cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan
ISSN : 23018267     EISSN : 25408291     DOI : -
Core Subject : Social,
JIPT (Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan) publishes a scientific papers on the results of the study/research and review of the literature in the sphere of psychology.
Arjuna Subject : -
Articles 433 Documents
EFIKASI DIRI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS YANG BERPRESTASI DI BIDANG OLAH RAGA Haq, Aniq Hudiyah Bil
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.076 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v4i2.3524

Abstract

Kemampuan menilai kesanggupan diri sendiri dalam menjalankan tugas disebut dengan efikasi diri. Kemampuan ini dapat dilakukan semua orang, tidak terkecuali pada anak berkebutuhan khusus. Tujuan penelitian ini adalah untuk  mengetahui bagaimana bentuk efikasi diri dan juga dinamikanya pada anak berkebutuhan khusus penyandang tuna daksa yang sudah berprestasi dalam bidang olah raga. Respoden dalam penelitian ini adalah dua orang anak berkebutuhan khusus yang bersekolah di SDLB Negeri Colomadu, Kabupaten Karanganyar. Metode pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukan bahwa efikasi diri yang tinggi pada anak berkebutuhan khusus dipengaruhi beberapa faktor antara lain: pengalaman keberhasilan, pengalaman orang lain, dan persuasi sosial yang mereka dapatkan ketika dengan pelatih, serta rendahnya kecemasan dari responden.Kata Kunci: Efikasi Diri, Anak Berkebutuhan Khusus, Olah Raga, Atlet.The ability to assess themselves perform the tasks referred to self-efficacy, this ability could be done by everyone, no exception with children with special needs. The purpose of this study was to determine how the shape and dynamics of self-efficacy in children with special needs physically disabled who already excelent in the field of sports. Respondents in this study were two children with special needs who attend in SDLB Colomadu, Karanganyar. Data collection method is by observation and interviews. The results showed that high self-efficacy in children with special needs is influenced by several factors, among others: the success of the experience, the experience of others, and social persuasion that they get when the coach, and the low level of anxiety of the subject.Keyword: Self efficacy, Special Needs Children, Sport, Athlet
MASA KERJA DENGAN JOB ENGAGEMENT PADA KARYAWAN Kurniawati, Irma Dwi
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.345 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v2i2.2005

Abstract

Setiap karyawan memiliki masa kerja yang berbeda-beda. Dari masa kerja tersebut dapat terlihat seberapa besar seorang karyawan memiliki job engagement pada saat bekerja. Seorang karyawan yang memiliki job engagement dapat dilihat dari beberapa faktor seperti: faham terhadap visi dan misi perusahaan, selalu memiliki ide-ide baru, fokus dalam bekerja serta selalu ingin memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui apakah terdapat hubungan masa kerja dengan job engagement pada karyawan. Penelitian ini dilakukan terhadap 399 karyawan PT. Aneka Tambang Pomalaa yang ada di Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala UWES (Utrechtn Work Engagement Scale).Untuk analisis data penelitian menggunakan Korelasi Product Moment yang dibantu dengan program SPSS for windows. Hasilnya dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara masa kerja dengan job engagement adalah 0,653. Uji signifikansi menunjukkan hasil 0,000 (p<0,01) berarti bahwa korelasi kedua variabel sangat signifikan. Kata kunci: Masa kerja, keterikatan kerja Every employer has different work time period. It will determine and will show how good an employer job engagement in their work. The one that owned a job engagement can be seen in some factors such as comprehending vision and mission of the company, having some new brilliant ideas, focusing on work and always giving the best to the company. The aim of this research is to find the answer about “Is there any correlation between tenure and job engagement?” this research done to 399 employers of PT. Aneka Tambang Pomalaa which located in Kolaka, Sulawesi Tenggara. Collecting data done by using UWES (Utrechtn Work Engagement Scale). The result analysis of the research counted by using Product Moment Correlation which supported by SPPS program for windows.The coefficient of the result between the two variables is 0,065 which significance importance results 0,000 (p<0,01). It means that there is a significant correlation between tenure and job engagement. Keywords: Tenure, job engagement
Kematangan sosial dan problem focused coping pada laki-laki usia dewasa awal Wahyudhi, Qudsi Iftikar; Winarsunu, Tulus; Amalia, Sofa
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1190.361 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v7i1.7835

Abstract

Abstrak. Pada masa dewasa awal yang penuh dengan berbagai perubahan sangat berpotensi menimbulkan berbagai stressor. Dirasa perlu bagi individu untuk memiliki cara penyelesaian masalah yang baik. Salah satunya adalah dengan mengembangkan problem focused coping untuk menyelesaikan sebuah masalah. Pada sisi lain, kematangan sosial diduga dapat mempengaruhi seseorang dalam penggunaan problem focused coping untuk menyelesaikan masalahnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh kematangan sosial terhadap problem focused coping pada laki-laki usia dewasa awal. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, dengan melibatkan 121 pekerja, jenis kelamin laki-laki dengan rentang umur 18-25 tahun dan sedang bekerja. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala kematangan sosial dan skala problem focused coping. Data dianalisis menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian mengindikasikan ada pengaruh yang signifikan antara kematangan sosial dan problem focused coping pada laki-laki usia dewasa awal yang bekerja di kota Jakarta.Kata kunci: Kematangan sosial, problem focused coping, stressAbstract. In early adulthood which full of various changes, it has the potential to cause many stressors. A good problem solving skill is needed to overcome the stressor. Problem focused coping is one of the best way to solve a problem. On the other hand, social maturity seemed to affect a person in the use of problem focused coping to solve a problem. The purpose of this research is to find out social maturity’s influence towards problem focused coping in early adulthood men. This research uses purposive sampling as the technique of sampling, involving 121 male workers with the age range between 18-25 years old and were working. The measuring instrument used in this research is the scale of social maturity and problem focused coping scale. The data are analysed with simple linear regression. Results of this research showed that there is a significant influence between social maturity and problem focused coping in early adulthood men that works in Jakarta.Keyword: Social maturity, problem focused coping, stress
BURNOUT DITINJAU DARI BIG FIVE FACTORS PERSONALITY PADA KARYAWAN KANTOR POS PUSAT MALANG Hardiyanti, Ranny
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (823.639 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1587

Abstract

Burnout merupakan "epidemi" yang melanda  dunia kerja. Burnout  adalah istilah  yang  menggambarkan kondisi emosional seseorang yang merasa lelah dan jenuh secara mental, emosional dan fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan yang meningkat. Karakteristik kepribadian merupakan salah satu penyebab terjadinya Burnout. Pada penelitian ini karakteristik kepribadian yang digunakan adalah Big Five Factors Personality. Tujuan dari penelitian ini adalah ingin mengetahui perbedaan Burnout ditinjau dari Big Five Factors Personality pada karyawan Kantor Pos Pusat Malang. Penelitian ini menggunakan metode non-tes yaitu skala Burnout (Maslach Burnout Inventory-General Survey) dan skala Big Five Factors Personality (Big Five Inventory). Pengukuran dilakukan terhadap 100 subjek pada karyawan Kantor Pos Pusat Malang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis statistik anova one way. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan Burnout yang signifikan (F=2,929; Sig=0,025<0,05) ditinjau dari Big Five Factors Personality pada karyawan Kantor Pos Pusat Malang dengan faktor kepribadian neuroticism memiliki mean Burnout  paling tinggi (32,36) dan agreeableness yang memiliki mean Burnout paling rendah (26,07). Katakunci: Burnout, kepribadian, big five factors personality
PENGARUH PELATIHAN COACHING TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH PADA SUPERVISOR PT. X KALIMANTAN TIMUR Rahmah, Dian Dwi Nur Rahmah; Fahmie, Arief
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.402 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i2.4561

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara pelatihan coaching dengan kemampuan pemecahan masalah pada supervisor di PT.X Kalimantan Timur.Kemampuan Pemecahan masalah adalah kemampuan untuk mengenali dan merumuskan masalah, serta menemukan dan menerapkan pemecahan yang ampuh.Coaching adalah kunci pembuka potensi seseorang untuk memaksimalkan kinerjanya. Hipotesis yang diajukan adalah ada pengaruh pelatihan coaching terhadap kemampuan pemecahan masalah yang terdiri dari 4 aspek yaitu mampu memahami masalah, mampu mencari dan menilai alternatif solusi, mampu melaksanakan solusi, mampu melaksanakan evaluasi terhadap solusi yang telah di laksanakan. Penelitian ini melibatkan 26 supervisor baru dengan masa kerja 1 – 3 tahun. Alat ukur yang digunakan adalah skala stres kerja menurut Ellis dan Hunt (1993) yang berjumlah 25 butir. Validitas yang dihasilkan adalah 0,700 sedangkan uji reliabilitas menghasilkan koefisien reliabilitas alpha sebesar 0,908. Analisis hipotesis menggunakan Independent Sample t-test menunjukkan nilai signifikansi p value (p = 0,506 > 0,05) pada pascates, maka hipotesis dinyatakan tidak diterima. Dengan demikian, tidak ada perbedaan kemampuan pemecahan masalah pada kelompok eksperimen dan kontrol. Walaupun demikian, saat pelaksanaan tindak lanjut nilai signifikansi p value menunjukkan (p = 0,030 > 0,05) yang menandakan bahwa ada perbedaan dari pascates ke tindaklanjut pada kelompok eksperimen.Kata Kunci :Coaching, kemampuan Pemecahan Masalah, Pelatihan This study aims to determine whether there is influence between coaching training with problem solving skills on PT.X supervisor in East Kalimantan. Problem solving ability is the ability to identify and formulate problems, and find and implement effective solutions. Coaching is the key to unlocking a person's potential to maximize performance. The hypothesis is there are not coaching training effect on the ability of problem solving consists of four aspects which is able to understand the problem, which is able to seek and assess alternative solutions, able to implement the solution, able to carry out an evaluation of the solutions that have been implemented. The study involved 26 new supervisors with tenure 1-3 years. Measuring instruments used are problem solving scale according to Ellis and Hunt (1993), which amounted to 25 points. Validity produced was 0,700 while the reliability test result reliability coefficient alpha of 0.908. Hypothesis analysis using independent sample t-test showed a significance value of p value (p = 0.506> 0.05) in the post-test, the hypothesis stated are not accepted. Thus, there is no difference in the ability of solving problems in experimental and control groups. However, when the implementation of the follow-up showed a significance value p value (p = 0.030> 0.05), which indicates that there are differences of post-test to follow up the experimental group.Keywords: Coaching, Problem Solving Ability, Training
KECEMASAN ANTARA SISWA SMP DAN SANTRI PONDOK PESANTREN Aminullah, M. Afif
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.85 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v1i2.1578

Abstract

Banyak dijumpai remaja usia sekolah yang mengalami kecemasan terutama ketika mengikuti proses belajar di sekolah, termasuk siswa SMP dan santri Pondok Pesantren kelas I yang baru memasuki sekolah baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kecemasan antara siswa SMP dan santri pondok pesantren kelas I. Desain yang digunakan adalah desain non-experimen deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan dengan Taylor Manifest Anxiety Scale (TMAS) yang terdiri dari 50 item. Sampel penelitian ini sebanyak 84 orang. Analisis penelitian menggunakan Uji-T. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecemasan antara siswa SMP dan santri pondok pesantren kelas I dengan nilai sangat signifikan (t=4,64, p=0,000). Kecemasan santri pondok pesantren kelas I lebih tinggi (39,3%) dibanding siswa SMP kelas I (20,2%).Katakunci: Kecemasan, santri pondok pesantren, siswa SMP
PENGEMBANGAN ALAT UKUR KEMATANGAN KARIR SISWA SEKOLAH MENENGAH ATAS Riyadi, Arie Rakhmat
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 5, No 1 (2017)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1230.795 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v5i1.3837

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh banyaknya data yang menunjukkan rendahnya kematangan karier siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Penyebabnya karena kebutuhan siswa terhadap bimbingan karier tidak selaras, sebab layanan tidak didasari oleh data akurat kematangan karier. Data tersebut tidak tersedia karena alat ukur yang teruji untuk mengungkap kematangan karier siswa SMA belum ada. Tujuan penelitian ini mengembangkan alat ukur kematangan karier siswa SMA yang teruji. Penelitian ini penelitian pengembangan dengan prosedur mencakup: penetapan sistem penyekoran, uji validitas, uji reliabilitas, pembuatan norma dan penyusunan manual. Objek penelitian ini dinamai Skala Kematangan Karier (SKK). Sampel adalah siswa kelas XI dari SMA berstatus negeri dan swasta yang berlokasi di perkotaan, transisi, dan pedesaan, dengan total sampel 461 siswa. Penelitian menghasilkan SKK dua format, yakni format 1 dan format 2. Format 1 terdiri dari 48 butir multiple-choice dengan indeks reliabilitas tinggi (0.766) pada SEM sebesar 3.109, dan 4 butir soal esei dengan indeks reliabilitas sedang (0.684) pada SEM sebesar 1.186. Kemudian format 2 terdiri dari 38 butir soal berbentuk skala penilaian dengan lima pilihan yang memiliki indeks reliabilitas tinggi (0.807) pada SEM sebesar 7.969. SKK tersebut didampingi oleh seperangkat manual yang diperuntukkan bagi pengguna. Kata kunci: alat ukur, kematangan karier, siswa SMA. This research is motivated by the amount of data that show low career maturity of high school students. The reason was the career guidance are not aligned with the needs of students, it because the service is not based on accurate data of career maturity. The data is not available because the gauge tested to reveal the career maturity of high school students have not been exist. The research purposed to develop measurement tools. This developmental research covers certain procedure: scoring system, validity, reliability, norming and manual drafting. The object named Career Maturity Scale (CMS). The sample is class XI students from public schools and private located in urban areas, transitions, and rustic, with a total 461 students. The result, SKK built in two formats. Format 1 consists of 48 multiple-choice items with high reliability index (0.766) on SEM for 3.109, and four items essay with moderate reliability index (0.684) on SEM for 1.186 , Then the second format consists of 38 items shaped grading scale with five options that have a high reliability index (0.807) on SEM for 7.969. SKK was accompanied by a set of manuals intended for the user. Keywords: measurement instrument, career maturity, high school students.
PEMBENTUKAN KONSEP DIRI REMAJA PADA KELUARGA JAWA YANG BERGAMA ISLAM Saputri, Marliana Eka; Moordiningsih, Moordiningsih
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (390.447 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v4i2.3624

Abstract

Remaja merupakan masa dimana konsep diri dikembangkan. Konsep diri dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan sosial dimana individu tinggal, termasuk kebudayaan dan agama yang dianut oleh keluarga. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui peran dukungan keluarga dan mendeskripsikan bentuk-bentuk dukungan keluarga dalam pembentukan konsep diri remaja dengan latar belakang keluarga Jawa yang beragama Islam. Teknik sampling menggunakan purposive sampling sejumlah 80 siswa. Karakteristik sampel yaitu berusia 10-14 tahun atau setingkat dengan pendidikan SMP, memiliki orang tua lengkap, beragama Islam dan orang asli Jawa yang tinggal di Surakarta. Alat pengumpul data yang digunakan adalah kuesioner terbuka dan wawancara sebagai data pendukung. Analisa data menggunakan teknik deskriptif. Disimpulkan bahwa remaja dengan konsep diri yang baik memiliki keluarga dengan komunikasi yang baik, terbuka dan kedekatan hubungan antar semua anggota keluarga, selain itu orang tua senantiasa memberikan dukungan baik secara moril maupun materiil, dalam bentuk perhatian, motivasi dan nasehat. Selain itu ajaran agama islam dan nilai Jawa yang baik juga diajarkan untuk mendukung berkembang konsep diri yang baik pada remaja.Kata kunci : Remaja, konsep diri dan dukungan keluargaAdolescence is a period which the self-concept developed. The self-concept is influenced by experiences and environmenal backgroud  where people live, include the culture and the religion professed by the family. The purpose of this research was to determine the role of family support and to describe the forms of family support in the establishment of adolescent’s self-concept is reviewed against the background of Javanese Muslim family. The sampling using purposive sampling techniques with 80 students, the characteristics of the sample are aged 10-14 years with secondary school education or equivalent, have complete parents, Muslim and native people who live in Java, Surakarta. Data collection tool used was an open questionnaire and interview. Data analysis technique is to describe the results of interpretation. It was concluded that adolescents with a good self-concept have a family with good communication, open and close relationship. Other than, the parent always give support both morally and materially, in term of attention, motivation and advice. In addition to the religious teachings of Islam and Javanese good value also taught to support the evolving concept of good self in adolescents.Key Word:  Adolescence, Self-Concept, Family Support
Menjadi ibu hebat untuk menurunkan penolakan ibu terhadap anak dengan gangguan spektrum autis (GSA) Purwaningrum, Devia; Wahyuningsih, Hepi; Nugraha, Sumedi P
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 6, No 2 (2018)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (670.239 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v6i2.7140

Abstract

Abstrak. Sikap penerimaan ibu merupakan faktor penting dalam pengasuhan terhadap anak dengan gangguan spektrum autis (GSA). Ibu yang memiliki penerimaan yang tinggi mampu mengembangkan pengasuhan yang positif dan anak mampu berkembang secara optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui psikoedukasi Menjadi Ibu Hebat untuk menurunkan penolakan terhadap anak dengan GSA. Partisipan adalah tiga ibu yang memiliki anak dengan GSA. Pengumpulan data menggunakan parental acceptance-rejection scale (PARQ). Desain penelitian menggunakan quasi eksperimen one-group pretest-posttest. Analisis data dilakukan uji Friedman Test. Hasil uji statistik dengan uji Friedman Test menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan penanganan, q =1,000, nilai signifikansi 0,607 (p>0,05). Kata kunci: Psikoedukasi, Penolakan Orangtua, Gangguan Spektrum Autis (GSA) Abstract. Mother acceptance is an important factor in caring for children with autism. A mother that has a high acceptance is capable of developing a positive parenting skill and as a result the children are able to grow optimally. This research aimed to examine the psychoeducation to be a great mother to reduce the rejection towards children with autism. The participants were three mothers who have children with autism. Data collection used the parental acceptance-rejection scale (PARQ). The study design using the experimental quasi of one-group pretest-posttest. Data analysis was conducted through the Friedman Test. The result of statistical test with Friedman Test showed no significant difference between before and after the treatment, q = 1,000, and significance value 0,607 (p> 0.05).  Key words: Psychoeducation, rejection, parents, autism spectrum disorder (ASD)
SELF COMPASSION DAN LONELINESS Hidayati, Diana Savitri
Jurnal Ilmiah Psikologi Terapan Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.826 KB) | DOI: 10.22219/jipt.v3i1.2136

Abstract

Banyak hal yang menyebabkan seseorang mengalami kesepian, salah satu penyebabnya adalah kondisi di mana harus tinggal jauh dari orang tua dan keluarga,  yang juga dialami oleh remaja yang tinggal di pondok pesantren. Self-compassion merupakan salah satu bahasan yang bisa menjelaskan bagaimana individu mampu bertahan, memahami dan menyadari makna suatu kesulitan sebagai hal yang positif, termasuk kesulitan ketika harus tinggal jauh dari orang tua dan keluarga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara self compassion  dengan lonelines. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan subyek penelitiannya berjumlah 254 siswi yang tinggal di pondok pesantren. Metode pengumpulan data menggunakan dua skala yaitu skala Self  Compassion Scale (SCS) dan R-UCLA Loneliness Scale yang masing-masing telah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan telah melalui proses validasi dan reliabilitas. Hasil penelitian diperoleh hasil bahwa hipotesa penelitian ditolak yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara self compassion dan loneliness (r = 0.776; p = 0.001; 0.776 > 0.001).             Kata kunci: Self compassion, loneliness Loneliness is caused by many thing, one of them is the condition when tenager should life without parents and family because of their study at a boarding school. Self compassion is a new concept that explain about how to defend, understand and realize the meaning of suffering as a positive thing; for example when some one should life without their parents and families. The aim of this study is to determine relationships of  self compassion and loneliness. Methode research is a quantitative approach to correlation with number of subjects were 254 girls who were life at a boarding school. Methode of data collecting  in this study by self compassion scale and R-UCLA loneliness scale. The results showed that there is no correlations between self compassion and loneliness (r = 0.776; p = 0.001; 0.776 > 0.001).             Keywords: Self compassion, loneliness

Page 2 of 44 | Total Record : 433