cover
Contact Name
Yohanes Krismantyo Susanta
Contact Email
yohanessusanta@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
melo.iakntoraja@gmail.com
Editorial Address
Jl Poros Makale-Makassar Km 11,5 Mengkendek, Tana Toraja, Sulawesi Selatan
Location
Kab. tana toraja,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Melo: Jurnal Studi Agama-agama
ISSN : 27982017     EISSN : 27982254     DOI : https://doi.org/10.34307/mjsaa.v1i2
Melo is a Torajanese term that means good, excellent, pleasant, best. Melo is impression of God when He saw His creation. In Genesis 1, could be found that there are seven times He expresses this word. Every part of creation of God perfectly fulfills His will and purpose. This is the inspiration or view that underlies the use of the term Melo as the name for the study of religions journal. This journal is intended to publish research results that can bring goodness to human civilization as creation of God. Focus and Scope: 1. Digital Culture 2. Religion and Health 3. Philosophy of Religion 4. Religion and Politics 5. Religion, Economic, and Tourism
Articles 43 Documents
SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW: FENOMENOLOGI MODERASI BERAGAMA ISLAM DAN KRISTEN DI MALUKU BERDASARKAN BUDAYA PELA GANDONG : indonesia Dicky Dominggus
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : In today's pluralistic society, moderation is an interesting subject to discuss. Maluku is a pilot area in terms of religious moderation. The implementation of moderation in Maluku can run optimally because it is based on various local wisdoms, one of which is Pela Gandong. The method used in this study is a Systematic Literature Review (SLR) of journal articles published in 2018-2022. In the study, there were three research questions, namely whether Pela Gandong has a role in moderating Muslims and Christians in Maluku? What factors influenced Pela Gandong to play a role in moderating Muslims and Christians in Maluku? What is the form of moderation in Islam and Christianity in Maluku in Pela Gandong? The results obtained from this study are that Pela Gandong has a role in moderating Muslims and Christians in Maluku. The cause of the strong role of Pela Gandong in religious moderation in Maluku is because Pela Gandong itself is a bond of brotherhood that has been built since ancient times. Regarding form, Pela Gandong in religious moderation in Maluku is brotherhood between two countries (village) which is formulated in the form of an agreement where both parties must agree and may not violate one another. Abstrak: Dalam kehidupan masyarakat yang majemuk pada masa kini, moderasi merupakan pembahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Maluku merupakan daerah percontohan dalam hal moderasi beragama. Pelaksanaan moderasi di Maluku dapat berjalan optimal karena didasarkan pada berbagai kearifan lokal yang salah satunya adalah Pela Gandong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Systematic Literature Review (SLR) terhadap artikel jurnal yang terbit pada tahun 2018-2022. Dalam penelitian terdapat tiga research question yakni apakah Pela Gandong memiliki peranan dalam moderasi beragama Islam dan Kristen di Maluku? Faktor apakah yang mempengaruhi Pela Gandong dapat berperan dalam moderasi beragama Islam dan Kristen di Maluku? Bagaimana bentuk dalam moderasi beragama Islam  dan Kristen di Maluku dalam Pela Gandong? Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah Pela Gandong memiliki peranan dalam moderasi beragama Islam dan Kristen di Maluku. Adapun penyebab dari begitu kuat peranan Pela Gandong dalam moderasi beragama di Maluku disebabkan Pela Gandong itu sendiri sebagai ikatan persaudaraan yang sudah terbangun sejak zaman leluhur. Mengenai bentuk, Pela Gandong dalam moderasi beragama di Maluku adalah persaudaraan antar dua negeri (desa) yang dirumuskan dalam bentuk perjanjian di mana kedua pihak harus menyepakati dan tidak boleh melanggar satu sama lain.
Kristiawan, Purnomo Membangun Surga Yang Hilang: Pengelolaan Objek Wisata Air Terjun Jumog Ditinjau dari Prinsip Wirausaha Lestari dan Etika Global Purnomo Kristiawan
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Tourism has a considerable impact on the people of Karanganyar, as the Jumog waterfall has created new jobs and economic growth for the people of Berjo. On the other hand, this growth in the tourism sector also raises ecological, sociological and even theological problems that cause some local residents to not be able to enjoy the results of Jumog waterfall tourism but instead get the impact of environmental damage caused by investors. This research aims to examine the issue of Jumog waterfall from the perspective of sustainable entrepreneurship based on three fundamental things, namely justice, welfare and sustainability. This paper uses a qualitative research method that utilizes a literature study of the main literature from the thoughts of Emanuel Gerrit Singgih on ecological theology and Yahya Wijaya on the concept of sustainable entrepreneurship with the dimensions of Profitability, Solidarity and Sustainability. In this paper, it is found that to improve and advance the management of Jumog waterfall tourist attractions, efforts are needed to turn the haunted into the sinengker by building an internalized theology of panentheism through village clean rituals, caring for local wisdom such as the value of mutual cooperation and tribrata learning from RM Said and the need to empower the berjo village community through systematically designed trainings to improve competence in management  Jumog waterfall attraction. Abstrak: Pariwisata memberi dampak yang cukup besar bagi masyarakat Karanganyar, sebagaimana air terjun Jumog yang telah menciptakan lapangan kerja baru dan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat Berjo. Di lain sisi, pertumbuhan di sektor pariwisata ini menimbulkan persoalan ekologis, sosiologis bahkan teologis yang menyebabkan beberapa warga lokal tidak dapat menikmati hasil dari wisata air terjun Jumog. Namun, justru mendapatkan dampak dari kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh investor. Penelitian ini hendak mengkaji persoalan air terjun Jumog dari perspektif kewirausahaan lestari yang berbasis pada tiga hal mendasar, yakni keadilan, kesejahteraan dan keberlanjutan. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang memanfaatkan studi pustaka atas literatur utama dari pemikiran Emanuel Gerrit Singgih mengenai teologi ekologi dan Yahya Wijaya tentang konsep kewirausahaan lestari yang berdimensi profitabilitas, solidaritas dan keberlanjutan. Tulisan ini menemukan bahwa untuk meningkatkan dan memajukan pengelolaan objek wisata air terjun Jumog diperlukan upaya mengubah yang angker menjadi yang sinengker dengan membangun teologi panenteisme yang diinternalisasi melalui ritual bersih desa dan merawat kearifan lokal seperti nilai kegotong-royongan.
PARADIGMA MISI KRISTEN DALAM ERA PLURAL, : Memoderasi Dinamika Relasi Agama di antara Spontanitas Kemanusiaan dan Legalistik Transaksional Rannu Sanderan; Feky Markus; Polina Ulpa; Rati Datukayang; Nelchy Boboy; Albir Resua
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 1 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract : The purpose of this research is to explore the social diversity experienced by Christians (the Church), which dynamically manifests varied attitudes and responses. This research article explores the significance of Christian mission in fostering interreligious dialogue in the context of everyday human life, encompassing both fundamental cooperation and the resolution of social issues. The theoretical approach employed revolves around the construction of religious diversity in an increasingly pluralistic society, as well as an understanding of social and cultural values as the foundation of human interaction. The study highlights the need to reconstruct the understanding of Christians regarding religious pluralism, by referring to biblical guidance that acknowledges the existence of other religious individuals and an understanding of God's salvific work encompassing multiple traditions and paths. However, challenges persist in the attitudes and understanding of Christians towards other religions, including exclusive and superior attitudes, as well as transactional and legalistic perspectives that hinder productive dialogue. Additionally, issues of tolerance, justice, migration, globalization, and sustainable development are also of concern in the context of Christian mission. The findings of this research contribute to depicting the complexities and challenges faced in the current context of Christian mission, while providing a foundation for the development of more inclusive, sustainable, and responsive approaches and practices towards social and environmental dynamics. Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi fakta keragaman sosial yang dialami orang Kristen (Gereja), yang secara dinamis menunjukkan sikap dan tanggapan yang berbeda-beda. Artikel penelitian ini mengeksplorasi pentingnya misi Kristen menghidupkan dialog antaragama dalam konteks kehidupan kemanusiaan sehari-hari, baik dalam hal kerjasama fundamental maupun penyelesaian masalah sosial. Pendekatan teoritik yang digunakan adalah konstruksi keberagaman agama dalam masyarakat yang semakin majemuk, serta pemahaman tentang nilai-nilai sosial dan kultural sebagai dasar interaksi manusia. Penelitian ini menyoroti perlunya merekonstruksi pemahaman Gereja terhadap pluralitas agama dengan merujuk pada panduan Alkitab yang mengakui keberadaan orang beragama lain dan pemahaman tentang karya penyelamatan Allah yang melibatkan banyak tradisi dan cara. Namun, masih terdapat tantangan dalam sikap dan pemahaman orang Kristen terhadap agama-agama lain, seperti sikap eksklusif, superior, dan pemahaman transaksional legalistik yang menghambat dialog yang produktif. Selain itu, masalah toleransi, keadilan, migrasi, globalisasi, dan keberlanjutan pembangunan juga menjadi perhatian dalam konteks misi Kristen. Hasil penelitian ini berkontribusi dalam menggambarkan kompleksitas dan tantangan yang dihadapi dalam konteks misi Kristen saat ini, serta memberikan landasan bagi pengembangan pendekatan dan praktik yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan responsif terhadap dinamika sosial dan lingkungan.
URGENSI HOSPITALITAS KRISTIANI DALAM MEWUJUDKAN MODERASI BERAGAMA DITENGAH MASYARAKAT MULTIKULTURAL Tembang, Setblon
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v3i2.138

Abstract

Abstract: This research is motivated by the rise of extreme religious attitudes and practices, which have an impact on the many conflicts between religious believers in multicultural societies. In response to this, efforts are needed to prevent conflict between religious communities by living a moderate lifestyle. Religious moderation is a balanced perspective, attitude, and religious practice. This research was conducted using a literature-based descriptive method. This research aims to offer efforts to realize religious moderation in a multicultural society based on Christian hospitality in John 4:1-30. The results of this research show that Jesus showed an example of practicing hospitality in realizing a moderate attitude in religion amidst the socio-religious disruption of Jews and Samaritans through dialogue. Jesus attempted reconciliation in the midst of the tense conflict between the Jews and Samaritans. This is a form of hospitality that reflects a moderate attitude in religion: enemies who become friends. Christian hospitality within the framework of religious moderation seeks to deny excessive fanaticism that leads to fundamentalism and radicalism but embraces differences and builds friendship. This is an important pillar in building unity and integrity in a multicultural society. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya sikap dan praktek beragama yang ekstrim yang berdampak pada banyaknya konflik antar pemeluk agama dalam masyarakat multikultural. Merespon hal itu, dibutuhkan upaya untuk mencegah konflik antar umat beragama dengan cara hidup moderat. Moderasi beragama merupakan cara pandang, sikap dan praktek beragama yang seimbang. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif berbasis literatur. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan upaya mewujudkan moderasi beragama di tengah masyarakat multikultural berdasarkan hospitalitas Kristiani dalam Yohanes 4:1-30. Adapun hasil penelitian ini yaitu Yesus menunjukkan keteladanan dalam mempraktekkan hospitalitas dalam mewujudkan sikap moderat dalam beragama di tengah disrupsi sosial-religi orang Yahudi dan Samaria melalui dialog. Yesus berupaya melakukan sebuah rekonsiliasi di tengah ketegangan konflik antara orang Yahudi-Samaria. Inilah bentuk hospitalitas yang merefleksikan sikap moderat dalam beragama, musuh yang menjadi sahabat.  Hospitalitas Kristiani dalam bingkai moderasi beragama berupaya menafikkan fanatisme berlebih yang mengarah pada fundamentalisme dan radikalisme, tetapi merangkul perbedaan dan membangun persahabatan. Hal inilah yang menjadi pilar penting dalam membangun persatuan dan kesatuan di tengah masyarakat multikultural.
Implementasi Makna Immanuel dalam Bahasa Jawa dengan Konsep Makna “Manunggaling Kawula Gusti” dalam Islam Tasawuf Firmansah, Endik; Simon, Simon
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v3i2.139

Abstract

Abstract: The Javanese Bible has a slightly different translation from other translations for the meaning of the word Immanuel. In particular, this difference can be seen when comparing the meaning of Immanuel in Javanese and the meaning of Immanuel in Indonesian. What is interesting is that the translation in Javanese for the word Imanuel has similarities with the sentence "manunggaling kawula Gusti", which is a term that is very familiar in Sufism Islamic circles in Javanese society. The first question is whether the translation in Javanese is correct according to the original meaning or not. Second, is it true that the word Imanuel has similarities with the concept of "manunggaling kawula Gusti" in the Islamic belief in Sufism or not. Third, does the similarity of concepts also mean the same meaning? Fourth, with these similarities, the meaning of Immanuel in Javanese can be used as a means of cultural inculturation and contextualization of Islamic Sufism. Some of these questions will bring the discussion to a new insight related to the Christology of the meaning of Immanuel in the Javanese translation. This writing uses qualitative research methods, with a review of appropriate reference books and journals. Furthermore, it is also hoped that, by understanding the correct concepts and meanings, we can carry out cultural inculturation and contextualization appropriately in using the term Immanuel. Abstrak: Alkitab bahasa Jawa memiliki terjemahan yang sedikit berbeda dengan terjemahan lain untuk makna kata Imanuel. Secara khusus perbedaan tersebut terlihat ketika membandingkan antara arti Imanuel dalam bahasa jawa dan arti Imanuel dalam bahasa Indonesia. Menariknya adalah, terjemahan dalam bahasa Jawa untuk kata Imanuel memiliki kesamaan dengan kalimat “manunggaling kawula Gusti” yaitu istilah yang sangat familiar dalam kalangan Islam Tasawuf masyarakat Jawa. Pertanyaan pertama, apakah terjemahan dalam bahasa Jawa tersebut benar sesuai makna aslinya atau tidak. Kedua, apakah benar kata Imanuel memiliki kesamaan dengan konsep “manunggaling kawula Gusti” dalam keyakikan Islam Tasawuf atau tidak. Ketiga, apakah persamaan konsep tersebut juga berarti persamaan makna. Keempat, apakah dengan persamaan tersebut maka makna Imanuel dalam bahasa Jawa dapat dijadikan sebagai sarana inkulturasi budaya dan kontekstualisasi terhadap Islam Tasawuf. Beberapa pertanyaan ini, akan membawa pembahasan kepada sebuah wawasan baru terkait dengan Kristologi dari makna Imanuel dalam terjemahan bahasa Jawa. Penulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan tinjauan kepada buku dan jurnal referensi yang sesuai. Selanjutnya juga diharapkan, dengan pemahaman konsep dan makna yang benar, maka dapat melakukan inkulturasi budaya dan kontekstualisasi secara tepat dalam menggunakan istilah Imanuel.
PENDIDIKAN INTERRELIGIUS BERBASIS MODERASI BERAGAMA UNTUK MEMBENTUK KARAKTER BANGSA Nole, Otniel Aurelius; Serdianus, Serdianus
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v3i2.140

Abstract

Abstract : Religious moderation is key in explaining the right way of religious life and the obligation to respect other religions. It talks about what is done to humanize humans and reject violence. This is important for all people to understand and do. Religious moderation's nature, significance, and practice form a moderate character. A moderate character fills life with living conditions in harmony, peace, and harmony. This study aims to state efforts to form a moderate character based on religious moderation in everyday life. The approach used is interreligious education because this is interfaith education which is not monologue, but dialogue. Interreligious education is carried out constantly so that it is maximized. The research method is qualitative with the type of library research. This study found that interreligious education presents a habituation of the meaning of religious moderation for life that is not extreme and forms good character in the midst of life, namely moderate character. In this case, a moderate character is a must-have for everyone of all ages. Abstrak: Moderasi beragama merupakan kunci dalam menjelaskan cara hidup beragama yang benar dan kewajiban menghargai agama lain. Ini berbicara tentang apa yang dilakukan demi memanusiakan manusia dan menolak kekerasan. Ini penting untuk dipahami dan dilakukan oleh semua umat. Hakikat, signifikansi, dan praktik moderasi beragama dipakai untuk membentuk karakter moderat. Dengan karakter moderat, kehidupan dipenuhi dengan kondisi yang hidup rukun, damai, dan harmonis. Penelitian ini bertujuan untuk mengusulkan sebuah ide yang dapat menjadi salah satu alternatif dalam upaya membentuk karakter moderat berbasis moderasi beragama. Pendekatan yang dipakai adalah pendidikan interreligius karena ini merupakan pendidikan lintas agama yang tidak monolog, melainkan dialog. Pendidikan interreligius dilakukan secara konstan agar maksimal. Metode penelitiannya adalah kualitatif dengan pengumpulan data kepustakaan dari referensi yang terkait dengan moderasi beragama. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pendidikan interreligius menghadirkan habituasi tentang makna moderasi beragama bagi kehidupan yang tidak ekstrem, serta membentuk karakter yang baik di tengah-tengah kehidupan, yaitu karakter moderat. Dalam hal ini, karakter moderat adalah bagian yang perlu dimiliki untuk semua orang dengan segala jenis usia.
Ta'ek, Alfred Ruben Gordon Peran Formigala Dalam Pengembangan Moderasi Beragama di Seputih Raman Ta'ek, Alfred Ruben Gordon
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 3 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v3i2.141

Abstract

Abstract: The Interfaith Youth Forum (FORGIMALA) in Lampung Regency has contributed to maintaining interfaith peace in the Seputih Raman Subdistrict. This article aims to present and analyze the incidental actions carried out by FORGIMALA Seputih Raman since its formation in realizing religious moderation and preserving peaceful interfaith relations. The author employs a qualitative research method with an ethnographic approach. In this article, it is found that there are social practices developed and carried out collectively that can foster a model of religious moderation in the Seputih Raman area. The forum is no longer visible only during specific moments or events but has become a community with the ability and capacity to sustainably contribute to the development of interfaith peace. Abstrak: Forum Generasi Muda Lintas Agama (FORGIMALA) di Kabupaten Lampung telah memberi kontribusi untuk menjaga perdamaian lintas agama di Kecamatan Seputih Raman. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan dan menganalisis aksi-aksi insidental yang sudah dilakukan oleh FORGIMALA Seputih Raman semenjak dibentuk dalam mewujudkan moderasi beragama dan menjaga relasi damai lintas agama. Penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan etnografi. Dalam tulisan ini ditemukan bahwa ada praktik sosial yang dikembangkan dan dilakukan secara bersama-sama yang dapat mengembangkan model moderasi beragama di daerah Seputih Raman. Forum ini tidak lagi hanya terlihat pada moment atau event tertentu tetapi menjadi komunitas yang memiliki kemampuan dan kapasitas dalam upaya pengembangan perdamaian lintas agama yang berkesinambungan.
ANTISIPASI PERUBAHAN LINGKUNGAN PENDIDIKAN SECARA BUDDHIS Fendy, Fendy; Surya, Julia
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i1.143

Abstract

Abstract: This article describes the various changes that occur in the educational environment and how Buddhists anticipate changes in order to survive them well. Change is part of life, the ability to face change is very necessary in order to live a better life. Changes in the educational environment include changes in teaching methods, learning media, changes in the learning environment and physical and psychological changes in students. The research method uses a previous literature review approach. Literature study is a search using library research by collecting and reading various reference sources from books, journals, Buddhist scriptures and various other relevant reference sources to produce an article on a particular topic. and applying interpretative descriptive methods to produce three main points, namely: first, understanding change as part of life; second, the Buddhist view of change and the things needed to face change; third, various examples of anticipating changes from previous research in order to be able to face various changes better, especially in the educational environment. Abstrak: Tulisan ini menguraikan berbagai perubahan yang terjadi di lingkungan pendidikan dan cara Buddhis mengantisipasi perubahan agar dapat melaluinya dengan baik. Perubahan merupakan bagian dari kehidupan, kemampuan menghadapi perubahan sangat diperlukan agar bisa menjalankan kehidupan dengan lebih baik. Perubahan di lingkungan pendidikan meliputi perubahan cara pengajaran, media pembelajaran, perubahan lingkungan belajar dan perubahan fisik dan psikis peserta didik. Metode penelitian menggunakan kajian literatur terdahulu. Kajian literatur merupakan penelusuran dengan penelitian pustaka dengan cara mengumpulkan dan membaca berbagai sumber referensi baik dari buku-buku, jurnal, kitab Buddha dan berbagai sumber referensi lain yang relevan untuk menghasilkan sebuah tulisan berkenaan dengan topik tertentu, serta menerapkan metode deskriptif interpretatif sehingga menghasilkan tiga poin utama yaitu: pertama, pemahaman perubahan sebagai bagian dari kehidupan ; kedua, pandangan Buddhis terhadap perubahan dan hal-hal yang diperlukan untuk menghadapi perubahan; ketiga, berbagai contoh antisipasi menghadapi perubahan dari penelitian-penelitian terdahulu agar bisa menghadapi berbagai perubahan dengan lebih baik, terutama di lingkungan pendidikan.
MANGKIKI’: Kajian Misi Transformasi terhadap Budaya Mangkiki’ di Kalangan Penganut Aluk Toyolo di Mamasa D, Yuliana; Bamba, Arruan; Maviana, Anggriel
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i1.151

Abstract

Abstract: This study delves into the transformative mission of the church in the Aluk Toyolo culture of Mamasa about ritual of "Mangkiki'." As the church holds the responsibility to perpetuate God's mission, cultural engagement becomes paramount. The cross-cultural communication of the Gospel, especially in contexts like Aluk Toyolo, necessitates an approach contextualizes the local culture for effective transformation. Aluk Toyolo, a traditional belief system deeply rooted in Mamasa's history, poses unique challenges for Gospel integration. The ritual of "Mangkiki'" involves offering portions of slaughtered animals to earthly and celestial deities, seeking blessings, health, and prosperity. Despite being predominantly Christian, Mamasa society continues to observe Aluk Toyolo traditions, reflecting the significance of cultural heritage. Unlike previous perspectives that viewed culture through the lens of church determination, this study proposes a dialogical approach. The church, rather than dictating cultural acceptability, engages in a dialogue with the culture to foster transformation within its unique context. The objective is not to eliminate cultural practices but to preserve them as integral components of identity within the society community. Utilizing a qualitative methodology with descriptive analysis, this research employs literature studies, interviews, and observations to unravel the dynamics of "Mangkiki'" and its potential for Gospel-driven cultural transformation. By understanding and appreciating the cultural nuances, the church can facilitate a dialogue that promotes and fosters transformation based on Gospel values. A change in meaning and outlook that is in line with tehe values of Gospel toard culture is the mission transformation. Mangkiki’ isi a cultural ritual which is interpreted based on God’s Word that the sourch of blessing is not from the result of Mangkiki’ but comes from God. Abstrak: Penelitian ini membahas misi transformasi gereja dalam budaya Aluk Toyolo di Mamasa tentang ritual Mangkiki'. Gereja memiliki tanggung jawab untuk melanjutkan misi Tuhan. Komunikasi lintas budaya tentang Injil, terutama dalam konteks seperti Aluk Toyolo, memerlukan pendekatan mengkontekstualisasikan Injil terhadap budaya lokal untuk transformasi yang efektif. Aluk Toyolo, sebagai sistem kepercayaan tradisional yang berakar dalam sejarah Mamasa, menimbulkan tantangan unik bagi integrasi Injil. Ritual Mangkiki melibatkan persembahan bagian-bagian hewan yang disembelih kepada dewa-dewa bumi dan langit, mencari berkat, kesehatan, dan kemakmuran. Gereja hendaknya menerima budaya sebagai warisan dan terlibat dalam dialog dengan budaya untuk mendorong transformasi dalam konteksnya yang unik. Tujuannya bukan untuk menghapus praktik budaya, melainkan mempertahankannya sebagai komponen integral identitas dalam komunitas masyarakat. Penulis menggunakan metodologi kualitatif dan analisis deskriptif, penelitian ini memanfaatkan studi literatur, wawancara, dan observasi untuk mengungkap dinamika Mangkiki’ dan potensinya dalam transformasi budaya yang didorong oleh Injil. Memahami dan menghargai nuansa budaya, gereja dapat memfasilitasi dialog yang mempromosikan dan mendorong transformasi berdasarkan nilai-nilai Injil. Adanya perubahan makna dan pandangan yang sesuai dengan nilai Injil terhadap budaya itulah misi transformasi. Mangkiki’ adalah suatu ritual dari budaya yang dimaknai berdasarkan Firman Tuhan bahwa sumber berkat diperoleh bukan dari hasil Mangkiki’ melainkan bersumber dari Tuhan.
Penyanyian Jolo : Analisis Tradisi Penyanyian Jolo dalam Rambu Solo’ dan Relevansinya bagi Nilai Social-Religius Masyarakat di Gandangbatu Rapa', Ones Kristiani
Melo: Jurnal Studi Agama-agama Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/mjsaa.v4i1.153

Abstract

Abstract: This research aims to sociologically review the Penanian Dolo tradition in the frame of its dynamics, challenges and preservation in Lembang Gandangbatu, . Traditions in society are still maintained today because these traditions provide value to the dimensions of human life. Dynamics, challenges and cultural preservation are the starting points of this research in collaboration with several cultural theories. The author uses qualitative research methods to collect the necessary data. This method includes observation, interviews and documentation. The collected data is then analyzed by grouping the data, presenting the data and finally drawing conclusions based on existing data. The results of the research reveal that there are quite a lot of dynamics and challenges that accompany the preservation of the Dolo farming tradition, such as changes in song lyrics and the lack of seriousness among younger generations in engaging in the Dolo farming tradition. Apart from that, this tradition is not only carried out by people who are Christians but also Catholics and members of other denominations besides the Toraja Church. These other denominations include the KIBAID Church, Pentecostal Church, Indonesian Bethel Church and other charismatic sects. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sosiologis tradisi Penanian Dolo dalam bingkai dinamika, tantangan dan pelestariannya di Lembang Gandangbatu. Tradisi dalam masyarakat masih terpelihara hingga kini karena tradisi tersebut memberi nilai bagi dimensi kehidupan manusia. Dinamika, tantangan dan pelestarian budaya menjadi titik tolak dari penelitian ini dengan kolaborasi beberapa teori kebudayaan. Penulis menggunakan metode peneltian kualitatif untuk mengumpulkan data yang diperlukan. Metode ini meliputi observasi, wawancara dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisa dengan cara pengelompokan data, penyajian data dan terakhir penarikan kesimpulan  berdasarkan data yang sudah ada. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa begitu cukup banyak dinamika dan tantangan yang menyertai pelestarian tradisi penanian dolo seperti peruabahan syair lagu, kurangnya keseriusan generasi muda dalam keterlibatan tradisi Penanian Dolo. Selain itu, tradisi ini tidak hanya dilakukan masyarakat yang memeluk agama Kristen saja namun juga yang beragama Katolik serta yang beranggotakan denominasi lain selain Gereja Toraja. Denominasi lain ini seperti Gereja KIBAID, Pantekosta, Gereja Betel Indonesia dan aliran-aliran karismatik lainnya.