cover
Contact Name
Celine Amanda
Contact Email
sttaipublikasi@gmail.com
Phone
+6282230303043
Journal Mail Official
sttaipublikasi@gmail.com
Editorial Address
Nginden Intan Selatan No. 49, Surabaya
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen
ISSN : 28088735     EISSN : 28084454     DOI : 10.54592
Fokus dan ruang lingkup jurnal CHARISTHEO: Teologi Kristen Pendidikan Agama Kristen Kepemimpinan Kristen Etika Kristen Sosial dan Keagamaan Misiologi
Articles 133 Documents
Pemulihan Anak yang Mengalami Kekerasan dari Orang Tua Akibat Pandemi Covid-19 Asmat Purba; Lisna Novalia; Linda Zenita Simanjuntak
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v1i2.26

Abstract

The purpose of this article is to find the right way for parents not to abuse their children both verbally and physically. As a good parent, be a guide in truth and comfort in times when children are sad or find problems. Children are God's gift to be loved by parents. They need to be loved, valued as God's creation, and want to be raised with compassion rather than by violence. Children who have been harmed by parents should not be allowed but should be restored immediately. This article discusses the recovery of children who experience violence from parents due to the Covid-19 pandemic. This research is qualitative, looking for phenomenal information in the community through online newspapers to obtain data by reducing certain parts and sorting according to the purpose of the research. Parents should pay attention and affection to their children under any circumstances. To children who have violence problems, parents are asked to provide guidance in the form of special counseling such as inner healing and guide children out of fines, bitter roots and free them to tell the root of the problem at hand.ABSTRAKTujuan dari artikel ini untuk menemukan cara yang tepat bagi para orang tua agar tidak melakukan kekerasan terhadap anak-anak mereka baik secara verbal maupun fisik. Sebagai orangtua yang baik justeru menjadi pembimbing dalam kebenaran dan penghibur di saat anak-nak bersedih atau menemukan masalah. Anak-anak adalah titipan Tuhan untuk dikasihi oleh orang tua. Mereka membutuhkan dikasihi, dihargai sebagai ciptaan Allah, dan ingin dibesarkan dengan kasih sayang bukan dengan kekerasan. Anak yang sudah terlanjur dilukai oleh orang tua tidak boleh dibiarkan tetapi harus segera dipulihkan. Artikel ini membahas pemulihan anak yang mengalami kekerasan dari orang tua akibat pandemi Covid-19. Penelitian ini bersifat kualitatif, mencari informasi yang fenomenal di masyarakat melalui Koran online untuk memperoleh data dengan mereduksi bagian-bagian tertentu dan memilah yang sesuai tujuan penelitian. Orang tua harus memberi perhatian dan kasih sayang pada anak-anaknya dalam keadaan apapun. Kepada anak yang memiliki masalah kekerasan maka orang tua diminta memberikan bimbingan dalam bentuk konseling khusus seperti inner healing dan menuntun anak-anak keluar dari dengan, akar pahit serta membebaskan mereka untuk menceritakan akar masalah yang dihadapi. Kata kunci: pemulihan; anak, kekerasan; orang tua; pandemi covid-19; konseling krisis; luka batin. 
VIRTUALISASI TUHAN: Menyelak Ownership Tokoh Agama Elia Tambunan; Simon Simon
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 1 No. 2 (2022): Maret 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v1i2.29

Abstract

The boom of information, communication and technology is changing the landscape of religious performance, especially when the West falls into a workaholicism without losing spiritualism by not leaving work. Moreover, when the world is hit by the Covid-19 pandemic, that performance is increasingly finding momentum in the virtual space. Islamic and Christian leaders are required to exist in shepherding faith of their people. Using modern socio-religious studies, religious phenomena in the digital space are analyzed in this paper to nark the virtualization of religious actorship. The data is collected from an integration of literature and social media related to the teachings of Islamic and Christian religious figures. From there, it was found, because of the sophistication of digital technology, religion in the virtual industry is trapped as a content commodity that has succeeded in placing religious figures as central actors, but often away from the supervision and control of the audience. The virtualization of religion places the religious leader as filmmakers as well as the main actors in their sacred duties but also turns towards ownership in many ways. This is revealed from the theoretical framework, namely the spiritual market, which is used here.ABSTRAKDentuman teknologi mengubah lanskap performa agama, khususnya ketika dunia Barat gila kerja tanpa kehilangan spiritualisme dengan tidak meninggalkan pekerjaan. Banyak agamawan tidak siap, tetapi banyak juga yang merekayasa diri, terlebih ketika dunia dihantam pandemic Covid-19, performa tersebut semakin menemukan momentum di ruang virtual. Pemimpin Islam dan Kristen dituntut eksis untuk menggembalakan iman umat. Lewat studi sosial keagamaan modern, fenomena keagamaan di ruang digital dianalisis dalam tulisan ini untuk menyelak virtualisasi pemeranan tokoh agama. Data dikumpulkan dari perpaduan literatur dan media sosial terkait dengan ajaran tokoh agama Islam dan Kristen. Dari sana ditemukan, oleh karena kecanggihan teknologi digital, agama dalam industri virtual terperangkap sebagai komoditas konten yang berhasil menempatkan tokoh agama sebagai aktor sentral, namun sering luput dari kontrol audiens. Secara baru, virtualisasi agama menempatkan para tokoh agama menjadi sineas sekaligus pemeran utama dalam tugas-tugas kudus mereka namun juga berkelok ke arah kepemilikan dalam banyak hal. Hal itu terungkap dari kerangka teori, yaitu pasar rohani dalam studi sosial keagamaan, yang digunakan di sini. Kata kunci: Aktor Agama, Kepemilikan, Pasar Rohani, Virtualisasi Tuhan
Model Mengajarkan Cerita Alkitab Kepada Anak Sekolah Minggu Usia 6-9 Tahun Hani Rohayani
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.30

Abstract

 Loving God with all the existence is God's command. God wants this commandment continue for generation to generation. Parents have responsibility to teach their children to live loving God, living in obedience to the Word of God. In the context of church, Sunday School teachers are also responsible for teaching the Bible. But in carrying out this important task, they had difficulties because the Bible is written in conceptual and abstract form, while the children which according to Piaget's theory is in the preoperational and operational concrete stages is thinking very concrete. The purpose of this study was to bridge the gap between biblical teachings written in adult language and how children learn and understand information. The research method used is descriptive qualitative based on phenomenological. There is a phenomenon that children often difficult to understand the Bible, especially doctrinal themes. The results of the study present ways to teach the Bible to children by paying attention to children's cognitive development.AbstrakMengasihi Allah dengan segenap keberadaan hidup orang percaya merupakan perintah Allah. Allah menghendaki perintah ini terus dilakukan turun-temurun. Orang tua di rumah memiliki tanggung jawab untuk mengajar anak-anaknya hidup mengasihi Allah, hidup mentaati Firman Allah. Dalam konteks gereja para guru Sekolah Minggu (SM) yang bertanggung jawab mengajarkan Alkitab kepada anak-anak. Tetapi dalam melaksanakan tugas yang penting ini guru mengalami kesulitan karena pokok pengajaran Alkitab dicatat dalam bentuk konsep-konsep yang bersifat abstrak, sementara cara berpikir anak-anak yang menurut teori Piaget berada pada tahap praoperasional dan operasional konkret sangat bersifat konkret. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjembatani antara ajaran Alkitab yang dituliskan dengan bahasa orang dewasa dengan cara belajar dan kemampuan anak memahami suatu informasi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif berbasis fenomenologis. Terdapat fenomena bahwa anak-anak sering kali sulit memahami isi Alkitab, terutama tema-tema yang sifatnya doktrinal. Hasil penelitian menyajikan cara-cara mengajarkan Alkitab kepada anak-anak dengan memperhatikan perkembangan kognitif anak.  Kata Kunci : Metode mengajar; Sekolah Minggu; Proses belajar mengajar
Teologi Ziarah dalam Kumpulan Mazmur Ziarah: Makna dan Praksis bagi Orang Percaya Masa Kini David Eko Setiawan; Dwi Ratna
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i1.36

Abstract

In the book of Psalms there is a collection of pilgrimage psalms that are interesting to study, because they contain deep meanings and praxis that are still relevant today. The collection of pilgrimage psalms is not just ancient texts that have no link to the lives of today's believers, but in them are rich in meaning and praxis for them. This article aims to find the meaning and praxis of pilgrimage theology contained in the collection of Pilgrimage Psalms. The research problem in this article is what is the meaning and praxis of Pilgrimage Theology in the collection of Pilgrimage Psalms for today's believers? The methods used in this study are hermeneutics and literature methods. The results of this study are as follows, Pilgrimage Theology in the collection of Pilgrimage Psalms contains the meaning: First, the theological understanding of God. Second, an understanding of the city of Jerusalem. Third, an understanding of the inner attitude in worship. Fourth, the understanding of blessing, fifth, the understanding of prayer/singing. The praxis of Pilgrimage Theology are as follows; First, encourage respect for God as the source of all things for His People. Second, hold fast to God's promise like His faithfulness to Jerusalem. Third, convert today's believers from the wrong attitude in worship. Fourth, correct the wrong concept of the origin and nature of blessing. Fifth, practice prayer and thanksgiving properly. AbstrakDi dalam kitab Mazmur terdapat kumpulan mazmur ziarah yang menarik untuk ditelaah, karena mengandung makna yang dalam serta praksis yang masih relevan sampai masa kini. Kumpulan mazmur ziarah tersebut bukan sekedar teks-teks kuno yang tidak memiliki tautan dengan kehidupan orang percaya masa kini, malahan di dalamnya kaya dengan makna dan praksis bagi mereka. Artikel ini bertujuan untuk menemukan makna dan praksis dari Teologi Ziarah yang terdapat  dalam kumpulan Mazmur Ziarah. Masalah penelitian dalam artikel ini adalah apakah makna dan praksis Teologi Ziarah dalam kumpulan  Mazmur Ziarah bagi orang percaya masa kini? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode hermeneutika dan kepustakaan. Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut, Teologi Ziarah dalam kumpulan Mazmur Ziarah mengandung makna: Pertama,pemahaman teologis tentang TUHAN. Kedua, pemahaman tentang kota Yerusalem. Ketiga, pemahaman tentang sikap batin dalam beribadah. Keempat, pemahaman tentang berkat, Kelima, pemahaman tentang doa dan nyanyian syukur. Adapun praksis dari Teologi Ziarah adalah sebagai berikut; Pertama, dorong rasa hormat terhadap Allah sebagai sumber segala sesuatu bagi Umat-Nya. Kedua, memegang teguh janji Allah seperti kesetiaan-Nya terhadap Yerusalem. Ketiga, mempertobatkan orang percaya masa kini dari sikap yang salah di dalam ibadah. Keempat, mengoreksi konsep yang salah tentang asal dan hakikat berkat. Kelima, mempraktikkan doa dan nyanyian syukur dengan benar.Kata Kunci: Teologi Ziarah, Mazmur Ziarah, Makna. Praksis
Rekonstruksi Kristologi Logos Menjawab Tantangan Dekonstruksi Terma Logosentrisme dalam Tinjauan Biblika Yosep Belay
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i1.37

Abstract

The concept of logos in the Christian faith does not only refer to theological ideas but also touches on the issue of the Christian worldview which as a whole refers to Christ as its centrality. The concept is suspected of being a form of logocentrism (grand narrative) that forms polarization and negation of the external world. Through deconstruction readings, contemporary cultural critics criticize Christian logocentrism. The purpose of reading deconstruction is to change the general understanding, both in philosophy, science, and Christian theology strategies regarding logos with two critical approaches. First, criticizing semantics in terms of logos and second, criticizing the politics of the text through which ideology is constructed and has implications for socio-cultural subordination. This article analyzes and reconstructs logos theology and christology in an attempt to address the challenges of deconstruction. The method used by the writer is descriptive analysis and literature review. The results showed that the concept of Christian logos theology was different from Greek philosophy. In relation to the theory of deconstruction, the bivalence system which is the pattern of the semantic system of logos theology provides strict limits on the meaning system so that the assumptions of deconstruction criticism are irrelevant. Meanwhile, the logos christology approach in biblical studies provides answers to the issue of logocentrism in both theological, literary and Christian epistemological contexts. Abstrak Konsep logos dalam iman Kristen tidak hanya mengacu pada gagasan teologis namun juga menyinggung persoalan wawasan dunia Kristen yang secara keseluruan merujuk pada Kristus sebagai sentralitasnya. Konsep tersebut dicurigai sebagai bentuk logosentrisme (narasi besar) yang membentuk polarisasi dan negasi terhadap dunia eksternal. Melalui pembacaan dekonstruksi, kritikus budaya kontemporer mengkritisi logosentrisme Kristen. Tujuan pembacaan dekonstruksi untuk merombak pemahaman umum, baik dalam strategi filsafat, sains, maupun teologi Kristen mengenai logos dengan dua pendekatan kritis. Pertama, mengkritisi semantik pada terma logos dan kedua, mengkritisi politik teks yang melaluinya ideologi dikonstruksikan dan berimplikasi terhadap subordinasi sosial budaya. Artikel ini menganalisis dan merekonstruksi ulang teologi dan kristologi logos dalam usaha untuk menjawab tantangan dekonstruksi. Metode yang dugunakan penulis deskriptif analisis dan kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan konsep teologi logos Kristen berbeda dengan filsafat Yunani. Dalam kaitannya dengan teori dekonstruksi, sistem bivalensi yang menjadi pola sistem semantik teologi logos memberikan batasan tegas pada sistem makna sehingga asumsi kritik dekonstruksi tidak relevan. Sementara pendekatan kristologi logos dalam kajian biblika memberikan jawaban terhadap isu logosentrisme baik dalam konteks teologis, sastra maupun epistemologi Kristen. Kata Kunci: Kristologi. Logos, Logosentrisme, Dekonstruksi.
Intervensi Teologis Kristen sebagai Perspektif Toleransi Pluralisme Agama-Agama Viktor Deni Siregar; Mersi Yolandra Bohalima; Talizaro Tafonao; Yunardi Kristian Zega
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i1.38

Abstract

The purpose of writing this article is to provide knowledge about the role of Christian theological perspectives in the issue of religious pluralism through the attitude of tolerance as an initial foundation for mutual life in the utterance of the existing society and religion. Problems that occur in the plural of religion often Christian theological interventions such as allowing things that really should be able to contribute solutions to problems in the values of Christian theology are not given as a sense of tolerance, so that the word tolerance is only a known literacy without action (allowing ). The method used in this study is a descriptive qualitative method. The source used is a trusted book and journal article. The results found in this article are that Christian theology does not look at tolerance as ignorance, causing omission to other religions. The factors seen in the intervention of Christian theology as a perspective of religious pluralism tolerance include: intolerant, dogmatic, opportunist, and apathetic.Tujuan penulisan artikel ini ialah untuk memberikan kajian mengenai keterlibatan Teologis Kristen yang mampu menjadi jawaban dunia khususnya dalam permasalahan pluralisme agama melalui sikap toleransi sebagai landasan awal untuk saling hidup dalam kemajemukkan masyarakat dan agama yang ada. Permasalahan yang terjadi pada pluralitas agama kerap kali intervensi teologis Kristen seperti membiarkan hal yang memang seharusnya dapat memberikan sumbangsi solusi permasalah dalam nilai-nilai teologis kekristenan tidak diberikan sebagai rasa toleransi, sehingga kata toleransi tersebut hanya menjadi literasi yang diketahui tanpa adanya aksi (membiarkan). Metode yang digunakan dalam kajian ini ialah metode kualitatif deskriptif. Sumber yang digunakan ialah buku, artikel jurnal, studi kasus, dan tinjauan teologis mengenai kajian yang dilakukan. Adapun hasil yang ditemukan dalam kajian artikel ini ialah teologis Kristen saat ini masih memandang toleransi sebagai suatu hal yang kurang memberikan kepedulian, menimbulkan pembiaran terhadap agama lain. Faktor yang dilihat dalam intervensi teologis Kristen sebagai perspektif toleransi pluralisme agama, antara lain: intoleran, dogmatik, oportunis, dan apatis.Kata kunci: intervensi; perspektif; pluralisme agama; toleransi; teologi Kristen
Batsyeba: Korban Atau Penggoda? Mengkaji Posisi Batsyeba di dalam 2 Samuel 11 Murni Hermawaty Sitanggang
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i1.40

Abstract

The relationship recorded in 2 Samuel 11 between David and Bathsheba has been interpreted differently by scholars and clergies. Some see it as a love story or a story of infidelity or adultery, but some view it as David’s crime of taking his subordinate’s wife by force. The author reviewed Bathsheba’s position in this article, whether as a tempter or victim, by exposing 2 Samuel 11. The research method used qualitative with a descriptive analysis approach. The author revealed the story by exegeses and analyzed the story presented in it. From the research results, the writer believes that Bathsheba is not a tempter but a victim of David’s power manipulation. We need to be careful with this story since failing to see Bathsheba’s story as sexual manipulation case would make us blind to sin dissemination that lurks in believers’ life. Likes coercion or raping, subtly intimidating like what happens in this story is a sex crime. Thus, we need to be wary not to entrap in a trite concept that places a woman from a victim to a perpetrator.AbstrakRelasi yang tercatat di dalam 2 Samuel 11 antara Daud dan Batsyeba telah ditafsirkan dengan istilah yang berbeda oleh para ahli dan rohaniwan. Ada yang menganggapnya sebagai kisah cinta atau kisah perselingkuhan atau perzinahan, tetapi ada pula yang memandangnya sebagai kisah kejahatan Daud, yang mengambil istri orang secara paksa. Melalui artikel ini penulis meninjau posisi Batsyeba, apakah sebagai penggoda atau sebagai korban dengan mengeksposisi 2 Samuel 11. Metode penelitian adalah kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif analisis. Penulis mengeksposisi kisah tersebut dengan mengeksegesis dan menganalisis kisah yang tersaji di dalamnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan penulis meyakini Batsyeba bukanlah penggoda melainkan korban manipulasi kekuasaan Daud. Kita perlu berhati-hati menyikapi kisah ini sebab kegagalan melihat kisah Batsyeba sebagai kisah penyalahgunaan seksual akan membuat kita buta terhadap penyebarluasan dosa seksual yang mengintai umat Tuhan. Selain pemaksaan atau pemerkosaan, intimidasi secara halus seperti yang dialami Batsyeba juga merupakan kejahatan seks. Oleh sebab itu, jangan sampai kita terjebak dalam pemahaman tipikal yang mendudukkan wanita dari korban menjadi pelaku. Kata-Kata Kunci: 2 Samuel 11, Daud, Batsyeba, penggoda, korban, perselingkuhan, pemerkosaan
Pentingnya Doa bagi setiap Orang Kristen Berdasarkan ST. Aphrahat Boyman Aspirasi Zebua
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 1 (2022): September 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i1.67

Abstract

This article discusses the nature and meaning of prayer offered by St. Aphrahat. The meaning that will be carried out by humans often does not have a meeting point between human desires and God's will. Humans actually interpret prayer as a tool that is only used for a short time with a short desire as well. This means that prayer can be carried out according to when humans want to pray and what is the situation of the human being who is praying at that time. On the other hand St. Aphrahat looks at prayer from a more spiritual perspective. Aphrahat considers that a prayer must be based on how the human experiences the knowledge of the person of God so that they can understand how God's will can be expressed in human life. So this study aims to discuss the importance of prayer for everyone who is not based on St. Aphrahat. The research method used in writing this article is the library method. The results of this study explain that prayer plays an important role in making the journey and journey of human life so that these people get safe and prosperous in God. St. Aphrahat said when humans pray, the prayer that is said must come from a pure heart and offer it completely to God. praying like this is praying according to God will. Artikel ini membahas bagaimana hakikat dan pemaknaan doa yang ditawarkan oleh St. Aphrahat. Pemaknaan akan doa oleh manusia seringkali tidak memiliki titik temu antara keinginan manusia dan kehendak Allah. Manusia justru memaknai doa sebagai alat yang hanya digunakan dalam waktu singkat dengan keinginan yang singkat pula. Artinya doa dapat terlaksana sesuai dengan kapan manusia tersebut ingin berdoa dan bagaimana situasi manusia tersebut yang mengharuskan dia memanjatkan doa pada saat itu. Di lain sisi St. Aphrahat melihat doa dari sudut spiritual secara lebih mendalam. Aphrahat menilai bahwa sebuah doa harus berdasarkan bagaimana manusia tersebut mengalami pengenalan akan pribadi Allah sehingga dapat mengerti bagaimana kehendak Allah dapat dinyatakan dalam kehidupan manusia tersebut. Sehingga penelitian ini bertujuan membahas tentang pentingnya doa bagi setiap orang Kristen yang didasari dari St. Aphrahat. Metode penelitian yang digunakan dalam menulis artikel ini adalah metode literatur. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa doa memegang peranan penting untuk kelangsungan dan perjalanan hidup manusia agar orang tersebut memperoleh selamat dan sejahtera di dalam Tuhan. St. Aphrahat mengatakan ketika manusia berdoa, doa yang dipanjatkan itu mesti berasal dari hati yang murni dan dipersembahkan sepenuhnya bagi Tuhan. Berdoa seperti ini yang dinamakan berdoa sesuai dengan kehendak Allah. Kata kunci: Doa; St. Aphrahat; Manusia; Allah; Berdoa.
Eskatologis Matius Dalam Perspektif Nubuatan Hosea Timotius Timotius; Marthin Steven Lumingkewas
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.77

Abstract

This study aims to straighten out the accusation that Matthew as the author of the Gospel of Matthew has misinterpreted Hosea 11:1 which is quoted by him in Matthew 2:15. There are scholars accusing Matthew of misinterpreting Hosea 11:1 when saying Matthew 2:15 is the fulfillment of what was prophesied by the prophet Hosea, because Hosea 11:1 is actually a historical reflection not prophecy. On the other hand, other scholars say that Matthew did not misinterpret Hosea 11:1, because this is the way the New Testament writers used the Old Testament. Where they can direct to Christ. In this study, the author uses the literature research method as a reference in describing the problems studied. The final result of this study, the author will show that Matthew did not misinterpret Hosea 11:1, because Matthew wrote this Gospel under the inspiration of the Holy Spirit, the Exodus is indeed Messianic Eschatology, and Matthew uses the Correspondence Analogy method when interpreting Hosea 11:1 so that Matthew 2:5 is a fulfillment of the prophecy of the prophet Hosea. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan meluruskan tuduhan bahwa Matius sebagai penulis Injil Matius telah salah menafsirkan Hosea 11:1 yang dikutip olehnya dalam Matius 2:15. Ada sarjana menuduh Matius telah salah menafsirkan Hosea 11:1 pada saat mengatakan Matius 2:15 merupakan penggenapan dari apa yang dinubuatkan oleh nabi Hosea, karena sebenarnya Hosea 11:1 merupakan sebuah refleksi sejarah bukan nubuatan. Sebaliknya sarjana lain mengatakan bahwa Matius tidak salah menafsirkan Hosea 11:1, karena ini merupakan cara penulis Perjanjian Baru dalam menggunakan Perjanjian Lama. Di  mana mereka bisa langsung mengarahkan kepada Kristus. Dalam penelitian ini, penulis memakai metode penelitian literatur sebagai acuan dalam mendeskripsikan masalah yang  dikaji.  Hasil akhir dari penelitian ini, penulis menunjukkan bahwa Matius tidak salah menafsirkan Hosea 11:1, dikarenakan Matius menulis Injil ini dibawah inspirasi dari Roh Kudus. Peristiwa Keluaran memang bersifat Eskatologi Mesianik, dan Matius memakai metode Analogi korespondensi pada saat menafsirkan Hosea 11:1, sehingga Matius 2:5 merupakan penggenapan dari nubuat nabi Hosea. Kata Kunci: Matius; Hosea; Penggenapan; Penafsiran; Yesus. 
Tindakan Pendidikan Agama Kristen Dalam Menyikapi Ritual Mengambil Semangat (Roh) Pada Masyarakat Dayak Taba Daen Rebecca; Firman Panjaitan
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol. 2 No. 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.105

Abstract

One of the church's struggles when dealing directly with the community is the culture adopted and which dominates people's lives. Likewise with the church dealing with the Taba Dayak community, where the community still believes in a ritual called taking back the spirit that has been taken away by the Sisil ghost. In this ritual, a form of atonement is made between humans, who are deemed guilty, and the Sisil Ghost by giving offerings. This is a challenge for the church to give awareness to the Taba Dayak community about God's power over life. With the help of a qualitative methodology, particularly through a literature study approach, this article wishes to describe the steps of Christian Religious Education, which is the duty of the church, to give awareness to the Taba Dayak community about the existence of God which overcomes all their beliefs about gods. The results of the study show that Christian Religious Education plays a major role in bringing awareness to the Taba Dayak community that it is God who must be the main guide in facing every suffering and problem in this world. ABSTRAKSalah satu pergumulan gereja ketika berhadapan langsung dengan masyarakat adalah budaya yang dianut dan yang menguasai kehidupan masyarakat. Demikian juga dengan gereja yang berhadapan dengan masyarakat Dayak Taba, di mana masyarakat masih mempercayai sebuah ritual yang disebut mengambil kembali semangat/roh yang sudah dirampas oleh Hantu Sisil. Dalam ritual itu dilakukan bentuk pendamaian antara manusia, yang dipandang bersalah, dengan Hantu Sisil melalui pemberian sesaji. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi gereja untuk memberi kesadaran kepada masyarakat Dayak Taba mengenai keberkuasaan Tuhan terhadap kehidupan. Dengan dibantu oleh metodologi kualitatif, khususnya melalui pendekatan studi pustaka, artikel ini hendak menjabarkan langkah-langkah Pendidikan Agama Kristen, yang menjadi tugas dari gereja, untuk memberi kesadaran kepada masyarakat Dayak Taba tentang keberadaan Tuhan yang mengatasi segala kepercayaan mereka tentang dewa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen berperan besar untuk membawa kesadaran bagi masyarakat Dayak Taba bahwa Tuhanlah yang harus menjadi pegangan utama dalam menghadapi setiap penderitaan dan permasalahan di dunia ini. Kata Kunci: Masyarakat Dayak Taba; Hantu Sisil; Pendidikan Agama Kristen, Gereja 

Page 9 of 14 | Total Record : 133