cover
Contact Name
Bayu Koen Anggoro
Contact Email
bahasaseni.journal@um.ac.id
Phone
+628123319233
Journal Mail Official
bahasaseni.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya
ISSN : 08548277     EISSN : 25500635     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Education,
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in February and August (ISSN 0854-8277) (E-ISSN 2550-0635). This journal publishes scientific articles on language, literature, art, as well as their relation to teaching. lt publishes empirical and theoretical studies in the form of original research, case studies, research or book reviews, and innovation in teaching and learning with various perspectives. Articles can be written in English, Indonesian, or other foreign languages.
Articles 298 Documents
Preservation of Indonesian in the border area of Aruk, Indonesia and Sarawak, Malaysia Elva Sulastriana; Herlina Herlina; Try Hariadi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p237

Abstract

Preservation of Indonesian in the border area of Aruk, Indonesia and Sarawak, MalaysiaWest Kalimantan is one of the provinces in Indonesia which has three border areas with Malaysia. Community interactions between countries that have been going on for centuries undeniably lead to language contact which results in people choosing local language so that communication can run effectively. The purpose of this study was to determine the variety of language used around the area, language attitudes, and the preservation of Indonesian in the border area of Aruk, Indonesia and Sarawak, Malaysia. Quantitative and qualitative methods were used in which the data were obtained through observation, questionnaires, and interviews with a total of 150 respondents. The results show that the variety of languages used by students, traders and government circles as the target speakers is Indonesian. Furthermore, the language serves as an instructional language in education settings, the language of communication, a unifying tool as well as the language of govern­ment administration, while the other local and regional languages are used in certain limited contexts. Regarding the attitudes, the people on the border of Aruk, Indonesia and Malaysia show a very positive attitude towards Indonesian. The defense strategy is carried out by students, traders, and the local government.Pelestarian bahasa Indonesia di daerah perbatasan Aruk, Indonesia dan Sarawak, MalaysiaKalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki tiga wilayah perbatasan dengan Malaysia. Interaksi masyarakat antar negara yang telah berlangsung selama berabad-abad tidak dapat dipungkiri menyebabkan terjadinya kontak bahasa yang mengakibatkan masyarakat memilih bahasa daerah agar komunikasi dapat berjalan dengan efektif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ragam bahasa yang digunakan di sekitar kawasan, sikap bahasa, dan pelestarian bahasa Indonesia di kawasan perbatasan Aruk, Indonesia dan Sarawak, Malaysia. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif dan kualitatif di mana data diperoleh melalui observasi, kuesioner, dan wawancara dengan total 150 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam bahasa yang digunakan oleh kalangan pelajar, pedagang dan pemerintah sebagai penutur sasaran adalah bahasa Indonesia. Selanjutnya, bahasa tersebut berfungsi sebagai bahasa pengantar dalam pendidikan, bahasa komunikasi, alat pemersatu serta bahasa penyelenggaraan pemerintahan, sedangkan bahasa lokal dan regional lainnya digunakan dalam konteks terbatas tertentu. Mengenai sikap, masyarakat di perbatasan Aruk, Indonesia dan Malaysia menunjukkan sikap yang sangat positif terhadap bahasa Indonesia. Strategi pertahanan dilakukan oleh mahasiswa, pedagang, dan pemerintah setempat.
Individual liaison: Gregorius Sidharta, tradition, and modernity Ganjar Gumilar
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p176

Abstract

Individual liaison: Gregorius Sidharta, tradition, and modernityUnderstanding the dialogic relation between tradition and modernity in our current cultural dynamic remains an ‘incomplete project’ that requires careful examination. Approaching and thoroughly interpreting both roles in our society, mainly in how they influenced our current paradigm of culture, continue to pose risks and challenges. This article will explore the works of Gregorius Sidharta Soegijo, a renowned maestro of Bandung modern art, whose conversa­tional practice proposes a particular means of harmonizing these antagonistic tensions and various derivatives issues that might later follow. By using art criticism as its primary modalities while simultaneously cross-referencing both modern and contemporary aesthetic paradigms, this article will demonstrate how Sidharta’s inclusive and deliberate approach might provide a dialogic site for various antagonist polarities—mainly tradition and moderni­ty—to coexist within a democratic, horizontal, and productive axis. His audacity in contempla­ting inward and resorting to his idiosyncrasy would also be highlighted for its contributive nature as the pretext of his attempt to reconcile, resolve, and synthesize the long-desirable harmony between tradition and modernity. These gestures have undergone a consistent, gradual process of internal reflection that touched upon his personal experiences, particularly his encounter with multitudes of cultural values, perspectives, and paradigms that each proposes their significance.Arbitrase individual: Gregorius Sidharta dalam dikotomi tradisi dan modernitasTradisi dan modernitas dalam kemutakhiran saat ini masih menyimpan banyak selubung pemaknaan yang menunggu untuk dibuka, didalami, dan dimaknai kembali. Mendekati dan memahami keduanya dengan adil dan menyeluruh adalah upaya yang beresiko. Gregorius Sidharta Soegijo, salah satu maestro patung modern Bandung, menunjukkan cara yang khas dalam menengahi beragam tegangan beserta ragam derivasi konflik yang dimunculkan. Dengan berpijak pada metode kritik seni terhadap sepilihan karya Sidharta untuk kemudian diperiksa secara menyilang baik terhadap konsep-konsep estetika modern serta kontem­porer, artikel ini akan menunjukkan bagaimana Sidharta menemukan kesetim­bangan untuk menghidupkan keduanya dengan berpijak pada idiosinkrasi diri untuk mempertemukan, mendamaikan, menengahi, serta melakukan arbitrase pada dikotomi tradisi dan modernitas. Keseimbangan ini ditemukannya melalui perkembangan pemaknaan diri yang secara gradu­al bersentuhan dengan beragam perbedaan nilai, paradigma, dan ideologi yang membawa keutamannya masing-masing.
Utilization of educational applications in assessing the reading skills of junior high school students Didin Nuruddin Hidayat; Yatni Fatwa Mulyati; Nida Husna
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p247

Abstract

Utilization of educational applications in assessing the reading skills of junior high school studentsGlobalization and the advancement of technology are giving a new challenge as well as op­portunities for English educators around the globe. Indirectly, there are obstacles associated with learning English due to the fact that technology has become an integral aspect of hu­man existence. The teaching of reading skill also faces the same challenge. Nowadays, read­ing is seen as more important than other skills, considering that reading has become one of the aspects of literacy. With regard to assessment, the availability of an educational ap­plication might be advantageous for teachers to assess students' reading skills. The current study investigates the types of application used by teachers in assessing students’ reading skill and the type of reading assessment that occur during the implementation of the ap­pli­cation. Through open-ended interview and document analysis method, the research result indicates that the implementation of Google Form as an educational application to assess students reading skills demonstrated a reading assessment based on tradi­tional assessment approaches with a focus on intensive reading. This study has shown the appropriate media for assessing students reading skill along with the reading fo­cus­es and assessment design that is suitable for it. In addition, in this study, Google Form dom­inates the most considerable use of media to assess students reading skills. Therefore, teachers could also save more time in assessing students’ reading by utilizing educational applications.Penggunaan aplikasi pendidikan dalam menilai ketrampilan membaca siswa SMPGlobalisasi dan kemajuan teknologi memberikan tantangan sekaligus peluang baru bagi pengajar bahasa Inggris di seluruh belahan dunia. Secara tidak langsung, terdapat kendala yang terkait dengan pembelajaran bahasa Inggris karena fakta bahwa teknologi telah men­jadi aspek yang tidak terpisahkan dari keberadaan manusia. Saat ini, membaca dipandang lebih penting daripada keterampilan lainnya, mengingat membaca telah menjadi salah satu aspek literasi. Secara khusus, menentukan keterampilan membaca siswa menjadi sangat penting dalam pengajaran dan penilaian bahasa, dengan penambahan aplikasi pendidikan yang mungkin bermanfaat bagi guru untuk menilai keterampilan membaca siswa. Peneliti­an ini bertujuan mengidentifikasi aplikasi pendidikan yang dimanfaatkan untuk menilai ketrampilan membaca dan jenis-jenis ketrampilan membaca yang dinilai menggunakan ap­likasi. Melalui metode wawancara terbuka dan analisis dokumen, hasil penelitian me­nun­jukkan bahwa implementasi Google Form sebagai aplikasi pendidikan untuk menilai keter­ampilan membaca siswa menunjukkan penilaian membaca berdasarkan pendekatan peni­laian tradisional dengan fokus pada membaca intensif. Penelitian ini telah menunjukkan media yang sesuai untuk menilai keterampilan membaca siswa beserta fokus membaca dan desain penilaian yang sesuai dengannya. Selain itu, dalam penelitian ini, Google Form men­dominasi penggunaan media yang paling banyak digunakan untuk menilai kemampuan membaca siswa. Oleh karena itu, guru juga dapat menghemat lebih banyak waktu saat melakukan pe­nilaian keterampilan membaca siswa.
Exploring Indonesian university students’ speaking anxiety in online English medium classes (EMI) Ima Normalia Kusmayanti; Retno Hendryanti; Litasari Widyastuti Suwarsono
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p209

Abstract

Exploring Indonesian university students’ speaking anxiety in online English medium classes (EMI)This study investigates the speaking anxiety levels of EFL students enrolled in English medium classes (EMI) in a private university. Factors causing students’ speaking anxiety and potential strategies to reduce the speaking anxiety were also examined. Eighty-nine EMI students from ten undergraduate study programs were the respondents of this study. Data were collected by using Horwitz et al.’s (1986) anxiety survey. Findings showed that EMI students exhibited low-level English-speaking anxiety. The cross-tabulation data demonstrated that students perceived comprehension apprehension as the paramount anxiety factor. To reduce their comprehension apprehension, students prefer their lecturers not to over-react their speaking mistakes and degrade them when they make speaking mistakes. These imply that these findings can be used as consideration for preparatory programs for students and lecturers in EMI classes.Eksplorasi kecemasan berbicara mahasiswa Indonesia di perkuliahan daring kelas EMIPenelitian ini menganalisis tingkat kecemasan berbicara mahasiswa selama perkuliahan daring pada mata kuliah yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar (kelas EMI) di sebuah universitas swasta. Faktor-faktor yang menyebabkan kecemasan berbicara yang dialami mahasiswa dan strategi potensial untuk mengurangi kecemasan berbicara juga dianalisis. Delapan puluh sembilan mahasiswa Indonesia dari sepuluh program studi S1 kelas internasional menjadi responden pada penelitian ini. Data dikumpulkan melalui survei kecemasan berbicara yang dirancang oleh Horwitz dkk. (1986) Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas mahasiswa mengalami tingkat kecemasan berbicara yang rendah. Data tabulasi silang menunjukkan bahwa mahasiswa menganggap kecemasan terhadap pemahaman sebagai faktor utama pemicu kecemasan berbicara yang mereka alami. Untuk mengurangi kecemasan terhadap pemahaman mereka, mahasiswa mengharapkan agar dosen tidak bereaksi berlebihan terhadap kesalahan berbicara yang mereka lakukan dan tidak merendahkan mereka ketika mereka melakukan kesalahan berbicara. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan untuk pengembangan program persiapan bagi mahasiswa dan dosen di kelas EMI.
Historical study on the development of the weaving motif of Bima, West Nusa Tenggara, Indonesia Nursyahri Ramadhan; Tri Karyono; Zakarias Sukarya Soeteja
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p261

Abstract

Historical study on the development of the weaving motif of Bima, West Nusa Tenggara, IndonesiaThis study aims to trace the early history of the Bimanese to identify the weaving and its 10 motifs defined in the Bima Land Customary Law as part of the Bima ethnic characteristics. The study used a qualitative approach with data triangulation (observations, interviews, and documentation). The research result showed that the activity of spinning yarn was known by the Bimanese before the expedition of Sang Bima to the land of the rising sun (Satonda Island, a volcanic area on Sumbawa Island), which became the ancestors of the Bimanese. They used weaving to make clothes, using similar procedures of Javanese weaving. Initially, the motifs of Bimanese woven were only in the form of stripes and rectangles, but the acculturation with Javanese culture during the heyday of Majapahit influenced the development of motifs in the Bima Kingdom during the 11-13th centuries. Subsequently, there was also acculturation with Bugis and Malay culture after the Bima Kingdom turned into a Sultanate. For instance, in choosing a leader, the Bima people should adopt the principle in the nggusu waru (octagonal) motif or that the Bima people must always bring benefits and noble characteristics like the scent of a flower in the Satako flower motif. Kajian sejarah perkembangan motif tenun Bima, Nusa Tenggara Barat, IndonesiaTujuan dari penelitian ini adalah untuk menelusuri sejarah awal masyarakat Bima menge­nal tenunan dan motif-motif yang diterapkannya hingga terbentuk 10 motif yang ditetapkan dalam Hukum Adat Tanah Bima (HATB) sehingga menjadi ciri khas etnis Bima. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan triangulasi data (obser­vasi, wawancara, dan studi dokumen). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kegiatan pemintalan benang telah dikenal oleh masyarakat Bima sebelum pengembaraan tokoh Sang Bima ke negeri matahari terbit (Pulau Satonda, wilayah vulkanik di pulau Sumbawa) yang menjadi cikal bakal orang Bima dan untuk membuat pakaian, menerapkan seperti cara orang-orang Jawa dalam hal menenun. Motif awal yang dikenal oleh orang Bima hanya berbentuk garis-garis dan segi empat, namun akulturasi budaya Jawa pada masa kejayaan Majapahit ikut mempengaruhi perkembangan motif-motif di kerajaan Bima pada abad ke 11-13, selanjutnya, terjadi akulturasi budaya Bugis dan Melayu setelah kerajaan Bima berubah menjadi kesultanan sehingga penerapan motif-motif dalam lingkungan masyarakat Bima mengacu pada Hukum Adat Tanah Bima yang sesuai dengan Syariat Islam. Seperti memilih pemimpin berdasarkan makna yang terkandung dalam motif nggusu waru atau dalam berkehidupan sosial, orang Bima harus selalu membawa kebermanfaatan dan akhlak yang mulia sebagaimana aroma bunga sekuntum dalam motif bunga Satako.
The commodification of polygamy through the ecranization of the novel Air Mata Tuhan into the film Air Mata Surga Karkono Karkono
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p139

Abstract

The commodification of polygamy through the ecranization of the novel Air Mata Tuhan into the film Air Mata SurgaThis study explored the commodification of polygamy in the Air Mata Surga (AMS) movie, adapted from the Air Mata Tuhan novel. The movie was selected for a number of reasons. Firstly, it is an effective transformation medium to reach people with distinctive back­grounds, including their age, social status, domicile, education, culture, language, and even religion. Secondly, polygamy is considered sacred as it is correlated with religion. However, in the industrial sector, polygamy becomes a profane commodity once it is taken as a theme in a movie. Therefore, this study investigated the commodification types of polygamy in the AMS movie and society’s reception of those commodification. The researcher used the obser­vation technique on material objects in a novel and film and also created a questionnaire using Google Form. The research participants came from Malang, Surakarta, and Jakarta, Indo­nesia. The results show that the commodification observed in the AMS movies consists of both content and audience commodification. Meanwhile, polygamy was used by the pro­duction house as a means to gain revenue and to transform ideology, both in the novel and in the movie. The findings also suggest that 78 percent of participants mentioned that their viewpoint toward polygamy shifted after watching the movie.Komodifikasi poligami melalui ekranisasi novel Air Mata Tuhan ke film Air Mata SurgaPenelitian ini merupakan kajian tentang komodifikasi poligami melalui ekranisasi, yaitu film Air Mata Surga (AMS) yang diangkat dari novel Air Mata Tuhan. Ada beberapa hal yang melatar­bela­kangi penelitian ini. Pertama, film adalah media yang sangat efektif  un­tuk di­jadikan sarana trans­formasi ide dan dapat menjangkau masyarakat berbagai latar bela­kang; usia, status sosial, tempat domisili, pendidikan, budaya, bahasa, bahkan agama. Ke­dua, poligami adalah sesuatu yang sakral sebab berkaitan langsung  dengan ranah aga­ma, tetapi ketika dijadikan komoditas sebagai tema uta­ma yang diangkat dalam film, poli­gami sudah masuk ranah industri yang ber­sifat profan. Tujuan penelitian ini adalah me­ngetahui bentuk-bentuk komodifikasi poligami mela­lui film AMS. Tujuan lainnya ada­lah me­ngetahui resep­si/penerimaan masyarakat terhadap komo­difikasi poligami melalui film AMS. Peneli­ti­an ini dirancang sebagai kajian budaya dalam sistem berpikir kritis meng­gunakan teori komodifi­kasi. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah penga­matan dan pencer­mat­an terha­dap objek material yaitu novel dan film serta kuesioner deng­an menggunakan google form. Informan yang dipilih sebagai sarana pengambilan data da­lam penelitian ini berasal dari tiga kota, yaitu Malang, Surakarta, dan Jakarta. Hasil peneli­tian me­nunjuk­kan bahwa ben­tuk komodifikasi melalui produksi film AMS adalah komo­difikasi isi dan komodifikasi audiens. Poligami dijadikan tema utama dalam novel dan film sebagai sarana untuk meraih keuntungan dan sekaligus untuk transformasi ideolo­gi. Hasil analisis me­nunjuk­kan bahwa terdapat 78 persen responden yang menyatakan bahwa pandangan mereka terhadap praktik poligami bergeser usai menyaksikan film tersebut.
Green project work for process writing amidst the pandemic: Planning, implementing, and reflections Lestari Setyowati; Sari Karmina; Sony Sukmawan; Razlina Razali
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p223

Abstract

Green project work for process writing amidst the pandemic: Planning, implementing, and reflectionsThe aims of this paper are to discuss the concepts underlying Project-based learning (PjBL) and its syntax and to explore the planning, implementation, and reflection of PjBL in the online teaching of writing a process paragraph on the topic of using Reduce, Reuse, and Recycle (3R) principles to save the environment. Thirty-one students joined the paragraph writing course. The learning process and the students’ products of their projects were collected and documented in the form of videos, Power Point presentation, and electronic writing portfolios. The paper discusses how PjBl promotes collaborative work, problem-solving, critical thinking and technology integration. It also illustrates the steps of the implementation of PjBL which include planning, implementing, and reflecting. The project products were the students’ compositions and the videos showing the process in how to do or to make something that reflect the 3R principles. The majority of the students’ compositions were in ‘very good’ criteria, and the students’ videos were published in YouTube. The implementation of PjBL in the online teaching of process writing on the environmental topic increases the students’ critical thinking and creativity in solving global problems.Proyek Hijau untuk menulis paragraf proses di tengah pandemi: Perencanaan, pelaksanaan, dan refleksiTujuan artikel ini adalah membahas konsep yang mendasari pembelajaran berbasis proyek (PjBL) dan sintaksnya, dan mengeksplorasi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi PjBL dalam pembelajaran online menulis paragraf proses dengan topik menggunakan prinsip-prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R) untuk menyelamatkan lingkungan. Ada 31 mahasiswa yang mengikuti kelas menulis paragraf. Semua proses belajar mahasiswa dan produk proyek me­reka dikumpulkan dan didokumentasikan dalam bentuk video, presentasi Power Point, dan portofolio tulisan elektronik. Artikel ini membahas bagaimana PjBl mengedepankan kerja kolaboratif, pemecahan masalah, integrasi teknologi, dan berpikir kritis. Artikel ini juga mengilustrasikan langkah-langkah implementasi PjBL yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi. Produk proyek adalah karya mahasiswa dan video yang menunjukkan proses bagaimana melakukan atau membuat sesuatu yang mencerminkan prinsip 3R.  Sebagian besar tulisan mahasiswa termasuk dalam kriteria 'sangat baik', dan video mahasiswa telah dipublikasikan di YouTube. Penerapan PjBL dalam menulis paragraph proses bertema lingkungan meningkatkan daya pikir kritis dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah ekologi global.
New entry proposal in a dictionary: A case study for the entry lotus Hermina Sutami; Su Xinchun; Fransiska Wiratikusuma
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p274

Abstract

New entry proposal in a dictionary: A case study for the entry lotusThe object of this study is the word lotus. In the Comprehensive Indonesian Dictionary (KBBI), the lotus entry has only one meaning within the botanical domain. However, the word lotus is also present and used in the context of Buddhism in Indonesia. Based on this fact, it is suggested to add a new meaning to the entry. The problem is to decide whether the new meaning is a polysemy or a homonym, and the criteria used to determine this.  The purpose of this research is to provide input to the Language Development and Fostering Agency to add new word entries to the KBBI using a case study of the word 'lotus' entry. Our research results on the word 'lotus' can expand the knowledge of the Indonesian people from the domain of botany to the domain of religion. In order to determine whether the entry is a polysemy or a homonym is carried out through Peirce's semiotic theory developed by Ogden and Richards to examine the relationship between three components that make up the word lotus as a sign. The research method involves analyzing the difference between the basic meaning and the new meaning, whether there is a development of a new meaning or a completely different meaning from the basic meaning. Unlike the previous studies, this research views meaning as a sign component. The lotus entry is a sign consisting of symbol, thought or reference, and reference components.Proposal entri baru dalam kamus: Studi kasus untuk entri terataiObjek penelitian ini adalah kata teratai. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), entri teratai hanya memiliki satu arti dalam domain botani. Namun, kata teratai juga hadir dan digunakan dalam konteks agama Buddha di Indonesia. Berdasarkan fakta ini, disarankan untuk menambahkan arti baru. Persoalannya adalah apakah makna baru tersebut merupa­kan polisemi atau homonim, dan kriteria apa yang digunakan untuk menentukan entri seba­gai polisemi atau homonim. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberikan masukan kepada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk menambahkan entri kata baru untuk KBBI dengan menggunakan studi kasus dari entri kata teratai. Hasil penelitian dari kata teratai dalam studi ini dapat memperluas pengetahuan masyarakat Indonesia dari ranah botani ke ranah religi. Penentuan bahwa kata ini merupakan sebuah polisemi atau homonim dilakukan melalui teori semiotika Peirce yang dikembangkan oleh Ogden dan Richards untuk mengkaji hubungan antara tiga komponen yang membentuk kata teratai sebagai tanda. Metode penelitian ini melibatkan analisis perbedaan antara makna dasar dan makna baru, apakah ada pengembangan makna baru atau makna yang sama sekali berbeda dari makna dasar. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini memandang makna sebagai komponen tanda. Entri teratai adalah tanda yang terdiri dari simbol, pemikiran atau referensi, dan komponen referensi.
The language use of the Balinese diaspora in Kampung Bali, Penganjuran, a multilingual village in Banyuwangi Ika Nurhayani; Sahiruddin Sahiruddin; Esti Junining; Hamamah Hamamah
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p152

Abstract

The language use of the Balinese diaspora in Kampung Bali, Penganjuran, a multilingual village in BanyuwangiThe paper investigates the language use of the Balinese diaspora in Kampung Bali, Peng­anjuran, a multilingual village in Banyuwangi, which includes the multilingual situation, the nature of the language accommodation and the language domains. The current study answers the following research questions: (1) how is the situation of multilingualism in the village? (2) how is the situation of language accommodation in the Balinese village in the village? and (3) what are the domains of the use of the languages spoken in the village? The research applied a qualitative research approach using semi-structured interviews. Thirteen questions were asked during the interviews with three research participants. The answers were coded into data related to multilingualism situation, language accommodation, and domains of language use of the languages spoken in Kampung Bali, Penganjuran. The analysis aims to search for patterns and links in the coded texts. The findings show that the Balinese diaspora is the most multilingual ethnic group in Kampung Bali, Penganjuran, as they speak five languages: Indonesian, Balinese, Osing, Javanese, and Madurese. The Balinese also displays an accom­modative nature toward the national language and the dominant vernacular languages. The findings also show that the domains of use of Balinese in the diaspora have declined since it is only used at the house of worship by three research participants and at home by one par­ticipant. The accommodative nature of the Balinese diaspora might have contributed to the shift from Balinese to the national language or to the dominant vernacular languages.Penggunaan bahasa diaspora Bali di Kampung Bali, Penganjuran, sebuah desa multilingual di BanyuwangiMakalah ini mengkaji penggunaan bahasa oleh diaspora Bali di Kampung Bali, Penganjuran, sebuah desa multilingual di Banyuwangi yang meliputi situasi multibahasa, sifat akomodasi bahasa dan domain bahasa orang Bali. Oleh karena itu penelitian ini menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini: (1) bagaimana situasi multilingualisme di desa tersebut? (2) bagai­mana situasi akomodasi bahasa di desa tersebut? (3) bagaimana ranah penggunaan bahasa Bali di desa tersebut? Makalah ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wa­wancara semi terstruktur dengan 13 pertanyaan yang diajukan pada tiga responden pene­litian. Jawaban-jawaban tersebut kemudian ditandai sesuai kaitannya dengan situasi multi­lingualisme, akomodasi bahasa, dan domain penggunaan bahasa dari bahasa-bahasa yang digunakan di Kampung Bali Penganjuran. Analisis bertujuan untuk mencari pola dan tautan dalam teks yang dikodekan. Temuan menunjukkan bahwa diaspora Bali adalah kelompok etnis yang paling multibahasa di Kampung Bali Penganjuran dengan berbicara lima bahasa, Indonesia, Bali, Osing, Jawa dan Madura. Orang Bali juga menampilkan sifat akomodatif terhadap bahasa nasional dan bahasa daerah yang dominan. Selanjutnya, temuan menun­jukkan bahwa ranah penggunaan bahasa Bali pada diaspora mengalami penurunan karena hanya digunakan di rumah ibadat oleh tiga peserta penelitian dan di rumah oleh satu peserta. Sifat akomodatif dari diaspora Bali memiliki peranan dalam per­geseran dari bahasa Bali ke bahasa nasional atau ke bahasa daerah yang dominan.
The Celebration: Analyzing realism in Dogme 95 Manifesto film Dimas Raditya Bagaskara; M. Misbahul Amri; Nabhan Fuad Choiron; Evi Eliyanah
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v50i22022p196

Abstract

The Celebration: Analyzing realism in Dogme 95 Manifesto filmBelieving that the film industry is getting worse by utilizing simple plots and only emphasizing on the editing and the cosmetics, European filmmakers and theorists make their own style of realistic film movements as a reaction to Hollywood’s mainstream filmmaking style. One of which is the famed Dogme 95 Manifesto film movement in Denmark propagated by Lars von Trier. Dogme 95 Manifesto is a set of rules that needs to be followed by filmmakers in order to make a Dogme film. It is believed that by following this rule will restrain the filmmakers’ creativity, focusing more on the realism inside the film, and “purifying” the film industry. In this paper, we analyze realism in Dogme 95 through one of its successful milestones: The Celebration by Thomas Vinterburg through its cinematography and Dogme 95 rules within the film. We argue that as opposed to bringing realistic images on the screen, The Celebration brings atmospheric realism by providing a consistent feel of ‘relatability’ and presence inside the story to the spectators.The Celebration: Analisis realisme pada film Dogme 95 ManifestoSetelah mengetahui semakin parahnya industri film sekarang yang hanya menggunakan plot mudah dan lebih fokus kepada proses pengeditan dan kosmetik belaka, pembuat dan ahli film di Eropa telah membuat gaya film realis ciptaan mereka sendiri sebagai sebuah bentuk protes terhadap film-film mainstream ala Hollywood. Salah satunya adalah gerakan film Dogme 95 Manifesto asal Denmark yang digagas oleh Lars von Trier. Dogme 95 Manifesto berisi sebuah peraturan yang harus ditaati oleh pembuat film untuk membuat sebuah film Dogme. Mengikuti aturan-aturan ini akan lebih mengekang kreativitas para pembuat film, membuat film lebih realistis, dan mensucikan industri film. Dalam penelitian ini, kami menganalisis realisme dalam proyek Dogme 95 dari salah satu film mereka yang paling terkenal yaitu The Celebration yang disutradarai oleh Thomas Vinterburg dengan menggunakan analisis intrinsik berdasarkan aturan sinematografi dan aturan Dogme 95 yang ada di dalamnya. Para peneliti menyimpulkan bahwa tanpa perlu mempresentasikan kualitas gambar terbaik, The Celebration telah membawakan suasana  realisme dengan memberikan nuansa ‘berada dalam cerita’ kepada para penonton.