cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
HUBUNGAN PENGGUNAAN RUANG PARKIR SEPEDA MOTOR DENGAN PENGGUNAN WAKTU MAHASISWA DI KAMPUS (Studi Kasus : Fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS) Galandika, Fafip; Handayani, Dewi; Mahmudah, Amirotul M.H
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.228 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i1.37120

Abstract

Penggunaan sepeda motor oleh mahasiswa di Universitas Sebelas Maret berpengaruh pada kebutuhan parkir di kampus. Selama berkegiatan di kampus, mahasiswa memarkir sepeda motor pada fasilitas parkir kampus, maka ingin diketahui hubungan alokasi kegiatan mahasiswa di kampus dan kebutuhan ruang parkir, dengan studi kasus di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS. Metode yang digunakan adalah metode analisis regresi, sehingga didapatkan model persamaan regresi yang memenuhi persyaratan untuk menghitung kebutuhan ruang parkir, yaitu Y = 4,465 - 0,007 X1 - 0,007 X2 - 0,007 X3 - 0,006 X4 - 0,009 X5, dengan R² = 0,873. Adapun Y adalah Nilai penggunaan satu ruang parkir selama jam aktif berperan sebagai variabel terikat, X1 adalah durasi kegiatan kuliah, X2 adalah kegiatan selama jeda antar jam kuliah, X3 adalah durasi kegiatan organisasi, X4 adalah durasi mengerjakan tugas di kampus, dan X5 durasi kegiatan selain yang tersebut sebelumnya dimasukan sebagai durasi kegiatan lain-lain. Persamaan tersebut dapat digunakan juga untuk membandingkan nilai slot yang dibutuhkan jika memperhitungkan nilai jeda antar jam perkuliahan dan tanpa nilai jeda antar jam perkuliahan. Hasil perbandingan tersebut menunjukkan selisih jumlah kebutuhan ruang parkir sebesar 6,27%, sehingga direkomendasikan untuk mengurangi durasi jeda antar jam perkuliahan.
NILAI KUAT TEKAN, KUAT TARIK BELAH, DAN KUAT LENTUR PADA BETON BERAGREGAT KASAR PET DENGAN PENAMBAHAN SILICA FUME DAN SERAT BAJA SEBAGAI BAHAN PANEL DINDING Kartika Kushendrahayu; Achmad Basuki; Edy Purwanto
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.121 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i3.37267

Abstract

Polyethylene Terephthalate (PET) merupakan salah satu bahan polimer (plastik) yang banyak digunakan oleh masyarakat sebagai kemasan produk minuman. Tetapi, seiring perkembangan jumlah penduduk mengakibatkan semakin banyak pula limbah plastik yang dihasilkan. Pemanfaatan PET lainnya yaitu sebagai bahan tambah atau bahan pengganti dalam beton karena mempunyai berat yang ringan dan tidak mudah berubah bentuk, sehingga cocok diterapkan pada bangunan di Indonesia yang sering terjadi gempa. Penelitian ini merupakan penelitian lanjutan pemanfaatan PET sebagai agregat kasar dengan penambahan silica fume dan serat baja yang bertujuan untuk mengetahui nilai kuat tekan, kuat tarik belah, dan kuat lentur beton menggunakan agregat kasar dari plastik PET dengan penambahan silica fume dan serat baja. Metode yang digunakan adalah metode eksperimental dengan metode rancang beton menggunakan metode Dreux-Corrise karena penggunaan agregat ringan dari agregat buatan PET. Persentase silica fume yang digunakan sebesar 10% dari berat semen dan serat baja yang digunakan adalah serat dramix 3D tipe end hooked, aspek rasio (l/d) yaitu 65 sebesar 10 kg/m3 sesuai dengan spesifikasi pabrik dalam aturan pemakaian serat yang tertera pada kemasan dramix. Benda uji terdiri dari 2 bentuk dengan ukuran yang berbeda, yaitu silinder berukuran diameter 7,5 cm tinggi 15 cm sebanyak 6 buah yaitu 3 buah untuk uji kuat tekan dan 3 buah untuk uji kuat tarik belah. Sedangkan untuk uji kuat lentur menggunakan benda uji panel berukuran 50x30x3 cm sebanyak 3 buah. Pengujian dilaksanakan pada saat beton berumur 28 hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa beton menggunakan agregat kasar dari plastik PET dengan penambahan silica fume dan serat baja masih tergolong beton ringan menurut SKSNI 03-2847-2002 yaitu kurang dari 1900 kg/m3 dengan berat jenis rata-rata untuk benda uji kuat tekan sebesar 1834,568 kg/m3 dan benda uji kuat tarik belah sebesar 1830,384 kg/m3. Nilai rata-rata kuat tekan sebesar 13,394 MPa. Sedangkan nilai rata-rata kuat tarik belah yang dihasilkan adalah 1,457 MPa. Nilai rata-rata kuat lentur yang dihasilkan sebesar 2,370 MPa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dengan penambahan silica fume dan serat dramix dapat meningkatkan kekuatan beton serta menambah ikatan antara pasta semen dengan agregat.
PENGENDALIAN PENGGUNAAN MATERIAL PADA PEMBANGUNAN PT GHS GROMPOL SURAKARTA MENGGUNAKAN PROGRAM MICROSOFT EXCEL Muhtar, Muhtar; Setiono, Setiono; Sugiyarto, Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.095 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i2.37008

Abstract

Pelaksanaan suatu proyek konstruksi, tidak pernah terlepas dengan pengetahuan akan pengendalian material. Maka ada tiga hal yang harus diperhatikan. Yaitu waktu pelaksanaan, biaya pelaksanaan dan sumber daya. Dalam pelaksanaan proyek, masalah terbatasnya sumber daya dapat mengakibatkan terlambatnya pelaksanaan proyek tersebut. Seperti yang kita ketahui untuk keberhasilan suatu proyek harus disertai dengan manajemen konstruksi yang baik agar suatu proyek dapat berjalan sesuai dengan yang direncanakan. Salah satu faktor utamanya adalah pengendalian terhadap material. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat Program Pengendalian Material Proyek yang di laksanakan di Pembangunan PT GHS Grompol Surakarta. Sehingga dengan program tersebut kita bisa dengan cepat mengetahui, bagaimana pemakaian material antara rencana dengan yang terjadi di lapangan dan kita bisa kontrol deviasi yang terjadi dengan peranan manajemen konstruksi. Untuk penelitian Pengendalian Material menggunakan metode pendekatan Managemen Konstruksi yang merujuk kepada BSN SNI 2008, dan data yang digunakan adalah Rencana Anggaran Proyek PT GHS Grompol Surakarta. Olah data menggunakan Program Microsoft Excel versi 2010. Dari hasil penelitian ini penulis dapat membuat program yang dapat menyimpulkan bahwa telah terjadi penyimpangan yaitu penggunaan bahan dilapangan berbeda dengan yang direncanakan proyek. Hasil perencanaan proyek (Mx Design Beton K-225) pemakaian dilapangan, untuk Kegiatan Rencana Pengecoran bahan adalah 1.228.05 m3 sedangkan realisasi kegiatan pengecoran 1.243.69 m3. terjadi deviasi sebesar 15.64 m3 dari jumlah yang terjadi. Penggunaan bahan di lapangan meningkat dari yang di rencanakan. Maka dari itu perlu di lakukan pengawasan yang baik yaitu dengan pendekatan Managemen Konstruksi mengikuti aturan SNI yang berlaku.
PERBANDINGAN KAPASITAS DUKUNG PONDASI MINIPILE DENGAN RUMUS STATIS, HASIL UJI SPT, DAN HASIL UJI PDA Shita Rosita Lailaningrum; Niken Silmi Surjandari; Yusep Muslih Purwana
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.284 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v2i3.37404

Abstract

Salah satu hal penting dalam perencanaan pondasi adalah kapasitas dukung dan penurunan. Apabila kapasitas dukung tanah tidak mampu memikul beban pondasi, maka penurunan yang berlebihan atau keruntuhan dari tanah akan terjadi, kedua hal tersebut akan menyebabkan kerusakan konstruksi yang berada di atas pondasi. Banyak faktor yang mempengaruhi perhitungan kapasitas dukung pondasi, di antaranya metode perhitungan dan penyelidikan tanah yang digunakan. Untuk itu perlu dilakukan evaluasi hasil perhitungan kapasitas dukung pondasi minipile dengan membandingkan kapasitas dukung pondasi menggunakan rumus statis, hasil uji SPT, dan hasil uji PDA. Penelitian ini akan menentukan kapasitas dukung pondasi minipile dengan analisis perhitungan menggunakan analisis kapasitas dukung berdasarkan rumus statis dan data SPT yang dihitung dengan beberapa metode, antara lain; Metode Meyerhof dan metode l. Data yang digunakan untuk penelitian adalah data penyelidikan tanah dengan uji SPT, dan uji PDA. Hasil dari perbandingan kapasitas dukung pondasi minipile dengan rumus statis, hasil uji SPT, dan hasil uji PDA mengalami perbedaan yang satu dengan lainnya. Dilihat dari nilai rasio kapasitas dukung menunjukkan Qulab, dan QuSPT, adalah kurang dari 1. Hasil yang lebih mendekati dengan kapasitas dukung pondasi minipile yang sudah terpasang adalah berdasarkan hasil uji SPT. Jumlah pukulan N-SPT mencapai kedalaman tanah keras sangat mempengaruhi nilai kapasitas dukung pondasi.
Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko dalam Pekerjaan Pengecoran Beton untuk Proyek Gedung dengan Metode Analytic Hierarchy Process (AHP) Hartono, Widi; Rahmah, Hanan Nur; Sugiyarto, Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.515 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i1.37136

Abstract

Pekerjaan konstruksi merupakan salah satu bidang yang memiliki risiko paling besar dibandingkan dengan industri lain. Hal ini disebabkan karena pekerjaan yang dilakukan cukup kompleks dan membutuhkan keahlian yang tinggi. Pada setiap pembangunan gedung, beton adalah bahan material yang paling sering digunakan sehingga pekerjaan pengecoran beton menjadi sangat penting untuk dipahami. Berdasarkan latar belakang diatas perlu dilakukan penelitian tentang identifikasi bahaya dan penilaian risiko konstruksi pada pekerjaan tersebut untuk membantu mencapai hasil yang maksimal.Data-data yang diambil berupa data primer yang didapat wawancara, data kuisioner serta data sekunder yang didapat dari studi pustaka. Data yang digunakan dalam penelitian ini dianalisis dengan metode untuk mengevaluasi signifikansi dari peringkat risiko dalam proyek konstruksi yaitu dengan mengalikan tingkat keparahan dan tingkat frekuensi. Setelah itu untuk mengetahui bobot risiko digunakan metode AHP (Analytic Hierarchy Process). Hasil analisis menunjukkan pada pekerjaan pengecoran beton risiko yang termasuk dalam kategori High Risk adalah 'Ketidaksadaran Akan Keselamatan' yang memiliki nilai 15,5333 dan 'Keterlambatan Kesediaan Material dan Peralatan' yang bernilai 10,3889. Sedangkan risiko yang memiliki nilai Risk Index paling besar adalah Ketidaksadaran akan keselamatan (2,2693), Terpotong/terbaret/tertusuk (peralatan/material yang berujung tajam, dll) (2,1264), dan Pekerja terpeleset/terjatuh (2,0277). Penanganan risiko yang paling banyak dipiih oleh responden adalah 'Memindahkan Risiko dengan Asuransi' dan 'Mengurangi Risiko Sampai Batas yang Bisa Diterima' yang masing-masing memiliki porsi 23%.
INDEKS KEKERINGAN HIDROLOGI DI DAS KEDUANG BERDASARKAN METODE FLOW DURATION CURVE (FDC) Andi Khalifa Avicenna; Rintis Hadiani; Solichin Solichin
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.942 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i3.37283

Abstract

Pada dasarnya jumlah air yang berputar di bumi relative tetap karena adanya siklus hidrologi. Namun dengan semakin berubahnya kondisi iklim dunia memberikan dampak yang cukup besar terhadap terjadinya kekeringan di beberapa daerah. Salah satu yang menjadi tinjauan adalah di Daerah Aliran Sungau Keduang yang berada di Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan mengetehui nilai Indeks Kekeringan Hidrologi (IKH) dan mengetahui kriteria kekeringan berdasarkan durasi dan defisit yang terjadi menggunakan analogi Kriteria dari Oldeman. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Metode ini berupa pengumpulan data, analisis data, dan interpretasi hasil analisis untuk mendapatkan informasi guna pengambilan keputusan dan kesimpulan. Menggunakan analisis kekeringan dengan metode flow duration curve (FDC) di DAS Keduang.Yang kemudian kriteria kekeringan berdasarkan pada kriteria bulan kering dari Hadiani,R., tahun 2009. Yang merupakan anologi dari kriteria bulan basah dari Odeman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai durasi dan defisit serta indeks kekeringan hidrologi di DAS Keduang. Hasil analisis menunjukan bahwa pada tahun 2006 nilai IKH terendah mencapai -0.0019 dengan durasi 7 bulan. Pada tahun 2008 nilai IKH terendah mencapai -0,0019 dengan durasi kekeringan mencapai 6 bulan dan pada tahun 2012 nilai IKH terendah mencapai -0,0019 dengan durasi kekeringan mencapai 6 bulan. Sedangkan Indeks Kekeringan Hidrologi (IKH) di DAS Keduang memiliki besaran sebagai berikut kriteria Kering (K) antara : 0,000 < IKH < 0,0155 Kriteria Sangat Kering (SK) antara : - 0,0006 < IKH < 0,0000 Kriteria Amat Sangat Kering (ASK) antara : IKH < -0,0006 Kata Kunci : DAS Keduang, Kekeringan, Indeks Kekeringan Hidrologi, Kriteria Kering
ANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEMUDAHAN PELAKSANAAN DAN HAMBATAN DALAM PENERAPAN KRITERIA GREEN CONSTRUCTION DI SURAKARTA Artanto, Abdjad Agung; Hartono, Widi; Muttaqien, Adi Yusuf
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.005 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37024

Abstract

Pekerjaan konstruksi mempunyai hubungan yang erat terhadap lingkungan. Kerusakan lingkungan yang menjadi perbincangan dalam beberapa tahun terakhir memunculkan suatu ide yaitu konsep green construction. Green contruction merupakan usaha meminimalkan dampak lingkungan akibat kegiatan konstruksi. Penerapan green construction di Indonesia relatif masih rendah. Rendahnya penerapan green construction muncul karena terdapat hambatan dalam usaha untuk menerapkannya. Hambatan tersebut menurunkan tingkat kemudahan pelaksanaan green construction. Penelitian dilakukan dengan menganalisa hubungan antara tingkat kemudahan pelaksanaan dan hambatan dalam penerapan kriteria green construction di Surakarta. Data diperoleh dengan survei kuisioner kepada pekerja konstruksi di Surakarta. Analisis data menggunakan program SPSS untuk menguji pengaruh hambatan terhadap tingkat kemudahan pelaksanaan dengan uji regresi linier berganda. Tingkat kemudahan pelaksanaan yang diambil dari enam kriteria green construction oleh Green Building Council Indonesia merupakan variabel terikat, sedangkan hambatan yang diambil dari beberapa penelitian terdahulu merupakan variabel bebas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengaruh hambatan terhadap tingkat kemudahan pelaksanaan kriteria green construction adalah pengaruh negatif. Terdapat tiga variabel hambatan yang berpengaruh secara signifikan. Ketiga variabel tersebut adalah keterbatasan ketersediaan produk hijau (teknologi), perencanaan yang rumit, dan rendahnya permintaan pasar, dimana rendahnya permintaan pasar merupakan variabel yang paling berpengaruh terhadap tingkat kemudahan pelaksanaan kriteria green construction di Surakarta.
STUDI GELOMBANG KEJUT PADA SIMPANG BERSINYAL DENGAN MENGGUNAKAN EMP ATAS DASAR ANALISA HEADWAY Retno Dwi Nurjanah; Agus Sumarsono; Amirotul M H Mahmudah
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 3 (2015): September 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.517 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i3.37299

Abstract

Simpang bersinyal di Jl. Urip Sumoharjo - Jl. Sutan Syahrir - Jl. Ir. H. Juanda adalah salah satu simpang yang memiliki durasi nyala lampu merah yang besar dan nyala hijaunya kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai EMP menggunakan analisa headway dan menghitung nilai gelombang kejut yang terjadi di simpang bersinyal Jl Urip Sumoharjo - Jl. Sutan Syahrir - Jl. Ir. H. Juanda. Penelitian ini dilakukan hari Kamis, 20 November 2014, pagi jam 06.00-08.00 WIB, siang jam 12.00-14.00 WIB, dan sore jam 16.00-18.00 WIB. Setelah dianalisis didapat nilai EMP MC = 0,48 dan HV = 1,45. Kemudian nilai emp hasil analisa headway tersebut digunakan untuk mengkonversi jumlah kendaraan menjadi satuan mobil penumpang (smp). Hasil perhitungan gelombang kejut diperoleh ?ab = -0,660 km/jam, ?cb = -3,356 km/jam, ?ac = 2,694 km/jam untuk Jl. Urip Sumoharjo Utara, ?ab = -0,664 km/jam, ?cb = -3,442 km/jam, ?ac = 2,776 km/jam untuk Jl. Urip Sumoharjo Selatan, ?ab = -0,571 km/jam, ?cb = -3,078 km/jam, ?ac = 2,429 km/jam ntuk Jl. Sutan Syahrir, ?ab = -0,465 km/jam, ?cb = -2,98 km/jam, ?ac = 2,459 km/jam untuk Jl. Ir. H. Djuanda. Sedangkan untuk waktu penormalan tertinggi pada Jl. Urip Sumoharjo Utara sebesar 197 detik, Jl. Urip Sumoharjo Selatan 157 detik, Jl. Sutan Syahrir 127 detik, Jl. Ir. H. Djuanda 140 detik. Dengan demikianakan menyebabkan antrian yang panjang serta ada beberapa kendaraan yang akan mengalami fase nyala lampu merah hingga dua kali.
ANALISIS KESESUAIAN PENERAPAN GREEN CONSTRUCTION MENURUT KONTRAKTOR DI SURAKARTA Nurul Fatimah; Widi Hartono; Adi Yusuf Muttaqien
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (372.585 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37040

Abstract

Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-13 Perserikatan Bangsa Bangsa menyepakati upaya penurunan konsentrasi CO2 sebesar 26% sampai 41% akhir tahun 2020. Sustainable Construction digunakan sebagai agenda penurunan konsentrasi CO2. Sustainable Construction merupakan green contruction dengan proses menjaga keseimbangan lingkungan alami dan buatan. Perangkat penilaian green contruction dikembangkan Green Building Council Indonesia berupa Sistem Rating GREENSHIP. Penilaian meliputi tahap perencanaan (62,2%), tahap pengoperasian (33,3%) dan tahap pembangunan (4,5%). Masih kecilnya tingkat penilaian tahap pembangunan, maka perlu dilakukan penelitian mengenai penilaian green construction pada tahap pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar tingkat keinginan kontraktor mengenai penerapan green construction dan kriteria green construction paling sesuai untuk diterapkan berdasarkan kepentingan dan kemudahan operasional pelaksanaan menurut kontraktor. Metode analisis yang digunakan adalah Importance Performance Analysis (IPA). Metode ini digunakan untuk menilai performa kriteria green construction berdasarkan tingkat kepentingan (x) dan tingkat operasional (y). Data didapatkan melalui kuesioner yang dibagikan ke beberapa proyek kontruksi di Surakarta dan sekitarnya. Hasil rekapitulasi data menunjukkan keinginan kontraktor mengenai penerapan green construction sangat tinggi terbukti dari jawaban keinginan menjalankan green construction 89,74% dan pentingnya melaksanakan green construction 94,87%. Namun kesiapan kontraktor untuk menjalankan green contruction rendah terbukti dari kurang dari 60% kontraktor yang mengetahui kriteria penerapan green construction. Berdasarkan analisa data yang telah dilakukan kriteria green construction yang paling sesuai diterapkan harus memiliki nilai performa tingkat kepentingan dan operasional yang tinggi. Kriteria yang sesuai dapat dilihat dari letak kriteria pada diagram kuadran important performance analysis. Kriteria green construction yang paling sesuai untuk dilaksanakan adalah safety and security, earthquake resistance, maintenance dan user engegement.
SIMULASI PREDIKSI POLA TATA TANAM DI DAS TIRTOMOYO BERDASARKAN NERACA AIR Ferry Dirgantoro Wicaksono; Suyanto Suyanto; Siti Qomariyah
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.03 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v3i2.37187

Abstract

Kecamatan Tirtomoyo ini memiliki berbagai macam lahan potensial khususnya dalam bidang pertanian. Penggunaan lahan yang paling dominan di daerah ini adalah tegalan, yaitu seluas 10.783 Ha (47%). Sedangkan penggunaan lahan untuk hutan hanya 106 Ha (1%) yang mayoritas daerahnya memiliki kemiringan sebesar > 25 %. Hampir di sebagian besar wilayah Wonogiri memiliki tanah dengan jenis kapur dan banyak ditumbuhi pohon jati, padahal tanah dengan jenis ini beserta pohon jati tidak dapat menyerap air dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perhitungan simulasi prediksi pola tanam di DAS Tirtomoyo berdasarkan neraca air yaitu dengan Metode Thornthwaite. Dengan metode ini akan diketahui kapan adanya kelebihan air (surplus) dan kekurangan air (defisit). Setelah diketahui, penelitian ini bisa diaplikasikan untuk dibuat prediksi pola tanam di DAS Tirtomoyo dan disimulasikan dengan DAS-DAS lain di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data dari sumber atau instansi terkait sehingga penelitian ini data yang digunakan adalah data sekunder. Hasil analisis dan pembahasan menunjukkan bahwa pada pola tanam simulasi didapat surplus sebesar 13,00 m3/dt pada bulan Januari dengan kebutuhan air sebesar 5,32 m3/dt dan ketersediaan air sebesar 18,26 m3/dt. Sedangkan pada pola tanam eksisting (pemerintah) didapat defisit sebesar -149,20 m3/dt pada bulan November dengan kebutuhan air sebesar 7,17 m3/dt dan ketersediaan air sebesar -142,03 m3/dt. Jika membandingkan antara perhitungan neraca air eksisting pemerintah dengan neraca air simulasi, neraca air simulasi adalah yang paling baik. Sesuai dengan grafik pola tanam, pada bulan Februari terdapat ketersediaan air yang melimpah sehingga cocok digunakan untuk penanaman padi dan bulan Oktober digunakan untuk penanaman palawija. Sedangkan pada grafik pola tanam eksisting (pemerintah) menurut kalender tanam, penanaman padi dilakukan pada bulan November padahal pada bulan tersebut kurang cocok untuk penanaman padi karena kurangnya ketersediaan air. Untuk penanaman palawija dilaksanakan pada bulan Maret karena pada bulan tersebut ketersediaan air sangat melimpah. Semakin besar luasan tanam, semakin banyak pula kebutuhan air tanamnya.