cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 171 Documents
Promo Makanan Gratis dengan Membaca Surah Al-Kahfi Setiap Hari Jumat (Resepsi atas Akun Media Sosial Preksu) Dwi Elok Fardah
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.4420

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti resepsi fungsional mengenai promo makanan gratis dengan membaca surah al-Kahfi atas akun media sosial salah satu restauran di Yogyakarta yang bernama Ayam Geprek dan Susu, atau yang biasa disebut PREKSU. Wawancara menjadi salah satu metode pengambilan data yang diutamakan dalam penelitian ini, karena penelitian ini merupakan studi kasus mengenai penggunaan surah al-Kahfi sebagai syarat mendapatkan promo makanan gratis. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat kecenderungan resepsi narasumber yang telah diwawancarai mengenai promo makanan tersebut, adalah promo ini menjadi ajang untuk mencari makanan gratis; memotivasi pengunjung untuk membaca surah al-Kahfi; menjadi salah satu jalan sedekah pemilik restauran; dan kecenderungan ketidaksepakatan surah al-kahfi digunakan sebagai media promo.
Pengaruh Munāsabah Terhadap Penafsiran dalam Kitab Tafsīr Al-Munīr Karya Wahbah Az-Zuhaili Ali Musolli Sohibi Harahap; Syafruddin Syafruddin; Syofyan Hadi
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.6718

Abstract

 Munāsabah, suatu cabang ilmu penting untuk mengurai makna serta isi alQur’an. Dengan adanya ilmu ini, diketahui hikmah dan relasi antara satu ayat dengan ayat, atau surah dengan surah. Juga dapat diketahui aspek balāģah yang terdapat dalam ayat atau pun surah. Munāsabah sebagai cabang ilmu al-Qur’an, dewasa ini terdapat sikap pro dan kontra di kalangan cendekiawan/ulama muslim. Diantara pendapat yang kontra, mengatakan bahwa mencari-cari hubungan (munāsabah) antara ayat dan surah termasuk suatu usaha yang tidak perlu dilakukan, bahkan tidaklah pantas dimasukkan pada al-Qur’an. Dalam pada itu, penelitian ini bermaksud untuk mengetahui bagaimana pengaruh munāsabah terhadap penafsiran dalam Tafsīr Al-Munīr. Penelitian ini, difokuskan pada kitab Tafsīr Al-Munīr karya Wahbah AzZuhaili karena, Tafsīr Al-Munīr merupakan salah satu tafsir yang hampir secara keseluruhan ayat mengungkapkan munāsabah. Untuk mengetahui hal demikian penulis meneliti munāsabah yang ada dalam Q.S. Al-Hujurāt [49], karena -sejauh observasi penulis- terlihat ada ayat yang tidak sinkron/berkaitan dengan ayat lain dalam surah tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (library research). Yang sumber primernya adalah kitab Tafsīr Al-Munīr Fī Al-‘Aqīdah Wa Asy-Syarī’ah Wa Al-Manhaj, karya Wahbah Az-Zuhaili. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analysis. Sedangkan untuk mengolah serta menganalisis data menggunakan metode content analysis, yang bertujuan untuk menggali secara mendalam isi/informasi yang tertulis dalam Tafsīr Al-Munīr. Adapun hasil penelitian, ditemukan bahwa munāsabah memiliki pengaruh dalam penafsiran, yaitu; pertama, menjelaskan keindahan bahasa al-Qur’an (balāģah). Kedua, membantu dalam memahami keutuhan makna dan, ketiga, membimbing pembaca untuk benar-benar membaca/berinteraksi dan memahami al-Qur’an. Dan dengan adanya munāsabah dalam penafsiran Q.S. Al-Hujurāt [49] menjadikan ayat yang sekilas tidak mempunyai hubungan dengan ayat lain (atau seolah berlawanan) menjadi satu kesatuan yang utuh dan saling mendukung satu sama lain.
Tren Penelitian Tafsir di Perguruan Tinggi Negeri Islam Masa Pandemi COVID-19: Tracer Studi Terhadap Skripsi Mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri Palopo 2020-2021 Abdul Mutakabbir
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.6771

Abstract

Artikel ini berusaha mengkaji skripsi mahasiswa IAT IAIN Palopo selama Pandemi COVID-19, mulai dari jenis penelitian, sifat, metode dan temanya. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan penelitian tafsir di IAIN Palopo selama Pandemi COVID-19. Artikel ini merupakan penelitian library yang dipaparkan secara kualitatif-deskriptif. Adapun hasilnya, penelitian mahasiswa tahun 2020 hanya 4, dan 15 pada tahun 2021. Dari 19 skripsi, 13 kajian pustaka dan 6 kajian lapangan dengan 18 yang sifatnya kualitatif serta 1 kuantitatif dan dianggap sesuatu yang baru dalam kajian al-Qur’an dan Tafsir, khususnya bagi mahasiswa Ilmu al-Qur’an dan tafsir IAIN Palopo. Dari segi metodologis, 3 kajian taḥlīlī, 3 muqāran, 1 mauḍū’i dan 13 kajian pemikiran mufasir. Adapun aspek tema yang dikaji, tidak ada yang memiliki kaitan dengan pandemi COVID-19. Dengan demikian, penelitian tafsir selama pandemi tidak memiliki dampak secara tematis atau stagnan.
Bank Interest In Tafsir Nusantara: Study Of The Book Of Al-Azhar In Genealogy Of Power’s Perspective Michael Foucault Rahmatulloh Rahmatulloh
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.6903

Abstract

The issue of usury is a topic that has been, is and will continue to be interesting to discuss. Discussions and reformulations related to usury are increasingly in demand, especially when it comes to modern society, which has a different social structure from Muslims in the past—classic ones who are not familiar with banking institutions. This article examines the interpretation of usury verses in Tafsir Al-Azhar. The method used in this research is descriptive-qualitative method, and is included in the literature research. The collection process is carried out by observing, in the sense of tracking various references that have relevance to the focus of the study, both from books, articles, and so on that function to support these data. The data analysis technique used in this research is the method of content analysis (content analysis). In this analysis, the process of selecting, comparing, combining, and sorting information obtained from related data sources will be carried out to obtain valid inferences. In clarifying the validity of the data, the researcher triangulated both sources and methods. From the study conducted, it can be seen that HAMKA is one of the scholars who gives opinions regarding bank interest in the context of banking. HAMKA said bank interest was usury and a great extortion from those who owed debts to those who owed them. HAMKA absolutely haraams the law of usury of any kind. Both in the form of usury nasi’ah and usury fadl—including the interest system in the banking context. The interpretation of Riba in Tafsir Al-Azhar above is an expression of HAMKA’s position as a figure who is maintaining the status quo. HAMKA is well aware of the condition of Indonesia with a Muslim majority in it. His interpretation is an expression of his social role as a scholar with a strong theological approach with Islam as the basic reference for thinking and acting
Konstruksi Muhkam Dan Mutasyabbih M. Syahrur (Teori dan Penerapannya) Faiz Kamal
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.7059

Abstract

Abstrack Muhkam Mutasyabbih is a term on the side of the clarity and vagueness of the meaning of the Qur'an. In this case, the classical commentators have classified several approach methods in order to be able to spawn a goal from the verse in question. However, Muhammad Syahrur has a different perspective in understanding the verses of Muhkam Mutasyabbih. As a contemporary Islamic thinker who is subject to controversy, Muhammad Syahrur assumes that all classical studies are not final. There needs to be a renewal in order to produce maqosidul verses that are in accordance with the context and current principles. Departing from this, the author presents the theoretical principles echoed by Muhammad Syaḥrur in understanding the verses of Muḥkam Mutasyabbih and describes the interpretation and implications for the interpretation of the Qur'an. Furthermore, in this study the authors found an important point, namely Muhammad Syahrur's reconstruction of Muhkam's verses which he categorized as al-Risalah while Mutasyabih as al-Nubuwwah. This paper is a form of criticism of Syahrur's ijtihad in interpreting a verse that is far different from traditional Islamic scholars from both the salaf and khalaf circles. Keyword: Muhkam and Mutasyabbih, Contemporary, Muhammad Syahrur Abstrak Muhkam Mutasyabbih merupakan sebuah istilah pada sisi kejelasan dan kesamaran makna al-Quran. Dalam hal ini para mufassir klasik sudah mengklasifikasikan beberapa metode pendekatan agar bisa menelurkan sebuah tujuan dari ayat yang dimaksud. Namun demikian, Muhammad Syahrur mempunyai cara pandang berbeda dalam memahami ayat-ayat Muhkam Mutasyabbih. Sebagai seorang pemikir islam kontemporer yang syarat akan kontroversial ini, Muhammad Syahrur beranggapan bahwa seluruh kajian-kajian klasik bukanlah suatu hal final. Perlu adanya pembaharuan agar menghasilkan maqosidul ayat yang sesuai dengan konteks dan prinsip-prinsip masa kini. Berangkat dari sini, penulis menyajikan prinsip teoritis yang digaungkan Muhammad Syaḥrur dalam memahami ayat-ayat Muḥkam Mutasyabbih serta memaparkan penafsiran dan implikasinya terhadap penafsiran al-Quran. Selanjutnya, dalam penelitian ini penulis temukan poin penting yaitu rekonstruksi Muhammad Syahrur tentang ayat-ayat Muhkam yang ia kategorikan sebagai al-Risalah sedangkan Mutasyabih sebagai al-Nubuwwah. Tulisan ini sebagai wujud kritik atas ijtihad Syahrur dalam menafsirkan sebuah ayat yang jauh berbeda dengan ulama tradisional Islam baik dari kalangan salaf maupun khalaf. Kata Kunci: Muhkam dan Mutasyabbih, Kontemporer, Muhammad syahrur
Ilmu Hikmah: Dari Dogma Ke Paradigma (Interpretasi Ma’na-Cum-Maghza,Q.S. Al-Baqarah: 129) Tesa Maulana; Tarto
MAGHZA Vol 7 No 2 (2022): Juli - Desember 2022
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v7i2.7313

Abstract

Anggapan ilmu hikmah sebagai ilmu kesaktian atau ilmu perdukunan adalah akibat penyempitan makna dari kata hikmah yang sebenarnya luas. Penyempitan makna tersebut dipengaruhi oleh hasil terjemah dalam kamus besar bahasa Indonesia. Terlebih lagi jika dihubungkan dengan agama oleh masyarakat yang pada akhirnya menjadi sebuah dogma dalam memandang ilmu hikmah sebagai ilmu kesaktian. Padahal keluasan makna kata hikmah disebutkan salah satunya dalam Q.S. Al-Baqarah: 129 sebagai salah satu sumber ilmu bagi kehidupan manusia. Hikmah sebagai sebuah ilmu maka tentu saja cakupannya harus luas dan tidak terpaku oleh beberapa jenis ilmu saja seperti ilmu spiritual dan sejenisnya. Oleh karena itu anggapan terkait ilmu hikmah sebagaimana disebutkan di atas harus dikonstruksi ulang dan diperluas. Maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk merekonstruksi pandangan terhadap ilmu hikmah yang sempit (sebuah dogma) menjadi lebih luas (sebagai paradigma). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika ma’na-cum-maghza untuk menemukan makna, signifikansi serta implikasi ayat terkait ilmu hikmah. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ilmu hikmah bukan hanya sebuah ilmu kesaktian atau ilmu perdukunan saja, tetapi segala jenis ilmu yang dapat membawa manfaat untuk kehidupan, bahkan ilmu tambal ban dapat dikatakan juga sebagai ilmu hikmah. Karena secara ma’na dan maghza, maksud Q.S. Al-Baqarah: 129 adalah anjuran agar manusia terus membangun peradaban di dunia.
Resepsi Masyarakat terhadap Ayat Al-Qur’an sebagai Media Penyembuh dalam Menghadapi Penyakit Perut (Kajian atas Tradisi Masyarakat Bugis Bone) Ruslan Sangaji
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7941

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mengeksplor tentang resepsi masyarakat Bugis terhadap ayat Al-Qur’an sebagai media penyembuh dalam menghadapi sakit perut. Resepsi masyarakat terhadap Al-Qur’an merupakan penelitian living Qur’an yang akan menganalisis tentang bagaimana Al-Qur’an diterima dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari  masyarakat Bugis di Bone yang terkait dengan penggunaan ayat-ayat tertentu dalam pengobatan sakit perut.  Istilah living Qur’an merupakan istilah jenis penelitian yang hendak menggambarkan dan menganalisis cara masyarakat mempraktikkan nilai-nilai dan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari. Kajian ini menggunakan pendekatan deduktif yang bersifat kualitatif deskriptif. Pendekatan deduktif ini didasarkan pada pendeskripsian  bentuk penerimaan dan praktik  masyarakat  terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang diyakini sebagai ayat yang memiliki kekuatan dalam penyembuhan sakit perut. Data penelitian dikumpulkan  dengan cara observasi dan wawancara pada masyarakat Bugis Bone secara acak.  Selanjutnya akan menganalisis dari sudut pandang ilmu Al-Qur’an dan tafsir terhadap pandangan masyarakat atas praktik pengobatan yang diyakininya sebagai nilai-nilai dari ajaran Al-Qur’an. Ilmu medis telah mengalami kemajuan saat ini, akan tetapi masih terdapat pemahaman ditengah masyarakat Bugis  di Bone yang meyakini kekuatan dan keutamaan ayat Al-Qur’an yang dapat membantu masyarakat dari gangguan kesehatan. Bentuk keyakinan ini tidak sepenuhnya diperoleh melalui pengajaran yang didasarkan dari referensi atau skala informatif melainkan  hanya sekadar performatif. Makna substansi ayat yang digunakan dalam suatu praktik penyembuhan, justru tidak terlihat korelasi  di dalamnya.
Studi Diskursif terhadap Gap Kepemimpinan Wanita dalam Al-Qur’an Saibatul Hamdi; Ahmad Riyadh Maulidi
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.6175

Abstract

Gap perspektif mengenai kepemimpinan wanita nampak tak kunjung usai diperbincangkan. Ada berbagai alasan yang masing-masing diusulkan untuk menguatkan pendapatnya. Namun sejatinya gap perspektif ini dapat terselesaikan jika dapat menakar dan memahami dalil-dalil yang ada secara tepat. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis tentang (1) dilema kepemimpinan wanita dalam Islam, (2) potret kepemimpinan wanita dalam sejarah, (3) tinjauan Al-Qur’an terhadap kepemimpinan wanita. Metode yang digunakan adalah studi pustaka (library research) dengan mengelaborasi ayat-ayat Al-Qur’an dan menyandingkannya bersama referensi relevan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa: (1) persepektif mengenai kepemimpinan wanita dalam Islam terbagi menjadi dua golongan, ada yang berpendapat tidak dibolehkan dan ada pula yang berpendapat masih dibolehkan namun pada ranah tertinggi dilarang. (2) Secara histori, sebenarnya banyak wanita yang sukses dalam memimpin sebuah kekuasaan terlebih dalam Al-Qur’an disebutkan kisah Ratu Balqis yang luar biasa. (3) Tinjauan Al-Qur’an mengenai kepemimpinan wanita di antaranya melihat kesuksesan Ratu Balqis sebagai Ratu Saba’, adanya hak wanita dalam berpolitik, dan terdapat persamaan hak antara pria dan wanita. Sehingga antara pria dan wanita sejatinya terdapat kesetaraan sesuai porsi masing-masing.
Al-Dakhil dalam Tafsir al-Kasysyaf Karya Al-Zamakhsyari Azalia Wardha Aziz
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.6675

Abstract

Perkembangan tafsir al-Qur’an meliputi penafsiran makna yang terkandung dalam al-Qur’an, sekaligus penerapan maupun kontekstualisasinya dalam kehidupan sehari-hari. Produk tafsir al-Qur’an yang dihasilkan oleh mufassir, tidak selamanya sama atau selaras antara satu sama lain. Keahlian, kecenderungan dan metode yang digunakan oleh mufassir, menjadi beberapa faktor utama penyebab terjadinya perbedaan penafsiran. al-Dakhi>l dalam istilah mufassir, merupakan tafsir atau penafsiran yang tidak memiliki asal   sedikitpun dalam agama, dengan tujuan merusak kandungan al-Qur’an. Oleh sebab itu, ilmu al-dakhi>l dibutuhkan untuk membersihkan dan menstrelisasi al-Qur’an dari hal-hal yang bukan sebenarnya dari al-Qur’an. Penelitian ini akan menguraikan mengenai al-dakhi>l yang dilakukan salah satu mufassir beraliran Mu’tazilah yaitu al-Zamakhsyari. Model penelitian yang digunakan, yaitu penelitian kualitatif dengan menerapkan jenis penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada beberapa penafsiran al-Zamakhsyari terhadap ayat-ayat al-Qur’an termasuk ke dalam al-dakhi>l. Aliran Mu’tazilah sebagai keyakinan al-Zamakhsyari, menjadi salah satu faktor berpengaruh pada penafsirannya. Hal tersebut dapat diperhatikan pada beberapa penafsiran al-Zamakhsyari yang tidak terlepas dari ideologi keyakinan yang dimilikinya. Ideologi aliran Mu’tazilah antara lain peniadaan sifat Tuhan, keadilan Tuhan, janji dan ancaman, tempat di antara dua tempat dan perintah melaksanakan perbuatan baik dan larangan perbuatan munkar.
Antropologi Al-Qur’an dalam Diskurus ‘Ulum Al-Qur’an Kontemporer Abdullah Hanapi
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7097

Abstract

Model dialektika antara antara wahyu dan budaya memberikan pemahaman yang beragam dalam pembahasannya, bagaimana tidak?!, wahyu yang selanjutnya ditulis oleh manusia jika dipahami, turun seolah merekam peritiwa-pristiwa yang terjadi pada saat itu dalam kaitannya melakukan adaptasi, akomodasi, dan koreksi terhadap tradisi kebudayaan, bahkan pembahasan seperti ini dalam diskusi ulum al-Quran klasik menjadi pembahasan konteks makkiyah-madaniyah untuk memahami ayat, asbab al-Nuzul ayat, munasabah antar ayat dan pembahasan lainnya untuk melihat konteks historis, sosial kemasyarakatan, pada saat yang sama tinjauan terhadap ulum al-Quran klasik mungkin kita hanya akan menemukan diskusi seperti ini dari kacamata teoritis atau yang sifatnya sedikit historis, dan tidak sampai menyentuk hubungan “wahyu dan budaya” yang justru kita mendapatkannya pada model ulum al-Quran saat ini misalnya pada Mafhum al-Nas dan Qira’ah Mu’asirah karya Sahrur, termasuk yang dibahas adalah makiyah madaniyah, asbab al-Nuzul dan beberapa teori lainnya sebagaimana dalam karya ulum al-Quran klasik, perbedaanya pembacaan ulum al-Quran sekarang lebih “antropologis” dengan menjadikan “manusia” sebagai pusat perhatian maka ini juga dapat disebut “antroposentris” dimana materi-materi pada ulum al-Quran kontemporer lebih berorientasi memahami kemanusiaan dalam kebudayaanya berhadapan dengan wahyu yang transenden. Tulisan ini membahas Antropologi al-Quran dalam pembacaan ulum al-Quran kontemporer menggunakan metode dan pendekatan historis antropologis, dan selanjutnya menemukan beberapa pembahasan dalam konteks dialektika antara wahyu dan kebudayaan dalam banyak poin penting.