cover
Contact Name
Dedeh Fardiah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrjmd@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital
ISSN : 28083067     EISSN : 27986403     DOI : https://doi.org/10.29313/jrjmd.v1i2
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review (direview secara tertutup) yang mempublikasikan kajian teoritik dan hasil riset terhadap isu-isu empirik dalam sub kajian Jurnalistik dan media digital. JRJMD ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-6403 yang di kelola dan di publikasikan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini akan ter-indeks di Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 131 Documents
Kredibilitas dan Akurasi Pemberitaan Jurnalisme Warga: Analisis Isi Akun X @merapi_uncover pada Maret 2025 Arya Syaifudin; Suciati
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9136

Abstract

Abstract. This study analyzes the accuracy and credibility of the citizen journalism account @merapi_uncover on X during March 2025 because its information may affect public safety. This quantitative study employed content analysis of 1,139 posts concerning social events and matters of public interest in Yogyakarta. The assessment covered source attribution, use of official sources, consistency between headlines and photographs/videos, language neutrality, and completeness of the 5W+1H elements. Each indicator was scored 1 or 0, followed by frequency and percentage calculations. The results show that “not attacking particular groups” obtained the highest percentage (34.59%), followed by “consistency between headlines and photographs/videos” (27.30%), “source attribution” (26.60%), “completeness of the 5W+1H elements” (9.65%), and “use of official sources” (1.84%). The @merapi_uncover account maintained language neutrality but remained weak in information verification and completeness. These findings confirm that neutrality does not guarantee accuracy without official sources and complete information and are expected to promote responsible citizen journalism and improve public digital literacy. Abstrak. Kajian ini menganalisis akurasi dan kredibilitas akun jurnalisme warga @merapi_uncover di platform X selama Maret 2025 karena informasinya berpotensi memengaruhi keselamatan publik. Penelitian kuantitatif ini menggunakan analisis isi terhadap 1.139 unggahan mengenai peristiwa sosial dan publik di Yogyakarta. Penilaian meliputi pencantuman sumber, penggunaan sumber resmi, kesesuaian judul dengan foto/video, netralitas bahasa, dan kelengkapan 5W+1H. Setiap indikator diberi skor 1 atau 0, kemudian dihitung frekuensi dan persentasenya. Hasil menunjukkan bahwa indikator “tidak menyerang kelompok” memperoleh persentase tertinggi (34,59%), diikuti “judul sesuai foto/video” (27,30%), “mencantumkan sumber” (26,60%), “kelengkapan 5W+1H” (9,65%), dan “sumber resmi” (1,84%). Akun @merapi_uncover menjaga netralitas bahasa, tetapi lemah dalam verifikasi dan kelengkapan informasi. Temuan ini menegaskan bahwa netralitas belum menjamin akurasi tanpa sumber resmi dan data lengkap serta diharapkan mendorong jurnalisme warga yang bertanggung jawab dan meningkatkan literasi digital masyarakat.
Dampak Pemberitaan KDRT di Media Kumparan terhadap Persepsi Menikah Mahasiswi Gen-Z Inesia Dian Oktares; Firdanianty Pramono; David R Nugroho
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9200

Abstract

Abstract. The increasing visibility of domestic violence (DV) news in digital media has raised concerns about its potential to shape negative perceptions of marriage, particularly among young women who actively consume online news. This phenomenon highlights the need to examine how media exposure influences Generation Z’s views on marriage. This study aims to analyze the influence of DV news exposure on Kumparan toward marriage perceptions among Generation Z female students at Pakuan University. Cultivation Theory is used to explain how long-term media exposure shapes perceptions, while New Media Theory is applied to examine digital media’s interactive and personalized characteristics in influencing public opinion. A quantitative approach was employed using a survey with purposive sampling involving 110 students from the 2022 cohort. Data were collected through questionnaires and analyzed using simple linear regression. The findings show a significant influence of DV news exposure on marriage perceptions, indicated by an R² value of 13.7 percent. These results suggest that DV news contributes to shaping marriage perceptions, although external factors remain more dominant. This study is expected to strengthen media literacy among young audiences and encourage more balanced reporting of DV issues in digital media.Abstrak. Meningkatnya intensitas pemberitaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di media digital mendorong terbentuknya persepsi negatif tentang pernikahan, terutama pada kelompok perempuan muda yang aktif mengonsumsi berita online. Fenomena ini menunjukkan perlunya kajian mengenai konten media memengaruhi pandangan generasi Z (gen Z) terhadap pernikahan. Studi ini bertujuan menganalisis pengaruh paparan berita KDRT di media Kumparan terhadap persepsi menikah mahasiswi gen Z di Universitas Pakuan. Studi ini menggunakan Teori Kultivasi untuk menjelaskan pembentukan persepsi melalui paparan media jangka panjang, serta Teori New Media untuk menelaah peran media digital yang interaktif dan personal dalam membentuk opini publik. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan survei dan teknik purposive sampling terhadap 110 mahasiswi angkatan 2022. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan regresi linier sederhana. Studi ini menunjukkan pengaruh signifikan antara paparan berita KDRT di Kumparan terhadap persepsi menikah, yang ditunjukkan melalui nilai R² sebesar 13,7%. Hal ini mengindikasikan bahwa berita KDRT memiliki kontribusi terhadap pembentukan persepsi menikah, meskipun faktor eksternal lain tetap dominan. Studi ini diharapkan dapat memperkuat literasi media serta mendorong penyajian isu KDRT yang lebih berimbang di media digital.
Konstruksi Makna Budaya Jawa melalui Tanda Visual dalam Game A Space for the Unbound Asyraf Rafiq; Chelsy Yesicha
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9289

Abstract

Abstract. This study examines the representation of Javanese culture in A Space for the Unbound, a game developed by Mojiken Studio, as a form of local identity negotiation within the globalization of the video game industry. In the era of global popular culture, local games can function as strategic spaces for affirming cultural identity. This research aims to analyze the meanings of Javanese cultural symbols such as traditional architecture, surjan attire and blangkon, traditional music arts, and social practices of the 1990s through Roland Barthes’ semiotic approach, which encompasses three layers of meaning: denotation, connotation, and myth. A descriptive qualitative method employing visual and textual observation was used for data collection. The findings indicate that at the level of denotation, the symbols are presented literally in accordance with Javanese social reality. At the connotative level, these symbols evoke collective social and emotional meanings, including nostalgia, solidarity, and the spirit of gotong royong (mutual cooperation). At the mythic level, the game constructs a narrative of Javanese culture as an ancestral heritage imbued with moral, spiritual, and social values. Therefore, A Space for the Unbound effectively functions as a medium of cultural representation that reinforces local identity awareness amid global modernization. Abstrak. Artikel ini mengkaji representasi budaya Jawa dalam GameA Space for the Unbound karya Mojiken Studio sebagai wujud negosiasi identitas lokal di tengah globalisasi industri video game. Dalam era budaya populer global, game lokal dapat menjadi ruang strategis untuk meneguhkan identitas kultural. Penelitian ini bertujuan menganalisis makna simbol budaya Jawa pada arsitektur tradisional, pakaian adat Surjan dan blangkon, seni musik tradisional, dan praktik sosial pada tahun 1990an melalui pendekatan semiotika Roland Barthes pada tiga lapisan makna: denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil temuan menunjukkan bahwa pada level denotasi, simbol ditampilkan secara literal sesuai realitas sosial Jawa. Level konotasi memunculkan simbol makna sosial dan emosional kolektif, seperti nostalgia, solidaritas, dan semangat gotong royong. Sedangkan pada level mitos memperlihatkan penyajian narasi budaya Jawa adalah warisan leluhur yang mengukuhkan nilai moral, spiritual, dan sosial. Hal ini membuktikan  A Space for the Unbound berperan sebagai media representasi budaya yang memperkuat kesadaran identitas lokal dalam modernisasi global khususnya budaya Jawa.
Media Sosial, Eco-Anxiety, dan Penghayatan Ekologis: Perspektif Generasi Z Ahmad Fadhli; Aldin Aldama; Madani Sri Rahayu; Nabilah Salsabila
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9632

Abstract

Abstract. This research is motivated by the issue of environmental damage, with the emergence of the social media phenomenon "eco-anxiety." Generation Z, as a vulnerable group of individuals, the generation that will face the long-term impacts of environmental damage, plays a vital role in efforts to mitigate and adapt to the environmental crisis. This study aims to explore the experience of eco-anxiety and the role of social media exposure in shaping the ecological perceptions of Gen-Z in the urban and suburban areas of Greater Bandung. Using a qualitative phenomenological approach, five participants aged 18–25 were interviewed in-depth. The results show that eco-anxiety manifests in diverse forms, ranging from emotional exhaustion to moral and spiritual responsibility. Social media plays a dual role as both a trigger for anxiety and a means of education. Participants responded to anxiety with community action, creative expression, and spiritual reflection. These findings suggest that eco-anxiety is not merely a psychological disorder, but an ethical and emotional response to the climate crisis, and emphasize the need for empathetic and culturally relevant environmental communication approaches.Abstrak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh isu kerusakan lingkungan dengan munculnya sebuah fenomena media sosial “eco-anxiety”. Generasi Z (Gen-Z), sebagai kelompok individu yang rentan, generasi yang akan menghadapi dampak jangka panjang kerusakan lingkungan, memiliki peran vital dalam upaya mitigasi dan adaptasi terhadap krisis lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pengalaman eco-anxiety dan peran paparan media sosial dalam membentuk persepsi ekologis Gen-Z di wilayah urban dan sub-urban Bandung Raya. Menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, lima partisipan berusia 18–25 tahun diwawancarai secara mendalam. Hasil menunjukkan bahwa eco-anxiety muncul dalam bentuk yang beragam, mulai dari kelelahan emosional hingga tanggung jawab moral dan spiritual. Media sosial berperan ganda sebagai pemicu kecemasan sekaligus sarana edukasi. Partisipan merespons kecemasan dengan aksi komunitas, ekspresi kreatif, dan refleksi spiritual. Temuan ini menunjukkan bahwa eco-anxiety bukan semata gangguan psikologis, melainkan respons etis dan emosional terhadap krisis iklim, serta menekankan perlunya pendekatan komunikasi lingkungan yang empatik dan relevan secara kultural.
Kurikulum Berbasis Cinta sebagai Praktik Jurnalistik Nilai dalam Pendidikan Islam di Era Digital M. Yoserizal Saragih; Depi Lisnawati
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9684

Abstract

Abstract. This study examines the Love-Based Curriculum (KBC) as an innovation in Islamic education that functions not only as a pedagogical tool but also as a practice of communication and value journalism in promoting moderate Islamic education in the digital era. Amid information disruption, polarized religious discourse, and the spread of disinformation and extremism in digital spaces, this study analyzes the role of KBC in framing, gatekeeping, and constructing wasathiyah Islamic narratives to foster moderate, tolerant, and inclusive students. The research employs a descriptive qualitative approach through a literature review with content analysis of one official policy document and 22 relevant scholarly publications. The findings show that KBC frames Islam as a religion of mercy, justice, and humanity through teachers' roles as value gatekeepers and the use of participatory, dialogical, and humanistic digital spaces. The study proposes a conceptual model of KBC as a value-based educational communication system that integrates message selection, narrative framing, and ethical dissemination to strengthen value and media literacy while fostering a religious, critical, adaptive, and socially responsible generation. Abstrak. Penelitian ini mengkaji Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai inovasi pendidikan Islam yang tidak hanya berfungsi sebagai perangkat pedagogis, tetapi juga sebagai praktik komunikasi dan jurnalistik nilai dalam membangun pendidikan Islam moderat di era digital. Di tengah disrupsi informasi, polarisasi wacana keagamaan, serta maraknya disinformasi dan ekstremisme di ruang digital, penelitian ini menganalisis peran KBC dalam menjalankan fungsi framing, gatekeeping, dan konstruksi narasi Islam wasathiyah untuk membentuk karakter peserta didik yang moderat, toleran, dan inklusif. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan analisis isi terhadap satu dokumen kebijakan resmi dan 22 literatur ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KBC membingkai Islam sebagai agama rahmah, keadilan, dan kemanusiaan melalui peran guru sebagai gatekeeper nilai serta pemanfaatan ruang digital yang partisipatif, dialogis, dan humanis. Penelitian ini menawarkan model komunikasi pendidikan berbasis jurnalistik nilai yang mengintegrasikan seleksi pesan, pembingkaian narasi, dan distribusi etis untuk memperkuat literasi nilai, literasi media, serta membentuk generasi yang religius, kritis, adaptif, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Hubungan Penggunaan Artificial Intelligence dengan Kredibilitas Pemberitaan di Kalangan Jurnalis Tarissa Fauziyyah Razaqya; Arbaiyah Satriani
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.9986

Abstract

Abstract. The rapid advancement of Artificial Intelligence (AI) has increasingly influenced various sectors, including journalism. AI plays a role in the news production process, from data processing to automated article writing. This study employs a quantitative correlational method to explore the relationship between AI usage in journalism and the perceived credibility of the resulting news content. The research is grounded in two primary theories: Media Credibility Theory, which examines dimensions such as trustworthiness, fairness, completeness, and straightforwardness, and Diffusion of Innovation Theory, which analyzes the adoption process of AI based on relative advantage, compatibility, complexity, and trialability. Data collection was conducted in two stages using questionnaires. Of the 45 journalists who participated in the first stage, only 41 completed the second stage, which served as the basis for the correlation analysis. The results of the Spearman correlation test indicate a strong relationship between the use of AI and news credibility, with a coefficient value of 0.820. While AI improves journalistic efficiency, human oversight remains essential to ensure accuracy, ethical standards, and contextual depth. This study contributes to discourse on media and communication and provides insights for journalists and media organizations in integrating AI into production processes. Abstrak. Kemajuan teknologi Artificial Intelligence (AI) semakin pesat dan mulai diterapkan dalam berbagai aspek, termasuk bidang jurnalistik. AI berperan dalam penyusunan berita, mulai dari pengolahan data hingga penulisan artikel secara otomatis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode studi korelasional untuk mengeksplorasi hubungan antara penggunaan AI dalam jurnalisme terhadap persepsi kredibilitas berita yang dihasilkan. Penelitian ini didasarkan pada dua teori utama, yaitu Teori Kredibilitas Media untuk mengukur dimensi kepercayaan, keadilan, kelengkapan, dan kejelasan dalam pemberitaan, serta Teori Difusi Inovasi untuk memahami proses adopsi teknologi AI berdasarkan keuntungan relatif, kesesuaian, kerumitan, dan kemudahan uji coba. Dari 45 responden yang mengisi tahap pertama, hanya 41 responden yang melanjutkan ke tahap kedua. Hasil analisis korelasi didasarkan pada data dari tahap kedua tersebut. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang sangat kuat antara penggunaan AI dan kredibilitas pemberitaan, dengan nilai koefisien sebesar 0,820. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi penggunaan AI, maka semakin tinggi pula persepsi terhadap kredibilitas berita yang dihasilkan. Walaupun AI terbukti meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, peran jurnalis tetap penting dalam menjaga konteks, akurasi, dan etika pemberitaan. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan komunikasi dan menjadi dasar bagi media untuk menerapkan AI dan bertanggung jawab dalam jurnalistik.
Romantisasi Kesedihan dalam Representasi Kota pada Lirik Bandung Hari Ini Dimas Satrio Wijaksono; Freddy Yusanto; Jalesita Putri Pramitha
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.10161

Abstract

Abstact. This study analyzes the romanticization of sadness in the representation of the city in the lyrics of the song “Bandung Hari Ini” by For Revenge using Roland Barthes’s semiotics. From a cultural communication perspective, lyrics are understood as cultural texts that produce social meaning through a system of signs. The study employs an interpretive qualitative approach by identifying signifiers and signifieds, denotative and connotative meanings, cultural codes, as well as myths and ideologies. The results show that, denotatively, the lyrics represent exhaustion, loneliness, pain, unfulfillment, a journey, and a return. Connotatively, Bandung is interpreted as a space of nostalgia, a sense of security, homecoming, and emotional healing. Cultural codes regarding homecoming, the demands of adult success, urban mobility, self-care, and the aesthetics of melancholy shape the myth of Bandung as an “emotional home.” The lyrics also convey an ideology of urban productivity and naturalize sadness as an authentic and meaningful experience. The novelty of this research lies in the construction of urban space as a repository of memory, identity, homecoming, and hope. Abstrak. Penelitian ini menganalisis romantisasi kesedihan dalam representasi kota pada lirik lagu Bandung Hari Ini karya For Revenge menggunakan semiotika Roland Barthes. Dalam perspektif komunikasi budaya, lirik dipahami sebagai teks budaya yang memproduksi makna sosial melalui sistem tanda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif interpretatif dengan mengidentifikasi penanda dan petanda, makna denotatif, konotatif, kode budaya, serta mitos dan ideologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara denotatif lirik merepresentasikan kelelahan, kesepian, luka, ketidakcapaian, perjalanan, dan kepulangan. Secara konotatif, Bandung dimaknai sebagai ruang nostalgia, rasa aman, kepulangan, dan pemulihan emosional. Kode budaya mengenai kepulangan, tuntutan keberhasilan usia dewasa, mobilitas urban, perawatan diri, dan estetika melankolia membentuk mitos Bandung sebagai “rumah emosional”. Lirik juga membawa ideologi produktivitas urban serta menaturalisasi kesedihan sebagai pengalaman autentik dan bermakna. Kebaruan penelitian terletak pada konstruksi ruang kota sebagai penyimpan memori, identitas, kepulangan, dan harapan.
Isu Uyghur dalam Bingkai Media Indonesia: (Analisis Perbandingan Tempo dan Antara) Betha Dwi Octaviani; Kiki Zakiah; Oji Kurniadi
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.10219

Abstract

Abstract. The alleged human rights violations against the Uyghur ethnic minority in Xinjiang, China, have attracted global attention and received extensive coverage in Indonesian media. However, the issue has been framed differently due to variations in editorial orientation and the institutional characteristics of media organizations. This study aims to examine the differences in the framing of the Uyghur issue by Tempo and Antara and to explain how these framings relate to the context of Indonesia–China diplomatic relations. Employing a qualitative approach, this study applies Robert N. Entman’s framing analysis to 20 news articles published by Tempo and 15 by Antara between January 2022 and June 2025. The analysis is complemented by interviews with journalists and media audiences as a form of data triangulation. The findings reveal that Tempo frames the Uyghur issue primarily as a humanitarian concern by emphasizing alleged human rights violations and positioning the victims at the center of the narrative. In contrast, Antara frames the issue within the context of diplomatic relations, the stability of Indonesia–China bilateral ties, and the principle of non-interference. The novelty of this study lies in demonstrating how the institutional characteristics of media organizations shape the implementation of Entman’s framing devices in reporting diplomatically sensitive international issues. The findings extend the application of framing theory by highlighting that institutional characteristics influence the processes of selecting, emphasizing, and interpreting social reality in international communication. Abstrak. Isu dugaan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap etnis Uyghur di Xinjiang, Tiongkok, menjadi perhatian global dan mendapat sorotan media di Indonesia. Namun, pemberitaannya menunjukkan perbedaan perspektif yang dipengaruhi oleh orientasi editorial dan karakter institusional media. Penelitian ini bertujuan menganalisis perbedaan pembingkaian isu Uyghur pada Tempo dan Antara serta menjelaskan kaitannya dengan hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis framing Robert N. Entman terhadap 20 berita Tempo dan 15 berita Antara periode Januari 2022–Juni 2025, yang diperkuat melalui wawancara dengan jurnalis dan pembaca sebagai triangulasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tempo membingkai isu Uyghur sebagai persoalan kemanusiaan yang menekankan dugaan pelanggaran HAM dan menempatkan korban sebagai pusat narasi, sedangkan Antara lebih menempatkannya dalam perspektif hubungan diplomatik, stabilitas bilateral Indonesia–Tiongkok, dan prinsip non-intervensi. Kebaruan penelitian ini terletak pada penjelasan mengenai pengaruh karakter institusional media terhadap implementasi perangkat framing Entman dalam pemberitaan isu internasional. Temuan ini memperluas penerapan teori framing dengan menunjukkan bahwa karakter institusional media memengaruhi proses seleksi, penonjolan, dan interpretasi realitas dalam komunikasi internasional.
Dari Frekuensi ke Algoritma: Komodofikasi Konten Siaran Radio di Media Sosial Iqbal Pratama Putra; Sabago Viesaasa; Ferry Darmawan
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.10251

Abstract

Abstract. This article examines the commodification of broadcast content at PRFM Bandung, a news radio station, within the social media ecosystem through the lens of the political economy of media. This approach is employed to analyze how power relations, particularly those driven by economic interests, shape the production and distribution of communication resources. Content transformation has become a strategic response by traditional radio media to generate new revenue streams amid the saturation of the conventional advertising market. This condition demonstrates that digital adaptation is not merely a technical process but also reflects a shift in the economic orientation of media management. Data were collected through digital observation and in-depth interviews with the media management. The findings indicate that the commodification of content, by repackaging audio broadcasts into visual content, represents a pragmatic strategy to attract advertisers. These findings confirm that, in order to maintain the company's cash flow and organizational sustainability, radio media must transform content into economic exchange value within the structure of platform capitalism. Furthermore, this phenomenon illustrates how economic relations and the power of digital platforms increasingly require radio broadcasters to adapt their content production and distribution strategies in response to the dynamics of the platform ecosystem. Abstrak. Artikel ini menganalisis praktik komodifikasi konten siaran pada radio PRFM Bandung sebagai radio berita dalam ekosistem media sosial melalui pendekatan ekonomi politik media. Pendekatan ini digunakan untuk membedah bagaimana relasi kekuasaan yang mencakup kepentingan ekonomi membentuk produksi dan distribusi sumber daya komunikasi. Transformasi konten dilakukan sebagai strategi media tradisional untuk membuka keran pendapatan baru di tengah jenuhnya pasar iklan konvensional. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa adaptasi digital tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga merefleksikan perubahan orientasi ekonomi dalam pengelolaan media penyiaran. Data dikumpulkan melalui observasi digital serta wawancara mendalam dengan pihak manajemen media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komodifikasi konten melalui pengemasan siaran audio menjadi konten visual merupakan respons pragmatis untuk menarik pengiklan. Temuan ini menegaskan bahwa demi menjaga keberlangsungan arus kas perusahaan, media radio harus mentransformasi konten menjadi nilai tukar ekonomi dalam struktur kapitalisme platform. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana relasi ekonomi dan kekuasaan platform menuntut perlunya adaptasi arah produksi dan distribusi konten media penyiaran radio.
Mitigasi Risiko Fisik dan Digital dalam Produksi Dokumenter Advokasi di Hostile Environment Epul Saepul; Herlina Agustin; Nunik Maharani Hartoyo
Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital Volume 6, No. 1, Juli 2026 Jurnal Riset Jurnalistik dan Media Digital (JRJMD)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrjmd.v6i1.10275

Abstract

Abstract. Environmental issues have been identified as one of the most hazardous reporting beats. However, amidst these risks, a distinct condition emerged where the Garda Animalia production team not only successfully completed the documentary film but was also able to distribute it through public screenings and digital platforms. This study employs a qualitative approach using Robert K. Yin’s case study method and semi-structured interviews with the director to analyze risk mitigation strategies in the production of the documentary Longgok (C)emas: Mengeruk Emas, Menimbun Cemas, which addresses illegal gold mining in Ketapang. The results indicate that risk mitigation was implemented systematically from the initial planning stages through to post-publication. In the pre-production stage, mitigation focused on risk identification through preliminary research. During the production stage, the mitigation strategies were adaptive to field conditions. In the post-production stage, risk mitigation centered on content security and potential legal consequences. The production team’s responsibility does not conclude with the production process but continues well after the work has been published. Abstrak. Persoalan lingkungan hidup teridentifikasi sebagai salah satu ranah peliputan paling berbahaya (hazardous beat). Namun di tengah risiko tersebut, muncul kondisi yang berbeda ketika tim produksi Garda Animalia tidak hanya berhasil merampungkan film dokumenter, tetapi juga mampu mendistribusikannya melalui pemutaran publik dan platform digital. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus Robert K. Yin dan wawancara semi-terstruktur bersama sutradara untuk menganalisis strategi mitigasi risiko dalam produksi dokumenter Longgok (C)emas: Mengeruk Emas, Menimbun Cemas tentang pertambangan emas ilegal di Ketapang. Hasil studi menunjukkan bahwa mitigasi risiko dilakukan secara sistematis sejak tahap awal perencanaan hingga setelah publikasi. Pada tahap pra-produksi, mitigasi difokuskan pada identifikasi risiko melalui riset awal. Pada tahap produksi, strategi mitigasi bersifat adaptif terhadap kondisi lapangan. Pada tahap pasca-produksi, mitigasi risiko difokuskan pada keamanan konten dan potensi konsekuensi hukum. Tanggung jawab tim produksi tidak berhenti pada proses produksi, tetapi berlanjut hingga setelah karya dipublikasikan.