cover
Contact Name
Heliyanti Kalintabu
Contact Email
heliyantikalintabu@gmail.com
Phone
z=6285241319887
Journal Mail Official
heliyantikalintabu@iaknmanado.ac.id
Editorial Address
Jl. Bougenville, Tateli Satu, Minahasa, Sulawesi Utara, 95631.
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
DA'AT: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : -     EISSN : 27472159     DOI : https://doi.org/10.51667/djtk.v3i1.657
Core Subject : Religion,
Teologi Kristen sedangkan cakupannya adalah Sejarah dan Filsafat, Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk, Sosiologi agama, Sosio budaya yang semuanya terkait dengan teologi Kristen.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 67 Documents
MODERASI BERAGAMA SEBAGAI TANGGAPAN DISRUPSI ERA DIGITAL Kumowal, Royke Lantupa
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1739

Abstract

Salah satu aspek yang terpengaruh oleh disrupsi era digital adalah praktik keagamaan dan persepsi terhadap agama dalam masyarakat. Perkembangan teknologi telah mempengaruhi cara individu mempraktikkan agama, mengakses informasi keagamaan, dan berinteraksi dengan komunitas keagamaannya. Hal ini menghadirkan pertanyaan tentang bagaimana agama merespons disrupsi ini? dan bagaimana respons tersebut memengaruhi keseimbangan dan kesejahteraan spiritual umatnya? Penulis menggunakan metode penelitian studi kepustakaan untuk mengeksplorasi fenomena moderasi beragama sebagai tanggapan terhadap disrupsi di era digital. Metode ini memungkinkan penulis untuk mengumpulkan informasi dari berbagai sumber yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, laporan riset, dan sumber-sumber teoritis lainnya, untuk mendukung penulisan ini. Agama memandu individu dan masyarakat dalam menghadapi disrupsi era digital dengan menekankan etika teknologi, keadilan sosial, pengembangan karakter, kesejahteraan mental, inklusivitas, dan refleksi mendalam terhadap dampak teknologi pada nilai-nilai dan makna kehidupan. Moderasi beragama berdampak positif pada keseimbangan dan kesejahteraan spiritual dengan menciptakan lingkungan inklusif, harmonis, dan toleran. Ini mempromosikan dialog antaragama yang konstruktif, memperkuat nilai-nilai universal seperti kasih sayang dan keadilan, serta mendukung pertumbuhan individu dalam keyakinan mereka sendiri. Dalam era digital yang semakin maju, tantangan menjaga keragaman dan harmoni agama muncul di tengah transformasi fundamental kehidupan manusia. Disrupsi digital, seperti penyebaran pesan kebencian dan hoaks, telah mengubah lanskap sosial dan spiritual, memengaruhi praktik keagamaan dan persepsi agama. Moderasi beragama muncul sebagai respons efektif, menawarkan pendekatan inklusif untuk mengelola perbedaan keyakinan sambil memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual. Penelitian tentang moderasi beragama dalam era digital penting untuk memahami interaksi agama dan teknologi serta dampaknya terhadap individu dan masyarakat.
INJIL, BUDAYA DAN PANCASILA BAGI TRANSFORMASI SOSIAL MENURUT KAJIAN RICHARD SIWU SEBAGAI GAGASAN TEOLOGI PUBLIK INDONESIA Mawikere, Marde Christian Stenly; Hura, Sudiria; Mawikere, Jean Calvin Riedel
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1869

Abstract

This article examines the role of the Gospel, Minahasan culture, and Pancasila in Indonesia's social transformation, using Richard Siwu's contributions as a primary framework. The introduction highlights the relevance of these three elements in the context of societal modernization, particularly in Minahasa, Indonesia. Richard Siwu, through his integrated approach of theology, cultural studies, and sociology, depicts the complexity of interaction and mutual influence among Christianity, Minahasan indigenous traditions, and the national ideology of Pancasila. The research methodology employs a qualitative approach with content analysis to delve into the complex concepts within Siwu's works and other relevant literature. Findings indicate that integrating Christian values, local culture, and Pancasila principles has the potential to strengthen an inclusive national identity and promote positive social change in Indonesia. The conclusion emphasizes the analytical outcomes on how the interaction of these three elements can support social harmony and sustainable national development. Thus, this article contributes significantly to understanding the complex dynamics of religion, culture, and politics in Indonesia and their implications for future modern and inclusive development. Keywords: Gospel, Religion, Culture, Pancasila, Social Transformation
Membangun Identitas Budaya melalui Bahasa: Analisis Konstruksi Sosial Berger dan Luckmann dalam Cerita Menara Babel Kejadian 11: 1–9 Palar, Yolanda; Janis, Vinkan Anggita
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1895

Abstract

This research aims to describe the role of language in building social identity in the Tower of Babel narrative (Genesis 11: 1-9) using the analytical framework of Berger and Lucmann's (1966) social construction theory. The focus of this research is the description of human ambition to build a tower that can reach the sky which ultimately causes division and language diversity. Based on the analysis using Berger and Lucmann's social construction theory in Genesis 11: 1-9 shows that language can be a unifying tool, a builder as well as a destroyer and inhibitor of a nation's cultural identity. It can be said that language becomes the main tool in the process of forming cultural identity, both individual and collective. The analysis of the Tower of Babel story highlights the complexities in social and linguistic interactions that shape and reconstruct cultural meaning in the context of social construction theory.
Model Relasional Ciptaan dan Upaya Berteologi Ekologi di Desa Tabang Kabupaten Kepulauan Talaud Tombokan, Tifany; Berdame, Jekson; Manapode, Cicilia
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1902

Abstract

ABSTRACT The plastic waste crisis "haunts" the Talaud Islands Regency, including Tabang Village. Plastic waste not only affects the scenery but also diminishes the quality of fishermen's catches. The community's awareness of the inherent value of nature is believed to shape their attitudes towards the environment. Therefore, an appropriate perspective on creation is needed. This research aims to examine the impact of plastic waste in Tabang Village and identify the theological roots of these attitudes. The research employs a qualitative method designed to describe both natural and human-engineered phenomena, with an emphasis on the characteristics, quality, and relationships among existing activities. Considering the importance of nature in the lives of the Talaud community, the author proposes an understanding of ecotheology with a relational model on creation in an effort to develop an ecological theology in Tabang Village. This approach aims to foster a proper perspective and cultivate relevant attitudes towards God's creation among the community. ABSTRAK Krisis sampah plastik “menghantui” Kabupaten Kepulauan Talaud termasuk di Desa Tabang. Sampah plastik bukan hanya memengaruhi pemandangan, tetapi juga menurunkan kualitas hasil tangkapan nelayan. Kesadaran masyarakat terhadap nilai (value) yang dimiliki alam ditengarai ikut memproduksi sikap masyarakat terhadap alam. Untuk itu diperlukan cara pandang yang tepat terhadap alam ciptaan. Penelitian diarahkan untuk melihat dampak sampah plastik di desa Tabang dan menemukan akar persoalan sikap tersebut secara teologis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena baik alami maupun rekayasa manusia dengan penekanan pada karakteristik, kualitas dan hubungan di antara kegiatan yang ada. Mengingat pentingnya alam dalam kehidupan masyarakat Talaud, penulis mengusulkan pemahaman ekoteologi dengan model relasional ciptaan dalam upaya berteologi ekologi di Desa Tabang supaya masyarakat memiliki cara pandang yang tepat dan dapat mengembangkan sikap yang relevan berhadapan dengan alam ciptaan Tuhan.
KAJIAN TEOLOGIS TENTANG TRADISI MABARIS’SA DALAM MENINGKATKAN SOLIDARITAS DI GERMITA SION KALONGAN Tulis, Alex Lodweik Krisye; Kalintabu, Heliyanti
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 5 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v5i2.1903

Abstract

Tujuan penulisan ini adalah untuk menganalisa tradisi Mabaris’sa di GERMITA Sion Kalongan. Serta mendeskripsikan nilai teologis tradisi Mabaris’sa dalam meningkatkan rasa solidaritas di GERMITA Sion Kalongan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif menguraikan secara deskriptif, dengan menggunakan pendekatan etnografi realis yang dilaksanakan di jemaat GERMITA Sion Kalongan Wilayah 12 Kalongan 2024. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan studi dokumen. Dari hasil analisis dan interprestasi data diperoleh indikasi bahwa pertama persepsi yang dimiliki oleh anggota jemaat mengenai tradisi Mabaris’sa sama, jemaat sudah memahami akan tradisi Mabaris’sa. Kedua kajian teologis tentang tradisi Mabaris’sa dalam meningkatkan solidaritas ini pun membuktikan bahwa tradisi dan agama memanglah merupakan suatu hal yang saling berhubungan. Kesolidaritasan Kristiani terwujud dalam kemurahan hati, pengampunan, rekonsialisasi, dan persahabatan. Ini telihat ketika tegur sapa satu diantara lain menjadikan tradisi Mabaris’sa lebih bermakna secara teologis sebab semua kalangan sama-sama menjadi satu kesatuan dalam tradisi Mabaris’sa. Dari hasil temuan tersebut maka direkomendasikan untuk gereja agar bisa mengupayakan untuk memberikan perhatian secara khusus pada tradisi ini, mulai dari meningkatkan pemahaman jemaat, hingga membuat aturan-aturan khusus yang tegas dalam pelaksanaan tradisi Mabaris’sa dalam perayaan gerejawi. Sehingga dampak dari tradisi ini memanglah jelas mampu meningkatkan solidaritas diantara jemaat sehingga mencerminkan perayaan Kristen yang sesungguhnya dan berkenan dihadapan Tuhan.
MENGUAK AGENDA KOLONIAL DALAM PERINTAH PEMBANTAIAN ULANGAN 7:1-11 Kawengian, Owen Brian
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2021

Abstract

It is undeniable that the Old Testament in the Christian Bible contains the extremely violent narratives such as slaughter and genocide. One of them is Deuteronomy 7:1-11, which has been the subject of discussion and debate for a long time among scholars because of the nature of the narrative, which contradicts the image of a merciful God in Christian faith. More terribly, the text, and other similar texts, had been used to legitimize colonization and genocide of native people by European colonizers in the 18th-19th centuries. As a text that has been studied and discussed frequently, research on the extermination command in Deuteronomy 7 has often been carried out. However, what differentiates this article from another is the use of a postcolonial criticism that scrutinizes the agenda of colonialism not only in the narrative within the text but also in the text's production process. As a result, this article offers two important key points as an alternative way to interpret the narrative of the massacre command in the text.
KEANGKUHAN BERUJUNG KEMATIAN : HERMENEUTIK KRITIK HISTORIS TENTANG KISAH HAMAN DALAM ESTER 7:1-10 Kukus, Merline Mesti; Tawaris, Argenliano Ferdinandus
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2037

Abstract

The Jews in Persia suffered endlessly as a result of Haman's regulations. The compound word "suffering" here refers to the Jews' bodily and spiritual characteristics. Captured members of a second-class society, they lack the strength to fight for their own fate. Their lives are totally dependent on what God accomplishes. In addition to preventing the destruction of the Jewish country, Esther's liberation battle defended the rights of the weak and defenseless, the oppressed, and the second-class society. Finally, Haman, who had planned to destroy the Jews, was present at the second banquet of King Ahasuerus and Queen Esther. At first, Esther said nothing, but finally revealed that she was Jewish and asked the king to save her and her people from the threat of Haman. King Ahasuerus became angry and decided to punish Haman in the way he had planned for Mordecai, one of his uncles. This event marks a turning point in the story, where the threat to the Jews begins to be overcome and Haman accepts the consequences of his actions. To understand the text, the author uses the hermeneutic method of historical criticism and then studies it theologically in the Book of Esther 7:1-10, which ultimately leads to the power of God.
MENYATU DENGAN ALAM: MEMBANGUN KESADARAN EKO PASTORAL DALAM LINGKUP KELUARGA Raintung, Agnes Beatrix Jackline; Dolongseda, Rachel Clarisa; barahama, grichela; Makanoneng, Lira; Onsu, Julio
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2049

Abstract

Artikel ini membahas peran keluarga dalam meningkatkan kesadaran ekologis. Penelitian ini melibatkan observasi, wawancara, dan dokumentasi di Desa Tateli sebagai bagian dari pendekatan kualitatif deskriptif-analitik. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana keluarga dapat berkontribusi dalam menjaga keseimbangan lingkungan melalui praktik-praktik sederhana namun berdampak besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga berperan strategis dalam mendukung kelestarian lingkungan dengan menerapkan prinsip reduce, reuse, dan recycle. Dalam kehidupan sehari-hari, kebiasaan seperti mengurangi penggunaan plastik, memanfaatkan kembali barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang limbah rumah tangga menjadi langkah nyata yang dapat diterapkan oleh keluarga. Tantangan utamanya adalah kurangnya pengetahuan tentang ekologis dan keterbatasan akses ke fasilitas pendukung, seperti tempat pengolahan sampah dan edukasi lingkungan. Sebagai institusi keagamaan, gereja membantu keluarga belajar melalui pendidikan yang didasarkan pada pendekatan ekopastoral. Dengan adanya pendampingan dari gereja, keluarga lebih mudah memahami pentingnya merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual. Keluarga, gereja, dan komunitas lokal dapat bekerja sama untuk mempercepat perubahan perilaku ramah lingkungan. Dengan cara ini, keluarga dapat berkontribusi secara berkelanjutan dalam menjaga kelestarian lingkungan.
MERANGKAI KEBERSAMAAN DITENGAH PERBEDAAN: ANALISIS PERAN PEMIMPIN AGAMA DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA DI MENGKENDEK, TANA TORAJA Kelana, Fajar; Matasak, Syukur; Wagiu, Meily Meiny; Silaban, Tri Oktavia Hartati; Berdame, Jekson
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2113

Abstract

Keunikan Indonesia yang majemuk dalam segala bidang termasuk kemajemukan agama membawa dampak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakatnya. Dampak tersebut misalnya munculnya berbagai permasalahan intoleran di antara umat beragama. Menghadapi situasi tersebut, maka salah satu upaya yang sedang gencar dikumandangkan oleh pemerintah adalah Moderasi Beragama yang mengajak masyarakat untuk saling menghargai dalam keberbedaan yang ada. Peranan berbagai pihak sangat dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan dari moderasi beragama tersebut termasuk dari tokoh-tokoh keagamaan. Oleh karena itu, tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan mengenai peran pemimpin agama Toraja dalam membangun Moderasi Beragama secara khusus kepada pemimpin agama di Mengkendek, Tana Toraja di mana dari hasil analisis peran pemimpin agama tersebut diharapkan dapat ditemukan upaya-upaya yang berguna dalam meminimalizir masalah intoleransi di tengah masyarakat. Adapun metode penelitian yang digunakan ialah metode penelitian kualitatif yang mengumpulkan data melalui wawancara dan pengamatan. Hasilnya memperlihatkan bahwa pemimpin agama di Mengkendek, Tana Toraja sangat berperan dalam menciptakan suasana moderat di dalam masyarakat melalui upayanya menyadari tugas dan tanggung jawabnya, mengajarkan sikap toleransi kepada masyarakat, membangun dialog antar umat beragama dan memikirkan program dan kerja sama yang dapat melibatkan umat beragama.
BUKAN BERHALA! TINJAUAN TEOLOGI DOGMATIS-MISTIK TERHADAP PRAKTIK MA’NENE SUKU TORAJA Paembongan, Raka Saden Priya L.; Simangunsong, Dion Carlos
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Program Studi Teologi, Fakultas Teologi, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2127

Abstract

English This paper will examine and discover the theological-dogmatic understanding of the practice of Ma' Nene' from the Toraja tribe. The research method is qualitative with a literature study approach through literature sources related to Ma' Nene', and dogmatic sources on respect for ancestors from several Christian theologies to analyze this tradition. The results show that the practice of Ma' Nene' in the Toraja tribe is not idol worship, but a practice to remember and honor ancestors as a form of love for ancestors and God. The indication that there are idolatrous practices in this rite does not mean that we want to negate this rite. Still, there needs to be a constructive interpretation carried out by local churches to the community, especially the Toraja community through the frame of dogmatic-mystical theology.Keywords: Ma' Nene', Toraja, Tribute, Idolatry, Mystic Theology Indonesia Tulisan ini akan menelisik dan menemukan paham teologis-dogmatis praktik Ma’ Nene’ dari suku Toraja. Metode penelitian yang dilakukan adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka melalui sumber-sumber literatur terkait ma’ nene’, dan sumber-sumber dogmatis tentang penghormatan terhadap leluhur dari beberapa teologi Kristen untuk menganalisis tradisi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik Ma’ Nene’ di suku Toraja bukanlah penyembahan terhadap hal yang berhala, melainkan praktek untuk mengenang dan menghormati leluhur sebagai wujud cinta terhadap leluhur, juga mencintai Allah. Terindikasinya ada praktik penyembahan berhala dalam ritus ini, bukan berarti ingin meniadakan ritus ini, tetapi perlu adanya pemaknaan konstruktif yang dilakukan oleh gereja-gereja lokal kepada masyarakat, terkhususnya masyarakat Toraja melalui bingkai teologi dogmatis-mistik.Kata Kunci: Ma’ Nene’, Toraja, Penghormatan, Berhala, Teologi Mistik