cover
Contact Name
Heliyanti Kalintabu
Contact Email
heliyantikalintabu@gmail.com
Phone
z=6285241319887
Journal Mail Official
heliyantikalintabu@iaknmanado.ac.id
Editorial Address
Jl. Bougenville, Tateli Satu, Minahasa, Sulawesi Utara, 95631.
Location
Kab. minahasa,
Sulawesi utara
INDONESIA
DA'AT: Jurnal Teologi Kristen
ISSN : -     EISSN : 27472159     DOI : https://doi.org/10.51667/djtk.v3i1.657
Core Subject : Religion,
Teologi Kristen sedangkan cakupannya adalah Sejarah dan Filsafat, Pendidikan dalam Masyarakat Majemuk, Sosiologi agama, Sosio budaya yang semuanya terkait dengan teologi Kristen.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 72 Documents
ALTRUISTIK PENGORBANAN YESUS: SUATU PENDEKATAN KRITIS SERTA IMPLEMENTASI GEREJA MASA KINI David Rade Simanjuntak; Ronaldo Solang
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i1.2238

Abstract

Pengorbanan Yesus merupakan sutau karya penyelamatan-Nya dalam membeaskan manusia dari belenggu dosa, dan mengarahkan manusia pada ekspresi keberimanan mereka kepada Dia. Pengorbanan Yesus bukan hanya dilihat sebagai penebusan melainkan dilihat juga sebagai tindakan altruistik-Nya kepada manusia ciptaan-Nya sebab karna kasih-Nya yang begitu besar ia berkorban dengan tulus kepada manusia. Altruistik mengajarkan bagaimana empati, kepedulian Yesus kepada manusia dalam hal ini Ia lebih mementingkan menyelamatkan umatnya tanpa syarat. Dalam hal ini sekalipun manusia bersalah, Ia tetap peduli dan melakukan karya penyelamatan-Nya. Gereja masa kini perlu memaknai dan mengaplikasikan bagaimana altruistik dalam pengorbanan Yesus di wujud nyatakan lewat kasih, empati dan solidaritasnya. Gereja perlu melakukan misi ini baik secara internal gereja maupun eksternal gereja dengan saling memperhatikan satu dengan yang lain; saling membantu satu dengan yang lain sebagai wujud dari altruistik pengorbanan Yesus. Tujuan dari penulisan ini: dalam pengajaran dan pelayanannya, gereja tidak terjebak pada tindakan retoris semata melainkan wajib terjun dalam praksis melaksanakan altruistik itu terhadap jemaat dan sesama ciptaan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kepustakaan, sebab karenanya boleh mengmpulkan berbagai macam literatur-literatur yang relevan dengan pengkajian ini.
UNDIED LOVE: THE DIALOGUE BETWEEN I CORINTHIANS 11:23-25 WITH GRAVES IN SANGIHE THROUGH THE LENS OF THEOLOGY OF REMEMBRANCE Ryanto Adilang; Andrea Elfata Ratulangi
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2327

Abstract

It should be understood that everything always comes with a risk. This applies to everything, from the simple to the most complex. Risk is even present in the effort to love and be loved by someone. The most painful risk of loving is when death comes to pick you up. The Sangihe community seems to have its own way to deal with this. However, this method has drawn pros and cons from many circles, namely by choosing an unusual location for a grave (near one's own residence). This study uses qualitative research methods and Theology of Remembrance theory as the main "surgical section". Through Theology of Remembrance, the researcher examines the Bible text from I Corinthians 11:23-25 ​​and the customs of the Sangihe community in choosing a burial location. After that, these two studies were dialogued to find the strategies of Paul and the Sangihe community in an effort to remember honestly and make peace with the past. This research is expected to reveal the secret behind the habits of the Sangihe people when choosing a burial location and the philosophy behind the habit. The habit of making a grave near the residence/house is an effort by the Sangihe people to remember the past peacefully, both good and bad memories.
“SITOU TIMOU TUMOU TOU”: MISI PERDAMAIAN SEBAGAI PIONIR MERETAS KEKERASAN DI MANADO Jekson Berdame; Melki Tarumampen; Meily Meiny Wagiu; Remalia Putri Matsino; Gledis Elisabeth Brigita Djarang
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2417

Abstract

Kemajuan teknologi dan merebaknya perkembangan globalisasi yang menghantar ke dalam dimensi kehidupan yang serba mudah adalah salah satu kemajuan positif yang dapat terlihat, namun dalam dimensi lain ada hal-hal negative yang timbul akibat perkembangan dunia yang pesat ini. Kekerasan dan pemberontakkan terjadi di mana-mana karena tuntutan hidup yang semakin beragam. Bentuk-bentuk kekerasan fisik, psikis, emosional, seksual sudah menjadi hal yang sering didengar dan terjadi dalam konteks hidup orang-orang belakangan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menguraikan falsafah orang manado dalam kaitannya dengan merosotnya kekerasan di mana-mana. Metode penelitian dalam artikel ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi melalui studi teologis. Penelitian ini juga menggunakan sumber primer kajian pustaka seperti buku, jurnal dan sumber sekunder seperti Facebook, Youtube, Instagram dan lain sebagainya.  Hasil penelitian ini dapat menemukan eksistensi falsafah orang Manado lewat teologi kasih dalam konteks kekristenan di tengah-tengah gemparnya kekerasan dalam berbagai lini kehidupan, serta menawarkan bentuk refleksi praktis bagi masyarakat untuk membangun budaya damai dan mendorong penyelesaian konflik yang inklusif dan saling menghargai.
KRITIK HISTORIS TERHADAP YERUSALEM BARU DALAM WAHYU 21:9-27 SERTA RELEVANSINYA BAGI JEMAAT GERMITA BETLEHEM KABARUAN Kesya Taarae; Frety Cassia Udang; Heliyanti Kalintabu
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2452

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merekonstruksi makna Yerusalem Baru dalam Wahyu 21:9-27 dalam pemahaman jemaat khususnya di Jemaat Germita Betlehem Kabaruan. Hal ini dianggap penting karena teks yang ada dalam Alkitab ditulis sesuai dengan konteks penerima teks yang ada saat itu serta dipengaruhi dengan kebiasaan sehari-hari. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penafsiran kritik historis, yang dilaksanakan di Jemaat Germita Betlehem Kabaruan tepatnya di Desa Kabaruan Timur, Kecamatan Kabaruan, Kabupaten Kepulauan Talaud, Provinsi Sulawesi Utara. Data yang dikumpulkan melalui beberapa sumber antara lain data observasi, data wawancara dan dokumentasi dan data-data lainnya seperti Alkitab dan juga literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian ini. Dari hasil analisis dan interpretasi maka diperoleh indikasi bahwa pertama makna Yerusalem Baru dalam teks Wahyu 21:9-27 bukanlah kota fisik, surgawi atau tempat pasca kematian, melainkan simbol kehadiran Allah yang aktif di tengah-tengah umat-Nya sebagai wujud relasi ilahi yang kudus, inklusif, dan transformatif. Kedua, Jemaat Germita Betlehem Kabaruan memahamai Yerusalem Baru sebagai tempat pasca kematian atau sinonim dari surga. Minimnya pembinaan teologis mengenai eskatologis menjadi salah satu penyebab perbedaan pemahaman terhadap makna Yerusalem Baru. Oleh sebab itu, penelitian ini menegaskan pentingnya merekonstruksi kembali makna Yerusalem Baru serta perlunya pendidikan teologis yang intensif di lingkungan gereja untuk membangun pemahaman iman yang lebih utuh dan relevan bagi kehidupan umat.
ANALISIS TINDAK TUTUR FRASA ’PENUH DENGAN ROH KUDUS’ DALAM KISAH PARA RASUL 6–7: STUDI PRAGMATIK TERHADAP KONSTRUKSI OTORITAS SPIRITUAL STEFANUS Fiona Isaura Talifuddin; Yolanda Nany Palar
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2455

Abstract

The book of Acts emphasises the active role of the Holy Spirit in the development of the early church. One of the phrases that is explicitly repeated in the narrative is the phrase "Full of the Holy Spirit", especially in the narrative of the character Stephen in Acts 6-7. This study aims to analyse the function of the phrase as part of the author's speech acts in shaping Stephen's character and spiritual authority. Using a qualitative method and a pragmatic linguistic approach, particularly Austin and Searle's theories of speech acts (locution, illocution, and perlocution), this study will explore how the phrase functions not only as a literal description, but also as the author's communicative and rhetorical strategy. The research shows that the repetition of the phrase strategically constructs the image of Stephen as a figure who acts on the basis of divine authority, while leading historical and contemporary readers to reinterpret the source of true spiritual authority. Thus, this study shows how the choice of diction in the Bible has played an active role in shaping the reader's view of the character and the narrative dynamics of the text.
KEDAULATAN ALLAH DALAM KARYA PEMILIHAN OLEH KASIH KARUNIA-NYA: SEBUAH KAJIAN BIBLIKA EFESUS 1:4-6 Marlin, Jeny; Simanjuntak, Hotman Parulian; Kumowal, Royke Lantupa
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2458

Abstract

The sovereignty of God is the main principle that underlies all actions and works of God, based on His grace. One tangible form of God's loving sovereignty is His election of humanity to receive salvation through Jesus Christ. The issue many believers face is that they have not fully understood the meaning and implications of election. In fact, awareness of this truth can foster a deep sense of gratitude and recognition of the greatness of God's love and grace in the life of every believer. This research aims to explain that election is not the result of human effort or will, but rather originates from the will of God Himself, who is sovereign and full of grace. The method used is descriptive through literature study and exegetical-based biblical research. A review of various previous studies shows a narrow understanding of God's sovereignty. The novelty of this article lies in the exegetical results of Ephesians 1:4-6, which have not been widely discussed explicitly in current academic literature. The findings indicate that God chose His people even before the world was created. This means that God's decision to save certain individuals has been established since eternity, based solely on grace. In conclusion, understanding this divine election is crucial in Christian faith, as it shows that salvation entirely comes from God, not from human ability or goodness.
KEKERASAN ATAS NAMA TUHAN: POLITIK IDENTITAS DAN RESPON TEOLOGI KONTEKSTUAL DI INDONESIA Nikodemus Asbanu; Jacob Messakh
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v6i2.2461

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi realitas sosial dalam kehidupan bermasyarakat berdasarkan masalah-masalah aktual yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode diskriptif kualitatif yang didukung dengan metode historis atau sejarah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penalaran bercorak budaya yang dibingkai dalam nuansa keagamaan meskipun menolak budaya bangsa sendiri merupakan semangat pemberontakan. Dan intinya pada kematian manusia dan anak bangsa ini dengan sia-sia. Sebab agama dipakai sebagai landasan bagi perbuatan membunuh yang lain (liyan). Konkritnya, penalaran tersebut merupakan bagian dari pencarian identitas yang melompat dari ketiadaan menuju sebuah identitas yang dianggap dan diyakini menarik untuk dilakukan. Pada kenyataannya, keadilan Allah dan hak-Nya untuk menjadi satu-satunya yang berhak menentukan hidup matinya seseorang telah dirampas sedemikian rupa demi memuaskan nafsu saat yang telah dibutakan oleh ilah jaman ini. Simpulan yang dapat menjadi pembelajaran adalah jangan sekali-kali menghapus anugerah kemajemukan dalam kehidupan bangsa ini dan menggantikannya dengan syariat agamawi. Jika hal itu dilakukan maka penderitaan dan kemiskinan bahkan selamanya akan terulang kembali.
CONTEXTUALISING CHRISTIAN THEOLOGY IN THE POSTMODERN ERA: RESPONDING TO THE CHALLENGES OF THE DIGITAL WORLD WITH GOSPEL INTEGRITY Marde Christian Stenly Mawikere; Sudiria Hura; Jean Calvin Riedel Mawikere; Daniella Beauty Melanesia Mawikere
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.1991

Abstract

Christian theology in the postmodern era faces significant challenges driven by relativism, pluralism, and secularism, as well as the rapid advancement of digital technology. This study aims to examine the contextualisation of Christian theology in response to the dynamics of popular culture, focusing on the application of relevant theology in the virtual world without compromising the principles of the Gospel. The method employed is content analysis of both classical and contemporary theological literature. The findings of the research indicate that digital technology can be utilised by the Church to build an inclusive and transformative faith community while maintaining the integrity of Christian teachings. This study reveals the importance of contextualising theology in the digital realm, which not only addresses the challenges of the present age but also responds to the spiritual needs of postmodern society, creating space for a more relevant, Christ-centred Church mission.
ANALISIS SEMANTIK TERHADAP KATA 'QADOSH' DALAM HUKUM TAURAT DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KONSEP KEKUDUSAN DALAM PERJANJIAN BARU Royke Lantupa Kumowal; James Andris Landele; Heliyanti Kalintabu
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2276

Abstract

Penelitian ini menganalisis perkembangan makna qadosh (קָדוֹשׁ) dalam hukum Taurat dan implikasinya terhadap konsep kekudusan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, qadosh digunakan dalam berbagai konteks, termasuk kekudusan Tuhan, tempat ibadah, umat Israel, dan hukum ritual. Pergeseran konsep ini terlihat dalam Perjanjian Baru, di mana kekudusan (hagios, ἅγιος) tidak lagi berfokus pada status hukum atau ritual, tetapi menjadi bagian dari identitas spiritual orang percaya melalui iman kepada Kristus. Penelitian ini menggunakan pendekatan semantik, leksikal, dan taksonomi untuk mengklasifikasikan makna qadosh dalam berbagai kategori teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekudusan dalam Perjanjian Lama menekankan pemisahan dari hal yang najis secara hukum dan ritual, sedangkan dalam Perjanjian Baru, kekudusan dipahami sebagai transformasi etis dan spiritual yang diberikan melalui anugerah keselamatan dalam Kristus. Temuan ini memberikan perspektif baru dalam studi biblikal dengan mengisi kesenjangan penelitian sebelumnya yang lebih banyak menyoroti aspek teologis tanpa pendekatan linguistik yang mendalam.
RELEVANSI CROSS TEXTUAL HERMENEUTICS SEBAGAI METODE HERMENEUTIK ALKITAB UNTUK MEMBANGUN TEOLOGI KONTEKSTUAL DI ASIA Ayub Toding; Tri Oktavia Hartati Silaban
DA'AT : Jurnal Teologi Kristen Vol. 7 No. 1 (2026): Januari 2026
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/djtk.v7i1.2319

Abstract

Asia dikenal dengan keragaman konteks multidimensional. Itulah keunikan Asia yang membedakannya dengan benua yang lain. Injil (Alkitab) yang datang di Asia sudah dalam bungkusan budaya dan teologi Barat karena dibawa oleh misionaris Barat. Dalam balutan budaya dan teologi Barat, ada potensi Injil tidak menjadi relevan dengan keragaman konteks multidimensional Asia. Hal itu disebabkan oleh budaya dan tradisi religius lokalitas Asia yang sudah mengakar kuat dalam diri orang Asia. Karena itu dibutuhkan pendekatan penafsiran yang lebih relevan menjembatani pesan Injil dengan konteks Asia. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan cross textual hermeneutics sebagai sebuah metode mendialogkan pesan Injil dengan konteks Asia pada posisi sejajar. Berdasarkan kajian dalam tulisan ini, memang diakui bahwa pendekatan cross textual hermeneutics cukup relevan sebagai metode membaca Alkitab untuk membangun teologi kontekstual di Asia.