cover
Contact Name
Yudi Hendrilia
Contact Email
yudihendrilia@gmail.com
Phone
+628112900177
Journal Mail Official
yudihendrilia@gmail.com
Editorial Address
Ungaran, Semarang - Jawa Tengah
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen)
ISSN : 26859718     EISSN : 26859726     DOI : -
Core Subject : Education,
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) diterbitkan dua kali dalam 1 tahun (Februari dan Agustus) oleh Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara. Veritas Lux Mea menerima artikel ilmiah dari dosen, mahasiswa, praktisi teologi maupun pendidikan Kristen. Jurnal ini pun telah memiliki ISSN baik online (2685-9718) maupun cetak (2685-9718). Jurnal ini mempublikasikan artikel hasil penelitian dalam bidang: 1. Teologi Praktika 2. Teologi Biblika 3. Teologi Sistematika 4. Sejarah Teologi dan Gereja 5. Pendidikan Kristen (Gereja dan Sekolah)
Articles 247 Documents
Etika Kepemimpinan Kristen dalam Tantangan Kontemporer: Upaya Membangun Dedikasi dan Integritas Kepemimpinan Gereja Yonatan Alex Arifianto,; Hari Mulyono; Richardo Nainggolan
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.283

Abstract

Di dunia yang berubah dengan cepat dari berbagai bidang teknologi dan sosial, membuat para pemimpin gereja menghadapi tantangan yang semakin kompleks dalam melaksanakan tugas dan dedikasi serta integritas pelayanan mereka.  Pentingnya peran etika dalam kepemimpinan Kristen dalam menghadapi tantangan di zaman kontemporer dan upaya untuk meningkatkan komitmen dan integritas di antara para pemimpin gereja menjadi tujuan utama dalam penelitian ini. Melalui metode kualitatif deskritif dengen pendekatan studi literature dan tinjauan konseptual, artikel ini mengkaji konteks tantangan kontemporer yang dihadapi para pemimpin gereja, seperti globalisasi, perkembangan teknologi dan pluralisme agama, serta menyoroti pentingnya integritas dan etika dalam menjalankan peran kepemimpinan.  Maka itu kajian teoritis etis teologis kepemimpinan Kristen harus dipahami untuk melihat tantangan kontemporer kepemimpinan Kristen, sehingga hal itu menjadi bagaian dari pentingnya dedikasi dan integritas dalam kepemimpinan Kristen. Dan pada akhirnya adanya aktualisasi dan strategi kepemimpinan kristen era kontemporer sebagai strategi konkrit untuk membangun dan meningkatkan komitmen para pemimpin gereja, dengan fokus pada pendekatan pembentukan rohani, pengembangan kepemimpinan, dan pembangunan komunitas yang kuat. Terlebih menyoroti tantangan-tantangan spesifik yang dihadapi para pemimpin gereja dalam menjaga integritas haruslah membuat kepemimpinan Kristen  tetap mengupayakan komitmen dan integritas dalam kepemimpinan gereja.
Peran Diakonia Gereja dalam Mengatasi Ketimpangan Sosial di Era Globalisasi: Telaah Teologis Surat Roma 15:22–27 Lourentino Gabriel Ismoyo; Sugiono Sugiono
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.399

Abstract

This study aims to analyze the role of the church in eradicating social inequality by using Romans 15:22-27 as the theological basis. Using the qualitative exposition method, this text shows how Paul encouraged the churches in Macedonia and Achaia to help the poor congregation in Jerusalem through fundraising, which reflects the principles of solidarity, the unity of the body of Christ, and social responsibility across communities. This study highlights the importance of integration between theology and social practices of the church and the need for an interdisciplinary approach between theology, sociology, and economics to strengthen the role of the church in facing the challenges of globalization in a relevant and transformative manner. The results of the study show that today's church can emulate the pattern of solidarity in Romans 15:22–27 by strengthening the role of social diaconia through fundraising, economic empowerment of the congregation, and advocacy for marginalized groups.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran gereja dalam mengentaskan ketimpangan sosial dengan menjadikan Roma 15:22-27 sebagai dasar teologis. Dengan menggunakan metode ekposisi pendekatan kualitatif  Teks ini menunjukkan bagaimana Paulus mendorong gereja-gereja di Makedonia dan Akhaya untuk membantu jemaat miskin di Yerusalem melalui penggalangan dana, yang mencerminkan prinsip solidaritas, kesatuan tubuh Kristus, dan tanggung jawab sosial lintas komunitas. Kajian ini menyoroti pentingnya integrasi antara teologi dan praktik sosial gereja serta perlunya pendekatan interdisipliner antara teologi, sosiologi, dan ekonomi guna memperkuat peran gereja dalam menghadapi tantangan globalisasi secara relevan dan transformatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja masa kini dapat meneladani pola solidaritas dalam Roma 15:22–27 dengan memperkuat peran diakonia sosial melalui penggalangan dana, pemberdayaan ekonomi jemaat, dan advokasi terhadap kelompok marginal.
Persembahan Perpuluhan: Relevansi dan Maknanya dalam Era Modern Soewieto Djajadi
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.296

Abstract

One form of offering that is routinely held in a church is a tithe offering. Tithing offerings are held by the church with many purposes, one of which is the provision of funds for the work and activities carried out by a church. In a church, of course, there are many activities that must be carried out, in addition to routine worship on Sundays, the church also carries out other activities such as mid-week worship activities, mission activities, visitation activities to the congregation, diakonia offerings and others. The activities carried out by the church certainly require large funds to finance these needs, because not to mention the cost of paying the pastor's salary, the salary of the musician, the church building management and the salary of the full timer staff of the church. Seeing the many costs that must be incurred, if you expect from the offerings at Sunday worship alone, it is certainly not enough. That is why, many churches rely heavily on tithing offerings to cover their costs. But besides that, many churches also hold tithes but the funds are used for the needs of the pastor or pastor of the church.  So it is a natural thing, in a large church it can be easily seen the amount of prosperity obtained by the church leader, such as expensive cars, branded clothes and accessories, traveling abroad with his family and others. Using a descriptive qualitative research method, it can be concluded that emphasizing tithing must be based on biblical studies, although many parties also say that tithing offerings are inherited from the Old Testament, so they are no longer valid in the New Testament era. This study was written to examine whether this statement is true and also whether tithing is still relevant in this modern era.AbstrakSalah satu bentuk persembahan yang rutin diadakan di sebuah gereja adalah persembahan perpuluhan. Persembahan perpuluhan diadakan oleh gereja dengan banyak tujuan, salah satunya adalah penyediaan dana untuk pekerjaan- pekerjaan dan kegiatan yang dilakukan oleh sebuah gereja. Di dalam sebuah gereja tentunya banyak kegiatan yang harus dilakukan, selain ibadah rutin pada hari minggu, gereja juga melakukan kegiatan –kegiatan lainnya seperti kegiatan ibadah tengah minggu, kegiatan misi, kegiatan kunjungan ke jemaat, persembahan diakonia dan lainnya. Kegiatan –kegiatan yang dilakukan oleh gereja tentunya menuntut adanya dana yang besar untuk membiayai keperluan tersebut, karena belum lagi ditambah dengan biaya untuk membayar gaji pendeta, gaji pemain musik, pengurus gedung gereja dan gaji staff full timer dari gereja tersebut. Melihat banyaknya biaya yang harus dikeluarkan, maka jika mengharapkan dari persembahan pada ibadah minggu saja tentulah tidak cukup. Itulah sebabnya, banyak gereja sangat tergantung dari persembahan perpuluhan untuk menutupi biaya- biaya yang mereka perlukan. Namun disamping itu, banyak gereja juga yang mengadakan perpuluhan tetapi dananya digunakan untuk keperluan gembala atau pendeta dari gereja tersebut. Jadi suatu hal yang wajar, di sebuah gereja besar dapat dengan mudah dilihat banyaknya kemakmuran yang didapat oleh pemimpin gereja tersebut, seperti mobil yang mahal, pakaian dan asesoris yang bermerk, berwisata keluar negeri dengan keluarganya dan lainnya. Menggunakan metode penelitian kualitatif deskritif maka dapat disimpulkan bahwa menekankan perpuluhan harus berdasarkan  kajian Alkitab, walaupun banyak pihak yang juga mengatakan bahwa persembahan perpuluhan adalah warisan dari Perjanjian Lama, sehingga tidak berlaku lagi pada era Perjanjian Baru. Penelitian ini ditulis untuk menelaah , apakah memang pernyataan tersebut benar adanya dan juga apakah persembahan perpuluhan masihkah relevan pada era modern ini.
Bertahan di Lintasan Baru: Menguasai Kompetensi Guru PAK dalam Era Pasca Modern Haposan Simanjuntak; Manahan Uji Simanjuntak; Ronal Sianipar; Benteng Martua Mahuraja Purba
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.312

Abstract

In this post-modern era, the role of teachers in the learning process is increasingly crucial, especially in religious education. Pedagogical competence is an important aspect that determines the quality of education, including in the subject of Christian Religious Education (PAK). However, along with the development of technology and changes in social dynamics, there is an urgent need to understand how this pedagogical competence is implemented and how it affects students' character education. Therefore, this study aims to investigate the implementation of PAK teacher pedagogical competence and its contribution to improving the quality of learning in this modern era. This study was conducted by researchers with the purpose of further investigating the Pedagogical Competence of a teacher, especially Christian Religious Education (PAK) teachers who are involved in the learning process today. Qualitative analysis methods were used by conducting interviews with a number of teaching staff, both teachers and lecturers, who are active in current learning activities. Data were collected using several instruments based on theories presented by experts who specifically discuss the topic being studied. After the research was conducted, the data was interpreted descriptively with the results covering: 1) Implementation of Pedagogical Competence of PAK Teachers in several aspects, 2) Influence of Pedagogical Competence of PAK Teachers on the progress of character education, and 3) Contribution of technological progress in improving PAK Teachers' Pedagogical Competence. From this study, it can be concluded that the competence of a teacher, especially pedagogical competence, is very important both among exact and non-exact educators, especially PAK teachers in the current era which is the post-modernization era.AbstrakDi era pasca-modernisasi ini, peran guru dalam proses pembelajaran semakin krusial, khususnya dalam pendidikan agama. Kompetensi pedagogik menjadi aspek penting yang menentukan kualitas pendidikan, termasuk dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Kristen (PAK). Namun, seiring dengan perkembangan teknologi dan perubahan dinamika sosial, ada kebutuhan yang mendesak untuk memahami bagaimana kompetensi pedagogik ini diimplementasikan dan bagaimana pengaruhnya terhadap pendidikan karakter siswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki implementasi kompetensi pedagogik guru PAK dan kontribusinya dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di era modern ini.Penelitian ini dilakukan oleh peneliti dengan tujuan untuk menyelidiki lebih lanjut tentang Kompetensi Pedagogik seorang guru, khususnya guru Pendidikan Agama Kristen (PAK) yang terlibat dalam proses pembelajaran pada zaman sekarang. Metode analisis kualitatif digunakan dengan melakukan wawancara kepada sejumlah tenaga pengajar, baik guru maupun dosen, yang aktif dalam kegiatan pembelajaran saat ini. Data dikumpulkan menggunakan beberapa instrumen yang didasarkan pada teori-teori yang disampaikan oleh para ahli yang secara khusus membahas topik yang diteliti. Setelah penelitian dilakukan, data diinterpretasikan secara deskriptif dengan hasil yang mencakup: 1) Implementasi Kompetensi Pedagogik Guru PAK dalam beberapa aspek, 2) Pengaruh Kompetensi Pedagogik Guru PAK terhadap kemajuan pendidikan karakter, dan 3) Kontribusi kemajuan teknologi dalam meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru PAK. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kompetensi seorang guru, terutama kompetensi pedagogik, sangatlah penting baik di kalangan pendidik eksakta maupun non-eksakta, khususnya guru-guru PAK di era saat ini yang merupakan era pasca-modernisasi.
Komitmen Ezra (Seeking, Doing, Teaching) dan Implikasinya Bagi Para Pemimpin Di Era Disrupsi: Kajian Hermeneutik Berdasarkan Ezra 7:10 Aska Aprilano Pattinaja; Paulus Konto Baskoro
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.285

Abstract

The purpose of this paper is to examine Ezra's commitment to preparing himself as a teacher of the law, namely seeking, doing, teaching, which has implications for leaders in the era of disruption. This commitment is very important for leaders to face the moral and integrity degradation that is occurring today. The problem that arises is that many leaders seem great, but are not accompanied by a lifestyle that produces good examples. There is a gap in research that specifically and comprehensively examines the explanation and implementation of Ezra's commitment. Therefore, based on the qualitative method with a hermeneutic approach, this research has found several important things, namely, first, learning (seeking), that a leader needs time to equip himself by learning the basic truth of God's Word; second, doing (doing), a leader is required after learning to do or apply first in personal implementation; and third, teaching (teaching), this is the phase where a leader must teach the basic values of the truth of God's Word, which is a combination of what has been learned and the experience of doing the truth. The implication of this commitment is that what is shared is not mere rhetoric or theory, but a testimony of life-changing experience. This study is useful for pastors, shepherds, teachers, lecturers, or anyone called to leadership. AbstrakTujuan penulisan ini adalah meneliti komitmen Ezra dalam mempersiapkan dirinya sebagai pengajar Hukum Taurat, yakni seeking (meneliti), doing (melakukan), teaching (mengajar), yang berimplikasi terhadap para pemimpin dalam era disrupsi. Komitmen ini sangat penting bagi para pemimpin, untuk menghadapi degradasi moral dan integritas yang terjadi pada hari ini. Problematika yang terjadi adalah banyak pemimpin yang kelihatannya hebat, tetapi tidak dibarengi dengan pola hidup yang menghasilkan teladan yang baik. Terdapat kesenjangan penelitian dalam meneliti secara spesifik dan komprehensif terkait penjelasan dan implementasi dari komitmen Ezra tersebut. Oleh sebab itu berdasarkan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik, maka penelitian ini telah menemukan beberapa hal penting, yakni, pertama, Belajar (seeking), bahwa seorang pemimpin, membutuhkan waktu untuk memperlengkapi dirinya lewat mempelajari dasar kebenaran Firman Tuhan; kedua, Melakukan (doing), seorang pemimpin diharuskan setelah belajar melakukan atau menerapkan dahulu dalam implementasi pribadi; dan ketiga, Mengajar (teaching), inilah fase di mana, seorang pemimpin harus mengajarkan nilai-nilai dasar kebenaran Firman Tuhan yang merupakan gabungan dari apa yang telah dipelajari dan pengalaman melakukan kebenaran tersebut. Implikasi dari komitmen ini adalah, apa yang dibagikan bukan saja menjadi retorika atau teori belaka, tetapi kesaksian dari pengalaman hidup yang mengubah. Penelitian ini berguna bagi para Pendeta, Gembala, Guru, Dosen atau saja yang terpanggil untuk menjadi pemimpin.
Analisis Hubungan antara Panggilan Gembala dan Kesetiaan dalam Pelayanan Jemaat Stefanus Sujatmoko
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 8, No 2 (2026): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2026 - This is
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v8i2.509

Abstract

Study aims to analyze the relationship between the pastoral calling and faithfulness in congregational ministry. The pastoral calling is a divine mandate given by God to certain individuals to lead, guide, and shepherd His people, while faithfulness in ministry reflects integrity and commitment in carrying out that calling. The research method employed is a qualitative approach with a descriptive design, utilizing literature review, observation, and interviews. The results of the study indicate that there is a close relationship between the understanding of the pastoral calling and the level of faithfulness in ministry. Pastors who possess a strong conviction of their calling tend to demonstrate high commitment, resilience in facing challenges, and consistency in serving the congregation. Conversely, a weak understanding of calling leads to a decline in faithfulness in ministry. This study emphasizes the importance of theological understanding and spiritual experience in fostering faithfulness in pastoral ministry.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara panggilan gembala dan kesetiaan dalam pelayanan jemaat. Hal ini menjadi penting karena dalam praktik pelayanan masa kini, berbagai tantangan seperti tekanan pelayanan, konflik internal jemaat, tuntutan kehidupan ekonomi, dan perubahan sosial dapat memengaruhi komitmen serta kesetiaan seorang gembala dalam menjalankan tugas pelayanannya. Panggilan gembala merupakan mandat ilahi yang diberikan oleh Allah kepada individu tertentu untuk memimpin, membimbing, dan memelihara jemaat-Nya, sedangkan kesetiaan melayani merupakan wujud integritas dan komitmen dalam menjalankan panggilan tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif melalui studi pustaka, observasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang erat antara pemahaman panggilan gembala dengan tingkat kesetiaan dalam pelayanan. Gembala yang memiliki keyakinan kuat terhadap panggilannya cenderung menunjukkan komitmen yang tinggi, ketahanan dalam menghadapi tantangan, serta konsistensi dalam melayani jemaat. Sebaliknya, lemahnya pemahaman panggilan berdampak pada menurunnya kesetiaan dalam pelayanan. Penelitian ini menegaskan pentingnya pemahaman teologis dan pengalaman spiritual dalam membangun kesetiaan pelayanan pastoral.
Kepemimpinan Pemuda Kristen di Era Digital: Pelayanan dalam Transformasi Teknologi untuk Membangun Komunitas Iman yang Relevan Nineson setiawan Aritonang; Kosma Manurung
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.298

Abstract

Leadership in the church for Christian youth leadership in this digital era, demands the role of human resources who have dynamic adaptation to change for the sake of significant changes in technology, because it is to build a relevant community of spirituality and faith. Where technological transformation has changed the landscape of church communication and ministry, it requires new strategies that combine Christian values with technological innovation.  This is the purpose of the paper, so that youth leadership can see opportunities and utilize technology in church ministry to create and build relevant spirituality and faith today. Using a descriptive qualitative method with a literature study approach, it can be concluded that the important role of Christian youth leadership in the digital era, as an effort in service to transform technology to build relevant spirituality and faith. That is, youth leadership needs to understand the nature of Christian leadership and the use of technology in church services that aim to develop spiritual leadership in the digital era, it can build relevant spiritual and faith communities. So the important role of everything lies in youth leadership in the digital era, so that Christian youth can become agents of change in forming spiritual and faith communities that have a positive impact in the digital era.AbstrakKepemimpinan dalam gereja bagi kepemimpinan pemuda Kristen di era digital ini, menuntut peran sumber daya manusia yang memiliki adaptasi yang dinamis terhadap perubahan demi perubahan yang signifikan dalam teknologi, sebab hal itu untuk membangun komunitas spritulitas dan iman yang relevan. DI mana transformasi teknologi telah mengubah lanskap komunikasi dan pelayanan gereja, memerlukan strategi baru yang menggabungkan nilai-nilai kekristenan dengan inovasi teknologi.  Ini tang menjadi tujuan dari tulisan, sehingga kepemimpinan Pemuda dapat melihat peluang dan memanfaatkan teknologi dalam pelayanan gereja untuk menciptakan  dan membangun spritualitas dan iman yang relevan saat ini. Menggunakan metode kualitatif deskritif dengan pendekatan studi literature maka dapat disimpulkan bahwa peran penting dari kepemimpinan pemuda kristen di era digital, sebagai upaya dalam pelayanan untuk mentransformasi teknologi membangun spritualitas dan  iman yang relevan. Yaitu kepemimpinan pemuda perlu memahami hakikat kepemimpinan Kristen dan Penggunaan Teknologi dalam Pelayanan Gereja yang bertujuan untuk Mengembangkan Kepemimpinan Rohani di Era Digital, hal itu dapat membangun komunitas Spritual dan Iman yang relevan. Maka peran penting semuanya itu terletak padaa kepemimpinan pemuda di era digital, supaya pemuda Kristen dapat menjadi agen perubahan dalam membentuk komunitas spiritual dan iman yang berdampak positif dalam era digital.
Menggali Inspirasi Dari Kisah Petrus: Strategi Efektif Dalam Memulihkan Motivasi Saat Menghadapi Keterpurukan Sulis Setyaningsih
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.308

Abstract

The purpose of this paper is to help everyone who is experiencing a slump to get inspiration from the life story of the Disciple of the Lord Jesus named Peter. Everyone needs to realize that he is a special creation of God, namely having a mind. With this privilege, humans are expected to be able to think clearly and place themselves well when facing life's problems. But in fact this is not the case, some people tend not to be able to overcome their problems when they are in a slump. Some are able to recover but some are not. This depends on the particular person. This article is titled "Digging Inspiration from Peter's Story: Effective Strategies for Restoring Motivation in the Face of Adversity." The method used in this paper is Biblical analysis and uses literature in the form of books, journal articles, and others. The result of this study is that a person needs to have effective strategies in restoring his motivation when facing adversity by learning from the story of Peter, as for the inspiration obtained, namely: Realizing mistakes and repenting, hoping in God's grace, daring to make decisions for a change, always relying on the Holy Spirit and being a witness to Christ.AbstrakTujuan tulisan ini yaitu membantu setiap orang yang sedang mengalami keterpurukan untuk mendapatkan inspirasi dari kisah hidup Murid Tuhan Yesus yang bernama Petrus. Setiap orang perlu menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan Tuhan yang istimewa. Dengan keistimewaan yang dimiliki, manusia diharapkan untuk bisa berpikir jernih dan menempatkan dirinya dengan baik dikala menghadapi problematika hidup. Namun nyatanya tidak demikian, beberapa orang cenderung tidak bisa mengatasi masalahnya ketika sedang dalam keterpurukan. Tulisan ini berjudul “Menggali Inspirasi dari Kisah Petrus: Strategi Efektif dalam memulihkan motivasi saat menghadapi Keterpurukan.” Metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu analisis Biblika dan mengunakan literature  berupa buku, artikel jurnal, dan lain-lain. Hasil dari penelitian ini yaitu seseorang perlu memiliki startegi efektif dalam memulihkan motivasi hidupnya saat menghadapi keterpurukan dengan belajar dari kisah Petrus, adapun inspirasi yang didapatkan yaitu: menyadari kesalahan dan melakukan pertobatan, berharap pada kasih karunia Tuhan, berani mengambil keputusan untuk sebuah perubahan, senantiasa mengandalkan Roh Kudus dan menjadi saksi Kristus.
Eksplorasi Kecerdasan Spiritual dalam Kehidupan Rohani Jemaat: Perspektif Kasih Allah dalam Efesus 3:18-19 Daniel Pesah Purwonugroho
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.292

Abstract

Spiritual intelligence is the intelligence required by every believer. Spiritual intelligence is rooted in the spiritual reality within the life of the congregation. Spiritual intelligence in the spiritual life of the congregation can be explored when the congregation realizes the great and miraculous love of God. Ephesians 3:18-19 provides a description of the great and noble dimensions of God's love. God's love serves as the foundation for the congregation to build their spiritual life upon. As the congregation develops a true understanding of God's love according to Ephesians 3:18-19, exploration of spiritual intelligence within the spiritual life of the congregation can occur, resulting in an enhancement of the congregation's spiritual life. Through a descriptive qualitative approach, it can be concluded that spiritual intelligence in the spiritual life of the congregation can be explored to experience enhancement with the foundation of understanding God's love in Ephesians 3:18-19. Understanding God's love in Ephesians 3:18-19 can lead the congregation to explore spiritual intelligence in the spiritual life of the congregation.AbstrakArtikel ini dibuat untuk mengeksplorasi kecerdasan spiritual dalam kehidupan jemaat dalam perspektif kasih Allah di Efesus 3:18-19. Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang dibutuhkan setiap orang percaya. Kecerdasan spiritual didasarkan kepada realitas rohani di dalam kehidupan jemaat. Kecerdasan spiritual dalam kehidupan rohani jemaat dapat dieksplorasi saat jemaat menyadari tentang kasih Allah yang besar dan ajaib. Efesus 3:18-19 memberikan sebuah deskripsi dimensi kasih Allah yang agung dan mulia. Kasih Allah menjadi dasar bagi jemaat untuk membangun kehidupan rohani. Saat jemaat membangun pemahaman yang benar akan kasih Allah sesuai dengan Efesus 3:18-19, eskplorasi kecerdasan spiritual jemaat dapat terjadi sehingga mengalami peningkatan di dalam kehidupan rohani jemaat. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual dalam kehidupan rohani jemaat dapat dieksplorasi untuk mengalami peningkatan dengan fondasi pemahaman kasih Allah dalam Efesus 3:18-19. Pemahaman kasih Allah dalam Efesus 3:18-19 dapat membawa jemaat mengeksplorasi kecerdasan spiritual dalam kehidupan rohani jemaat.
Mempertahankan Kehidupan Dalam Koma: Telaah Dari Sisi Etika Kristani Pada Kasus Koma Vegetatif Kumoro Adiatmo; Simon Simon; Yusup Heri Harianto
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 6, No 2 (2024): Teologi dan Pendidikan Agama Kristen - Agustus 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v6i2.294

Abstract

In the age of significant medical technology advancements, the management of complex medical conditions such as vegetative states presents profound ethical dilemmas for families, healthcare providers, and the community. This study explores the role of Christian theology in guiding ethical decision-making amidst these challenges, focusing on the concept of "imago Dei," which asserts that every human being is created in the image and likeness of God. Employing a qualitative-descriptive approach, this research integrates theological insights with medical dilemmas, emphasizing the importance of honoring human dignity and addressing ethical challenges in medical decision-making. The findings suggest that theological principles not only enrich medical understanding but also provide ethical and holistic guidance, these principles support decisions that honor the value of human life and patient dignity, whether in sustaining patient life or considering the termination of life-support measures. This study highlights the need for ongoing dialogue between theology and medical practice to ensure that healthcare remains sensitive to human and ethical aspects.AbstrakDalam era kemajuan teknologi medis yang signifikan, pengelolaan kondisi medis yang kompleks seperti kematian vegetatif menimbulkan dilema etis yang mendalam bagi keluarga, tenaga medis, dan masyarakat. Penelitian ini mengeksplorasi peran teologi Kristen dalam membimbing keputusan etis di tengah-tengah tantangan ini, dengan fokus khusus pada konsep "imago Dei" yang menyatakan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Melalui pendekatan kualitatif-deskriptif, penelitian ini mengintegrasikan wawasan teologis dengan dilema medis, menekankan pentingnya menghargai martabat manusia dan mengatasi tantangan etis dalam pengambilan keputusan medis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip teologis tidak hanya memperdalam pemahaman medis, tetapi juga memberikan arahan etis dan holistik. Prinsip-prinsip ini mendukung keputusan yang menghormati nilai kehidupan manusia dan martabat pasien, baik dalam mendukung keberlangsungan hidup pasien maupun dalam mempertimbangkan terminasi alat bantu kehidupan. Studi ini menekankan kebutuhan akan dialog yang berkelanjutan antara teologi dan praktik medis untuk memastikan bahwa perawatan kesehatan tetap sensitif terhadap aspek kemanusiaan dan etika.