cover
Contact Name
Bayu Koen Anggoro
Contact Email
bahasaseni.journal@um.ac.id
Phone
+628123319233
Journal Mail Official
bayu.koen@um.ac.id
Editorial Address
Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang, Jl. Semarang 5 Kota Malang, Jawa Timur, 65145, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal bahasa, sastra, seni, dan pengajarannya
ISSN : 08548277     EISSN : 25500635     DOI : https://doi.org/10.17977/2550-0635
Core Subject : Education,
The Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya is an international, peer-reviewed, open-access journal that reports on all aspects language, literature, arts, and their relation to teaching, the aim of this journal is to highlight research and development leading to an advancement in the field of language, literature, arts, and teaching methods. It publishes scientific articles on language, literature, and art, as well as their relation to teaching, including empirical and theoretical studies, original research, case studies, research or book reviews, and innovation in teaching and learning with various perspectives. Specific topics covered in the journal include: Art and Design Education Music Education Bilingual, Multilingual, and Multicultural Education Educational Assessment, Evaluation, and Research Educational Methods Educational Technology Higher Education Language and Literacy Education Online and Distance Education Special Education and Teaching Teacher Education and Professional Development
Articles 298 Documents
Intermediate language in the subtitle translation of Le Grand Voyage film into Indonesian Perjalanan Agung Hayatul Cholsy
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p165

Abstract

Intermediate language in the subtitle translation of Le Grand Voyage film into Indonesian Perjalanan AgungThis study aimed to explore the role of intermediate language in translating the dialogue subtitle of Le Grand Voyage film from French as source language into Indonesian as target language. This study used intermediate language translation theory from Amal Al Shunnaq (2019), which was a translating process from source language into target language through other foreign language. Le Grand Voyage film is a film with religious nuance with the life of maghrébin immigrants in France as the background. The film subtitle in Indonesian were translated from English subtitle which were previously translated from French dialogue. English as the intermediate language had a very important role since it determined the subtitle translation final result in the target language. In addition to economic reasons, the role of an intermediate language was to be able to simplify or make subtitle in target language more concise, therefore it could easily adjust the space and time on the screen display, refine the translation result so that the film subtitle in target language becomes more polite, such as the loss of swear words, and determines the message from source language into target language due to cultural influences and the peculiarities of the intermediate language. Bahasa antara dalam penerjemahan subtitle film Le Grand Voyage ke dalam bahasa Indonesia Perjalanan AgungPenelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran bahasa antara dalam penerjemahan subtitle dialog film Le Grand Voyage dari bahasa sumber bahasa Prancis ke dalam bahasa sasaran bahasa Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori penerjemahan bahasa antara atau intermediate language dari Amal Al Shunnaq (2019), yaitu proses pengalihbahasaan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran melalui bahasa asing lainnya. Film Le Grand Voyage merupakan film yang bernuansa religi dengan latar belakang kehidupan kaum imigran maghrébin di Prancis. Subtitle film dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dari subtitle bahasa Inggris yang sebelumnya merupakan hasil terjemahan dari dialog bahasa Prancis. Bahasa Inggris sebagai bahasa antara mempunyai peran yang sangat penting karena menentukan hasil akhir terjemahan subtitle dalam bahasa sasaran. Selain alasan ekonomi, bahasa antara berperan untuk dapat menyederhanakan atau membuat subtitle dalam bahasa sasaran menjadi lebih ringkas sehingga dapat dengan mudah menyesuaikan ruang dan waktu pada tampilan layar; memperhalus hasil terjemahan sehingga subtitle film pada bahasa sasaran menjadi lebih santun, misalnya hilangnya kata umpatan; serta menentukan keakuratan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran karena pengaruh budaya dan kekhasan bahasa antara.
Penyatiran Tema dalam Kalimat Berstruktur Tema-rema Bahasa Indonesia Lisan Suparno Suparno
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 22, No 2 (1994)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyatiran tema dalat dikenali sebagai fenomena sintaksis dan semantis kaminat berstruktur tema-rama dalam bahasa Indonesia lisan. Ada tiga strategi penyantiran dalam bahasa Indonesia, yakni penyantiran dengan pronomina, baik pronomina persona dan pronomina demonstrativa, penyantiran dengan epitet, dan penyantiran dengan konstruksi yang. Santiran tema tidak hanya terdapat pada rema, tetapi juga terdapat pada tema lanjutan. Kehadiran santiran sebagai unsur sintaktis merupakan tuntutan pengungkapan informasi yang diperlukan dalam kalimat.
Masalah Leksis dalam Bahasantara Nur Mukminatien
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 22, No 2 (1994)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Leksis adalah salah satu unsur bahasa yang diperoleh oleh pembelajar bahasa pada tahap-tahap awal baik oleh pembelajar bahasa ibu (B1) maupun bahasa kedua/asing (B2). Dalam proses pemerolehan B2, terbukti bahwa pembelajar tidak hanya menghadapi masalah kesalahan struktur bahasa saja melainkan juga masalah pemilihan leksis. Namun patut disayangkan bahwa sampai saat ini para linguis terapan belum banyak yang berminat untuk meneliti masalah leksis ini sehingga masalah-masalah yang timbul dalam pengajaran B2 belum banyak mendapat altematif pemecahan yang lebih baik. Oleh sebah itu tulisan ini berusaha menunjukkan bahwa masalah leksis penting untuk dikemukakan, sama pentingnya dengan masalah unsur bahasa lainnya. Selain itu, bahasan ini menyajikan juga perihal perilaku dan peran leksis yang diambil dari Ronald Carter (1989) yang akan dikaitkan dengan pembelajaran B2 dan masalah-masalah yang muncul dalam bahasantara. Kesalahan pemilihan leksis yang muncul dalam bahasantara berupa penggabungan kata-kata pada set leksikal yang salah dalam kolokasinya. Bahasan ringkas ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan kepada ada para guru B2 tentang leksis agar ia dapat mengatasi masalah yang timbul di kelas dengan lebih bijaksana.
Teachers' self-efficacy in dealing with students' online learning difficulties: A study of psychopragmatics in Indonesian language learning Muhammad Rohmadi; Memet Sudaryanto
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p13

Abstract

Efficacy is teachers’ ability to strengthen their self-motivation to help solve learning problems faced by their students. In the learning process, psychopragmatic mastery is expected to strengthen the psychological condition of teachers and students through informative, manipulative, and persuasive sentences so that each student can optimize learning tools to help them achieve learning goals. During the pandemic, it is important to examine teachers’ self-efficacy and psychopragmatics mastery to support students in addressing their online learning difficulties. A qualitative study to investigate these issues was therefore conducted. Participants of this study were teachers from all over Indonesia, consisting of 350 middle and high school teachers. Data were collected through (1) a survey of teacher efficacy during online learning, (2) observations of the forms of efficacy built by the teachers during learning activities and outside the classroom, (3) interviews with the teachers to identify forms of efficacy used to shape students' learning fundamentals. It was found that the teachers tended to increase their efficacy through strong lesson planning. In addition, they often modified learning tools so that the multimedia used could foster enthusiasm and learning motivation for both themselves and the students. The teacher's efficacy in teaching is the key to analysis in psychopragmatic studies because data in the form of snippets of teacher speech can influence student motivation. Psychopragmatics in the teaching and learning process is not only considered the psychology of language that is practiced in learning the Indonesian language, but teachers also have internalized psychological reinforcement in the learning activity that has been planned, implemented, and assessed.Keywords: efficacy, learning difficulties, psychopragmatics, online classEfikasi diri guru dalam menghadapi kesulitan pembelajaran daring siswa: Sebuah studi psikopragmatik dalam pembelajaran bahasa IndonesiaEfikasi adalah kemampuan guru untuk memperteguh motivasi diri sendiri dalam mem­bantu memecahkan masalah belajar yang dihadapi siswanya. Dalam proses pembel­ajaran, penguasaan psikopragmatik diharapkan dapat memperkuat kondisi psikologis guru dan siswa melalui kalimat-kalimat yang informatif, manipulatif, dan persuasif sehingga setiap siswa dapat mengoptimalkan perangkat pembelajaran untuk membantu mereka mencapai tujuan pembelajaran. Di masa pandemi, penting untuk mengkaji efikasi diri guru dan penguasaan psikopragmatik untuk mendukung siswa dalam mengatasi kesulitan belajar daring mereka. Oleh karena itu, sebuah studi kualitatif untuk menyeli­diki masalah ini dilakukan. Partisipan penelitian ini adalah para guru yang tersebar di seluruh Indonesia, terdiri atas 350 guru SMP dan SMA. Pengumpulan data dilakukan melalui (1) survei efikasi guru selama pembelajaran daring, (2) observasi terhadap bentuk efikasi yang dibangun oleh guru selama kegiatan pembelajaran dan di luar kelas, (3) wawancara dengan guru untuk mengetahui bentuk efikasi yang digunakan. untuk mem­bentuk dasar belajar siswa. Berdasarkan data ditemukan bahwa guru cenderung mening­katkan keefektifannya melalui perencanaan pembelajaran yang kuat. Selain itu, mereka sering memodifikasi perangkat pembelajaran agar multimedia yang digunakan dapat me­numbuhkan semangat dan motivasi belajar baik bagi diri sendiri maupun bagi siswa. Efikasi guru dalam mengajar menjadi kunci analisis dalam kajian psikopragmatik karena data berupa potongan tuturan guru dapat mempengaruhi motivasi belajar siswa. Psiko­pragmatik dalam proses belajar mengajar tidak hanya mempertimbangkan psikologi ba­hasa yang dipraktikkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, tetapi keterampilan guru dalam menginternalisasi penguatan psikologis pada kegiatan pembelajaran yang telah direncanakan, dilaksanakan, dan dinilai.Kata Kunci: efikasi, kesulitan pembelajar, psikopragmatik, kelas daring
Is The Unitary Competence Hypothesis Tenable? Gunadi H. Sulistyo
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 22, No 2 (1994)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

In Oiler's view (1979) the idea that language can be broken down into smaller, isolated segments falls short of validity. Instead, Oller hypothesises the existence of a single faculty which is responsible for all language processing. Although his proposal is derived from several studies, this is not sufficient assurance for the validity of the theory he tries to establish.
Pottery craft development: Upgrading the traditional combustion management patterns for product quality and aesthetics in Pagelaran Village, Malang Desti Nur Aini; Agung Winarno; Arsadi Arsadi; Norlida Hanim Mohd Salleh
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p1

Abstract

This study examines the process of improving the quality of pottery products from Pagelaran village in Malang mainly by improving the traditional combustion process. The traditional pottery craftsmen in this area have faced issues with both the aesthetic values and quality standard of their products, even having defective products due to poor processes. Despite these challenges, pottery craft in Pagelaran is considered a cultural heritage that has contributed to the welfare of craftsmen and the local community, as well as the preservation of local wisdom. To improve the quality of their products, the craftsmen in Pagelaran have focused on the way they use tools and materials, the technical production process by linking technology and the environment, the method used, and the effect on future environmental changes. This study employs a descriptive qualitative and action research, which involves the craftsmen community in Kampung Edukasi Wisata. Data is collected through observation and in-depth interviews and analyzed using the 6P simultaneous stages technique proposed by Winarno and Robfiah (2020). The findings of the study show that while the tools and materials used in the pottery production are still traditional, the pottery of Pagelaran is leading to innovative aesthetic products. Pottery production activities have an impact on the physical environment, requiring technology, methods, and cultural impact in the exploitation of the environment under the cultural ecology perspective. Despite the traditional production process, it has been integrated with user demands so that the quality of the product is improved through the standardization of the combustion process, product decoration, and additional touches of aesthetic values on the products. Overall, this study provides insights into how traditional craftsmen can improve their product quality through a focus on both the technical production process and cultural impact.Keywords: aesthetic innovation, combustion process, pottery, PagelaranPengembangan kerajinan gerabah: Peningkatan pola pengelolaan pembakaran tradisional untuk mutu dan estetika produk di Desa Pagelaran, MalangPenelitian ini mengkaji proses peningkatan kualitas produk gerabah di desa Pagelaran Malang terutama dengan perbaikan proses pembakaran tradisional. Pengrajin gerabah tradisional di daerah ini menghadapi kendala baik dari segi nilai estetika maupun standar kualitas produknya, bahkan produknya seringkali cacat karena proses yang kurang baik. Terlepas dari tantangan tersebut, kerajinan gerabah di Pagelaran dianggap sebagai warisan budaya yang berkontribusi terhadap kesejahteraan pengrajin dan masyarakat setempat, serta pelestarian kearifan lokal. Untuk meningkatkan kualitas produknya, para pengrajin di Pagelaran menitikberatkan pada cara penggunaan alat dan bahan, teknis proses produksi dengan menghubungkan teknologi dan lingkungan, metode yang digunakan, dan pengaruh terhadap perubahan lingkungan di masa depan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dan action research yang melibatkan komunitas pengrajin di Kampung Edukasi Wisata. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam serta dianalisis menggunakan teknik tahapan simultan 6P yang dikemukakan oleh Winarno dan Robfiah (2020). Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan gerabah masih tradisional, namun gerabah Pagelaran mengarah pada produk estetika yang inovatif. Kegiatan produksi gerabah berdampak pada lingkungan fisik, membutuhkan teknologi, metode, dan dampak budaya dalam pemanfaatan lingkungan dalam perspektif ekologi budaya. Meskipun proses produksinya tradisional, namun telah terintegrasi dengan kebutuhan pengguna sehingga kualitas produk ditingkatkan melalui standarisasi proses pembakaran, dekorasi produk, dan tambahan sentuhan nilai estetika pada produk. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan wawasan tentang bagaimana pengrajin tradisional dapat meningkatkan kualitas produk mereka melalui fokus pada proses produksi teknis dan dampak budaya.Kata Kunci: estetika, inovasi, proses pembakaran, gerabah, Pagelaran
Tentang Whole Language dalam Pengajaran Bahasa Aminuddin Aminuddin
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 22, No 2 (1994)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Whole language mengandung konsepsi bahwa bahasa merupakan gejala plural yang mempunyai keutuhan. Sebab itu, sebagai bahan pembelajaran, bahasa tidak dapat disikapi sebagai gejala yang tersegmentasikan secara artifisial melainkan disikapi sebagaimana gejala penggunaannya dalam berbagai peristiwa komunikasi. Sebagai wawasan yang ada dalam konteks pengajaran bahasa, penerapan prinsip whole language berimplikasi pada penyikapan bahasa sebagai bahan pembelajaran, bentuk pembelajaran, assessment, dan penilaian. Dalam artian luas, penerapan prinsip tersebut berimplikasi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian program.
Reimagining Singapore in verse: A critical discourse analysis of contemporary poetry and its role in emerging national identity Benjamin Baguio Mangila
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p27

Abstract

This paper critically examines how contemporary Singaporean writers use language in verse, that is poetry, to make vivid representations of Singapore as a nation and discursively construct the social notion of the country's national identity. Utilizing Wodak's (2001) Discourse-Historical framework, this paper reveals how the two authors use some common discursive strategies, mainly representational and predicational, in making explicit representations of Singapore and creating a strong sense of national identity. In their poetry, authors frequently utilize referential linguistic devices such as first personal pronouns to attach specific human traits that help personify Singapore and express an in-group identity that functions as a unifying mechanism that connects Singapore, including its people, together. Lexical repetitions and rhetorical figures are also used to convey more emphasis and reveal the authors' intended meanings or messages. The authors employ various descriptive words to create better and more accurate imageries of Singapore as a varied community and as a nation. Furthermore, the authors' discursive techniques perform both the "constructing" and "preserving" macro-functions by discursively constructing Singapore's national identity as well as making an urgent call to all Singaporeans to safeguard their collective identity.Keywords: contemporary poetry; critical discourse analysis; discursive strat-egies; national identity; Wodak’s (2001) Discourse-Historical Ap-proach Penggambaran Singapura di dalam sajak: Analisa wacana kritis pada puisi kontemporer dan peranannya dalam perkembangan identitas nasionalPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis bagaimana penulis Singapura kontemporer menggunakan bahasa dalam sajak, yaitu puisi, utamanya pada puisi, untuk membuat representasi yang jelas  tentang Singapura sebagai sebuah negara. Selain itu penelitian ini secara diskursif membangun gagasan sosial tentang identitas nasional negara tersebut. Dengan menggunakan kerangka wacana-sejarah dari Wodak (2001), hasil penelitian menunjukkan bahwa dua penulis menggunakan dua strategi diskursif yang telah banyak digunakan, yaitu secara representasional dan predikatif, dalam membuat representasi eksplisit dan identitas nasional Singapura yang kuat. Pada puisi mereka, para penulis sering menggunakan perangkat linguistik referensial, seperti kata ganti orang pertama, dalam mencantumkan karakteristik khusus yang dapat menggambarkan warga Singapura dan identitas kelompok yang dapat mempersatukan Singapura, termasuk warga negaranya. Selain itu, pengulangan leksikal dan figur retoris juga digunakan untuk memberikan penekanan dan menunjukkan makna atau pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Para penulis juga banyak menggunakan kata-kata deskriptif untuk menggambarkan citra Singapura sebagai komunitas yang beragam dan sebagai sebuah negara, secara lebih baik dan akurat. Lebih lanjut, penulis dengan teknik diskursif juga melakukan fungsi makro ‘membangun’ dan ‘melestarikan’ untuk membentuk identitas nasional Singapura, serta menyerukan bagi seluruh warga Singapura agar mereka senantiasa menjaga identitas kolektif mereka.Kata kunci: puisi kontemporer, analisis wacana kritis, strategi diskursif, identitas nasional, kerangka wacana-sejarah dari Wodak (2001) 
Problematika Bahasa Indonesia dan Alternasi Pemecahannya I Gusti Ngurah Oka
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 22, No 2 (1994)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Problematik Bl adalah masalah kebahasaan yang ditemui dalam bahasa Indonesia, yang biasanya mengandung dan mengundang persoalan. Dalam tulisan ini penulis ingin menguraikan secara teknis problematika Bl, meliputi penjelasan tentang wujud konkret problematik BI, kehadiran problematik BI, latar belakang munculnya problematik BI, bentuk-bentuk problematik BI, serta alternasi pemecahannya. Kehadiran problematik Bl dapat diamati pada fakta pemakaian BI, pada pertumbuhan BI, dan pada upaya pembinaannya. Sedangkan faktor yang melatarbelakangi kehadiran problematik Bl adalah: kedudukan Bl sebagai bahasa kedua, kondisi objektif Bl sebagai bahasa yang masih muda usia, serta perlindungan terhadap pertumbuhan BI. Adapun alternasi pemecahan yang disarankan penulis meliputi langkah-langkah memanfaatkan problematik BI sebagai sarana perbaikan yang positif, melokalisasi hadirnya problematik BI itu sendiri, dan ketiga membina problematik BI dengan menghalangi pertumbuhan dan perkembangannya.
Lexical semantic fields on textbook for reading course in Universitas Negeri Malang Nurhidayati Nurhidayati; Kholisin Kholisin; Irhamni Irhamni; Mohd Azidan bin Abdul Jabar; Dzulfikri Dzulfikri
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p44

Abstract

This study aims to describe the lexical semantic fields of reading textbooks in Universitas Negeri Malang, specifically in categories being, cosmic, energetic, substantial, terrestrial, objective, living, animate, and human. It used a descriptive qualitative method with a semantic analysis approach. The semantic approach was selected since we intended to comprehend the semantic phenomenon from the lexical-semantic field aspect of a specific textbook course. In detail, we started the research by describing the lexical-semantic field in the textbook and classified the words and phrases. Further, we identified the rational understanding of those words and phrases as a complete understanding of a word requires comprehending the connection with the surrounding words, known as the semantic field. The interconnection of words’ meanings is caused by their specific meaning in particular social situation and condition. Our analysis results suggested that the lexical-semantic field in the reading course textbook (Al-Arabiyah Baina Yadaika chapter 1) from Universitas Negeri Malang is dominated by the being and human semantic fields. Accordingly, the lecturers are suggested to complete the reading textbook with more contextual materials with different semantic fields following students’ interests.Keywords: semantic field, lexical, learning material, readingMedan makna leksikal dalam bahan ajar matakuliah membaca di Universitas Negeri MalangTujuan dari penelitian adalah untuk mendeskripsikan medan makna leksikal dalam  bahan ajar matakuliah membaca di Universitas Negeri Malang pada kategori being, cosmic, energetic, substancial, terrestrial, objective, living, animate, dan human. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif  dengan menggunakan pendekatan analisis semantik. Pendekatan semantik digunakan karena kami berupaya memahami fenomena semantik dari sisi medan makna leksikal yang terdapat pada bahan ajar matakuliah tertentu. Secara rinci, kami memulai penelitian dengan mendeskripsikan bidang leksikal-semantik dalam buku teks dan mengklasifikasikan kata dan frasa. Selanjutnya, kami mengidentifikasi pemahaman rasional dari kata-kata dan frase tersebut karena pemahaman yang lengkap dari sebuah kata memerlukan pemahaman hubungan dengan kata-kata sekitarnya, yang dikenal sebagai bidang semantik. Keterkaitan makna kata-kata disebabkan oleh maknanya yang spesifik dalam situasi dan kondisi sosial tertentu. Hasil analisis kami menunjukkan bahwa bidang leksikal-semantik dalam buku teks mata kuliah membaca (Al-Arabiyah Baina Yadaika bab 1) dari Universitas Negeri Malang didominasi oleh bidang semantik makhluk (being) dan manusia (human). Oleh karena itu, disarankan kepada dosen untuk melengkapi buku teks bacaan dengan materi yang lebih kontekstual dengan bidang semantik yang bervariasi medan maknanya sesuai dengan minat mahasiswa.Kata kunci: medan makna, leksikal, materi pembelajaran, membaca