cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 230 Documents
Pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru PAK Terhadap Tata Krama Siswa: Studi Kuantitatif di SMA Wiyata Dharma Medan Nurliani Siregar; Udur Ernita Aritonang; Rohit Yoben Sibarani; Arnita Simanjuntak; Pinoris Simbolon
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.464

Abstract

The degradation of student morals and etiquette in the digital era has become a serious challenge for educational institutions, characterized by a decline in politeness within daily social interactions. Therefore, exemplarity through teacher personality competence is considered crucial as an antithesis to stem such negative behavior. This study aims to examine and analyze the influence of Christian Religious Education (PAK) Teacher Personality Competence on Student Etiquette at SMA Wiyata Dharma Medan. This study employs a quantitative approach with a descriptive correlational design. The research population comprised all 127 Christian students, with a sample of 97 students determined using the proportional random sampling technique based on the Krejcie Morgan table. Data were collected using a Likert scale questionnaire that had been tested for validity and reliability, and then analyzed using simple linear regression. The results indicate that PAK Teacher Personality Competence has a positive and significant effect on improving student etiquette, with a significance value of p = 0.000 (p 0.05). The Coefficient of Determination (R2) value of 0.343 indicates that 34.3% of the variation in student etiquette is explained by teacher personality competence, while the remaining 65.7% is influenced by other factors outside the scope of this study.AbstrakDegradasi moral dan tata krama siswa di era digital menjadi tantangan serius bagi institusi pendidikan, yang ditandai dengan menurunnya kesopanan dalam interaksi sosial sehari-hari. Oleh karena itu, keteladanan melalui kompetensi kepribadian guru dianggap krusial sebagai antitesis untuk membendung perilaku negatif tersebut. Penelitian ini bertujuan menguji dan menganalisis pengaruh Kompetensi Kepribadian Guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) terhadap Tata Krama Siswa di SMA Wiyata Dharma Medan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Populasi penelitian adalah seluruh siswa beragama Kristen yang berjumlah 127 orang, dengan sampel sebanyak 97 siswa yang ditentukan menggunakan teknik proportional random sampling berdasarkan tabel Krejcie Morgan. Data dikumpulkan menggunakan angket skala Likert yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya, kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kompetensi Kepribadian Guru PAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan tata krama siswa dengan nilai signifikansi p = 0,000 (p 0,05). Nilai Koefisien Determinasi (R2) sebesar 0,343 mengindikasikan bahwa 34,3% variasi tata krama siswa dijelaskan oleh kompetensi kepribadian guru, sedangkan 65,7% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar variabel penelitian ini.
Membangun Identitas Diri di Tengah Maraknya Persekusi: Analisa Teks Alkitab Berdasarkan Surat 1 Petrus 2:11-17 Stefany Sabrina Tanani; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.359

Abstract

Building self-identity amidst widespread persecution is very important.  The aim of this writing is to find a way to build self-identity in the midst of widespread persecution of Christians through analysis of the letter 1 Peter 2:11-17.  This research was written using a qualitative descriptive method with a hermeneutic approach. From the findings obtained, building self-identity amidst widespread persecution is as follows; Recognizing oneself as a foreigner and foreigner, avoiding destructive worldly desires, living a life that is tested in the midst of the world, obeying government authorities, living as a servant of God, respecting all people and kings.  The letter 1 Peter 2:11-17 provides important guidance for Christians in facing persecution by building a strong self-identity.  So that Christians can continue to hold firmly to their faith.AbstrakMembangun identitas diri di tengah maraknya persekusi sangatlah penting.  Tujuan dari penulisan ini ialah menemukan cara membangun identitas diri di tengah maraknya persekusi terhadap orang Kristen melalui analisa surat 1 Petrus 2:11-17.  Penelitian ini ditulis dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan ilmu hermeneutik. Dari hasil temuan diperoleh membangun identitas diri di tengah maraknya persekusi sebagai berikut; mengakui diri sebagai orang asing dan pendatang, menghindari keinginan duniawi yang merusak, menjalani kehidupan yang teruji di tengah dunia, taat pada otoritas pemerintah, hidup sebagai hamba Allah, menghormati semua orang dan raja.  Surat 1 Petrus 2:11-17 memberikan panduan penting bagi orang Kristen dalam menghadapi persekusi dengan membangun identitas diri yang kokoh.  Sehingga orang Kristen dapat terus berpegang teguh pada iman kepercayaannya.
Implementasi Nasihat “Tentang Beribadah” Berdasarkan Surat Ibrani 10:19–25 Bagi Remaja Pemuda Gereja Kristen Oikumene Faomasi Cimahi Jawa Barat Astria Gempita Fau; Matius I Totok Dwikoryanto; Hestyn Natal Istanatun
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.447

Abstract

Changes in the dynamics of youth worship in the digital age show a decline in spiritual depth, a weakening of discipline in worship attendance, and a shift in youth interest towards more entertainment-oriented forms of worship. This condition is reinforced by the introduction of digital technology and artificial intelligence, which shape the mindset and spiritual behaviour of young people, preventing their theological understanding from developing optimally. In addition, the lack of biblical-based faith formation makes it difficult for adolescents to internalise the true meaning of worship. The phenomenon of increasing dependence on digital worship and passive involvement of adolescents in church communities emphasises the urgency of this research. This study aims to formulate the implementation of advice on worship based on Hebrews 10:19–25 for the worship training of young people at the Oikumene Faomasi Cimahi Christian Church. The research method used is a qualitative-descriptive approach with exegetical analysis of biblical texts and a contextual study of adolescent development. The results of the study indicate that youth worship needs to be built through a correct theological understanding, strengthening of faith identity, and commitment to the church community. The implementation of the advice in Hebrews 10:19–25 provides a strong doctrinal basis for worship training oriented towards maturity in faith. This study concludes that youth worship development must be holistic, contextual, and responsive to the spiritual needs of the digital generation.AbstrakPerubahan dinamika ibadah remaja pada era digital menunjukkan terjadinya penurunan kedalaman spiritual, melemahnya disiplin kehadiran beribadah, serta bergesernya minat remaja kepada bentuk ibadah yang lebih bersifat hiburan. Kondisi ini diperkuat oleh masuknya teknologi digital dan kecerdasan buatan yang membentuk pola pikir dan perilaku spiritual remaja sehingga pemahaman teologis mereka tidak berkembang secara optimal. Selain itu, kurangnya pembinaan iman yang berbasis biblika membuat remaja mengalami kesulitan menginternalisasi makna ibadah yang sejati. Fenomena meningkatnya ketergantungan pada ibadah digital dan keterlibatan pasif remaja dalam komunitas gereja mempertegas urgensi penelitian ini. Penelitian ini bertujuan merumuskan implementasi nasihat tentang beribadah berdasarkan Ibrani 10:19–25 bagi pembinaan ibadah remaja Gereja Kristen Oikumene Faomasi Cimahi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis eksegetis teks Alkitab dan kajian kontekstual perkembangan remaja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibadah remaja perlu dibangun melalui pemahaman teologis yang benar, penguatan identitas iman, dan komitmen terhadap komunitas gereja. Implementasi nasihat Ibrani 10:19–25 memberikan dasar doktrinal yang kuat bagi pembinaan ibadah yang berorientasi pada kedewasaan iman. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pembinaan ibadah remaja harus bersifat holistik, kontekstual, dan menjawab kebutuhan spiritual generasi digital.
Hakikat Kemanusiaan bagi Kaum Homoseksual Berdasarkan Theologia Sistematika Sheren Angelina Lumintang
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.336

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengungkapkan keberadaan hak asasi yang dimiliki oleh manusia itu sejalan dengan hak yang diberikan oleh Allah kepada manusia, namun yang berkenan kepada Allah. Sebagaimana manusia memiliki hak untuk menentukan pilihannya, begitupun bagi kaum homoseksual yang memiliki hak untuk menentukan hidupnya, namun jalan hidup yang mereka pilih tidak berkenan kepada Allah. Adapun penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengumpulkan sumber-sumber yang tertulis dan relevan untuk dikaji kembali. Topik ini tentu seharusnya menjadi perhatian besar bagi kita semua. Bagaimana banyak sekali orang, khususnya kaum homoseksual yang membanggakan dirinya yang memiliki hak asasi manusia untuk memilih suatu keputusan tanpa intervensi orang lain, namun nyatanya keputusan yang mereka ambil telah menjerumuskan mereka dalam keberdosaan dan keterpisahan pada Allah. Hal tersebut yang marak terjadi saat ini, dan sudah sepatutnya persoalan ini dibukakan kepada mereka yang salah menanggapi dan melihat kaitannya kemanusiaan manusia yang berdasarkan pada theologia sistematika.
Studi Afirmasi Tindakan Pemurnian Allah dalam Doktrin Keselamatan Berdasarkan Teologi Remnant Zinzendorf R. A. Dachi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.383

Abstract

Salvation teachings to this day consistently discuss the certainty of salvation, whether it comes from God or from human response to God's grace. Some believers still doubt their faith in salvation when they experience threats to their lives that lead to death, or when they witness the unending suffering of other believers. Another problem is that acts of love and good deeds, as guarantees of salvation, cannot address the problems of suffering and persecution against believers. The purpose of this study is to explain the importance of the purification stage in the salvation process. This study uses a descriptive qualitative method to gain an understanding and explanation of Remnant Theology, and an affirmative study approach to affirm the doctrine of salvation and examine God's purifying action in Remnant Theology. The results show that God's purifying action is part of a salvation process that aims to produce people who live righteously before Him.AbstrakPengajaran keselamatan sampai saat ini senantiasa berbicara tentang bentuk kepastian keselamatan baik yang datang dari pihak Allah, maupun respon manusia terhadap anugerah Allah. Sebagian orang percaya masih ragu akan keselamatan yang di yakininya pada waktu mengalami ancaman terhadap hidupnya yang membawa kepada kematian, atau saat melihat penderitaan orang percaya lainnya yang tidak pernah berahir. Masalah lain karena tindakan kasih dan perbuatan baik sebagai jaminan keselamatan, tidak dapat menjawab persoalan penderitaan dan penganiayaan terhadap orang percaya. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pentingnya tahapan pemurnian dalam sebuah proses keselamatan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif guna memperoleh pengertian dan penjelasan tentang Teologi Remnant, dan pendekatan studi afirmasi untuk penegasan doktrin keselamatan serta mengkaji tindakan pemurnian Allah dalam Teologi Remnant. Hasil penelitian diperoleh bahwa tindakan pemurnian Allah merupakan bagian dari sebuah proses keselamatan yang bertujuan untuk menghasilkan umat yang hidupnya benar dihadapanNya.
Mentoring Kristen sebagai Strategi Pendampingan Holistis bagi Mahasiswa Baru: Studi Kualitatif pada Domain Spiritual, Intelektual, Emosional, dan Sosial Ganda Sari
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.470

Abstract

This study aims to explore the effectiveness of Christian mentoring practices in supporting new students' holistic adjustment across the spiritual, intellectual, emotional, and social domains. The study used a qualitative approach with six randomly selected new students from the class of 2024 at a Christian higher education institution in Tangerang who participated in a mentoring program for one academic year. Data sources included mentee interviews as primary data, mentoring program evaluations, and focus group discussions (FGDs) as supporting data. Data were analyzed using the Miles and Huberman (2014) model through the stages of data collection, data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The evaluation results showed that this mentoring activity effectively supported students' holistic adjustment across four domains. In the intellectual domain, namely receiving intellectual support and learning strategies through mentors. In the emotional domain, namely acceptance without judgment and support for emotional regulation. And in the social domain, namely social adaptation and a sense of belonging. Meanwhile, the supporting data support the interview findings. However, there are some points that Christian higher education institutions should pay attention to, including the difficulty of finding a suitable time for mentoring meetings, the lack of normative mentoring activities, mentees becoming dependent on mentors and being treated unfairly, and the difficulty of building close relationships due to mentees being less active in asking questions or being shy. These points will serve as input for mentoring providers in Christian higher education.AbstrakPenelitian ini bertujuan mengeksplorasi efektivitas praktik mentoring Kristen dalam mendukung penyesuaian diri mahasiswa baru secara holistis pada domain spiritual, intelektual, emosional, dan sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan dengan subjek 6 mahasiswa baru angkatan 2024 disalah satu pendidikan tinggi Kristen di Tangerang yang mengikuti program mentoring selama satu tahun akademik yang dipilih secara acak. Sumber data meliputi wawancara mentee sebagai data utama dan evaluasi program mentoring dan FGD sebagai data pendukung. Data dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman (2014) melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kegiatan mentoring ini efektif mendukung penyesuaian diri mahasiswa secara holistis pada 4 domain. Pada domain intelektual, yaitu mendapatkan dukungan intelektual dan strategi belajar melalui mentor. Pada domain emosional yaitu penerimaan tanpa dihakimi dan dukungan regulasi emosi. Dan pada domain sosial yaitu adaptasi sosial dan rasa memiliki. Sedang pada data pendukung menyatakan dukungan terhadap temuan wawancara. Namun terdapat catatan yang harus diperhatikan oleh intitusi pendidikan tinggi Kristen, diantaranya adalah sulit menemukan waktu yang cocok untuk pertemuan mentoring, kegiatan mentoring bersifat normatif, mentee menjadi bergantung kepada mentor dan mentee yang diperlakukan tidak adil dan mentee masih sulit membangun kedekatan karena mentee kurang aktif bertanya atau malu. Masukan untuk institusi pendidikan Kristen.
Meditasi Kristiani: Solusi Pemulihan Mental health dan Peningkatan Spiritualitas Generasi Z di Era Digital Debora Aprilia; Hikman Sirait; Meriyana Meriyana
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.377

Abstract

This research discusses Christian meditation as a solution for Gen Z's mental health and spirituality enhancement in the digital age. In Christian circles, meditation is often viewed negatively as it is thought to be associated with mystical practices or New Age groups. However, Christian meditation, which has its roots in Jewish tradition, aims to establish communication with God through contemplation of the Bible. Gen Z, who are prone to mental disorders and spiritual crises, face challenges in the digital age. This study aims to reveal how Christian meditation can help improve their mental health and deepen their spirituality. The method used is a qualitative approach with literature analysis and case studies related to Christian meditation, mental health, and the development of Gen Z's spirituality. It can be concluded that digital technology has a significant impact on Gen Z's mental health, including increased anxiety, stress, and decreased quality of life. In the face of such pressures, Christian meditation, offers a spiritual solution that fosters inner peace and a deeper connection with God. Therefore, churches and Christian communities need to integrate Christian meditation as a means of mental recovery and strengthening Gen Z's spirituality in the digital age.AbstrakGenerasi Z menghadapi tantangan serius dalam kesehatan mental dan spiritualitas di era digital, termasuk meningkatnya kecemasan, stres, dan krisis identitas rohani. Di sisi lain, meditasi Kristiani sering dipandang negatif karena dianggap berkaitan dengan praktik mistis atau gerakan New Age. Padahal, meditasi Kristiani berakar dari tradisi Yahudi dan bertujuan membangun relasi dengan Allah melalui perenungan Kitab Suci.  Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis literatur dan studi kasus terkait meditasi Kristen, kesehatan mental, serta perkembangan spiritualitas Gen Z. Maka dapat disimpulkan bahwa teknologi digital memberikan dampak signifikan terhadap kesehatan mental Gen Z, termasuk meningkatnya kecemasan, stres, dan penurunan kualitas hidup. Dalam menghadapi tekanan tersebut, meditasi Kristen,  menawarkan solusi rohani yang menumbuhkan kedamaian batin dan hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan. Oleh karena itu, gereja dan komunitas Kristen perlu mengintegrasikan meditasi Kristiani sebagai sarana pemulihan mental dan penguatan spiritualitas Gen Z di era digital.
Prinsip Teologis Memenangkan Suami yang Belum Percaya Berdasarkan 1 Petrus 3:1-6 Sari Yuliani; Nidya Arvita Talumewo
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 1 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Februari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i1.457

Abstract

The phenomenon of interfaith marriages between Christian wives and non-believing husbands poses complex challenges and problems for families in Indonesia. In the context of Indonesian culture, which is still strongly influenced by patriarchal patterns, an inaccurate interpretation of 1 Peter 3:16 has given rise to practices among Christian wives that are not in accordance with the intent of the Bible. Specifically, in interpreting the word “submission.” This study aims to analyze the phenomenon of interfaith marriages between Christian wives and unbelieving husbands in the context of Indonesian culture, which is still influenced by patriarchal patterns and modern feminist trends. Through a qualitative approach with an expository study of 1 Peter 3:1–6, this study aims to discover contextual and applicable theological principles in interpreting submission, so that it is not understood as restraint, but as a spiritual strategy that presents a complete testimony of life. The ultimate goal of this study is to provide a theological contribution while opening space for the development of pastoral and faith education models that can bridge the tension between patriarchal culture, the influence of feminism, and true biblical testimony.AbstrakFenomena pernikahan beda iman antara istri Kristen dan suami yang belum percaya menimbulkan tantangan dan masalah yang kompleks dalam keluarga di Indonesia. Dalam konteks budaya Indonesia yang masih kuat dipengaruhi pola patriarkhi, kemudian tafsir yang tidak tepat terhadap surat 1 Petrus 3:16 telah melahirkan praktik hidup istri Kristen yang tidak sesuai dengan maksud Alkitab. Secara khusus dalam memaknai kata tunduk.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena pernikahan beda iman antara istri Kristen dan suami yang belum percaya dalam konteks budaya Indonesia yang masih dipengaruhi pola patriarki serta arus feminisme modern. Melalui pendekatan kualitatif dengan studi eksposisi 1 Petrus 3:1–6, penelitian ini dimaksudkan untuk menemukan prinsip-prinsip teologis yang kontekstual dan aplikatif dalam memaknai ketundukan, sehingga tidak dipahami sebagai pengekangan, melainkan sebagai strategi rohani yang menghadirkan kesaksian hidup yang utuh. Tujuan akhir penelitian ini adalah memberikan kontribusi teologis sekaligus membuka ruang bagi pengembangan model pastoral dan pendidikan iman yang mampu menjembatani ketegangan antara budaya patriarki, pengaruh feminisme, dan kesaksian Alkitabiah yang sejati.
Peran Gembala dalam mendidik Keuangan dalam Perspektif Etis teologis dan Moral terhadap Fenomena Pinjaman Online di Kalangan Jemaat Gereja Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi; Yohana Fajar Rahayu
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.347

Abstract

Fenomena pinjaman online atau pinjol di Indonesia semakin berkembang pesat, signifikan terutama di kalangan masyarakat yang mengalami kesulitan akses keuangan dan sumber daya. Di tengah situasi ini, banyak masyarakat yang terjerat dalam utang pinjaman online akibat perilaku konsumtif yang dipicu oleh kondisi ekonomi yang sulit, terutama setelah pandemi Covid-19. Hal ini menimbulkan tantangan bagi gereja, khususnya bagi para gembala, untuk memberikan bimbingan moral dan etis terkait pengelolaan keuangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran gembala dalam mendidik jemaat mengenai etika keuangan Kristen yang sesuai nilai alkitabiah, serta bagaimana ajaran teologis dan moral dapat diterapkan dalam menghadapi fenomena pinjaman online. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature yang menganalisis literatur teologis mengenai etika keuangan Kristen, serta kebijakan gereja dalam mengelola masalah keuangan jemaat. Dapat disimpulkan bahwa gembala memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing jemaat agar memahami prinsip-prinsip etika Kristen dalam mengelola keuangan. Oleh karena itu jemaat dapat memahami hakikat dan fenonema pinjaman online serta keuangan Kristen  dalam bingkai alkitabiah dan moral. Hal ini menjadi bagian peran gembala dalam pendidikan etika keuangan dan implementasinya. Sehingga pendidikan etika ini dapat diaktualisasi oleh gembala dalam peran potensi  solusi bagi jemaat. Yang mana gembala harus aktif memberikan pendidikan keuangan yang berbasis moral Kristen, serta menyediakan solusi yang tepat agar jemaat tidak terjebak dalam praktek pinjaman online yang merugikan. terlebih gereja perlu mengintegrasikan ajaran etika keuangan dalam pembinaan jemaat untuk mencegah dampak negatif dari pinjaman online.
Harmoni Sains dan Iman Kristen: Teori Relativitas Einstein Dalam Pandangan Kristen Di Era Modern dan Implikasinya Bagi Kehidupan Orang Kristen Daniel Sudibyo Tjandra
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 1 (2025): Teologi dan Pendidikan Kristen - Februari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i1.330

Abstract

This article aims to discuss Albert Einstein's exploration of relativity theory in the context of the Bible and its implications for the lives of Christians. Where many people consider the theory of relativity to be contrary to the Word of God. However, in fact this is not the case. The Bible provides examples in stories such as Judas' betrayal and Peter's denial to demonstrate the concept of relativity in human life. Einstein changed the world's ideas about motion, space, and time with his theory that developed relationships and comparisons between things and others. Einstein's theory of relativity explains that the speed of light is absolute, while space and time combine to give humans space and time to move. The method used is descriptive qualitative. The results of the study show that the theory of relativity does not conflict with the Bible. This theory has implications in contemporary theology. The theory of relativity applies to His creation, not to God. Christians are taught to have a strong belief in the eternity and truth of God, as well as an open heart to continue learning and growing in faith. God's truth remains unchanged even though the world and human views can be relative. For Christians, it is important to align faith with scientific discovery, so that faith and science can complement each other.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk membahas eksplorasi teori relativitas Albert Einstein dalam konteks Alkitab dan implikasinya bagi kehidupan orang Kristen. Di mana banyak orang menganggap teori relativitas bertentangan dengan Firman Allah. Namun, faktanya tidak demikian. Alkitab memberikan contoh-contoh dalam kisah-kisah seperti penghianatan Yudas dan penyangkalan Petrus untuk menunjukkan konsep relativitas dalam kehidupan manusia. Einstein mengubah gagasan dunia tentang gerak, ruang, dan waktu dengan teorinya yang berkembang dalam hubungan dan perbandingan antara sesuatu dengan yang lain. Teori relativitas Einstein menjelaskan bahwa kecepatan cahaya adalah mutlak, sementara ruang dan waktu bersatu untuk memberi manusia ruang dan waktu bergerak. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa teori relativitas tidak bertentangan dengan Alkitab. Teori ini memiliki implikasi dalam teologi kontemporer. Teori relativitas berlaku bagi ciptaan-Nya, bukan bagi Allah. Orang Kristen diajarkan untuk memiliki keyakinan yang kuat pada kekekalan dan kebenaran Allah, serta keterbukaan hati untuk terus belajar dan bertumbuh dalam iman. Kebenaran Allah tetap tidak berubah meskipun dunia dan pandangan manusia bisa relatif. Bagi orang Kristen, penting untuk menyelaraskan iman dengan penemuan ilmiah, sehingga iman dan ilmu pengetahuan dapat saling melengkapi.