cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 171 Documents
Konstruksi Asbābun Nuzūl M. Abed Al-Jabiri (Studi Kitab Fahm Al-Qur’ān Al-Hakīm: Al-TafsīrAl- Wadhih Hasb Al-Nuzūl) M. Mansur Abdul Haq; Munawir Munawir
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.173 KB) | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.6392

Abstract

Asbābun nuzūl is an important element in the interpretation treasures of the Qur'an, especially contemporary interpretations that emphasize the relevance of the times with a comprehensive study of the socio-historical context (al-siyāq al-tārīkhi al-ijtimā’i) which covers the revelation process of the Qur'an. In this regard, various contributions have been made by contemporary Islamic thinkers. This paper examines one of the contemporary Islamic thinkers, M. Abed al-Jabiri, with his commentary Fahm al-Qur’ān al-Hakīm: al-Tafsīr al-Wadhih Hasb al-Nuzūl. Unlike the interpretation in general, the book is compiled based on tartīb nuzūli. Namely, arranged in the order the Qur'an was revealed. The construction of asbābun nuzūl offered by al-Jabiri is different from asbābun nuzūl in general, and has an important role in the book of interpretation. With the theoretical framework of Karl Mannheim's sociology of knowledge, descriptive-analytical methods, and historical-philosophical approaches, the writer finds that asbābun nuzūl in al-Jabiri's conception is not sufficiently based on the shahih history of asbābun nuzūl (micro), and also on its suitability with the social, economic, intellectual, and Arab civilization conditions (macro),but also must be based on its suitability with the narrative/content logic of the verse that is based on the asbābun nuzūl.
Etika Berkomunikasi Dalam Menyikapi Berita Bohong di Media Sosial Perspektif Al-Quran Surat An-Nur Ramdanil Mubarok; Tutik Hamidah
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.5189

Abstract

Fenomena media sosial dengan berbagai macam platformnya membuat masyarakat kesulitan dalam menyikapi berita di tengah arus tsunami informasi sehingga masyarakat kesulitan dalam mengidentifikasi suatu berita termasuk berita bohong atau tidak. Lalu bagaimana perspektif Al-Qur’an surat An-Nūr tentang berita bohong, dan bagaimana etika berkomunikasi dengan menggunakan media sosial dalam menyikapi berita bohong? Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif berbentuk kata, ucapan maupun tulisan seseorang dijadikan objek pengamatan. Peneliti menggali data melalui buku referensi, jurnal, media online, dan beberapa argumen masyarakat berkaitan dengan etika berkomunikasi dalam menyikapi berita bohong. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan. Penggunaan penelitian kepustakaan dapat memecahkan masalah secara mendalam dan kritis terhadap bahan pustaka yang digunakan. Hasilnya adalah bahwa perspektif Al-Qur’an surat an-Nur ayat 11-16 tentang berita bohong antara lain : orang yang menyebarkan berita bohong mendapat azab, orang menerima berita hendaknya melakukan tabayyun, orang yang membawa berita hendaknya mempunyai empat orang saksi, orang yang menyebarkan berita harus mengetahui asal usul berita. Etika berkomunikasi di media sosial hendaknya menghindarkan diri dari menyebarkan berita bohong, selalu berprasangka baik, melakukan tabayyun terhadap suatu berita, menghindarkan diri dari perbuatan dusta sehingga terhindar dari dosa.
Wudhu According to the Qur’an Hadith and Its Therapic Implementation for Schizophrenia Patients at the Jalma Sehat Kudus Rehabilitation Center Umma Farida; Chusnul Warda Rahmah
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.5710

Abstract

Wudhu is a purification activity that is often carried out by Muslims every day, especially every time they want to pray. The Qur'an and hadith emphasize this command to perform ablution. Muslims majority view ablution as only a ritual obligation without understanding the benefits of ablution and its effects on mental health. This article aims to describe the urgency and benefits according to the Qur'an and hadith. Also, to explain the application of wudhu therapy for schizophrenic patients at the Jalma Sehat Kudus Rehabilitation Center. Schizophrenia is a severe mental disorder that affects the thoughts, feelings, and behavior of individuals. Schizophrenia is part of a psychotic disorder characterized by a loss of understanding of reality and self-awareness. This study is based on qualitative research with data collection methods using documentation, interviews, and observation techniques. The collected data is then analyzed by the inductive method. The results showed that wudhu therapy at the Jalma Sehat Rehabilitation Center was beneficial in stimulating the brain from the flow of water that flows from each ablution wash. Patients feel relaxed mind, heart, and soul supported by spiritual and medical treatment.
Reading Quraish Shihab's Oral Exegesis About glorifying Women In Social Media M. Riyan Hidayat; Ahmad Murtaza MZ
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.5923

Abstract

Abstract This paper will explain the oral interpretation of Quraish Shihab about glorifying women on social media on the Shihab N Shihab program which is monitored by one of his daughters, Najwa Shihab. The description will explain in the form of a descriptive analysis approach. The data is collected from recorded social media documentation and literature studies. Meanwhile, the theory that will be used in this research is the theory of oral exegesis, which was initiated by Andreas Gorke. The author concludes that the oral practice developed by Quraish Shihab has two faces, namely the context in the Qur'an and the hadith, while the second is the context outside the text of the Qur'an and hadith which is more social in society. Keywords: Glorifying Women, Quraish Shihab, Oral Exegesis Abstrak Tulisan ini akan menjelaskan tafsir oral dari Quraish Shihab tentang memuliakan perempuan di media sosial pada program Shihab N Shihab yang dimonitori oleh salah satu putri nya Najwa Shihab. Uraian akan menjelaskan dalam bentuk pendekatan deskriptif analisis. Datanya dikumpulkan dari dokumentasi rekaman media sosial dan studi pustaka. Sedangkan teori yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah teori tafsir oral (oral exsegesis) yang digagas oleh Andreas Gorke. Penulis menyimpulkan bahwa praktek oral yang dibangun oleh Quraish Shihab dua wajah yakni Konteks di dalam al-Qur’an dan hadis sedangkan yang kedua konteks diluar teks al-Qur’an dan hadis yang lebih mengarah pada sosial bermasyarakat. Kata kunci: Memuliakan Perempuan, Quraish Shihab, Tafsir Oral
Makna Kata Ulama Dalam Qs. Fatir Ayat 28 (Implementasi Semiotika Roland Barthes) Unggul Prayoga; Laily Liddini
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.6282

Abstract

Artikel ini sebagai respon terhadap banyaknya masyarakat Muslim Indonesia yang terlalu fanatik terhadap ulama dan penolakan perbedaan pendapat hingga menyebabkan perpecahan. Artikel ini juga merupakan sebuah tawaran untuk memahami makna ulama dalam QS. Fathir ayat 28. Yakni, sebagai cara untuk memahami makna ulama yang dipahami oleh sebagian pihak masyarakat sebagai acuan dalam segala permasalahan yang ada. Pada artikel ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif, yaitu sebuah metode yang digunakan untuk menggali suatu makna yang terkandung didalamnya. Dalam penelitian, penulis menggunakan teori semiotika Roland Barthes (w. 1980) untuk menganalisis dan mengupas makna ulama dalam QS. Fathir ayat 28. Tujuan tulisan ini mengungkapkan tentang makna kata Ulama sebagaimana yang tertuang dalam QS. Fathir ayat 28 yang dapat dipahami bahwa ulama tidak hanya dalam permasalahan agama akan tetapi dalam bidang ilmu lain juga bisa dinamakan ulama. Dengan menggunakan teori semiotika Roland Barthes yang dalam tahapannya terdiri dari dua (tahapan linguistik yang berarti makna denotatif dan juga tahapan mitologi atau mitos yang berarti makna konotatif), diperoleh hasinya bahwa kata ulama memberikan makna orang-orang yang memiliki pengetahuan. Kemudian sistem mitologi atau mitos memunculkan makna konotasinya yaitu ulama adalah sebuah gelar bagi para ilmuwan yang ahli dalam pengetahuan umum juga ilmu tentang agama yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadis Nabi. Pesan yang terkandung dalam QS. Fathir ayat 28 adalah bahwa diantara para hamba-Nya yang paling takut adalah para ilmuwan yang memahami ajaran Islam dengan mendalam dan juga memikirkan pula tentang fenomena-fenomena alam yang Allah ciptakan agar semakin mendekat kepada-Nya.
Konsep Pendidikan Era Medsos: Analisis dimensi Hifdz Din Menurut Luqman al-Hakim dengan Pendekatan Maqasidi Siti Fahimah
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.6441

Abstract

Realitas perubahan zaman yang terus bergerak dinamis di beberapa negara, terutama di Indonesia, berdampak pada kemrosotan nilai-nilai moral cukup signifikan. Berbagai perubahan dan perkembangan zaman memperangaruhi gaya dan pola kehidupan manusia masa kini. Di Era medsos ini tidak hanya membawa dampak positif tetapi juga membawa dampak negatif. Melalui tulisan ini, penulis akan mencoba menganalisis lebih lanjut dimensi hidfz ad-din dalam kisah Luqman Al-Hakim dalam Qur’an surat Luqman ayat 13-19 serta bagaimana nilai-nilai pendidikan tersebut dapat diimplementasikan di era medsos saat ini. Untuk melakukan analisi tersebut, penulis akan menggunakan pendekatan tafsir maqashidi yang akan berusaha mengungkap dimensi-dimensi maqashid dan nilai-nilai qur’ani dalam Qur’an surat Luqman ayat 13-19. Pada penelitian ini penulis akan berusaha menyoroti kisah Luqman Al-Hakim menggunakan pendekatan tafsir maqashidi untuk menemukan maqashid di balik nasihat-nasihat Luqman al-Hakim kepada putranya. Penulis berhipotesa bahwa nasihat-nasihat Luqman al-Hakim mengandung prinsip-prinsip pendidikan yang penting diungkap serta dikembangkan sebagai tawaran model pendidikan untuk menghadapi era medsos seperti saat ini. Pada Qur’an surat Luqman ayat 13-19 penulis memahami nasehat-nasehat Luqman Al-Hakim penting diterapkan pada sistem pendidikan. Dari beberapa nasehat yang terkandung didalamnya ada 3 point besar yakni: Pendidikan aqidah, Pendidikan ibadah dan pendidikan akhlaq.
Analisis Khat Surat Al-Fātikhah Dalam Mushaf Al-Qur’an Cetakan Menara Kudus Tahun 1974 M Ahmad Fauzan; Elya Munfarida
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.6604

Abstract

The Qur'an was revealed by bringing messages, concepts, and rules for humans, so that many Muslim and non-Muslim academic circles study the Qur'an as the object of their study. In this study, the writer chooses a Mushaf Kudus that printed 1974 as the object of this study. This manuscript is one of the famous manuscripts with its corner verse system, besides being easy to remember, writing and decoration are also clear, bright, beautiful, unique and attractive to the public. In terms of the khat’s rules, the writing of this manuscript uses khat naskhī. This khat becomes popular after the experts of khat redesign this khat. Until now, the writing of the Qur'an is synonymous with stylized writing khat naskhī, including the Mushaf Kudus. However, in the use of the khat’s rules, this is not in accordance with the provisions of writing khat naskhī.Therefore, the writer chooses an art of khat to make as an alternative method in analyzing it. The writer hopes that this study will become a new insight and can help scientific discourse to reveal the history and heritage of Islamic art and culture in the Nusantara.
Metode Tadabbur Qur’an Dalam Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padangmbulan ULLYA ROMATIKA
MAGHZA Vol 7 No 1 (2022): Januari - Juni 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i1.6654

Abstract

Ada banyak faktor yang menjauhkan Al-Qur’an dengan manusia, menjauhkan manusia dari Al-Qur’an. Cak Nun dan Cak Fuad memperkenalkan sebuah konsep baru dalam memahami Al-Qur’an bernama metode tadabbur. Dengan semangat tadabbur tersebut diterbitkanlah Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padangmbulan yang termuat berbagai konten tadabbur di dalamnya. Tujuan penelitian ini untuk mengungkapkan metode tadabbur dalam Mushaf Al-Qur’an Tadabbur Maiyah Padangmbulan dan penerapannya di dalam QS.Al-Fatihah mengingat posisinya yang begitu penting. Penelitian ini menggunakan metode kualitataif, dan termasuk library research. Hasil penelitian ini, mengungkapkan metode tadabbur yang digunakan dalam Mushaf Tadabbur Maiyah Padangmbulan asumsi yang perlu dibangun adalah Al-Qur’an merupakan Hudanlinnas, Al-Qur’an diturunkan untuk saya, cara kerjanya bebas dengan syarat outputnya menambah baik, memperkuat iman dan akhlaqul karimah, bekalnya adalah Basmalah dan Istigfar.
Tradisi Amaliah Ayat Al-Qur'an Ba'da Salat Maktubah Di Pondok Pesantren Al-Lathifiyyah2 Tambakberas Jombang Lailatus Salamah; Rifqi As’adah
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.6759

Abstract

Abstrak Tradisi amaliah ayat al-Qur’an banyak dijumpai di berbagai wilayah dan pondok pesantren. Setiap pondok tentu memiliki amalan-amalan dan wirid khusus. Artikel ini membahas tentang ayat al-Qur’an yang digunakan sebagai suatu amalan ba’da salat maktūbah di Pondok Pesantren Al-Lathifiyyah 2 Tambakberas. Rangkaian amalan ini terdiri dari membaca surah al-Ikhlāṣ dan surah at-Taubah ayat 128-129. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan bagaimana sejarah dan proses pembacaan amalan dan untuk mengetahui makna pembacaan amalan ayat al-quran bagi yang melaksanakannya diantaranya pengasuh, pengurus dan santri. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan melukiskan objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang ada, serta pengumpulan data melalui teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Tradisi pembacaan amalan ayat al-Qur’an ba’da salat maktūbah, menggunakan teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, yaitu makna objektif, ekspresif dan dokumenter. Jenis penelitian menggunakan penelitian lapangan dan pustaka (library research). Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa, tradisi amaliah ba’da salat maktūbah di Pondok Pesantren Tambakberas dilaksanakan setelah membaca wiridan setelah salat pada umumnya, dilanjutkan dengan membaca surah at-Taubah ayat 128-129 sebanyak 1 kali kemudian dilanjutkan dengan membaca tawasul lalu membaca surah al-Ikhlāṣ sebanyak 11 kali. Tradisi amaliah ini dilaksanakan dengan posisi duduk seperti saat masih dalam shaf salat dan menghadap kiblat. Makna pembacaan amaliah ba’da salat maktūbah ini memiliki tiga makna objektif, ekspresif,dan dokumenter. Makna objektif-nya yaitu bahwa tradisi amaliah tersebut merupakan sebuah amaliah rutin yang harus di istiqomahkan. Tradisi amaliah ini merupakan bentuk taʻẓīm santri kepada pengasuh Pondok Pesantren. Kemudian makna ekspresif-nya adalah mereka meyakini bahwa bacaan yang mereka amalkan akan kembali kepada diri mereka dan manfaat yang mereka rasakan berupa ketentraman jiwa, membentengi diri dari fitnah, diberi kemudahan dalam segala urusannya, dilancarkan rizki rang tuanya dan dimudahkan dalam menghafal. Sedangkan makna dokumenter-nya tanpa disadari bahwa tradisi amaliah ayat al-Qur’an tersebut menjadi sebuah rutinitas yang tetap diamalkan hingga saat ini. Kata kunci: Tradisi,Amaliah, Pondok Al-Lathifiyyah 2 , Karl Mannheim.
Konsep Makar (Tipu Daya) Tuhan Prespektif Semantik Toshiko Izutsu Anita Ulyati Azizah; M Safwan Mabrur
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.6980

Abstract

Artikel ini membahasa terkait term makar dalam Al-Qur’an dengan analisis kebahsaan yaitu pendekatan semantic Toshihiko Izutsu. Pemahaman terhadap makar pada saat ini hanya menitik beratkan pada konotasi negative dan hanya terjadi di dunia politik karena kekuasaan, namun pada hakikatnya makar sering terjadi karena rasa dengki dan siapa saja dapat melakukan makar. Makar dalam Al-Qur’an tidak hanya bersifat negative, hal ini diperkuat dengan adanya Tuhan sebagai pelaku makar. Maka, peneliti mencoba mengungkap pemahaman terhadap makar yang terkandung dalam Al-Qur’an dengan melakukan kajian teoritis dan kajian historis terhadap term makar. Dalam penelitian ini, peneliti membuktikan bahwa makar merupakan perbuatan tipu daya muslihat, makar dalam Al-Qur’an tidak hanya berkonotasi negatif, namun juga postif dengan pengecualian Tuhan sebagai pelaku makar untuk membuktikan kekuasaan Nya. Penelitian ini juga membuktikan bahwa pelaku makar tidak hanya dilakukan di dunia politik, namun juga di masyarakat sekitar. Bentuk makar dalam Al-Qur’an di antaranya Al Kinayah, Al Bghyu, Al Kaid, Al Mihal, Al Khida’, Al ‘Itimar, Al Dakhl yang memiliki kemiripan makna, namun karakter yang berbeda, seperti term Al Mihal yang hanya boleh dinisbahkan kepada Allah yang memiliki kekuatan, daya upaya merencanakan tipu daya dengan keahlian unggul. Pembuktian Selanjunya yaitu, makar dalam Al-Qur’an memiliki konteks yang berbeda, di antaranya sebagai adzab, hukuman, pertolongan, perlindungan, pembunuhan, peperangan, penipuan, dan ingkar terhadap ayat-ayat Allah. Maka, konsep pada penelitian ini adalah makar merupakan perbuatan yang harus dihindari karena dapat merusak keharmonisan, namun makar setiap makar yang dilakukan oleh Tuhan akan selalu bersifat baik untuk makhluk Nya.