cover
Contact Name
Munawir
Contact Email
munawir.0510@gmail.com
Phone
+6285869740005
Journal Mail Official
maghza@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur'an and Tafsir
ISSN : 25286773     EISSN : 25499971     DOI : https://doi.org/10.24090/maghza
Core Subject : Religion, Social,
Maghza: Jurnal Ilmu al-Qur`an and Tafsir concerns on publishing scientific works issuing on Qur`anic studies which specifies researches on Qur`an, its commentary, its translation, and living Qur`an. It has profound and contextual vision and maqasidi-oriented. it is published twice a year. Januari-Juni edition issues on studies of Ilmu al-Qur`an dan Qur`anic translation. Meanwhile, July-December contains studies of Qur`anic commentary.
Articles 171 Documents
Dialog Lintas Agama dalam Al-Quran: Analisis Term Ahl Al-Kitab dalam Tafsir Al-Misbah Muhtarul Alif
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7135

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menggali konsep dialog antar agama melalui penelaahan kata ahl al-kitab dalam Tafsir al-Misbah. Ahl al-Kitab merupakan istilah dalam al-Quran yang merujuk kepada orang beragama Yahudi dan Nasrani yang dalam realitas masyarakat sering dipandang negatif. Penyebutan kata tersebut dalam al-Quran mengandung pelajaran mengenai dialog antar agama yang dapat menjadi teladan dalam membangun sebauh relasi pada masyarakat plural. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan menggunakan metode tafsir tematik. Objek kajian riset ini adalah penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah terhadap kata Ahl al-Kitab. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa Ahl al-Kitab, menurut Quraish Shihab, terbagi menjadi baik dan buruk. Ahl al-Kitab yang tercela laik mendapatkan perlakuan adil dari kaum Muslim. Sementara Ahl al-Kitab yang terpuji harus diperlakukan dengan kasih sayang dan ramah.
Analisis Al-Dakhil Kisah Nabi Sulaiman dalam Tafsir Al-Iklil Karya Misbah Mustafa Alif Hibatullah; Musyarrofah
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7850

Abstract

Tafsir al-Iklil fi Ma’ani al-Tanzil Karya Misbah Mustafa menafsirkan surat al-Naml ayat 16 dengan riwayat ahli kitab bahwa ada burung dara dan katak yang bertasbih kepada Allah, dalam surat al-Naml ayat 44 mengisahkan Nabi Sulaiman dan ratu Bilqis dengan kisah-kisah israiliyyat yang berlawanan dengan syariat Islam, ketika menafsirkan surat Saba’ ayat 13 yang mengatakan Nabi Sulaiman memerintahkan jin membuat patung para Nabi terdahulu dan ulama yang dipasang di masjid dengan tujuan agar masyarakat ingat dan semangat fokus beribadah. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan menghimpun berbagai sumber literasi sebagai bahan utama kajian. Untuk menilai al-Dakhil penafsiran tersebut digunakan dua langkah yakni mencari sumber tafsir dan analisis al-Dakhil. Untuk mencari sumber tafsir tersebut diselidiki dalam berbagai kitab tafsir, kemudian dinilai al-Dakhil dalam penafsiran tersebut dengan syariat Islam. Sumber penafsiran tafsir al-Iklil surat al-Naml ayat 16 adalah tafsir al-Sawi. Tidak ditemui dalil yang khusus membenarkan adanya burung dara dan katak yang bertasbih, penafsiran Misbah Mustafa dibenarkan dengan dalil semua makhluk bertasbih kepada Allah, baik yang di bumi maupun di langit. Sumber penafsiran tafsir al-Iklil surat al-Naml ayat 44 adalah tafsir al-Qurtubi dan tafsir al-Tabari, terdapat al-Dakhil penafsiran yang dilakukan Misbah Mustafa ketika menafsirkan ayat ini karena memakai riwayat israiliyyat yang berlawanan dengan ajaran Islam. Sumber penafsiran tafsir al-Iklil surat Saba’ ayat 13 adalah tafsir al-Qurtubi dan tafsir al-Tabari, dalam tafsirnya Misbah Mustafa menyalahi logika dan juga sejarah dalam Al-Qur’an, yakni telah dilarangnya patung sebagai media beribadah sejak zaman Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim.
Term Mīṡāqan Ģalīẓan dalam QS. An-Nisa’: 21 (Analisis Semantik Toshihiko Izutsu) Toyyibatul Qomariyah
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7884

Abstract

Al-Qur’an merupakan mukjizat yang diturunkan kepada nabi Muhammad dengan kandungan sastra tinggi. Salah satu cara memahaminya ialah menggunakan metode semantik atau kebahasaan. Seperti term “Mīṡāqan Ģalīẓan” dalam al-Qur’an hanya digunakan sebanyak tiga kali. Dari ketiga ayat tersebut term ini digunakan sebagai simbol perjanjian antara ummat-Nya kepada Allah Swt. akan tetapi berbeda dalam salah satu surah yakni QS. an-Nisa’ ayat 21 yang menggunakan term tersebut sebagai perjanjian suami kepada istrinya. Berawal dari gagasan inilah peneliti tertarik melakukan kajian ini. Penelitian ini ditulis untuk mengetahui makna term Mīṡāqan Galīẓān dalam al-Qur’an menggunakan analisis semantik. Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan. Adapun pendekatan yang digunakan adalah pendekatan semantik Toshihiko Izutsu. Hasil dari peneliti ini menemukan bahwa penggunaan term ini dikhususkan untuk kesakralan perjanjian tersebut, Mīṡāqan Galīẓān adalah perjanjian yang kuat lagi kokoh yang hanya disebutkan tiga kali dalam al-Qur’an yakni Allah dengan nabi ulul azmi (Al-Ahzab: 7), Allah dengan Bani Israil (An-Nisa’: 154), dan suami kepada istrinya dalam pernikahan (An-Nisa’: 21). Hal ini menunjukkan bahwa perjanjian antara suami dan istri dalam pernikahan sangat kuat dan dihargai oleh Allah sehingga bobot perjanjiannya sama dengan bobot perjanjian Allah dengan makhluknya. Spirit Mīṡāqan Galīẓān bisa dijadikan prinsip dalam menjalani kehidupan rumah tangga, jika mulai tercipta kondisi dan situasi yang kurang harmonis maka ingatlah kembali bahwa sudah tercipta ikatan suci atas dasar kesepakatan (perjanjian) antara calon suami dan istri untuk hidup bersama, sehingga bisa lebih mudah dan terarah dalam mewujudkan keluarga yang ideal.
Kontekstualisasi QS Al-Isrā (17): 31 tentang Larangan Pembunuhan Anak Pendekatan Tafsir Kontekstual Abdullah Saeed Zahfa Lisnaeni Putri; Naqiyah Naqiyah
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.7963

Abstract

Idealnya anak merupakan anugrah yang diamanahkan Allah kepada hamba-Nya sehingga harus dilindungi dan dipenuhi hak-haknya. Akan tetapi, akhir-akhir ini tidak sedikit terjadi pembunuhan dan kekerasan terhadap anak dalam aneka ragam bentuknya. Pembunuhan terhadap anak sudah terjadi pada zaman Jahiliyah, sebagaimana  telah direspon Al-Qur’an dalam surah Al-Isrā (17): 31. Disebutkan bahwa masyarakat Jahiliyah membunuh anak-anak perempuan mereka karena takut akan terjadinya kemiskinan, namun tidak sedikit orang tua di zaman sekarang membunuh anaknya dengan berbagai macam sebab yakni bukan hanya takut miskin. Oleh karena itu, kami tertarik untuk mengkaji lebih dalam mengenai QS Al-Isrā (17): 31. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi QS Al-Isrā (17): 31  tentang larangan membunuh anak karena takut miskin, dengan menggunakan teori kontekstual Abdullah Saeed. Hasil penelitian ini adalah: QS Al-Isrā (17): 31  mengandung larangan membunuh (dalam bentuk instruktif dan universal). Jika dikontekstualisasikan, larangan tersebut dapat diperluas jenisnya pada aneka ragam kekerasan fisik, psikis, seksual, dan ekonomi. Demikian juga penyebabnya bukan hanya karena faktor ekonomi, tetapi dapat mencakup faktor lainnya seperti masalah keluarga, sosial, dan politik. Penelitian ini merupakan kajian kualitatif dengan jenis kepustakaan (library search) dengan sumber primer QS Al-Isrā (17): 31  dan sumber sekunder berupa kamus Al-Qur’an, kitab-kitab tafsir, artikel dalam jurnal, dan literatur lain yang relevan.
Pemaknaan Puji-Pujian Al-Fatihah K.H. Achmad Ghufron dalam Perwujudan Akulturasi Masyarakat Muhammad Faiz Abdulloh Abdulloh; Elya Munfarida
MAGHZA Vol 8 No 1 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i1.8455

Abstract

Tradisi puji-pujian merupakan sebuah tradisi yang kental dengan kebudayaan di Pulau Jawa. Hal ini sangat wajar karena adanya proses akulturasi kebudayaan dengan ajaran Islam. Dimana, dominitas puji-pujian di Jawa merupakan kandungan ajaran Islam yang dijadikan nyanyian atau tembang Jawa. Penelitian ini mencoba membedah sebuah sistem kultural dalam pemaknaan puji-pujian al- fatihah K.H. Achmad Ghufron dalam perwujudan akulturasi masyarakat. Bentuk syair merupakan pemaknaan dari K.H. Achmad Ghufron seorang kiai dan pengasuh Pondok Pesantren Sirojuddin terhadap Surat Al-Fatihah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang berjenis lapangan atau Field Research yang diolah menggunakan analisis milik Miles dan Huberman. Penelitian ini juga memakai teori Akulturasi Islam dan Budaya Lokal yang dalam proses akulturasinya ada tiga yaitu Universalitas Islam, Dukungan Sosial dan Afiliasi Budaya, dan Integrasi Ajaran Agama Islam kedalam Budaya Lokal. Penulis menemukan hasil penelitian diantaranya, Pertama, Tradisi puji-pujian surat al- fatihah ini merupakan sebuah tradisi yang masuk dalam kategori akulturasi Islam dan Budaya Lokal dalam bentuk Seni, dibuktikan dengan isi syair yang menjadi sebuah puji-pujian atau nyanyian khas dari budaya Jawa. Kedua, Tradisi puji- pujian surat al-fatihah ini merupakan sebuah tradisi yang mempunyai sistem kultural yang lengkap yaitu dari Universalitas Islam, Dukungan Sosial dan Afiliasi Budaya, dan Integrasi Ajaran Islam kedalam Budaya Lokal.
Eksistensi Manhaj Al-Qiraat Al-Mufassirah dalam Penafsiran Al-Qur’an Yudantia, Ditta Maya
MAGHZA Vol 8 No 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i2.6688

Abstract

Qiraat merupakan salah satu cabang ilmu Al-qur’an yang sangat penting untuk difahami oleh para mufassir agar mendapatkan penafsiran yang lebih komprehensif dalam mengungkap makna dan kandungan Al-qur’an, dengan fokus kajiannya yaitu kajian terhadap ragam qiraat mutawattir. Qiraat mutawattir merupakan qiraat yang periwayatannya disandarkan kepada Rasulullah SAW. Disisi lain, kajian qiraat merupakan salah satu kajian yang kurang mendapat perhatian dari para akademisi, hal ini disebabkan bahwa ilmu qiraat merupakan salah satu cabang ilmu yang cukup rumit, karena harus melihat dari berbagai segi dalam pembahasannya yaitu dari segi periwayatan, ragam Qiraat maupun pendalaman bahasa Arabnya. Meskipun demikian, seperti halnya cabang ilmu lainnya kajian Qiraat juga memiliki manhaj atau metode dan langkah-langkah yang harus diperhatikan para mufassir yang fokus kajiannya membahas mengenai keragaman Qiraat, yang dikenal sebagai manhaj Qiraat al-Mufassirah. Metode penelitian yang digunakan pada artikel ini yaitu metode library research dengan merujuk pada kitab-kitab qiraat serta kitab – kitab tafsir guna memperoleh hasil yang dimaksudkan. Adapun hasil penelitian yang didapatkan bahwa manhaj qiraat mufassirah memiliki andil yang sangat besar dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur’an dan sudah digunakan sejak era para sahabat dalam menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.
Durhaka Perspektif Tafsir Al-Mishbah Nurhafid, Soheb; Rohman, Ali Abdur
MAGHZA Vol 8 No 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i2.6805

Abstract

Artikel ini dilatarbelakangi oleh kerapnya pemahaman mengenai durhaka kepada kedua orang tua, padahal durhaka yang dijelaskan di dalam al-Qur’an bukan hanya kepada kedua orang tua saja. Memang durhaka kepada kedua orang tua lebih sering terdengar di telinga dan sering ditemui, akan tetapi kita juga perlu mengetahui bahwa durhaka dapat juga terjadi kepada Tuhan dan rasul-Nya yang mana mungkin saja tanpa disadari kita melakukan perbuatan tersebut. Selain itu durhaka juga dapat terjadi di dalam hubungan antara suami dan istri. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kajian pustaka (library research). Sedangkan teori yang digunakan peneliti dalam melakukan analisis data adalah analisis isi (content analysis) yaitu pembahasan lebih mendalam lagi terhadap isi dari suatu informasi baik bersifat tertulis ataupun tercetak pada media massa. Di dalam al-Qur’an durhaka terjadi bukan hanya seorang anak kepada kedua orang tuanya saja, akan tetapi bisa juga terjadi terhadap hamba kepada Tuhannya, umat kepada rasulnya, dan durhaka antara suami istri. Seperti yang dijelaskan dalam Q.S. al-Infithar: 6-9 bahwa seorang hamba bisa durhaka kepada Tuhannya dengan cara mereka tidak mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dijelaskan juga di dalam Q.S. Hud: 59 bahwa suatu umat dapat durhaka kepada rasulnya dengan cara tidak mempercayai ajaran yang telah dibawa oleh rasul tersebut. Durhaka kepada kedua orang tua dijelaskan di dalam Q.S. al-Isra’: 23 bahwa seorang anak durhaka kepada kedua orang tuanya karena membantah apa yang diinginkan oleh orang tuanya. Sedangkan nusyuz dijelaskan dalam Q.S. an-Nisa’: 34 bahwa seorang suami harus memenuhi hak istrinya, begitu juga sebaliknya. Sedangkan dalam menganalisis kata durhaka peneliti akan menggunakan metode sinonimitas, yakni kesamaan makna dengan bentuk nama atau lafal yang berbeda.
Mengungkap Rahasia Besi dalam Al-Qur’ān Menurut Zaģlul Rāģib Muḥammad An-Najjār (Pendekatan At-Tafsīr Al-Ίlmī): Mengungkap Rahasia Besi dalam Al-Qur’ān Menurut Zaģlul Rāģib Muḥammad An-Najjār (Pendekatan At-Tafsīr Al-Ίlmī) Adi Anggara, Deki Rido; Rofiq Asnawi, Aqdi; Nasution, Alhafidh; Harun, Harun
MAGHZA Vol 8 No 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i2.7386

Abstract

Besi merupakan unsur paling banyak digunakan dalam dikehidupan ini, banyak ilmuwan mengkaji tentang besi, mulai dari proses terbentuknya besi, sejarah besi, manfaat besi dan lain sebagainya. Dalam al-Qur’an kata besi disebutkan 6 kali dalam surat dan ayat berbeda. Namun, literatur yang membahas tentang besi dari sudut Sains dan Agama Islam masih sangat langka dan masih jauh dari fokus dalam kaitan sains modern, adapun literatur yang membahas masalah ayat-ayat kauniyah tentang besi masih sedikit disinggung. Peneliti ingin membahas tentang besi dalam al-Qur’an menurut Zaģlul Rāghib Muḥammad An-Najjār. Metode dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif untuk menjelaskan pandangan Zaģlul Rāghib Muḥammad An-Najjār pada besi dan ditambahkan dengan pendapat para mufassir dan ilmuwan lainnya. Artikel ini menyimpulkan bahwa besi merupakan unsur yang berasal dari pecahan bintang, proses tersebut terjadi 15 juta tahun lalu, ada 2 unsur yang terdapat di dalam besi yaitu gas hidrogen dan gas helium. Kekuatan dan kehebatan besi dilihat dari sisi jumlah, atom dan kekuatan material nya. Dan manfaat besi terbagi menjadi 4 bidang, diantaranya: material dan konstruksi, geologi dan geofisika, kesehatan dan botani.
Revolusi Kajian Tafsir: Pengamatan Kritis terhadap Surat Muhammad Ayat 9 dalam Konteks Akun Instagram @Quranreview Nastiar, Muhammad Addien
MAGHZA Vol 8 No 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i2.7496

Abstract

Tafsir al-Quran pada umumnya disajikan secara tekstual di dalam kitab-kitab tafsir yang ditulis oleh para Mufassir, dari era klasik sampai era kontemporer. Peran internet pada zaman ini sangatlah penting, akun instagram @Quranreview hadir sebagai kreator yang selalu mengaitkan trend dengan ayat-ayat al-Quran yang dinilai memiliki korelasi dengan trend tersebut. @Quranreview seringkali mengaitkan teks judul dengan trend ataupun konteks trend dengan ayat-ayat al-Quran. Penelitian ini akan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Adanya penelitian guna untuk melihat keabsahan korelasi antara trend dan konten tafsir yang disajikan oleh akun @Quranreview tersebut dan sebagai usaha untuk memancing minat para ahli untuk memberi perhatian terhadap eksistensi dari tafsir visual yang bertebaran di media sosial. Tafsir al-Quran yang selama ini hanya tercantum didalam kitab-kitab dapat divisualisasikan dengan menarik, sehingga tafsir al-Quran dapat dipahami secara mudah dan dengan penyebaran tafsir visual di media sosial, dapat menarik minat masyarakat awam untuk memahami makna-makna yang terkandung di dalam al-Quran secara sederhana, menarik, dan mudah.
Problematika Penafsiran Ayat-ayat Jihad di Era Modern (Analisis Penafsiran Ayat-ayat Jihad dalam Perspektif Tafsir Nusantara) Fitriawan, Ahmad; Zen, Abdul Muhaimin
MAGHZA Vol 8 No 2 (2023): Juli-Desember 2023
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora (FUAH), Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/maghza.v8i2.7726

Abstract

Penerapan konsep jihad perang di negeri-negeri yang hidup damai tidaklah relevan dengan konsep jihad dalam Islam. Dalam kondisi normal seperti di negara Indonesia, jihad lebih ditekankan dalam bentuk dakwah untuk menjaga serta memperbaiki mentalitas dan moralitas warga negara khususnya umat Islam. Namun demikian bukan berarti kemudian wawasan tentang jihad perang ditinggalkan secara total, karena bagaimanapun ia adalah bagian dari syariat yang memiliki kedudukan yang tinggi dan harus dipahami dengan benar. Penelitian ini dilakukan untuk mengangkat penafsiran-penafsiran problematis terhadap ayat-ayat jihad dalam beberapa karya tafsir Nusantara. Dengan pendekatan sosio-historis dan fenomenologi, penulis mengelaborasi pemahaman beberapa mufassir Nusantara dan menemukan bahwa terdapat beberapa problem dalam penafsiran ayat-ayat jihad baik yang terkesan mendukung paham jihadis radikalis maupun melemahkan kedudukan jihad itu sendiri.