cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan
ISSN : 28094042     EISSN : 28094034     DOI : https://doi.org/10.51878/knowledge.v2i2
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan hasil penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh para guru, dosen, pakar, ilmuan praktisi dan umum.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 312 Documents
ANALISA DESKRIPTIF TANTANGAN IMPLEMENTASI PROGRAM PEMERIKSAAN KESEHATAN GRATIS (PKG) DI UPTD BLUD PUSKESMAS PRINGGARATA TAHUN 2026 Dessy Jumianita Adi Hasrani
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11143

Abstract

ABSTRACT The transformation of healthcare services in Indonesia has emphasized promotive and preventive approaches through the implementation of the Free Health Check-Up Program (Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis/PKG). However, previous evaluations of health programs have predominantly focused on quantitative outcomes and have not comprehensively examined operational barriers contributing to low program achievement. This issue is important to investigate because implementation challenges at the primary healthcare level may affect the overall effectiveness of Integrated Primary Healthcare Services (Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer/ILP). This study aimed to analyze the implementation challenges of the Free Health Check-Up Program at UPTD BLUD Pringgarata Community Health Center and identify the root causes of low program performance. The study employed a qualitative descriptive approach using a case study design and Root Cause Analysis through Fishbone Analysis based on the 6M framework, consisting of Man, Money, Method, Machine, Material, and Mechanism. Data were collected from PKG achievement reports from January to April 2026 and observations of staff workflow processes. The findings revealed that adult participant registration only reached 1,441 individuals or 6.68% of the target population of 21,581. Major barriers were identified in the Method aspect, characterized by passive service approaches; the Machine aspect, related to limited laboratory equipment and Electronic Medical Record (EMR) support devices; and the Mechanism aspect, involving double administrative recording burdens. The study concludes that low PKG achievement is influenced by systemic operational management barriers, indicating the need to strengthen active case finding strategies, digitalize service recording systems, and optimize supporting infrastructure to improve program implementation effectiveness. Abstrak Transformasi pelayanan kesehatan di Indonesia menempatkan upaya promotif dan preventif sebagai prioritas melalui implementasi Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG), namun evaluasi program kesehatan selama ini lebih banyak berfokus pada capaian kuantitatif dan belum mendalami hambatan operasional yang menyebabkan rendahnya pencapaian sasaran layanan. Kondisi tersebut penting dikaji karena kendala implementasi di tingkat puskesmas dapat memengaruhi efektivitas Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP). Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan implementasi Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis di UPTD BLUD Puskesmas Pringgarata serta mengidentifikasi akar penyebab rendahnya capaian program. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan desain studi kasus dan analisis Root Cause Analysis melalui Fishbone Analysis berbasis kerangka 6M, yaitu Man, Money, Method, Machine, Material, dan Mechanism. Data diperoleh dari laporan capaian PKG periode Januari–April 2026 dan telaah proses kerja petugas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian pendaftar kelompok usia dewasa hanya mencapai 1.441 orang atau 6,68% dari target 21.581 sasaran. Hambatan utama ditemukan pada aspek Method berupa pendekatan pelayanan pasif, Machine terkait keterbatasan perangkat laboratorium dan pendukung Rekam Medis Elektronik (RME), serta Mechanism akibat beban administrasi pencatatan ganda. Penelitian menyimpulkan bahwa rendahnya capaian PKG dipengaruhi hambatan sistemik tata kelola operasional, sehingga diperlukan penguatan strategi active case finding, digitalisasi pencatatan layanan, dan optimalisasi sarana pendukung untuk meningkatkan efektivitas implementasi program.
PERAN STRATEGIS SATUAN PENGAWAS INTERNAL DALAM TATA KELOLA DAN AKUNTABILITAS SEBAGAI PENJAGA INTEGRITAS RUMAH SAKIT Isniati Setia Ningrum
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11146

Abstract

ABSTRACT The increasing complexity of hospital governance, the advancement of healthcare service digitalization, and the high risk of administrative irregularities, regulatory non-compliance, and fraudulent practices require stronger and more effective internal control systems. However, studies examining the strategic role of the Internal Supervisory Unit (Satuan Pengawas Internal/SPI) in maintaining organizational integrity and enhancing hospital accountability remain limited, particularly regarding its function as a strategic management partner. This study aims to analyze the strategic role of SPI in supporting good hospital governance, strengthening accountability, and maintaining the integrity of healthcare organizations. The study employed a qualitative descriptive approach through a literature review by examining various sources, including scientific journals, books, regulations, and documents related to hospital governance and internal supervision. Data were analyzed descriptively to identify the functions, challenges, and contributions of SPI within hospital management systems. The findings indicate that SPI serves not only as an internal supervisory body but also as an evaluator, consultant, and risk controller contributing to fraud prevention, improved regulatory compliance, strengthened internal control systems, and enhanced organizational transparency and efficiency. Nevertheless, the effectiveness of SPI still faces several challenges, including limitations in human resources, independence, auditor competencies, and the increasing complexity of healthcare service systems. Therefore, optimizing SPI functions, improving institutional capacity, and strengthening management support can position SPI as a guardian of organizational integrity capable of reinforcing accountability and increasing public trust in hospital services. ABSTRAK Meningkatnya kompleksitas tata kelola rumah sakit, perkembangan digitalisasi layanan kesehatan, serta tingginya risiko penyimpangan administrasi, ketidakpatuhan regulasi, dan praktik fraud menuntut penguatan sistem pengawasan internal yang efektif. Namun, kajian mengenai peran strategis Satuan Pengawas Internal (SPI) dalam menjaga integritas organisasi dan meningkatkan akuntabilitas rumah sakit masih terbatas, terutama pada fungsi SPI sebagai mitra strategis manajemen. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran strategis SPI dalam mendukung tata kelola rumah sakit yang baik (good hospital governance), memperkuat akuntabilitas, serta menjaga integritas organisasi pelayanan kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui kajian literatur dengan menelaah berbagai sumber berupa jurnal ilmiah, buku, regulasi, dan dokumen yang berkaitan dengan tata kelola rumah sakit serta pengawasan internal. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk mengidentifikasi fungsi, tantangan, dan kontribusi SPI dalam sistem manajemen rumah sakit. Hasil kajian menunjukkan bahwa SPI tidak hanya berfungsi sebagai pengawas internal, tetapi juga sebagai evaluator, konsultan, dan pengendali risiko yang berperan dalam pencegahan fraud, peningkatan kepatuhan terhadap regulasi, penguatan sistem pengendalian internal, serta peningkatan transparansi dan efisiensi organisasi. Di sisi lain, efektivitas SPI masih menghadapi berbagai kendala, antara lain keterbatasan sumber daya manusia, independensi, kompetensi auditor, serta kompleksitas sistem pelayanan kesehatan. Dengan optimalisasi fungsi, peningkatan kapasitas, dan dukungan manajemen, SPI berpotensi menjadi penjaga integritas organisasi yang mampu memperkuat akuntabilitas dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan rumah sakit.
PENERAPAN MODEL FLIPPED CLASSROOM BERBASIS PODCAST DALAM PEMBELAJARAN AKIDAH AKHLAK : STUDI KOMPARATIF EFEKTIVITAS KOGNITIF DAN AFEKTIF Ilyas Rozak Hanafi; Muhamad Asror; Rofi'udin Rofi'udin; Muhamad Qomarudinul Huda; Ninik Muhajiroh
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11214

Abstract

ABSTRACT The research gap in Akidah Akhlak learning indicates that the learning process is still dominated by conventional methods focusing on knowledge transfer, which have not been optimal in developing students’ affective aspects. Studies on the Flipped Classroom generally emphasize cognitive outcomes, while the integration of podcast media in Akidah Akhlak learning and the simultaneous examination of its effectiveness on both cognitive and affective domains remain limited. This study aims to examine the effectiveness of a podcast-based Flipped Classroom model compared to conventional learning models in improving students’ cognitive and affective achievements in Akidah Akhlak subjects. The study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design using a Non-equivalent Control Group Design. The sample consisted of experimental and control classes selected through cluster random sampling. Data were collected through learning outcome tests for the cognitive domain and Likert scales for the affective domain, then analyzed using the Independent Sample t-test with SPSS 26.0. The results showed that the experimental class achieved a higher cognitive mean score (86.5) compared to the control class (74.2), along with an 18% increase in affective outcomes, with a significance value of 0.002 (<0.05). The findings conclude that the podcast-based Flipped Classroom model is more effective in improving students’ cognitive and affective learning outcomes. ABSTRAK Kesenjangan dalam penelitian pembelajaran Akidah Akhlak menunjukkan bahwa proses pembelajaran masih didominasi metode konvensional yang berfokus pada transfer pengetahuan sehingga belum optimal dalam mengembangkan aspek afektif siswa. Penelitian tentang Flipped Classroom umumnya hanya berfokus pada aspek kognitif, sementara integrasi media podcast dalam pembelajaran Akidah Akhlak serta pengujian efektivitasnya secara simultan pada ranah kognitif dan afektif masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektivitas model Flipped Classroom berbasis podcast dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional dalam meningkatkan capaian kognitif dan afektif siswa pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu tipe Non-equivalent Control Group Design. Sampel terdiri dari kelas eksperimen dan kelas kontrol yang dipilih melalui cluster random sampling. Data dikumpulkan melalui tes hasil belajar untuk ranah kognitif dan skala Likert untuk ranah afektif, kemudian dianalisis menggunakan uji Independent Sample t-test berbantuan SPSS 26.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelas eksperimen memperoleh rata-rata kognitif 86,5 lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol 74,2, serta peningkatan afektif sebesar 18%, dengan nilai signifikansi 0,002 (<0,05). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa model Flipped Classroom berbasis podcast lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar kognitif dan afektif siswa.
KETAHANAN NASONAL: MEMBANGUN KEKUATAN BANGSA DALAM MENGHADAPI TANTANGAN GLOBAL Risna Multi; Nur Apriyani
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11282

Abstract

ABSTRACT National resilience is an important aspect of maintaining national stability amid increasingly complex global developments. However, the rise of non-military threats such as cybercrime, misinformation, social conflict, and declining nationalism values indicates that strengthening national resilience remains a major challenge. In addition, discussions on national resilience generally emphasize defense and security aspects rather than strengthening human resources and digital literacy. This study aims to analyze the importance of national resilience in building national strength to face global challenges and to identify strategies for its reinforcement. The research employed a qualitative approach using a literature study method through data collection from scientific journals, books, and relevant official documents. Data analysis was conducted descriptively through reviewing, interpreting, and drawing conclusions. The findings show that national resilience is influenced by the quality of human resources, strengthening the national economy, digital literacy, character education, and society’s ability to maintain unity and national identity. This study concludes that strengthening national resilience requires a multidimensional approach and the involvement of all societal elements to maintain national stability and improve Indonesia’s competitiveness in the globalization era. ABSTRAK Ketahanan nasional menjadi aspek penting dalam menjaga stabilitas kehidupan berbangsa di tengah perkembangan global yang semakin kompleks. Namun, meningkatnya ancaman nonmiliter seperti kejahatan siber, penyebaran hoaks, konflik sosial, dan menurunnya nilai nasionalisme menunjukkan bahwa penguatan ketahanan nasional masih menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, pembahasan ketahanan nasional umumnya lebih menekankan aspek pertahanan dan keamanan dibandingkan penguatan sumber daya manusia dan literasi digital. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pentingnya ketahanan nasional dalam membangun kekuatan bangsa menghadapi tantangan global serta mengidentifikasi strategi penguatannya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui pengumpulan data dari jurnal ilmiah, buku, dan dokumen resmi yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui proses pengkajian, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketahanan nasional dipengaruhi oleh kualitas sumber daya manusia, penguatan ekonomi nasional, literasi digital, pendidikan karakter, serta kemampuan masyarakat dalam menjaga persatuan dan identitas bangsa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan ketahanan nasional memerlukan pendekatan multidimensional dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar Indonesia mampu menjaga stabilitas nasional serta meningkatkan daya saing bangsa di era globalisasi.
PENTINGNYA MENJAGA KEBERSIHAN LINGKUNGAN: IMPLEMENTASI KONSEP THAHARAH DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI ilman sarif hasibuan; Muhammad Rizki
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11419

Abstract

ABSTRACT Environmental cleanliness is an essential aspect of human life closely related to health, comfort, and quality of life. In Islam, the concept of thaharah (purification) is not limited to physical cleanliness and ritual worship but also embodies ecological values that promote environmental sustainability. However, studies examining thaharah as a foundation for Islamic environmental ethics relevant to contemporary ecological challenges remain limited. This article aims to analyze the implementation of the concept of thaharah as a basis for environmental ethics grounded in Islamic values. This study employs a literature review method with a descriptive-analytical approach by examining sources from the Qur’an, Hadith, and relevant scholarly articles using content analysis techniques. The findings reveal that thaharah possesses a strong ecological dimension, reflected in waste management practices, water conservation, pollution prevention, and the cultivation of clean and healthy lifestyles. The study further demonstrates that thaharah can serve as a framework for Islamic ecological ethics that integrates spiritual values with environmental responsibility in modern life. Therefore, the implementation of thaharah extends beyond ritual observance and contributes to fostering environmentally responsible behavior and supporting sustainable community development. ABSTRAK Kebersihan lingkungan merupakan aspek penting yang berkaitan dengan kesehatan, kenyamanan, dan kualitas hidup manusia. Dalam Islam, konsep thaharah (bersuci) tidak hanya berorientasi pada kebersihan fisik dan ritual ibadah, tetapi juga mengandung nilai ekologis dalam menjaga kelestarian lingkungan. Namun, kajian yang mengkaji thaharah sebagai landasan etika lingkungan Islam yang relevan dengan tantangan ekologis modern masih terbatas. Artikel ini bertujuan menganalisis implementasi konsep thaharah sebagai dasar etika lingkungan berbasis nilai-nilai Islam. Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui pengumpulan sumber dari Al-Qur’an, Hadis, dan artikel ilmiah relevan yang dianalisis menggunakan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa thaharah memiliki dimensi ekologis yang tercermin dalam pengelolaan sampah, konservasi air, pencegahan pencemaran, serta pembentukan budaya hidup bersih dan sehat. Temuan ini menegaskan bahwa thaharah dapat diposisikan sebagai kerangka etika ekologis Islam yang mengintegrasikan nilai spiritual dengan tanggung jawab lingkungan dalam kehidupan modern. Dengan demikian, implementasi thaharah tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga berperan dalam membangun perilaku peduli lingkungan dan mendukung keberlanjutan kehidupan masyarakat.
PENATAAN HALAMAN RUMAH PADA LAHAN TERBATAS DI ERA HUNIAN MINIMALIS Andin rusyana; Ghaniyya Putri Salsabila; Haura Adzkia Yumna; Kania Anggita Putri; Yani Achdiani; Gina Indah Permata Nastia
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11590

Abstract

ABSTRACT Rapid urban development has increased the demand for residential land, resulting in a reduction of green open spaces, including home yards. The growing density of buildings and land conversion in urban areas have further limited the availability of green spaces within residential environments. This condition is exacerbated by the trend of minimalist housing on limited land, causing home yards to be underutilized. This study aims to analyze the utilization of home yards in limited-land housing, identify challenges in their arrangement, and formulate functional, aesthetic, and environmentally friendly landscaping strategies. The study employed a qualitative method with a literature review approach. Data were obtained from 25 scientific publications published between 2020 and 2025 related to household green space management and minimalist housing, and were analyzed descriptively through data reduction, categorization, thematic interpretation, and conclusion drawing. The findings indicate that the low level of home yard optimization is influenced by limited land availability, inadequate public literacy regarding small-space design, and low awareness of the importance of household-scale green spaces. Applicable strategies include vertical gardens, the use of pots and tiered plant racks, the selection of adaptive ornamental plants, and the development of medicinal plant gardens. The novelty of this study lies in the integration of aesthetic, productive, and ecological functions into a conceptual model for home yard arrangement on limited land. In conclusion, optimizing home yards not only enhances residential aesthetics but also contributes to improved air quality, reduced stormwater runoff, and greater microclimatic comfort. ABSTRAK Perkembangan wilayah perkotaan yang pesat meningkatkan kebutuhan lahan permukiman dan menyebabkan berkurangnya ruang terbuka hijau, termasuk halaman rumah. Kepadatan bangunan dan alih fungsi lahan di kawasan perkotaan semakin membatasi keberadaan ruang hijau pada lingkungan hunian. Kondisi ini diperparah oleh tren hunian minimalis berlahan sempit sehingga halaman rumah sering tidak dimanfaatkan secara optimal. Penelitian ini bertujuan menganalisis pemanfaatan halaman rumah pada hunian berlahan terbatas, mengidentifikasi permasalahan penataannya, serta merumuskan strategi penataan yang fungsional, estetis, dan ramah lingkungan. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Data diperoleh dari 30 literatur ilmiah terbitan 2020–2025 yang relevan dengan penataan ruang hijau rumah tangga dan hunian minimalis, kemudian dianalisis secara deskriptif melalui reduksi data, kategorisasi, interpretasi tematik, dan penarikan kesimpulan. Hasil kajian menunjukkan bahwa rendahnya optimalisasi halaman rumah dipengaruhi oleh keterbatasan lahan, minimnya literasi desain ruang sempit, dan rendahnya kesadaran terhadap pentingnya ruang hijau rumah tangga. Strategi yang dapat diterapkan meliputi taman vertikal, penggunaan pot dan rak tanaman bertingkat, pemilihan tanaman adaptif, serta pengembangan apotek hidup. Kebaruan penelitian terletak pada integrasi fungsi estetika, produktif, dan ekologis dalam model penataan halaman rumah berlahan terbatas. Kesimpulannya, optimalisasi halaman rumah tidak hanya meningkatkan estetika hunian, tetapi juga mendukung kualitas udara, mengurangi limpasan air hujan, dan meningkatkan kenyamanan mikroklimat.
DEKONSTRUKSI NARASI MARGINALISASI PEREMPUAN ARAB PRA-ISLAM: STUDI KRITIS TERHADAP OTORITAS EKONOMI KHADIJAH BINTI KHUWAILID Desti Fajriyanti; Kholid Mawardi
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.11805

Abstract

ABSTRACT The dominant narrative of pre-Islamic Arab society often portrays women as a group that was entirely marginalized in economic, social, and political spheres. However, this perspective tends to overlook the diversity of women's experiences during that period, particularly the existence of women who possessed economic authority and independence. The limited number of studies addressing this issue indicates the need for a more critical and balanced interpretation of history. This study aims to deconstruct the narrative of women's marginalization in pre-Islamic Arabia through an analysis of the economic authority of Khadijah bint Khuwaylid. The research employs a descriptive qualitative approach based on a literature review, utilizing secondary sources such as academic journals, books, and scholarly works relevant to the topic. Data were analyzed thematically by identifying dominant narratives about pre-Islamic women, examining evidence of Khadijah’s economic authority, and interpreting the findings through Saba Mahmood’s theory of women’s agency and Fatima Mernissi’s Islamic feminist perspective. The findings reveal that Khadijah possessed strong economic, social, and moral capacities as a successful merchant and influential figure in Meccan society. These findings demonstrate that pre-Islamic Arab women cannot be understood solely as passive and marginalized actors. Therefore, the history of pre-Islamic Arab women should be interpreted more critically, contextually, and free from overly simplified patriarchal narratives. ABSTRAK Narasi mengenai perempuan Arab pra-Islam selama ini cenderung menggambarkan mereka sebagai kelompok yang sepenuhnya termarginalkan dalam aspek ekonomi, sosial, dan politik. Namun, pandangan tersebut sering kali mengabaikan keragaman pengalaman perempuan pada masa itu, terutama keberadaan tokoh-tokoh yang memiliki otoritas dan kemandirian ekonomi. Keterbatasan kajian yang menelaah aspek tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk melakukan pembacaan sejarah yang lebih kritis dan proporsional. Penelitian ini bertujuan mendekonstruksi narasi marginalisasi perempuan Arab pra-Islam melalui analisis terhadap otoritas ekonomi Khadijah binti Khuwailid. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur dengan memanfaatkan berbagai sumber sekunder berupa jurnal ilmiah, buku, dan karya akademik yang relevan. Data dianalisis secara tematik melalui identifikasi narasi dominan tentang perempuan pra-Islam, penelusuran bukti-bukti otoritas ekonomi Khadijah, serta interpretasi menggunakan teori agensi perempuan Saba Mahmood dan perspektif feminisme Islam Fatima Mernissi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Khadijah merupakan perempuan yang memiliki kapasitas ekonomi, sosial, dan moral yang kuat sebagai saudagar sukses dan figur berpengaruh di masyarakat Makkah. Temuan ini menegaskan bahwa perempuan Arab pra-Islam tidak dapat dipahami sebagai kelompok yang sepenuhnya pasif dan terpinggirkan. Oleh karena itu, sejarah perempuan Arab pra-Islam perlu dibaca secara lebih kritis, kontekstual, dan bebas dari penyederhanaan narasi patriarkal.
TRANSFORMASI TATA KELOLA PERUMAH SAKITAN: ANALISIS KEBIJAKAN, IMPLEMENTASI, DAN EVALUASI DALAM PERSPEKTIF SISTEM KESEHATAN NASIONAL Yudhi hertanto
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.12120

Abstract

ABSTRACT Health policy at the hospital level serves as a strategic instrument for ensuring service quality and patient safety. Despite the implementation of various regulations and accreditation standards, numerous reports indicate persistent discrepancies between formulated policies and actual practices in healthcare settings, creating an implementation gap that may affect the effectiveness of hospital governance. This article aims to comprehensively analyze the hospital policy process from formulation and implementation to evaluation. The study employs a narrative literature review approach in health policy through the identification, selection, and critical analysis of relevant scientific publications, regulations, and policy documents to obtain a comprehensive understanding of the dynamics of hospital policy implementation. The findings reveal that policy success is not determined solely by administrative directives but rather by the synergy between adaptive top-down and bottom-up approaches. Furthermore, the effectiveness of policy implementation is influenced by organizational capacity, healthcare workforce engagement, the quality of internal communication, and sustainable evaluation mechanisms. Strategic recommendations include strengthening ex-ante risk management, utilizing Cost-Effectiveness Analysis (CEA) as an evaluation instrument, and institutionalizing an open organizational culture (just culture) to ensure the sustainability of service quality. These findings underscore that evidence-based policies, adaptability to change, and strong organizational culture are essential prerequisites for the continuous improvement of healthcare quality and patient safety.   ABSTRAK Kebijakan kesehatan di tingkat rumah sakit merupakan instrumen strategis untuk menjamin mutu pelayanan dan keselamatan pasien. Meskipun berbagai regulasi dan standar akreditasi telah diterapkan, berbagai laporan menunjukkan masih ditemukannya ketidaksesuaian antara kebijakan yang dirumuskan dengan praktik pelayanan di lapangan, sehingga memunculkan kesenjangan implementasi (implementation gap) yang berpotensi memengaruhi efektivitas tata kelola rumah sakit. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif alur kebijakan rumah sakit dari tahap perumusan, implementasi, hingga evaluasi. Penelitian ini menggunakan metode tinjauan naratif literatur kebijakan kesehatan melalui identifikasi, seleksi, dan analisis kritis terhadap berbagai publikasi ilmiah, regulasi, serta dokumen kebijakan yang relevan guna memperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai dinamika implementasi kebijakan rumah sakit. Hasil analisis menunjukkan bahwa keberhasilan kebijakan tidak ditentukan oleh instruksi administratif semata, melainkan melalui sinergi antara pendekatan top-down dan bottom-up yang adaptif. Selain itu, efektivitas implementasi kebijakan dipengaruhi oleh kapasitas organisasi, keterlibatan tenaga kesehatan, kualitas komunikasi internal, dan mekanisme evaluasi yang berkelanjutan. Rekomendasi strategis mencakup penguatan manajemen risiko ex-ante, penggunaan instrumen evaluasi Cost-Effectiveness Analysis (CEA), serta pelembagaan budaya organisasi yang terbuka (just culture) untuk menjamin keberlanjutan mutu pelayanan. Temuan ini menegaskan bahwa kebijakan rumah sakit yang berbasis bukti, adaptif terhadap perubahan, dan didukung budaya organisasi yang kuat merupakan prasyarat penting bagi peningkatan kualitas layanan dan keselamatan pasien secara berkelanjutan.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN WEE (WONDERING, EXPLORING, EXPLAINING) DENGAN STRATEGI QSH (QUESTION STUDENT HAVE) TERHADAP KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP DAN BERPIKIR KRITIS Indah Resti Ayuni Suri; Mujib Mujib; Sri Warsiyah; Netriwati Netriwati
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i2.12518

Abstract

ABSTRACT Students’ mathematical conceptual understanding and critical thinking skills in Indonesia remain relatively low, as indicated by the 2022 PISA results and preliminary observations at SMP Negeri 14 Pesawaran. Although various innovative learning models have been implemented, studies examining the combined application of the Wondering, Exploring, Explaining (WEE) learning model and the Question Student Have (QSH) strategy remain limited. Therefore, this study aimed to investigate the effect of the WEE learning model integrated with the QSH strategy on students’ conceptual understanding and critical thinking skills. This study employed a quantitative approach with a quasi-experimental design. The sample consisted of three classes selected through cluster random sampling: Experimental Class 1 (WEE with QSH), Experimental Class 2 (WEE), and a Control Class (Discovery Learning). Data were collected using tests of conceptual understanding and critical thinking skills and analyzed using MANOVA at a 5% significance level. The results revealed that the WEE learning model integrated with the QSH strategy had a significant effect on students’ conceptual understanding and critical thinking skills and was more effective than the WEE model alone and conventional learning. In conclusion, the integration of the WEE learning model and the QSH strategy can serve as an effective alternative for improving students’ mathematical conceptual understanding and critical thinking skills. ABSTRAK Kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis matematis peserta didik di Indonesia masih tergolong rendah, sebagaimana ditunjukkan oleh hasil PISA 2022 dan temuan awal di SMP Negeri 14 Pesawaran. Meskipun berbagai model pembelajaran inovatif telah diterapkan, penelitian yang mengkaji penerapan model pembelajaran Wondering, Exploring, Explaining (WEE) yang dipadukan dengan strategi Question Student Have (QSH) masih terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model pembelajaran WEE dengan strategi QSH terhadap kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen semu (quasi experiment). Sampel penelitian terdiri atas tiga kelas yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling, yaitu kelas eksperimen 1 (WEE dengan QSH), kelas eksperimen 2 (WEE), dan kelas kontrol (Discovery Learning). Data dikumpulkan melalui tes kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis, kemudian dianalisis menggunakan MANOVA pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran WEE dengan strategi QSH berpengaruh signifikan terhadap kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis peserta didik serta lebih efektif dibandingkan model WEE tanpa strategi QSH maupun pembelajaran konvensional. Dengan demikian, model pembelajaran WEE dengan strategi QSH dapat menjadi alternatif yang efektif untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan berpikir kritis matematis peserta didik.
UANG HANTARAN DALAM ADAT PERKAWINAN MASYARAKAT KUALA TOLAM, PELALAWAN: ANALISIS PERSPEKTIF MAQĀṢID AL-SYARĪ‘AH Ahmad Jamilurrahman; Muhsan Muhsan
KNOWLEDGE: Jurnal Inovasi Hasil Penelitian dan Pengembangan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/knowledge.v6i3.8488

Abstract

Uang hantaran is a customary practice in the marriage traditions of the Malay community in Kuala Tolam, Pelalawan Regency. It functions as financial support for wedding expenses and as a symbol of respect between families. Problems arise when the amount is set excessively high and treated as a social requirement before the marriage contract, potentially causing economic pressure, debt, asset sales, marriage delays, or the termination of engagement processes. This study aims to describe the practice of uang hantaran, identify the factors influencing its determination and its impacts, and analyze it from the perspective of maqāṣid al-sharī‘ah. This study employs a qualitative case-study design with a socio-legal approach. Data were collected through semi-structured interviews, non-participant observation, and document review. The data were analyzed thematically through transcription, coding, categorization, and interpretation based on the concepts of ‘urf and maqāṣid al-sharī‘ah. The findings indicate that uang hantaran differs from mahr. Mahr is the wife’s right and a religious obligation, whereas uang hantaran originates from customary practice. Its amount is influenced by educational background, family social status, prestige, and economic capacity, generally ranging from IDR 15 million to IDR 30 million and reaching IDR 50 million to IDR 60 million in certain cases. Uang hantaran may be categorized as ‘urf ṣaḥīḥ when it is determined voluntarily, proportionally, and without causing harm. Conversely, coercive and burdensome arrangements conflict with the protection of dignity, lineage, and property. Therefore, reform should focus on the mechanism for determining uang hantaran rather than eliminating the tradition itself. ABSTRAK Uang hantaran merupakan tradisi perkawinan masyarakat Melayu Kuala Tolam, Kabupaten Pelalawan, yang berfungsi sebagai bantuan biaya pesta dan simbol penghormatan antarkeluarga. Permasalahan muncul ketika nominalnya ditetapkan terlalu tinggi dan diperlakukan sebagai keharusan sosial sebelum akad sehingga dapat menimbulkan tekanan ekonomi, utang, penjualan aset, penundaan perkawinan, atau berakhirnya proses lamaran. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan praktik uang hantaran, mengidentifikasi faktor penetapan dan dampaknya, serta menganalisisnya berdasarkan maqāṣid al-syarī‘ah. Penelitian menggunakan studi kasus kualitatif dengan pendekatan sosio-legal. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi nonpartisipatif, dan telaah dokumen. Data dianalisis secara tematik melalui transkripsi, pengodean, kategorisasi, serta interpretasi berdasarkan konsep ‘urf dan maqāṣid al-syarī‘ah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa uang hantaran berbeda dari mahar. Mahar merupakan hak istri dan kewajiban syar‘i, sedangkan uang hantaran bersumber dari adat. Nominal hantaran dipengaruhi oleh pendidikan, status sosial keluarga, gengsi, dan kemampuan ekonomi, dengan kisaran umum Rp15 juta–Rp30 juta dan mencapai Rp50 juta–Rp60 juta pada kasus tertentu. Uang hantaran dapat dikategorikan sebagai ‘urf ṣaḥīḥ apabila ditetapkan secara sukarela, proporsional, dan tidak menimbulkan kemudaratan. Sebaliknya, penetapan yang memaksa dan memberatkan bertentangan dengan perlindungan kehormatan, keturunan, dan harta. Dengan demikian, perbaikan perlu diarahkan pada mekanisme penetapannya, bukan pada penghapusan tradisinya.