cover
Contact Name
Bayu Koen Anggoro
Contact Email
bahasaseni.journal@um.ac.id
Phone
+628123319233
Journal Mail Official
bahasaseni.journal@um.ac.id
Editorial Address
Semarang St. No 5, Malang, Indonesia
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya
ISSN : 08548277     EISSN : 25500635     DOI : https://doi.org/10.17977
Core Subject : Education,
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya is a double-blind peer-reviewed international journal published twice a year in February and August (ISSN 0854-8277) (E-ISSN 2550-0635). This journal publishes scientific articles on language, literature, art, as well as their relation to teaching. lt publishes empirical and theoretical studies in the form of original research, case studies, research or book reviews, and innovation in teaching and learning with various perspectives. Articles can be written in English, Indonesian, or other foreign languages.
Articles 298 Documents
Understanding the roles of images and intermodal relationships for optimized use of visual and verbal resources in Vietnam’s textbooks for lower secondary levels Yusnita Febrianti; Thao Vu
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p54

Abstract

The study investigates the roles of images and intermodal relationships of both language and images in two English textbooks used in Vietnamese lower secondary schools, namely Tieng Anh and Solutions textbooks to gain insights on the ways to optimise the use of both language and images as resources in teaching and learning activities. Kress and Van Leeuwen’s (1996, 2006) framework on the grammar of visual design is used to analyse the images, looking at the types of image representations and the compositional meanings. The language-image relationships in the books, on the other hand, are analysed using the framework of Intermodal Identification (Unsworth & Cleirigh, 2014). Intermodal identification is built on the notion that language complements the meaning of the image and vice versa. Language identifies image by glossing the image participants which are not encoded in the language elements. Image identifies language in three aspects: intensive to visualise quality such as shape, colour, or texture, possessive to visualise additional participants which are not explicitly addressed in the language and circumstantial to visualise the elements of locations in the language.  While image in textbooks has always been considered essential as a source of teaching and learning materials as well as helping students to learn, this study suggests that the role of image is augmented when juxtaposed with the accompanying language. The study implies the need for further investigation, for example in the classroom action research on how language and image resources can be utilised in teaching and learning activities.  Also, the result of the study may be replicated to analyse language-image relationship in different samples of textbooks.Keywords: images, language,English textbooks, language-image relationship/interactionMemahami peran gambar dan hubungan intermodal untuk optimalisasi penggunaan sumber visual dan verbal dalam buku teks bahasa Inggris untuk siswa sekolah menengah di VietnamPenelitian ini menyelidiki peran gambar dan hubungan antar moda dari kedua bahasa dan gambar dalam dua buku teks bahasa Inggris yang digunakan di sekolah menengah pertama Vietnam, yaitu buku teks Tieng Anh dan Solutions untuk mendapatkan wawasan tentang cara mengoptimalkan penggunaan bahasa dan gambar sebagai sumber daya di kegiatan belajar mengajar. Kerangka kerja dari Kress dan Van Leeuwen (1996, 2006) tentang tata bahasa desain visual digunakan untuk menganalisis gambar, melihat jenis representasi gambar dan makna komposisi. Kemudian, hubungan bahasa-gambar dalam buku dianalisis menggunakan kerangka Identifikasi Intermodal (Unsworth & Cleirigh, 2014). Identifikasi intermodal dibangun di atas gagasan bahwa bahasa melengkapi makna gambar dan sebaliknya. Bahasa mengidentifikasi gambar dengan mengilapkan peserta gambar yang tidak dikodekan dalam elemen bahasa. Gambar mengidentifikasi bahasa dalam tiga aspek: intensif untuk memvisualisasikan kualitas seperti bentuk, warna, atau tekstur, posesif untuk memvisualisasikan peserta tambahan yang tidak secara eksplisit dibahas dalam bahasa dan sirkumstansial untuk memvisualisasikan elemen lokasi dalam bahasa. Sementara gambar dalam buku teks selalu dianggap penting sebagai sumber bahan ajar dan pembelajaran serta membantu siswa untuk belajar, penelitian ini menunjukkan bahwa peran gambar bertambah ketika disandingkan dengan bahasa yang menyertainya. Penelitian ini menunjukkan pentingnya penelitian lanjutan, misalnya dalam bentuk penelitian tindakan kelas untuk mengetahui bagaimana bahasa dan gambar dapat dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar. Juga, hasil penelitian ini dapat direplika untuk menganalisis hubungan bahasa-gambar dalam sampel buku teks yang berbeda.Kata kunci: bahasa, gambar, buku teks, bahasa Inggris, hubungan/interaksi bahasa-gambar
Exploring Batik Semarangan as a medium to develop intercultural communication awareness and global competence Ekawati Marhaenny Dukut
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p73

Abstract

People doing work from home are mostly depending on what the internet has to offer for communication. Because people want to make good use of the Internet for communication, such information is available in English as a global language. One of the advantages of having ready information in English is that local cultural products can now have better chances to compete globally with products from other cultures. One of those products is Indonesia’s Batik Semarangan, which is produced in Semarang, the capital city of Central Java. Through studying the motifs found in Batik Semarangan, an intercultural communication awareness of rich hybrid culture can be achieved. To ensure awareness, a group of English Department’s literature students was trained to do library and field research on Batik Semarangan. By applying Roland Barthes’ semiotics, students were encouraged to explore the hidden reasons for the unique choice of Batik Semarangan motifs. By doing this activity, not only were the students equipped to be more critical in researching local products but the lecturer has also helped preserve and elevate Batik as a traditional heritage that has global potentiality. Keywords: Batik Semarang; cultural hybrid; traditional heritage; global competence; intercultural communication awarenessMenggali Batik Semarangan sebagai media untuk membentuk pengetahuan komunikasi antar budaya dan kompetensi globalKebanyakan orang yang melakukan pekerjaan mereka dari rumah mengandalkan media komunikasi mereka dengan apa yang ditawarkan oleh internet. Karena orang ingin memanfaatkan internet dengan baik untuk komunikasi, maka banyak informasi tersedia dalam bahasa Inggris sebagai bahasa global. Salah satu keuntungan memiliki informasi dalam bahasa Inggris adalah produk budaya lokal sekarang dapat memiliki peluang yang lebih baik untuk bersaing secara global dengan produk dari budaya lain. Salah satunya adalah Batik Semarangan Indonesia yang diproduksi di Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Melalui mempelajari motif yang ditemukan di Batik Semarangan, kesadaran komunikasi antarbudaya akan budaya hibrida yang kaya dapat dicapai. Untuk memastikan kesadaran tersebut, sekelompok mahasiswa Sastra Inggris dilatih untuk melakukan penelitian kepustakaan dan lapangan tentang Batik Semarangan. Dengan menerapkan semiotika Roland Barthes, mahasiswa didorong untuk mengeksplorasi alasan-alasan tersembunyi dari pemilihan motif batik Semarangan yang unik. Dengan melakukan kegiatan ini, siswa tidak hanya dibekali untuk lebih kritis dalam meneliti produk lokal tetapi dosen juga turut melestarikan dan mengangkat Batik sebagai warisan tradisional yang memiliki potensi global.Kata kunci: Batik Semarangan; hibrida budaya; warisan tradisional; kompetensi global kesadaran komunikasi antarbudaya
Developing a learning management system for critical literacy course: A need analysis Tara Mustikaning Palupi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p91

Abstract

In preparing the students to have the ability to interpret texts using critical lenses, to challenge the power relations within the messages and communicate actively in multimodal context, there is a need and urgency of the hybrid learning process to take place. As part of multi-years’ research and development which aims to develop digital module and learning management systems (LMS) for the students, this preliminary needs-based research focuses on the students’ and lecturers’ perceptions regarding the need for developing LMS in the Critical Literacy course in Bachelor of English Language Education, Universitas Negeri Jakarta. The research participants were thirty-two students, and a lecturer who responded to questionnaires, interviews to lecturer, and focus group discussions. The research data was the students’ needs based on Hutchinson and Water’s theory which could be divided into target needs (necessities, lacks and wants) and learning needs.  The study was conducted with the qualitative approach with the Successive Approximation Model (SAM) which focuses on Preparation Phase research design. Throughout the information gathering and the Savvy Start, the phase rotated through needs analysis and library study. The results demonstrate that there is a gap between the expected outcomes of the Critical Literacy course and students' ability to understand various texts, especially in understanding the interpretation of data in the form of graphs, tables, and numbers. Also, students need exposure to various texts such as news items, critical analysis of texts, and current issues in education. While the difficulty experienced by lecturers when teaching is that students' language skills (especially reading) are very varied. Also, the lecturer and students want Critical Literacy material that makes students think critically about topics related to critical literacy theory, strategy, and its practice. The preferred activities in this course include debates, discussions, criticizing social campaigns, advertisements and short films, and topics on digital literacy. By this, developing a ready-to-use digital English learning materials that correspond to the students’ and lecturer’s is exigent.Ketwords: needs analysis; critical literacy course; The successive approximation model (SAM)Mengembangkan learning management system pada mata kuliah critical literacy: Sebuah analisa kebutuhanDalam rangka mempersiapkan mahasiswa untuk memiliki kemampuan menginterpretasi­kan teks dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis, menantang relasi kuasa dalam pesan dan berkomunikasi secara aktif dalam konteks multimodal, terdapat kebutuhan dan urgensi agar proses pembelajaran hybrid dapat berlangsung. Sebagai bagian dari penelitian dan pengembangan berkelanjutan yang bertujuan untuk mengembangkan modul digital dan learning management system (LMS) bagi mahasiswa, penelitian tahun pertama berbasis kebutuhan ini berfokus pada perspective mahasiswa dan dosen berkaitan dengan kebutuhan pengembangan LMS pada mata kuliah Critical Literacy di Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, Universitas Negeri Jakarta. Tiga puluh dua orang mahasiswa, dan seorang dosen mengisi angket, melakukan focus group discussion dan wawancara dengan dosen. Data penelitian adalah kebutuhan siswa berdasarkan teori Hutchinson and Water yang dapat dibagi menjadi kebutuhan target (necessities, lacks and wants) dan kebutuhan belajar. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif menggunakan Successive Approximation Model (SAM) yang menitikberatkan pada desain Preparation Phase. Dalam tahap ini dilakukan pengumpulan informasi dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat kesenjangan antara hasil yang diharapkan dari mata kuliah Critical Literacy dengan kemampuan siswa dalam memahami berbagai teks, terutama dalam memahami interpretasi data dalam bentuk grafik, tabel, dan angka. Selain itu, siswa membutuhkan banyak paparan berbagai teks seperti news item, analisis kritis teks, dan isu-isu terkini dalam pendidikan. Sedangkan kesulitan yang dialami dosen saat mengajar adalah kemampuan berbahasa mahasiswa (khususnya membaca) yang sangat bervariasi. Selain itu, dosen dan mahasiswa menginginkan materi Critical Literacy yang mampu membuat mahasiswa berpikir kritis dengan topik-topik yang berkaitan dengan teori, strategi, dan praktik literasi kritis. Kegiatan yang disukai dalam mata kuliah ini antara lain debat, diskusi, kritik kampanye sosial, iklan dan film pendek, serta topik mengenai literasi digital. Oleh karena itu, pengembangan materi pembelajaran bahasa Inggris digital yang siap pakai yang sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan dosen menjadi sangat mendesak untuk dibuat.Kata kunci: analisis kebutuhan; mata kuliah critical literacy; The successive approximation model (SAM)
The application of natural dyes from rambutan skin for eco-printing on tanned leather RA. Ataswarin Oetopo; Ririn Despriliani; Fariz Al Hazmi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p107

Abstract

The use of natural materials is a creative and innovative process to increase the potential of the surrounding environment, such as the use of natural dyes. As rambutan skin has been rarely used and reported as a natural dye, this study explores its usage on leather. In this study, we applied rambutan skin as a natural dye to tanned leather from goat crust skin using the creative eco-printing method. We used an experimental method with a pre-experiment one-shot case study design. Each sample was dyed at different times using distinct solutions during the mordant process. The solution was made from rambutan skin and different solvents, such as alum (AI2(SO4)3), calcium oxide (Ca(OH)2), and ferrous sulfate (FeSO4). The results show that crust-tanned leather from goat skin can be successfully colored with natural dye from rambutan skin. The more amount of dyes used results in a darker color. In addition, the type of mordant used produces a different color. In the eco-printing process, the background color is influenced by the type of mordant used on the blanket, which serves as a cover for the eco-print process. Meanwhile,  the leaves stop the mordant from penetrating the leather and become the source of the motive.Keywords: natural dyes; rambutan skin; eco-printing; tanned leatherPenerapan pewarna alami dari kulit rambutan dalam kreasi eco printing pada kulit tersamakMemanfaatkan bahan alam sebagai proses berkreasi adalah salah satu upaya dalam mela­kukan inovasi untuk meningkatkan potensi lingkungan sekitar, salah satunya melalui penggunaan pewarna alami. Pemanfaatan kulit rambutan sebagai pewarna alami masih terbatas pada media yang digunakan sehingga perlu adanya eksplorasi terhadap bahan lain seperti bahan kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menerapkan kulit rambutan sebagai pewarna alami yang diterapkan pada bahan kulit kambing tersamak jenis crust dan penerapan pada proses berkreasi eco printing. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan bentuk pre-eksperimen jenis one-shot case study. Setiap sampel dicelup dengan jumlah pencelupan yang berbeda lalu dilakukan proses mordant dengan larutan yang berbeda yaitu tawas (AI2(SO4)3), kapur (Ca(OH)2), dan tunjung (FeSO4). Hasil menunjukkan bahwa kulit kambing tersamak jenis crust dapat diberi warna dengan larutan pewarna alami kulit rambutan. Semakin banyak jumlah pence­lupan, maka warna yang dihasilkan semakin pekat dan jenis mordant yang digunakan menghasilkan warna yang berbeda. Dalam proses eco printing, warna pada latar di­penga­ruhi oleh jenis mordant yang digunakan pada blanket sebagai penutup proses eco­print dan motif yang dihasilkan berasal dari daun yang merintangi zat mordant masuk ke dalam kulit.Kata kunci: pewarna alami; kulit rambutan; eco printing; kulit tersamak
The concept of Tritangtu at Tarawangsa music performance in Pasir Biru Village, Rancakalong, Sumedang Sri Rahayu Ferawati; Aris Setiawan
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i22023p243

Abstract

This study aims to reveal the aesthetics of the concept of Tritangtu (the trinity) in the Tarawangsa music performance in Kampung Pasir Biru, Rancakalong, Sumedang. Tarawangsa is a ritual ceremony related to religious magic to honor Keursa Nyai (goddess of fertility). The music in this ritual is not just an accompaniment or ritual compliment but even deeper shows a strong connection with the concept of Tritangtu, namely the world of heaven, the human world, and the underworld. This study uses the ethnographic method, by performing an in-depth recording of the event. The recording is to find out in more detail why Tarawangsa music is played, in what context, and how do people believe in it. In addition, the concept of Tritangtu, belief in three main elements (metacosm, microcosm, and macrocosm) shows a thought of the Rancakalong people about the balance of human life with God and nature. The study results show that the cultural customs of the Pasirbiru community, in general, indicate how this balance is maintained. They believe there will be a significant impact if one of the Tritangtu elements is not fulfilled, and Tarawangsa's music is an essential element in this effort.Konsep Tritangtu pada pertunjukan musik Tarawangsa di Desa Pasir Biru, Rencakalong, SumedangPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap estetika konsep Tritangtu (urutan tiga unsur) dalam pertunjukan musik Tarawangsa di Kampung Pasir Biru, Rancakalong, Sumedang. Tarawangsa adalah upacara ritual yang berhubungan dengan ritual keagamaan untuk menghormati Keursa Nyai (dewi kesuburan). Musik dalam ritual ini bukan sekedar pengiring atau pujian ritual, tetapi lebih dalam lagi menunjukkan keterkaitan yang kuat dengan konsep Tritangtu yaitu dunia surga, dunia manusia, dan dunia bawah. Penelitian ini menggunakan metode etnografi, dengan mencatat secara mendalam suatu peristiwa. Pencatatan itu untuk mengetahui lebih detail mengapa musik Tarawangsa dimainkan, dalam konteks apa, dan bagaimana masyarakat mempercayainya. Selain itu, konsep Tritangtu, kepercayaan pada tiga unsur utama (metakosmos, mikrokosmos, dan makrokosmos) menunjukkan pemikiran masyarakat Rancakalong tentang keseimbangan hidup manusia dengan Tuhan dan alam. Hasil kajian menunjukkan bahwa adat budaya masyarakat Pasirbiru secara umum menunjukkan bagaimana keseimbangan itu dijaga. Mereka yakin akan ada dampak yang signifikan jika salah satu unsur Tritangtu tidak terpenuhi, dan musik Tarawangsa menjadi unsur penting dalam upaya tersebut.
Retta language revitalization learning materials in Alor Regency Satwiko Budiono; Evi Noviani
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i22023p312

Abstract

Currently there are various learning materials that are able to motivate younger generations in learning local and indigenous languages. One example is the creation of songs in Retta language revitalization program in Alor Regency. In this regard, this study seeks to explain the process of revitalizing the Retta language and reviewing the effectiveness of   revitalizing the Retta language through local language songs as learning materials. This is important because language and culture transmission through songs is a novelty in a language revitalization program. The research method uses a community—based language revitalization model and a descriptive qualitative approach with observational method from the analysis of Retta language songs in the language revitalization program. As a result, the Retta language revitalization in the South Ternate Village using local language songs is effective in increasing the interest of young speakers in the local language. This is based on the impact felt by the language revitalization participants as young speakers and Retta speakers in general. Besides that, the Retta language revitalization program was also able to raise public and local government awareness with evidence of the signing of a memorandum of understanding to preserve the Retta language in the future. Thus, the Retta language revitalization program using local language songs can continue to be developed by the local government.Bahan pembelajaran revitalisasi bahasa Retta di Kabupaten AlorAda banyak bahan pembelajaran yang dapat menjadi pendukung untuk meningkatkan motivasi penutur muda dalam belajar bahasa daerah. Salah satu contohnya adalah pembuatan lagu berbahasa daerah dalam program revitalisasi bahasa Retta di Kabupaten Alor. Sehubungan dengan hal tersebut, penelitian ini berusaha menjelaskan proses revitalisasi bahasa Retta dan meninjau keefektifan bentuk revitalisasi bahasa melalui lagu berbahasa daerah sebagai bahan pembelajaran. Hal ini disebabkan transmisi bahasa dan budaya melalui lagu termasuk hal baru dalam program revitalisasi bahasa. Metode penelitian menggunakan model revitalisasi bahasa berbasis komunitas dan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi dari analisis lagu berbahasa Retta dalam program revitalisasi bahasa. Hasilnya, revitalisasi bahasa Retta di Desa Ternate Selatan dengan menggunakan lagu berbahasa daerah efektif meningkatkan minat generasi muda terhadap bahasa daerah. Hal ini berdasarkan dampak yang dirasakan oleh peserta revitalisasi bahasa sebagai penutur muda dan penutur bahasa Retta secara umum. Selain itu, program revitalisasi bahasa Retta juga mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemerintah daerah dengan bukti penandatanganan nota kesepahaman untuk melestarikan bahasa Retta di masa depan sehingga program dapat terus dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat.
Revealing the power practices and ideology of pedophiles in pedophile community through transitivity choices Antok Risaldi; Anang Santoso; Moch. Syahri; Yuni Pratiwi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i22023p176

Abstract

Among the choices of grammatical forms, the transitive system stands out in the pedophile community. The purpose of this study is to reveal the exercise of power and ideology of pedophiles through their transitive choices. In systemic functional linguistics (SFL), the transitivity system is widely used to analyze isolated clauses and contextual clauses. The data for this research was taken from conversational texts by pedophiles at WordPress Jakongsu from December 2021 to February 2022.  Data were collected through netnography approach (Kozinets, 2010), which applies ethnography collection technique in the virtual world. The existed data were compiled in a digital archive. To analyze the data, Fairclough's critical discourse analysis (CDA) model was used (i.e., description, interpretation, and explanation). The findings of the study indicate that pedophiles tend to use clauses of the material process than those of mental and relational processes.Mengungkap praktik kuasa dan ideologi pelaku kejahatan dalam komunitas pedofilia melalui pilihan ketransitifanDi antara pilihan terhadap bentuk-bentuk gramatikal, pilihan sistem ketransitifan begitu menonjol dalam komunitas pedofilia. Tujuan penelitian ini untuk mengungkap praktik kuasa dan ideologi pelaku kejahatan dalam komunitas pedofilia melalui pilihan ketransitifan. Dalam linguistik sistemik fungsional (LSF), sistem transitivitas adalah sarana yang umum digunakan untuk menganalisis klausa yang terisolasi maupun klausa dalam konteks. Data penelitian ini diambil dari satu komunitas pedofilia di Wordpress Jakongsu selama Desember 2021 hingga Februari 2022. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini berupa netnografi yang mengacu kepada pendapat Kozinets (2010), yang merupakan bentuk adopsi dari teknik pengumpulan etnografi pada ranah dunia maya. Data yang sudah ada dikumpulkan dalam pengarsipan digital. Untuk menganalisis data peneliti menggunakan model analisis wacana kritis dari Fairclough, yakni deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Temuan dari penelitian ini menjelaskan bahwa dalam pedofilia memiliki kecenderuan untuk menggunakan klausa yang berjenis proses material dibandingkan klausa yang berjenis proses mental dan proses relasional.
Pre-service teachers’ perceptions towards the implementation of multimodal texts in microteaching classes Jullius Christ Addel Haryyadi; Zuliati Rohmah
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i22023p255

Abstract

In the digital age, technological advances impact EFL language instruction in Indonesia. After examining the current and future demands of education, prospective educators need to attain the minimum standards to fulfill students' needs in the twenty-first century. Multimodal texts in education are one way to solve today's pedagogical needs. The current study explores pre-service teachers' perceptions of their performance in utilizing multimodal texts in micro­teaching classes. Data were collected from the 6th-semester students from the English Language Education Study Program, the Faculty of Cultural Studies, Universitas Brawijaya, Indonesia. This research applied mixed methods, combining data collection from observation, questionnaires as primary sources, and a focus group discussion (FGD) to support the data. Then, the questionnaire data were analyzed quantitatively, and data from the FGD were coded and analyzed using thematic analysis. The finding shows that the pre-service teachers applied five types of multimodal texts in microteaching classes. In addition, although most of them perceive positively toward the use of multimodal texts in their teaching practice, there are still challenges in implementing digital-based multimodal texts, such as limited access to digital applications and confusion in integrating digital applications into learning activities.Persepsi guru pra-kerja terhadap implementasi teks multimodal di kelas microteachingDi era digital, kemajuan teknologi berdampak pada pengajaran Bahasa Inggris di Indonesia. Setelah melihat tuntutan pendidikan saat ini dan masa depan, calon pendidik perlu mencapai standar minimum untuk memenuhi kebutuhan siswa di abad kedua puluh satu. Teks multimodal dalam pendidikan merupakan salah satu cara untuk menjawab kebutuhan pedagogis saat ini. Studi saat ini mengeksplorasi persepsi calon guru tentang kinerja mereka dalam memanfaatkan teks multimodal di kelas microteaching. Data dikumpulkan dari mahasiswa semester 6 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode campuran, menggabungkan pengumpulan data dari observasi, kuesioner sebagai sumber data utama, dan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendukung data. Kemudian data kuesioner dianalisis secara kuantitatif, dan data hasil FGD diberi kode dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Temuan menunjukkan bahwa calon guru menerapkan lima jenis teks multimodal di kelas microteaching. Selain itu, meskipun sebagian besar dari mereka berpersepsi positif terhadap penggunaan teks multimodal dalam praktik pengajaran, masih ditemukan beberapa tantangan dalam mengimplementasikan teks multimodal berbasis digital, seperti keterbatasan akses ke aplikasi digital dan kebingungan dalam mengintegrasikan aplikasi digital ke dalam bentuk kegiatan pembelajaran.
Factors that affect speaking skills of students from ethnic minorities in English language learning Nisrina Nisrina
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 1 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um015v51i12023p120

Abstract

The idea of speaking skills is interconnected with the environment and social context of students poses new challenges by students from ethnic minorities in English language learning. These factors encompass the hindrances and the success of ethnic minority students in adjusting themselves in speaking classes. From 95 first-year students in English Language Teaching program, 18 of them have different minor ethnicities. This study adopted a qualitative study by using semi-structured interviews as an instrument of research. The data then transcribed, coded, and analyzed into different themes that are in line with the research objectives. The results of this study show that the difficulties experienced by students from ethnic minorities in adjusting themselves in speaking classes are the lack of confidence, shyness, and anxiety, speaking opportunities and vocabulary masteries, feeling isolated, and additive bilingualism from peers. However, these hindrances can be solved by various factors: teachers’ decision in designing discussed topics and speaking activities in classroom setting.Keywords: ethnic minority students; speaking class; hindrances; encouragementFaktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan berbicara siswa etnis minoritas dalam pembelajaran bahasa InggrisPemikiran bahwa kemampuan berbicara sangat erat berkaitan dengan lingkungan dan konteks sosial siswa menjadikan tantangan tersendiri bagi siswa etnis minoritas dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Faktor-faktor ini mencakup kendala dan keberhasilan siswa ethis minoritas dalam menyesuaikan diri di kelas berbicara. Dari 95 siswa yang berada di semester pertama program Pendidikan Bahasa Inggris, 18 diantaranya berasal dari etnis minoritas yang beragam. Penelitian ini mengadopsi desain kualitatif dengan menggunakan wawancara semi terstruktur sebagai instrumen. Data ditranskrip, dikodekan dan dianalisis kedalam beberapa tema sesuai dengan fokus penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan yang dialami siswa etnis minoritas dalam beradaptasi di kelas berbicara diantaranya rasa percaya diri, malu dan cemas, pengalaman berbicara dan perbendaharaan kata, perasaan terisolasi dan aditif bilingualism dari teman. Namun, kendala tersebut berangsur-angsur dapat diatasi karena faktor: pilihan dosen terhadap topik yang didiskusikan dan kegiatan aktifitas pada kelas berbicara.Kata kunci: siswa etnis minoritas; kelas berbicara; kendala; pendukung
The creative process of two Indonesian NFT artists from the perspective of actor-network theory Rendy Pandita Bastari; Idhar Resmadi; Wahyu Lukito
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol 51, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/10.17977/um015v51i22023p193

Abstract

The development of crypto has resulted in NFT (non-fungible token) derivation. Artists began to explore the NFT market with its potential. NFT artists have different ways to get engagement and establish themselves in the world of NFT, whether in terms of artwork substance or in the social field. This study aims to deconstruct the actors behind NFT artists to elucidate the visual style and the social engagement of artists in the world of NFT. The method used in this study is a qualitative approach with data validation from interviews and NFT artwork samples. The data was subsequently processed using actor-network theory (ANT) to analyze and trace the actors behind the NFT artists. Two Indonesian artists, namely Angga Tantama and Mufti Prianka, became the study cases in this research. The result of this study shows heterogeneous actors who support the artists in their work's substance and social engagement. In the case of Mufti Prianka, NFTs influenced him to explore the possibilities of creating digital artworks, whereas for Angga, NFT platforms became one of his well-established channels to publish artworks. Based on their networks, the two Indonesian artists studied have different approaches and motivations in creating and engaging with NFTs.Proses kreatif dua seniman NFT Indonesia dalam perspektif teori jaringan aktorPerkembangan kripto telah menghasilkan derivasi NFT (non-fungible token). Para seniman mulai menjajaki pasar NFT dengan potensinya. Seniman NFT memiliki cara yang berbeda untuk mendapatkan keterlibatan dan memantapkan diri di dunia NFT baik dari segi substansi karya seni maupun dalam bidang sosial. Gaya visual dalam kategori ini bervariasi dengan seniman yang berbeda yang merupakan pencipta di belakangnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi aktor di balik seniman NFT untuk menjelaskan gaya visual dan keterlibatan sosial seorang seniman di dunia NFT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan validasi data dari wawancara dan sampel karya seni NFT. Data tersebut selanjutnya diolah menggunakan teori jaringan aktor (ANT) untuk menganalisis dan menelusuri aktor di balik seniman NFT. Dua seniman Indonesia menjadi studi kasus dalam penelitian ini, yaitu Angga Tantama dan Mufti Prianka. Hasil penelitian ini menunjukkan aktor heterogen yang mendukung seniman dalam substansi karya dan keterlibatan sosialnya. Dalam kasus Mufti Prianka, NFT memengaruhinya untuk mengeksplorasi kemungkinan dalam menciptakan karya seni digital, sedangkan pada Angga, platform NFT menjadi salah satu salurannya yang mapan untuk mempublikasikan karya seni. Berdasarkan jaringan mereka, dua seniman Indonesia yang diteliti memiliki pendekatan dan motivasi yang berbeda dalam menciptakan dan terlibat dengan NFT.