cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 32 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017" : 32 Documents clear
SIFAT-SIFAT MARSHALL PADA LAPIS TIPIS CAMPURAN ASPAL PANAS DENGAN PENGGUNAAN RETONA BLEND 55 Imadudin Edwin; Ary Setiawan; Noegroho Djarwanti
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36928

Abstract

Lapis tipis campuran aspal panas (Thin Surfacing Hot Mix Asphalt) merupakan salah satu alternatif yang dapat mengantisipasi masalah ketebalan perkerasan jalan, salah satu teknologi yang sedang dikembangkan sebagai usaha ramah lingkungan untuk perkerasan jalan, namun penggunaan lapis tipis aspal dianggap masih belum maksimal dengan beberapa kelemahan yang masih terdapat pada lapisan ini. Penggunaan lapis tipis aspal, daya lekat aspal yang semakin sedikit juga harus dipertimbangkan. Salah satu cara untuk memperbaiki kualitas aspal adalah dengan menggunakan bahan modifikasi yang telah tersedia di pasaran. Suatu bahan baru yang tersedia di pasaran adalah Retona. Retona (Refined Buton Asphalt) merupakan hasil produksi ekstraksi aspal alam dari Pulau Buton (Indonesia) yang kemudian dikembangkan melalui proses penyulingan dan ekstraksi. Aspal retona blend 55 merupakan inovasi terbaru yang telah dikembangkan oleh PT. Olah Bumi Mandiri. Jadi perlu adakan penelitian tentang berapa kadar aspal optimum lapis tipis aspal panas dan sifat karakteristik aspal dengan menggunakan retona blend 55 dan aspal penetrasi 60/70 optimum pada campuran aspal dengan metode Marshall. Dengan metode eksperimental menggunakan metode Marshall dapat ditentukan nilai stabilitas, kelelahan plastis (flow), berat volume (density), persen rongga, Marshall Quotient (MQ) pada campuran lapis tipis dengan retona blend 55 dan aspal penetrasi 60/70, selanjutnya dapat digunakan untuk menentukan kadar aspal optimum, serta mengetahui sifat karakteristik marshall. Hasil test Marshall dari lapis tipis campuran aspal panas didapatkan kadar retona optimum sebesar 5,87%, dengan menggunakan gradasi yang sama didapatkan kadar aspal optimum aspal penetrasi 60/70 sebesar 5,80%. Pada uji ITSM campuran aspal retona blend 55 mendapatkan nilai resilient modulus sebesar 6330,3333 Mpa pada suhu 200C dan 1106,000 Mpa pada suhu 400C, sedangkan campuran aspal Penetrasi 60/70 mendapatkan nilai resilient modulus sebesar 5431,3333 Mpa pada suhu 200C dan 504,6667 Mpa pada suhu 400C.
KAJIAN VARIABEL PEMILIHAN RUTE BERDASARKAN PENGGUNA JALAN DENGAN TEKNIK STATED PREFERENCE (Studi Kasus Ruas Jalan Ring Road Utara Kota Surakarta) Jessy Tidar Haryamurti; Amirotul MH Mahmudah; Dewi Handayani
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36927

Abstract

Variabel pengguna jalan dalam memilih rute merupakan salah satu faktor yang perlu dipertimbangkan didalam pengembangan sistem jaringan jalan. Dalam menentukan rute setiap pengguna jalan selalu memiliki berbagai alasan dalam memilih rute terbaiknya. Alasan tersebut yang menjadi dasar pertimbangan dalam memilih rute. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variabel - variabel yang mempengaruhi pengguna jalan dalam memilih rute dan mengukur persepsi individu dalam memilih rute. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitis. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terhadap pengguna jalan dan penyusunan formulir wawancara menggunakan teknik stated preference. Analisis utilitas dilakukan dengan regresi linier berganda dengan pemilihan rute sebagai variabel terikat dan waktu perjalanan, keramaian jalan, kenyamanan jalan, persepsi tepi jalan, adanya informasi waktu perjalanan sebagai variabel bebas. Perhitungan dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0. Besarnya masing - masing variabel pemilihan rute dapat dilihat pada persamaan berikut : Urr = 1,882 - 0,028 TT + 0,092 RC + 0,106 CR + 0,085 RP + 0,037 TI. Dimana Urr adalah utilitas ring road, TT adalah waktu perjalanan, RC adalah kenyamanan jalan, CR adalah keramaian jalan, RP adalah persepsi tepi jalan, dan TI adalah informasi waktu perjalanan. Hasil analisis dari utilitas untuk semua jenis kendaraan dan semua variabel yang telah dihitung diketahui bahwa variabel yang mempengaruhi pengguna jalan dalam memilih rute adalah : 1) Keramaian jalan, 2) Kenyamanan jalan, 3) Persepsi tepi jalan, 4) Keberadaan informasi waktu perjalanan, 5) Waktu perjalanan.
Analisis Perbandingan Efisiensi Penggunaan Hollow Core Slab (HCS) Dibandingkan Dengan Pelat Konvensonal In Situ Pada Proyek Pembangunan Gudang Ciwastra Bandung Fakhri Firdaus; Senot Sangadji; Widi Hartono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36920

Abstract

Penggunaan produk beton precast sebagai pelat lantai, relatif sudah banyak dijumpai di sekitar kita, dengan digunakan precast maka pemakaian bekisting dan perancah akan berkurang drastis bahkan dapat dihilangkan sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan. Salah satu produk precast untuk lantai adalah hollow coreslab (HCS). Tujuan dari skripsi ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan pengaruh antara penggunaan pelat konvensional cast in situ dengan pelat pracetak Hollow Core Slab (HCS) terhadap sistem struktur, waktu pelaksanaan, dan kebutuhan anggaran biaya pada proyek pembangunan ruko dan gudang dua lantai di daerah Ciwastra Bandung. Adapun pelat konvensional didesain dengan ukuran, mutu beton, dan pembebanan yang sama dengan pelat pracetak. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan dengan system Hollow Core Slab lebih efisien karena dapat mereduksi kebutuhan balok sebesar 11% dan volume pondasi sebesar 29,1%, selain itu biaya konstruksi dengan metode konvensional membutuhkan biaya lebih besar yaitu Rp. 1.246.320.727 sedangkan HCS hanya membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.135.716.752 sehingga lebih efisien sebesar 9%, Hal ini dikarenakan biaya upah pengerjaan HCS lebih murah yaitu sebesar Rp.2.460.520lebih efisien sebesar 74%, dibandingkan dengan pelat konvensional yang menghabiskan Rp.11.912.469, selain itu juga waktu pengerjaanya lebih hemat 12 hari dibandingkan pelat konvensional.
KONSEP KRITERIA PENILAIAN FUNGSI DAN KONDISI SUNGAI BERDASARKAN KEADAAN ALUR SUNGAI (STUDI KASUS SUNGAI PEPE SURAKARTA) Agus Hari Wahyudi; Mamok Suprapto; Amri Irsyad Addina
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36897

Abstract

Sungai merupakan salah satu sumber air yang memiliki peranan yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Pembangunan struktur sungai dilakukan untuk memaksimalkan pemanfaatan air sungai. Kurang terawatnya sungai serta infrastruktur dapat menurunkan fungsi dan kondisi sungai dan dapat menjadi bencana. Saat ini sudah terdapat surat edaran untuk penilaian kinerja bangunan sungai, namun surat edaran tersebut belum dijadikan standar penilaian untuk umum. Sehingga, penelitian ini menjadi tindakan lebih lanjut sebagai bentuk penerapan surat edaran tersebut. Penelitian dilakukan di Sungai Pepe, Kota Surakarta. Tahapan penelitian ini antara lain (1) Menentukan komponen-komponen sungai sebagai pengendali banjir. (2) Menyusun indikator komponen sungai. (3) Menyusun kriteria komponen sungai berdasarkan fungsi dan kondisi fisiknya. (4) Membuat teknik penilaian fungsi dan kondisi. (5) Menghitung distribusi bobot antar komponen sungai. (6) Menerapkan konsep penilaian pada Sungai Pepe. Komponen penyusun sungai berdasarkan hasil penelitian terdiri dari bangunan konservasi, bangunan pengendalian daya rusak air dan bangunan pendayagunaan. Hasil distribusi bobot yang dihitung dengan metode Analytic Hierarchy Process untuk tiap komponen adalah 15.6% untuk bangunan konservasi, 65,9% untuk bangunan pengendalian daya rusak air, 18,5% untuk bangunan pendayagunaan. Konsep kemudian diterapkan pada Sungai Pepe, dan menghasilkan nilai keseluruhan 78,76% yang termasuk kategori BAIK, dengan nilai fungsi dan kondisi untuk bangunan konservasi 49,55% termasuk kategori BAIK, bangunan pengendalian daya rusak air 88,17% dengan kategori BAIK, bangunan pendayagunaan 54,27% dengan kategori baik.
PEMETAAN ZONA KERENTANAN PADA LERENG SUSCEPTIBILITY LANDSLIDES ZONE MAPPING ON THE SLOPES Asri Pangesthi Nugrahanti Putri; Raden Harya Dananjaya; Niken Silmi Surjandari
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36906

Abstract

Tanah longsor atau gerakan massa tanah merupakan salah satu bencana alam yang sering melanda daerah perbukitan. Penelitian ini melakukan analisis terhadap lereng yang berada di Jl. Cijeungjing - Situraja lama Kabupaten Sumedang. Analisis ini untuk mengetahui hasil pemetaan longsor berdasar lebar klaster, pengaruh lebar klaster peta safety factor (SF) dan lapisan tanah pada analisis SF. Metode Morgenstern-Price untuk perhitungan nilai SF dengan bantuan software Geoteknik dan software Geographic Information System (GIS). Data untuk analisis ini berupa data parameter tanah hasil tespit, borlog dan data kontur tanah sebelum pembangunan bendung. Hasil akhir yang didapat dari analisis tersebut adalah peta elevasi berdasarkan lapisan tanah, sudut kemiringan lereng, dan peta SF bedasarkan lebar klaster. Peta lokasi penelitian didominasi dengan daerah lereng stabil. Perbedaan analisis pada klaster dengan lebar 15 dan 30 meter mempengaruhi ketelitian penyajian peta dan analisis perhitungan. Kondisi lereng dengan tanah yang berlapis lapis menghasilkan lereng dengan perbedaan nilai parameter lapisan tanah. Kedalaman lapisan tanah yang bervariasi menyebabkan letak pertemuan antar lapisan tanah yang beragam dan akan menghasilkan perbedaan nilai SF.
ANALISIS KUAT LEKAT TULANGAN BAMBU ORI BERTAKIKAN TIPE "U"JARAK TAKIKAN 10 CM TERHADAP TULANGAN BAJA Yudha Krakata; Agus Setiya Budi; Slamet Prayitno
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36926

Abstract

Penelitian kuat lekat tulangan bambu Ori bertakikan tipe "U" dengan jarak takikan 10 cm terhadap tulangan baja bertujuan untuk mendapatkan nilai kuat lekat tulangan bambu sebagai bahan alternatif pengganti tulangan baja pada beton normal. Metode dalam penelitian ini adalah metode eksperimental laboratorium. Benda uji berupa silinder diameter 15 cm dan tinggi 30 cm. Di bagian tengah benda uji ditanam tulangan dengan panjang penanaman 25 cm. Tulangan berupa baja dan bambu Ori. Tulangan bambu yang digunakan ada 4 variasi, yaitu bambu Ori bertakikan sejajar tipe"U" 1 cm dan 2 cm dengan jarak takikan 10 cm dan bambu Ori bertakikan tidak sejajar tipe"U" 1 cm dan 2 cm dengan jarak takikan 10 cm . Kemudian dibandingkan hasilnya dengan tulangan baja polos diameter 8 mm. Dari hasil pengujian, diperoleh nilai kuat lekat rata-rata tulangan baja polos adalah 0,548 MPa. Kuat lekat rerata tulangan bambu Ori bertakikan 1 cm dan 2 cm sejajar dengan jarak 10 cm berturut-turut adalah 0,055 MPa dan 0,083 MPa. Kuat lekat rerata tulangan bambu Ori bertakikan 1 cm dan 2 cm tidak sejajar dengan jarak 10 cm berturut-turut adalah 0,166 MPa dan 0,050 MPa.Perbandingan nilai kuat lekat rata-rata terbesar tulangan bambu Ori bertakikan sebesar 0,303 kali lebih kecil terhadap tulangan baja polos diameter 8 mm.
STUDI KINERJA DAN PERSEPSI PENUMPANG TERHADAP PELAYANAN MINIBUS PO. DADI AGUNG (Studi Kasus Minibus Rute Terminal Klaten-Wedi-Bayat-Cawas) Agri Alan Pratama; Dewi Handayani; Amirotul M.H Mahmudah
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36902

Abstract

Angkutan umum di pedesaan mulai berkurang peminatnya yang berakibat pada minimnya penghasilan pengusaha angkutan umum sehingga dapat memperburuk kinerja angkutan yang sudah ada. Pada rute Terminal Klaten-Wedi-Bayat-Cawas terdapat angkutan jenis minibus PO.Dadi Agung dengan kapasitas 26 tempat duduk yang masih beroperasi dan memiliki ijin resmi trayek dari Dinas Perhubungan Kabupaten Klaten. Meskipun angkutan ini memiliki nilai load factor yang relatif kecil, tetapi keberadaannya masih tetap bertahan, hal ini berarti bahwa angkutan ini masih dibutuhkan oleh masyarakat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nilai kinerja angkutan tersebut dan membandingkannya dengan persepsi penumpang. Penelitian dilakukan terhadap angkutan pedesaan minibus PO. Dadi Agung kapasitas 26 tempat duduk pada rute Terminal Klaten-Wedi-Bayat-Cawas. Pengukuran kinerjadilakukan dengan metode survai langsung di lapangan. Parameter pengukuran kinerja adalah terhadap load factor, headway, waktu tunggu penumpaang, kecepatan perjalanan, dan waktu perjalanan. Pengukuran persepsi terhadap pengguna dilakukan dengan metode kuisioner dengan skala Lickert. Survai dilakukan pada hari libur dan hari kerja. Hasil penelitian didapatkan load factor = 21.12% , headway = 52.04 menit, waktu tunggu penumpang = 26.21 menit , waktu perjalanan = 55.37 menit, kecepatan perjalanan per segmen = 27.37 km/jam dan kecepatan perjalanan = 27.64 km/jam. Persepsi pengguna terhadap kinerja diperoleh: Ketersediaan tempat duduk baik (nilai 3.67), waktu tunggu penumpang baik (nilai 3.6), lama perjalanan baik (nilai 3.53), kecepatan perjalanan baik (nilai 3.6). pengukuran nilai persepsi menggunakan skala Lickert.
STUDI KARAKTERISTIK CAMPURAN ASPHALT CONCRETE WEARING COURSE DENGAN ASBUTON EMULSI SEBAGAI BAHAN PENGIKAT Djoko Sarwono; Florentina Pungky Pramesti; Fikri Muhammad Nugroho
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36916

Abstract

Pada era globalisasi ini perkembangan inovasi material perkerasan jalan semakin maju, salah satunya adalah perkembangan Asbuton emulsi. Asbuton emulsi diperoleh dari hasil pencampuran 2 fase yakni fase padat dan fase cair. Dimana fase padat adalah pencampuran antara Asbuton Butir dengan bahan peremaja, sementara fase cair didapat dari pencampuran air, texapon, dan emulgator. Untuk mendapatkan campuran dengan karakteristik (Marshall Test) yang lebih baik diperlukan modifikasi komposisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik Marshall dari campuran aspal beton menggunakan bahan pengikat Asbuton emulsi Penelitian terdiri atas pengujian aspal dan pengujian terhadap campuran (Marshall Test). Setelah didapatkan kadar dari masing-masing Asbuton emulsi, kemudian Asbuton emulsi dicampur dengan agregat untuk dijadikan campuran hangat Asphalt Concrete Wearing Course. Setelah dilakukan uji volumetrik dari benda uji, dilakukan pengujian Marshall. Hasil dari analisis Marshall didapatkan kadar aspal optimum. Pada proses pencampuran benda uji di lab diketahui bahwa pencampuran awal menggunakan metode campuran dingin. Setelah dilakukan percobaan hasil campuran yang didapatkan memiliki waktu setting yang lama. Oleh karena itu metode pencampuran diubah menjadi metode campuran hangat. Pada metode campuran hangat didapatkan campuran dengan waktu setting lebih singkat. Dari pengujian didapatkan nilai karakteristik Marshall campuran hangat Asphalt Concrete Wearing Course dengan pengikat Asbuton emulsi,berada pada kadar optimum 3,5% dengan nilai yang didapat sebagai berikut: nilai stabilitas campuran sebesar 357,021 kg, nilai kepadatan sebesar 2,39 gram/cc, nilai VIM sebesar 4,716 %, nilai flow sebesar 3,23 mm, dan nilai Marshall Quotient sebesar 110,84 kg/mm.
KAJIAN PENGARUH VARIASI KOMPOSISI SILICA FUME TERHADAP PARAMETER BETON MEMADAT MANDIRI DENGAN KUAT TEKAN BETON MUTU TINGGI Sherli Pramudhita Hapsari; Wibowo Wibowo; Endah Safitri
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36924

Abstract

Beton mutu tinggi yang mampu memadat mandiri (high strength self compacting concrete-HSSCC) merupakan salah satu inovasi beton yang dapat diaplikasikan pada banyak pekerjaan konstruksi. Penambahan silica fume yang memiliki butiran lebih halus jika dibandingkan dengan semen bertujuan untuk meningkatkan kuat tekan, sedangkan superplasticizer jenis Viscocrete 1003 digunakan untuk memberikan workabilitas yang baik pada beton. Nilai w/b pada penelitian kali ini dijaga konstan sebesar 0,27, kadar superplasticizer adalah 1,7%, dan variasi kadar silica fume sebesar 0%, 8%, 9%, 10% dan 11%. Pengujian beton segar dilakukan dengan 3 metode, yaitu flow table test, l-box test, dan v-funnel test. Dari hasil pengujian tersebut, silica fume dengan kadar 8% memberikan hasil terbaik yang mana memenuhi seluruh persyaratan dari masing-masing metode. Semakin tinggi kadar silica fume maka workabilitas beton semakin berkurang. Hal ini terjadi karena sifat silica fume yang menyerap air. Pengujian beton keras dilakukan pada umur 14 hari dan 28 hari. Hasil kuat tekan terbaik didapatkan pada kadar silica fume sebesar 9% dengan kekuatan 76,02 MPa. Sementara itu dari hasil analisis data menunjukkan bahwa kuat tekan optimum terjadi pada kadar silica fume sebesar 9,34%.
POTENSI BANJIR BERDASARKAN PERIODE ULANG 5 TAHUNAN DI DAS WURYANTORO Nuansah Fidiawan; Raden Roro Rintis Hadiani; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36896

Abstract

Banjir merupakan fenomena alam yang terjadi setiap tahun di berbagai wilayah di Indonesia. Meluapnya aliran sungai yang mengakibatkan terjadinya banjir tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya intensitas curah hujan dan lamanya durasi hujan yang terjadi di kawasan tersebut. Data BNPB tahun 1995-2015 menunjukkan daerah yang sering mengalami banjir adalah Propinsi Jawa tengah. Berdasarkan penelitian Prema Mulyani tahun 2013, DAS Wuryantoro yang terletak di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah berpotensi terjadi banjir periode ulang 5 tahunan (Q5) yang diakibatkan oleh hujan 2 harian. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pada bulan apa terjadi banjir yang meleihi Q5, (2) mengetahui pada tahun berapa terjadi banjir yang melebihi Q5, (3) mengetahui prediksi pada bulan apa terjadi banjir yang melebihi Q5 dari tahun 2015-2018, (4) mengetahui prediksi tahun berapa terjadi banjir yang melebihi Q5 dari tahun 2015-2018, (5) Mengetahui cara pengaplikasian system informasi geografis yang diterapkan pada DAS Wuryantoro untuk mengetahui kawasan berpotensi banjir. Perhitungan debit banjir menggunakan metode Hidrograf Satuan Sintetik Soil Conservation Service (SCS). Simulasi prediksi banjir dilakukan dengan metode Jaringan Syaraf Tiruan (JST) Backpropagation menggunakan software Matlab. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi banjir yang melebihi Q5 terjadi pada tahun 2003, 2004, 2006, 2007, 2009, 2010, 2012 dan 2013 dengan debit masing-masing sebesar 325,248 m3/detik, 324,558 m3/detik, 412,322 m3/detik, 471,225 m3/detik, 422,566 m3/detik, 343,175 m3/detik, 514,735 m3/detik dan 414,865 m3/detik. Debit bulanan yang berpotensi banjir melebihi Q5 terjadi pada bulan Januari, Februari, Maret, April, November dan Desember dengan debit masing-masing sebesar 553,175 m3/detik, 478,859 m3/detik, 349,537 m3/detik, 323,334 m3/detik, 333,637 m3/detik, 506,416 m3/detik. Hasil prediksi menunjukkan bahwa potensi banjir yang melebihi Q5 terjadi pada tahun 2015 dan tahun 2017 dengan debit masing-masing sebesar 415,719 m3/detik dan 372,423 m3/detik. Prediksi debit bulanan yang berpotensi banjir melebihi Q5 terjadi pada bulan Januari, Februari, April, Mei, November dan Desember dengan debit masing-masing sebesar 540,209 m3/detik, 523,220 m3/detik, 386,191 m3/detik, 368,809 m3/detik, 397,626 m3/detik, 603,010 m3/detik.

Page 3 of 4 | Total Record : 32