cover
Contact Name
Kartika Magdalena Suwanto
Contact Email
kartika.suwanto@uph.edu
Phone
+6285780522262
Journal Mail Official
de.lite.journal@uph.edu
Editorial Address
Universitas Pelita Harapan MH Thamrin Boulevard 1100, Klp. Dua, Kec. Klp. Dua, Kota Tangerang, Banten 15811
Location
Kota tangerang,
Banten
INDONESIA
de-lite
de.lite Journal of Visual Communication Design Study and Practice is a peer reviewed billingual journal that focuses on the foundational discussion of visual communication design. The journal is published by the Department of Visual Communication Design of Universitas Pelita Harapan, and managed by Universitas Pelita Harapans Editorial dan Publication Design Laboratory.
Articles 87 Documents
Efektivitas Branding Menggunakan IP Karakter Studi Kasus Respon Masyarakat dalam Promosi Brand Menggunakan IP Tahilalats dan Si Juki di Instagram Johnathan, Dyllan
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 1 (2023): July 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i1.7381

Abstract

Sebuah “tanda pengenal” atau simbol adalah bahan diferensiasi identitas utama dari sebuah brand, seperti logo, jingle, ataupun maskot. Tanda pengenal tersebut dapat termasuk ke dalam sebutan Intellectual Property, dikarenakan hal itu semua merupakan karya yang dihasilkan oleh kemampuan intelektual manusia. Tetapi masih banyak perusahaan yang belum memakai metode penggunaan karakter IP untuk mengembangkan bisnisnya. Maka dari itu mencari tahu respon audiens dalam penggunaan karakter IP sebagai strategi dalam mempromosikan sebuah brand adalah tujuan dari penelitian ini. Pengumpulan data akan memakai metode observasi berdasarkan pengamatan IP Si Juki dan Tahilalats di Instagram sebagai bahan studi kasus, dan juga studi literatur berdasarkan jurnal, tesis, dan buku sebagai data sekunder. Dikarenakan dengan perkembangannya dari tahun ke tahun, karakter IP sekarang sudah digunakan sebagai bahan untuk branding seperti yang dilakukan beberapa brand dengan kolaborasi bersama IP Tahilalats dan Si Juki, yang terbukti mendapatkan banyak respon positif dari masyarakat pada media sosial Instagram. Kedua IP tersebut mencampurkan informasi yang ingin disampaikan di kontennya dengan taburan entertainment membuat audiens tidak merasa bosan dan mendapat lebih banyak engagement. Tetapi tentu saja tidak semua brand dapat mengimplementasikan strategi ini, karena setiap brand memiliki strategi, keunikan, dan target market-nya tersendiri. Banyaknya brand yang unik inilah yang membuat kompetisi bisnis lebih “panas” dan kreatif.
Lenyapnya Otentisitas Seniman sebagai Konsekuensi Pemberlakuan Seni sebagai Komoditas dari Perjalanan Artisik Thomas Gainsborough Levina, Aurellia; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7926

Abstract

Pandangan tentang seni sebagai sebuah komoditas adalah pandangan yang umum berlaku pada masa kini. Secara historis, pandangan ini sudah berlaku semenjak kisaran tahun 500 SM. Sesudahnya, kebernilaian sebuah karya seni umumnya dipahami dalam kerangka pasar. Pemahaman bahwa dinamika dalam dunia seni tidak dapat dimengerti terpisah dari kepentingan pasar, masih popular hingga kini. Kendati pandangan ini diterima sebagai sebuah kewajaran sampai masa kini, tidak berarti pemberlakuannya bebas dari konsekuensi. Konsekuensi dari pandangan tersebut berujung pada sebuah pemahaman reduktif baik tentang karya seni maupun perupa/seniman. Karya seni tidak dipahami lebih dari sekadar objek komoditas dan perupa dipandang sejajar dengan produsen atau pelaku pasar. Secara historis, hal ini dapat dieksemplifikasi dengan kasus salah satu pelukis, yakni Thomas Gainsborough. Thomas Gainsborough adalah salah seorang pelukis ternama asal Inggris di abad ke-18 yang turut merasakan dampak dari agresifnya komodifikasi karya seni pada masa tersebut. Berpijak pada studi kasus historis Gainsborough dan juga beberapa karya seni kontemporer, penulis mengajukan sebuah konklusi-reflektif bahwa komodifikasi karya seni dapat berujung pada inotentisitas perupa. Artinya, perupa dapat kehilangan otentisitasnya ketika ia tunduk pada nilai-nilai pasar. Metode penelitian yang diterapkan akan metode penelitian kualitatif. Secara lebih spesifik, metode penelitian kualitatif studi pustaka. Secara bertahap, pembahasan akan didahului dengan memaparkan kisah tentang Gainsborough serta keresahannya sebagai pelukis potret. Pembahasan dilanjutkan dengan menjabarkan beberapa dampak dari komodifikasi karya seni yang berujung pada hilangnya otentisitas subjek estetis. Istilah-istilah seperti ekspresi, imajinasi, dan kreativitas yang umumnya melekat dengan pembicaraan tentang perupa akan turut disinggung dalam hubungannya dengan otentisitas.
Perancangan Website untuk Kampanye tentang Greenwashing bagi Generasi Z Bella, Alicia; Pinasthika, Lalitya Talitha
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7946

Abstract

Greenwashing adalah tindakan menutupi bentuk komunikasi yang mengelirukan masyarakat untuk mengadopsi pemikiran positif terhadap kinerja, praktik, atau produk suatu organisasi. Greenwashing ini memiliki banyak dampak pada lingkungan dan kehidupan konsumen. Apabila mereka tidak mengetahui dampak tersebut, konsumen khususnya generasi Z dapat diberdayakan untuk membayar lebih tanpa keuntungan lingkungan yang jelas. Generasi Z merupakan generasi sadar lingkungan yang menuntut praktik organisasi yang berkelanjutan dan memiliki kecenderungan untuk membeli produk dengan label keberlanjutan dibandingkan generasi lain. Sehingga akan lebih baik jika mereka mengetahui tentang kurangnya transparansi dan pemasaran palsu dalam greenwashing. Atas permasalahan tersebut, penulis mengajukan perancangan website untuk kampanye greenwashing agar meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap tindakan greenwashing dan cara mengidentifikasi produk yang melakukan greenwashing.
Strategi Iklan Youtube Miracles Hair Supplement Dalam Membangun Unique Selling Proposition Suci, Gema Genta; Setiadi, Virginia Suryani
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8705

Abstract

Pantene meluncurkan produk rambut baru berupa miracles hair supplement. Banyaknya merek dengan produk sejenis membuat perusahaan harus berpikir kreatif untuk memasarkan produknya. Youtube sebagai media promosi iklan Bye #RambutCapek Hello #RambutKeCharged. Iklan tersebut disambut antusias karena menarik dan menghibur. Tujuan penelitan ini adalah mempelajari iklan Youtube yang dikeluarkan oleh Pantene untuk kemudian dianalisis guna menggetahui strategi yang digunakan. Metode penelitian menggunakan teori semiotika Roland Barthes. Hasil penelitian ditemukan bahwa Youtube sebagai media promosi mampu menarik perhatian masyarakat terutama pada kalangan muda. Strategi menggunakan influencer yang sedang naik daun dengan citra yang konyol membuat iklan menjadi jauh lebih santai sehingga mudah diterima. Simpulan dari artikel ini diketahui bahwa iklan produk Pantene miracles hair supplement berhasil mematahkan citra Pantene yang identik dengan perempuan, feminin, dan lembut yang umumnya digunakan juga oleh produk serupa dengan merek yang berbeda. Pembentukan citra baru ini menjadi keunikan tersendiri yang membuat produk Pantene lebih menonjol dari merek lain.
Identifikasi Permasalahan Desain Identitas Visual Restoran Warung Rawit Aprilla, Aileen; Melini, Ellis
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7942

Abstract

Saat ini perkembangan pada industri restoran dan rumah makan mulai bangkit setelah melewati COVID-19. Seluruh restoran maupun rumah makan bersaing agar dapat menguasai industri restoran khususnya pada restoran yang fokus pada kuliner Nusantara. Banyak cara yang dapat dilakukan para pelaku bisnis untuk bersaing, salah satunya adalah dengan membangun citra restoran melalui identitas visual yang baik dan kuat. Citra baik yang dicerminkan oleh sebuah restoran dapat meningkatkan keyakinan, loyalitas, serta membuat restoran mudah dikenal dan diingat. Warung Rawit merupakan sebuah restoran di Jakarta yang menyajikan makanan khas Singkawang, Kalimantan Barat yang dikenal dengan masakannya yang pedas dan kaya akan rasa. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengidentifikasi permasalahan dari identitas visual yang dimiliki oleh restoran Warung Rawit. Metodologi yang digunakan untuk perancangan proyek pada tahap ini adalah dua tahapan dari metodologi Alina Wheeler yaitu conducting research dan clarifying strategy. Penulis telah melakukan dua tahapan awal dimulai dengan pengumpulan data melalui observasi lapangan, studi pustaka, dan wawancara dengan manager restoran. Lalu, menyusun hasil data yang didapatkan ke dalam creative brief untuk diidentifikasi. Berdasarkan hasil dari identifikasi, identitas visual Warung Rawit kurang mencerminkan kekhasan kota Singkawang dan sistem identitas visualnya kurang konsisten menurut koherensi identitas. Hasil identifikasi akan digunakan untuk melakukan perancangan ulang identitas visual Warung Rawit.
Kontroversi Karya-Karya Edgar Degas mengenai Misogini dan Relevansinya dengan Isu Objektifikasi Perempuan dalam Media Sosial dan Periklanan Natanael, Dafy Bintang; Indrajaya, Ferdinand
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8701

Abstract

Makalah ini membahas bagaimana objektifikasi perempuan dapat ditelusuri kembali ke karya-karya seni kontroversial Edgar Degas pada akhir abad ke-19 dan relevansinya dengan pandangan terhadap perempuan sampai saat ini. Penggambaran perempuan sebagai objek hasrat dalam media sosial dan periklanan pada zaman ini telah memengaruhi citra tubuh perempuan dan menimbulkan tekanan untuk memenuhi suatu standar kecantikan tertentu. Konsep male gaze memainkan peran kunci dalam pemaknaan ini, mengindikasikan dominasi pandangan laki-laki dalam media visual dan penekanan pada penampilan fisik perempuan. Pembiaran dominasi dan tindakan objektifikasi ini melahirkan beberapa permasalahan seperti, kecemasan dan rasa malu akan penampilan diri, eating disorders, depresi, serta penurunan produktivitas. Dengan fenomena objektifikasi perempuan yang terus berkelanjutan, tanggapan yang tepat dari masyarakat diperlukan. Makalah ini hendak mengeksplorasi dan menganalisis permasalahan tersebut dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, khususnya penelitian kepustakaan (library research). Melalui Langkah metodologis tersebut, penulis menyimpulkan bahwa masyarakat memiliki peran krusial dalam meresponi dan memerangi objektifikasi perempuan secara aktif. Upaya ini dapat dicapai dengan penggunaan media sosial dan periklanan secara etis serta kritis. Hal ini dapat ditunjukkan oleh contoh kasus Billabong. Kasus ini menunjukkan bagaimana masyarakat dapat berperan aktif dalam memberi tekanan terhadap industri media untuk mengadopsi praktik pemasaran yang menghormati martabat perempuan. Melaluinya, narasi yang berdampak buruk bagi citra dan kesejahteraan perempuan di era digital ini dapat berubah.
Perancangan Kampanye Sosial mengenai Romatisisasi Penyakit Mental pada Usia 17-25 Tahun Oei, Berliana Michel Wijaya; Mahatmi, Nadia
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8706

Abstract

Isu kesehatan mental telah menjadi sekedar tren kekinian bagi para remaja akibat banyaknya informasi terkait hal ini di media sosial. Pemberian informasi yang tidak tersaring mengenai masalah kesehatan mental menyebabkan justifikasi perasaan negatif sebagai suatu gangguan (Loyensya, 2021). Media sosial menjadi ajang aktualisasi diri sehingga perilaku remaja cenderung dapat menyimpang dari yang seharusnya (Sari, 2017). Romantisisasi merupakan kondisi dimana seseorang menganggap mental illness sebagai hal yang menarik untuk dimiliki karena memiliki daya tarik tersendiri (Shrestha, 2018). Penyakit mental seharusnya dianggap suatu masalah yang serius karena romantisisasi akan berdampak negatif bagi penderita, diri sendiri, dan lingkungan. Sehingga, penulis tertarik untuk melakukan perancangan kampanye sosial mengenai romantisisasi penyakit mental, khususnya pada usia 17-25 tahun. Metode perancangan kampanye menggunakan teori Landa (2021) dalam buku Advertising by Design. Hasil dari perancangan adalah exhibition sebagai media pembelajaran aktif dalam mendalami mengenai isu kesehatan mental. Media utama diikuti dengan media edukasi, interaktif, promosi, gimmick, dan merchandise.
Gaya Visual Pixel pada Iklan SOYJOY X Sanditiojitok Putra, Ardhyarama Bayu; Riyanti, Menul Teguh
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 3, No 2 (2023): December 2023
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v3i2.7943

Abstract

Gaya Visual Pixel Pada Iklan SOYJOY x Sanditiojitok. Jurnal ini ditulis untuk meneliti penerapan gaya visual pixel pada suatu media iklan animasi hasil karya Sanditiojitok yang telah berkolaborasi bersama brand makanan SOYJOY. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi ciri khas gaya visual pixel pada iklan SOYJOY x Sanditiojitok. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan dasar teori Meleong J, Lexy. Hasil akhir yang didapat setelah pengumpulan data penelitian bahwa gaya seni pixel memiliki ciri khasnya sendiri yaitu gaya visualnya yang tampak menyerupai sebuah video game dengan jumlah pixel yang terbatas dan terlihat sederhana namun tetap memiliki nilai artistik yang unik. Dapat dibuktikan bahwa gaya visual pixel dapat diterapkan untuk media periklanan animasi visual.
Peran Sosial Iklan Layanan Masyarakat Bersama Hapus Kekerasan Seksual Edisi “Jangan Menyalahkan Korban” Nugraha, Dewinta Putri; Jasjfi, Elda Franzia
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8702

Abstract

Korban dari pelecehan seksual sering kali merasa tidak berani dan tidak aman melaporkan atas peristiwa yang menimpanya. Terdapat pula fenomena kurangnya rasa empati di lingkungan masyarakat, sehingga Kemdikbud RI mengunggah salah satu Iklan Layanan Masyarakat berjudul “Jangan Menyalahkan Korban” sebagai peringatan terhadap masyarakat untuk lebih baik mendengarkan keluhan dari para penyintas pelecehan seksual dan tidak langsung menyalahkan korban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperdalam pemahaman terhadap tanda-tanda dan pesan sosial yang terdapat dalam Iklan Layanan Masyarakat tersebut. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teori semiotika Roland Barthes sebagai pendukung untuk ditemukannya pesan dan tanda. Pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan mengobservasi setiap scene yang terdapat pada iklan, dan terdapat 6 scene dalam iklan dengan pesan di dalamnya. Hasil penelitian ini menunjukkan pemaknaan penonton iklan terhadap pesan sosial pada iklan, yaitu bahwa iklan tersebut meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kepedulian mengenai kekerasan maupun pelecehan seksual dan memberi edukasi agar untuk tidak menyalahkan korban kekerasan maupun pelecehan seskual.
Perancangan Cerita Interaktif sebagai Media untuk Meningkatkan Awareness tentang Maternal Depression Ferischa, Ivena Valentine; Pinasthika, Lalitya Talitha
de-lite: Journal of Visual Communication Design Study & Practice Vol 4, No 1 (2024): July 2024
Publisher : Visual Communication Design Department of Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37312/de-lite.v4i1.8707

Abstract

Kondisi depresi tidak lepas dari gender, wanita, apalagi seorang ibu rentan mengalaminya, serta bagi dirinya yang sedang mengandung hingga mempunyai anak. Efeknya berdampak pada pola pengasuhan pada anak, dan ketidakmampuan dirinya merawat diri sendiri maupun keluarga. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa, masa setelah melahirkan merupakan masa dimana ibu sangat dependan dengan keluarganya. Maka, dukungan sosial begitu penting bagi ibu dalam bentuk afirmasi positif, serta kehadiran pihak terdekatnya, supaya bisa membantu menanggulangi gangguan perasaan yang dialami seorang ibu tersebut. Bentuk dukungan dapat diperoleh lewat wawasan edukasi, tidak hanya dari pihak ibu saja tetapi keluarga dan terdekatnya juga perlu terlibat tentang kesehatan mental dan motherhood sebagai upaya capaian pemahaman kedua belah pihak. Dalam perancangan ini, penulis menggambarkan what-if solution berupa media interaktif dengan pendekatan transmedia yang bisa membangun partisipasi ibu sebagai audiens, dan ikut melibatkan pihak terdekat ibu sebagai support system. Ditambahkan dengan storytelling yang mampu memberi informasi edukasi, serta pemahaman yang mendidik dan personal.