THRONOS: Jurnal Teologi Kristen
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi yang dilakukan oleh setiap dosen dari berbagai Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia, praktisi Kristen, teolog, yang ingin berkontribusi bagi kemajuan pemikiran Kristen di Indonesia secara khusus. THRONOS diterbitkan oleh Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen di Indonesia. Focus dan Scope penelitian THRONOS adalah: Teologi Biblikal Teologi Sistematika Teologi Praktika Teologi Kontekstual Teologi Historika Misiologi THRONOS menerima artikel dari dosen dan para praktisi teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi yang ada, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer yang ahli di bidangnya melalui proses double blind-review. THRONOS terbit dua kali dalam setahun, yakni Juni dan Desember.
Articles
61 Documents
Bisnis dalam Perspektif Iman Kristen
Sundoro Tanuwidjaja;
I Putu Ayub Darmawan
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (451.61 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v1i2.5
: It is a challenge for Christians today in responding to economic developments that continue to grow and increasingly depress in human life. The author analyzes some literatures by looking at some relevancy that related to the topic. The author believe that the Bible provides a theological base for business practice. God himself is a person who is a model of work. When running a business, the main attention of all effort is to glorify God. In this case, Christians are not controlled by mammon but rather do business as part of God's mandate. Abstrak: Tantangan bagi orang Kristen masa kini adalah menyikapi perkembangan ekonomi yang kemudian terkait dengan isu bisnis. Penulis melakukan analisis pustaka dengan mencermati beberapa literatur relevan yang terkait topik bahasan. Penulis mencermati bahwa Alkitab memberikan landasan teologis untuk berbisnis. Allah sendiri adalah pribadi yang menjadi model dalam bekerja. Hanya dalam menjalankan bisnis, fokus perhatiannya adalah seluruh pekerjaan dilaksanakan sebagai upaya memuliakan Allah. Dalam hal ini, orang Kristen tidak dikuasai oleh mammon melainkan menjalankan bisnis sebagai bagian dalam mandat Allah.
Peran Gereja Sebagai Penjaga Umat dalam menghadapi Bonus Demografi di Indonesia: Refleksi Teologis Yehezkiel 3:16
Sugeng Santoso;
Yohana Natassha;
Yehuda Indra Gunawan;
Esther Natasaputera
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v3i1.25
The demographic bonus is a phenomenon that will occur in Indonesia in 2030 – 2045 and will have an impact on all people's lives. This phenomenon requires the role of all levels of society including the church. This article aims to provide an understanding of the role of the church as the guardian of the people according to Ezekiel 3:16 in dealing with the demographic bonus in Indonesia. The discussion in this paper uses a qualitative approach with the technique of writing a literature review or literature study. The results of the study show that the church must play a role in dealing with the demographic bonus through the pillars or functions of church services. The church can carry out various concrete actions that are holistic in nature that can be useful in all aspects of the life of the congregation and society. In this case, the church must be the guardian of the people who warn the congregation of all life problems, not only spiritual problems.AbstrakBonus demografi adalah fenomena yang akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030 – 2045 dan akan berdampak pada seluruh kehidupan masyarakat. Fenomena ini membutuhkan peran seluruh lapiran masyarakat termasuk gereja. Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang peran gereja sebagai penjaga umat menurut Yehezkiel 3:16 dalam menghadapi bonus demografi di Indonesia. Pembahasan dalam tulisan ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik penulisan literature review atau studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja harus berperan dalam menghadapi bonus demografi melalui pilar atau fungsi pelayanan gereja. Gereja dapat melakukan berbagai aksi nyata yang bersifat holistik yang dapat berguna dalam seluruh aspek kehidupan jemaat dan masyarakat. Dalam hal ini, gereja harus menjadi penjaga umat yang memperingatkan jemaat atas seluruh permasalahan kehidupan tidak hanya masalah rohani. Penelitian ini memiliki kontribusi bagi gereja untuk berperan aktif dalam seluruh kehidupan umat. Gereja tidak hanya berfokus pada pelayanan gerejawi tetapi harus dapat menyentuh seluruh aspek kehidupan jemaat dan masyarakat.
Inkulturasi Liturgi Gereja Bethel Indonesia
Naftali Untung;
Priskila Issak Benyamin;
Yogi Mahendra
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (424.382 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v2i2.22
Liturgical and cultural inculturation is an important part of worship in the context of the church in Indonesia. This interest arises because the church is entering a post-modern era where local culture has not experienced inculturation, but post-modern culture has entered to change the church's thinking. Until now, the Bethel Indonesia church has not comprehensively carried out the process of inculturation of the liturgy and culture. From this fact, it is necessary to develop and put forward a comprehensive inculturation process by the church today so as not to be trapped by the syncretism of Indonesian local culture and the rise of post-modern culture. The purpose of this study is to find out the importance of the process, how the process and the impact of inculturation are truly in accordance with the Indonesian context. In revealing the liturgical and cultural inculturation in the church today, the author uses a qualitative descriptive research method. The results of the study indicate that the inculturation process really has an impact on the congregation in interpreting Christian values and enthusiasm for prayer and worship. Inculturation has succeeded in bringing about a different experience when worshiping compared to a liturgy that is carried out routinely with the same stages of worship from week to week.AbstrakInkulturasi liturgi dan budaya adalah bagian penting dalam peribadatan dalam konteks gereja di Indonesia. Kepentingan ini muncul karena gereja sedang memasuki masa post-modern dimana kebudayaan lokal belum mengalami inkulturasi, tetapi budaya post-modern sudah masuk untuk mengubah pemikiran gereja. Hingga saat ini, gereja Bethel Indonesia belum secara komprehensif melakukan proses inkulturasi liturgi dan budaya itu. Dari kenyataan ini, maka perlu dikembangkan dan dikedepankan proses inkulturasi secara menyeluruh oleh gereja masa kini supaya tidak terjebak dengan sinkritisme budaya lokal Indonesia dan maraknya budaya post-modern. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan pentingnya proses, bagaimana proses dan dampak inkulturasi yang benar sesuai dengan konteks Indonesia. Dalam mengungkapkan inkulturasi liturgi dan budaya pada gereja masa kini tersebut, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses inkulturasi yang benar memberikan dampak kepada jemaat dalam memaknai nilai-nilai Kekristenan dan semangat dalam berdoa dan beribadah. Inkulturasi berhasil membawa umat merasakan suatu pengalaman yang berbeda ketika beribadah dibandingkan dengan sesuatu liturgi yang dilakukan secara rutin dengan tahapan ibadah yang sama dari minggu ke minggu.
Implementasi Prinsip Kepemimpinan Bapa dalam Keluarga Kristen di Era New Normal Pandemi COVID-19
Timotius Haryono
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (648.268 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v2i1.14
The covid-19 pandemic causes a negative impact on leadership in the Christian family. Leadership in Christian family are very important to prepare children in the New Normal era Covid-19 pandemic. This research aims to found the principle of Father leadership in the bible and apply on Christian family in New Normal era Covid19 pandemic. This research uses theological dan social qualitative approach. The principle of Father leadership collected from the Bible and related literature. This research found 12 principles of Father leadership that must be applied in the new normal Covid-19 pandemic era. AbstrakPandemi Covid19 menimbulkan dampak pada semua aspek kehidupan termasuk krisis kepemimpinan dalam keluarga Kristen. Peran kepemimpinan sangat menentukan dalam mempengaruhi anak-anak dalam keluarga Kristen untuk menghadapi era New Normal Pandemi Covid19. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan prinsip-prinsip kepemimpinan Bapa dalam Alkitab dan mengimplementasikannya dalam keluarga Kristen di era new normal Covid19. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif teologis dan sosial. Data prinsip-prinsip kepemimpinan Bapa diperoleh dari Alkitab dan literatur yang terkait. Hasil penelitian ada 12 prinsip kepemimpinan Bapa yang perlu diterapkan dalam keluarga Kristen di era new normal pandemi Covid-19.
Amanat Penggembalaan dalam Ruang Virtual
Fredy Simanjuntak;
Dewi Lidya Sidabutar;
Yudhy Sanjaya
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (467.782 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v1i2.6
The outbreak of the covid-19 outbreak made religious affiliation and the practice of church organizations transition to present stewardship and herding ministry virtually. The enactment of Social and Psychological distancing as well as the temporary closure of houses of worship have opened new patterns in online interaction. This has become a phenomenon in the process of church communication on online media called the internet. It is undeniable that humans with any religious background are still sociological creatures. This is consistent with Martin Heidegger's term that humans as Dasein, where Dasein's behavior is active involvement with everyday objects. Like relationships with other people, objects, and with himself (reflective). The purpose of this paper is to find out the relevance of the Pastoral mandate in the current pandemic and is it effective in the future? This study is a critical analysis to try to understand the meaning of a situation or event from a holistic perspective.Abstrak: Merebaknya wabah covid-19 membuat afiliasi agama dan praktik organisasi gereja bertransisi untuk menyajikan penatalayanan serta pelayanan penggembalaan secara virtual. Pemberlakuan Social dan pshyscal distancing serta penutupan sementara rumah ibadah secara public telah membuka pola baru dalam interaksi secara daring. Hal ini telah menjadi fenomena tersendiri dalam proses komunikasi gereja pada media online yang disebut internet. Tidak dapat dipungkiri bahwa manusia dengan latar belakang agama apapun masih menjadi makluk sosiologis. Hal ini sesuai dengan sebutan Martin Heidegger bahwa manusia sebagai Dasein, dimana perilaku Dasein adalah keterlibatan secara aktif dengan objek keseharian. Seperti hubungan dengan orang lain, benda, maupun dengan dirinya sendiri (reflektif). Tujuan dari paper ini adalah untuk menemukan relevansi amanat penggembalaan pada masa pandemic sekarang dan efektifkah secara berkelanjutan untuk waktu yang akan datang? Penelitian ini bersifat Analisis kritis untuk mencoba memahami pemaknaan situasi atau peristiwa dari sudut pandang yang utuh.
Kajian Etis Penggunaan Isu Agama dalam Politik Polarisasi
Jhon Leonardo Presley Purba;
Priyantoro Widodo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (484.948 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v2i2.23
The phenomenon of politicization of religion that has caused the polarization of Indonesian society has occurred massively recently. The impact of the division caused is very dangerous for the integrity and unity of the nation. This paper is qualitative research with a phenomenological approach to describe the ethical problems of politicizing religion that causes polarization or division, from the perspective of the Christian faith. The results of this study conclude that there are three parties responsible for this phenomenon, namely fundamentalist Islamic groups, political parties and politicians, and society in general. These three parties must behave and act ethically by prioritizing the interests of the nation and state before deciding to get involved and politicize religion with an overdose in practical politics that causes polarization in society.AbstrakFenomena politisasi agama yang menyebabkan polarisasi masyarakat Indonesia terjadi secara massive belakangan ini. Dampak perpecahan yang ditimbulkan sangat berbahaya bagi keutuhan dan kesatuan bangsa. Paper ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenome-nologi untuk mendeskripsikan problematika etis politisasi agama yang menyebabkan polarisasi atau perpecahan, dari perspektif iman Kristen. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa ada tiga pihak yang bertanggungjawab atas fenomena ini yaitu kelompok-kelompok Islam fundamentalis, partai politik dan politisi, dan masyarakat secara umum. Ketiga pihak ini harus bersikap dan bertindak etis dengan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara sebelum memutuskan untuk terlibat dan melakukan politisasi agama dengan overdosis dalam politik praktis yang menyebabkan polarisasi dalam masyarakat.
Korelasi Pemahaman Doktrin Predestinasi dengan Praktik Hidup Kudus
Junior Natan Silalahi;
Pengalaman Gulo;
Anggiat Simanullang
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 1 (2020): Desember 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (633.557 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v2i1.11
This article reviewed the correlation of understanding the doctrine of predestination with the practice of holy life of church officials in the board of the synod region of Christian church Baithani DKI Jakarta. As for this research done with quantitative research methodology. After conducting research according to established methodologies, the result of calculating the correlation between the two variables would be a great 0,763 and fall into a positive and strong category. Based on regression tests retrieved regression results between the two variable sizes (0,582 or 58,2% which means that understanding the doctrine of predestination contributes 58,2% to the improvement of the practice of holy life in Jakarta GKB. Application of doctrinal understanding predestination to improve the practice of holy life of the church in GKB Synod Jakarta can be applied because it has a good influence, but it cannot be the holy reference because there are still other factors affecting the level of practice of the holy life.AbstrakArtikel ini mengkaji korelasi pemahaman doktrin predestinasi dengan praktik hidup kudus pejabat gereja di badan pengurus daerah sinode gereja Kristen Baithani DKI Jakarta. Adapun penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif. Setelah melakukan penelitian sesuai dengan metodologi yang baku, maka didapat hasil perhitungan korelasi antara kedua variabel adalah sebesar (0.763) dan masuk pada kategori positif dan kuat. Berdasarkan uji regresi di dapat hasil regresi antara kedua variabel sebesar 0,582 atau 58,2% yang berarti bah-wa pemahaman doktrin predestinasi memberi kontribusi 58,2% terhadap peningkatan praktik hidup kudus di sinode GKB DKI Jakarta. Penerapan pemahaman doktrin predestinasi untuk meningkatkan praktik hidup kudus para pejabat gereja GKB Sinode DKI Jakarta bisa diterapkan karena memiliki pengaruh yang baik, namun hal tersebut tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan karena masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi tingkat praktik hidup kudus.
Pandangan Eklesiologi Calvin mengenai Politik Praktis dalam Pelayanan Gereja
Alfons Renaldo Tampenawas
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 1, No 2 (2020): Juni 2020
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (392.098 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v1i2.7
This article discusses the inclusion of Calvin’s exclusion of politics in practical church service of the Calvin Chruch and state (politicos) as two things that the Lord allows for attending to life in the world, but both church and state (politics) both have different duties and responsibilities while also helping one another. There’s basically no supremarcy between the two. But what matters is when politics blends with service in the church, in another sense the church becomes the vehicle for politics. This is what they call a practical political activity. Where both personal and political interests have made the church a tool for sustaining support. This is made the church lose its identity as salt and the light of the world.AbstrakArtikel ini membahas mengenai pandangan Eklesiologi Calvin Mengenai Politik Praktis dalam pelayanan Gereja. Dalam Eklesiologi Calvin gereja maupun negara (politik) merupakan dua hal yang diijinkan Tuhan untuk hadir dalam kehidupan di dunia, akan tetapi baik gereja maupun negara (politik) keduanya memiliki tugas dan tanggung jawab yang berbeda walaupun juga saling menolong satu dengan yang lain. Pada dasarnya tidak ada supremasi antara keduanya. Namun yang menjadi persoalan ketika politik bercampur aduk dengan pelayanan di dalam gereja, dalam arti yang lain gereja menjadi kendaraan bagi politik. Inilah yang dinamakan dengan kegiatan politik praktis, dimana kepentingan pribadi maupun kelompok partai politik menjadikan gereja sebagai alat untuk mencari dukungan. Hal ini membuat gereja kehilangan jati diri/identitas sebagai garam dan terang dunia.
Pelayanan Diakonia Karitatif dan Konseling bagi Korban Pemutusan Hubungan Kerja
Elisabet Indar Suwanti;
Iskak Sugiyarto;
Yusup Rogo Yuono;
Agung Dian Rengganis;
Yeriyusu Laoli
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 2, No 2: Juni 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (457.951 KB)
|
DOI: 10.55884/thron.v2i2.26
The emergence of coronavirus disease 2019 or what is called Covid-19 in China and spread throughout the world, then Indonesia was affected by the Covid-19 virus. This also affects several companies in Indonesia so that the phenomenon of Termination of Employment (PHK) is carried out on a large scale. This is because the company went bankrupt. Termination of employment by companies or businesses on a large or small scale has an impact on church members as well. The JKI Satellite Muktiharjo Church responded to what was happening in the Indonesian nation, especially the members of the congregation who were affected by the Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) Non-natural Disaster by providing diaconal services. This paper aims to examine whether the church's diaconal and counseling services help church members who have been laid off. This study uses a literature research methodology, which is a method that emphasizes literature research. From the research conducted, it is stated that diaconal and counseling services help to overcome problems that arise in the congregation due to termination of employment. Therefore, the church needs to carry out diaconal and counseling services to help congregation members who have been laid off as a result of the COVID-19 pandemic.AbstrakMunculnya coronavirus disease 2019 atau yang disebut Covid-19 di China dan menyebar ke seluruh dunia, maka Indonesia terkena dampak virus Covid-19 tersebut. Hal ini juga berpengaruh terhadap beberapa perusahaan di Indonesia sehingga muncullah fenomena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang dilakukan secara besar-besaran. Hal ini disebabkan karena perusahaan mengalami pailit. Pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan atau dunia usaha skala besar maupun kecil berdampak juga kepada warga jemaat gereja. Gereja JKI Satelit Muktiharjo meresponi yang terjadi di bangsa Indonesia terkhusus warga Jemaat yang terkena dampak dari Bencana Non-alam Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dengan melakukan pelayanan diakonia. Tulisan ini bertujuan mengkaji apakah pelayanan diakonia dan konseling yang dilakukan gereja membantu warga gereja yang tekena pemutusan hubungan kerja. Penelitian ini menggunakan metodologi literature research, yaitu sebuah metode yang menekankan penelitian pustaka. Dari penelitian yang dilakukan dinyatakan bahwa pelayanan diakonia dan konseling membantu mengatasi persoalan yang muncul di jemaat akibat pemutusan hubungan kerja. Oleh sebab itu gereja perlu melaksanakan pelayanan diakonia dan konseling untuk membantu warga jemaat yang terkena pemutusan hubungan kerja akibat dari pandemi Covid-19.
Literasi Alkitab Digital dalam Pemuridan Pemuda: Sebuah Refleksi Kritik Puisi terhadap Mazmur 119:9
Leonardus Rudolf Siby;
Priyantoro Widodo
THRONOS: Jurnal Teologi Kristen Vol 3, No 1: Desember 2021
Publisher : Badan Musyawarah Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55884/thron.v3i1.28
Current technological developments indicate a change in direction for literacy habits, from physical literacy to digital literacy. Therefore, it is important to promote Bible literacy for young people who are accustomed to using and accessing digital content. This writing is a biblical study of the text of Psalm 119:9, as a biblical foundation for digital Bible literacy, in the process of discipleship of today's church youth. The data used in this study comes from the results of the APJII survey, while the exegesis method used is poetry criticism and interpretive journey. APJII data shows that (1) internet users in Indonesia have increased very rapidly in the last 10 years (2) there has been a decline in physical literacy. The results of the text study produce (1) the Word of God that is studied has the will to shape human behavior; (2) God's word needs to be creatively communicated in human life situations; (3) The Bible has a unified theme, and it is that theme that is communicated to God's people throughout the ages. These findings lead to recommendations for the formation of digital literacy and Bible study groups, as well as aiding youth in these studies. Literacy and learning need to be arranged in certain varied themes. The church and family also have a role to play in familiarizing young people with Bible literacy, so that their behavior can be educated and formed as early as possible. The use of various digital platforms can be a means of contextual learning and literacy for youth. AbstrakPerkembangan teknologi saat ini menunjukkan perubahan arah bagi kebiasaan literasi, dari literasi secara fisik kepada literasi secara digital. Karena itu mengupayakan literasi Alkitab kepada para pemuda yang telah terbiasa menggunakan dan mengakses konten digital menjadi sebuah hal yang penting untuk dilakukan. Penulisan ini merupakan kajian biblika terhadap teks Mazmur 119:9, sebagai landasan alkitabiah bagi literasi Alkitab digital, dalam proses pemuridan pemuda gereja masa kini. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari hasil survey APJII, sedangkan untuk metode eksegesis yang digunakan adalah poetry criticism, dan interpretive journey. Data APJII menunjukkan bahwa (1) pengguna internet di Indonesia melonjak dengan sangat pesat dalam 10 tahun terakhir (2) terjadi penurunan dalam literasi secara fisik. Hasil kajian teks menghasilkan (1) Firman Tuhan yang dipelajari memiliki akan membentuk perilaku manusia; (2) firman Tuhan perlu dikomunikasikan secara kreatif dalam situasi hidup manusia; (3) Alkitab memiliki kesatuan tema, dan tema itu juga yang dikomunikasikan kepada umat Allah di sepanjang zaman. Temuan ini mengarah pada rekomendasi untuk pembentukan kelompok-kelompok literasi dan pembelajaran Alkitab secara digital, serta memberikan pendampingan kepada para pemuda dalam pembelajaran tersebut. Literasi dan pembelajaran tersebut perlu disusun dalam tema-tema tertentu yang secara variatif. Gereja dan keluarga juga memiliki peran untuk membiasakan literasi Alkitab bagi para pemuda, sehingga perilaku mereka dapat terdidik dan terbentuk sedini mungkin. Penggunaan berbagai platform digital dapat menjadi sarana pembelajaran dan literasi yang kontekstual bagi para pemuda.