cover
Contact Name
gempur sentosa
Contact Email
pepep.dw@gmail.com
Phone
+6281931254247
Journal Mail Official
jurnal.paraguna@isbi.ac.id
Editorial Address
Program Studi Seni Karawitan - Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265, Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) – 7303021
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
PARAGUNA : Jurnal Ilmiah Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Seni Karawitan
ISSN : 24076716     EISSN : 28284240     DOI : 10.26742/para
Jurnal Paraguna merupakan jurnal di lingkungan Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, yang mengedepankan pelestarian, pengelolaan dan pengembangan potensi seni, serta budaya dan kearifan lokal nusantara yang berdaya saing dalam percaturan global. Karawitan secara khusus dapat diartikan sebagai seni musik tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia. Khususnya di Pulau Jawa, Madura dan Bali. Dalam hal ini, jurusan karawitan ISBI Bandung menjadikan kebudayan Sunda sebagai kekhususan etnis yang dimaksud.
Articles 150 Documents
BROWN NOISE, PENDEKATAN INSTRUMENTASI DAN POST PRODUKSI MUSIK TERAPI UNTUK ADHD DEWASA: SEBUAH TAWARAN Murwaningrum, Dyah; Fausta, Ega; Ginanjar, Moch. Gigin
Paraguna Vol 10, No 2 (2023): KEDALAMAN TEKS DAN KONTEKS
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v10i2.2943

Abstract

The issues of mental health have become increasingly prevalent in recent times. People are exploring therapeutic methods from various avenues, including musik. Unfortunately, the availability of musik therapy is limited. This research aims to provide insight into how brown noise is closely related to musik that is considered to have a positive impact on adult ADHD survivor. The brown noise indicator (slope) can be one of measures in instrument selection. This research aims to explain the spectral sound characteristics trend in some musik therapies designed for adult ADHD survivor. This study uses noise-based approach in analyzing and finding the conclusion. The research process begins with sample selection, the determination of the main sample, analyze and measure the sample using deep listening and visual monitoring methods. The tools used are DAW Studio one 6.5, Spectrum meter plug in, and Ayaic CoS 6 Pro. The result of this research consisting of patterns in ADHD musik therapy measured through a noise approach, including white noise, pink noise and brown noise. The findings of this study are expected to assist musik therapy creator in instrument selection.
Tarawangsa Padepokan Pusaka Lembur: Upaya Pengembangan Dalam Mempertahankan Seni Tarawangsa di Cangkuang Kabupaten Bandung Sudarsono, Tarjo
Paraguna Vol 10, No 1 (2023): LOCUS TEMPUS: SENI TRADISI DALAM KONTEKS RUANG DAN WAKTU
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v10i1.2899

Abstract

Tarawangsa is a type of art that lives in an agrarian cultural ecosystem. Its existence cannot be separated from the lifestyle of the Sundanese people known as the people of the fields. One form of cultural expression between agrarian society and art, for example, can be found in the seren taun ceremony, ngalaksa. These ceremonies in particular have values related to the expression of people's gratitude for the produce of the earth, the harvest that nature has given to people's lives. In the Rancakalong Sumedang community, for example, some of these processes can still be found, especially in the ngalaksa ceremony procession. Apart from ceremonial activities related to an agrarian lifestyle, Tarawangsa also attends activities such as; the celebration of the birth of a baby and the ritual of treating the sick. This is because the agrarian lifestyle in some places tends to disappear, Tarawangsa is difficult to find in the context of agrarian rituals. One of these conditions can be found in Tarawangsa Cangkuang in Bandung Regency where its existence has further reduced the decline in the agrarian contextual function. Tarawangsa Cangkuang is not found in the ngalaksa ceremony, because in the people of Bandung Regency, it can hardly be found in the ngalaksa ceremony. Tarawangsa Cangkuang to a certain extent can only be found at the time of entertainment, and thanksgiving ceremonies for the birth of a baby. For this reason, development efforts are needed to maintain the existence of Tarawangsa Cangkuang. This paper is a record of participatory observation in recording the existence of Tarawangsa Cangkuang, as well as being involved in efforts to develop the show
Kendangan Wayang Golek Ugan Rahayu: Respon Masyarakat dan Dampak pada Kesenian Wayang Golek Alamsyah, Yosep Nurdjaman
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1675

Abstract

Kendangan (tepak kendang) karya Ugan Rahayu memberikan suasana yang lebih hidup dan hégar dari pola kendang sebelumnya. Untuk mencapainya, Ugan mengganti sistem tuning kendang lama dengan kendang jaipongan, memainkan tempo yang lebih cepat, dan mengisi kakawén dengan kendangan yang sebelumnya tanpa kendang. Upaya Ugan adalah untuk mengatasi kebosanan dalam pementasan Wayang Golek yang dinilai monoton dan menimbulkan suasana ngantuk pada pertunjukan dini hari hingga pagi. Suasana hégar kendangan Ugan menjadi hidup dari awal hingga akhir. Sejak 1999 hingga sekarang, salah satu muridnya Endang Rachmat (Berlin) menggantikan Ugan karena kesehatannya yang menurun. Kreativitas Ugan diterima masyarakat dan membangkitkan semangat pertunjukan Wayang Golek Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan observasi dan wawancara dengan informan. Analisis data dalam penelitian ini menunjukkan perbedaan pola kendang Ugan Rahayu dengan pola kendang sebelumnya. Kendangan Ugan memberikan dampak negatif, antara lain para pemain kendang muda tidak mempelajari pola kendang klasik, sehingga dikhawatirkan pola kendang klasik akan semakin menghilang dari ranah Wayang Golek.
Nilai Tradisi Ritual Dan Mistik Dalam Pertunjukan Wayang Kulitpada Acara Bersih-Desa di Kabupaten Klaten Jawa Tengah Subagya, Timbul
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1840

Abstract

Bersih desa merupakan salah satu tradisi Jawa yang hingga saat ini masih dijaga keberlangsungannya. Bagi masyarakat pendukungnya, acara bersih desa dipandang sebagai salah satu upayauntuk memenuhi kebutuhan dasar dalam kehidupannya. Dengan demikian acara itu akan dijaga eksistensinya meskipun dalam masyarakat itu sendiri terdapat pro dan kontra mengenai hal itu. Masyarakat pendukung acara bersih-desa beranggapan bahwa acara tersebut merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidupnya khususnya dalam kebutuhan spiritual. Pelaksanaan acara bersih desa dengan menggelar pertunjukan wayang kulit di dalamnya mengandug beberapa nilai. Tujuan dalam tulisan ini adalah untuk mengetahui kandungan nilai yang terdapat dalam acara bersih desa di beberapa tempat yang ada dalam wilayah  Kecamatan Polaharjo Klaten, khususnya dari aspek nilai ritual dan mistik. Sementara metode yang dipakai adalah metode diskriptif analisis. Penulisan artikel ini memakai pendekatan deskriptif analisis yaitu mencatat dan menguraikan objek data sebagaiman adanya. Dari hasil kajian yang dilakukan  dapat dapat diketahui tentang nilai nilai yaitu,nilai ritual, nilai mitologi dan nilai religi.
PERFORMA PEREMPUAN SEBAGAI JURU REBAB DALAM KARAWITAN SUNDA Ghaliyah, Bunga Dessri Nur; Sopandi, Caca
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1848

Abstract

Hingga saat ini, perempuan masih menjadi sang liyan atau kaum nomor dua, termasuk dalam Karawitan Sunda. Dalam Karawitan Sunda terdapat ‘doing gender’, salah satunya yakni juru rebab (pemain rebab) yang dipandang sebagai ‘pekerjaan’ khusus kaum laki-laki, sehingga sangat jarang ditemukan perempuan yang berprofesi sebagai juru rebab. Untuk mendapatkan keadilan dan kesetaraan, resistensi pun dilakukan di lingkungan pendidikan yakni ISBI Bandung untuk menciptakan performa juru rebab perempuan dalam Karawitan Sunda yang setara dengan juru rebab laki-laki. Penelitian ini berjenis kualitatif dengan data yang didapatkan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka, yang kemudian dibedah menggunakan teori performativitas Judith Butler.
Mang Koko dalam Inovasi Gamelan Salendro Ruswandi, Tardi
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1849

Abstract

ABSTRAKInovasi Mang Koko dalam gamelan salendro,terlihat pada penciptaan gending bubuka, gending macakal, dan iringan lagu-lagu kawih. Dari ketiga unsur ini, yang sangat menonjol pada permainan melodi yang bersifat dialog antara waditra yang satu dengan waditra lainnya. Untuk membuktikan itu semua dianalisis denganteori kebudayaan. Dari teori tersebut tercermin bahwa konsep inovasi Mang Koko, penggarap karya seninya melalui organisasi, serta manfaat bagi masyarakat,dapat dirasakan hasilnya samppai saat ini. Hal inilah yang sangat penting untuk dibahas,karena inovasi permainan gamelan salendro, merupakan ciptaan baru daripada permainan gamelan salendro tradisi. ABSTRACT Mang Koko's innovation in the Salendro gamelan was seen in the creation of the bubuka gending, the macakal gending, and the accompaniment of kawih songs.From these three elements, which are very stand out in the melody play that is dialogue between one waditra and another waditra. To prove it, all being analyzed with cultural theory. From this theory, it is reflected that the concept of Mang Koko's innovation, the work of his art through the organization, as well as the benefits for the community, can be felt until now. This is very important to discuss, because the innovation of the Salendro gamelan play, is a new creation rather than the traditional salendro gamelan play.
Melacak Perkembangan Wayang Kulit Bali Sebagai Pakeliran Inovatif Sudana, I Made
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1850

Abstract

ABSTRAKTulisan ini bermaksud untuk melacak perkembangan Wayang Kulit Bali dewasa ini. Melalui kreativitas seninya, para seniman muda Bali telah melakukaan inovasi-inovasi, terutama dalam hal teknik garap sebagai sebuah proses kreatif akibat dari penemuan baru di bidang teknologi. Penelitian yang brsifat kualitatif ini, menggunakan pendekatan multi disipin, yakni pendekan sejarah, fungsi, dan kreativitas. Wayang Kulit Bali, diperkirakan sudah ada sejak abad ke-IX. Jenisnya ada ada dua, yaitu Wayang Lemah dan Wayang Peteng. Pada dasarnya Wayang Peteng masih bisa diklasifikasikan lagi, atas lakon/cerita yang dipergunakan, bentuk wayangnya, dan gamelan pengiringnya. Fungsi Wayang Kulit Bali dapat dibedakan menjadi tiga yaitu: sebagai seni Wali, Bebali, dan Balih-balihan. Munculnya Wayang Kulit Bali dalam Pakeliran Inovatif merupakan perkembangan eksperimen yang paling mutakhir dalam Pewayangan Bali.                                                                                                                 ABSTRACTThis paper intends to trace the development of Balinese Wayang Kulit today. Through their artistic creativity, young Balinese artists have made innovations, especially in terms of working techniques as a creative process due to discoveries of technology. This qualitative research uses a multi-disciplinary approach, namely the approach of history, function, and creativity. Balinese Wayang Kulit is estimated to have existed since the IX century. There are two types, namely the Weak Puppet and the Peteng Puppet. Wayang Peteng can still be classified again, based on the play/story used, the form of the puppet, and the accompanying gamelan. The function of Balinese Wayang Kulit can be divided into three, namely: as Wali, Bebali, and Balih-balihan art. The emergence of Balinese Wayang Kulit in Innovative Pakeliran is the most recent experimental development in Balinese Puppetry. 
Therapy Melalui Seni Gamelan Sunda S.Kar., M.M., Suhendi Afryanto,
Paraguna Vol 7 No 1 (2020): DINAMIKA KHAZANAH KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v7i1.1851

Abstract

ABSTRAK Seni apapun bentuknya memiliki fungsi tersendiri, di samping sebagai sarana hiburan, sering jugadimanfaatkan sebagai sarana terapi. Sepeerti halnya dengan seni gamelan Sunda, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan melalui metode narative personal, dengan teknik wawancara terhadap 50 orang mahasiswa yang pernah belajar mempraktikkan gamelan (Sunda) dan 10 orang ahli gamelan (Sunda), diperolah suatu kesimpulan bahwa seni gamelan dapat dijadikan salah satunya sebagai sarana terapi.Melihat fenomena seperti itu, bukan suatu keniscayaan dalam banyak hal seni juga dapat dijadikan sebagai value education dalam membentuk karakteristik bagi para pelakunya. Dari penelitian yang dilakukan, sekurang-kurangnya dapat diketahui bahwa mengapa seni musik diciptakan, karena memang terkait dengan kebutuhan manusia. Sepanjang kehidupan ada, maka seni akan memberi warna tersendiri sebagai dinamika yang setiap saat terus berjalan.   ABSTRACAny form of art has its own function, apart from being a means of entertainment, it is also often used as a means of therapy. Likewise with Sundanese Gamelan Art, based on the results of research conducted through personal narrative methods, by interviewing 50 students who have learned to practice gamelan (Sundanese) and 10 gamelan experts (Sundanese), a conclusion is obtained that gamelan art can be used as one of them. as a means of therapy.Seeing such a phenomenon, it is not a necessity in many ways art can also be used as an educational value in shaping the characteristics of the actors. From the research conducted, at least it can be seen that why the art of music was created, because it is related to human needs. As long as life exists, art will give its own color as a dynamic that is constantly running. 
ASEP SUNANDAR SUNARYA: MENJADI DALANG WAYANG GOLEK YANG POPULER S.Sn., M.Sn., Masyuning
Paraguna Vol 4 No 1 (2017): TOKOH, HUKUM, DAN PENDIDIKAN KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v4i1.1857

Abstract

Not many people knew As~p Sunandar's journey whom became famous puppeteer in West Java. The topic about As~p Sunandar led me to research and write this paper. I began formulating the topic as sinden at As~p Sunandar's theater troupe. I know that I was doing ethnomusicology or fieldwork: by getting to know As~p Sunandar who make the new style of wayanggol~k performances, studying and performing the music itself, and talking to whoever had the patience to listen to me. The conclusion ofpaperwasAs~p Sunandarfocused on the innovative nature of the wayang gol~k performance. 
PENELUSURAN LIRIK ISLAMI LAGU KAWIH SUNDA 'KUDU KASAHA' KARYA WINARYA ARTADINATA Solihin, Asep
Paraguna Vol 2 No 1 (2015): FENOMENOLOGI KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jp.v2i1.1859

Abstract

'Kudu  Kasaha' is the song  title or rumpaka written by Winarya Artadinata. The theme  of the lyrics  conveys a mindset  based  on  religious  ideology, Islam. It's the result  of the resignation facing complaints, fluctuation and uncertainty  offaith. If it is listened deeply, the  lyrics  reminds the listeners to  submit   the  complaints  and  uncertainties of faith  in  God Almighty. Moreover,  the choice ofwords is composed in the  literary  mindset. The lyric of 'Kdu Kasaha', thus, isthe morals of religion and  art.

Page 9 of 15 | Total Record : 150