cover
Contact Name
Halwan Alfisa Saifullah
Contact Email
halwan@ft.uns.ac.id
Phone
+6282133085744
Journal Mail Official
halwan@ft.uns.ac.id
Editorial Address
Matriks Teknik Sipil Gedung IV lt. 1 Jurusan Teknik Sipil Jl. Ir. Sutami 36A Surakarta Jawa Tengah - Indonesia 57126
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Matriks Teknik Sipil
ISSN : 23548630     EISSN : 27234223     DOI : -
Matrik Teknik Sipil adalah open access journal yang mempublikasikan penelitian di bidang struktur, hidrologi, transportasi, geoteknik dan management proyek. Matriks Teknik Sipil diterbitkan oleh Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sebelas Maret. Jurnal ini menyediakan open access yang pada prinsipnya membuat riset tersedia secara gratis untuk publik dan akan mensupport pertukaran pengetahuan global terbesar.
Articles 953 Documents
HUBUNGAN TUNDAAN DAN PANJANG ANTRIAN TERHADAP KONSUMSI BAHAN BAKAR AKIBAT PENUTUPAN PINTU PERLINTASAN KERETA API (STUDI KASUS PADA PERLINTASAN KERETA API DI SURAKARTA) Christmas Samodra Hadis; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i2.37545

Abstract

Tundaan dan Panjang Antrian kendaraan cukup panjang terlihat jelas pada saat penutupan pintu perlintasan kereta api di Kota Surakarta, seperti perlintasan Jebres di Jalan Urip Sumoharjo ataupun perlintasan Sekarpace di Jalan HOS Cokroaminoto, sehingga menyebabkan waktu yang diperlukan untuk melintasi ruas jalan tersebut semakin lama. BBM merupakan salah satu sumber daya alam yang jumlahnya sangat terbatas, sehingga ketersediaan BBM akan semakin langka seiring meningkatnya kebutuhan energi terutama di bidang transportasi. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor menyebabkan semakin meningkatnya konsumsi BBM untuk energi kendaraan bermotor. Konsumsi BBM yang terbuang pada saat kendaraan berhenti (idle) akibat penutupan pintu perlintasan kereta api dipengaruhi oleh lama tundaan dan panjang antrian. Penelitian ini bertujuan menganalisa hubungan tundaan dan panjang antrian terhadap konsumsi bahan bakar akibat penutupan pintu perlintasan kereta api di Kota Surakarta. Analisis tundaan dan panjang antrian didasarkan pada hasil survai pada masing-masing perlintasan. Analisis konsumsi BBM berdasarkan lama tundaan dengan menggunakan persamaan dari LAPI-ITB yang telah dikonversikan ke dalam satuan mobil penumpang. Hubungan penutupan perlintasan berupa tundaan dan panjang antrian dengan konsumsi BBM menggunakan metode analisis regresi linier berganda. Berdasarkan analisis dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa hasil model regresi linier berganda dengan variabel bebas berupa panjang antrian (X1) dan tundaan (X2) terhadap variabel tidak bebas konsumsi bahan bakar (Y) adalah Y = 0.012 + 0.00004778 X1 + 0.389 X2 untuk perlintasan Jebres dan Y = 0.009 + 0.000002425 X1 + 0.389 X2 untuk perlintasan Sekapace. Hasil analisis menunjukkan tundaan dan panjang antrian memiliki pengaruh terhadap konsumsi bahan bakar pada penutupan perlintasan kereta api, artinya semakin tinggi nilai tundaan dan panjang antrian semakin besar pula konsumsi bahan bakar yang terbuang. Hasil ini sesuai dengan hipotesa awal bahwa konsumsi bahan bakar kendaraan bermotor pada saat idle (diam) di penutupan perlintasan kereta api dipengaruhi oleh lama tundaan dan panjang antrian.
PENGARUH PENAMBAHAN SERAT BENDRAT DAN ABU SEKAM PADI TERHADAP PERMEABILITAS, PENETRASI DAN ABRASI BETON Dika Mafaza; Slamet Prayitno; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37033

Abstract

Beton serat didefinisikan sebagai beton yang dibuat dari campuran semen, agregat, air, dan sejumlah serat yang disebar secara random. Prinsip penambahan serat yang disebar merata kedalam adukan beton dengan orientasi random untuk mencegah terjadinya retakan beton yang terlalu dini di daerah tarik akibat panas hidrasi maupun akibat pembebanan. Bahan tambah abu sekam padi diharapkan dapat menambah mutu beton, karena abu sekam padi bersifat seperti pozzolan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan beton normal dengan beton berserat bendrat dan abu sekam padi ditinjau dari kuat desak, permeabilitas, penetrasi dan abrasi beton.Metode yang digunakan adalah metode eksperimen. Benda uji berbentuk silinder dengan diameter 15 cm dan tinggi 30 cm untuk pengujian kuat tekan, 7,5 cm x 15 cm untuk pengujian permeabilitas dan penetrasi Beton. Benda uji masing-masing berjumlah 3 buah untuk 1 variasi. Beton tanpa penambahan serat dan abu sekam padi, beton dengan penambahan abu sekam padi sebnayak 10% dari berat semen yang digunakan, dan Persentase serat yang digunakan adalah 0%; 0,5%;1%; 1,5%; dan 2%. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa penambahan kadar serat bendrat dari 1% menghasilkan peningkatan kuat tekan, koefiien permeabilitas dan penetrai beton berturut-turut sebesar 21,82%; 41,87% dan 31,67% dari beton tanpa penambahan serat bendrat dan abu sekam padi.
ESTIMASI MATRIKS ASAL TUJUAN PERJALANAN MENGGUNAKAN MODEL GRAVITY DENGAN FUNGSI HAMBATAN TANNER DI KOTA SURAKARTA Niken Puspitasari; Syafi'i Syafi'i; Setiono Setiono
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i2.37431

Abstract

The research aimed to know the amount of estimation trip distribution models using the gravity method. In addition, to know the validation levelby comparing traffic flow resulted from the model and observation. This research was conducted in Surakarta as areas of studdy dividing the areainto 65 zone, 51 internal zone and 14 external zone. The road network that is analyzed is the arterial roads and collector roads. The methodwas used is gravity model as production and attraction constrained as estimation model MAT 2013 with EMME/3 software. On this modelthere are parameters ?that function as determinants of the magnitude of the spread of values that occur in each zone. Calibration method for obtainingparameters ?that are later used in the calculation of the estimated results of the MAT (obstacle function with Tanner) is the Newton-Raphson method of calibration. The calibration is done by a process of repetition until the convergence parameter value reaches the limit usingMatlab software application assistance. The Traffic volume values obtained by imposing a new matrix and incorporate current observations (trafficcount) to the road network by the method of loading User Equilibrium, is loading method which has the assumption that the total amount of thetrip will be entirely charged to all segments of the road network. Test Validation using the coefficient of Determination (R2). From the results ofcalculations with the help of Matlab is obtained by 0,0006. From the results of calculations with the help of EMME / 3, obtained by the totalnumber of movements in Surakarta is 35923.9 smp / hour. The level of validation (R2) is obtained by 0.77. Validation in the category of high,has 77% similarity with the original conditions on roads.
Analisis Perbandingan Efisiensi Penggunaan Hollow Core Slab (HCS) Dibandingkan Dengan Pelat Konvensonal In Situ Pada Proyek Pembangunan Gudang Ciwastra Bandung Fakhri Firdaus; Senot Sangadji; Widi Hartono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 4 (2017): Desember 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i4.36920

Abstract

Penggunaan produk beton precast sebagai pelat lantai, relatif sudah banyak dijumpai di sekitar kita, dengan digunakan precast maka pemakaian bekisting dan perancah akan berkurang drastis bahkan dapat dihilangkan sehingga dapat menghemat waktu pelaksanaan. Salah satu produk precast untuk lantai adalah hollow coreslab (HCS). Tujuan dari skripsi ini adalah untuk menganalisis dan membandingkan pengaruh antara penggunaan pelat konvensional cast in situ dengan pelat pracetak Hollow Core Slab (HCS) terhadap sistem struktur, waktu pelaksanaan, dan kebutuhan anggaran biaya pada proyek pembangunan ruko dan gudang dua lantai di daerah Ciwastra Bandung. Adapun pelat konvensional didesain dengan ukuran, mutu beton, dan pembebanan yang sama dengan pelat pracetak. Hasil analisis menunjukkan bahwa bangunan dengan system Hollow Core Slab lebih efisien karena dapat mereduksi kebutuhan balok sebesar 11% dan volume pondasi sebesar 29,1%, selain itu biaya konstruksi dengan metode konvensional membutuhkan biaya lebih besar yaitu Rp. 1.246.320.727 sedangkan HCS hanya membutuhkan biaya sebesar Rp. 1.135.716.752 sehingga lebih efisien sebesar 9%, Hal ini dikarenakan biaya upah pengerjaan HCS lebih murah yaitu sebesar Rp.2.460.520lebih efisien sebesar 74%, dibandingkan dengan pelat konvensional yang menghabiskan Rp.11.912.469, selain itu juga waktu pengerjaanya lebih hemat 12 hari dibandingkan pelat konvensional.
ANALISIS NILAI HASIL TERHADAP BIAYA PADA PROYEK KONSTRUKSI (STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN HOTEL EASTPARC YOGYAKARTA) Agus Marhaendra; Siti Qomariyah
Matriks Teknik Sipil Vol 1, No 2 (2013): Juni 2013
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v1i2.37561

Abstract

Sumberdaya utama terbatas pada tahap pelaksanaan suatu proyek kostruksi adalah biaya, mutu dan waktu. Perencanaan, penjadualan dan pengendalian adalah langkah penting untuk dilakukan agar tujuan pelaksanaan proyek dengan sumberdaya terbatas ini tercapai. Metode "Nilai Hasil" (Eaned Value) merupakan suatu metode pengendalian yang digunakan untuk mengendalikan biaya dan jadual proyek secara terpadu. Metode ini memberikan informasi status kinerja proyek pada suatu periode pelaporan dan memberikan informasi prediksi biaya yang dibutuhkan dan waktu untuk penyelesaian seluruh pekerjaan berdasarkan indikator kinerja saat pelaporan. Pada Pembangunan Hotel Eastparc Yogyakarta, informasi yang didapat saat pelaporan pada minggu ke-14 adalah Budget Cost of Work Schedule (BCWS) / Planed Value (PV) = Rp 12,692,158,271.54, Budget Cost of Work Performance (BCWP) / Earned Value (EV) = Rp 10,424,832,219.48. sehingga proyek dapat berjalan dengan baik. Prediksi biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan sampai minggu ke-14 (Estimation All Completion/EAC) berdasarkan analisis nilai hasil memerlukan biaya Rp 14,320,633,394. Kinerja proyek dikatakan untung (Cost Varian/ CV= + Rp 6,090,262,903.73 dan Cost Performed Index /CPI= 2.405044529>1).
PENINGKATAN KUAT TEKAN TANAH LEMPUNG PLASTISITAS TINGGI YANG DISTABILISASI MENGGUNAKAN SEMEN PADA INDEKS LIKUIDITAS 0.5 Ramzi Yahya; Yusep Muslih Purwana; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 4 (2016): Desember 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i4.37049

Abstract

Tanah lempung plastisitas diklasifikasikan sebagai tanah lunak dengan daya dukung dan kekuatan yang rendah. Stabilisasi tanah dibutuhkan untuk meningkatkan sifat tekniknya. Penelitian mengenai stabilisasi tanah lempung plastisitas tinggi menggunakan semen telah dilakukan dalam penelitian ini, untuk mengetahui pengaruh semen terhadap kuat tekan tanah. Stabilisasi dilakukan pada tanah setelah dikondisikan dengan indeks likuiditas 0.5. Stabilisasi dilakukan dengan variasi semen (5%, 10%, dan 15% dari berat basah tanah) dan variasi faktor air semen (20%, 25%, 30%, 35% dari berat kering semen). Uji kuat tekan bebas (UCS) dilakukan setelah masa perawatan tanah (0,3, 7, dan 14 hari). . Hasil pengujian diilustrasikan menggunakan grafik dan tabel yang menunjukkan kuat tekan tanah tertinggi dicapai pada campuran semen 15% dan FAS 20%, yaitu 989.92 kN/m2 untuk sampel tidak terendam dan 674.67 kN/m2 untuk sampel terendam.
KAJIAN KUAT LEKAT TULANGAN BAMBU WULUNG TAKIKAN BENTUK VDENGAN JARAK ANTAR TAKIKAN 2 CM DAN 3 CM PADA BETON NORMAL Sigit Fajar Nugroho; Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2014): Juni 2014
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v2i2.37447

Abstract

Reinforcement steel is a building material that cannot be renewed. Steel making raw material (iron ore) as well as the more limited and may not beincreased its production. Bamboo is one of the suitable replacements of reinforcing in concrete because low cost natural resources, easy to plant,growing rapidly, reducing global warming effect and mostimportantly strong in tension. One of the things that are most important in reinforcedconcrete is a bond between the reinforcement is used with concrete so that concrete wasn't experiencing slippage. Notched bamboo reinforcement canreduce the influence of depreciation or development because of water content with the existence of the latch between the reinforcement surface andconcrete. Methods used in this research is experimental laboratory methods in laboratories material and structure faculty of engineering sebelasmaret university surakarta. Objects test used in this research are concrete cylindrical in diameter 150 mm and height of 300 mm. Bambooreinforcement used is bamboo notched wulung with dimensions width 20 mm thick and 5.2 mm. As a comparison of plain steel reinforcement witha diameter of 8 mm. Reinforcement concrete cylinders at the Centre were planted as deep as 150 mm. The test results obtained average value ofbonding strength concrete with reinforcement bamboo wulung without notched distance 3 cm is 0,007867 MPa and bamboo wulung withoutnotched 2 cm is 0,018223 MPa. The average value of bonding strength concrete with reinforcement notched bamboo wulung distance 3 cm is0,030172 MPa and notched bamboo wulung 2 cm distance is 0,101773 MPa. The value of bonding strength steel reinforcement a plain 8 mmdiameter is 0,277665 MPa. From the data above it can be deduced the average value of the bonding strength of concrete with bamboo wulungreinforcement 0.142 times the value of the bonding strength of plain steel rebars 8 mm diameter.Keywords: Bamboo wulung, steel, concrete, notched, bond strengthAbstrakTulangan baja adalah bahan bangunan yang tidak dapat diperbaharui. Bahan dasar pembuatan baja (biji besi) juga semakinterbatas dan tidak mungkin ditingkatkan produksinya. Bambu dipilih sebagai alternatif pengganti karena merupakan hasilalam yang murah, mudah ditanam, pertumbuhan cepat, dapat mereduksi efek global warming serta memiliki kuat tariksangat tinggi yang dapat dipersaingkan dengan baja. Salah satu hal yang terpenting dalam beton bertulang adalah adanyakelekatan antara tulangan yang digunakan dengan beton sehingga beton tidak mengalami selip. Tulangan bambu bertakikandapat mengurangi pengaruh penyusutan atau pengembangan karena kandungan air dengan adanya bagian saling mengunciantara permukaan tulangan dan beton. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen laboratoriumyang dilakukan di Laboratorium Bahan dan Struktur Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta. Benda uji yangdigunakan dalam penelitian ini beton silinder dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Tulangan bambu yang digunakanadalah bambu wulung takikan dengan dimensi lebar 20 mm dan tebal 5,2 mm. Sebagai pembanding tulangan baja polosdengan diameter 8 mm. Tulangan ditaman pada pusat beton silinder sedalam 150 mm. Dari hasil pengujian diperoleh nilaikuat lekat rerata beton dengan tulangan bambu wulung tanpa nodia jarak 3 cm adalah 0,007867 MPa dan bambu wulungtanpa nodia jarak 2 cm adalah 0,018223 MPa. Nilai kuat lekat rerata beton dengan tulangan bambu wulung bernodia jarak 3cm adalah 0,030172 MPa dan bambu wulung bernodia jarak 2 cm adalah 0,101773 MPa. Nilai kuat lekat tulangan baja polosdiameter 8 mm adalah 0,277665 MPa. Dari data diatas dapat ditarik kesimpulan nilai kuat lekat rerata beton dengan tulanganbambu wulung 0,142 kali dari nilai kuat lekat tulangan baja polos diameter 8 mm.Kata Kunci: bambu wulung, baja, beton, takikan, kuat lekat.PENDAHULUANBeton sangat banyak digunakan secara luas sebagai bahan bangunan. Banyaknya penggunaan beton dalam suatukonstruksi menuntut upaya penciptaan mutu yang baik.Tulangan baja adalah bahan bangunan tidak dapat diperbaharui. Bahan dasar pembuatan baja (biji besi) jugasemakin terbatas dan tidak mungkin dapat ditingkatkan produksinya. Dengan kata lain, hal tersebut akan memicukenaikan harga baja. Ahli struktur berupaya mencari bahan lain yang bisa digunakan sebagai pengganti bajatulangan, seperti yang dilakukan Morisco (1996) yaitu dengan memanfaatkan bambu sebagai tulangan beton.Hilangnya lekatan antara beton dan baja tulangan pada struktur mengakibatkan keruntuhan total pada balok.Untuk menghindari hal tersebut perlu ditinjau nilai kuat lekat beton dan tulangan agar diperoleh keseimbangan
STUDI AKURASI UNTUK MENGESTIMASI WAKTU PERJALANAN BERBASIS KECEPATAN SESAAT DENGAN LINEAR DAN TIME SLICE MODEL (LOKASI STUDI : RING ROAD UTARA SURAKARTA) Risma Indah Purnama; Amirotul MH Mahmudah; Agus Sumarsono
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 1 (2017): Maret 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i1.36936

Abstract

Informasi mengenai waktu perjalanan menjadi pertimbangan para pengguna jalan untuk menentukan rute perjalanan yang paling efektif. Selain menciptakan rute perjalanan yang efektif, dapat juga mengoptimalkan alokasi waktu dan biaya perjalanan. Mempertimbangkan pentingnya informasi waktu perjalanan, maka dibutuhkan estimasi waktu perjalanan dengan tingkat kesalahan yang rendah, sehingga dapat digunakan untuk memberikan tingkat informasi waktu perjalanan kepada pengguna jalan. Data yang digunakan dalam penelitian yaitu arus kendaraan yang berada di jalan Ring Road Utara Surakarta dan kecepatan sesaat setiap kendaraan. Kendaraan yang di teliti adalah kendaraan ringan, kendaraan berat, dan sepeda motor. Model estimasi waktu perjalanan yang digunakan adalah Linear dan Time Slice Model. Hasil dari model estimasi waktu perjalanan dengan Linear dan Time Slice Model dianalisis tingkat kesalahan terhadap waktu perjalanan aktual, dengan menggunakan Root Mean Square Error (RMSE), Mean Absolute Error (MAE), dan Mean Absolute Relative Error (MARE) yang mana akan diketahui model mana yang lebih baik diterapkan pada jalan Ring Road Utara Surakarta. Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa estimasi waktu perjalanan yang menggunakan data kecepatan sesaat yang diperoleh dengan cara manual dan speed gun, Linear Model memiliki estimasi kesalahan yang lebih rendah dari Time Slice Model. Walaupun demikian, perbedaan estimasi kesalahan antara Linear dan Time Slice Model tidak terlalu jauh.
ANALISIS DAN PENGELOLAAN SISA MATERIAL KONSTRUKSI DAN FAKTOR PENYEBAB PADA 3 PROYEK KELURAHAN DITINJAU BAGIAN PONDASI MENGUNAKAN ROOT CAUSE ANALYSIS (RCA Derry Handoko Purba; Widi Hartono; Sugiyarto Sugiyarto
Matriks Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Maret 2015
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v3i1.37339

Abstract

Material merupakan komponen yang penting dalam menentukan besarnya biaya suatu proyek, lebih dari separuh biaya proyek diserap oleh material yang digunakan. Pada tahap pelaksanaan konstruksi, penggunaan material di lapangan sering menimbulkan sisa material yang beragam yang belum dikelola dengan baik yang memungkinkan mengganggu gerakan / sirkulasi pekerjaan dalam proyek, keselamatan kerja dalam proyek ,dan menjadi beban dalam biaya untuk sampah, sehingga usaha untuk meminimalkan sisa material penting untuk diterapkan. Sisa material (waste) merupakan salah satu masalah serius pada pelaksanaan proyek konstruksi. Usaha meminimalkan sisa material konstruksi akan membantu meningkatkan keuntungan kontraktor dan mengurangi dampak lingkungan. Oleh karena itu perlu dilakukan perhitungan yang teliti dan tepat dalam menentukan jumlah kebutuhan material yang akan digunakan dalam proyek serta dilakukan evaluasi terhadap penggunaan material tersebut. Untuk menghitung sisa material dilakukan Penghitungan kuantitas sisa material yaitu Sisa material = Pembelian material - Stok material - Kebutuhan material, kemudian menghitung biaya sisa material dengan mengkalikan jumlah sisa dengan harga satuan material, perhitungan persentase biaya sisa yaitu biaya sisa material dibagi total biaya sisa material dikali 100%. Untuk mencari akar penyebab digunakan Root Cause Analysis yaitu metode untuk mendapatkan penyebab terjadinya waste material. Hasil rekapitulasi persentase biaya waste material kelurahan Gilingan : Tanah 87,39%, Pasir 0,39%, Batu kali 0,055%, Beton 1,97%, Besi d 16 7,05%, Besi ø 10 3,11 %, Semen 0,39 % dengan jumlah biaya waste material Rp. 6.464.762. Kelurahan Jagalan : Tanah 60,2%, Pasir 1,745%, Batu kali 0%, Beton 3,7%, Besi d16 19,06 %, Besi ø10 12,12%, Semen 3,165 % dengan jumlah biaya waste material Rp.2.527.140. Kelurahan Kauman : Tanah 55,2%, Pasir 3,65%, Batu kali 0%, Beton 2,86%, Besi d16 14,95%, Besi ø10 11,98%, Semen 11,34% dengan jumlah biaya waste material Rp. 3.151.142.Akar penyebab waste material dibagi menjadi 4 penyebab utama yaitu desain, pengadaan material, penanganan material, dan pelaksanaan pada pekerjaan.Dampak dari waste material itu sendiri ialah terjadinya tambahan pekerjaan dilapangan,mengganggu transportasi,rusaknya tanaman,dan terganggunya aktifitas pekerja di lokasi.
KUAT LENTUR BALOK BETON TULANGAN BAMBU PETUNG POSISI VERTIKAL TAKIKAN TIDAK SEJAJAR TIPE U LEBAR 1 DAN 2 CM PADA TIAP JARAK 10 CM Okto Wisnu Nugroho; Agus Setiya Budi; Sunarmasto Sunarmasto
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i3.36735

Abstract

Beton mempunyai kuat tekan yang kuat, namun kuat tariknya lemah. Untuk itulah diperlukan adanya tulangan baja untuk menopang kuat tarik beton yang lemah. Beton yang ditopang dengan tulangan baja inilah yang disebut dengan Beton Bertulang. Tetapi penggunaan tulangan baja mengakibatkan ketersediaan baja semakin langka dan harganya menjadi mahal, karena itulah bambu digunakan sebagai bahan alternatif pengganti baja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kuat lentur balok beton bertulangan bambu Petung posisi vertikal takikan tidak sejajar tipe U lebar takikan 1 dan 2 cm dengan jarak takikan 10 cm. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen laboratorium. Benda uji yang digunakan dalam penelitian ini adalah balok berdimensi 1700 mm x 150 mm x 110 mm dengan tulangan bambu. Dari hasil pengujian diperoleh nilai kuat lentur rata-rata balok beton dengan tulangan bambu takikan 1 cm adalah sebesar 36,9725 MPa pada bagian atas dan 562,4078 MPa pada bagian bawah. Kuat lentur rata-rata balok beton dengan tulangan bambu takikan 2 cm adalah sebesar 32,904 MPa pada bagian atas dan 500,5184 MPa pada bagian bawah.