cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 216 Documents
Duka Pasca Pemakaman dan Tantangan Pendampingan Pastoral di Gereja Jimmy Leonardo; Yanto Paulus Hermanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.421

Abstract

Post-funeral grief represents the most vulnerable phase of loss, when liturgical and social support begin to fade while emotional and spiritual struggles intensify. However, pastoral practice in Indonesian churches remains largely concentrated on funeral services and memorial rites, with post-burial accompaniment often unstructured and discontinuous. This study aims to analyze the challenges of pastoral accompaniment in the post-funeral phase and to develop a process-oriented framework for pastoral presence among grieving congregants. Using a qualitative literature-based approach, this study examines biblical sources, pastoral theology, grief psychology, and contemporary pastoral research within the Indonesian context. The analysis identifies three major gaps: a theological gap in articulating eschatological hope, a pastoral gap in sustaining long-term accompaniment, and a contextual gap in mobilizing communal support. In response, this study proposes a post-funeral pastoral accompaniment model that integrates liturgy, counseling, and community-based support according to different types of loss. This model affirms that sustained pastoral presence is essential for the restoration of faith and the strengthening of spiritual resilience among those who grieve.AbstrakDuka pasca-pemakaman merupakan fase paling rentan dalam pengalaman kehilangan, ketika dukungan sosial dan liturgis mulai berkurang sementara pergumulan emosional dan spiritual justru meningkat. Namun, praktik gerejawi di Indonesia masih didominasi oleh pelayanan pada saat ibadah penghiburan dan pemakaman, dengan pendampingan setelahnya yang sering tidak terstruktur dan tidak berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan pendampingan pastoral pada fase pasca-pemakaman serta mengembangkan kerangka penyertaan pastoral yang berorientasi proses bagi jemaat yang berduka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi literatur atas sumber biblika, teologi pastoral, psikologi kedukaan, serta penelitian pastoral dalam konteks Indonesia. Hasil kajian menunjukkan adanya kesenjangan teologis dalam penekanan pengharapan eskatologis, kesenjangan pastoral dalam keberlanjutan pendampingan, dan kesenjangan kontekstual dalam pemanfaatan dukungan komunitas. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini merumuskan model pendampingan pastoral pasca-pemakaman yang mengintegrasikan liturgi, konseling, dan dukungan komunitas sesuai dengan jenis kehilangan. Model ini menegaskan bahwa penyertaan pastoral yang berkelanjutan merupakan kunci bagi pemulihan iman dan ketahanan spiritual jemaat.
Strategi Pembelajaran Inovatif di Era Digital: Meningkatkan Kualitas Pendidikan Abad ke-21 Zohra Widyastuti; Ridwan Arke Rokot
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.402

Abstract

The development of digital technology has brought significant changes in the world of education, demanding the adoption of innovative learning strategies to improve the quality of education in the 21st century. This research aims to analyze the effectiveness of technology-based learning strategies in improving student learning outcomes and identify challenges in their implementation. This study uses a descriptive qualitative method approach to scientific articles published in the last five years. Literature sources come from reputable journals that discuss the integration of technology in learning, including artificial intelligence, gamification, and adaptive learning. The results of the study show that the use of technology in learning, such as blended learning, gamification, and artificial intelligence, is able to increase student engagement and understanding. However, challenges in implementing this strategy include limited infrastructure, low digital competence of educators, and resistance to change. The research also highlights that the development of digital skills for educators and the optimization of digital education infrastructure are indispensable to support the success of innovative learning strategies. These findings imply the need for more adaptive policies in the application of educational technology, including strengthening training for educators and investing in digital facilities and infrastructure. With the right approach, innovative learning strategies can contribute to increasing the effectiveness and efficiency of education in the digital era.AbstrakPerkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, menuntut adopsi strategi pembelajaran inovatif guna meningkatkan kualitas pendidikan abad ke-21. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas strategi pembelajaran berbasis teknologi dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik serta mengidentifikasi tantangan dalam implementasinya. Studi ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Sumber literatur berasal dari jurnal bereputasi yang membahas integrasi teknologi dalam pembelajaran, termasuk kecerdasan buatan, gamifikasi, dan pembelajaran adaptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, seperti blended learning, gamifikasi, dan kecerdasan buatan, mampu meningkatkan keterlibatan serta pemahaman peserta didik. Namun, tantangan dalam implementasi strategi ini meliputi keterbatasan infrastruktur, rendahnya kompetensi digital pendidik, serta resistensi terhadap perubahan. Penelitian juga menyoroti bahwa pengembangan keterampilan digital bagi pendidik dan optimalisasi infrastruktur pendidikan digital sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan strategi pembelajaran inovatif. Temuan ini mengimplikasikan perlunya kebijakan yang lebih adaptif dalam penerapan teknologi pendidikan, termasuk penguatan pelatihan bagi pendidik serta investasi dalam sarana dan prasarana digital. Dengan pendekatan yang tepat, strategi pembelajaran inovatif dapat berkontribusi pada peningkatan efektivitas dan efisiensi pendidikan di era digital.
Krisis Spiritualitas dalam Pelayanan Gereja: Pendekatan Fenomenologis terhadap Pencarian Makna Iman Generasi Z Lianasari Hendarto; Sukma Hendra Wahyudi Surahman; Mariani Harmadi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.466

Abstract

The spiritual crisis among Generation Z has become a real phenomenon, especially among young ministers in local churches where they are involved in ministry but do not always have deep faith. Previous studies have focused more on Generation Z's involvement in terms of participation and religious behavior, while the inner meaning of ministry experienced by young ministers has been little studied. The purpose of this study is to provide an understanding of the meaning of a young minister's spiritual experience in the context of contemporary church ministry using a phenomenological-theological approach. Data collection was conducted through open interviews with several young ministers who are active in worship ministry and analyzed hermeneutically using the educative ministry framework. The results show that many ministers are physically present but not fully involved spiritually, because ministry is often understood as a technical routine rather than a space for encountering God. These findings emphasize the importance of restoring the meaning of ministry as a process of faith formation that shapes the character of Christ in ministers. Practically, this study recommends that churches develop reflective, relational, and contextual faith formation for Generation Z, so that ministry can once again become a means of spiritual transformation in the midst of a complex digital world.AbstrakKrisis spiritualitas di kalangan generasi Z menjadi fenomena yang nyata khususnya pada pelayan muda di gereja lokal di mana mereka terlibat dalam pelayanan tetapi tidak selalu diikuti dengan adanya iman yang dalam. Penelitian sebelumnya lebih banyak mengamati mengenai keterlibatan generasi Z dalam hal partisipasi dan perilaku keagamaan, sedangkan makna batin dari pelayanan yang dialami oleh para pelayan muda masih sedikit dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna sebuah pengalaman spiritual pelayan muda dalam konteks pelayanan gereja masa kini. Metode yang digunakan kualitatif fenomenologi melalui wawancara terbuka dengan beberapa pelayan kaum muda yang aktif dalam pelayanan ibadah. Analisis data dilakukan melalui pendekatan hermeneutik menggunakan kerangka educative ministry. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyak pelayan hadir secara fisik tetapi tidak sepenuhnya terlibat secara rohani, karena pelayanan sering dipahami sebagai rutinitas teknis, bukan sebagai ruang perjumpaan dengan Allah. Temuan ini menegaskan pentingnya pemulihan makna pelayanan sebagai proses formasi iman yang membentuk karakter Kristus di dalam diri pelaya. Secara praktis, penelitian ini merekomendasikan agar gereja mengembangkan pembinaan iman yang bersifat reflektif, relasional, dan kontekstual bagi generasi Z, sehingga pelayanan kembali menjadi sarana transformasi rohani di tengah dunia digital yang kompleks.
Perspektif Iman Kristen dalam Realitas Tradisi Carok di Madura Charles Poerwanto; Guntur Hari Mukti
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.344

Abstract

This research examined the interaction of Christian faith in facing and responding to the reality of the carok tradition on the island of Madura. The main issue raised was the perspective of the Christian faith on the factors that caused carok, which often led to violence and death. Using a contextual theology approach, this qualitative research aimed to explore the intersection that gave rise to patterns of changes in attitudes and understanding that led to character transformation. The main findings of this research showed that a Christian faith-based approach had the potential to change society's perspective with an emphasis on the values of love, forgiveness, and reconciliation. The results of this research were important because they provided new insights in the form of patterns of change in attitude and understanding that led to character transformation according to the perspective of the Christian faith, thereby contributing to resolving cultural and social conflicts. It was hoped that the impact of this research would have a positive influence in creating a peaceful and harmonious environment in Madura.AbstrakPenelitian ini mengkaji interaksi iman Kristen dalam menghadapi dan merespons realitas tradisi carok di Pulau Madura. Permasalahan utama yang diangkat adalah bagaimana perspektif iman Kristen pada faktor penyebab terjadinya carok yang sering kali berujung pada kekerasan dan kematian. Dengan pendekatan teologi kontekstual, penelitian kualitatif ini bertujuan untuk menelusuri titik temu yang memunculkan pola perubahan sikap dan pemahaman yang mengarah pada transformasi karakter. Penemuan utama dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan berbasis iman Kristen memiliki potensi untuk mengubah perspektif masyarakat dengan penekanan pada nilai kasih, pengampunan dan rekonsiliasi. Hasil penelitian ini penting karena memberikan wawasan baru berupa pola perubahan sikap dan pemahaman yang mengarah pada transformasi karakter menurut perspektif iman Kristen sehingga memberikan kontribusi dalam menyelesaikan konflik budaya dan sosial. Dampak penelitian ini diharapkan dapat memberi pengaruh positif dalam menciptakan lingkungan yang damai dan harmonis di Madura.
Misi Gereja dalam Budaya Digital: Integrasi Kepemimpinan Holistik dan Inkulturasi Injil Elisa Nimbo Sumual; Yohana Fajar Rahayu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.448

Abstract

The development of digital culture has fundamentally changed the way humans communicate and build relationships. It has even changed the way humans express their faith. The church no longer only deals with physical space, but also with virtual or digital space, which shapes the way congregations understand spiritual authority, spirituality, and the practice of faith. However, the Church's mission in digital culture is often carried out instrumentally without adequate theological integration between church leadership and the inculturation of the Gospel. The phenomenon of increasing religious activity in digital media, accompanied by the fragmentation of spirituality and the commodification of the Gospel message, points to the urgency of a deeper theological reflection on the digital mission of the Church. This study aims to analyse how the integration of holistic leadership and the inculturation of the Gospel can shape contextual and transformative church mission practices in digital culture. This study uses qualitative methods with a conceptual theological approach and critical literature analysis of studies on mission theology, pastoral care, and digital culture. The results of the study show that digital culture needs to be understood as a mission context that demands an inculturative approach, not merely a technological means. Holistic leadership acts as a theological agent that bridges the Gospel and digital culture in a critical and reflective manner. The integration of the two enables the church to present a mission that is relevant, faithful to the Gospel, and transformative in the digital age.AbstrakPerkembangan budaya digital telah mengubah secara mendasar cara manusia berkomunikasi dan juga membangun relasi. Bahkan mengubah manusia dalam mengekspresikan iman.  Gereja tidak lagi hanya berhadapan dengan ruang fisik, tetapi juga dengan ruang virtual atau digital yang membentuk cara umat memahami otoritas rohani, spiritualitas, dan praksis keimanan. Namun, praktik misi gereja dalam budaya digital kerap dijalankan secara instrumental tanpa integrasi teologis yang memadai antara kepemimpinan gereja dan inkulturasi Injil. Fenomena meningkatnya aktivitas keagamaan di media digital, disertai fragmentasi spiritualitas dan komodifikasi pesan Injil, menunjukkan urgensi refleksi teologis yang lebih mendalam terhadap misi gereja digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana integrasi kepemimpinan holistik dan inkulturasi Injil dapat membentuk praksis misi gereja yang kontekstual dan transformatif dalam budaya digital. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan teologi konseptual dan analisis literatur kritis terhadap kajian teologi misi, pastoral, dan budaya digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya digital perlu dipahami sebagai konteks misi yang menuntut pendekatan inkulturatif, bukan sekadar sarana teknologis. Kepemimpinan holistik berperan sebagai agen teologis yang menjembatani Injil dan budaya digital secara kritis dan reflektif. Integrasi keduanya memungkinkan gereja menghadirkan misi yang relevan, setia pada Injil, dan berdaya transformatif di era digital.
Adorasi Pribadi: Membangun Hubungan Intim dengan Tuhan di Setiap Aspek Kehidupan Sugito Sugito
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.340

Abstract

Penelitian ini mengkaji adorasi pribadi sebagai doa penyembahan yang mendalam untuk membangun hubungan intim dengan Tuhan. Orang Kristen banyak yang kurang memahami adorasi menganggap doa sebagai permohonan atau kebiasaan. tujuan penelitian ini adalah mengembangkan pendekatan praktis agar adorasi pribadi menjadi gaya hidup umat Kristiani yang fokus pada hubungan yang konsisten dengan Tuhan, memperdalam iman, dan meningkatkan spiritualitas, metode deskriptif kualitatif dengan studi literatur digunakan untuk menggali prinsip-prinsip firman Tuhan dan langkah-langkah praktis dalam kehidupan doa, Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adorasi pribadi, memperkuat iman, membentuk karakter Kristus, dan membawa transformasi rohani dalam kehidupan sehari-hari.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa adorasi pribadi, yang didasari kerendahan hati dan kesadaran akan kehadiran Tuhan, memperkuat iman, membentuk karakter Kristus, dan membawa transformasi rohani dalam kehidupan sehari-hari.Adorasi pribadi menjadi sarana untuk mencapai kedalaman spiritual, menyelaraskan hati dengan Tuhan, dan memberi dampak positif bagi dunia.
Sola Scriptura dalam Perspektif Luther dan Fundamentalisme: Sebuah Studi Komparatif Nofida Fitria Lassa
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.297

Abstract

Sola scriptura is one of the slogans echoed by the 16th century church reformers, specifically Martin Luther. This movement was certainly initiated because of various deviant practices of the church. Four centuries later, a movement called Fundamentalism was also born. This movement came at a time when the power of liberal theology was beginning to be felt strongly in schools, as well as in American churches. Liberalism began to create distrust in objective revelation and the absolute and infallible authority of the Bible. Faced with this challenge, the Fundamentalist movement was born with the belief that the Bible is the infallible word of God. At first glance, their slogan is similar to the reform movement by the reformers, especially Martin Luther. For the purpose of this paper, there is limited literature that compares the two, and the author considers this study to be important.  So that the reader not only has an understanding of the differences between the two views, but also increasingly has the correct and solid doctrine of the Bible and can provide a positive practical application in the church so as to avoid the various mistakes that have occurred in the church in history Therefore Christians must have a correct understanding in interpreting the Bible, because the Bible is the main means for the life of Christians in sanctification But before entering into the correct interpretation, of course, a Christian needs to have some strong basic principles about the doctrine of the Bible. The doctrine of the Bible and the interpretation of the Bible are two important things, ignoring one can lead to fatal things as has happened in church history.AbstrakSola scriptura adalah salah satu slogan yang didengungkan oleh para reformator gereja abad 16, secara khusus Martin Luther. Gerakan ini tentunya diawali karena berbagai praktek menyimpang dari gereja. Empat abad setelahnya lahir juga sebuah gerakan yang bernama Fundamentalisme. Gerakan ini hadir di saat kekuatan teologi liberal mulai dirasa kuat di sekolah-sekolah, juga di gereja-gereja Amerika. Liberalisme mulai menciptakan ketidakpercayaan pada wahyu obyektif dan otoritas mutlak dan sempurna dari Alkitab. Menghadapi tantangan ini, gerakan Fundamentalisme lahir dengan keyakinan  bahwa Alkitab adalah firman Allah yang tidak dapat salah. Sepintas slogan mereka mirip dengan gerakan reformasi oleh para reformator secara khusus Martin Luther. Tujuan penulisan ini adanya keterbatasan literasi yang mengkomparasikan keduanya, Penulis menganggap studi ini sebagai hal yang penting. Sehingga pembaca bukan hanya memiliki pemahaman tentang perbedaan kedua pandangan tersebut, namun juga semakin memiliki doktrin Alkitab yang benar dan kokoh dan dapat memberikan aplikasi praktis secara positif di dalam gereja sehingga terhindar dari berbagai kesalahan yang pernah terjadi di dalam gereja di dalam sejarah maka itu Orang Kristen harus memiliki pemahaman yang benar di dalam menginterpretasi Alkitab, Sebab Alkitab merupakan sarana utama bagi kehidupan orang Kristen dalam pengudusan  Namun sebelum masuk ke dalam penafsiran yang benar, tentunya seorang Kristen perlu memiliki beberapa prinsip dasar yang kuat tentang doktrin Alkitab. Doktrin tentang Alkitab dan penafsiran Alkitab adalah dua hal yang penting, mengabaikan salah satu bisa mengakibatkan hal yang fatal sebagaimana yang sudah terjadi dalam sejarah gereja.
Analisis Terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Pendidikan Agama Kristen di SDN 001 Malinau Kota Septiana Alung
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.408

Abstract

Title: An Analysis of the Factors Influencing the Academic Achievement in Christian Religius Education at SDN 001 Malinau Kota. This thesis seeks to analyze the various factors contributing to the low academic performance of students in the subject of Christian Religus Education (CRE) at SDN 001 Malinau Kota. Based pn data collected during the first semester of the 2024/2025 academic year, it was found that the majority of students in grades IV to VI did not meet the minimum mastery critery (MMC) set by the school, which is a score of 75. This is concerning, considering that CRE is generally perceived as an accessible subject, offering moral and spiritual formation that is essential to students holistic development. The studt employs a desciptive qualitative approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The findings reveal that several factors contribute to the low academic achievement in CRE, including students limited understanding of the subject matter, a lack of engaging and varied teaching methods, minimal parental support, inadequate educational facilities, and the scarcity of Christian-based reference material for the subject. The study also found that the school has yet to implement specific strategies to address these issues. Hence, there is a need to evaluate the current pedagogical approaches used in teaching CRE and to foster greater involvement of parents in supporting their children’s learning. This research is expected to contribute meaningfully at SDN 001 Malinau Kota.AbstrakJudul dalam penelitian ini adalah “Analisis Terhadap Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Pendidikan Agama Kristen Di SDN 001 Malinau Kota.” Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pencapaian prestasi belajar peserta didik pada mata pelajaran pendidikan agama Kristen (PAK) di SDN 001 Malinau Kota. Berdasarkan data yang diperoleh pada semester ganjil tahun ajaran 2024/2025, ditemukan bahwa mayoritas siswa kelas IV-VI tidak memenuhi kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang sudah ditetapkan oleh pihak sekolah yaitu 75. Padahal, mata pelajaran PAK dipandang relatif mudah dan memiliki muatan pembelajaran yang dapat membentuk karakter serta kerohanian siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi rendahnya prestasi siswa PAK di SDN 001 Malinau Kota, yaitu kurangnya pemahaman siswa terhadap materi PAK, pendekatan pengajaran yang kurang variatif dan masih mnonoton, rendahnya dukungan orang tua, sarana dan prasarana yang kurang memadai, serta keterbatasan buku refrensi PAK. Penelitian ini juga menemukan bahwa belum terdapat strategi khusu dari pihak sekolah dalam mengatasi permasalahan tersebut. Oleh karena itu, dibutuhkan evaluasi terhadap metode pembelajaran Pendidikan Agama Kristen, serta keterlibatan keluarga dalam mendukung pembelajaran siswa. Studi ini diharapkan menjadi kontribusi nyata dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan agama di SDN 001 Malinau Kota.
Pemanfaatan Youtube Dalam Pembelajaran Teologi Sistematika Untuk Mempersiapkan Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Kristen Menghadapi Praktek Pengalaman Lapangan Herry Kiswanto; Ridwan Tonny Hasiholan Pane
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.517

Abstract

Youtube has become an inseparable part of Indonesian students' digital life, yet its structured use in teaching Systematic Theology at higher theological education remains very limited. Christian Education (called PAK) students occupy a unique position as both learners and prospective teachers who will apply Systematic Theology loci Doctrine of God, Christology, Pneumatology, Anthropology Hamartiology, Soteriology, Ecclesiology, and Eschatology in school PAK lessons during their Teaching Practicum (called PPL). This study aims to identify the needs and perceptions of PAK students regarding Youtube use as a learning medium for Systematic Theology in PPL preparation. A descriptive quantitative approach with total sampling of 15 sixth-semester PAK students at STT Khatulistiwa Sintang was employed. Data were collected through an online questionnaire containing 26 questions in six sections, including a 5-point Likert Scale on six perception indicators. Results showed very positive perceptions toward Youtube, with the highest score on the indicator of Youtube's ability to assist PPL preparation (mean 4.20, Very High category). The majority of respondents (53.3%) had combined learning styles, 66.7% appreciated the replay feature as Youtube's main advantage, while 80% expressed concern about doctrinal accuracy of content.  The study formulates a 4-Phase Framework of Youtube Utilization: Pre-Class, In-Class, Post-Class, and Pre-PPL Preparation complemented by application mapping per Systematic Theology locus and five content curation principles. This framework offers an integrated approach in which Youtube functions doubly as a source of theological content and a source of teaching modeling for prospective PAK teachers.AbstrakYoutube telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan digital mahasiswa Indonesia, namun pemanfaatannya secara terstruktur dalam pembelajaran Teologi Sistematika di pendidikan tinggi teologi masih sangat terbatas. Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Kristen (PAK) berada pada posisi unik sebagai pembelajar sekaligus calon pengajar yang akan mengaplikasikan lokus-lokus Teologi Sistematika yakni Doktrin Allah, Kristologi, Pneumatologi, Antropologi Hamartologi, Soteriologi, Eklesiologi, dan Eskatologi - dalam pembelajaran PAK di sekolah saat Praktek Pengalaman Lapangan (PPL). Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kebutuhan dan persepsi mahasiswa Prodi PAK terhadap pemanfaatan Youtube sebagai media pembelajaran Teologi Sistematika dalam konteks persiapan PPL. Pendekatan penelitian deskriptif kuantitatif dengan total sampling pada 15 mahasiswa Prodi PAK semester VI STT Khatulistiwa Sintang. Data dikumpulkan melalui kuesioner online berisi 26 pertanyaan dalam enam bagian, mencakup Skala Likert 5 poin pada enam indikator persepsi. Hasil menunjukkan persepsi sangat positif terhadap Youtube, dengan skor tertinggi pada indikator kemampuan Youtube membantu persiapan PPL (mean 4,20, kategori Sangat Tinggi). Mayoritas responden (53,3%) memiliki gaya belajar kombinasi, 66,7% menghargai fitur replay sebagai kelebihan utama, sementara 80% mengkhawatirkan akurasi doktrinal konten. Penelitian ini merumuskan Kerangka Kerja 4 fase Pemanfaatan Youtube - Pre-Class, In-Class, Post-Class, dan Pre-PPL Preparation dilengkapi pemetaan aplikasi per lokus Teologi Sistematika dan lima prinsip kurasi konten. Kerangka Kerja ini menawarkan pendekatan terpadu di mana Youtube berfungsi ganda sebagai sumber konten teologis dan sumber pemodelan pengajaran bagi calon guru PAK.
Yesus sebagai Juru Selamat Dunia dalam Dialog dengan Perempuan Samaria: Kajian Kristologis Yohanes 4:1-42 Yustinus Yustinus
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.378

Abstract

Jesus, who deliberately crossed the region of Samaria—an area avoided by the Jews—to meet a Samaritan woman near Jacob’s well in the town of Sychar, raised many questions about the purpose and theological significance of His action. This study investigated the Christological meaning of Jesus’ self-revelation as the Messiah and Savior of the world in the dialogue with the Samaritan woman in John 4:1–42. Using a qualitative method through literature study and textual exegesis, the research found that Jesus’ intentional passage through Samaria, an area traditionally avoided by Jews, carried divine intent as part of God's universal plan of salvation. This act by Jesus reflected the early stage of salvation for non-Jewish nations and served as an example for the disciples prior to receiving His message in Acts 1:8. This study affirmed the importance of an inclusive and missiological Christology in responding to a socially fragmented reality marked by ethnic, gender, and religious divisions.AbstrakYesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria yang dihindari orang Yahudi, untuk menjumpai perempuan Samaria dekat sumur Yakub, di kota Sikhar, menimbulkan banyak pertanyaan tentang tujuan dan makna teologis tindakan Yesus. Penelitian ini menyelidiki makna Kristologis dari pewahyuan diri Yesus sebagai Mesias dan Juru Selamat dunia dalam peristiwa dialog dengan perempuan Samaria di Yohanes 4:1-42. Pemakaian metode kualitatif melalui tahapan studi literatur dan eksegesis teks, menemukan bahwa tindakan Yesus yang sengaja melintasi wilayah Samaria, wilayah yang secara tradisional dihindari oleh orang Yahudi, mengandung intensi ilahi sebagai bagian dari agenda keselamatan Allah yang bersifat universal. Tindakan Yesus ini merupakan cerminan awal dari misi keselamatan bagi bangsa-bangsa non Yahudi dan sekaligus menjadi teladan bagi para murid sebelum menerima pesan Yesus dalam Kisah Para Rasul 1:8. Penelitian ini menegaskan pentingnya Kristologi yang inklusif dan misiologi dalam menghadapi realitas sosial yang terfragmentasi secara etnis, gender, dan agama.