cover
Contact Name
Adhan Kholis
Contact Email
adhank74@gmail.com
Phone
+6281334853428
Journal Mail Official
joned.fip@unu-jogja.ac.id
Editorial Address
RT 033/RW 010 Gang Jamingan Muja Muju Umbulharjo II 1067 Yogyakarta, 55165
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Journal of Nusantara Education
ISSN : -     EISSN : 2807436X     DOI : 10.57176
Core Subject : Education,
JONED: Journal of Nusantara Education is a peer-reviewed open-access journal published by the Faculty of Education, Universitas Nahdaltul Ulama Yogyakarta. It publishes manuscripts of research in relation to educational science, language education, language teaching and learning, early childhood education, primary education, secondary education, and higher education. Submitted papers can be written in English, Bahasa Indonesia or other international languages for the initial review stage by editors and further review process by our reviewers. Journal of Nusantara Education publishes its issues biannually, in September and March.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 73 Documents
The Impact of Interactive Animation Media on Pancasila Character Development in Islamic Education Maslani; Rohmatulloh, Rifqi; Numaeri, Muhammad Heri; Aqil, Mochamad
Journal of Nusantara Education Vol. 5 No. 1 (2025): October 2025
Publisher : Faculty of Education Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57176/jn.v5i1.189

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh video pembelajaran interaktif berbasis animasi dalam Pendidikan Agama Islam terhadap pengembangan karakter siswa yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran dengan desain eksplanatori sekuensial, yang menggabungkan analisis kuantitatif dan kualitatif untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket dan tes hasil belajar dari 50 siswa di SD Inpres Mannurukki dan SD Inpres Bontobila. Pemilihan kedua sekolah ini didasarkan pada kondisi geografisnya yang berdekatan, sehingga memungkinkan perbandingan untuk mengidentifikasi kesenjangan atau kesamaan dalam penerapan media teknologi pada PAI. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan inferensial (korelasi Pearson/Spearman). Hasil analisis kuantitatif menunjukkan tidak ada korelasi yang signifikan antara penggunaan media berbasis teknologi dengan hasil belajar Pendidikan Agama Islam yang berorientasi pada pengembangan karakter Pancasila, dengan koefisien korelasi sebesar -0,096 dan nilai signifikansi sebesar 0,507. Temuan ini justru memberikan kontribusi penting, yang mengindikasikan bahwa teknologi saja tidak cukup untuk membentuk karakter tanpa diperkuat oleh peran guru dan pendekatan humanis. Sementara itu, temuan kualitatif dari wawancara mendalam dengan dua guru dan siswa mengungkapkan bahwa meskipun media teknologi dinilai menarik, efektivitasnya dalam membentuk karakter masih terbatas. Peran guru sebagai panutan, diskusi langsung, dan konteks sosial terbukti lebih dominan dalam menginternalisasi nilai-nilai Pancasila. Oleh karena itu, media berbasis teknologi perlu diintegrasikan secara bijaksana ke dalam strategi pembelajaran yang menekankan pendekatan humanis dan kontekstual. ______________________________________________________________________________________ This study aims to analyze the influence of interactive animation-based learning videos in Islamic Religious Education on students’ character development grounded in Pancasila values. The research employed a mixed-method approach with a sequential explanatory design, combining quantitative and qualitative analyses to obtain a comprehensive understanding. Quantitative data were collected through questionnaires and learning achievement tests administered to 50 students from SD Inpres Mannurukki and SD Inpres Bontobila. These two schools were selected based on their geographical proximity, allowing for a comparative analysis to identify gaps or similarities in the implementation of technology-based media in Islamic Religious Education (PAI). The data were analyzed using descriptive and inferential statistics (Pearson/Spearman correlation). The quantitative findings indicated no significant correlation between the use of technology-based media and learning outcomes in Islamic Religious Education oriented toward Pancasila character development, with a correlation coefficient of -0.096 and a significance value of 0.507. This finding provides an important insight, suggesting that technology alone is insufficient to shape character without being reinforced by the teacher’s role and a humanistic approach. Meanwhile, qualitative findings from in-depth interviews with two teachers and students revealed that although technology-based media were considered engaging, their effectiveness in shaping character remained limited. The teacher’s role as a role model, direct discussions, and social context proved to be more influential in internalizing Pancasila values. Therefore, technology-based media should be integrated wisely into learning strategies that emphasize humanistic and contextual approaches.
Strengthening Digital Literacy in the Teaching and Learning of Chemistry: A Literature Review Munawwarah
Journal of Nusantara Education Vol. 5 No. 1 (2025): October 2025
Publisher : Faculty of Education Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57176/jn.v5i1.190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi penguatan literasi digital dalam pembelajaran kimia melalui kajian literatur. Literasi digital menjadi kompetensi esensial abad ke-21 yang tidak hanya mencakup keterampilan teknis, tetapi juga kapasitas kognitif, sosial, dan pedagogis dalam memanfaatkan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab. Metode penelitian menggunakan systematic literature review dengan menelaah 50 artikel dari basis data jurnal open access yang berasal dari kombinasi jurnal nasional (seperti JKPK, JPI, JPSI, IJERR) dan jurnal internasional open access (misalnya Journal of Chemical Education, J. Phys. Conf. Ser., iJET, Education and Information Technologies) yang kemudian direduksi menjadi 20 artikel dan dipilih 15 artikel paling relevan berdasarkan kriteria inklusi. Artikel yang dianalisis dipublikasikan dalam rentang waktu 2020–2024, berfokus pada strategi pembelajaran kimia berbasis digital, dan berasal dari jurnal open access untuk menjamin transparansi dan aksesibilitas. Hasil kajian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa maupun calon guru kimia awalnya memiliki tingkat literasi digital sedang, namun strategi pembelajaran berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan kompetensi tersebut secara signifikan. Strategi yang paling sering digunakan meliputi penggunaan e-modul berbasis Android, media Augmented Reality (AR), laboratorium virtual, pembelajaran berbasis proyek (STEAM-PjBL), serta integrasi perangkat lunak kimia seperti ChemDraw. Temuan ini menegaskan bahwa keberhasilan penguatan literasi digital tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan teknologi, tetapi juga oleh keselarasan pedagogis, kesiapan guru, dan keterlibatan aktif siswa. Oleh karena itu, literasi digital perlu diposisikan sebagai kompetensi inti dalam pembelajaran kimia untuk memastikan pengalaman belajar yang bermakna, setara, dan berorientasi masa depan. _______________________________________________________________________________________ This study aims to analyze strategies for strengthening digital literacy in chemistry education through a systematic literature review. Digital literacy is recognized as an essential 21st-century competence that encompasses not only technical skills but also cognitive, social, and pedagogical capacities to use technology critically and responsibly. The research employed a systematic literature review method, initially identifying 50 open access journal articles, which were then reduced to 20 and finally narrowed down to 15 articles based on inclusion criteria. The selected studies, published between 2020 and 2024, specifically addressed digital literacy strategies in chemistry education and were drawn exclusively from open access journals to ensure transparency and accessibility. The results indicate that most students and pre-service chemistry teachers initially demonstrated moderate levels of digital literacy, yet structured technology-based interventions significantly improved these competencies. The most frequently reported strategies included Android-based e-modules, Augmented/Virtual Reality (AR/VR) media, virtual laboratories, STEAM project-based learning, and the integration of chemistry software such as ChemDraw. These findings highlight that the success of digital literacy development depends not only on the availability of digital tools but also on pedagogical alignment, teacher preparedness, and active student engagement. Consequently, digital literacy should be regarded as a core competency in chemistry education to ensure equitable, meaningful, and future-oriented learning experiences.
Students' Perception on Using English Language Fantasy Movies to Enhance Vocabulary Mastery in English Education Sinaga, Ayonia Jelita Boru; Lestari, Tiarannisa Putri; Retsi, Olga Dona; Fikri, Muhammad Subhan
Journal of Nusantara Education Vol. 5 No. 1 (2025): October 2025
Publisher : Faculty of Education Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57176/jn.v5i1.193

Abstract

Penelitian kualitatif studi kasus ini mengkaji persepsi mahasiswa terhadap penggunaan film berbahasa Inggris untuk akuisisi kosakata. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur dengan empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Palangka Raya yang memiliki kebiasaan menonton film berbahasa Inggris. Data kemudian dianalisis secara tematik, yang menghasilkan lima tema utama: (1) pengalaman pertama dengan film fantasi berbahasa Inggris, (2) manfaat yang dirasakan, (3) efektivitas akuisisi kosakata, (4) teknik pembelajaran, dan (5) integrasi film ke dalam pendidikan formal. Temuan mengungkapkan bahwa film menyediakan input otentik dan multimodal yang mendukung pembelajaran kosakata, baik secara insidental maupun intensional. Keberhasilan pembelajar dipengaruhi oleh strategic engagement (keterlibatan strategis), seperti pencatatan, penggunaan kamus, penerjemah, dan refleksi. Durasi paparan terhadap bahasa juga menjadi faktor yang membedakan pembelajar pemula dini dan pemula terlambat. . Para partisipan menekankan bahwa bimbingan guru melalui kegiatan pre-, during-, dan post-viewing meningkatkan pemahaman, menopang (scaffold) akuisisi kosakata, serta mengatasi tantangan seperti dialog cepat atau subtitle yang tidak akurat. Studi ini memberikan bukti kualitatif yang mendukung Input Hypothesis Krashen dan Noticing Hypothesis Schmidt, dengan menunjukkan interaksi antara faktor kognitif dan afektif dalam pembelajaran berbasis film. Hasil ini menyoroti potensi pedagogis dari integrasi film berbahasa Inggris ke dalam pengajaran formal.Pendekatan yang terstruktur, menarik, dan berpusat pada pembelajar terbukti dapat mengoptimalkan penguasaan kosakata sekaligus menjaga motivasi dan paparan bahasa yang otentik. Untuk penelitian mendatang, disarankan menggunakan desain eksperimental atau longitudinal guna mengukur peningkatan yang terukur dan menyelidiki lebih lanjut mekanisme yang mendasari pembelajaran bahasa melalui media audiovisual. __________________________________________________________________________________________ This qualitative case study investigates students’ perceptions of using English-language films for vocabulary acquisition. Data were collected through semi-structured interviews with four students from the English Education Study Program at the University of Palangka Raya who regularly watch English-language films. The data were then analysed thematically, resulting in five main themes: (1) first experiences with English fantasy films, (2) perceived benefits, (3) effectiveness of vocabulary acquisition, (4) learning techniques, and (5) integration of films into formal education. The findings reveal that films provide authentic and multimodal input that supports both incidental and intentional vocabulary learning. Learners’ success is influenced by strategic engagement, such as note-taking, dictionary use, translation, and reflection. The duration of language exposure also distinguishes early and late beginners. Participants emphasized that teacher guidance through pre-, during-, and post-viewing activities enhances comprehension, scaffolds vocabulary acquisition, and helps overcome challenges such as fast-paced dialogues or inaccurate subtitles. This study provides qualitative evidence supporting Krashen’s Input Hypothesis and Schmidt’s Noticing Hypothesis, demonstrating the interaction between cognitive and affective factors in film-based learning. The results highlight the pedagogical potential of integrating English-language films into formal instruction. A structured, engaging, and learner-cantered approach can optimize vocabulary mastery while maintaining motivation and exposure to authentic language. Future research is recommended to employ experimental or longitudinal designs to measure observable improvement and further explore the underlying mechanisms of language learning through audiovisual media.