cover
Contact Name
heru subaris kasjono
Contact Email
jurnal.sanitasi@gmail.com
Phone
+6282136677760
Journal Mail Official
jurnal.sanitasi@poltekkesjogja.ac.id
Editorial Address
Jl Tata Bumi No 3, Banyuraden Gamping
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan
ISSN : 19785763     EISSN : 25793896     DOI : -
Core Subject : Health,
The aim of this journal is to publish good-quality articles dedicated to all aspects of the latest outstanding developments in the field of enviromental health. Its scope encompasses Land Sanitation and Waste Management, Water Sanitation, Vectors and Pests Control, Food and Beverage Sanitation, Occupational Health and Safety, and Environmental Health Epidemiology. This journal is published every four months (February, May, August, and November). For printed version, the Vol.1 No.1 was on August 2007. Publisher : Environmental Health Department of The Polytechnic of Health of Yogyakarta.p-ISSN: 1978-5763(media cetak) ISSN : 2579-3896 (media online)| Tatabumi Street No. 3, Banyuraden, Gamping, Sleman, Yogyakarta. Contact : 0274 (560962) | email: jurnal.sanitasi@poltekkesjogja.ac.id or jurnal.sanitasi@gmail.com
Articles 337 Documents
Penurunan kadar mikroplastik pada tanah TPA Tambakrigadung dengan Effective Microorganism 4 (EM4) Nur Afif Wahyuni; Marsha Savira Agatha Putri; Gading Wilda Aniriani; Denaya Andrya Prasidya
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v18i2.2488

Abstract

TPA Tambakrigadung di Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, menghadapi masalah kapasitas sampah dan kontaminasi mikroplastik. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas biostimulasi EM4 dalam menurunkan kadar mikroplastik pada tanah di TPA tersebut. EM4 digunakan pada konsentrasi 100, 200, dan 300 µL untuk degradasi tiga jenis mikroplastik (fiber, fragment, dan film). Sampel diproses melalui pengeringan, pemisahan densitas dengan NaCl, dan destruksi bahan organik menggunakan Wet Peroxide Oxidation (WPO). Hasil menunjukkan bahwa EM4 meningkatkan degradasi mikroplastik dibandingkan dengan kontrol. Pada konsentrasi 100 µL, degradasi fiber mencapai 95%, fragment 88%, dan film 94%. Pada 200 µL, degradasi fiber menurun menjadi 50%, sedangkan fragment dan film tetap tinggi pada 70% dan 90%. Pada 300 µL, semua jenis mikroplastik menunjukkan degradasi yang hampir optimal, mencapai 95%. EM4 efektif dalam meningkatkan degradasi mikroplastik pada tanah di TPA Tambakrigadung, dengan konsentrasi optimal pada 300 µL.   Abstract: The Tambakrigadung landfill in Tikung District, Lamongan Regency, East Java, is facing issues of waste capacity and microplastic contamination. This study evaluates the effectiveness of EM4 biostimulation in reducing microplastic levels in the soil at this landfill. EM4 was used at concentrations of 100, 200, and 300 µL to degrade three types of microplastics (fiber, fragment, and film). Samples were processed through drying, density separation with NaCl, and organic matter destruction using Wet Peroxide Oxidation (WPO). Results showed that EM4 increased microplastic degradation compared to the control. At a concentration of 100 µL, fiber degradation reached 90%, fragment 95%, and film 95%. At 200 µL, fiber degradation decreased to 50%, while fragment and film remained high at 70% and 90%. At 300 µL, all types of microplastics showed nearly optimal degradation, reaching 95%. EM4 is effective in enhancing microplastic degradation in the soil at the Tambakrigadung landfill, with the optimal concentration at 300 µL.
Analisis mikrobiologis kualitas udara di lingkungan Universitas Negeri Medan Lydia Siburian; Fatiha Salma Siregar; Putri Khairani; Gracelda E. Pardede; Rani Simanjuntak; Najwa Athifah; Marlinda Nilan Sari Rangkuti; Adelia Febriyossa
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3284

Abstract

Kualitas mikrobiologi udara merupakan salah satu indikator penting dalam penilaian kesehatan lingkungan karena keberadaan mikroorganisme di udara berpotensi mempengaruhi kesehatan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis kualitas mikrobiologi udara berdasarkan kepadatan dan karakteristik bakteri menggunakan metode passive air sampling. Pengambilan sampel udara dilakukan pada tiga lokasi dengan tingkat aktivitas yang berbeda menggunakan media Nutrient Agar (NA). Sampel yang diperoleh diinkubasi pada suhu 37°C selama 24–48 jam, kemudian dilakukan perhitungan jumlah koloni bakteri dalam satuan Colony Forming Unit (CFU), pengamatan morfologi koloni, pewarnaan Gram, serta uji biokimia yang meliputi uji katalase, Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulfide Indole Motility (SIM), dan Simmons Citrate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan mikroorganisme udara tertinggi ditemukan pada lokasi Gerbang 1 sebesar 3,07 × 10³ CFU/m³, sedangkan Gerbang 2 dan Gerbang 4 masing-masing sebesar 1,67 × 10³ CFU/m³ dan 1,62 × 10³ CFU/m³. Karakterisasi bakteri menunjukkan adanya variasi morfologi koloni serta dominasi bakteri Gram positif berbentuk basil dan beberapa isolat Gram negatif berbentuk kokobasil. Hasil uji biokimia mengindikasikan adanya keragaman karakter fisiologis antar isolat bakteri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas mikrobiologi udara pada lokasi pengamatan menunjukkan variasi kepadatan dan karakteristik bakteri yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan aktivitas di sekitar lokasi sampling.   Abstract: Air microbiological quality is one of the key indicators in environmental health assessments, as the presence of microorganisms in the air has the potential to affect human health. This study was conducted to analyse air microbiological quality based on bacterial density and characteristics using the passive air sampling method. Air sampling was carried out at three locations with different activity levels using Nutrient Agar (NA) as the culture medium. The samples obtained were incubated at 37°C for 24–48 hours, followed by the counting of bacterial colonies in Colony Forming Units (CFU), observation of colony morphology, Gram staining, and biochemical tests including the catalase test, Triple Sugar Iron Agar (TSIA), Sulphide Indole Motility (SIM), and Simmons Citrate tests. The results of the study showed that the highest density of airborne microorganisms was found at Gate 1, at 3.07 × 10³ CFU/m³, whilst Gate 2 and Gate 4 recorded 1.67 × 10³ CFU/m³ and 1.62 × 10³ CFU/m³ respectively. Characterisation of the bacteria revealed variations in colony morphology, with a predominance of Gram-positive bacilli and several Gram-negative coccobacilli isolates. Biochemical test results indicated diversity in the physiological characteristics among the bacterial isolates. This study concluded that the microbiological quality of the air at the observation sites showed variations in bacterial density and characteristics influenced by environmental conditions and activity.
Hubungan perilaku 3M Plus dengan risiko perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti Meutia Nanda; Khairani Septia Seriger; Syahbrina Damanik; Rizka Azzura Efsa Gurusinga; Shasy Kirana Zahrani
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3302

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang disebabkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Salah satu upaya pencegahan adalah melalui perilaku 3M Plus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku 3M Plus dengan risiko perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Bandar Sinembah tahun 2026. Populasi berjumlah 820 orang, dengan sampel 89 responden yang ditentukan menggunakan rumus Slovin (e = 10%) dan teknik random sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan lembar observasi, kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden dengan perilaku 3M Plus yang baik cenderung memiliki risiko perkembangbiakan nyamuk yang lebih rendah. Uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara perilaku 3M Plus dengan risiko perkembangbiakan nyamuk (p < 0,05). Kesimpulannya, terdapat hubungan antara perilaku 3M Plus dengan risiko perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan kesadaran masyarakat dalam menerapkan perilaku 3M Plus sebagai upaya pencegahan DBD.   Abstract: Dengue haemorrhagic fever (DHF) remains a public health problem caused by the Aedes aegypti mosquito. One preventive measure is the adoption of the 3M Plus behaviour. This study aims to determine the relationship between the 3M Plus behaviour and the risk of Aedes aegypti mosquito breeding. This study employed a quantitative method with an analytical observational design and a cross-sectional approach, conducted within the catchment area of the Bandar Sinembah Community Health Centre in 2026. The population comprised 820 individuals, with a sample of 89 respondents determined using the Slovin formula (e = 10%) and random sampling techniques. Data were collected via questionnaires and observation sheets, then analysed univariately and bivariately using the Chi-square test. The results indicated that respondents exhibiting good 3M Plus behaviour tended to have a lower risk of mosquito breeding. Statistical tests revealed a significant association between 3M Plus behaviour and the risk of mosquito breeding (p < 0.05). In conclusion, there is an association between 3M Plus behaviour and the risk of Aedes aegypti mosquito breeding. Therefore, it is necessary to raise public awareness of the importance of practising 3M Plus behaviour as a measure to prevent dengue fever.
Pemetaan spasial kasus TBC di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo Nandya Hayuningtyas; Dewi Puspito Sari; Farid Setyo Nugroho; Prita Devy Igiany
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3415

Abstract

Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban Tuberkulosis (TB) tertinggi di dunia, dengan Provinsi Jawa Tengah sebagai salah satu penyumbang kasus terbesar. Kajian epidemiologi spasial pada tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer menjadi esensial. Penelitian ini dilakukan karena Kecamatan Sukoharjo masuk tiga besar wilayah dengan kasus TB tertinggi di Kabupaten Sukoharjo.. Pendekatan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik penderita TB serta memetakan secara spasial kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Sukoharjo berdasarkan indikator Incidence Rate (IR) dan Standardized Morbidity Ratio(SMR). Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif retrospektif. Pengumpulan data menggunakan data sekunder dari rekam medis dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) periode tahun 2023 hingga Kuartal 1 tahun 2026. Analisis data dilakukan secara univariat dan pemetaan spasial menggunakan software ArcGIS. Sebanyak 161 kasus TB ditemukan dengan puncak kejadian pada kuartal 1 tahun 2025. Kesimpulannya, karakteristik utama kasus TB di Puskesmas Sukoharjo adalah laki-laki usia produktif yang tidak bekerja dengan diagnosis TB Paru baru terkonfirmasi bakteriologis. Secara spasial, Kelurahan Combongan, Begajah, dan Dukuh menjadi zona merah dengan nilai IR dan SMR tertinggi Meskipun estimasi morbiditas secara makro lebih rendah dari rata-rata nasional (SMR < 1), pemetaan menunjukkan adanya disparitas kerentanan antar-kelurahan. Diperlukan optimalisasi penemuan kasus aktif (Active Case Finding).   Spatial mapping of TB cases in the catchment area of the Sukoharjo Community Health Centre   Abstract: Indonesia ranks second globally in Tuberculosis (TB) burden, with Central Java Province being one of the largest contributors to cases. Spatial epidemiological studies at the primary healthcare facility level have become essential. This study was conducted because Sukoharjo Sub-district ranks among the top three areas with the highest number of TB cases in Sukoharjo District. This approach aims to describe the characteristics of TB patients and spatially map the incidence of TB in the working area of Sukoharjo Public Health Center based on Incidence Rate (IR) and Standardized Morbidity Ratio (SMR) indicators. This research is a retrospective descriptive study. Data collection utilized secondary data from medical records and the Tuberculosis Information System (SITB) for the period from 2023 to Quarter 1 of 2026. Data analysis was performed univariately, and spatial mapping was conducted using ArcGIS software. A total of 161 TB cases were identified, with the peak incidence occurring in Quarter 1 of 2025. In conclusion, the main characteristics of TB cases at Sukoharjo Public Health Center are unemployed males of productive age with a diagnosis of bacteriologically confirmed new pulmonary TB. Spatially, Combongan, Begajah, and Dukuh urban villages became red zones with the highest IR and SMR values. Although the macro-level morbidity estimation is lower than the national average (SMR < 1), the mapping indicates a disparity in vulnerability across urban villages. An optimization of Active Case Finding is required.
Perbedaan variasi waktu kontak Sinar UV-C terhadap penurunan angka total kuman pada alat makan di kantin PT.X Lubis Bambang Purnama; Juniantyo Hadinur Fajrian
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3428

Abstract

Makanan merupakan kebutuhan utama yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Makanan yang sehat adalah makanan yang dilakukan proses pengelolaan dengan baik dan benar sehingga makanan tidak berdampak buruk bagi kesehatan termasuk para pekerja di sektor industri teskstil. Berdasarkan hasil uji Angka Total Kuman pada alat makan piring di kantin industri tekstil belum memenuhi syarat dengan angka total kuman sebesar 163 koloni/cm2 luas permukaan alat makan piring belum memenuhi syarat Permenkes RI nomor 1096 tahun 2011. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui variasi waktu yang berpengaruh terhadap penurunan angka total kuman pada alat makan piring dengan alat sterilisasi menggunakan lampu UV-C di kantin industri tekstil. Jenis penelitian eksperimen dengan desain pos- test with control, pengambilan sampel yang digunakan yaitu metode tunggal. Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa rata-rata penurunan angka total kuman dengan variasi waktu 10 menit sebesar 126 koloni/cm2 luas permukaan alat makan piring atau 73%, variasi waktu kontak 15 menit sebesar 148 koloni/cm2 luas permukaan alat makan piring atau 84%, variasi waktu kontak 20 menit sebesar 170 koloni/cm2 luas permukaan makan piring atau 97%.   Abstract: Food is a necessity that can be consumed by humans. Healthy food is food that is managed properly and correctly so that food does not have a negative impact on health for workers in the textile industry. Based on the results of the total germ count test on cutlery in the textile industry canteen, it has not met the requirements with a total germ count of 163 colonies / cm2, the surface area of cutlery does not meet the requirements of Permenkes RI number 1096 of 2011. The purpose of this study was to determine the time variation that affects the decrease in the total number of germs on cutlery with a sterilizer using UV-C lamps in the textile industry canteen. The study employed an experimental design with a post-test-only control group approach and utilized a single sampling method. The results of laboratory tests show that the average decrease in the total number of germs with a variation of time of 10 minutes is 126 colonies / cm2 surface area of cutlery or 73%, variation of contact time of 15 minutes is 148 colonies / cm2 surface area of cutlery or 84%, variation of contact time of 20 minutes is 170 colonies / cm2 surface area of cutlery or 97%.
Analisis paparan kebisingan kereta api dan risiko gangguan kesehatan non-auditory di Kota Malang Dinda Tsani Azzahra; Ike Dian Wahyuni; Beni Hari Susanto
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3445

Abstract

Kebisingan kereta api merupakan pencemaran lingkungan yang berpotensi memicu gangguan kesehatan non-auditory, seperti stres, gangguan tidur, dan peningkatan tekanan darah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan paparan kebisingan kereta api dengan gangguan non-auditory pada penduduk di Wilayah Zainal Zakse, Kelurahan Jodipan, Kota Malang. Menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, studi ini melibatkan 51 responden yang dipilih secara purposive sampling. Intensitas kebisingan diukur menggunakan Sound Level Meter, sedangkan tingkat stres, gangguan tidur, dan tekanan darah masing-masing diukur menggunakan DASS-21, PSQI, dan tensimeter. Analisis data dilakukan melalui uji Chi-Square dan Fisher-Freeman-Halton Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan seluruh titik pengukuran melebihi baku mutu (>55 dBA), dengan 54,9% responden terpapar >8 jam/hari. Mayoritas responden mengalami gangguan tidur (60,8%) dan peningkatan tekanan darah (60,8%). Temuan menunjukkan adanya hubungan signifikan antara usia dengan gangguan tidur (p=0,024) serta lama paparan kebisingan dengan peningkatan tekanan darah (p=0,013). Disimpulkan bahwa tingkat kebisingan kereta api di lokasi penelitian telah melampaui ambang batas aman dan durasi paparan kebisingan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan tekanan darah masyarakat.   Analysis of railway noise exposure and the risk of non-auditory health disorders in Malang City   Abstract: Railway noise represents an environmental pollutant capable of inducing non-auditory health issues, including stress, sleep disturbance, and elevated blood pressure. This study aimed to analyze the association between railway noise exposure and non-auditory health disorders among residents in the Zainal Zakse area, Jodipan Village, Malang City. Employing an analytical observational design with a cross-sectional approach, the study involved 51 respondents selected through purposive sampling. Noise intensity was measured using a Sound Level Meter, while stress levels, sleep quality, and blood pressure were assessed using the DASS-21, PSQI, and a sphygmomanometer, respectively. Data were analyzed using Chi-Square and Fisher-Freeman-Halton Exact Tests. Results revealed that noise levels across all measurement points exceeded environmental quality standards (>55 dBA), with 54,9% of respondents exposed for >8 hours/day. The majority experienced sleep disturbances (60.8%) and elevated blood pressure (60.8%). Significant associations were found between age and sleep disturbance (p=0.024), as well as exposure duration and blood pressure elevation (p=0.013). Conclusively, railway noise in the study area exceeds safety standards, and prolonged exposure duration significantly contributes to elevated blood pressure among residents.
Environmental health and patient safety in indonesian sharia hospitals: A critical normative–empirical synthesis toward a maqasid-based governance framework Dicky Budiman; Trisye Iverdina Ratnasari; Muji Mulyaningsih; Nyayu Firda
Sanitasi: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/sanitasi.v19i2.3446

Abstract

Sharia hospitals in Indonesia are rapidly evolving under Fatwa No. 107/DSN-MUI/X/2016 and MUKISI/SIRSMA standards; however, governance remains focused on contractual, financial, and halal compliance, leaving environmental health and patient safety underrepresented as measurable outcomes. This study synthesises normative and empirical evidence to assess the integration of these domains and proposes a maqasid al-shariah-based framework to render them operational. Utilizing a normative–empirical narrative synthesis, the research triangulated Indonesian regulatory and fatwa documents, certification standards, four domestic case studies, and comparative literature from Malaysia and Gulf countries. Results reveal that while environmental health and infection control are not entirely absent from current standards, their requirements remain fragmented across national accreditation and environmental regulations. Furthermore, case evidence highlights persistent gaps in halal supply chains, Sharia Supervisory Board engagement, and standardized safety indicators, whereas mature international models successfully embed these elements as core maqasid-linked components. Ultimately, Indonesian sharia healthcare governance possesses sufficient foundations to explicitly integrate environmental health and patient safety, where a unified maqasid-based indicator set would significantly enhance accountability, compliance, and overall safety performance.

Filter by Year

2008 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 19 No. 1 (2026): February 2026 Vol. 19 No. 2 (2026): Article in Progress Vol. 18 No. 2 (2025): August 2025 Vol. 18 No. 1 (2025): February 2025 Vol. 17 No. 2 (2024): August 2024 Vol. 17 No. 1 (2024): February 2024 Vol. 16 No. 2 (2023): Agustus 2023 Vol. 16 No. 1 (2023): Februari 2023 Vol. 15 No. 2 (2022): Agustus 2022 Vol. 15 No. 1 (2022): Februari 2022 Vol. 13 No. 1 (2021): Februari 2021 Vol. 14 No. 2 (2021): Agustus Vol. 12 No. 2 (2020): Agustus 2020 Vol. 12 No. 1 (2020): Februari Vol. 11 No. 2 (2019): August Vol. 11 No. 1 (2019): Februari Vol. 7 No. 2 (2015): November Vol. 5 No. 2 (2013): November Vol. 3 No. 4 (2012): Februari Vol. 10 No. 2 (2018): November Vol. 10 No. 1 (2018): Agustus Vol. 9 No. 4 (2018): Mei Vol. 9 No. 3 (2018): Februari Vol. 9 No. 2 (2017): November Vol. 8 No. 4 (2017): Mei Vol. 8 No. 3 (2017): Februari Vol. 8 No. 2 (2016): November Vol. 8 No. 1 (2016): Agustus Vol. 7 No. 4 (2016): Mei Vol. 7 No. 3 (2016): Februari Vol. 6 No. 4 (2015): Mei Vol. 7 No. 1 (2015): Agustus Vol. 6 No. 3 (2015): Februari Vol. 6 No. 2 (2014): November Vol. 6 No. 1 (2014): Agustus Vol. 5 No. 4 (2014): Mei Vol. 5 No. 3 (2014): Februari Vol. 4 No. 4 (2013): Mei Vol. 4 No. 3 (2013): Februari Vol. 4 No. 2 (2012): November Vol. 4 No. 1 (2012): Agustus Vol. 3 No. 3 (2011): Agustus Vol. 3 No. 2 (2011): Februari Vol. 3 No. 1 (2010): Agustus Vol. 2 No. 4 (2010): Februari Vol. 2 No. 3 (2009): Agustus Vol. 2 No. 2 (2009): Februari Vol. 2 No. 1 (2008): Agustus Vol. 1 No. 2 (2008): Februari Vol. 9 No. 1 (2017): Agustus More Issue