cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
melo.iakntoraja@gmail.com
Editorial Address
Jl Poros Makale-Makassar Km 11,5 Mengkendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Melo: Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 27982017     EISSN : 27982254     DOI : https://doi.org/10.34307/mjsaa.v1i2
Melo is a Torajanese term that means good, excellent, pleasant, best. Melo is impression of God when He saw His creation. In Genesis 1, could be found that there are seven times He expresses this word. Every part of creation of God perfectly fulfills His will and purpose. This is the inspiration or view that underlies the use of the term Melo as the name for the study of religions journal. This journal is intended to publish research results that can bring goodness to human civilization as creation of God. Focus and Scope: 1. Digital Culture 2. Religion and Health 3. Philosophy of Religion 4. Religion and Politics 5. Religion, Economic, and Tourism
Articles 47 Documents
PENGAJARAN YESUS TENTANG TOLERANSI DALAM MASYARAKAT MAJEMUK Mandala, Yohanes; Tari, Ezra
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v3i2.155

Abstract

Abstract: In the middle of a pluralistic society, the Indonesian Church exists and develops. The civilization is made up of several tribes, faiths, ethnicities, and nations. Diversity is frequently a source of conflict in the lives of Indonesians. Hate speech in the name of religion, ethnicity, or creed, as well as other acts of intolerance, have become serious issues that must be addressed at this time. Indonesia, which prides itself on its variety, confronts a significant task in moving forward and growing as an independent nation. The teachings of Jesus in Matthew 22:39 can be taken as a call to love and respect one's fellow beings regardless of background, religion, or ethnicity. Tolerance may be defined as an open mindset, tolerance for difference, and respect for human rights. In this context, these teachings can serve as the foundation for a tolerance-based mindset in a diverse society where people from varied origins can coexist peacefully and with mutual respect. Abstrak: Gereja Indonesia tetap eksis dan berkembang di tengah Masyarakat majemuk. Peradaban tersebut terdiri dari beberapa suku, agama, etnis, dan bangsa. Keberagaman seringkali menjadi sumber konflik dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Ujaran kebencian yang mengatasnamakan agama, suku, atau keyakinan, serta tindakan intoleransi lainnya, sudah menjadi permasalahan serius yang harus segera diatasi saat ini. Indonesia, yang bangga dengan keberagamannya, mempunyai tugas berat untuk maju dan tumbuh sebagai bangsa yang mandiri. Toleransi merupakan sikap dan cara hidup yang diperlukan dalam masyarakat majemuk. Ajaran Yesus dalam Matius 22:39 dapat diartikan sebagai panggilan untuk mencintai dan menghormati sesama manusia tanpa memandang perbedaan latar belakang, agama, atau suku. Toleransi dapat dipahami sebagai sikap terbuka, menghargai keberagaman, dan menghormati hak-hak asasi manusia. Dalam konteks ini, ajaran tersebut dapat menjadi dasar bagi sikap toleransi dalam masyarakat majemuk, di mana individu-individu dengan berbagai latar belakang dapat hidup bersama secara damai dan saling menghormati.
SYMBOLIC INTERRACTION ON HOLY TOWERS: A CROSS-RELIGIUS AND CULTURAL STUDY: Kajian Lintas Agama dan Budaya Daulah, Hasan
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i1.156

Abstract

Abstract : The purpose of this article is to study the culture used by Sunan Kudus in spreading Islam, by considering the symbolic relationship between tradition and culture found in the Kudus tower in Central Java. This research is based on the history of Sunan Kudus's da'wah approach which prioritizes tolerance during the Islamization process. Therefore, the approach used by Sunan Kudus can produce harmony in society. It is possible to use symbolic relationships to further explain how Sunan Kudus can promote harmony in society, which will be the main topic of the author's article. The author uses symbolic interaction theory which is supported by cross-cultural concepts of religion and culture. They describe the Kudus community as asocial research that has a tolerant identity in a plural society. The results of this research show how a pluralist society and a society that respects differences develops, allowing differences to work together. Abstrak: Tujuan dari artikel ini adalah untuk mempelajari budaya yang digunakan oleh Sunan Kudus dalam menyebarkan agama Islam, dengan mempertimbangkan hubungan simbolik antara tradisi dan budaya yang ditemukan di Menara Kudus di Jawa Tengah. Penelitian ini didasarkan pada sejarah pendekatan dakwah Sunan Kudus yang mengutamakan toleransi selama proses Islamisasi. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan oleh Sunan Kudus dapat menghasilkan keharmonisan di masyarakat. Dimungkinkan untuk menggunakan hubungan simbolik untuk menjelaskan lebih lanjut bagaimana Sunan Kudus dapat mempromosikan keharmonisan dalam masyarakat, yang akan menjadi topik utama artikel penulis. Penulis menggunakan teori interaksi simbolik yang didukung oleh konsep agama dan budaya lintas budaya. Mereka menggambarkan masyarakat Kudus sebagai penelitian sosial yang memiliki identitas toleran dalam masyarakat yang plural. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana masyarakat pluralis dan masyarakat yang menghargai perbedaan berkembang, memungkinkan perbedaan berjalan bersama.
TINJAUAN TEOLOGIS TUDANG SIPULUNG DALAM TRADISI BUGIS-MAKASSAR DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HUBUNGAN ISLAM-KRISTEN DI SULAWESI SELATAN Ibrahim, Adrian; Kanna, Armin Sukri; Gumelar, Fajar
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i1.158

Abstract

Abstract: In the Indonesian context, conflicts based on religious issues generally occur between Islam and Christianity. Stereotypes towards each other are the main trigger for religious tension and conflict. This conflict with a religious background shows how bad people's lives are, both in terms of understanding their own religion and culture and in terms of understanding other people's religions and cultures. Religion, which is supposed to lead society to a just and peaceful life, actually causes division and even bloodshed. For the sake of a better civilization and religious life, especially in the context of society in South Sulawesi, the author sees that it is important to take a cultural approach. One of the cultural values that can be analyzed as a means of conflict resolution is Tudang Sipulung. This research focuses on reviewing the theological values of Tudang Sipulung based on the Bible in order to draw implications (socio-cultural-theological) for Islamic-Christian relations in South Sulawesi. The results of this research show that Tudang Sipulung can become a space for Islamic-Christian dialogue, a forum for unifying Islam and Christianity, and an embodiment of Islamic-Christian harmonization. Abstrak: Dalam konteks Indonesia, konflik yang dilatarbelakangi masalah agama umumnya terjadi antara Islam dan Kristen. Stereotipe terhadap satu sama lain, menjadi pemantik utama ketegangan dan konflik agama. Konflik yang berlatarbelakang agama ini menunjukkan betapa buruknya kehidupan masyarakat, baik dalam hal memahami agama dan budayanya sendiri maupun dalam hal memahami agama dan budaya orang lain. Agama yang seharusnya membawa masyarakat pada kehidupan yang adil dan damai, justru menimbulkan perpecahan bahkan pertumpahan darah. Demi sebuah peradaban dan kehidupan beragama yang lebih baik, khususnya dalam konteks masyarakat di Sulawesi Selatan, penulis melihat bahwa pendekatan budaya penting untuk dilakukan. Adapun salah satu nilai budaya yang dapat dianalisa sebagai sarana resolusi konflik adalah Tudang Sipulung. Penelitian ini berfokus meninjau nilai-nilai teologis dari Tudang Sipulung berdasar Alkitab guna menarik sebuah implikasi (sosio-kultural-teologis) terhadap hubungan Islam-Kristen di Sulawesi Selatan. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Tudang Sipulung dapat menjadi ruang dialog Islam-Kristen, wadah pemersatu Islam-Kristen, serta perwujudan harmonisasi Islam-Kristen.
IDENTITAS KEAGAMAAN YANG INKLUSIF DALAM KONTEKS RUANG DIGITAL UNTUK MEMBANGUN PERDAMAIAN Pemberian, Pemberian
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.165

Abstract

Abstract: Religious fanaticism and intolerance have increasingly proliferated in the digital space. The rise of individualism, where people often prioritize personal interests over collective well-being, contributes to the growing polarization and separation. The research aims to dig deeper into religious phenomena in the digital space and understand the discourse of scholars' perspectives to build a spirit of inclusivity and interfaith peace. This research uses the Critical Discourse Analysis (CDA) method, which descriptively examines the necessary texts and documents and criticizes them. The theoretical analysis departs from the views of Amartya Sen and F. Budi Hardiman. The results show that Sen emphasizes the importance of not only affiliating with a singular identity but realizing and appreciating the multiplicity of identities. Hardiman elaborates on the importance of ethical moral principles in digital space to prevent religious fanaticism. Both Sen and Hardiman emphasize the importance of inclusivity in fostering interfaith peace solidarity in the public sphere through respecting the difference of perspectives and identities of others. Abstrak: Fanatisme dan intoleransi beragama telah dan sedang menjamur di ruang digital dewasa ini. Setiap orang hidup secara individualis dan mengabaikan kebaikan bersama, sehingga seringkali menciptakan polarisasi hingga perpecahan. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam fenomena keagamaan dalam ruang digital, dan memahami diskursus pandangan para ahli dalam rangka membangun semangat inklusivitas dan perdamaian antaragama. Penelitian ini menggunakan metode Critical Discourse Analysis (CDA), yaitu meneliti secara deskriptif teks dan dokumen yang diperlukan dan mengkritisinya. Analisis teori berangkat dari pandangan Amartya Sen dan F. Budi Hardiman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sen menekankan pentingnya tidak hanya berafilisasi pada identitas tunggal, tetapi menyadari dan menghargai keragaman identitas. Hardiman mengelaborasi pentingnya prinsip moral etis dalam ruang digital untuk mencegah fanatisme beragama. Baik Sen dan Hardiman sama-sama memberi penekanan pada pentingnya semangat inklusivitas untuk membangun solidaritas perdamaian antaragama dalam ruang publik melalui penghargaan terhadap perbedaan perspektif dan identitas orang lain.
Tinjauan Terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing Bagi Suku Dayak Ngaju Penyang, Teguh; Anggellyna, Sri; Lianto, Lianto
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.166

Abstract

Abstract: This research discusses the terminology of the Tree of Life Genesis 2:9 with Crisp Trunks in the Dayak Ngaju tribe. Batang Garing is the Tree of Life for the Dayak Ngaju tribe, which is a gift from Ranying Hatalla. The similarity of the term Tree of Life is the focus of the author's research to review the terminology of the Tree of Life in Genesis 2:9 with the Garing Trunk for the Christian Dayak Ngaju tribe. This research will review whether the Tree of Life in Genesis 2:9 is the same as Batang Garing, interpreted as the Tree of Life for the Dayak Ngaju tribe. The research method used by the author is a descriptive qualitative research method. Data analysis techniques include description, reduction, selection, and conclusions. The terminology of the Tree of Life in Genesis 2:9 is a tree that gives eternal life, and its existence in the middle of the Garden of Eden symbolically symbolizes the existence of God as the center of life in the Garden of Eden. Meanwhile, the term Batang Garing is interpreted as the Tree of Life by the Dayak Ngaju tribe, which is the source of the origin of human life in the ancestral belief of the Dayak Ngaju tribe, namely Kaharingan. The Tree of Life is apparent in the context of Genesis 2:9, while the Batang Garing from the ancestral era of the Ngaju Dayak tribe still exists today and is used as a guide to ife values for the Ngaju Dayak tribe. Abstrak: Penelitian ini membahas tentang terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing di suku Dayak Ngaju. Batang Garing merupakan Pohon Kehidupan bagi suku Dayak Ngaju yang merupakan anugerah dari Ranying Hatalla. Kesamaan istilah Pohon Kehidupan menjadi fokus penelitian penulis untuk meninjau terminologi Pohon Kehidupan Kejadian 2:9 dengan Batang Garing bagi suku Dayak Ngaju yang beragama Kristen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk meninjau apakah Pohon Kehidupan di Kejadian 2:9 sama dengan Batang Garing yang dimaknai sebagai Pohon Kehidupan bagi suku Dayak Ngaju. Adapun metode penelitian yang digunakan penulis adalah metode penelitian kualitatif deskriptif. Dengan teknik analisis data yaitu deskripsi, reduksi, seleksi dan kesimpulan. Terminologi Pohon Kehidupan di Kejadian 2:9 merupakan sebuah pohon yang memberikan kehidupan kekal dan keberadaannya di tengah taman Eden secara simbolik menyimbolkan eksistensi Allah sebagai pusat kehidupan di taman Eden. Sementara, terminologi Batang Garing dimaknai sebagai Pohon Kehidupan oleh suku Dayak Ngaju yang merupakan sumber asal usul kehidupan manusia dalam keyakinan leluhur suku Dayak Ngaju yaitu Kaharingan. Pohon Kehidupan sangat jelas ada pada konteks Kejadian 2:9, sedangkan Batang Garing dari zaman leluhur suku Dayak Ngaju masih eksis hingga saat ini dan dijadikan pedoman nilai hidup bagi suku Dayak Ngaju.
Moderasi Beragama dan Akulturasi Agama Budaya: Sebuah Dinamika Hidup Beragama di Tana Toraja: Sebuah Dinamika Hidup Beragama di Tana Toraja Darius, Gayus; Safril, Safril
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.167

Abstract

Abstract: Conflicts driven by religious backgrounds or those claiming to represent religion pose significant threats, especially in societies that are highly diverse in terms of culture, ethnicity, race, and religion. In the Toraja community, the acculturation of religion and culture, along with religious moderation, serve as two models of religious practice to address religious conflicts. This study employs a descriptive qualitative research method, focusing on the values developed through the approaches of religious moderation and religious-cultural acculturation. The findings of this research reveal that religious moderation can be integrated with local culture, particularly the value of "karapasan," which aligns with the concept of religious moderation focused on humanity and the public good. Meanwhile, the religious-cultural acculturation approach is more dominant in seeking universal values without relying solely on religion as the moral framework. The socio-cultural approach creates universal values that are acceptable to both Christian and Muslim communities. In this context, it is evident that religion is not in conflict with culture; rather, both can interact and form a dialogue to achieve religious harmony in life. Abstrak: Konflik yang dipicu oleh latar belakang keagamaan atau yang mengatasnamakan agama memang membawa ancaman yang cukup besar apalagi dalam masyarakat yang sangat majemuk. Majemuk dalam budaya, suku, ras maupun agama. Di dalam masyarakat Toraja, akulturasi agama budaya dan moderasi beragama menjadi dua model beragama untuk mengatasi terjadinya konflik keagamaan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan berfokus pada nilai-nilai yang dikembangkan dari pendekatan moderasi beragama dan akulturasi agam-budaya. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa moderasi beragama dapat diintegrasikan dengan budaya lokal khususnya nilai karapasan yang sejalan dengan konsep moderasi beragama yang berfokus pada kemanusiaan dan kemaslahatan umum. Sedangkan pendekatan akulturasi agama-budaya lebih dominan dalam mencari nilai-nilai universal tanpa menggunakan agama sebagai satu-satunya sumber nilai moral. Pendekatan sosio-kultural menciptakan nilai-nilai yang universal yang dapat diterima baik di kalangan umat Kristen maupun umat Islam. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa agama tidak bersifat bertentangan dengan budaya; sebaliknya, keduanya bisa saling berinteraksi dan membentuk dialog dalam mewujudkan harmonisasi hidup beragama.
TEOLOGI MENGGUGAT SISTEM DEMOKRASI DAN POLITIK DI INDONESIA Roni, Roni; Yosbekasa, Yosbekasa
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i2.168

Abstract

Abstract: This article discusses the democratic and political system in Indonesia, which is not free from challenges such as corruption, money politics, human rights violations, and various other obstacles. These conditions indicate that Indonesian democracy has not reached its final stage. Various individuals and political elites, using the legitimacy of power, tarnish the democratic system in Indonesia, giving rise to various criticisms from democracy advocates to this day. Through this writing, the author attempts to examine the Indonesian democratic system through the lens of Jurgen Moltmann's political theology in Indonesia. This research uses a qualitative literature study approach to describe Moltmann's views regarding political theology within the democratic system in Indonesia. Abstrak: Artikel ini membahas sistem demokrasi dan politik di Indonesia yang tidak terbebas dari tantangan, seperti korupsi, money politik, pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM), dan berbagai macam tantangan lainnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia belum sampai pada tahapan final. Berbagai macam oknum dan elit-elit politik dengan legitimasi kekuasaan mencoreng sistem demokrasi di Indonesia, sehingga timbul berbagai macam kritik dari pejuang demokrasi hingga saat ini. Melalui tulisan ini, penulis mencoba membaca sistem demokrasi Indonesia melalui lensa teologi politik Jurgen Moltmann di Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kepustakaan, untuk menguraikan bagaimana pandangan Moltmann terkait teologi politik dalam sistem demokrasi di Indonesia.
DIALOJEK: INTERFAITH DAILY DIALOG OF CHRISTIAN-MUSLIM OJEK DRIVERS IN SEKO LUWU-UTARA Alam, Jems
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 5 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v5i1.170

Abstract

Abstract: This paper aims to show the interfaith daily dialog of Christian-Muslim ojek drivers in Seko, Luwu-Utara. The author emphasizes the importance of interfaith daily dialog as a common space to encounter differences and uphold brotherhood through daily dialog as a life text. The method used in this research is a qualitative approach as a research procedure that produces descriptive data in the form of written or spoken words from people or observable behavior. This research was conducted in July-August 2024 in Seko. Data collection procedures were carried out through observation and interviews in the field, data examination, coherent data analysis and conclusion drawing. In this research, the author uses the theory of inter-religious and social solidarity as a perspective to see the interrelationship between interfaith dialogue which is influenced by the solidarity created in the community. In the end, this article concludes based on the research findings that daily interfaith dialog takes place in their life experiences across extreme paths. Roads, stalls and people's homes become common spaces for interfaith and ethnic encounters that give birth to shared experiences and create brotherhood. The solid attitude among them is united by common interests and responsibilities. On the other hand, the relationship between ojek drivers and the community is united by different needs and functions as a way of survival. Abstrak: Tulisan ini bertujuan memperlihatkan dialog keseharian lintas agama tukang ojek Kristen-Muslim di Seko Luwu-Utara. Penulis menegaskan pentingnya dialog keseharian antar agama sebagai ruang bersama memperjumpakan perbedaan dan menjunjung persaudaraan melalui dialog keseharian sebagai teks kehidupan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif yakni suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang terkait perilaku yang dapat diamati. Penelitian ini dilakukan bulan Juli-Agustus 2024 di Seko. Prosedur pengambilan data dilakukan melalui observasi dan interview di lapangan, pemeriksaan data, analis data yang koheren dan penarikan kesimpulan. Subjek penelitian ini ialah Tukang Ojek. Dalam penelitian ini penulis menggunakan teori inter-religious dan solidaritas sosial sebagai perspektif melihat keterkaitan antar dialog lintas iman yang dipengaruhi oleh solidaritas yang tercipta dalam masyarakat. Pada akhirnya artikel ini menyimpulkan berdasarkan temuan penelitian bahwa dialog keseharian lintas agama berlangsung dalam pengalaman hidup mereka melintasi jalur yang ekstrim. Jalan, warung dan rumah warga menjadi ruang bersama dalam perjumpaan lintas iman dan etnis yang melahirkan pengalaman bersama serta menciptakan persaudaraan. Sikap solid diantara mereka disatukan oleh kepentingan dan tanggung jawab bersama. Pada sisi yang lain relasi tukang ojek dan masyarakat dipersatukan oleh kebutuhan dan fungsi yang berbeda sebagai cara bertahan hidup.
BUDAYA OVERWORK PADA PEREMPUAN SEBAGAI BENTUK PERBUDAKAN MODERN DAN RESPONS TEOLOGI KESEHATAN Nole, Otniel Aurelius
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 5 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v5i1.171

Abstract

Abstract: The notion of overworking, whether due to high job demands or personal choice, as normal is a fallacy. Overwork culture happens to women and causes serious problems for the body, one of which results in burnout, and even has implications for modern slavery. The researcher’s argument is that the culture of overwork experienced by women is a reflection of modern slavery, which is very crucial because it causes the body to experience burnout, so efforts to actualise theological actions need to be done to respect the health of the body, both physical and mental. The purpose of this research was to criticise the culture of overwork in women as a form of modern slavery and then respond to it with health theology. This research method was qualitative with a literature review study. This research used Tyler J. VanderWeele’s theory of health theology from a Christian perspective. The result of this study is that women have the right to determine the health of life for the body. Women have the capacity to reject the reality of modern slavery. The culture of work should be more concerned with balance and pay attention to the health of the body. Women should express their bodies without pressure and suffering. Respecting the body with rest is the principle of maintaining a healthy physical and mental condition. Abstrak: Anggapan bekerja secara berlebihan, baik karena tuntutan pekerjaan yang tinggi maupun pilihan pribadi, sebagai hal yang wajar adalah kekeliruan. Budaya overwork terjadi pada perempuan dan menyebabkan masalah serius bagi tubuh, salah satunya mengakibatkan burnout, bahkan berimplikasi pada perbudakan modern. Argumentasi peneliti adalah budaya overwork yang dialami oleh perempuan adalah cerminan perbudakan modern yang sangat krusial, karena mengakibatkan tubuh mengalami burnout, sehingga usaha mengaktualisasikan tindakan teologis perlu dilakukan untuk menghargai kesehatan tubuh, baik fisik maupun mental. Tujuan penelitian ini adalah mengkritisi budaya overwork pada perempuan sebagai bentuk perbudakan modern, kemudian meresponsnya dengan teologi kesehatan. Metode penelitian ini adalah kualitatif dengan studi reviu literatur. Penelitian ini menggunakan teori teologi kesehatan dari Tyler J. VanderWeele dari sudut pandang Kekristenan. Hasil penelitian ini adalah perempuan memiliki hak untuk menetapkan kesehatan hidup bagi tubuh. Perempuan mempunyai kapasitas untuk menolak realitas perbudakan modern. Budaya bekerja seharusnya lebih mementingkan keseimbangan dan memperhatikan kesehatan tubuh. Perempuan seyogianya mengekspresikan tubuhnya tanpa diberi tekanan dan penderitaan. Usaha menghargai tubuh dengan istirahat adalah prinsip mempertahankan kondisi fisik dan mental yang sehat.
TARI-TARIAN LITURGI BULAN BUDAYA SEBAGAI TARIAN PENERIMAAN TERHADAP “YANG LAIN” DI GMIT Hermanus, Rio Rocky
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 5 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v5i1.174

Abstract

Abstract: The context of the Evangelical Christian Church in Timor which has a diversity of tribes and cultures is an opportunity for theological efforts that are appropriate to the context. On the other hand, the theological efforts in question are theologizing to accept "the others" in the diversity of local cultures. This writing uses a qualitative-descriptive method with an ethnographic approach for the way to - through, following (meta) and the path, way, direction (hodos) approaching a topic of study on the Liturgy of the Cultural Month (LBB). The results of this study are a form of acceptance of others for GMIT through dances in LBB. GMIT accepts others from the perspective of Christian faith to create a life of mutual acceptance in a diverse context in GMIT. Abstrak: Konteks Gereja Masehi Injili Di Timor yang memiliki keberagaman suku dan budaya adalah sebuah peluang bagi upaya berteologi yang sesuai dengan konteks. Di sisi lain, upaya berteologi yang dimaksud adalah berteologi untuk menerima “yang lain” dalam kepelbagaian budaya lokal. Penulisan ini menggunakan metode kualitatif-deskriptif dengan pendekatan etnografi untuk cara menuju–melalui, mengikuti (meta) dan jalan, cara, arah (hodos) mendekati sebuah pokok kajian tentang Liturgi Bulan Budaya (LBB). Hasil dari penelitian ini adalah bentuk dari penerimaan terhadap yang lain bagi GMIT melalui tari-tarian dalam LBB. GMIT menerima yang lain dari perspektif iman Kristen untuk menciptakan kehidupan yang saling menerima dalam konteks yang beragam di GMIT.