cover
Contact Name
-
Contact Email
jurnal.P4I@gmail.com
Phone
+6289681071805
Journal Mail Official
jurnal.P4I@gmail.com
Editorial Address
Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan
ISSN : 28078829     EISSN : 28078659     DOI : https://doi.org/10.51878/educator.v2i1
Core Subject : Education,
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan berisi tulisan/artikel hasil pemikiran dan hasil penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam smua disiplin ilmu yang berkaitan dengan Pendidikan Menengah.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 164 Documents
THE USE OF FILM AS MULTIMODAL MEDIA TO FACILITATE STUDENTS’ MULTIMODAL LITERACY IN LEARNING NARRATIVE TEXTS Rendi Afriadi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.10904

Abstract

ABSTRACT This study aimed to investigate the effectiveness of using films as multimodal media in facilitating students’ multimodal literacy in narrative text learning. The study was motivated by the need for more interactive and contextual EFL learning media. A pre-experimental design with a one-group pre-test and post-test was employed involving 26 tenth-grade vocational high school students. Data were collected through pre-tests, post-tests, and questionnaires, then analyzed using paired sample t-tests and descriptive statistics. The findings revealed an improvement in students’ mean scores from 86.15 to 90.30 after the implementation of film-based learning. The paired sample t-test showed a statistically significant difference (t(25) = -14.774, p < 0.05), indicating that films were effective as multimodal media in narrative text learning. Questionnaire results also demonstrated positive student responses with an overall mean score of 4.10, particularly in terms of text comprehension, learning motivation, engagement, and multimodal literacy. The findings indicate that the integration of films supports language comprehension while strengthening students’ ability to interpret meaning through multiple modes of communication. In conclusion, the use of films as multimodal media effectively enhances students’ narrative text comprehension and multimodal literacy. This study highlights the importance of innovative multimodal media in creating more meaningful EFL learning experiences. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan menyelidiki efektivitas penggunaan film sebagai media multimodal dalam memfasilitasi literasi multimodal siswa pada pembelajaran teks naratif. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan media pembelajaran EFL yang lebih interaktif dan kontekstual. Penelitian menggunakan desain pra-eksperimen dengan rancangan one-group pre-test dan post-test terhadap 26 siswa kelas X SMK. Data dikumpulkan melalui pre-test, post-test, dan angket, kemudian dianalisis menggunakan paired sample t-test dan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa dari 86,15 menjadi 90,30 setelah penerapan pembelajaran berbasis film. Uji paired sample t-test menunjukkan perbedaan yang signifikan (t(25) = -14,774, p < 0,05), yang menandakan bahwa film efektif sebagai media multimodal dalam pembelajaran teks naratif. Hasil angket juga menunjukkan respons positif siswa dengan rata-rata skor 4,10, terutama pada aspek pemahaman teks, motivasi belajar, keterlibatan, dan literasi multimodal. Temuan ini menunjukkan bahwa integrasi film mampu mendukung pemahaman bahasa sekaligus memperkuat kemampuan siswa dalam menginterpretasikan makna melalui berbagai mode komunikasi. Kesimpulannya, penggunaan film sebagai media multimodal efektif dalam meningkatkan pemahaman teks naratif dan literasi multimodal siswa. Penelitian ini menegaskan pentingnya penggunaan media multimodal inovatif dalam menciptakan pembelajaran EFL yang lebih bermakna.
PEMIKIRAN MUSTAFA KEMAL ATATÜRK DALAM MODERNISASI PENDIDIKAN TURKI Arifa Dina Hanifa; Asyhar Lailatul Rahma; Laeli Dina Mafazah
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11006

Abstract

ABSTRACT The educational modernization ideas of Mustafa Kemal Atatürk became one of the main pillars in Turkey’s transformation into a modern state in the early twentieth century. The background of these ideas originated from the dualistic educational system of the Ottoman Empire, which separated religious and general education and hindered the development of science and technology. This study aims to analyze Atatürk’s concept of educational reform, the impact of his policies on the Turkish education system, and their relevance to modern educational development. This research employs a qualitative method with a literature review approach through descriptive analysis of secondary sources, including books, journals, and scholarly articles. The findings reveal that Atatürk’s educational reforms were implemented through educational secularization, the unification of the education system under the Ministry of National Education, the replacement of the Arabic alphabet with the Latin alphabet, and the implementation of science-oriented curricula. These reforms contributed to increasing literacy, strengthening national identity, and expanding women’s access to education, although they also generated debates regarding the reduced role of religion in education. The study concludes that Atatürk’s educational thought remains relevant in addressing the challenges of globalization and technological advancement through a rational, scientific, and progress-oriented education system. ABSTRAK Pemikiran Mustafa Kemal Atatürk mengenai modernisasi pendidikan menjadi salah satu pilar utama dalam transformasi Turki menuju negara modern pada awal abad ke-20. Gagasan tersebut muncul sebagai respons terhadap sistem pendidikan Kesultanan Utsmaniyah yang mengalami dualisme antara pendidikan agama dan pendidikan umum sehingga menghambat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pembaruan pendidikan yang digagas Mustafa Kemal Atatürk, pengaruh kebijakan yang diterapkannya terhadap sistem pendidikan Turki, serta relevansinya terhadap perkembangan pendidikan modern. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kajian kepustakaan melalui analisis deskriptif terhadap berbagai sumber sekunder berupa buku, jurnal, dan artikel ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reformasi pendidikan Atatürk dilakukan melalui sekularisasi pendidikan, penyatuan sistem pendidikan di bawah Kementerian Pendidikan Nasional, perubahan alfabet Arab ke Latin, serta penerapan kurikulum berbasis ilmu pengetahuan modern. Reformasi tersebut berdampak pada meningkatnya literasi, penguatan identitas nasional, dan terbukanya akses pendidikan bagi perempuan, meskipun juga memunculkan perdebatan mengenai berkurangnya peran agama dalam pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemikiran Mustafa Kemal Atatürk masih relevan dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi melalui sistem pendidikan yang rasional, ilmiah, dan berorientasi pada kemajuan bangsa.
PERSONALISASI PEMBELAJARAN FIQH BERBASIS GENERATIVE AI: TRANSFORMASI PERAN GURU DALAM RUANG KELAS DIGITAL 5.0. Ilyas Rozak Hanafi; Hasbullah Hasbullah; Muhammad Yasin; Susanto Susanto; Muhamad Qomarudinul Huda; Ninik Muhajiroh
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11033

Abstract

ABSTRACT Entering the Society 5.0 era, the integration of artificial intelligence in education has become an essential necessity, including in Islamic Religious Education learning. However, the utilization of Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) in Fiqh learning remains limited to technical aspects, while pedagogical dimensions, ethical considerations, and the transformation of teachers’ roles have not been extensively explored. This study aims to examine the personalization of Gen-AI-based Fiqh learning and analyze the transformation of teachers’ roles within the Digital 5.0 classroom environment. The research employed a qualitative approach using a library research method through philosophical-pedagogical content analysis of relevant literature. The findings indicate that Gen-AI enables adaptive, differentiated, and contextual Fiqh learning through personalized materials, digital tutors, case simulations, and individualized feedback tailored to students’ needs. The Digital 5.0 classroom also introduces prompt pedagogy as a new competency in AI-assisted learning interactions, accompanied by the risk of AI hallucination that requires teacher validation. Other findings reveal the transformation of teachers into digital curators, sharia validators, reflective facilitators, and moral compasses. In conclusion, Gen-AI integration does not replace teachers’ roles but strengthens pedagogical, spiritual, and character-building functions in Fiqh learning within the Society 5.0 era. ABSTRAK Memasuki era Masyarakat 5.0, integrasi kecerdasan buatan dalam pendidikan menjadi kebutuhan penting, termasuk dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Namun, pemanfaatan Generative Artificial Intelligence (Gen-AI) dalam pembelajaran Fiqh masih terbatas pada aspek teknis, sementara dimensi pedagogis dan transformasi peran guru belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi personalisasi pembelajaran Fiqh berbasis Gen-AI serta menganalisis transformasi peran guru dalam ruang kelas digital 5.0. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research) melalui analisis konten filosofis-pedagogis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gen-AI memungkinkan pembelajaran Fiqh yang adaptif, diferensiatif, dan kontekstual melalui personalisasi materi, tutor digital, simulasi kasus, dan umpan balik individual. Ruang kelas digital 5.0 juga melahirkan pedagogi prompt sebagai keterampilan baru dalam interaksi belajar berbasis AI, namun disertai risiko AI hallucination yang menuntut validasi guru. Temuan lainnya menunjukkan transformasi peran guru menjadi kurator digital, validator syar’i, dan kompas moral. Kesimpulannya, integrasi Gen-AI tidak menggantikan peran guru, tetapi memperkuat fungsi pedagogis dan spiritual dalam pembelajaran Fiqh di era digital 5.0.
ANALISIS STRUKTUR KAJIAN PUSTAKA DALAM PENELITIAN TINDAKAN KELAS: SYTEMATIC LITERATUR RIVIEW Ahmad Muzaky Syamsuddin; Ummu Nur Afifah Isnaini; Salisatul Mu’awanah; Imron Fauzi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11052

Abstract

ABSTRACT This study aims to identify patterns in the preparation of literature reviews within Classroom Action Research (CAR) and to analyze their influence on research quality from both conceptual and methodological perspectives. The study employed a systematic literature review (SLR) approach guided by PRISMA, using articles obtained from Scopus, Google Scholar, and SpringerLink. Data analysis was conducted through content analysis and thematic synthesis to identify patterns, consistency, and weaknesses in the construction of argument reviews in CAR studies. The findings reveal that the major arguments presented in CAR articles remain predominantly descriptive and have not been able to establish strong conceptual relationships between theory and empirical findings. Furthermore, there is still no consistent standard for the systematic organization of argument reviews, resulting in less optimal scientific reasoning and theoretical foundations within the research. This condition affects the weak construction of classroom action research designs and the low integration among the references used. The study emphasizes that the structure of argument reviews plays a strategic role in developing conceptual frameworks, strengthening academic arguments, and systematically improving research quality. The novelty of this study lies in proposing an argumentative, critical, and conceptually interconnected model of argument review as an effort to enhance the quality of CAR publications. These findings are expected to serve as practical guidance for researchers and academics in developing more systematic, argumentative, and relevant argument reviews aligned with the needs of educational research. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pola penyusunan kajian pustaka dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) serta menganalisis pengaruhnya terhadap kualitas penelitian secara konseptual dan metodologis. Penelitian menggunakan pendekatan systematic literature review (SLR) dengan pedoman PRISMA terhadap artikel yang diperoleh dari Scopus, Google Scholar, dan SpringerLink. Analisis data dilakukan melalui content analysis dan thematic synthesis untuk menemukan pola, konsistensi, serta kelemahan dalam penyusunan kajian argumen PTK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa argument besar kajian argumen pada artikel PTK masih bersifat deskriptif dan belum mampu membangun hubungan konseptual yang kuat antara teori dan temuan empiris. Selain itu, belum terdapat standar sistematika kajian argumen yang konsisten sehingga argumentasi ilmiah dan dasar teoritis penelitian menjadi kurang optimal. Kondisi tersebut berdampak pada lemahnya konstruksi desain penelitian tindakan kelas dan rendahnya integrasi antarreferensi yang digunakan. Penelitian ini menegaskan bahwa struktur kajian argumen memiliki peran strategis dalam membangun kerangka konseptual, memperkuat argumentasi akademik, dan meningkatkan kualitas penelitian secara sistematis. Novelty penelitian terletak pada penawaran model kajian argumen yang argumentatif, kritis, dan berbasis keterhubungan konseptual sebagai upaya meningkatkan mutu publikasi PTK. Temuan ini diharapkan menjadi acuan praktis bagi peneliti dan akademisi dalam menyusun kajian argumen yang lebih sistematis, argumentative, dan relevan dengan kebutuhan penelitian pendidikan. 
PERAN ORGANISASI ISLAM DALAM MODERNISASI PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA Choerunisa Choerunisa; Idzar Laela Istiqomah; Syifa Ulfiyana Ramadhanti
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11079

Abstract

ABSTRACT Studies on the modernization of Islamic education in Indonesia have been widely conducted; however, most remain focused on historical aspects or discuss the role of particular Islamic organizations separately. Consequently, the collective contribution of Islamic organizations in transforming education through institutional reform, curriculum development, and educational management has not been comprehensively examined. This study is important to understand how Islamic organizations function as agents of change in maintaining the relevance of Islamic education amid contemporary developments. The study aims to analyze the role of Islamic organizations, particularly Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), and Persatuan Islam (Persis), in the modernization of Islamic education in Indonesia. This research employed a qualitative descriptive approach using library research by reviewing books, scientific journals, and relevant literature. Data were analyzed descriptively and analytically to identify the contributions of Islamic organizations to educational transformation. The findings reveal that Islamic organizations have significantly contributed to educational modernization through the establishment of formal educational institutions, integration of religious and general curricula, innovation in learning methods, and implementation of more structured educational administration and management systems. Muhammadiyah tends to promote a modern education model based on knowledge integration, while NU maintains traditional pesantren values alongside modern educational adaptation. PERTI and Persis also contribute through the development of madrasah and more systematic Islamic educational systems. These findings confirm that Islamic organizations play a strategic role in improving the quality, accessibility, and relevance of Islamic education while contributing to the national education system. ABSTRAK Kajian mengenai modernisasi pendidikan Islam di Indonesia telah banyak dilakukan, namun sebagian besar masih berfokus pada aspek historis atau hanya membahas peran organisasi Islam tertentu secara parsial. Padahal, kontribusi berbagai organisasi Islam dalam mendorong transformasi pendidikan melalui pembaruan kelembagaan, kurikulum, dan sistem pengelolaan pendidikan belum banyak dikaji secara komprehensif. Penelitian ini penting dilakukan untuk memahami bagaimana organisasi Islam berperan sebagai agen perubahan dalam mempertahankan relevansi pendidikan Islam terhadap perkembangan zaman. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran organisasi Islam, khususnya Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI), dan Persatuan Islam (Persis), dalam proses modernisasi pendidikan Islam di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research) melalui telaah buku, jurnal ilmiah, dan berbagai sumber literatur yang relevan. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi bentuk kontribusi organisasi Islam terhadap perubahan sistem pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa organisasi-organisasi Islam berkontribusi signifikan dalam modernisasi pendidikan melalui pendirian lembaga pendidikan formal, integrasi kurikulum agama dan ilmu umum, pembaruan metode pembelajaran, serta penerapan sistem administrasi dan manajemen pendidikan yang lebih terstruktur. Muhammadiyah cenderung mengembangkan model pendidikan modern berbasis integrasi ilmu, sedangkan NU mempertahankan tradisi pesantren dengan mengadaptasi unsur pendidikan modern. PERTI dan Persis turut berperan dalam pengembangan madrasah dan sistem pendidikan Islam yang lebih sistematis. Temuan ini menegaskan bahwa organisasi Islam memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas, akses, dan relevansi pendidikan Islam sekaligus memberikan kontribusi terhadap perkembangan sistem pendidikan nasional.
PENGARUH PENGGUNAAN APLIKASI AL-QUR’AN DIGITAL TERHADAP KELANCARAN TAJWID SISWA : ANALISIS KOMPARATIF Dessy Kurnia Mulyani; Yendra Yuza Pratama Pratama; Intan Pratiwi Pratiwi
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11245

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology has introduced various Qur'an applications equipped with color-coded tajweed, murattal audio, and interactive exercises that have the potential to enhance the quality of tajweed learning. Although the utilization of technology in Qur'anic learning has been widely studied, experimental studies directly comparing the effectiveness of digital Qur'an applications with conventional learning methods in improving students’ tajweed fluency remain limited. This study aims to analyze the effect of using digital Qur'an applications on students’ tajweed fluency and compare their effectiveness with conventional teaching methods. The research employed a quantitative approach using a quasi-experimental pretest-posttest two-group design. The sample consisted of 25 students divided into an experimental group (n=13) using a digital Qur'an application and a control group (n=12) receiving lecture-based instruction and conventional practice for one week (5 sessions × 40 minutes). The research instrument was an oral test measuring tajweed fluency based on 15 indicators of recitation rules validated by tahsin experts. Data were analyzed using the Mann–Whitney U test and N-Gain analysis. The findings showed that the experimental group achieved a higher average posttest score (78.31) than the control group (68.17) (p=0.032<0.05). The N-Gain score of the experimental group was categorized as moderate (0.52), while the control group was categorized as low (0.28). These findings indicate that the use of digital Qur'an applications provides greater improvement in tajweed fluency compared to conventional learning methods, even within a relatively short intervention period. The contribution of this study lies in providing empirical evidence through a comparative experimental design regarding the effectiveness of digital Qur'an media in tajweed learning, which remains underreported in the context of Islamic education at the primary and secondary levels. The results highlight the importance of integrating adaptive digital media as supporting tools for tahsin and tajweed learning in Islamic educational settings. ABSTRAK Perkembangan teknologi digital menghadirkan berbagai aplikasi Al-Qur'an dengan fitur color-coded tajweed, audio murattal, dan latihan interaktif yang berpotensi meningkatkan kualitas pembelajaran tajwid. Meskipun pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran Al-Qur'an telah banyak dikaji, kajian eksperimental yang membandingkan secara langsung efektivitas aplikasi Al-Qur'an digital dengan metode pembelajaran konvensional terhadap peningkatan kelancaran tajwid masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh penggunaan aplikasi Al-Qur'an digital terhadap kelancaran tajwid siswa serta membandingkan efektivitasnya dengan metode konvensional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain quasi-experimental pretest-posttest two-group. Sampel terdiri atas 25 siswa yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen (n=13) menggunakan aplikasi Al-Qur'an digital dan kelompok kontrol (n=12) menggunakan metode ceramah serta latihan konvensional selama satu minggu (5 pertemuan × 40 menit). Instrumen penelitian berupa tes lisan kelancaran tajwid berdasarkan 15 indikator hukum bacaan yang telah divalidasi oleh ahli tahsin. Analisis data dilakukan menggunakan uji Mann–Whitney U dan N-Gain. Hasil penelitian menunjukkan kelompok eksperimen memperoleh rata-rata posttest sebesar 78,31, lebih tinggi dibanding kelompok kontrol sebesar 68,17 (p=0,032<0,05). Nilai N-Gain kelompok eksperimen berada pada kategori sedang (0,52), sedangkan kelompok kontrol berada pada kategori rendah (0,28). Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan aplikasi Al-Qur'an digital memberikan peningkatan kelancaran tajwid yang lebih baik dibanding pembelajaran konvensional meskipun diterapkan dalam durasi intervensi singkat. Kontribusi penelitian terletak pada penyediaan bukti empiris melalui desain eksperimen komparatif mengenai efektivitas media Al-Qur'an digital dalam pembelajaran tajwid, yang masih jarang dilaporkan pada konteks pendidikan Islam tingkat dasar dan menengah. Hasil penelitian mengindikasikan pentingnya integrasi media digital adaptif sebagai pendukung pembelajaran tahsin dan tajwid di lingkungan pendidikan Islam.
PENDIDIKAN ISLAM HOLISTIK-KOMPREHENSIF SEBAGAI FONDASI ETIKA PENGGUNAAN TEKNOLOGI PADA GENERASI Z kayla putri auliani; Lisma Mardiyah; Irfan Nawawi; Melandri Melandri; Muhamad Bambang yudistira
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11264

Abstract

ABSTRACT Information and communication technology has transformed patterns of education, communication, and social interaction, particularly among Generation Z as the group with the highest intensity of digital technology use in Indonesia. Despite their strong adaptability to digital environments, Generation Z also faces various ethical challenges, including cyberbullying, the spread of misinformation, and misuse of social media. Previous studies have predominantly focused on digital literacy or character education in general, while research positioning holistic-comprehensive Islamic education as a framework for shaping the digital ethics of Generation Z remains limited. This gap forms the basis of the present study and highlights its novelty. This study aims to analyze the concept of holistic-comprehensive Islamic education and examine its relevance as a foundation for developing the digital ethics of Generation Z. The study employed a qualitative approach using a library research method, with data collected from scientific journals, books, and relevant academic literature, which were analyzed through content analysis techniques. The findings indicate that holistic-comprehensive Islamic education promotes digital ethics through four main dimensions: strengthening spirituality as a form of self-control in digital spaces, internalizing moral values to prevent destructive online behavior, developing critical thinking skills toward digital information, and fostering social responsibility in virtual interactions. These four dimensions contribute to encouraging wiser, more ethical, and responsible digital behavior among Generation Z. The findings further demonstrate that holistic-comprehensive Islamic education contributes theoretically to the development of digital ethics concepts grounded in Islamic values and offers practical implications as a foundation for strengthening digital literacy and character formation among Generation Z in the era of technological transformation. ABSTRAK Teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola pendidikan, komunikasi, dan interaksi sosial masyarakat, terutama pada Generasi Z sebagai kelompok dengan intensitas penggunaan teknologi digital tertinggi di Indonesia. Di balik kemampuan adaptasi digital yang tinggi, Generasi Z juga menghadapi berbagai persoalan etika seperti cyberbullying, penyebaran hoaks, serta penyalahgunaan media sosial. Berbagai penelitian sebelumnya lebih banyak membahas literasi digital atau pendidikan karakter secara umum, sementara kajian yang menempatkan pendidikan Islam holistik-komprehensif sebagai kerangka pembentukan etika digital Generasi Z masih terbatas. Kekosongan kajian ini menjadi dasar penting penelitian sekaligus menunjukkan novelty penelitian. Penelitian ini bertujuan menganalisis konsep pendidikan Islam holistik-komprehensif dan menelaah relevansinya sebagai fondasi pembentukan etika digital Generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode kepustakaan (library research), dengan sumber data berupa jurnal ilmiah, buku, dan literatur akademik yang dianalisis menggunakan teknik content analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam holistik-komprehensif membangun etika digital melalui empat dimensi utama, yaitu penguatan spiritualitas sebagai kontrol diri dalam ruang digital, internalisasi nilai moral untuk mencegah perilaku destruktif daring, pengembangan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi digital, serta pembentukan tanggung jawab sosial dalam interaksi virtual. Keempat dimensi tersebut berperan dalam mendorong perilaku digital yang lebih bijak, etis, dan bertanggung jawab pada Generasi Z. Temuan ini menegaskan bahwa pendidikan Islam holistik-komprehensif tidak hanya berkontribusi secara teoritis terhadap pengembangan konsep etika digital berbasis nilai Islam, tetapi juga memiliki implikasi praktis sebagai landasan penguatan literasi dan karakter digital Generasi Z di era transformasi teknologi.
KECANDUAN GADGET PADA SISWA SEKOLAH DI ERA DIGITAL: STUDI KASUS DALAM PENDEKATAN KONSELING ISLAMI Imelda Kurniati Siregar; Anissa Anissa; Reinasya Br Surbakti; Tiara Adelia; Ramadan Lubis
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11284

Abstract

ABSTRACT The use of gadgets among students has increased alongside the development of the digital era and has the potential to cause addiction affecting academic, psychological, and social aspects. Previous studies have mainly examined gadget addiction from educational and psychological perspectives, while Islamic counseling approaches as an intervention remain limited. Therefore, this study aims to analyze the forms of gadget addiction among students, its impacts, and the implementation of Islamic counseling in reducing dependency. This study employed a qualitative method with a case study approach involving a high school student selected purposively based on high intensity of gadget use. Data were collected through observation, semi-structured interviews, and field notes, then analyzed using data reduction, data presentation, and conclusion drawing techniques. The findings revealed that gadget use reached 8–10 hours per day, dominated by entertainment activities. This condition led to emotional dependency, decreased learning concentration, procrastination, and reduced quality of interaction with family members. The Islamic counseling approach through muhasabah, tazkiyatun nafs, worship habituation, and self-control strengthening showed potential in helping students manage gadget use more wisely. In conclusion, gadget addiction is a complex issue requiring integrated interventions through Islamic counseling as well as support from families and schools. ABSTRAK Penggunaan gadget pada siswa sekolah meningkat seiring perkembangan era digital dan berpotensi menimbulkan kecanduan yang berdampak pada aspek akademik, psikologis, serta sosial. Penelitian sebelumnya lebih banyak membahas dampak kecanduan gadget dari perspektif pendidikan dan psikologi, sedangkan pendekatan konseling Islami sebagai upaya penanganan masih terbatas dikaji. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk kecanduan gadget pada siswa, dampaknya, serta penerapan konseling Islami dalam mengurangi ketergantungan tersebut. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus pada seorang siswa sekolah menengah atas yang dipilih secara purposive berdasarkan intensitas penggunaan gadget yang tinggi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara semi-terstruktur, dan catatan lapangan, kemudian dianalisis melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan gadget mencapai 8–10 jam per hari dengan dominasi aktivitas hiburan. Kondisi tersebut memunculkan ketergantungan emosional, penurunan konsentrasi belajar, prokrastinasi, serta menurunnya kualitas interaksi dengan keluarga. Pendekatan konseling Islami melalui muhasabah, tazkiyatun nafs, pembiasaan ibadah, dan penguatan kontrol diri menunjukkan potensi membantu siswa mengelola penggunaan gadget secara lebih bijak. Disimpulkan bahwa kecanduan gadget merupakan masalah kompleks yang memerlukan penanganan terpadu melalui konseling Islami serta dukungan keluarga dan sekolah.
DAMPAK KETERLAMBATAN SEKOLAH TERHADAP PERKEMBANGAN SOSIAL DAN AKADEMIK ANAK DI PANTI ASUHAN NUR SIAMATU KECAMATAN TAMALATE, KOTA MAKASAR Mutmainnah Mutmainnah
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11350

Abstract

ABSTRACT Delays experienced by orphanage children in accessing formal education can affect their cognitive, social, emotional, and academic development. These conditions contribute to limited basic literacy and numeracy skills and reduce children’s self-confidence in social interactions. This study aims to analyze the factors causing delays in formal education among orphanage children and to identify educational efforts that can support their development and learning motivation. The study employed a descriptive qualitative approach using observation, interviews, and documentation conducted at Nur Siamatu Orphanage. Data were analyzed through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings revealed that economic factors, caregiving patterns, and limited understanding of the importance of early childhood education were the primary causes of delays in formal education. In addition, the implementation of inclusive education, learning assistance, and collaboration between orphanage administrators and educational institutions significantly improved children’s learning motivation, self-confidence, and readiness to participate in formal education. The novelty of this study lies in strengthening a collaborative educational intervention model based on orphanage caregiving, which emphasizes not only educational access but also children’s psychosocial readiness. The study concludes that collaborative and sustainable educational interventions have practical implications for optimizing the development of orphanage children and may serve as a reference for caregiving institutions in designing more adaptive and inclusive educational programs. Keterlambatan anak panti asuhan dalam memperoleh pendidikan formal dapat memengaruhi perkembangan kognitif, sosial, emosional, dan akademik mereka. Kondisi tersebut berdampak pada rendahnya kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung serta menurunkan kepercayaan diri anak dalam berinteraksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab keterlambatan pendidikan formal pada anak panti asuhan serta mengidentifikasi upaya pendidikan yang mampu mendukung perkembangan dan motivasi belajar mereka. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi di Panti Asuhan Nur Siamatu. Data dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor ekonomi, pola pengasuhan, dan rendahnya pemahaman mengenai pentingnya pendidikan usia dini menjadi penyebab utama keterlambatan pendidikan formal anak. Selain itu, penerapan pendidikan inklusif, pendampingan belajar, serta kolaborasi antara pengelola panti dan lembaga pendidikan terbukti meningkatkan motivasi belajar, rasa percaya diri, dan kesiapan anak mengikuti pendidikan formal. Kebaruan penelitian ini terletak pada penguatan model intervensi pendidikan kolaboratif berbasis pengasuhan panti asuhan yang tidak hanya berfokus pada akses pendidikan, tetapi juga pada kesiapan psikososial anak. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi pendidikan yang kolaboratif dan berkelanjutan memiliki implikasi praktis dalam mendukung optimalisasi perkembangan anak panti asuhan serta dapat menjadi rujukan bagi lembaga pengasuhan dalam merancang program pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.
MENGGALI HAKIKAT PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN: FONDASI UTAMA PEMBANGUNAN KARAKTER BANGSA Nurfajriani Nurfajriani; Nur Apriayani
EDUCATOR : Jurnal Inovasi Tenaga Pendidik dan Kependidikan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educator.v6i2.11407

Abstract

ABSTRACT The development of globalization and digitalization has brought significant changes to the mindset, behavior, and national values of the younger generation. On the other hand, studies on Civic Education (Pendidikan Kewarganegaraan/PKn) have largely focused on conceptual aspects of learning, while discussions regarding the essence of Civic Education as the primary foundation for national character building in the digital era remain limited. This issue is important to examine considering the decline of nationalism, the strong influence of foreign cultures, and digital literacy challenges that potentially affect the identity of younger generations. This study aims to explore the essence of Civic Education as the main foundation for national character development and its relevance to the needs of Generation Z. The research employed a qualitative approach using a library research method. Data were collected from scientific journals, books, and relevant academic documents, then analyzed using content analysis techniques. The findings indicate that Civic Education functions not only as a medium for transferring civic knowledge but also as a means of internalizing moral values, democracy, social responsibility, patriotism, and strengthening national identity. Innovative, contextual, and technology-based Civic Education learning has also been proven to enhance student engagement. Therefore, Civic Education remains an essential foundation in shaping a generation that is characterized, critical, possesses integrity, and is capable of maintaining national values amid global developments. ABSTRAK Perkembangan globalisasi dan digitalisasi membawa perubahan terhadap pola pikir, perilaku, serta nilai kebangsaan generasi muda. Di sisi lain, kajian mengenai Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) masih banyak berfokus pada aspek konseptual pembelajaran, sementara pembahasan tentang hakikat PKn sebagai fondasi utama pembentukan karakter bangsa di era digital belum dikaji secara mendalam. Kondisi ini penting diteliti mengingat menurunnya nasionalisme, kuatnya pengaruh budaya asing, serta tantangan literasi digital yang berpotensi memengaruhi identitas generasi muda. Penelitian ini bertujuan menggali hakikat Pendidikan Kewarganegaraan sebagai landasan utama pembentukan karakter bangsa dan relevansinya terhadap kebutuhan generasi Z. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku, dan dokumen akademik yang relevan, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis). Hasil kajian menunjukkan bahwa PKn tidak hanya berfungsi sebagai media transfer pengetahuan kewarganegaraan, tetapi juga berperan dalam internalisasi nilai moral, demokrasi, tanggung jawab sosial, cinta tanah air, serta penguatan identitas nasional. Pembelajaran PKn yang inovatif, kontekstual, dan berbasis teknologi terbukti meningkatkan keterlibatan peserta didik. Dengan demikian, PKn tetap menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi yang berkarakter, kritis, berintegritas, dan mampu mempertahankan nilai kebangsaan di tengah perkembangan global.