cover
Contact Name
Jefrie Walean
Contact Email
jefrywalean@gmail.com
Phone
+6281326764982
Journal Mail Official
jefrywalean@gmail.com
Editorial Address
Jl. Towua No.80, Tatura Sel., Kec. Palu Sel., Kota Palu, Sulawesi Tengah 94111
Location
Kota palu,
Sulawesi tengah
INDONESIA
Jurnal Salvation
ISSN : -     EISSN : 2623193X     DOI : https://doi.org/10.56175/salvation
Core Subject : Religion, Education,
Jurnal Salvation adalah jurnal teologi yang diterbitkan oleh STT Bala Keselamatan Palu, dua kali dalam setahun (Bulan Januari dan Bulan Juli). Jurnal ini memuat masalah-masalah teologi terkini secara global dan juga masalah-masalah yang muncul dalam masyarakat. Tulisan-tulisan yang dimuat dalam jurnal ini adalah tulisan dari berbagai penulis yang memiliki perspektif yang berbeda sehingga apa yang dimuat dalam jurnal ini tidak mewakili pandangan institusi STT Bala Keselamatan Palu. Jurnal ini bertujuan melengkapi para pelayan Tuhan dalam berbagai bidang pelayanan gereja sehingga dapat menyingkapi permasalahan teologis yang muncul dalam masyarakat. Adapun ruang lingkup dari Jurnal Salvation: 1. Teologi Biblika (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Misiologi 5. Pendidikan Agama Kristen
Articles 104 Documents
Literasi Agama Melalui Media Sosial dan Dampaknya Pada Anak Muda Kristen Kristanto, Damacus Wisnu; Pujiono, Andrias
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 1 (2023): Juli 2023
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i1.28

Abstract

Abstract: The influence of social media is enormous in the lives of modern humans, including young Christians. Social media can be both a medium and a source of learning, so it needs to be used optimally in the context of religious literacy. With content specifically designed to increase understanding and behavior that are in line with Christian faith, social media will be able to become a medium and learning resource that contributes to increasing Christian youth's religious literacy. The method in this scientific article is a quantitative method with literature studies. Here the author seeks, records, analyzes and concludes various relevant sources. Young Christians who have good vertical and horizontal relationships can increase understanding and encourage behavior through social media that features content related to religious literacy. Abstrak: Pengaruh media sosial sangat bersar terhadap kehidupan manusia modern termasuk anak muda Kristen. Media sosial dapat menjadi media dan sekaligus sumber belajar, sehinga perlu dimanfaatkan secara optimal dalam konteks literasi agama. Dengan konten yang dirancang khusus dalam peningkatan pemahaman dan perilaku yang sesuai iman Kristen, media sosial akan mampu menjadi media dan sumber belajar yang berkontribusi dalam peningkatan literasi agama anak muda Kristen. Metode dalam artikel ilmiah ini adalah metode kuantitatif dengan studi kepustakaan. Di sini penulis mencari, mencatat, menganalisis dan menyimpulkan berbagai sumber yang relevan. Hasilnya, bahwa media sosial dengan konten yang terkait literasi agama dapat meningkatkan pemahaman dan mendorong perilaku anak muda Kristen yang memiliki relasi vertikal dan horizontal yang baik
Implementasi Teologis Frasa “Mengutus” dalam Yohanes 17:18; 20:21 bagi Gereja dari Perspektif Missio Dei Manurung, Well Therfine Renward; Kiamani, Andris; Eunike, Meichella Yosepha; Ohoitimur, Reynhard Leonard; Ginting, Samuel Sukanta
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.29

Abstract

Abstract: The church is a fluid fellowship of believers (liquid church). An organism created by Jesus Christ Himself as a tangible manifestation of Christ in the world to do His work: calling sinners and proclaiming the gospel of God as an expression of God's love to the world. This research is motivated by the lack of research that explains the relationship between sending and missio Dei, as well as the limitation of mission to evangelism and church growth, the lack of attention to the importance of dialogue and engagement with society, and the neglect of the complex social and political context in which mission is carried out. This research uses a qualitative method with an interpretative approach (interpretative design) so as to find the meaning and implementation of the phrase "sending" in John 17:18; 20:21: First, the model of sending in John 17:18; 20:21 is parallel, but different in terms of time and to whom the vision is conveyed. this approach is in line with the Theocentric which makes God the starting point of life, His goals, plans, and programs. Second, the church, or fellowship of believers and Great Commission, is the means or instrument of missio Dei. Third, as one form of God's involvement in the world, believers and church members must be actively in preaching the gospel and continuously involved in the Great Commission of the Lord Jesus. The Holy Spirit plays an active role in continuing to assist and participate in this process. Fourth, the role of mission is very important in the initial process of preaching the gospel so engagement and compassion are required. Fifth, formulate a strategy for planning, developing tasks, and understanding His calling as a messenger in delivering the gospel. Abstrak: Gereja adalah suatu persekutuan orang-orang percaya yang selalu bergerak dengan cair (liquid church). Suatu organisme yang diciptakan oleh Yesus Kristus sendiri sebagai perwujudan nyata dari Kristus di dunia untuk melakukan pekerjaan-Nya: memanggil orang-orang yang berdosa dan memberitakan Injil Allah sebagai suatu pernyataan kasih Allah kepada dunia. Penelitian ini dilatar belakangi oleh minimnya penelitian yang menjelaskan keterkaitan antara pengutusan dan missio Dei, serta pembatasan misi hanya kepada penginjilan dan pertumbuhan gereja, kurangnya perhatian terhadap pentingnya dialog dan keterlibatan dengan masyarakat, serta pengabaian terhadap konteks sosial dan politik yang kompleks di mana misi dilakukan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretative (interpretative design) sehingga dapat menemukan makna dan implementasi teologis frasa “mengutus” dalam Yohanes 17:18; 20:21: Pertama, model pengutusan dalam Yohanes 17:18 ; 20:21 paralel, tetapi berbeda pada sisi waktu dan kepada siapa visi tersebut disampaikan, pendekatan ini sejalan dengan Teosentris yang menjadikan Allah sebagai titik awal kehidupan, tujuan, rencana, dan program-Nya. Kedua, gereja, atau persekutuan orang-orang percaya dan Amanat Agung, adalah sarana atau alat missio Dei. Ketiga, sebagai salah satu bentuk keterlibatan Allah di dunia, orang-orang percaya dan anggota gereja harus terlibat secara aktif dalam pemberitaan injil dan berkelanjutan dalam Amanat Agung Tuhan Yesus. Keempat, peran pengutusan sangat penting dalam proses awal pemberitaan Injil sehingga diperlukan keterlibatan dan belas kasihan. Kelima, merumuskan strategi perencanaan, pengembangan tugas, dan pemahaman akan panggilan-Nya sebagai utusan dalam menyampaikan kabar Injil.
Kenosis: Pemahaman Biblis-Teologis Filipi 2:5-11 dan Tantangannya dalam Pelayanan Kepada Jemaat Marginal Sugito, Yehudha Andrew; Suryaningsih, Eko Wahyu
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.30

Abstract

Abstract: The existence of social stratification in society has led to the emergence of marginalized groups. These groups can be recognized as individuals who do not have a permanent place to live, beggars, and other parts of society who are trying to fight against suffering, lack of food, injustice, and discrimination in their lives. In the context of society, Christianity should take an active role in addressing the issue of these marginalized groups. In the New Testament, social stratification is found in the Philippians. This shows that the Philippians experienced marginalization. Various problems both internal and external had to be faced by the Philippians. In the midst of such a situation, Paul gave his views on kenosis in Philippians 2: 5-11. Therefore, through a qualitative research method with library research, this study will explore the marginalization that occurred in Philippi, explore the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 and explore the challenges faced in the ministry of marginalized churches in Philippi. As a result, the theological understanding of kenosis in Philippians 2:5-11 provides important principles in facing challenges in the ministry of marginalized churches in Philippi. This research is expected to produce ideas that become proposals for the development of marginalized church services carried out by the Church as a form of the Church's active role in addressing the issue of marginalized groups. Abstrak: Adanya stratifikasi sosial di tengah masyarakat menyebabkan munculnya kelompok-kelompok marginal. Kelompok ini bisa dikenali sebagai individu yang tidak mempunyai tempat tinggal permanen, pengemis, dan bagian-bagian masyarakat lain yang sedang berusaha melawan penderitaan, kekurangan pangan, ketidakadilan, serta diskriminasi dalam kehidupan mereka. Dalam konteks bermasyarakat, Kekristenan seharusnya mengambil peran aktif dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal ini. Dalam Perjanjian Baru, stratifikasi sosial ditemukan di jemaat Filipi. Hal ini menunjukan bahwa jemaat Filipi mengalami marginalisasi. Berbagai masalah baik internal maupun eksternal harus dihadapi oleh jemaat Filipi. Di tengah situasi seperti, Paulus memberikan pandangannya mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11. Oleh sebab itu melalui metode penelitian kualitatif dengan riset pustaka, penelitian ini akan menggali marginalisasi yang terjadi di Filipi, menggali tentang pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 dan menggali tantangan-tantangan yang dihadapi dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Sebagai hasilnya, pemahaman teologis mengenai kenosis dalam Filipi 2:5-11 memberikan prinsip-prinsip penting dalam menghadapi tentangan-tantangan dalam pelayanan jemaat marginal di Filipi. Penelitian ini diharapkan menghasilkan pokok pemikiran yang menjadi usulan bagi perkembangan pelayanan jemaat marginal yang dilakukan oleh Gereja sebagai bentuk peran aktif Gereja dalam menyikapi isu tentang kelompok marginal di tengah masyarakat
Strategi Pengembangan Sekolah Kristen berdasarkan Kepemimpinan Nehemia Sibuea, Ezra Yani; Octavianus, Steaven; Wardi
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.31

Abstract

Abstract: The rapidly growing era of globalization has triggered greater competition. Christian schools also experience conditions where they must be able to compete with other schools. The principal as a leader has the responsibility to improve the quality and quantity of the school to be able to compete. Nehemiah is one of the leaders in the Bible, a Christian leadership who was successful in bringing about transformation. This article aims to describe the strategy for developing Christian schools based on Nehemiah's leadership. Using descriptive qualitative methods with a study approach regarding discussions related to this research. Literatu The results of this research conclude that Nehemia is a leader who is capable of reform with management strategies that can be used in developing schools. Abstrak: Era globalisasi yang semakin berkembang pesat memicu adanya persaingan yang semakin besar. Sekolah Kristen juga mengalami kondisi dimana mereka harus mampu bersaing dengan sekolah lain. Kepala sekolah sebagai pemimpin memiliki tanggungjawab dalam peningkatan kualitas dan juga kuantitas sekolah untuk mampu bersaing. Nehemia ialah salah satu pemimpin di dalam Alkitab satu kepemimpinan Kristenang berhasil dalam mewujudkan transformasi. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan mengenai strategi pengembangan sekolah Kristen berdasarkan kepemimpinan Nehemia. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi mengenai pembahasan-pembahasan yang berhubungan dengan penelitian ini. Literatu Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa Nehemia merupakan pemimpin yang mampu melakukan pembaharuan dengan strategi-strategi manajemen yang dapat dipakai dalam mengembangkan sekolah
Pembebasan dalam Teologi Feminis:: Sebuah Analisis terhadap Catcalling dalam Rangka Pencapaian Keadilan Gender Mettang, Marta; Sampe, Naomi
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.32

Abstract

Abstract: Catcalling has become a phenomenon that threatens, disturbs and challenges women's dignity, leading to gender inequality. This research offers the intrinsic values found in women based on a feminist theological perspective as an integration of men's understanding that women have the same values as men in general in order to achieve gender equity and justice. This research aims to analyze catcalling in the context of achieving gender justice through the lens of feminist theology. The research method used is a qualitative method by collecting and analyzing data through literature study. This research covers women's intrinsic values based on a feminist theological perspective, the negative impact of catcalling, and the concept of liberation in feminist theology. The results of the discussion show that catcalling, as a form of gender inequality, creates an unsafe environment for women in public spaces. Feminist theology emphasizes the importance of women's intrinsic values, such as dignity, justice, and diversity, in achieving gender justice. Women's liberation in feminist theology also includes the struggle against gender inequality and social violence, including catcalling. Thus, this research contributes to the understanding and efforts to overcome catcalling as a form of verbal sexual harassment that harms women. By understanding the intrinsic values of women in feminist theology, it is hoped that a society that is more just, inclusive and respects the dignity of every individual regardless of gender can be realized. This research can be the basis for concrete steps in building gender justice and responding to challenges of inequality in everyday life such as catcalling. Abstrak: Catcalling telah menjadi fenomena yang mengancam, resahkan dan menantang martabat perempuan yang mengarah pada kesenjangan gender. Penelitian ini menawarkan nilai-nilai intriksik yang terdapat pada perempuan berdasarkan perspektif teologi feminis sebagai integrasi pemahaman laki-laki bahwa perempuan itu memiliki nilai yang sama dengan laki-laki secara umum demi tercapainya keadilan dan keadilan gender. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis catcalling dalam rangka pencapaian keadilan gender melalui lensa teologi feminis. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan mengumpulkan dan menganalisis data melalui studi kepustakaan. Penelitian ini mencakup nilai-nilai intrinsik perempuan berdasarkan perspektif teologi feminis, dampak negatif catcalling, dan konsep pembebasan dalam teologi feminis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa catcalling, sebagai bentuk ketidaksetaraan gender, menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi perempuan di ruang publik. Teologi feminis menegaskan pentingnya nilai-nilai intrinsik perempuan, seperti martabat, keadilan, dan keberagaman, dalam mencapai keadilan gender. Pembebasan perempuan dalam teologi feminis juga mencakup perjuangan melawan ketidaksetaraan gender dan kekerasan sosial, termasuk catcalling. Dengan demikian, penelitian ini adalah memberikan kontribusi pada pemahaman dan upaya mengatasi catcalling sebagai bentuk pelecehan seksual verbal yang merugikan perempuan. Dengan memahami nilai-nilai intrinsik perempuan dalam teologi feminis, diharapkan dapat terwujud masyarakat yang lebih adil, inklusif, dan menghormati martabat setiap individu tanpa memandang jenis kelamin. Penelitian ini dapat menjadi landasan bagi langkah-langkah konkret dalam membangun keadilan gender dan merespons tantangan ketidaksetaraan dalam kehidupan sehari-hari seperti catcalling.
Kontiunitas Eksistensi Kerajaan Allah dalam Misi Eklesiologi ditinjau berdasarkan Injil Matius Sunkudon, Pieter G. O.; Lepa, Royke
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.33

Abstract

Abstract: This research aims to explore the continuity of the existence of the Kingdom of God in the ecclesiological mission, especially a review based on the Gospel of Matthew, using Qualitative & Inductive Hermeneutic methods. Through analysis of the Biblical text, this research will highlight the Kingdom of God in the teachings and ministry of Jesus, as well as its correlation with the concept of the church. Apart from that, this research will also examine the use of the term "kingdom of heaven" in the Gospel of Matthew, as well as provisions regarding Messianic hope and covenants in the Old Testament. Thus, it is hoped that this research can provide a deeper understanding of the continuity and connection between the Kingdom of God and the church in an ecclesiological context, as well as its relevance for contemporary Christian understanding Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi kontinuitas eksistensi Kerajaan Allah dalam misi eklesiologi, khususnya ditinjau berdasarkan Injil Matius, dengan menggunakan metode Kualitatif & Hermeneutik Induktif. Melalui analisis teks Alkitab, penelitian ini akan menyoroti peran Kerajaan Allah dalam ajaran dan pelayanan Yesus, serta korelasinya dengan konsep gereja. Selain itu, penelitian ini juga akan menelaah penggunaan istilah "kerajaan Sorga" dalam Injil Matius, serta hubungannya dengan pengharapan Mesianis dan perjanjian-perjanjian dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kontinuitas dan keterkaitan antara Kerajaan Allah dan gereja dalam konteks eklesiologis, serta relevansinya bagi pemahaman Kristen kontemporer.
Berbeda itu Indah:: Nilai-nilai Universal untuk Hidup dalam Kemajemukan menurut Kisah Para Rasul 10 Gultom, Rogate Artaida Tiarasi; Tobing, Lasmaria Lumban
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.34

Abstract

Abstract: This research aims to find out universal values ​​for living in diversity, so that an understanding is found that being different is beautiful. Acts 10 opens a new paradigm of diversity. The Apostle Peter, who strongly adhered to Jewish traditions, was able to change his perspective through dialogue with Cornelius. These two figures worship the same God in their own ways. Peter worshiped God by upholding Jewish traditions, while Cornelis, who was a pagan, worshiped God with the knowledge he knew. Through the Acts of the Apostles, universal things about differences are found, namely 1) Differences in character are beautiful, 2) Social differences, 3) Cultural differences and 4) Ethnic differences. All differences will be beautiful, if each other understands the universal values ​​of differences. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai universal untuk hidup dalam kemajemukan, sehingga ditemukan suatu paham bahwa berbeda itu indah. Kisah Para Rasul 10 membuka paradigma baru tentang perbedaan. Rasul Petrus yang sangat memegang teguh tradisi Yahudi dapat mengubah cara pandangnya melalui dialog dengan Kornelius. Kedua tokoh ini menyembah Allah yang sama dengan cara masing-masing. Petrus menyembah Allah dengan memegang teguh tradisi Yahudi, sementara Kornelis yang seorang kafir, menyembah Allah dengan pengetahuan yang dia ketahui. Melalui Kisah Para Rasul ini ditemukan hal yang universal tentang perbedaan yaitu 1) Perbedaan karakter itu indah, 2) Perbedaan sosial, 3) Perbedaan Budaya dan 4) Perbedaan Suku. Semua perbedaan itu akan menjadi indah, jika saling memahami nilai-nilai universal dari perbedaan.
Membingkai Peran Ibu dalam Pola Asuh Anak Berkebutuhan Khusus di Keluarga Kristiani Fransiska; Manurung, Kosma
Jurnal Salvation Vol. 4 No. 2 (2024): Januari 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v4i2.35

Abstract

Abstract: Parenting patterns for children with special needs is an important issue in contemporary society, while a mother in the family has a significant role in providing support and guidance to children with special needs. This research attempts to frame the role of mothers in parenting children with special needs in Christian families. The use of qualitative descriptive methods and literature studies is intended to be able to provide a strong picture of children with special needs and the various challenges they face in their daily lives, as well as what it is like for mothers to play a maximum role in the parenting of children with special needs in Christian families. It was concluded that a mother will play the maximum role for a child with special needs when she accepts and treats the child with love, is actively involved in the child's education, plays a role in the child's spiritual formation, and introduces the child to the church community. Abstrak: Pola asuh anak berkebutuhan khusus adalah isu yang penting dalam masyarakat yang kontemporer, sedangkan seorang ibu dalam keluarga memiliki peran yang signifikan dalam memberikan dukungan maupun bimbingan kepada anak dengan kebutuhan khusus. Penelitian ini berupaya membingkai peran Ibu dalam pola asuh anak berkebutuhan khusus di keluarga Kristiani. Penggunaan metode deskriptif kualitatif dan kajian literatur dimaksudkan mampu memberikan gambaran yang kuat mengenai anak berkebutuhan khusus dan berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam keseharian hidupnya, serta seperti apa sejatinya ibu bisa berperan maksimal dalam pola asuh anak berkebutuhan khusus tersebut di keluarga Kristiani. Disimpulkan bahwa seorang ibu akan berperan maksimal bagi anak berkebutuhan khusus ketika menerima dan memperlakukan anak dengan penuh kasih sayang, terlibat aktif dalam pendidikan anak, berperan dalam pembentukan rohani anak, serta memperkenalkan anak pada komunitas gereja.
Moderasi Beragama Solusi dalam Kepura-puraan: : Analisa Sosiologis Antiklimaks Pluralisme Walean, Jefrie
Jurnal Salvation Vol. 5 No. 1 (2024): Juli 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v5i1.36

Abstract

Abstract: Religious diversity in Indonesia is both a potential and a challenge. In the context of pluralism, religious moderation is a solution to prevent conflict and build harmony between religious communities. However, religious moderation can also be a pretense, where individuals or groups only show tolerance on the surface, but do not actually have a deep commitment to the values ​​of moderation. This research aims to analyze the phenomenon of religious moderation in the context of pluralism in Indonesia, with a focus on the anticlimax of pluralism. Through sociological analysis, this research identifies factors that encourage and hinder religious moderation, as well as their impact on relations between religious communities. The research results show that religious moderation in Indonesia still faces various challenges. One of the main challenges is anticlimactic pluralism, where individuals or groups show an attitude of tolerance on the surface, but actually do not have a deep commitment to the values ​​of moderation. This can cause misunderstandings and conflicts between religious believers. This research also finds that sincere and deep religious moderation can be achieved through inclusive and critical religious education, as well as through open and constructive inter-religious dialogue. Abstrak: Keberagaman agama di Indonesia menjadi potensi sekaligus tantangan. Dalam konteks pluralisme, moderasi beragama menjadi solusi untuk mencegah konflik dan membangun harmoni antarumat beragama. Namun, moderasi beragama juga bisa menjadi kepura-puraan, di mana individu atau kelompok hanya menunjukkan sikap toleransi di permukaan, tetapi sebenarnya tidak memiliki komitmen yang mendalam terhadap nilai-nilai moderasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena moderasi beragama dalam konteks pluralisme di Indonesia, dengan fokus pada antiklimaks pluralisme. Melalui analisis sosiologis, penelitian ini mengidentifikasi faktor-faktor yang mendorong dan menghambat moderasi beragama, serta dampaknya terhadap hubungan antarumat beragama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa moderasi beragama di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan. Salah satu tantangan utama adalah antiklimaks pluralisme, di mana individu atau kelompok menunjukkan sikap toleransi di permukaan, tetapi sebenarnya tidak memiliki komitmen yang mendalam terhadap nilai-nilai moderasi. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman dan konflik antarumat beragama. Penelitian ini juga menemukan bahwa moderasi beragama yang tulus dan mendalam dapat dicapai melalui pendidikan agama yang inklusif dan kritis, serta melalui dialog antarumat beragama yang terbuka dan konstruktif.
Progresivisme Pendidikan Agama Kristen di Tengah Kehidupan Masyarakat Majemuk Sinauru, Retnalisa
Jurnal Salvation Vol. 5 No. 1 (2024): Juli 2024
Publisher : STT Bala Keselamatan Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56175/salvation.v5i1.37

Abstract

Abstract: The article this discuss about the Progresivism of Christian Religion Education amid complex society existence. The Christian Religion Education progressively able to shape and transform individual attitude to be better di the midst of complex society existence. The diversity which is present in the midst of the complex society existence bring The Christian Religion Education actively bring the transformation for the education field. The Christian Religion Education in the complex society existence progressively being inclusive to every improvement especially to the advance oriented education. This research is is using book study qualitative research which have purpose to explain Christian Religion Education Progresivism in the midst of The Complex Society Existence that can give advancement to the education nowadays. With the result that, from the outcome of the study and so will gained the definition of progressivism, the definition of Christian Religion Education, the definition of complex society, the purpose of Christian Religioen education, The role of Christian religion education, in the progressivism, and the perspective of Christian Religion Education to progresivism amid the complex society. The Christian religion education contribute to the advancement to a education because the Christian Religion Education queit openly with every change as long it is not break the Christian Values. Abstrak: Artikel ini menjelaskan tentang Progresivisme Pendiidikan Agama Kriisten di Tengah Kehidupan Masyarrakat Maajemuk. Pendidikan Agama Kristen secara progresif mampu membentuk dan mengubah sikap individu untuk menjadi lebih baik di tengah kehidupan masyarakat majemuk. Keberagaman yang ada di tengah kehidupan masyarakat majemuk membawa Pendidikan Agama Kristen berperan aktif untuk memberikan perubahan bagi Pendidikan. Pendidikan Agama Kristen di tengah kehidupan masyarakat majemuk secara progresif terbuka terhadap segala perkembangan yang khususnya pada pendidikan yang berorientasi pada kemajuan. Peneliitian ini memakai penelitian kualitatif, studii pustaka yang bertujuan menjelaskan Progresivisme Pendidikan Agama Kristen di Tengah Kehiidupan Masyarrakat Majemuk yang dapat memberikan kemajuan bagi Pendidikan masa kini. Sehingga, dari hasil pembahasan maka akan diperoleh pengertian Progresivisme, pengertian Pendidikan Agama Kristen, pengertian Masyarakat Majemuk, Tujuan Pendidikan Agama Kristen, Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Progresivisme, dan Perspektif Pendidikan Agama Kristen terhadap progresivisme di tengah Masyarakat Majemuk. Pendidikan Agama Kristen berkerjasama pada keemajuan suatuu pendidikan karena Pendidiikan Agama Kristen sangatt terrbuka dengan segalla perubahan sejauuh itu tidak melanggar nilai-nilai keKristenan.

Page 9 of 11 | Total Record : 104