cover
Contact Name
Fernando Tambunan
Contact Email
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Phone
+6281361612723
Journal Mail Official
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Editorial Address
Jl. Tali Air No. 7 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan Sumatera Utara Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 26228998     EISSN : 26217732     DOI : https://doi.org/10.54024
Core Subject : Religion, Education,
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan. Focus dan Scope penelitian Illuminate adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi Sistematika Teologi Pastoral Pendidikan Kristiani Misiologi Konseling Kristen
Articles 76 Documents
Memandang Cara Berprilaku Umat Pilihan Allah Berdasarkan 1 Petrus 2:11-17 Untuk Membangun Komunitas Kekristenan yang Kuat Jepri Hutabarat; Theresia Hutauruk; Janes Padang; Gerhard Eliasman Sipayung; Lauren Hagai
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i1.159

Abstract

AbstractThe congregation is one part of the Christian community which is organized in the organization of the Church. As people called out of darkness into His miraculous light, Christians must also realize that they are God's chosen people. Where God chooses His people according to His will, the purpose of this study is to find out how the congregation's understanding of how to live as God's chosen people based on 1 Peter 2:11-17 affects the behavior of daily life among the Bethel Church. Indonesia Market 1 Blue-blue. The research method used in this article is survey research by taking one population and using a questionnaire (questionnaire) as a data collection tool. As for what is discussed in this study, namely Seeing God's Chosen Way of Behaving, Building a Strong Christian Community, the results of the study found the influence of understanding God's chosen people's way of life based on 1 Peter 2:2 -11-17 about the behavior of daily life. Keywords: behavior, people of god, christian community AbstrakJemaat merupakan salah satu bagian dari komunitas kekristenan yang terorganisir dalam organisasi Gereja, Sebagai seorang yang dipanggil keluar dari kegelapan ke dalam terang-Nya yang ajaib, orang Kristen juga harus menyadari bahwa mereka merupakan umat pilihan Allah. Diaman Allah memilih umatnya sesuai kehendakNya, tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemahaman jemaat tentang cara hidup sebagaiumat pilihan Allah berdasarkan 1 Petrus 2:11-17  terhadap perilaku kehidupan sehari-hari di kalangan jemaat Gereja Bethel Indonesia Pasar 1 Sibiru-biru. Metode penelitian yang digunakan dalam artikel ini adalah penelitian survey denga mengambil satu populasi dan menggunakan kuesioner (angket) sebagai alat pengumpulan data. Adapun yang dibahas dalam penelitian ini yaitu Memandang Cara Berperilaku Umat Pilihan Allah, Membangun Komunitas Kekristenan Yang Kuat, dari hasil penelitian ditemukan bahwa pengaruh pemahaman cara hidup umat pilihan Allah berdasarkan 1 Petrus 2:2-11-17 terhadap perilaku kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: perilaku, umat allah, komunitas kristen
Hubungan Pendidikan Agama Kristen Dengan Amanat Agung Dalam Matius 28:19-20 Duma Fitri Pakpahan; Dona Noveria Sihombing; Hesty Widia Ningsih; Victor Deak
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i1.135

Abstract

The great commission contained in Matthew 28:19-20 if not understood in its entirety will lead to shallow understanding. And as a result, God's real purpose cannot be achieved because part of the implementation process has been neglected or only partially emphasized. In this study, the literature study research method was used by describing the general understanding of education, the nature and scope of Christian Religious Education, understanding the great mandate and the keywords contained in it and then providing an understanding of the inseparable relationship of the great mandate. It was found that the Great Commission could not be carried out without systematic Christian Religious Education and Christian Religious Education also played a role in evaluating the spiritual growth of God's congregation.Keywords: christian education, great commission, mathew 28: 19-20 AbstrakAmanat agung yang terdapat dalam Matius 28:19-20 apabila tidak dipahami secara keseluruhan akan menimbulkan pemahaman yang dangkal. Dan akibatnya tujuan Allah yang sesungguhnya tidak dapat tercapai karena sebagian dari proses pelaksanaan yang ditetapkan terabaikan atau hanya  menekankan sebagian. Dalam Penelitian ini digunakan metode penelitian studi pustaka dengan menguraikan pengertian pendidikan secara umum, hakikat dan ruang lingkup Pendidikan Agama Kristen, pengertian amanat agung dan kata kunci yang terdapat didalamnya kemudian memberikan pemahaman tentang hubungan amanat agung yang tidak dapat terpisahkan. Ditemukan bahwa Amanat agung tidak dapat terlaksana tanpa adanya Pendidikan Agama Kristen yang sistematis dan Pendidikan Agama Kristen juga berperan untuk mengevaluasi pertumbuhan kerohanian jemaat Tuhan.Kata Kunci: pendidikan agama kristen, amanat agung, matius 28: 19-20
Refleksi Teologis Pendidikaan Kristen Berdasarkan Amsal 22:6 Terhadap Tantangan Sosial yang dihadapi Generasi Z Saronisa Ginting
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i2.161

Abstract

If viewed logically, generation Z focuses on various problems, the problems that arise in generation Z have an impact on multidimensional, psychological, social, communication, moral, and spiritual problems, so that theological values really need to be fulfilled by the younger generation. generations to keep their behavior in check. life. To find answers, the research method used is descriptive qualitative using literature sources, while the discussion starts from the understanding of generation z, social phenomena faced by generation z, and reflection on Christian education theology based on Proverbs 22:6, and it is said that Christian education is not can be separated. from a Christian family, and parents must realize family Christian education from an early age.Keywords:  generation z, christian education, technology, social challenges AbstrakJika dicermati secara logika, generasi Z nampaknya rentan dengan berbagai permasalahan, permasalahan yang muncul pada generasi Z berdampak pada multi dimensional yaitu permasalahan psikologis, sosial, komunikasi, moral, dan spiritual, nilai-nilai teologis sangat perlu dibenahi. dipahami oleh generasi muda untuk menjaga keseimbangan dalam perilaku mereka dalam kehidupan. Untuk menemukan jawaban, metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan sumber-sumber literatur, sedangkan pembahasannya dimulai dari pemahaman generasi z, mengkaji fenomena sosial yang dihadapi generasi z, dan merenungkan teologi pendidikan Kristen berdasarkan Amsal 22:6, dan disimpulkan bahwa pendidikan Kristen tidak dapat dipisahkan dari keluarga Kristen, dan orang tua harus mewujudkan pendidikan keluarga Kristen sejak dini.Kata Kunci: generasi z, pendidikan kristen, teknologi, tantangan sosial
Penerapan Teori Gestalt dalam Konseling Tentang Akar Pahit Luka Masa Lalu Desi Kullin; Aji Restu Sauran
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i1.146

Abstract

Wounds in the past that cannot be released will be bitter roots that make a person trapped in the bitterness of the wounds of the past so that the individual is unable to reconcile himself with his past and release forgiveness. The purpose of this study is to describe gestalt theory in counseling about the bitter roots of past wounds. This research uses the Counseling Guidance Action Research (PTBK) approach. In dealing with the case of bitter roots past wounds are carried out in two cycles, namely I and II and as many as four meetings. The result of this study is that gestalt theory can be applied in solving cases of bitter root wounds of the past. Counseling conducted by this researcher showed that there were changes in the conseli before and after the application of gestalt theory in counseling related to the bitter roots of past wounds.Keywords: gestalt counseling, bitter roots, past wounds AbstrakLuka di masa lalu yang tidak mampu dilepaskan akan menjadi akar pahit yang membuat seseorang terperangkap dalam kepahitan dari luka di masa lalu sehingga individu tidak mampu mendamaikan diri dengan masa lalunya serta melepaskan pengampunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan teori gestalt dalam konseling tentang akar pahit luka masa lalu. Penelitian ini menggunakan pendekatan Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling (PTBK). Dalam menangani kasus akar pahit luka masa lalu dilakukan dalam dua siklus yaitu I dan II dan sebanyak empat kali pertemuan. Hasil penelitian ini ialah teori gestalt dapat diterapkan dalam penyelesaian kasus akar pahit luka masa lalu. Konseling yang dilakukan oleh peneliti ini menunjukkan bahwa adanya perubahan pada konseli sebelum dan sesudah penerapan teori gestalt dalam konseling terkait akar pahit luka masa lalu.Kata Kunci: konseling gestalt, akar pahit, luka masa lalu
Dampak Pelayanan Pastoral Konseling di Gereja Wesleyan Indonesia Tanjung Selamat Thomson Siallagan; Johny Parthotan Simamora; Aslinawati Gurusinga; Rika Kartika
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v1i2.156

Abstract

AbstractPastoral counseling services in local churches are often neglected because the pastor or pastor does not have the expertise to do counseling. However, because so many problems arise in the personal and family life of the congregation, pastoring must be done, but it is often ineffective. At the Indonesian Wesleyan Church, the Tanjung Selamat Congregation, pastoral counseling was also conducted. Pastoral counseling is said to be effective, if it meets at least three indicators, namely: first, the counselee and the counselor agree on the problem at hand. Second, the counselor is able to carry out the stages of counseling well. Third, the counselee looks for a way out of the problems he faces. To measure the effectiveness of pastoral counseling in the Wesleyan Indonesia Congregation of Tanjung Selamat, researchers conducted a qualitative field study involving 15 sample members consisting of 12 counselees and 3 counselors. With three research focuses, namely the opening stage of counseling, counseling steps and counseling results. Based on the findings and discussion of the research through data analysis techniques, it was found that the implementation of pastoral counseling in the Wesleyan Indonesian Congregation of the Tanjung Selamat Congregation was quite effective. This is proven, both from taxonomic data and triangulation of 90% of cases handled by counselors running effectively. Based on the discussion, it can be concluded that although counselors do not have a special academic background in counseling, they can provide pastoral counseling effectively. Therefore, the researcher suggests that counselors improve their ability to do counseling and improve their spiritual quality.AbstrakPelayanan pastoral konseling di gereja lokal, sering diabaikan karena alasan para pelayan atau Pendeta tidak memiliki keahlian melaksanakan konseling. Namun demikian, karena ada begitu banyak masalah yang timbul dalam kehidupan pribadi maupun keluarga jemaat, maka pastoral harus dilakukan, namun sering kurang efektif. Di Gereja Wesleyan Indonesia Jemaat Tanjung Selamat, pastoral konseling juga dilaksanakan. Pastoral yang konseling dikatakan efektif, jika memenuhi setidaknya tiga indikator, yaitu: pertama, konseli dan konselor sepakat mengenai masalah yang dihadapi. Kedua, konselor mampu melaksanakan tahapan-tahapan konseling dengan baik. Ketiga, konsele mendapatkan jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Untuk mengukur efektifitas pastoral konseling di Gereja Wesleyan Indonesia Jemaat Tanjung Selamat, maka peneliti melakukan penelitian kualitatif lapangan, dengan melibatkan 15 anggota sample, yang terdiri dari 12 konseli dan 3 konselor. Dengan tiga fokus penelitian, yaitu tahapan pembukaan konseling, langkah-langkah konseling dan hasil konseling. Berdasarkan temuan dan pembahasan penelitian melalui tehnik analisis data ditemukan bahwa pelaksanaan pastoral konseling di Wesleyan Indonesia Jemaat Tanjung Selamat, berjalan cukup efektif. Hal ini terbukti, baik dari data taksonomi ataupun trianggulasi 90% kasus yangditangani oleh konselor berjalan efektif. Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpukan bahwa sekalipun para konselor tidak memiliki latar belakang akademis khusus konseling, tetapi mereka dapat menyelenggarakan pastoral konseling secara efektif. Oleh karena itu peneliti menyarankan agar para konselor semakin meningkatkan kemampuan mereka dalam melaksanakan konseling sekaligus meningkatkan kualitas rohani.
Potret Diri dan Kinerja Guru Pendidikan Agama Kristen Berdasarkan 1:Petrus 2:9-25 Terhadap Minat Belajar Siswa Frans Simamora; Thomson Siallagan; Muryani Surbakti; John Parthotan Simamora
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i1.157

Abstract

AbstractStudents' interest in studying Christian religious education will have an impact on good learning outcomes. But in reality at this time not all students achieve interest in learning. This can be seen from the low participation of students in the learning process, both face-to-face and independent study. PAK teachers as educators must have quality standards of integrity which include responsibility, authority, independence, and discipline and professional competence to produce good performance. This is called teacher profile and performance. However, in practice, currently some PAK teachers do not have a good profile and performance. So that it leads to low student interest in learning. The purpose of this study was to determine how the profile and performance of PAK teachers based on the letter 1 Petrus 2:11-25 with student interest in learning at State Elementary Schools in Medan District, Denai Regency. The types of research used in this research are: Quantitative research with survey method. According to Singarimbun, "survey research is: Research that takes a population and uses a questionnaire (questionnaire) as a data collection tool". Based on these guidelines, data collection in this study was carried out using a questionnaire (questionnaire). After performing all the data analysis procedures, the research results found are; The self-portrait of the teacher and the teacher's performance based on I Peter 2:11-25 together have a major influence on student interest in learning at State Elementary Schools Se Kecamatan Medan Denai. Keywords: self-portrait, performance, interests, study AbstrakMinat siswa mengikuti pembelajaran pendidikan agama Kristen akan berdampak pada hasil belajar yang baik. Namun demikian, pada kenyataannya dewasa ini belum semua siswa mencapai  minat belajar. Hal ini terlihat dari rendahnya partisipasi siswa dalam proses pembelajaran, baik pada saat tatap muka maupun saat belajar mandiir. Guru PAK sebagai pendidik, ia harus memiliki standar kualitas integritas yang mencakup tanggung jawab, wibawa, mandiri, dan disiplin serta kompetensi profesional untuk menghasulkan kinerja yang baik. Inilah yang disebut dengan profil dan kinerja guru.  Akan tetapi pada praktiknya, saat ini beberapa guru PAK tidak memiliki profil dan kinerja yang baik. Sehingga bermuara kepada rendahnya minat belajar siswa. Tujuan penelitian ini adalah sebagai adalah Untuk mengetahui Bagaimana Korelasi profil dan kinerja guru PAK berdasarkan surat 1 Petrus 2:11-25 secara bersama-sama dengan minat belajar siswa-siswi di Sekolah Dasar Negeri Se-Kecamatan Medan denai. jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah: Penelitian kuantitatif dengan metode survey.Menurut Singarimbun, “penelitian survey adalah: Penelitian yang mengambil satu populasi dan menggunakan kuesioner (angket) sebagai alat pengumpulan data”. Berdasarkan pedoman tersebut, maka pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner (angket). Setelah melakukan semua prosedur analisis data maka hasil penelitian yang ditemukan adalah; potret diri Guru dan Kinerja Guru berdasarkan I Petrus 2:11-25 secara bersama-sama sangat Berdampak dengan minat belajar siswa di Sekolah Dasar Negeri Se Kecamatan Medan Denai. Kata Kunci: potret diri, kinerja, minat, belajar
Kebahagiaan Dibalik Penderitaan Menurut Injil Matius 5:10-11 Meiman Gulo
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i1.140

Abstract

AbstractThis article tries to highlight the intent and purpose of the Lord Jesus' sermon on the mount to His disciples in the context of Matthew 5:10-11. Jesus' sermon on the mount was a joy that came to His disciples through suffering. The purpose of this research is to provide a new understanding that the suffering that comes to the followers of Jesus today is the formation to achieve an eternal happiness (theosis) itself. In this study the author uses the literature method and interacts with related biblical texts so as to produce three main topics of discussion of happiness behind suffering, namely; Those who pursue the truth are blessed because they are the ones who own the Kingdom of Heaven, Blessed are you when you are reproached and persecuted and All evil (lies) are against you for my sake. So the three things according to the author reveal the happiness behind the suffering that leads to eternal happiness or theosis. Keywords: lord jesus, happiness, suffering, theosis AbstrakArtikel ini mencoba menyoroti maksud dan tujuan khotbah Tuhan Yesus di Bukit kepada murid-murid-Nya dalam konteks Matius 5:10-11. Khotbah Yesus di Bukit merupakan kebahagiaan yang datang kepada murid-Nya melalui penderitaan.  Tujuan dari penelitian ini, memberikan pemahaman baru bahwa penderitaan yang datang kepada pengikut Yesus saat ini ialah pembentukan untuk mencapai sebuah kebahagiaan kekal (theosis) itu sendiri. Dalam kajian ini penulis menggunakan metode literatur dan berinteraksi dengan teks-teks alkitab yang berhubungan sehingga menghasilkan tiga pokok pembahasan dari kebahagian dibalik penderitaan, yaitu; Yang mengejar kebenaran diberkati karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga, Diberkati kamu bila kamu dicela dan dianiaya dan Semua kejahatan (dusta) melawan kamu demi Aku. Jadi ketiga hal tersebut menurut penulis mengungkapkan kebahagiaan dibalik penderitaan yang mengarahkan diri kepada kebahagiaan kekal atau theosis. Kata Kunci: tuhan yesus, kebahagiaan, penderitaan, theosis
Hubungan Kepribadian Guru PAK dengan Karakter Peserta Didik Afolo Zebua; Nova Yulita Saragih; Andi Sadarita; Maston Situmorang
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 1, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v1i2.169

Abstract

Personality is the identity of a person that can be expressed in general because it is a presentation of the mental color that is read and can be judged by others and even that personality can be assumed as a complete human appearance. A teacher with a teaching profession is required to have a good personality and by his personality, the teacher can function as a moral reformer for the students he teaches. One of the goals of writing this journal is so that through the personality shown by the teacher, it can become a good moral shaper for students. Because the personality of a person reflects the style and way to interact with other people and their environment. When a teacher deals with students, then the whole existence of his personality becomes the center of attention of students. Therefore, the teacher as the center of attention of students in their efforts to transfer knowledge, then all the rules of his personality must be accounted for. The research method in this journal is a quantitative approach method, finding whether there is a relationship between the teacher's personality and the morale of the students.Keywords: teacher personality, caracter AbstrakKepribadian adalah identitas dari seseorang yang dapat diekspresikan secara umum karena merupakan presentatif dari warna kejiawaan yang terbaca dan dapat dinilai oleh orang lain dan bahkan kepribadian itu bias diasumsikan sebagai penampakan manusia seutuhnya. Seorang guru dengan profesi sebagai pengajar dituntut untuk memiliki kepribadian baik dan oleh kepribadiannya itu, guru dapat berfungsi sebagai pembaharu moral bagi siswa yang diajarnya. Salah satu tujuan dari penulisan jurnal ini adalah, agar melalui kepribadian yang ditunjukkan oleh guru dapat menjadi pembentuk moral yang baik bagi siswa. Karena kepribadian dari seseorang mencerminkan gaya dan caranya untuk berinteraksi dengan orang lain dan lingkungannya. Ketika seorang guru berhadapan dengan siswa, maka seluruh keberadaan kepribadiannya menjadi pusat perhatian siswa. Oleh karena itu guru sebagai pusat perhatian siswa dalam usahanya mentransfer ilmu pengetahuan, maka seluruh kaidah-kaidah kepribadiannya harus dapat dipertanggungjawabkan. Adapaun metode penelitian dalam jurnal ini adalah metode pendekatan kuantitatif, menemukan apakah ada hubungan kepribadian guru dengan moral peserta didik.Kata Kunci: kepribadian guru,  karakter
Pelayanan Pastoral Terhadap Warga Gereja Usia Remaja Korban Broken Home Leniani Zalukhu; David Eko Setiawan
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 5, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v5i1.147

Abstract

Problems regarding broken homes among teenagers still occur and are often found in churches, so the church in dealing with this problem should not close its eyes or ignore it. The broken home experienced by teenagers is caused by the role of parents who are lacking in giving love to teenagers and due to a lack of harmony in the family, so it can become a serious problem if it is not immediately handled psychologically and pastoral counseling. The purpose of this article is to explain pastoral counseling to adolescent victims of broken homes in dealing with problems that exist in the family, psychological conditions of children and is held to rebuild damaged relationships in the family. The problem in this research is as follows: how is the pastoral service to church members who are teenagers who are victims of broken homes? The method used in this research is descriptive qualitative. The results of the study show that the form of pastoral counseling can be done by internalizing Bible truths in fostering faith in adolescents, providing pastoral counseling in the form of groups and individually that can be applied by church members aged teenagers in their community. family and society. Keywords: youth, broken home, family, pastoral counseling AbstrakPermasalahan mengenai broken home dikalangan anak remaja masih banyak terjadi dan sering ditemukan di dalam gereja, sehingga gereja dalam mengatasi masalah ini tidak boleh tutup mata atau mengabaikannya. Broken home yang di alami oleh anak remaja diakibatkan dari peranan orang tua yang kurang dalam memberi kasih sayang terhadap anak remaja dan disebabkan kurangnya keharmonisan di dalam keluarga, sehingga dapat menjadi masalah yang serius jika tidak segera ditangani secara psikologi dan konseling pastoral. Tujuan dari artikel ini untuk menjelaskan konseling pastoral terhadap remaja korban broken home dalam menangani masalah yang ada di dalam keluarga, kondisi psikologi anak dan diadakan untuk membangun kembali hubungan yang sudah rusak di dalam keluarga. Masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagaimanakah pelayanan pastoral terhadap warga gereja usia remaja korban broken home? Metode   yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa bentuk konseling pastoral dapat dilakukan dengan internalisasi kebenaran Alkitab dalam pembinaan iman terhadap remaja, memberi konseling pastoral dalam bentuk kelompok dan secara individu yang dapat diterapkan oleh warga gereja usia remaja di dalam keluarga dan masyarakat. Kata Kunci: remaja, broken home, keluarga, konseling pastoral
Pemahaman Jemaat Gereja Baptis Antiokhia Medan Berdasarkan Filipi 1:27-30 dalam Hal Kesetiaan Beribadah Gerhard Eliasman Sipayung; Sona Hia; Petrus Posma Silaban; Jepri Hutabarat; Resie VM Sinaga; Sophian Hutagalung
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 2, No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54024/illuminate.v2i2.183

Abstract

Worship is a relationship between God's people and God as a binding relationship. The bond is applied because of the right understanding and is shown in terms of loyalty to worship God. Medan Antioch Baptist Church as a place to grow for believers in God, faces many challenges to be faithful in worship, especially pre-pandemic-post-pandemic. This research uses a quantitative survey method. And found, First the understanding of loyalty to Allah in the moderate category. Second, the understanding of perseverance in worship is in the low category. Third, there is a significant influence between the variables of understanding of perseverance on loyalty to God. The influence of the understanding of perseverance on faithfulness to God in worship can be made if, first, live according to the gospel; second, stand together in the gospel; third, not afraid to face threats: fourth, suffer for GodKeywords: Church, Worship, Faithfulness  AbstrakBeribadah merupakan hubungan antara umat Tuhan dengan Tuhan sebagai hubungan yang mengikat. Ikatan itu diaplikasikan karena pemahaman yang benar dan ditunjukkan dalam hal kesetiaan untuk beribadah kepada Tuhan. Gereja Baptis Antiokhia Medan sebagai salah satu tempat untuk bertumbuh bagi orang percaya didalam Tuhan, menghadapi banyak tantangan untuk setia dalam beribadah secara khusus pra pandemi-pasca pandemi. Penelitian ini menggunakan kuantitaf dengan metode survey. Dan ditemukan, Pertama pemahaman tentang kesetiaan kepada Allah dalam kategori sedang. Kedua pemahaman tentang ketekunan dalam beribadah ada pada kategori rendah, Ketiga terdapat pengaruh yang signifikan antara variabel pemahaman tentang ketekunan terhadap kesetiaan kepada Allah. Pengaruh pemahaman tentang ketekunan terhadap kesetiaan kepada Allah dalam beribadah dapat dilakukan jika, pertama, hidup sesuai dengan Injil; kedua, berdiri bersama dalam Injil; ketiga, tidak gentar menghadapi ancaman: keempat, menderita untuk TuhanKata Kunci: Jemaat, Beribadah,Kesetiaan