cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 247 Documents
Penginjilan Holistik sebagai Aktualisasi Amanat Agung: Rekonstruksi Misiologi bagi Transformasi Pelayanan Gembala Sadikun Lie
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.564

Abstract

Evangelism is the church’s fundamental mandate in fulfilling the Great Commission, but in practice it is still often reduced to verbal proclamation focused solely on organisational routines. This situation highlights the need for a reconstruction of missiology capable of integrating the spiritual, pastoral and social dimensions into pastoral ministry. This study aims to analyse holistic evangelism as the fulfilment of the Great Commission and to reconstruct a missiology capable of transforming pastoral ministry. This study employs a qualitative method using a literature review approach; it can therefore be concluded that holistic evangelism is a biblical paradigm that integrates the proclamation of the Gospel, discipleship, acts of love, and living witness as a complete realisation of the Great Commission. The integration of the missio Dei, the Great Commission, and pastoral care positions the pastor as a missionary leader who equips the congregation to participate in God’s mission through spiritual, pastoral, social, and transformative ministry. Ultimately, Holistic Pastoral Missiology offers a reconceptualisation of church ministry so that pastoral ministry is not merely oriented towards the internal growth of the church, but results in the maturity of disciples, the empowerment of the community, public witness, and the transformation of lives.AbstrakPenginjilan merupakan mandat fundamental gereja dalam mengaktualisasikan Amanat Agung, tetapi dalam praktiknya masih sering direduksi menjadi pemberitaan verbal yang berorientasi pada rutinitas organisasi saja.   Kondisi tersebut menunjukkan perlunya rekonstruksi misiologi yang mampu mengintegrasikan dimensi spiritual dan pastoral serta sosial dalam pelayanan gembala. Penelitian ini bertujuan menganalisis penginjilan holistik sebagai aktualisasi Amanat Agung serta merekonstruksi misiologi yang dapat mentransformasi pelayanan gembala. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, maka dapat disimpulkan bahwa penginjilan holistik merupakan paradigma biblika yang mengintegrasikan pemberitaan Injil, pemuridan, pelayanan kasih, dan kesaksian hidup sebagai aktualisasi Amanat Agung secara utuh. Integrasi missio Dei, Amanat Agung, dan penggembalaan menempatkan gembala sebagai pemimpin misioner yang memperlengkapi jemaat untuk berpartisipasi dalam misi Allah melalui pelayanan spiritual, pastoral, sosial, dan transformatif. Pada akhirnya, Misiologi Gembala Holistik menawarkan rekonstruksi pelayanan gereja  sehingga pelayanan gembala tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan internal gereja, tetapi menghasilkan kedewasaan murid, pemberdayaan komunitas, kesaksian publik, dan transformasi kehidupan.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Karakter Siswa Sd Inpres Oelnunu Daud Saleh Luji; Simon Kasse; Jonatan Leobisa; Yulantika Anone
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.227

Abstract

Character education has a higher meaning than moral education because character education is not just about right or wrong but how to do it in daily life. PAK teachers have a big role in this matter. However, at SD Inpres Oelnunu there are still some children who do not have good character as expected, that is why research was conducted using qualitative methods to find out the role of teachers in shaping the character of students at SD Inpres Oelnunu. The results of the research show that the role of PAK teachers in building student character has been carried out from five aspects of assessment, namely religious character, nationalist character, integrity value, independent character, integrity character and mutual cooperation character. Indeed, there are still a small number of children who do not fully possess this character. However, according to the PAK teacher, he continues to play his role so that in the end he gets better results, namely students have good character from every aspect. AbstrakPendidikan karakter memiliki makna yang lebih tinggi dari pendidikan moral karena pendidikan karakter bukan hanya tentang benar atau salah tetapi bagaimana melakukannya dalam hidup kesehariannya. Guru PAK memiliki peran yang besar dalam hal tersebut. Namun Pada SD Inpres Oelnunu masih ada beberapa anak yang belum berkarakter baik seperti yang diharapakan, itulah sebabnya penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif untuk mengetahui bagaimana peran guru dalam membentuk karakter siswa pada SD Inpres Oelnunu. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran guru PAK dalam membangun karakter siswa sudah dilakukan dari lima aspek penilaian yaitu karakter religius, karakter nasionalis nilai integritas karakter mandiri, karakter integritas dan karakter gotong royong. Memang masih ada sebagian kecil anak yang belum sepenuhnya memimiliki karakter tersebut. Namun menurut guru PAK bahwa ia terus memainkan perannya sehingga pada akhirnya mendapatkan hasil yang lebih baik yaitu siswa memiliki karakter yang baik dari setiap aspek.
Refleksi Atas Mazmur 139:13-16 Dan Mitos Pulung Gantung Di Gunungkidul Sariyanto Sariyanto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.293

Abstract

This study discusses the phenomenon of hanging themselves in Gunungkidul, which has been going on for years and is very worrying. Similarly, cases of hanging are still common today and the numbers have remained high in the last five years. By exegesis Psalm 139:13-16, this study seeks to provide a correct understanding of human dignity and dignity. That the Bible teaches man to value life and honor God the Creator of man. The methods in this research are descriptive qualitative methods, research through exegesis, and literature studies to obtain expressions of uniqueness and wonder in the process of human creation by God. The results of the study show that psychological pressure, economic difficulties, and interpersonal conflicts are some of the common causes of hanging in Gunungkidul which has been legitimized by the myth of "pulung gantung." From a biblical perspective, suicide is seen as an act that is against God's will, and does not reward God's wonderful work. In conclusion, everyone, especially Christians, needs to deepen Christian faith and spirituality, and appreciate God as Creator. The myth of pulung gantung can be prevented through true understanding basedAbstrakPenelitian ini membahas mengenai fenomena gantung diri di Gunungkidul, yang telah berlangsung selama bertahun-tahun dan sangat mengkhawatirkan. Demikian pula kasus gantung diri masih sering terjadi sampai sekarang ini dan angkanya tetap tinggi dalam lima tahun terakhir. Dengan melakukan eksegese Mazmur 139:13-16, penelitian ini berusaha memberikan pemahaman yang benar dalam tentang harkat dan martabat manusia. Bahwa Alkitab mengajarkan manusia untuk menghargai kehidupan dan menghormati Allah Sang Pencipta manusia. Metode dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif, peneliti melakukan eksegese, dan studi pustaka untuk dapat mengungkapan keunikan dan keajaiban dalam proses penciptaan manusia oleh Allah. Hasil studi menunjukkan bahwa tekanan psikologis, kesulitan ekonomi, dan konflik interpersonal adalah beberapa penyebab umum gantung diri di Gunungkidul yang telah dilegitimasi dengan adanya mitos “pulung gantung.” Dari perspektif Alkitab, bunuh diri dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan, dan tidak menghargai karya Allah yang mengagumkan. Kesimpulannya setiap orang terlebih orang Kristen perlu memperdalam iman dan spiritualitas Kristen, dan menghargai Allah sebagai Pencipta. Mitos pulung gantung dapat dicegah melalui pembaham yang benar berdasarkan iman Kristen, dan memberikan dukungan kasih, harapan bagi mereka yang berputus asa.
Pendidikan Kristen Berbasis Alkitabiah: Membangun Fondasi Iman dan spiritualitas Terhadap Generasi Era Digital Anastasia Gabrielle Ondang; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.281

Abstract

Christian education today faces many new challenges in developing a solid foundation of faith and spirituality in the generation in the digital age. This research article explores an approach that is based on Biblical values in shaping faith and spirituality in the context of modern technology. context of modern technology. Through descriptive qualitative methods and theological analysis in the literature review, the researcher highlights the importance of the importance of integrating Biblical principles in Christian education in order to reach and shape a digitally connected generation. And the conclusion in this study provides an understanding of the importance of the challenges and opportunities of the Digital Age in Christian Education. The Digital Age in Christian Education can be used as an opportunity to apply Biblical Principles in the Digital Context. Biblical Principles in the Digital Context, so that the church can actualize the Role of Church and Family in Christian Education. actualize the Role of the Church and Family in Digital Education that strengthen the foundation of faith and spirituality amidst the flow of information and moral challenges posed by the digital era. moral challenges posed by the digital age. Thus, this article thus provides a holistic and relevant view for Christian education practitioners in facing the dynamics of the evolving times. in facing the dynamics of an ever-evolving age.AbstrakPendidikan Kristen saat ini menghadapi banyak tantangan baru dalam mengembangkan fondasi iman dan spiritualitas yang kokoh pada generasi di era digital. Artikel penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pendekatan yang berbasis nilai-nilai Alkitabiah dalam membentuk iman dan spiritualitas dalam konteks teknologi modern. Melalui metode kualitatif deskritif dan analisis teologis dalam kajian kepustakaan, peneliti menyoroti pentingnya mengintegrasikan prinsip-prinsip Alkitabiah dalam pendidikan Kristen untuk menjangkau dan membentuk generasi yang terhubung secara digital. Dan kesimpulan dalam penelitian ini memberikan pemahaman akan pentingnya tantangan dan peluang Era Digital dalam Pendidikan Kristen yang dapat dijadikan kesempatan untuk menerapkan Prinsip-prinsip Alkitabiah dalam Konteks Digital, sehingga gereja dapat mengaktualisasi Peran Gereja dan Keluarga dalam Pendidikan Digital yang memperkuat fondasi iman dan spiritualitas di tengah arus informasi dan tantangan moral yang ditimbulkan oleh era digital. Dengan demikian, artikel ini memberikan pandangan yang holistik dan relevan bagi praktisi pendidikan Kristen dalam menghadapi dinamika zaman yang terus berkembang.
Miskin Harta, Kaya Iman: Analisis Historis Kritis Yakobus 2: 1-13 dan Relevansinya bagi Solidaritas kepada Orang-Orang Miskin dalam Komunitas Sosial Hulman Sikap Purba; Wilson A Siahaan; Raulina Raulina
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.432

Abstract

This paper first aims to examine the theological message of James 2:1-13 by emphasizing its relevance to the issue of social solidarity, particularly toward the poor. In line with what is outlined in the abstract, this pericope offers a sharp critique against favoritism that grants honor to the rich while degrading the poor. A historical-critical approach will be employed to situate this text within Historical criticism the socio-historical context of the early church, which was embedded in the social stratification and patronage system of the Greco-Roman world. Thus, this analysis focuses not only on the theological content of the text but also on the social dynamics that influenced the community addressed by James. Furthermore, James underscores that genuine faith cannot be separated from acts of love. His reference to the law of love in Leviticus 19:18 shows that love serves as the primary standard for the life of believers. From this perspective, social discrimination is not merely an ethical issue but a serious violation of God’s law. The abstract highlights that James concludes with a crucial theological principle: mercy triumphs over judgment. This principle becomes a key point that demonstrates the prophetic dimension of the letter of James namely, the call for the church to embody love that transcends social boundaries. In the modern context, as the abstract suggests, the message of James remains highly relevant. In the midst of structural injustice, socioeconomic disparity, and ongoing discrimination, the church is called to be an alternative community marked by inclusivity and justice. Concrete solidarity with the poor can be expressed through social ministry, advocacy, and economic empowerment. Therefore, James 2:1–13 is not only a moral admonition for the first-century congregation but also a prophetic voice that continues to resonate today and solidarity with others, especially the marginalized.AbstrakTulisan ini bertujuan untuk menelaah pesan teologis dari Yakobus 2:1-13 dengan menekankan relevansinya terhadap isu solidaritas sosial, khususnya terhadap orang miskin. Sejalan dengan yang diuraikan dalam abstrak, perikop ini memberikan kritik tajam terhadap sikap memihak yang memberi kehormatan kepada orang kaya tetapi merendahkan orang miskin. Pendekatan historis kritis digunakan untuk menempatkan teks ini dalam konteks sosial-historis gereja mula-mula yang hidup di tengah sistem stratifikasi sosial dan patronase dunia Greko-Romawi. Dengan demikian, analisis ini tidak hanya berfokus pada isi teologis teks, tetapi juga pada dinamika sosial yang memengaruhi komunitas yang menjadi sasaran surat Yakobus. Lebih lanjut, Yakobus menegaskan bahwa iman yang sejati tidak dapat dipisahkan dari perbuatan kasih. Rujukannya pada hukum kasih dalam Imamat 19:18 menunjukkan bahwa kasih merupakan standar utama dalam kehidupan orang percaya. Dari perspektif ini, diskriminasi sosial bukan sekadar persoalan etika, melainkan pelanggaran serius terhadap hukum Allah. Abstrak ini menyoroti bahwa Yakobus menutup dengan prinsip teologis penting: kasih (belas kasihan) mengatasi penghakiman. Prinsip ini menjadi inti yang menunjukkan dimensi profetis dari surat Yakobus, yakni panggilan bagi gereja untuk mewujudkan kasih yang melampaui batas-batas sosial. Dalam konteks modern, sebagaimana disarankan oleh abstrak ini, pesan Yakobus tetap sangat relevan. Di tengah ketidakadilan struktural, kesenjangan sosial-ekonomi, dan diskriminasi yang terus berlangsung, gereja dipanggil untuk menjadi komunitas alternatif yang ditandai oleh inklusivitas dan keadilan. Solidaritas konkret dengan kaum miskin dapat diwujudkan melalui pelayanan sosial, advokasi, dan pemberdayaan ekonomi. Oleh karena itu, Yakobus 2:1 13 bukan hanya teguran moral bagi jemaat abad pertama, tetapi juga suara profetis yang terus bergema, dan solidaritas dengan sesama, terutama mereka yang terpinggirkan.
Strategi Guru Meningkatkan Kemampuan Literasi Melalui Bahasa Ibu Terhadap Peserta didik Marius Elopere; Yoel Giban
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.284

Abstract

This research aims to explore and analyze the strategies employed by teachers in enhancing students' literacy skills through the use of their mother tongue at SD Inpres Wonome. The research methodology utilized a qualitative approach with data collection techniques such as participatory observation and in-depth interviews with teachers, along with curriculum-related document analysis. The findings indicate that teachers utilize various strategies including implementing culturally contextualized learning approaches, incorporating stories and songs in the mother tongue, and integrating project-based learning into students' daily lives. These findings suggest that the use of the mother tongue as a medium of instruction can effectively enhance students' literacy skills while reinforcing their local cultural identity. The implications of this research underscore the importance of supporting teachers in implementing mother tongue-centered teaching strategies to enhance the quality of education and literacy in rural schools.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis strategi yang digunakan oleh guru dalam meningkatkan kemampuan literasi peserta didik melalui penggunaan bahasa ibu di SD Inpres Wonome. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi partisipatif dan wawancara mendalam terhadap guru serta analisis dokumen terkait kurikulum dan materi pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru menggunakan berbagai strategi seperti penerapan pendekatan pembelajaran berbasis konteks budaya lokal, penggunaan cerita dan lagu dalam bahasa ibu, serta pembelajaran berbasis proyek yang terintegrasi dengan kehidupan sehari-hari siswa. Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa ibu sebagai media pembelajaran dapat menjadi sarana efektif dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa, sambil memperkuat identitas budaya lokal mereka. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya mendukung guru dalam penerapan strategi pembelajaran yang berpusat pada bahasa ibu untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan literasi di sekolah-sekolah pedesaan.
Ketika Martabat dan Kebebasan Perempuan dirampas: Merefleksikan Puisi Kidung Agung 8:8-10 Melalui Perspektif Feminis Lily Ivone Kawatu; Andreas Fernando; Andri Pasaribu; Arianto Zebua
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.282

Abstract

This article aims to reflect on the dignity and freedom of women's rights found in the poem Kidung Agung 8:8-10. The dignity and freedom of women's rights are still something that is ambiguous in society, especially in Indonesia and countries that adhere to the patriarchal system. This article responds to the issue of gender-based freedom of women's rights by conducting theological reflection on Song of Songs 8:8-10 through a feminist perspective. Therefore, this article voices the author's experience and perspective on the issue of dignity and freedom of rights that are still limited and provides strengthening discourse on the elimination of deprivation of rights to women in any form. Through this study, it is revealed that gender inequality in the structure of a patriarchal society contributes to the inequality of freedom rights, in this case women as the object of harm. Therefore, advocacy is needed for women as victims of freedom rights from a system that positions women as powerless.AbstrakArtikel ini bertujuan untuk merefleksikan martabat dan kebebasan hak perempuan yang terdapat dalam puisi Kidung Agung 8:8-10. Martabat serta kebebasan hak perempuan masih menjadi sesuatu yang rancu di kalangan masyarakat khususnya indonesia dan negara penganut sistem patriarkis. Artikel ini merespon isu kebebasan hak perempuan berbasis gender dengan melakukan refleksi teologis atas Kidung Agung 8:8-10 melalui perspektif feminis. Oleh sebab itu, Artikel ini menyuarakan pengalaman dan perspektif penulis terhadap isu martabat dan kebebasan hak yang masih terbatas dan memberikan penguatan diskursus penghapusan perampasan hak pada perempuan dalam bentuk apapun. Melalui kajian ini terungkap bahwa ketidaksamaan gender dalam struktur masyarakat patriarki menyubang terjadinya ketimpangan hak kebebasan dalam hal ini perempuan sebagai objek yang dirugikan. Oleh karena itu, diperlukan advokasi terhadap perempuan sebagai korban kebebasan hak dari sebuah sistem yang memposisikan perempuan sebagai yang tidak berdaya.