Articles
65 Documents
LARANGAN PERKATAAN JAHAT TERHADAP SESAMA: ANALISIS SURAT YAKOBUS 4:11-12 DALAM KONTEKS KEHIDUPAN ORANG PERCAYA
Gulo, Syutriska;
Wijaya, Hendi
Alucio Dei Vol 8 No 1 (2024): Alucio Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i1.117
Dalam era globalisasi saat ini, banyak hal yang menjadi permasalahan dalam dunia ini terutama di dalam sikap dan tindakan seseorang terhadap orang lain yang cenderung merendahkan sesamanya. Salah satunya tindakan memfitnah dan juga memposisikan dirinya sebagai hakim atas tindakan orang lain. Sehingga hal ini menunjukkan sikap yang menyombongkan diri sendiri dan juga mendistorsi kebenaran dan terlebih-lebih merendahkan harkat kekudusan Allah. Dalam Kitab Yakobus 2:11-12 terdapat sebuah Perintah untuk menjaga setiap kata terhadap orang lain. Dengan gamblang Yakobus melarang jemaatnya agar jangan berbicara jahat atau pengertian lainnya adalah memfitnah. Alasan mengapa hal ini dilarang sebab perkataan jahat/ memfitnah dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain, tindakan ini merupakan pengingkaran terhadap hukum utama bahwa kita harus saling mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan analisis teks yang berfokus pada teks itu sendiri dengan menggunakan metode eksegesis 4 lapisan makna Alkitab. 4 Makna lapisan tersebut adalah Historia, theoria, moral dan anagogic. Sehingga hasil dari penelitian teks adalah berbicaralah dengan penuh kasih, dan dan taat terhadap hukum Allah. Jadi setiap orang yang menaati hukum Allah berarti ia dapat mengasihi sesamanya lewat tindakan dan perkataannya.
MAKNA AKULAH ROTI HIDUP BERDASARKAN YOHANES 6:48-51
Gulo, Raymond;
Yaaro
Alucio Dei Vol 8 No 1 (2024): Alucio Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i1.124
Jesus revealed Himself as the Bread of life to all mankind. The Bread of Life given by Jesus Christ in the Gospel of John is a place for humans to reach their true end goal. Because the Bread of life revealed by Jesus Christ is the source of life, which can provide happiness, truth, and salvation to all humans. The Bread of Life revealed by Jesus Christ is not just for a while, but for eternity or referred to as eternal. Therefore, to recognize and understand the meaning of John 6:48-51 and get its spiritual meaning. This research is the result of extracting the biblical text using the 4 layers of biblical meaning exegesis method which consists of sarcic, noetic, psychic, and anagogic. Thus, the results of this study provide an understanding that, Jesus Christ is the Bread of life who gives Himself as the source of human life that is always there until forever.
MEMAHAMI DISABILITAS DARI PERSPEKTIF TEOLOGIS
Adijaya, Henokh;
Tamera, Daniel Martin
Alucio Dei Vol 8 No 1 (2024): Alucio Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i1.131
Penyandang disabilitas sering mengalami stigmatisasi dan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Artikel ini membahas pandangan masyarakat terhadap disabilitas dari perspektif sosial, hukum, dan teologis. Pemahaman negatif muncul dari konsep normalitas yang memengaruhi pandangan terhadap individu penyandang disabilitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan antara aspirasi teoritis dan implementasi praktis hak-hak penyandang disabilitas. Metode kualitatif digunakan dengan analisis literatur. Hasil menunjukkan bahwa masyarakat cenderung melihat penyandang disabilitas sebagai subordinate tanpa hak setara. Perubahan istilah dari "kecacatan" hingga "penyandang disabilitas" mencerminkan evolusi pandangan masyarakat. Pemerintah telah mengambil langkah signifikan dalam mengesahkan undang-undang untuk aksesibilitas penyandang disabilitas. Gereja memiliki tanggung jawab untuk melayani penyandang disabilitas sebagai bagian dari ciptaan Tuhan. Teologi mengajarkan bahwa Allah adalah Maha Sempurna, Maha Hadir, dan Maha Kuasa, dan keberadaan disabilitas adalah bagian dari rencana-Nya. Dengan pemahaman ini, diharapkan masyarakat akan menghormati hak-hak penyandang disabilitas dan melihat mereka sebagai individu berharga dalam masyarakat.
SENJATA MAKAN TUAN: AHAS SEBAGAI POLA KEMUNAFIKAN TERSELUBUNG DALAM REINTERPRETASI NUBUAT YESAYA 7:10-25
Siburian, Herbet Alfredo;
Triyanto, Yoel
Alucio Dei Vol 8 No 1 (2024): Alucio Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i1.132
Nubuatan nabi Yesaya bagi Raja Ahas dalam Yesaya 7:10-25 perihal Imanuel menjadi polemik bagi kebanyakkan gereja pada kekristenan masa kini. Perdebatan tentang siapakah Imanuel yang sebenarnya, masih mengawang di hadapan beberapa teolog. Namun, tanpa disadari Raja Ahas menjadi tokoh utama yang menciptakan atau memicu terwahyukannya nubuat tentang Imanuel tersebut. Nubuatan Yesaya kerap langsung atau spontan dihubungkan dengan penggenapan di Perjanjian Baru. Namun, dalam artikel ini, penulis mencoba mengulik kembali kisah raja Ahas dalam eksposisi ayat yang direinterpretasikan. Analisis dilakukan dengan tinjauan historis, konteks dan gramatika. Hasil dari penelitian ini omemperlihatkan bahwa raja Ahas mendapat serangan balik, ibarat “senjata makan tuan” dalam kemunafikan terselubung yang ada pada diri Ahas.
PELAYANAN KONSELING PASTORAL PADA REMAJA KRISTEN YANG MALAS DALAM MEMBACA ALKITAB
Hulu, Sefetinus;
Nduru, Laskar Lius;
Waruwu, Wilman;
Tamera, Daniel Martin;
Hasibuan, Nelson
Alucio Dei Vol 8 No 1 (2024): Alucio Januari 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i1.133
Penelitian ini, bertujuan untuk memberikan bentuk-bentuk pelayanan konseling pastoral terhadap remaja Kristen yang malas membaca Alkitab. Peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui pendekatan studi kepustakaan serta wawancara. Sementara itu, hasil penelitian dari bentuk-bentuk pelayanan konseling pastoral menunjukan bahwa remaja Kristen diharapkan dapat membaca Alkitab secara intens melalui pendekatan, 1) supportive-counseling yang mendukung remaja Kristen untuk berubah dan mengubah pola pikir yang salah, 2) confrontational-counseling menyadarkan akibat dari kemalasan , dan 3) educative-counseling pelayanan yang mendorong pada perbaikan perilaku serta kembali beradaptasi dengan kebiasaan baru, serta 4) spiritual-counseling dengan meningkatkan pertumbuhan rohani pada remaja Kristen.
PANDANGAN PAULUS MENGENAI “BERMEGAH DI DALAM TUHAN” BERDASARKAN 2 KORINTUS 10:17-18
Ruy, Margareta;
Santos Santoso, Yaudi
Alucio Dei Vol 8 No 2 (2024): Alucio Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i2.137
Penelitian ini membahas konsep bermegah di dalam Tuhan berdasarkan surat Rasul Paulus kepada Jemaat Korintus, khususnya dalam pasal 2 Korintus 10:17-18. Rasul Paulus menegaskan bahwa manusia seharusnya tidak bermegah terhadap diri sendiri, melainkan bermegah di dalam Tuhan. Ini menunjukkan kesadaran bahwa segala karya yang dilakukan manusia adalah hasil dari kuasa Tuhan, bukan dari dirinya sendiri, dan bahwa bermegah di dalam Tuhan akan mendatangkan pujian dari-Nya. Konsep ini juga memperkuat ide bahwa bermegah di dalam Tuhan adalah tindakan yang berpusat pada Kristus, bukan pada diri sendiri. Aplikasi praktis dari konsep ini termasuk berpraktek keheningan, menciptakan perdamaian, dan berlaku jujur. Selain itu, konsep ini juga mengarah pada pengudusan diri yang membawa seseorang menuju penyatuan dengan Allah. Dengan demikian, artikel ini menggali konsep teologis yang mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tuntutan untuk hidup dalam ketaatan dan kerendahan hati, serta aplikasi praktisnya dalam kehidupan sehari-hari.
MAKNA TATO: APAKAH ORANG KRISTEN BOLEH BERTATO?
Eka Kurniawan;
Indrawan, Yayan
Alucio Dei Vol 8 No 2 (2024): Alucio Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i2.138
Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari tahu dan memberikan pemahaman kepada orang yang telah menerima Tuhan sebagai Juruselamat untuk tidak meraja tubuhnya dengan tato. Tato merupakan sebuah karya seni yang dibuat pada kulit dengan tujuan untuk mengenang pengalaman hidup dan juga sebagai jimat agar tubuhnya tetap aman. Tato juga dapat dikatakan sebagai goresan pada bagian tubuh manusia yang dibuat dengan menggunakan jarum dan zat pewarna sehingga terlihat indah dan menarik pada tubuh. Akan tetapi, tato dalam pandang iman Kristen sangat tidak boleh karena manusia seakan-akan merasa berkuasa atas diriya. Kemudian, merusak gambar Allah karena manusia adalah gambar dan rupa Allah sehingga timbul rasa tidak taat dalam diri manusia itu sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif atau metode studi pustaka. Dengan metode ini, maka penulis menemukan satu pembahasan tentang makna tato dan apakah orang Kristen dapat bertato. Oleh karena itu, tato dalam kalangan iman Kristen tidak boleh. Jadi, dengan penelitian ini maka para pembaca dapat mengerti dan memahami bahwa orang Kristen tidak dapat mentato tubuhnya sebab tubuhnya adalah gambar dan rupa Allah.
PENGGUNAAN ARTIFICIAL INTELLIGENCE DALAM MEMPERSIAPKAN KHOTBAH YANG EFEKTIF
Sugiharto, Ayub;
Anshori, Vebi Wijayanti
Alucio Dei Vol 8 No 2 (2024): Alucio Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i2.139
Penelitian ini menyelidiki kecerdasan buatan atau biasa disebut dengan Artificial Intelligence (AI) dalam penyusunan khotbah yang efektif dengan berfokus pada jenis AI yang digunakan dalam mempersiapkan khotbah dan menganalisis dampak positif dan dampak negatif. Melalui metode penelitian yang melibatkan tinjauan pustaka dan studi kasus dari gereja yang menggunakan teknologi AI penelitian ini menyoroti menfaat AI untuk meningkatkan efisiensi dalam mempersiapkan khotbah, konsistensi pesan yang disampaikan dan membantu untuk mengakses secara cepat untuk menemukan sumber referensi teologis. Namun, penelitian ini juga menyoroti kurangnya terkait dampak penggunaan AI dalam mempersiapkan khotbah seperti kurangnya kedalamam emosional dan nuansa khotbah yang dihasilkan AI serta aspek etis seputar penggunaan AI dalam konteks mempersiapkan khotbah. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang penting bagi para pemimpin agama atau pengkhotbah, memberi pengetahuan tentangan perkembangan teknologi dan akademisi yang tertarik dalam perpaduan antara teknologi modern dan tradisi keagamaan. Kata Kunci: Kecerdasan buatan, mempersiapkan, khotbah yang efektif
KONSEP PENGAMBILAN KEPUTUSAN DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMIMPIN KRISTEN
Angin, Yakub Hendrawan Perangin;
Keriapy, Frets;
Yeniretnowati, Tri Astuti
Alucio Dei Vol 8 No 2 (2024): Alucio Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i2.141
Pemahamaman konsep pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin Kristen sangat penting bahkan dapat dikatakan termasuk diantara kompetensi utama yang harus dimiliki pemimpin terkait pengetahuan kepemimpinan karena akan mempengaruhi kehidupan pribadi juga kehidupan berorganisasinya. Metode dalam penelitian ini dilakukan secara penelitian literatur. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana pemahaman konsep pengambilan keputusan yang benar dapat membawa dampak bukan saja bagi pemimpin itu sendiri tetapi juga bagi orang dan organisasi di mana pemimpin memimpin. Paling tidak implikasi dari penelitian ini, adalah: Pertama, Lapar Akan Pertumbuhan Pribadi. Kedua, Memiliki Mitra Konsultasi. Ketiga, Membagikan Keterampilan Pengambilan Keputusan Sebagai Manajemen Pengetahuan.
PERAN GEMBALA JEMAAT SEBAGAI PENGKHOTBAH: TANTANGAN DAN STRATEGI MASA KINI DALAM MENGOMUNIKASIKAN PESAN INJIL
Sugiharto, Ayub;
Widyanti, Kezia Putri
Alucio Dei Vol 8 No 2 (2024): Alucio Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.55962/aluciodei.v8i2.143
Seorang pengkhotbah harus bisa memberikan kesan yang lebih baik kepada jemaat. Seorang pengkotbah dalam kehidupannya juga harus memiliki kewibawaan. Tujuan penulisan artikel ini adalah bagaimana membangun wibawa pengkhotbah pada masa kini melalui peran, tantangan serta strategis yang digunakan dalam mengkomunikasikan Injil. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah metode pendekatan kualitatif untuk mendalami masalah yang menjadi fokus utama dalam penelitian ini. Peneliti menggunakan data dari berbagai artikel jurnal, buku serta situs berita online yang dapat dipercaya untuk mendapatkan informasi tentang peran, tantangan dan strategi efektif dalam mengomunikasikan pesan Injil. Jadi hasil dari semua pembahasan ini adalah bahwa wibawa pengkhotbah dapat dibangun melalui peran pengkhotbah didalam menjalankan tugas serta tanggung jawabnya, tantangan masa kini yaitu kemajuan teknologi, dan sikap kritis serta selektif terhadap berbagai pandangan teologi yang bermunculan.