cover
Contact Name
Nuzul Iskandar
Contact Email
nuzul.iskandar@gmail.com
Phone
+6285274707108
Journal Mail Official
alqisthuiainkerinci@gmail.com
Editorial Address
Komplek Kampus IAIN Kerinci, Jl. Kapten Muradi, Kecamatan Sungai Liuk, Kota Sungai Penuh Provinsi Jambi,
Location
Kab. kerinci,
Jambi
INDONESIA
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
ISSN : 18581099     EISSN : 26543559     DOI : https://doi.org/10.32694/qst.v20i1.1140
Core Subject : Religion, Social,
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum is a peer-reviewed scientific open access journal. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. The primary topics will publish in this journal is 1. Islamic family law; 2. Islamic criminal law; 3. Islamic political law; 4. Islamic economic law; 5. Islamic astronomy (falak studies).
Arjuna Subject : Ilmu Sosial - Hukum
Articles 178 Documents
ADAT DAN SYARA’ Eka Putra
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (848.282 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1162

Abstract

Adat pada prinsipnya dekat sekali dengan agama, sejak dahulu adat sudah menjadi tata cara kebaktian orang kepada Tuhan. Seperti dalam seloko adat mengatakan “ Adat basendi syara’, syara’ basendi kitabullah, syara’ mengatakan adat memakai”.Artinya; Bahwa agama berfungsi sebagai pengontrol terhadap adat, itu sebabnya dalam adat Kerinci dikatakan ;“Adat berbuwul sentak, syara’ berbuwul mati, dan Adat yang lazim, syara’ yang kawi”. Di sini akan dilihat pengertian adat dan syara’, dasardan sumber hukum syara’, filsafat adar, kedudukan adat dalam hukum Islam dan persentuhan dan perpaduan adat dan syara’
WUJUD PENGEMBANGAN IBADAH DALAM DUNIA TASAWUF Ahmad Zuhdi
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (849.363 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1163

Abstract

Untuk memperihalkan tentang Tuhan. Apa sahaja yang terlintas dalam fikiran dan perasaan, yang terucap oleh perkataan dan bahasa, yang digambarkan sebagai ibarat, misal dan sifat, semuanya bukanlah Allah s.w.t. Apa juga istilah yang digunakan semuanya juga bukan Allah s.w.t. Ahadiyyah, Wahdat dan Wahadiyyah bukanlah Allah s.w.t. Tiada kenyataan, kenyataan pertama, kenyataan ke dua dan kenyataan ke tiga semuanya bukanlah Allah s.w.t. Zat, sifat, asma’ dan af’al semuanya bukanlah Allah s.w.t. Roh Kudus, Roh Idhafi dan Roh Rabbani bukanlah Allah s.w.t. Alam Lahut, Balhut dan Jamhut bukanlah Allah s.w.t. Alam Ghaibul Ghuyub, Alam Ghaib, Alam Kabir dan Alam Saghir bukanlah Allah s.w.t. Alam Arwah dan Alam Misal bukanlah Allah s.w.t. Alam Malakut dan Alam Jabarut bukanlah Allah s.w.t. Semuanya, sekaliannya, yang beribu-ribu lagi istilah dan perkataan yang digunakan adalah sesungguhnya dan sebenarnya bukanlah Allah s.w.t. Semua itu hanyalah perihal tentang keadaan Allah s.w.t, kesucian Allah s.w.t, kebesaran Allah s.w.t, kebijaksanaan Allah s.w.t, keindahan Allah s.w.t, kekayaan Allah s.w.t, cahaya Allah s.w.t, kenyataan Allah s.w.t dan sesuatu tentang Allah s.w.t tetapi bukanlah Dia. “Dan bagi Allah jualah misal (sifat) yang tertinggi, dan Dialah jua Yang Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana”. ( Ayat 60 : Surah an-Nahl ) Apa juga yang dikatakan tentang Allah s.w.t adalah misal dan sifat yang layak disebut oleh manusia. Allah s.w.t yang mengajarkan manusia apa yang layak diperkatakan tentang Diri-Nya. Al-Quran mengatakan: “Katakanlah…” Tuhan yang mengizinkan manusia berkata sesuatu tentang-Nya. Dia yang ajarkan dan izinkan manusia berkata: Katakanlah: “Dia adalah Allah, Maha Esa. Allah adalah as-Samad”. Dia yang mengajarkan dan mengizinkan manusia memanggil-Nya Allah dan berbagai-bagai nama yang baik-baik. Dia juga mengizinkan manusia mengatakan bahawa Dia Mendengar, Melihat, Berkuasa, Hidup, Berkehendak, Berkata-kata dan Mengetahui. Manusia hanya perlu beriman kepada-Nya dan katakan apa yang Dia izinkan untuk dikata. Keizinan memperkatakan tentang Diri-Nya yang diberikan-Nya melalui al-Quran adalah kebenaran yang sejati. Demikian pula halnya dengan kewajiban untuk disembang dan yang menyembah.
MENGUAK PETUAH-PETUAH MORAL IBN AL-MUQAFFA SERTA RELEVANSINYA DALAM KEHIDUPAN (Telaah Terhadap Kitab al-Adab al-Shaghîr wa al-Adab al-Kabîr) Ali Hamzah
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.162 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1164

Abstract

Ibn al-Muqaffa mastered various languages ​​such as Arabic, Syriac, Pahlavi, Sanskrit, India and Greece. He studied and learned a lot of history and civilization of Persia and he also likes to read long texts with such capabilities. He was the first to translate the works of Persian and Indian literature into Arabic. Translating that resulted in two very important things: the displacement of the Arabs of Bedouin life-style to modern living and non-Arab involvement in the writing of Arabic literature. Kitab Al-Adab al-Shagîr wa al-Adab al-Kabîr is a treatise containing moral advices. Advices were taken to Ibn al-Muqaffa from the wise words of those who passed away were very useful to cleanse our hearts and thoughts turn. Advices contained in the book are felt at all, touched the hearts of our exciting and thought-provoking.
HAK DAN KEWAJIBAN ASASI MANUSIA (Sebuah Telaah dengan Pendekatan Alqur’an dan Hadits) Yudesman Yudesman
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (997.137 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1165

Abstract

Produk gagasan manusia moderen memang harus diakui cukup banyak yang menjanjikan kualitas kehidupan manusia yang lebih terhormat dan maju. Isu Hak Asasi Manusia, misalnya, jelas akan mengubur ambisi sosok penguasa-penguasa yang otoriter dan membuat orang atau otoritas tertentu berfikir-fikir untuk bertindak sewenang-wenang kepada pihak lain. Bahkan, orang tua sendiri pun tidak dapat menggunakan kekuasaannya dengan sewenang-wenang kepada anak-anaknya karena ada hak-hak asasi mereka yang tidak boleh dihegemoni oleh otoritas apapun. Namun, terkadang umat Islam sering lupa dengan ajaran Islam yang mereka anut sendiri yang sesungguhnya telah sejak dini berbicara tentang isu-isu yang kemudian dinilai moderen tersebut. Oleh karena itu, kembali kepada sumber otentik ajaran Islam, Alquran dan Hadis menjadi sangat strategis.
PANDANGAN ISLAM TERHADAP PENENTUAN AKHLAK MANUSIA MENURUT NASH Indah Kencanawati
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.06 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1166

Abstract

Islam merupakan salah satu Agama yang mayoritas dianut oleh penduduk dunia khususnya di Indonesia. Islam mewajibkan kepada kaum muslimin untuk menjalankan syiar-syiar tertentu dalam kesehariannya seperti sholat atau puasa yang secara kontinyu dilakukan setahun sekali seperti shaum (puasa Ramadhan). Hal ini dilakukan agar umatnya senantiasa berhubungan dengan Allah dan tidak terputus dari jalinan ridha-Nya. Islam juga menyuruh ummatnya untuk selalu berusaha dan produktif, berjalan di muka bumi untuk mencari makan dan menghidupi keluarganya dengan rezeki yang diridhoi oleh Allah SWT atau rezeki yang halal.
ILMU BANTU DALAM MEMAHAMI HADITS Samsul Bahry Harahap
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (839.192 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1167

Abstract

من دستور الإسلام الأساسى بعد كتاب الله العظيم هو الأحاديث النبوية الشريفة. وهذه الأحاديث جاءت من كلام رسول الله صلى الله عليه وسلم وأقواله وأفعاله ومواقفه. وتكون كذالك شرحا وتفسيرا لكلام الله الكريم. فوجب على كل إنسان معرفة مضمونها وما فيها. فطريقة معارفها هى مفهوم الألفاظ والأساليب والإعتبارات التى تحتوى على أمرين هما : الإشتقاق ومعان الألفاظ, ومعرفة قواعد اللغة العربية الصحيحة. هذه المقالة تتحدث عن هذين أمرين من مقصودهما وتعريفهما وطريقة فهمهما. فحصلت النتيجة إلى (1) الإشتقاق و الألفاظ إما ظاهرا وخفيا, (2) قواعد اللغة العربية تتكون من الجملة الفعلية والإسمية والأساليب العربية الفصيحة.
QUO VADITUR ILMU KALAM (Reposisi Tuhan, Manusia, dan Globalisasi) M. Ridha DS
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.662 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1168

Abstract

Keyakinan (credo) akan adanya Tuhan dengan segala Kemahaan-Nya adalah dimensi alamiah dalam dunia terdasar diri seorang manusia. Entah dia seorang komunis di Warsawa-Polandia, pengikut Tao di Kobe-Jepang, seorang penganut Sikh di Himalaya, pengikut Hindu di kota suci Benares, seorang Budha di Ulam Bator-Monggolia, penjaga pintu gereja di Vatikan, kepala suku Asmat di Papua, milyuner Bill Gates di California, atau seorang penjual kosari sekaligus penganut setia Tarekat Burhameyyah di kawasan Husein, Kairo. Entah ia diterminologikan dengan God, Lord, Allah, Tuhan, Maha Dewa, atau Gusti. Entah Dia diyakini atau tidak-dalam kacamata keimanan Islam dan intuisi semua manusia-, tetap tidak akan mengurangi dan menggeser sedikitpun ada-Nya. Tuhan adalah perwakilan Nilai Tertinggi dan Keberadaan Mutlak.
PERANAN PEMANGKU ADAT Arzam Arzam
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (844.442 KB) | DOI: 10.32694/qst.v7i.1169

Abstract

Pemaku Adat merupakan orang yang dituakan dalam satu negeri, orang yang berkata dahulu sepatah, dan berjalan didahulukan selangkah, dalam urusan menata dan mengatur anak kemenakannya pada khususnya negeri/ wilayah yang di bawah kepemimpinannya. Adapun yang dibahas di sini adalah mengenai peranan pemangku adat yang berkaitan dengan pranan dan fungsi tengganai, Ninik Mamak dan Depati. Di mana menurut adat kerinci dikenal dengan istilah Sko Tigo Takah.
BAI'UL WAFA` (Reviwe Penggunaan Dalil Mashlahah di Kalangan Hanafiyah) Asa'ari Asa'ari
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 8 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.97 KB) | DOI: 10.32694/qst.v8i.1170

Abstract

Bai'u al-Wafa` muncul pertama kali di Asia Tengah khususnya Bukhara dan Balkh sekitar abad ke 5 Hijriyah dalam rangka menghindari terjadinya riba dalam pinjam-meminjam. Banyak diantara orang kaya ketika itu tidak mau meminjamkan uangnya tanpa ada imbalan yang mereka terima. Sementara banyak pula para peminjam uang tidak mampu melunasi hutangnya akibat imbalan yang harus mereka bayarkan bersamaan dengan uang yang dipinjam. Di sisi lain imbalan yang diberikan atas dasar pinjam-meminjam uang itu menurut ulama fiqh termasuk riba. Maka untuk menghindarkan diri dari riba, masyarakat Bukhara dan Balkh ketika itu memformat suatu bentuk jual beli yang dikenal dengan Bai'u al-Wafa`. Dalam perkembangan taqnin (kodifikasi hukum Islam) di dunia Islam seperti lahirnya Majallah Al-Ahkam Al-'Adliyyah yang diundangkan pada tahun 1286 H. di Turki (sebagai kodifikasi hukum pertama di dunia Islam), Qanun al-Madani di Mesir, dan Qanun Al-Madani al-Sury, di Suryah yang pernah memuat pasal-pasal tentang Bai'ul Wafa` sebagai aqad yang dilegalisasi secara fiqhiyyah ternyata disusun dalam haluan pemikiran hukum ulama kalangan Hanafiyah. Untuk kontek ekonomi dewasa ini Bai'ul Wafa` patut dipertimbangkan untuk diterapkan dalam aktifitas mu'amalat masyarakat Muslim khususnya di Indonesia sebagai pengganti institusi Gadai yang prakteknya selama ini bertentangan dengan Rahan yang digariskan oleh nash terutama dalam hal mengambil manfaat dari barang gadaian oleh pemegang gadai.
KEBEBASAN BERAGAMA: Sebuah Analisis Perundang-Undangan Indonesia, Ham, dan Hukum Islam Yudesman Yudesman
Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 8 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Kerinci

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (875.908 KB) | DOI: 10.32694/qst.v8i.1171

Abstract

Keyakinan itu tidak dapat dipaksakan.Inilah kalimat yang sering dijadikan argumen filosofis kenapa kebebasan beragama harus dijunjung tinggi.Dikaitkan dengan isu hak asasi manusia, kebebasan beragama menjadi salah satu hak individu yang tidak dapat dihegemoni oleh otoritas apapun. Bahkan, termasuk dalam wilayah yang terakhir ini, kebebasan untuk tidak beragama sama sekali. Apabila isu ini diposisikan vis a visdengan hukum Islam di satu sisi dan dengan perundang-undangan Indonesia di sisi lain, praktis akan mengundang perbincangan yang tidak sederhana. Bukankah dalam Islam, perbuatan keluar dari Islam yang dikenal dengan riddah dipandang sebagai sebuah kejahatan. Kemudian, bagaimana mungkin kebebasan untuk tidak beragama dapat disandingkan dengan Ketuhanan yang Maha Esa yang menjadi sila pertama dasar negara Pancasila. Dengan demikian, klaim kebebasan beragama yang secara filosofis mendapatkan dasar argumentasi yang begitu kuat, tidak serta merta dapat menjadi realitas kehidupan.

Page 8 of 18 | Total Record : 178


Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 23 No 1 (2025): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol 22 No 2 (2024): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol 22 No 1 (2024): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol 21 No 2 (2023): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 21 No. 1 (2023): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 20 No. 2 (2022): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 20 No. 1 (2022): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 19 No. 2 (2021): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol 19 No 2 (2021): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 19 No. 1 (2021): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 18 No. 2 (2020): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 18 No. 1 (2020): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 17 No. 2 (2019): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 17 No. 1 (2019): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 16 No. 2 (2018): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 16 No. 1 (2018): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Hukum Vol. 15 No. 2 (2017): Hukum Islam Vol. 15 No. 1 (2017): Hukum Islam Vol. 14 No. 2 (2016): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 14 No. 1 (2016) Vol. 13 No. 2 (2015) Vol. 13 No. 1 (2015): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 12 (2014): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 11 (2014): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 10 (2013): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 9 (2013): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 8 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 7 (2012): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum Vol. 6 No. 2 (2011): Al-Qisthu: Jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Hukum More Issue