuman utama di neraka adalah terpisah secara kekal dari Allah (KGK. 1035). Keterpisahan dengan Allah menyebabkan manusia kehilangan penglihatan yang membahagiakan dengan Allah. Maka penelitian ini bertujuan menjelaskan bahwa neraka bukanlah sebuah tempat. Gambaran tentang neraka dalam Injil merupakan bahasa apokaliptik yang digunakan Yesus sebagai peringatan kepada orang-orang yang tidak mau menghiraukan amanat-Nya serta tidak mau mengadakan perubahan hidup yang selaras dengan warta keselamatan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya ajaran-ajaran yang mengajarkan bahwa neraka adalah sebuah tempat yang menakutkan, kejam dan penuh siksaan. Akibatnya, gambaran tentang Allah yang berbelas kasih dan berkehendak menyelamatkan semua orang tidak diperhatikan. Padahal gambaran tentang neraka bertujuan untuk menegaskan hakikat manusia yang berasal dari Allah. Penelitian ini menggunakan studi literatur kepustakaan yang menemukan bahwa Yesus tidak pernah mengajarkan tentang neraka. Pengajaran Yesus berpusat pada Kerajaan Allah. Gambaran-gambaran apokaliptik neraka yang digunakan Yesus bertujuan mendesak para pendengar-Nya untuk bertobat dan percaya kepada kabar baik keselamatan. Karena itu, penelitian ini memberi sumbangan pada kesadaran bahwa Allah menghendaki agar semua orang diselamatkan.
Konsep Pewahyuan Injil Kepada Paulus Menurut Surat Galatia 1:11-12 Boyman Aspirasi Zebua
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i2.193

Abstract

This article discusses the gospel revelation that Christ gave to Paul. Paul in this case, has been called by God since he was still in his mother's womb, he was called by God to spread the gospel to other nations. This study aims to discuss the process of Pulus receiving the revelation of the gospel based on Galatians 1:11-12. The writing method used in writing this article is the exegesis method in Galatians 1:11-12 as well as a literature review of various literature sources related to the topic under study. The results of the study show that Paul in receiving the gospel proved that he received the gospel and lived the gospel not from human will, but he received it from God's statement to him. God had chosen him and according to God's plan, Paul would be a great Apostle. In Galatians 1:11-12, this verse has correctly recorded that Paul had been called by God and this verse speaks that Paul had accepted it, because it was a divine commission that he should have carried out. Even though the false teachers were spreading the false gospel which was a mixture of law and grace at that time, Paul remained steadfast and maintained the truth of the gospel, because he had a principle of life, he realized that his existence as an Apostle was because of God's call to him, not by human will.
PENGARUH PEMAHAMAN PENDAMPINGAN MENURUT I TESALONIKA 2:11-12 TERHADAP KEMAMPUAN ORANG TUA UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR INTRINSIK DAN PRESTASI AKADEMIK ANAK DI GEREJA PENYEBARAN INJIL JEMAAT RAJAWALI OIKOS CHURCH BANDAR LAMPUNG HERRI HERRI
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i2.190

Abstract

Pendampingan orang tua pada proses belajar anak sangat penting.  Pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 dapat menjadi tuntutan bagi orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk 1) Mengetahui pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 pada orang tua di GPI ROC Bandar Lampung, 2) Mengetahui pengaruh pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 terhadap kemampuan orang tua untuk meningkatkan motivasi belajar intrinsik anak di GPI ROC Bandar Lampung, 3) Mengetahui pengaruh pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 terhadap kemampuan orang tua untuk meningkatkan prestasi akademik anak di GPI ROC Bandar Lampung.  Metode yang dipakai adalah penelitian kuantitatif expost facto dengan kuisioner.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pemahaman pendampingan orang tua di GPI ROC Bandar Lampung pada kategori sedang dengan lower bound dan upper bound 62,11-65,89.  Ada pengaruh yang signifikan dari pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 terhadap kemampuan orang tua untuk meningkatkan motivasi belajar intrinsik anak di GPI ROC Bandar Lampung sebesar 20,6%, tapi tidak terbukti ada pengaruh yang signifikan dari pemahaman pendampingan menurut I Tesalonika 2:11-12 terhadap kemampuan orang tua untuk meningkatkan prestasi akademik anak di GPI ROC Bandar Lampung.
Kepememimpinan Musa Sebagai Pedoman Bagi Pemimpin Rohani Di Gereja Masa Kini Adi Suhenra Sigiro
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v6i1.211

Abstract

The growing church is determined by the quality of spiritual leaders. However, nowadays there are spiritual leaders whose ministry focus is themselves, with the aim of gaining name and popularity. Apart from that, there are spiritual leaders who leave the ministry because they feel they have no more calling to lead the congregation, there are also spiritual leaders who leave the ministry because they feel they have no more calling to lead the congregation. There are also spiritual leaders who carry out their duties and ministry in the church no longer based on Biblical leadership. Therefore, this research will explore the leadership of Moses which is a guide for spiritual leaders in the church today. The research method used is literature research. This method collects data and information in the form of documents, data archives and other literature information. The writer will do a descriptive approach. The process of analysis carried out is to use reliable sources of literature journals, books and articles such as to support the analysis of the research topic. Based on the results of the research, guided by Musa's leadership, a spiritual leader in the church today includes the following: A spiritual leader in the church must have a calling from God, have a vision that comes from God, be able to build a relationship with God, have good character. patient, humble and gentle. In addition, must be able to form a new leader.
Keselamatan dan Kontraversi Murtad Johnny Parthotan Simamora; Rika Kartika
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v6i1.217

Abstract

AbstractThis paper answers the arguments and rebuttals of those who believe salvation can be lost. Expository truth-telling: an approach to extracting the meaning of a text that begins with an observation of the historical context, and then relates the truth found to the present meaning.  This method emphasises finding the meaning of the text so that it can be put into context, rather than the other way round.  The results of the exploration of word meanings, the review of the Old and New Testaments, and the meaning of the texts show that salvation cannot be lost. The assurance of God's power is the basis of salvation that cannot be lost. Since salvation in the Christian faith is grace, the word grace itself both with regard to salvation and God's promises reveals that the word grace is firm, strong, and enduring. Gifts of grace such as the second giving of the tablets of stone to Moses and the fulfilment of the promises to Abraham were given and fulfilled not because of the obedience of the recipient, even the recipient was not always in a good spiritual state, but the gifts were still received and the promises were still fulfilled. The righteousness and goodness of man is not a condition for receiving God's promise. The use and transformation of the Old Man into the New Man confirms that the transformation of the New Man cannot return to the Old Man because it has been crucified in the death of Christ. The truth is that the salvation obtained from God in Jesus Christ cannot be changed. It can no longer be lost. Texts that appear as if they can be lost must be seen and considered for their true meaning based on the context and stage usage of the author when writing his letter. The purpose of the writing is to explain, to reveal that salvation based on the Christian faith is salvation that cannot be lost. Keywords: salvation, apostasy, new man  AbstrakTulisan ini menjawab argumentasi dan sanggahan dari mereka yang meyakni keselamatan dapat hilang. Penggungkapan kebenaran menggunakan eksposisi: suatu pendekatan penggalian makna teks diawali dari pengamatan akan konteks historis, yang kemudian mengaitkan kebenaran yang ditemukan dengan makna ke kinian.  Metode ini menekankan penemuan makna teks agar dapat dimaksukkan dalam konteks, bukan sebaliknya.  Hasil penggalian arti kata, tinjauan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,  dan makna teks-teks menunjukkan bahwa keselamatan sesungguhnya tidak dapat hilang. Jaminan kekuatan Allah adalah dasar keselamatan yang tidak dapat hilang. Karena keselamatan dalam iman Kristen adalah anugerah, maka dari kata anugerah itu sendiri baik berkenaan dengan kesalamatan dan janji-janji Tuhan menyatakan bahwa kata anugerah bersifat teguh, kuat, dan tahan uji. Pemberian anugerah seperti pemberian Loh Batu yang kedua kali kepada Musa dan penggenapan janji-janji kepada Abraham diberikan dan digenapi bukan karena ketaatan si penerima, bahkan si penerima bukan sedang dalam keadaan rohani yang selalu baik, tetapi pemberian tetap diterima dan janji tetap digenapi. Keataan dan kebaikan manusia bukan menjadi syarat untuk mendapatkan janji Allah. Ditegaskan dengan penggunaan dan perubahan Manusia Lama menjadi Manusia Baru, mengukuhkan bahwa perubahan dari Manusia Baru tidak mungkin lagi kembali menjadi manusia lama karena telah disalibkan di dalam kematian Kristus. Kebenaran itu menyatakan keselamatan yang diperoleh dari Allah di dalam Yesus Kristus tidak mungkin lagi dirubah. Keselamatan itu tidak mungkin lagi hilang. Teks-teks yang kelihatan seolah-olah dapat hilang ternyata harus dilihat dan dipertimbangkan arti yang sebenarnya berdasarkan konteks dan penggunaan panggung si Penulis waktu menuliskan suratnya. Tujuan penulisan yaitu untuk menjelaskan, mengungkapkan bahwa keselamatan berdasarkan iman Kristen adalah keselamatan yang tidak dapat hilang.Kata Kunci: keselamatan, murtad, manusia baru
Merefleksikan Larangan Masuk Jemaah Tuhan Bagi Jemaat (Gereja) Masa Kini Dalam Tafsir Ulangan 23:1-8 Delti Nurahmat Riang Telaumbanua
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v6i1.194

Abstract

AbstractEntering God's congregation is not an easy thing for Christians to fulfill, if not wholeheartedly to worship. In this case, it becomes an important element in Deuteronomy 23:1-8, a law regarding God's congregation that may not enter God's congregation and background related to the Church at this time. With the background of this writing are; There is a law that a person whose testicles are crushed or his genitals are cut off may not enter God's congregation, both for an Ammonite or a Moabite who cannot enter God's congregation and an illegitimate child cannot enter God's congregation. Without a good background or history, the reader can draw conclusions in his own opinion without any clarity. So that there is an opportunity for debate about congregations that enter God's congregation at this time. Therefore, the author wants to provide a Biblical interpretation of this verse. Interpretation will be carried out with an overview of the history or background of the occurrence of the law which summarizes a question "Why does this law exist?", "Does this law still apply to the Church Congregation today" and "what are the implications for our lives today". So that readers can understand it well.