cover
Contact Name
Yusak Noven Susanto
Contact Email
yusaknoven7@gmail.com
Phone
+6282244739479
Journal Mail Official
yusaknoven7@gmail.com
Editorial Address
Jl. Cempaka, No. 48, Kec. Gebang, Kel. Patrang, Kab. Jember Kode Pos: 68117
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
ALUCIO DEI
ISSN : -     EISSN : 27162931     DOI : https://doi.org/10.55962/aluciodei.v6i1.53
Core Subject : Religion,
ALUCIO DEI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani dengan nomor ISSN 2716-2931 (online) diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal Jember. Tujuan dari penerbitan jurnal ini adalah untuk mempublikasikan hasil kajian ilmiah dan penelitian dalam bidang ilmu Teologi Kristen. ALUCIO DEI menerima artikel disiplin ilmu Teologi Kristen. Artikel yang dikirimkan haruslah belum pernah atau tidak sedang dalam proses dimuat dalam jurnal lainnya. Artikel yang masuk harus sesuai dengan petunjuk penulisan atau format yang telah ditetapkan. Editor akan menolak artikel yang tidak memenuhi persyaratan tanpa proses lebih lanjut. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya oleh reviewer melalui proses blind-review. ALUCIO DEI terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Januari dan Juni
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 65 Documents
PEMAHAMAN DOA YESUS MENURUT KALLISTOS WARE: MAKNA, PRAKTIK, DAN PENGARUHNYA DALAM KEHIDUPAN SPIRITUAL Harefa, Heppy Agustina; Harefa, Yaaro
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.153

Abstract

Artikel ini adalah sebuah ulasan pandangan Kallistos Ware tentang doa puja Yesus. Penulis menerapkan metode study literatur dengan landasan buku Doa Yesus oleh Kallistos Ware yang didukung oleh pandangan penulis lain dari beberapa jurnal. Dari beberapa pandangan tentang arti doa yang ditemukan penulis, pandangan Kallistos Ware adalah kesempurnaannya. Kallistos Ware menegaskan bahwa doa bukan hanya sekedar menyatakan permohonan kepada Tuhan ketika dalam keadaan mendesak. Pertama, doa Yesus merupakan doa berkomunikasi kepada Tuhan, setiap saat secara berulang-ulang dengan seluruh kerendahan hati di hadapan Tuhan. Kedua, Doa Yesus merupakan doa pertobatan kepada Tuhan baik secara pribadi maupun kelompok atau bersama, dimana pikiran dan nous kita telah di penuhi dengan kejahatan. Ketiga, Doa Yesus merupakan doa yang menciptakan kehadiran Allah sehingga dapat melihat cahaya ilahi dan mencapai doa batin yang sesungguhnya. Ketiga hal ini bertujuan untuk menjelaskan secara lengkap arti doa Yesus dari Kallistos Ware.
PENGARUH TELADAN KEPEMIMPINAN YESUS BERDASARKAN MATIUS 20:25-28 TERHADAP MAHASISWA SEKOLAH TINGGI TEOLOGI DUTA PANISAL JEMBER Lahagu, Yosafati; Sugiyarto, Eko
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.154

Abstract

Penelitian dalam skripsi ini merupakan suatu analisis tentang seberapa besar Pengaruh Teladan Kepemimpinan Yesus Berdasarkan Matius 20:25-28 Terhadapap Mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal Jember. Dengan rumusan masalah tentang Apa yang di maksud Teladan Kepemimpian Yesus Berdasarkan Matius 20:25-28, bagaimana Teladan Kepemimpinan Di Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal Jember, dan apa Pengaruh Teladan Kepemimpinan Yesus Di Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal Jember. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apa yang di maksud Teladan Kepemimpinan Yesus Berdasarkan Matius 20:25-28, untuk mengetahui bagaimana teladan kepemimpinan di sekolah tinggi teologi duta panisal, dan untuk mengetahui pengaruh Teladan Kepemimpian Yesus Di Sekolah Tinggi Duta Panisal. Kata Kunci : Teladan kepemimpan Yesus
PENTINGNYA PEMAHAMAN AJARAN GERAKAN ZAMAN BARU TERHADAP PEMAHAMAN JEMAAT DI GSJPDI VICTORY PRAJEKAN MENURUT 1 YOHANES 5 : 19-21 Natalia, Yosefin; Mintodihardjo, Subagio; Susanto, Yusak Noven
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.161

Abstract

In today's postmodern era, the powerful emergence of the New Age Movement (NAM) is unmistakable. This research seeks to delve deeper into the phenomenon of NAM within the congregational context of GSJPDI Victory Prajekan. Employing a descriptive qualitative approach, the study gathered data through observation, in-depth interviews, and documentation, revealing NAM as a complex and influential force in modern society. While NAM offers numerous benefits and incorporates spiritual and religious elements from various traditions neutrally and flexibly, it permeates all aspects of human life without seeming to contradict the Bible. A thorough analysis of 1 John 5:19-21 uncovers parallels between NAM teachings and historical heresies, particularly in spiritual practices at odds with the Christian faith, such as yoga. This research underscores the crucial need for a deep understanding of the Bible to navigate the challenges of modern spirituality within the congregation. The lack of such knowledge can lead the congregation astray, embracing practices incompatible with their Christian faith. Consequently, the church must prioritize comprehensive biblical education to equip the congregation to effectively counter NAM's influence. Keyword: GZB; New Age Movement; 1 John 5:19-21; Spirituality; Yoga; Mysticism.
HARMONI TEOLOGIS: COVENANT, TOTAL DEPRAVITY, DAN KEHIDUPAN ROHANI DALAM PERSPEKTIF IBRANI 13:20-21 Purwonugroho, Daniel Pesah
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.166

Abstract

Kovenan adalah sebuah perjanjian yang mengikat antara Allah dengan manusia yang ternyatakan dalam Alkitab. Ketaatan manusia menjadi syarat utama terjalinnya perjanjian antara Allah dengan manusia. Namun, manusia mengalami total depravity karena dosa dan kondisi tersebut membuat manusia tidak memiliki kemampuan apapun untuk merespon Allah dan perjanjian Allah. Kejatuhan manusia membuat manusia rentan murka Allah. Konsep kovenan dan total depravity ini dapat diharmoniskan dalam perspektif Ibrani 13:20-21. Ibrani 13:20-21 menjelaskan tentang karya Yesus Kristus yang memulai sebuah perjanjian kekal yang baru. Darah Yesus menjadi jaminan akan perjanjian kekal yang baru tersebut. Karya Yesus Kristus di dalam Ibrani 13:20-21 membawa sebuah implikasi rohani yang positif bagi umat Allah. Melalui pendekatan kualitatif., penulis akan menguraikan tentang covenant, total depravity dan mengharmoniskan konsep tersebut melalui perspektif Ibrani 13:20-21. Penulis menyatakan bahwa Ibrani 13:20-21 mengharmoniskan antara covenan serta total depravity melalui karya penebusan Yesus Kristus. Karya penebusan Yesus Kristus menjadi pemenuhan perjanjian yang lama dan mengawali perjanjian baru serta membawa transformasi bagi umat Allah.
TUGAS GEMBALA SEBAGAI TELADAN DALAM FIGUR KEPEMIMPINAN MASA KINI MENURUT 2 TIMOTIUS 2:1-7 Simbolon, Bostan Rejeki; Baskoro, Paulus Kunto; Saputro, Anon Dwi
Alucio Dei Vol 9 No 1 (2025): Alucio Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i1.167

Abstract

Pentingnya sebagai pemimpin di dalam gereja untuk melahirkan pemimpin yang baru agar menjangkau lebih luas dan mendapatkan hasil yang lebih banyak lagi, Penulis akan memberikan penjelasan bagaimana Paulus mendidik seorang anak muda yang bernama Timotius untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai seorang pemimpin terhadap jemaat, menurut 2 Timotius 2:1-7. Paulus memberikan keteladanan yang baik terhadap dalam mengajar dan menghadapi masalah dengan mengandalkan Tuhan Yesus dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri dan terus melakukannya dengan setia. Yesus menjadi teladan yang paling utama mengajarkan kebenaran Firman Allah memberitakan Injil dan kehidupan sosial Metode penulisan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Tujuan dari penelitian ini menjelaskan prinsip-prinsip sebagai pemimpin dan menjadi gembala yang benar dalam kehidupan saat ini dengan kajian dari prinsip-prinsip dalam 2 Timtoius 2:1-7, sehingga menghasilkan karya penting dalam sebuah penggembalaan untuk memunculkan pemimpin baru
RELEVANSI FILIPI 2:1-11 BAGI GEREJA DALAM MEMBANGUN KESATUAN Giawa, Suarman; Halawa, Iman Kristina
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.181

Abstract

Perpecahan sering kali sulit diatasi oleh karena seorang pemimpin yang cerdas, meski memiliki pandangan teologi yang salah, karakter yang buruk namun memiliki kemampuan sosial yang baik, bisa menyebabkan perpecahan menjadi besar. Paulus mendorong jemaat untuk hidup dalam satu kasih, satu tujuan, dan satu pikiran sebagai wujud nyata dari persekutuan yang didasarkan pada pengalaman bersama akan kasih Kristus dan kehadiran Roh Kudus. Kesatuan yang dimaksud tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga spiritual dan relasional, yang diwujudkan melalui sikap rendah hati, saling mengutamakan, dan teladan hidup Yesus Kristus yang rela mengosongkan diri dan menjadi hamba. Ajaran Paulus ini tetap relevan dan menjadi fondasi untuk membangun komunitas iman yang kuat, harmonis, dan mencerminkan kasih Kristus. Tulisan ini bertujuan untuk menggali nilai-nilai teologis dan praktis dari Filipi 2:1-11 serta menguraikan implikasinya bagi pembentukan kesatuan gereja di tengah keberagaman umat.
REORIENTASI PEMAHAMAN TEOLOGIS DAN PRAKTIS TERHADAP "PILAR MENDIDIK JEMAAT": ANALISIS KONTEKSTUALISASI 2 TIMOTIUS 3:15-16 DALAM DINAMIKA PERAN INSTITUSI GEREJA Iskandar; Nasrul; Yuliantono Adi, Didit
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.182

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi reorientasi pemahaman teologis dan praktis terhadap konsep "pilar mendidik jemaat" dengan menganalisis kontekstualisasi 2 Timotius 3:15-17 dalam dinamika peran institusi Gereja. Gereja berfungsi tidak hanya sebagai organisasi, tetapi juga sebagai komunitas yang menghimpun orang-orang percaya untuk mengikuti perintah Yesus dalam Matius 28:18-20, yang mengharuskan setiap jemaat untuk menjadi murid Kristus. Proses pendidikan dalam Gereja menjadi penting untuk mendewasakan iman jemaat melalui pengajaran doktrin iman Kristen. Mendidik bertujuan membawa perubahan baik secara spiritual maupun karakter, sehingga jemaat dapat bertumbuh dan berakar di dalam Tuhan Yesus serta mampu membagikan iman mereka kepada orang lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran institusi Gereja dalam pendidikan jemaat, Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memberikan rekomendasi praktis bagi gereja dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan yang dapat membekali jemaat dengan pengetahuan dan karakter Kristen yang lebih kuat. Penelitian ini menggunakan metode pustaka dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, menekankan bahwa untuk mencapai efektivitas dalam mendidik jemaat, gereja perlu merencanakan program pendidikan yang baik dan berbasis pada kebutuhan realitas jemaat saat ini. Dengan merujuk pada 2 Timotius 3:15-17 yang menggambarkan manfaat Kitab Suci dalam mengajar, menyatakan kesalahan, dan mendidik orang dalam kebenaran. 
DARI MUSA KE MAXWELL: MEMBANGUN KEPEMIMPINAN GEREJA MELALUI PRINSIP DELEGASI ALKITABIAH DAN TEORI MODERN Yustinus
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.183

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis prinsip delegasi dalam Keluaran 18:13–24, mengkaji keterkaitannya dengan teori kepemimpinan John C. Maxwell, dan merumuskan penerapannya dalam pelayanan gereja. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur dan Hermeneutika, penelitian menunjukkan bahwa prinsip delegasi kepemimpinan Musa yang sistematis adalah relevan dengan teori kepemimpinan Maxwell, khususnya dalam hal pendelegasian wewenang dan pemberdayaan pemimpin. Keluaran 18:13–24 menggambarkan pola kepemimpinan yang terorganisir dan aplikatif, di mana seorang pemimpin tidak bekerja sendiri, melainkan membangun struktur yang melibatkan banyak orang berdasarkan kapasitas dan tanggung jawab masing-masing. Hal ini selaras dengan pemikiran Maxwell yang melihat pelimpahan tugas sebagai indikator kedewasaan dan efektivitas seorang pemimpin. Oleh karena itu, prinsip delegasi dalam konteks Alkitab tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga menyajikan strategi kepemimpinan yang relevan bagi gereja masa kini dalam menjawab kompleksitas pelayanan gereja. Penelitian ini penting untuk membantu gereja dalam membangun kepemimpinan yang delegasi, memberdayakan dan Alkitabiah.
MAKNA PERSEMBAHAN KORBAN SEBAGAI PENGHAPUS DOSA BERDASARKAN IMAMAT 4:1-5 DAN IMPLIKASINYA BAGI ORANG PERCAYA MASA KINI Laoli, Wirahayanti; Laia, Aslina; Bambangan, Malik
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.185

Abstract

Imamat 4:1-5 mengajarkan bahwa persembahan korban sebagai penghapus dosa menekankan pentingnya pertobatan sebagai langkah awal untuk pemulihan hubungan dengan Allah. Ketika seseorang melakukan dosa tanpa sengaja, korban hewan dipersembahkan sebagai pengganti hukuman yang seharusnya diterima. Korban ini haruslah hewan tanpa cacat, yang melambangkan pertobatan yang tulus serta permohonan pengampunan dari Allah. Dalam konteks ini, korban menjadi sarana untuk mendamaikan dosa dan memulihkan hubungan dengan Tuhan. Bagi orang percaya masa kini, penghapusan dosa tidak lagi dilakukan melalui persembahan korban fisik, melainkan melalui pengorbanan Yesus Kristus yang sempurna di salib. Kristus menjadi korban yang menyelesaikan penebusan dosa umat manusia secara tuntas. Ajaran ini mengingatkan orang percaya akan pentingnya hidup dalam pertobatan sejati dan kesadaran akan pengorbanan Kristus yang menebus dosa. Selain itu, orang percaya juga diingatkan untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah, dengan mengandalkan pengampunan yang telah diberikan melalui karya Kristus. Dengan demikian, Imamat 4:1-5 mengajarkan nilai-nilai pertobatan yang relevan untuk kehidupan orang percaya masa kini, yang melibatkan pengakuan dosa dan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.
MEMBANGUN KESEJAHTERAAN JEMAAT PEDALAMAN: STRATEGI KEPEMIMPINAN GEREJA BERDASARKAN TELADAN YUSUF DALAM MENGINTEGRASIKAN IMAN DAN EKONOMI Yusuf, Kaleb; Rudianto, Salomo; Bambangan, Malik
Alucio Dei Vol 9 No 2 (2025): Alucio Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/aluciodei.v9i2.188

Abstract

Dalam konteks jemaat pedalaman, kesejahteraan merupakan isu rumit dengan banyak aspek. Kesejahteraan diartikan sebagai kondisi ideal dimana umat Kristen hidup layak, mandiri, serta bertumbuh secara fisik dan spiritual. Penelitian ini bertujuan menyampaikan pemahaman bahwa aktivitas ekonomi seharusnya tidak dipisahkan dari kehidupan rohani, melainkan dipandang sebagai bagian dari panggilan iman. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif, penulis menganalisis bagaimana kisah Yusuf menunjukkan bahwa perencanaan baik, pengelolaan sumber daya bijaksana, dan kepemimpinan yang dilandasi takut akan Tuhan dapat meningkatkan kesejahteraan komunitas. Penelitian terkini menunjukkan masih terbatasnya kajian tentang narasi Yusuf sebagai landasan teologis bagi strategi kesejahteraan jemaat pedalaman. Para pemimpin gereja perlu mengembangkan strategi yang mengintegrasikan nilai iman dengan tindakan praktis ekonomi, tidak hanya untuk meningkatkan taraf hidup jemaat, tetapi juga menyatakan kemuliaan Tuhan dalam seluruh aspek kehidupan.