cover
Contact Name
Heliyanti Kalintabu
Contact Email
heliyantikalintabu@gmail.com
Phone
z=6285241319887
Journal Mail Official
heliyantikalintabu@iaknmanado.ac.id
Editorial Address
Jl. Bougenville, Tateli Satu, Minahasa, Sulawesi Utara, 95631.
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
DA'AT: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : -     EISSN : 27472159     DOI : https://doi.org/10.51667/djtk.v3i1.657
Core Subject : Religion,
Teologi Kristen sedangkan cakupannya adalah Sejarah dan Filsafat, Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk, Sosiologi agama, Sosio budaya yang semuanya terkait dengan teologi Kristen.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 75 Documents
DOKTRIN SOTERIOLOGI SEBAGAI LANDASAN TEOLOGI DALAM PRAKTIK PASTORAL KONSELING UNTUK PEMULIHAN SPIRITUAL Geri Herkel Lahose; Efron Muliku; Dohana S. Maniwu; Samuel Wailan Leonard Wanget
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2348

Abstract

ABSTRACT This article examines how the doctrine of soteriology serves as the primary theological foundation underpinning the practice of pastoral counseling, particularly within the context of individual spiritual restoration. This research aims to comprehend the relationship between soteriological doctrine and the practice of pastoral counseling, as well as how this doctrine itself can be established as the theological basis for the counseling process. The findings indicate that soteriology's central focus on the grace of salvation through faith in Jesus Christ provides a robust foundation and hope for the ministry of pastoral counseling. Through this framework, pastoral counseling transcends mere psychological rehabilitation; it guides the counselee in experiencing and comprehending God's love, forgiveness, and genuine spiritual restoration. This study employs a qualitative research methodology utilizing a literature review approach. Data collection involved examining pre-existing literature relevant to the research objectives; specifically, the researcher drew upon books, journal articles, academic papers, and theses to ensure the validity and reliability of the data required for this study. Keywords: Doctrine of Soteriology, Pastoral Counseling, Spiritual Recovery.   ABSTRAK Artikel ini membahas bagaimana doktrin soteriologi berfungsi sebagai fondasi utama dalam landasan teologi yang menopang praktik pastoral konseling, khususnya dalam konteks pemulihan spiritual individu. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dan mengerti bagaimana hubungan antar doktrin soteriologi dengan praktik pastoral konseling dan bagaimana doktrin soteriologi itu sendiri bisa dijadikan landasan teologi dalam proses pastoral konseling. Hasil dari penelitian ini, menunjukkan bahwa fokus utama doktrin soteriologi pada anugerah keselamatan melalui iman kepada Yesus Kristus memberikan dasar yang kokoh dan harapan bagi proses pelayanan pastoral konseling. Melalui kerangka ini,  pastoral konseling tidak sekadar memulihkan kondisi psikologis, tetapi juga menuntun konseli untuk mengalami dan memahami kasih Allah, pengampunan, serta pemulihan yang sejati, dan pemulihan secara rohani. Kajian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dimana pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan melihat tulisan-tulisan yang sudah ada sebelumnya yang mana mendukung kebutuhan data dari penelitian ini, secara praktik peneliti menggunakan tulisan dari sumber buku, artikel, makalah, skripsi, tesis yang mana mendukung akan keabsahan data yang diperlukan dalam penelitian ini.
SUATU KETERKAITAN ANTARA KEHENDAK TUHAN DAN PERENCANAAN MANUSIA: KAJIAN HERMENEUTIKA AMSAL 19:21 Leonardo Israel Mamesah; Farel Yosua Sualang
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2470

Abstract

This article discusses the relationship between God's will and human planning with a focus on Proverbs 19:21 through a literary wisdom hermeneutical approach. This verse affirms that although many plans are in the heart of man, it is God's decision that will be carried out. Previous studies have generally highlighted God's sovereignty dogmatically or emphasized the practical aspects of human planning, but rarely integrated the two within a comprehensive hermeneutical framework. This research gap forms the basis for this study to present a new analysis. The research uses qualitative methods with semantic analysis of the Hebrew text and a review of classical and contemporary theological literature. The results of the study show three connections between humans and God: decision-making as a form of ethical responsibility, a corrective framework through God's involvement in directing plans, and evaluation of the final results as God's final decision. Thus, this study confirms that human planning and God's will are not two mutually exclusive poles, but complement each other. Proverbs 19:21 provides an ethical-theological basis for believers to plan their lives with wisdom, humility, and surrender amid the complexities of the modern world.
Rekonstruksi Eksegetikal Imago Dei Dan Mandat Pengelolaan Ciptaan Dalam Kejadian 1–2: Kajian Ekoteologis Sonny Langingi
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Juli 2026 -- (Publication in Progress)
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini diarahkan untuk merekonstruksi pemahaman mengenai konsep imago Dei serta mandat pengelolaan ciptaan dalam Kejadian 1–2 melalui perspektif ekoteologi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan kerangka eksegetikal integratif, yang mengombinasikan analisis semantik terhadap istilah Ibrani רָדָה (rādāh) dan כָּבַשׁ (kāḇaš), analisis naratif, pendekatan intertekstual, serta sintesis teologis. Temuan penelitian memperlihatkan bahwa rādāh tidak merujuk pada bentuk dominasi yang represif, melainkan pada otoritas representasional dalam kerangka imago Dei, sementara kāḇaš dipahami sebagai pengelolaan potensi ciptaan dalam tatanan yang telah dinyatakan baik. Hasil ini menegaskan bahwa mandat budaya dalam Kejadian 1–2 bersifat relasional dan tidak memberikan legitimasi bagi eksploitasi terhadap alam. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa pemisahan antara dominion dan stewardship merupakan konstruksi hermeneutik modern yang tidak secara eksplisit bersumber dari teks biblika. Dengan demikian, manusia sebagai gambar Allah dipahami sebagai wakil yang memikul tanggung jawab dalam relasi dengan Allah, sesama, dan ciptaan. Penelitian ini memberikan kontribusi teologis dengan memperkuat landasan eksegetikal bagi pengembangan ekoteologi yang kontekstual dalam merespons krisis ekologis global.
Ekoteologi Dan Tanggung Jawab Gereja Dalam Menghadapi Krisis Lingkungan Di Indonesia Delly Maria Pusung
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Juli 2026 -- (Publication in Progress)
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Krisis lingkungan di Indonesia tidak lagi dapat dipahami sebagai persoalan teknis semata, karena deforestasi, kebakaran lahan gambut, pencemaran udara, sampah plastik, dan degradasi ekosistem telah berdampak langsung pada kesehatan, ekonomi, keadilan sosial, serta keberlanjutan hidup masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis landasan ekoteologis bagi tanggung jawab gereja, merumuskan bentuk keterlibatan gereja, dan menyusun strategi integrasi tanggung jawab ekologis ke dalam kehidupan kelembagaan gereja. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan. Data dikumpulkan melalui penelusuran artikel jurnal daring dan teks-teks Alkitab yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan analisis isi kualitatif melalui proses pengodean, kategorisasi, perbandingan, dan sintesis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa krisis lingkungan di Indonesia berakar pada paradigma antroposentris, eksploitasi sumber daya, pola konsumsi berlebihan, lemahnya tata kelola, serta rendahnya integrasi kesadaran ekologis dalam kehidupan keagamaan. Secara teologis, tanggung jawab gereja bertumpu pada pengakuan terhadap Allah sebagai Pencipta dan pemilik ciptaan, manusia sebagai penatalayan, serta gereja sebagai komunitas yang dipanggil menghadirkan kesaksian ekologis. Penelitian ini menghasilkan kerangka integratif yang memadukan empat dimensi, yaitu teologis-hermeneutis, formatif-liturgis, institusional-operasional, dan profetis-kolaboratif. Kerangka tersebut bergerak dari pembaruan pemahaman, pembentukan spiritualitas, perubahan tata kelola, hingga keterlibatan publik dan transformasi ekologis. Kerangka ini menegaskan kesesuaian antara pengakuan iman, pembentukan karakter, tata kelola kelembagaan, dan kesaksian gereja dalam ruang publik. Penelitian menyimpulkan bahwa tanggung jawab ekologis tidak boleh ditempatkan sebagai program tambahan, melainkan sebagai budaya gereja yang diwujudkan melalui pengajaran, liturgi, kebijakan, anggaran, pelayanan sosial, advokasi, dan kolaborasi. Dengan demikian, ekoteologi berfungsi sebagai landasan normatif sekaligus operasional bagi gereja dalam merespons krisis lingkungan secara konsisten, terukur, dan berkelanjutan.
Anugerah Yang Menghancurkan Perseteruan Dalam Rekonstruksi Teologi Perdamaian Paulus Berdasarkan Efesus 2:14-18 Dan Dialog Dengan SDG 16 Royke Kumowal; Sigit Widodo; James Andris Landele; Yeheskiel Matani
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 2 (2026): Juli 2026 -- (Publication in Progress)
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Konflik sosial, intoleransi, diskriminasi, dan ujaran kebencian menunjukkan bahwa perdamaian di Indonesia belum cukup dibangun melalui toleransi formal. Penelitian ini menelaah Efesus 2:14–18 untuk menjelaskan bagaimana anugerah Allah melalui salib Kristus menghancurkan perseteruan, mendamaikan manusia dengan Allah, dan membentuk satu tubuh. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan. Data dikumpulkan melalui dokumentasi terhadap Alkitab, artikel jurnal ilmiah, dan literatur teologi tentang teologi perdamaian Paulus, rekonsiliasi, konflik sosial, serta SDG 16, khususnya Target 16.1. Data dianalisis secara eksegetis, teologis, deskriptif, interpretatif, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendamaian soteriologis menjadi dasar kesatuan eklesiologis dan melahirkan tanggung jawab etis untuk menolak diskriminasi, superioritas identitas, pembalasan, dan kekerasan. Rekonstruksi ini menghasilkan konsep etika perdamaian anugerah yang bersifat Kristosentris, relasional, anti-diskriminasi, anti-retaliasi, transformatif, dan publik. SDG 16 ditempatkan sebagai ruang dialog kontekstual, bukan sumber teologi, sehingga perdamaian sosial tetap dibedakan dari Injil pendamaian. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil menghidupi perdamaian sebagai buah keselamatan melalui pendidikan perdamaian, mediasi konflik, perlindungan korban, dan penolakan ujaran kebencian. Dalam konteks masyarakat majemuk, konstruksi ini menjaga pemberitaan Injil sekaligus menegaskan tanggung jawab sosial gereja. Penelitian ini bertujuan merekonstruksi teologi perdamaian Paulus berdasarkan Efesus 2:14–18 dan merumuskan relevansinya bagi respons gereja terhadap kekerasan dalam dialog dengan SDG 16.