cover
Contact Name
Ahmad Muttaqin
Contact Email
ahmadmuttaqin@uinsaizu.ac.id
Phone
+6281211693283
Journal Mail Official
jpa@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Penelitian Agama
ISSN : 14115875     EISSN : 2597954X     DOI : https://doi.org/10.24090/jpa
Jurnal Penelitian Agama is a journal that specifically become a communication medium for scholars, researchers and practitioners to public for the results of religious research. This journal is published two times a year by Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Purwokerto. This journal aims to provide readers with a better understanding of religious studies in Indonesia and around the world. The Journal invites scholars, researchers, and practitioners who focuses on religious studies to submit articles in this journal. Articles will be reviewed by selected expert in this field. The editor is able to make editorial changes without altering the substance of writing.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "vol. 27 no. 1 (2026)" : 9 Documents clear
Aplikasi Interaksionisme Simbolik dan Teori Resepsi Living Qur’an dalam Penelitian Kualitatif Muhammad Labib Syauqi; Ahmad Yusuf Prasetiawan
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp%p

Abstract

Fenomena sosial keagamaan yang berkembang di masyarakat, khususnya dalam interaksi dengan teks al-Qur’an, merupakan realitas yang kompleks dan memerlukan kajian multidisipliner agar dapat dipahami secara utuh. Berbagai praktik, pemaknaan, dan respons masyarakat terhadap al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan aspek normatif, tetapi juga dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Oleh karena itu, teori sosiologi agama dan antropologi agama, terutama Interaksionisme Simbolik dan Resepsi Living Qur’an, menjadi pendekatan yang relevan untuk menjelaskan dinamika tersebut. Penelitian ini menggunakan metode induktif dengan pendekatan deskriptif-analitis untuk mengidentifikasi persamaan dan perbedaan kedua teori melalui analisis konseptual. Data dianalisis secara sistematis guna memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai hubungan antara simbol, makna, dan praktik keberagamaan masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teori Resepsi dalam Living Qur’an memiliki keterkaitan erat dengan teori Interaksionisme Simbolik, bahkan dapat dipandang sebagai bagian yang mengembangkan perspektif tersebut dalam studi al-Qur’an. Kedua teori ini bersifat saling melengkapi sehingga sangat memungkinkan untuk dikombinasikan sebagai kerangka analisis dalam mengkaji fenomena Living Qur’an di masyarakat.
The Ngarunghal Tradition in Sundanese Marriage Salsabila Fajrina Dhia; Khoirul Hidayah; Ahmad Izzuddin
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp168-178

Abstract

The ngarunghal tradition is a customary practice in Sundanese society that regulates the prohibition of a younger sibling marrying before their older sibling without a certain form of respect. This study aims to analyse the function of the ngarunghal tradition as living law in the Miduana Traditional Village community and to examine this practice from the perspective of legal anthropology and maslahah mursalah theory. This study uses empirical research methods with a legal anthropology approach and is qualitative in nature. Data was obtained through field observations, in-depth interviews with traditional leaders, community leaders, and practitioners of the ngarunghal tradition (older siblings, younger siblings, and immediate family), as well as supporting documentation. The results show that the ngarunghal tradition functions as a customary norm that regulates family relations and maintains social harmony through a mechanism of deliberation and family agreement, including in determining the form and amount of gifts to be given to the older sibling who is being bypassed. This practice is adhered to by the community, mainly to avoid taboos and customary sanctions known as kabadi or katulak, which are understood as symbolic consequences for violating customs. From a legal anthropology perspective, belief in these sanctions acts as an effective social control mechanism, even though it is not formal in nature. From the perspective of maslahah theory, the ngarunghal tradition contains social benefits that are hajiyyah and 'ammah in nature, as it aims to maintain order, family harmony, and social balance in the community. However, this study also found the potential for a shift from benefit to injustice if the demands for gifts do not take into account the economic capacity of the younger sibling. Therefore, the ngarunghal tradition remains relevant to be preserved as long as it is carried out based on the principles of deliberation, fair agreement, and does not cause harm.
Komodifikasi Wacana Agama Dalam Strategi Pemasaran HNI: Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough Afifah Salma Zain; Ida Novianti
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp%p

Abstract

Dalam beberapa tahun terakhir penggunaan wacana keagamaan dalam pemasaran telah memnunculkan pertanyaan kritis terkait komodifikasi dan pengaruh ideologi. Analisis Wacana Kritis Norman Fairclough tentang Strategi Pemasaran Produk HNI: Studi Kasus BC Banyumas adalah fokus utama tesis ini, yang didasarkan pada analisis wacana kritis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana produk HNI memanfaatkan wacana keagamaan dan narasi keagamaan dalam teks pemasaran mereka. Untuk menjawab pertanyaan penelitian, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus dan CDA (Analisis Wacana Kritis). Metode pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa HNI menggunakan strategi pemasaran produk baik offline maupun online yang secara aktif mengintegrasikan wacana keagamaan untuk menarik keterlibatan konsumen. Konsep Gesit-PCA (Gemar Silaturahmi Produktif – Gunakan, Bagikan, Undang) mencerminkan upaya membangun hubungan yang berdasarkan nilai-nilai Islam. Dalam pemasaran online, wacana keagamaan terlihat jelas dalam konten teks keterangan dan pamflet melalui simbol dan nilai-nilai keagamaan seperti halal, sunnah, dan hijrah. Dari perspektif analisis wacana kritis, strategi-strategi ini tidak hanya berfungsi sebagai alat pemasaran, tetapi juga membentuk makna dan identitas keagamaan tertentu dengan memposisikan konsumsi sebagai bagian dari praktik keagamaan. Hal ini menunjukkan adanya interaksi dinamis antara nilai-nilai religious dan tujuan komersial, di mana wacana berfunsgi sekaligus sebagai sarana ideologis dan persuasif.
Dinamika Lembaga Dakwah sebagai Fenomena Sosial Keagamaan: Krisis Identitas, Konflik Organisasi, dan Transformasi Kepemimpinan shofam amim mujadid; siti hayati nufus; Muhammad Firdaus; Yakub
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp201-217

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika lembaga dakwah sebagai fenomena sosial keagamaan dalam masyarakat modern, yang mencakup krisis identitas organisasi, konflik internal, serta transformasi kepemimpinan. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka (library research) melalui pengumpulan dan analisis berbagai literatur ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lembaga dakwah menghadapi krisis identitas akibat ketegangan antara idealisme nilai-nilai spiritual dengan tuntutan pragmatis organisasi. Selain itu, konflik internal yang muncul akibat perbedaan ideologi, strategi dakwah, serta dualisme kepemimpinan berpotensi menimbulkan fragmentasi organisasi apabila tidak dikelola secara konstruktif. Di sisi lain, terjadi transformasi kepemimpinan dari model karismatik menuju kepemimpinan kolektif dan profesional sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Transformasi ini menegaskan bahwa keberlanjutan lembaga dakwah tidak hanya bergantung pada figur pemimpin, tetapi juga pada sistem kelembagaan yang terstruktur, profesional, dan adaptif. Dengan demikian, lembaga dakwah perlu mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan prinsip manajemen modern agar tetap relevan dan berdaya saing di era globalisasi.
Platformized Religiosity in Digital Games: A Critical Review of Roblox Muhibudin Wijaya Laksana; Dody S. Truna; Roro Sri Rejeki Waluyajati
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp1-18

Abstract

This article explores how religiosity is expressed, negotiated, and commodified within digital spaces, focusing on the case of Roblox as a manifestation of the platform society. Using a critical-theoretical approach, it integrates Jürgen Habermas’s (1984) theory of communicative rationality, Nick Srnicek’s (2017) concept of platform capitalism, and a critique of Heidi A. Campbell’s (2012) notion of digital religion, further expanded through José van Dijck, Thomas Poell, and Martijn de Waal’s (2018) framework of the platform society. The analysis reveals that the expression, negotiation, and commodification of religiosity in digital environments represent a dialectical tension between communicative action and systemic rationality, where faith is mediated, structured, and governed by the technological and economic logic of platforms. Roblox functions as a microcosm of digital society, demonstrating how faith simultaneously thrives and is constrained under algorithmic control and data capitalism. The article contributes to religion and media studies by proposing the concept of platformized religiosity, a form of faith lived under algorithmic governance that nonetheless retains its reflective and emancipatory potential in modern digital life.
Gaya Komunikasi Perspektif Al-Quran, Studi Komperatif Tafsir Al-Misbah dan Fi Zhilalil Quran Khayranil Ula
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp19-44

Abstract

Berangkat dari kegelisahan atas merosotnya etika komunikasi di era digital, kajian ini menelusuri kembali nilai-nilai komunikasi Qur’ani melalui pembacaan mendalam terhadap dua kitab tafsir besar: Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Qutb. Tujuan penelitian ini adalah memahami bagaimana kedua mufasir tersebut menafsirkan ayat-ayat tentang strategi dan larangan komunikasi dalam Al-Qur’an, khususnya QS. An-Nahl [16]:125, QS. Al-Isra’ [17]:53, dan QS. Al-Hujurat [49]:11–12. Penelitian menggunakan metode studi pustaka dengan pendekatan analisis komparatif terhadap sumber primer dan sekunder. Hasil kajian menunjukkan bahwa Tafsir Al-Misbah menekankan dimensi sosial-psikologis yang menempatkan komunikasi sebagai sarana menciptakan kedamaian, ketertiban sosial, dan penghargaan terhadap martabat manusia. Sementara itu, Fi Zhilalil Qur’an menghadirkan penafsiran yang lebih spiritual dan emosional dengan fokus pada penghayatan iman, kemuliaan akhlak, dan perlindungan terhadap kehormatan individu. Kedua tafsir sepakat bahwa strategi komunikasi Qur’ani seperti hikmah, mau‘izhah hasanah, dan jidal bil-lati hiya ahsan, serta larangan seperti prasangka, tajassus, dan ghibah merupakan prinsip universal untuk membangun komunikasi yang santun, beradab, dan berkeadilan. Penelitian ini menegaskan bahwa nilai komunikasi Qur’ani tetap relevan sebagai pedoman etika bagi masyarakat modern.
Penumbuhan Pendidikan Karakter Anak Usia Dasar Melalui Pendidikan Sholat Dengan Gaya Storytelling  Yudhi Hadiamsyah; Ahmad Rezy Meidina
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp169-171

Abstract

Penelitian ini berangkat dari masalah mendasar dalam pendidikan karakter anak usia dasar di era digital, di mana pendekatan konvensional yang indoktrinatif dan fokus pada aspek prosedural ibadah (seperti pendidikan sholat) terbukti tidak efektif dalam mencapai internalisasi nilai. Kesenjangan antara potensi sholat sebagai medium pembentuk karakter (akhlak al-karimah) dan metode pengajarannya yang mekanistik menjadi fokus permasalahan. Tujuan utama penelitian adalah untuk menganalisis efektivitas integrasi metode storytelling dalam pendidikan sholat sebagai strategi inovatif untuk menumbuhkan karakter positif anak, yang sekaligus menjawab kesenjangan antara teori dan praktik pedagogis. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui desain development research dan action research, penelitian melibatkan anak usia dasar, guru, dan orang tua. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dokumentasi, dan catatan reflektif dalam beberapa siklus pembelajaran. Temuan utama mengonfirmasi bahwa storytelling secara signifikan meningkatkan keterlibatan emosional (durasi perhatian meningkat dari 5–7 menit menjadi 15–20 menit) dan pemahaman nilai, dengan 85% anak mampu mengidentifikasi nilai sholat melalui emosi tokoh cerita. Proses internalisasi nilai terbukti dari perubahan perilaku nyata, seperti penurunan signifikan keterlambatan sholat berjamaah (dari 8 menjadi 3 anak per sesi) dan peningkatan kekhusyukan. Sinergi guru dan orang tua sebagai storyteller menjadi faktor kunci keberhasilan. Studi ini memberikan kontribusi ganda: secara teoretis, dengan memperkaya metodologi pendidikan Islam melalui integrasi psikologi perkembangan, pedagogi naratif, dan nilai-nilai keislaman; secara praktis, dengan menghasilkan model pembelajaran aplikatif yang menggeser orientasi dari pengajaran ritual ke penumbuhan karakter bermakna, serta menawarkan solusi konkret bagi tantangan pendidikan karakter kontemporer
Relevansi Metode Dakwah Al-Qur’an di Era Modern: Analisis Tematik terhadap Komunikasi Qur’ani Muhammad Yasir
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp61-83

Abstract

Perkembangan masyarakat modern yang ditandai oleh percepatan teknologi informasi dan perubahan pola komunikasi menghadirkan tantangan baru bagi praktik dakwah Islam. Dalam konteks ini, Al-Qur’an tidak hanya berfungsi sebagai sumber ajaran normatif, tetapi juga sebagai pedoman komunikasi yang mengandung prinsip-prinsip dakwah yang adaptif dan kontekstual. Kajian ini mengulas relevansi metode dakwah Al-Qur’an melalui analisis tematik terhadap konsep al-bayān (kemampuan komunikasi), wasilah (sarana dakwah), dan uslūb (metode dakwah) yang termuat dalam QS. An-Nahl ayat 125, QS. Al-Mā’idah ayat 35, dan QS. Ar-Rahman ayat 4. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan digunakan untuk menganalisis Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka dan Fī Ẓilāl al-Qur’ān karya Sayyid Qutb, serta literatur ilmiah relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa dakwah Al-Qur’an merupakan proses komunikasi persuasif yang menekankan hikmah, kelembutan, dan dialog etis. Konsep al-bayān menjadi fondasi utama komunikasi dakwah, sementara wasilah dan uslūb menuntut pemanfaatan media dan metode yang adaptif tanpa mengabaikan nilai-nilai Qur’ani. Temuan ini menegaskan bahwa prinsip komunikasi dakwah Al-Qur’an tetap relevan dalam menjawab tantangan dakwah di era digital dan masyarakat modern yang plural
Internalisasi Nilai Melalui Keteladanan Guru dalam Pembelajaran di MTs Ma’arif NU 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas Jannia Asriyaningsih; Harisatunisa
Jurnal Penelitian Agama Vol. 27 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM UIN Saizu Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/jpa.v27i1.2026.pp45-60

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran guru sebagai teladan dalam pembelajaran Akidah Akhlak guna membentuk karakter religius peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran Guru Akidah Akhlak sebagai teladan dalam pembelajaran di MTs Ma’arif NU 1 Ajibarang Kabupaten Banyumas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan angket sedangkan analisis data menggunakan model reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan triangulasi sebagai teknik keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Guru Akidah Akhlak sebagai teladan terwujud secara nyata dan konsisten melalui empat bentuk keteladanan, yaitu: (1) keteladanan moral-pribadi yang tercermin dalam sikap jujur, integritas, tanggung jawab, dan konsistensi antara ucapan dan tindakan (2) keteladanan spiritual melalui pembiasaan ibadah, doa, sikap sabar, pemaaf, dan tawakal (3) keteladanan pedagogis yang tampak pada profesionalitas, metode pembelajaran variatif, serta penilaian yang adil; dan (4) keteladanan sosial berupa Kedisiplinan, empati, komunikasi santun, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara bijaksana. Persepsi siswa menunjukkan bahwa guru Akidah Akhlak dipandang sebagai sosok yang memiliki sikap dan perilaku yang layak dijadikan teladan dalam pembelajaran. Hal ini didukung oleh hasil wawancara, observasi, serta angket yang menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap keteladanan guru berada pada kategori baik hingga sangat baik pada berbagai aspek, seperti keteladanan dalam berbicara, berpakaian, makan, minum, bertanya, dan berjalan. Temuan ini sejalan dengan teori belajar sosial Albert Bandura yang menjelaskan bahwa individu dapat mempelajari perilaku melalui proses pengamatan terhadap model yang memiliki otoritas dan konsistensi dalam perilakunya. Dengan demikian, keteladanan guru Akidah Akhlak di MTs Ma’arif NU 1 Ajibarang menjadi fondasi penting dalam proses internalisasi nilai-nilai Akidah Akhlak serta pembentukan karakter religius dan akhlakul karimah peserta didik.

Page 1 of 1 | Total Record : 9